Disclaimer: [masih sama dengan chapter 1]


Warning: AU, mungkin OOC, mengandung genderbend


AN: Hontouni arigatou buat yang udah review, favorit, dan follow fic ini.. ^^


Chapter 3

Kurama menatap makam yang masih baru dihadapannya. Nama Namikaze Naruto terukir di batu nisan makam itu.

Kurama kembali mengeluh. Bagaimana ia bisa begitu lemah dan mengabulkan seluruh permintaan saudara kembarnya?

(Flashback)

"Bunuh aku, Ku-chan."

"Haah?" Kurama ternganga.

"Apa maksudmu, Naruto?"

Jiraiya dan Minato sama kagetnya dengan Kurama saat mendengar permintaan Naruto.

"Jangan bercanda Naruto." Kurama sambil tersenyum ragu.

"Aku tak bercanda, Ku-chan. Ini demi melindungi dirimu." Naruto berkata masih dengan nada tegasnya. "Misi terakhir ini meyakinkanku bahwa tidak aman bagiku untuk hidup setelah mengalami perubahan seperti ini."

"Ada apa sebenarnya ini?" Minato memotong pembicaraan antara Kurama dan Naruto dengan tak sabar. "Jelaskan semuanya sekaligus, Naruto. Jangan berkata separo-separo seperti itu."

Naruto kemudian menatap Minato dan Jiraiya dengan serius. "Kurasa ini ada hubungannya dengan Orochimaru. Dan ya, ero-jiiji. Ini Orochimaru yang sama dengan yang kau kejar selama ini." Naruto berkata saat melihat Jiraiya membuka mulutnya. "Tou-san ingat detail misi terakhirku bukan?"

"Mengawal seorang tahanan bernama Ukon?"

"Ya, dan Sakon sang penculik ini adalah saudara kembarnya."

"Bagaimana kau yakin?" Kurama tak percaya dengan penjelasan ini. "Ukon berada di Jepang. Dan Sakon berada di London. Dan kenapa ia menculik Sabaku Gaara?"

"Entahlah." Naruto memandang langit-langit kamarnya. "Tapi aku yakin Sakon ini adalah saudara kembar dari Ukon yang menghilang di Jepang. Aku melihat tattoo yang sama di bagian belakang leher mereka, Ku-chan. Itu yang membuatku yakin."

"Jadi menurutmu, misi ini sengaja diberikan padamu sebagai peringatan?"

"Aku juga tak tahu. Tapi mengingat cerita tentang kegilaan Orochimaru dari ero-jiiji, aku merasa kalau ia mengawasiku, mengawasi perkembangan dan perubahanku."

Jiraiya angkat bicara. "Orochimaru yang kukenal dulunya adalah seorang ahli medis yang hebat, mungkin berada pada level yang sama dengan Tsunade. Tapi tiba-tiba ia terobsesi dengan ide 'hidup abadi' dan melakukan berbagai percobaan illegal untuk mencapai tujuannya itu. Ia mundur dari jabatannya sebagai kepala lab organisasi kita dan mendirikan perusahaan Otogakure. Kurasa ia melanjutkan percobaannya disana."

"Dan menurut kabar yang beredar, Otogakure sekarang memproduksi narkoba juga." Kurama mengangkat bahunya. "Tapi tetap saja, aku tak paham apa hubungannya denganmu, Na-chan. Apa hubungannya kau yang berubah menjadi perempuan dengan ide Orochimaru untuk hidup abadi?"

"Kurasa aku adalah hasil dari percobaannya yang gagal, Ku-chan. Dengan dua misi yang berhubungan dengan Orochimaru ini, aku khawatir ia menaruh perhatian padaku dan itu akan membuatmu ataupun tou-san dalam bahaya. Kalian tahu aku tak ingin kehilangan siapa-siapa lagi." Naruto berkata dengan sendu.

"Tapi tetap saja, permintaanmu tidak masuk akal, Naruto." Minato berkata dengan marah. "Kau meminta Kurama untuk membunuhmu agar bisa menjagaku dan ia tetap aman dari Orochimaru? Ini nonsense!"

"Aku juga tak ingin mati muda, tou-san." Naruto berkata sambil tersenyum kecil. "Tapi agar kalian tetap aman, Namikaze Naruto harus mati."

(Flashback end)

Kurama menatap nisan itu sekali lagi sebelum berbalik pergi.

'Aku yang seharusnya melindungimu, Na-chan.'

##

"Namikaze Naruto tewas?"

Seorang laki-laki dengan rambut hitam panjang dan pupil seperti ular bertanya kepada salah seorang anak buahnya.

"Benar, Orochimaru-sama. Sakon meledakkan gudang tempat ia menyekap Sabaku Gaara dan Namikaze Naruto melompat dari lantai tiga untuk menghindari ledakan itu. Walaupun operasinya berhasil, tapi luka-lukanya terlalu parah sehingga ia tidak bisa bertahan."

"Dasar payah." Gumam Orochimaru. "Kabuto, seharusnya kau kesana dan membantu mereka mengoperasi gadis itu. Sekarang aku kehilangan objek penelitianku yang berharga."

Seorang laki-laki lainnya yang berada di ruangan itu membungkuk pada Orochimaru. "Maafkan aku, Orochimaru-sama, tapi hal itu tak terpikir olehku."

"Hmm.. Sudahlah." Orochimaru melambaikan tangannya kepada anak buahnya yang melapor tadi. "Kau boleh keluar."

Kabuto berjalan mendekati Orochimaru setelah anak buahnya tadi keluar. "Apa yang membuat anda tertarik pada Namikaze Naruto, Orochimaru-sama?"

"Kau tahu Kabuto, aku merasa jangka waktu hidup manusia ini terlalu pendek. Yah, paling tidak jangka waktu hidupku. Padahal masih banyak yang ingin kulakukan."

Kabuto mendengarkan dengan seksama.

"Jadi aku sampai pada suatu kesimpulan untuk melakukan percobaan dan menemukan cara untuk hidup abadi. Saat Namikaze Minato dan Namikaze Kushina datang dan memintaku untuk membantu program bayi tabung mereka, aku menemukan objek yang cocok untuk percobaanku. Bayangkan saja, gen jenius dari Minato dan tubuh yang kuat dari Kushina. Jika aku bisa membuat seorang bayi dengan DNA mereka, aku akan mendapatkan bayi sempurna sebagai objek percobaanku."

"Lau, apa yang akan anda lakukan dengan bayi itu, Orochimaru-sama?"

"Aku membuat sebuah alat yang bisa meregenerasi seluruh sel-sel dalam tubuh manusia sebelumnya. Itu masih prototype." Orochimaru berkata sambil memejamkan matanya. "Seharusnya jika alat itu sukses, ia akan membuat sel-sel dalam tubuh seseorang tak pernah mati, dengan kata lain sel-sel itu akan terus melakukan daur ulang. Kau tahu betapa banyak sel darah merah yang mati dalam tubuh kita setiap harinya? Dengan alat itu, tak akan ada sel kita yang mati. Sel itu memperbaharui dan memperbaiki dirinya sendiri dengan cepat."

"Dengan kata lain, manusia tersebut tak bisa bertambah tua?"

"Yah, begitulah seharusnya. Kau tahu kemampuan sel untuk beregenerasi itu terbatas? Begitu mencapai batas, maka manusia akan mati."

"Jadi jika sel-sel itu memiliki kemampuan untuk beregenerasi tanpa batas, kita akan bisa hidup abadi?"

Orochimaru mengangguk.

"Tapi percobaan itu gagal?"

Orochimaru mengangguk lagi dan memegang kepalanya dengan frustasi. "Alih-alih memodifikasi selnya, alat itu malah memperngaruhi kromosomnya!"

Kabuto berusaha menenangkan Orochimaru yang terlihat sedikit histeris. "Bagaimana kalau kita coba buat lagi alat itu, Orochimaru-sama? Apa anda punya cetak birunya?"

"Mana mungkin aku membuat cetak birunya, Kabuto. Bagaimana jika cetak birunya sampai jatuh ke tangan orang lain?"

"Kalau begitu, anda ingat cara membuatnya? Saya akan membantu anda, Orochimaru-sama."

"Ide bagus Kabuto." Orochimaru menyandarkan punggungnya. "Aku akan menyempurnakan alat tersebut, dan setelah itu, aku akan menguasai tiga Negara bagian!" Orochimaru mengeluarkan tawa jahatnya.

Kabuto menepuk dahinya. "Err… Orochimaru-sama?"

"Ya, Kabuto?"

"Sebaiknya anda berhenti menonton Phineas and Ferb."

##

Minato membereskan kamar Naruto yang sedikit berantakan. Ia memungut manga yang berserakan di atas tempat tidur dan bungkus-bungkus makanan ringan yang terjatuh di lantai. Naruto tak pernah berubah. Tidak pernah meletakkan barang-barang pada tempatnya. Tapi untunglah ia membuat pengecualian dan hanya melakukan hal itu dikamarnya. Minato harus mengakui, ia tak pernah melihat Naruto membuat ruang keluarga berantakan. Ia juga membereskan peralatan makan sesudah mereka makan.

"Minato, aku akan tetap melahirkan anak-anak ini."

Ucapan Kushina kembali terngiang di benaknya.

"Tapi Kushina, bagaimana jika mereka terlahir tidak normal?"

Minato bahkan bisa mendengar penolakan dalam suaranya saat itu. Saat Orochimaru baru memberitahu kecelakaan yang dialami oleh calon bayi mereka. Minato ingat, usia kandungan Kushina sudah mencapai lima bulan ketika itu. Lima bulan, dan Orochimaru baru memutuskan untuk memberi tahu mereka?

Minato sudah mulai mencurigai Orochimaru, tapi ia tak punya bukti dan ia tak mau membuat Kushina khawatir, karena itu ia menyimpan kecurigannya sendiri.

"Maka kita akan membesarkannya sebisa kita."

Kushina menjawab tanpa ragu.

"Bagaimana dengan lingkungannya? Apakah mereka akan menerimanya begitu saja?"

Lagi-lagi ia berusaha memberikan alasan pada Kushina.

"Kita tinggal pindah rumah saja. Apa susahnya?" Kushina menjawab pertanyannya dengan tawa.

"Lalu bagaimana dengan psikologi anak itu sendiri, Kushina? Dia yang sudah dibesarkan sebagai laki-laki tiba-tiba harus menjadi seorang perempuan? Menurutmu ia akan bisa menghadapinya?"

Kushina terdiam sesaat. Untuk pertama kalinya dalam perdebatan mereka, Minato merasa menang. Tapi kemenangannya tidak berlangsung lama.

"Aku yakin ia pasti bisa menghadapinya, Minato."

Minato mengutuk didalam hatinya. Kushina tak pernah mau kalah.

"Darimana datangnya kepercayaan itu?"

"Gampang. Mereka adalah anak kita. Aku yakin mereka juga pasti akan mewarisi sifat kita. Lagipula kita tak akan meninggalkannya, bukan?" Kushina tersenyum lembut dan menatapnya dengan sepasang matanya yang besar dan bersinar penuh harapan.

KYUUN!

Minato sadar ia sudah kalah. Ia TAK PERNAH bisa menolak permintaan Kushina jika ia sudah menatapnya dengan mata seperti itu.

"Atau kau mau membunuh bayi kita, Minato?" Kushina berkata dengan tajam saat melihat keraguannya.

Minato tersentak. Janin itu sudah berusia lima bulan, artinya mereka sudah bernafas. Mereka sudah hidup. Bukan hanya sekedar gumpalan daging lagi.

Minato akhirnya menunduk kalah. Kushina bisa melihat itu dimatanya, dan Kushina segera memeluknya.

"Arigatou, Minato." Bisiknya penuh perasaan.

Minato menghapus air matanya saat ia mengingat lagi kenangan itu. Saat Kushina masih bersamanya.

"Kau pergi terlalu cepat.."

Kreek…

"Tou-san?" Kurama menjengukkan kepalanya dari celah pintu. "Butuh bantuanku?"

"Tentu, Kurama."

Kurama masuk dan mulai mengemasi meja belajar Naruto. Kelihatannya hanya itu tempat yang bebas dari manga ataupun bungkus cemilan. Hanya ada beberapa buku pelajaran, kotak pensil, lampu kecil, dan empat pigura foto. Kurama yakin pasti karena foto-foto inilah Naruto menjaga mejanya tetap bersih dan rapi.

Kurama memungut pigura pertama. Itu adalah foto keluarga mereka. Foto itu diambil saat mereka berusia lima tahun dan kaa-san masih bersama mereka. Pigura kedua berisi fotonya berdua dengan Naruto. Kelihatannya Naruto sudah memodifikasi foto mereka sehingga ada dua foto dalam satu pigura. Yang pertama fotonya bersama Kurama saat masih laki-laki, dan yang kedua fotonya bersama Kurama saat ia sudah menjadi perempuan.

Kurama memasukkan pigura itu kedalam kotak kardus di dekat kakinya. Ia beralih ke pigura ketiga. Itu adalah foto Naruto bersama teman-teman seangkatannya di SD Konoha. Yah, lebih tepatnya teman-teman sesama calon agennya.

Ada Inuzuka Kiba dengan anjingnya Akamaru, Aburame Shino yang memakai kacamata hitam, Hyuuga Hinata yang melirik Naruto dengan malu-malu, Nara Shikamaru yang terlihat malas-malasan, Akimichi Chouji yang bahkan tak mau repot berhenti makan keripik kentangnya untuk mengambil foto, dan Yamanaka Ino serta Haruno Sakura yang saling berebut berusaha memeluk lengan Uchiha Sasuke dan terakhir Naruto yang berdiri paling ujung mengalungkan lengannya di leher Uchiha Sasuke.

Kurama tersenyum. Ia memang tak pernah bertemu langsung dengan mereka, namun Naruto selalu bercerita tentang teman-temannya jika ia menelfon. Kurama langsung dikirim ke London saat mereka baru saja menyelesaikan TK mereka karena organisasi mereka menganggap Kurama memiliki potensi yang sama seperti Minato. Ia hanya bisa kembali ke Jepang saat liburan dan biasanya Naruto menghabiskan liburan hanya bersamanya. Ia selalu mengatakan jika ia membawa teman-temannya, maka ia tak bisa mengahabiskan liburannya yang hanya sebentar bersama Kurama dengan tenang.

Pigura terakhir berisi foto Naruto dengan partnernya, Uchiha Sasuke. Melihat Naruto yang masih memajang foto ini dimejanya, Kurama sadar kalau Naruto masih menganggap mantan partnernya ini berarti. Walaupun ia sudah menyakiti hatinya, dan boleh dibilang sudah mencampakkannya secara tidak langsung.

Kurama akhirnya selesai memasukkan seluruh isi meja belajar Naruto kedalam kardus dan menutup kardus itu dengan selotip. Ia menatap tou-sannya yang sedang duduk diatas kasur Naruto sambil memegang sesuatu yang terlihat seperti buku.

"Apa itu, tou-san?"

Minato mengangkat kepalanya.

"Album foto. Tou-san menemukannya dibawah bantal Naruto."

Kurama berjalan mendekat. Ia penasaran. Album foto apa yang selalu dibawa Naruto saat tidur?

Ia melirik album itu dari bahu tou-sannya. Dan Kurama tercekat. Ia mengenal album foto itu. Sangat mengenalnya. Karena ia sendiri yang membakar album itu. Album yang berisi kumpulan foto-foto kaa-san mereka, Namikaze Kushina.

(Flashback)

"Hu..hu.. Kaa-san.." Naruto kecil menangis terisak.

Kurama mendengus kesal. Sudah seminggu semenjak kaa-san mereka meninggal karena serangan teroris disebuah mall. Kaa-san tewas karena ia terlambat menjinakkan bom yang dipasang teroris itu. Kurama tentu saja sangat sedih, tapi ia harus kuat karena ia tak tega dengan tou-sannya.

"Jangan cengeng, Na-chan! Kau lebih tua dariku bukan? Aku bahkan tidak menangis!" Kurama berteriak kesal.

"Ta-tapi Ku-chan, aku merindukan kaa-san.." isak Naruto.

Kurama melihat Naruto masih memeluk album foto lama di dadanya. Kurama merebut album foto itu.

"Ku-chan!"

"Kau selalu menangis saat melihat ini, jadi jika ini tidak ada lagi, kau akan berhenti menangis!" Kurama membawa album foto itu ke halaman belakang dan membakarnya disana. Saat ia melihat album itu terbakar, ia meninggalkannya.

(Flashback end)

"Rupanya Naruto berhasil menyelamatkannya.." gumam Kurama tak percaya.

"Kau membakar album ini?" Minato bertanya sambil membalik halaman-halaman album yang separo hangus. "Naruto tidak marah padamu?"

"Tidak. Ia hanya menatapku sedih dan tidak mengatakan apa-apa."

"Ia pasti mengerti dengan tindakanmu." Minato menutup album itu dan memasukkannya ke kardus lainnya.

Kurama tersenyum kecil. "Ya, dia selalu mengerti apapun yang kulakukan. Bahkan jika aku tidak mengatakan apa-apa."

Minato tertawa, tapi kemudian ia terdiam. "Kau tahu, perkataanmu barusan mengingatkanku pada kata-kata Mikoto-san."

Kurama tahu 'Mikoto-san' ini adalah ibu dari Uchiha Sasuke. "Memangnya apa yang dikatakan Mikoto-san, tou-san?"

"Ia berkata kalau Naruto juga memahami putranya, bahkan jika putranya itu hanya bergumam atau mengangkat alisnya."

"Hmm… benarkah?"

"Kelihatannya Naruto bisa memahami orang-orang yang berarti baginya dengan baik." Minato melipat selimut Naruto dan menumpuk bantalnya.

"Hmph.. Naruto memahami bocah Uchiha itu akan tetapi ia tak bisa memahami Naruto."

Minato mengacak rambut Kurama. "Kau juga masih bocah, Kurama."

"Aku bukan bocah." Kurama mengangkat hidungnya dengan gaya angkuh. "Aku tidak meneriaki orang lain jika aku melakukan sesuatu yang salah dan aku selalu mengatakan apa yang ingin kukatakan. Bukan hanya mendengus atau bergumam."

"Baiklah…baiklah.. Sekarang sebaiknya kita segera menyelesaikan pekerjaan kita sebelum makan malam."

"Hai, tou-san."

##

Gaara harus menerima kenyataan kalau gadis yang telah menyelamatkannya itu sudah tewas. Ia saat ini sedang berdiri dihadapan nisan yang bertuliskan nama Namikaze Naruto. Ia menyentuh nisan itu dengan ujung jarinya.

"Padahal aku masih belum sempat berterima kasih padamu.." gumam Gaara.

Seorang laki-laki tua lewat di dekatnya. "Apa kau temannya?"

"Huh?" Gaara menatap laki-laki tua itu tak mengerti.

"Aku bertanya, apa kau teman dari pemuda yang dimakamkan disana?" laki-laki tua itu, kelihatannya adalah penjaga pemakaman itu.

Gaara mengangguk ragu. 'Pemuda?' batinnya.

"Pemuda yang malang. Tewas akibat kecelakaan mobil. Sayang sekali.." Laki-laki tua itu menggelengkan kepalanya. "Padahal dia lumayan tampan. Dia pasti akan menjadi laki-laki yang gagah dan bisa membuat orangtuanya bangga saat ia dewasa nanti."

"Tu-tunggu dulu? Yang dimakamkan disini, seorang laki-laki?" Gaara tak percaya ini.

Laki-laki tua itu menatapnya heran. "Tentu saja. Memangnya kau tidak mengenalnya langsung? Aku melihat saat pemakamannya. Salah seorang keluarganya membawa fotonya. Ia berambut pirang dan bermata biru."

Gaara tersenyum. Ia mulai paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya tinggal mencari bukti untuk mendukung teorinya.

"Sepertinya aku sudah datang ke makam yang salah." Ucapnya sambil tersenyum kepada laki-laki itu.

##


Sekian untuk chapter 3~~

Review please, minna?