James Potter, Quidditch, dan Coklat Panas
Chapter 4
Disclaimer : HP ttep punya J.K.R and Fall to pieces by Avril lavigne.
Curhatan author…: perasaan readernya udah lumayan banyak, tapi kok reviewer nya makin lama makin dikit yah…. :'( dan buat yang ngereview, thanks. Tanpa kalian aku bukan apa-apa :D. "aku tanpamu... butiran debuuuuu" #MalahNgamen *PLAK!
PERINGATAN : Typo(s) masih bertebaran (kayaknya sih?), lebih ke normal school life (aku nggak tau caranya bikin kerasa dunia sihirnya T-T)
Have fun reading!
Mata Allessa melotot melihat siapa yang kini berada di depannya. Mulutnya lebar. James bahkan sempat terlonjak kaget dengan kedatangan Allessa yang tidak ia duga.
"KAU?!" seru mereka berdua bersamaan
"Ap—apa yang kau lakukan disini?" tanya James terbata
"Kau juga, apa yang kau lakukan disini?" tanya Allessa membeo perkataan James
James menghela nafas pasrah lalu ia menceritakan mengapa ia bisa duduk tenang di balkon itu.
"Kau membuka botol hiasan yang ada di kamar?" tanya James. Allessa mengangguk
"Berarti kau sudah membaca surat di dalamnya." Kata James. Lagi-lagi Allessa mengangguk.
"Begini, Als. Tahukah kau sedang berada dimana?" ujar James. Kali ini Allessa menggeleng. Ragu
"Awalnya aku juga tidak tahu tempat apa ini. Namun, aku membaca surat itu berkali-kali sebelum memutuskan bahwa tempat ini adalah balkon rahasia. Logikanya, kamarku adalah kamar siswa terakhir dan kamarmu adalah kamar siswi urutan pertama. Mungkin dulu kamar ini tergabung. Kau tahu, tempat ini bahkan tidak ada di peta perampok ku. Nah, kau lapar?" jelas James kemudian bertanya kepada Allessa. "Kemari dan duduk disini." Tambah James sambil menepuk-nepuk bangku pualam putih yang kosong di sebelahnya.
Allessa mengernyit. Ia merasakan darah mengalir di kedua pipinya. Kumohon, Jangan berdebar jantung!. Rutuknya dalam hati. Ia melangkah mendekat ke bangku batu itu. Namun tidak langsung duduk.
"Hei… kau tidak capek berdiri terus? Sini." James menariknya lembut.
Allessa menurut saja.
"Kalungmu." Ujar Allessa tiba-tiba sambil berusaha melepaskan kalung yang ada di dalam gaun tidurnya.
"Eh—eh. Tidak apa-apa. Untukmu saja." Kata James cepat karena melihat Allessa berusaha terlalu keras mengeluarkan kalungnya.
"Oh. Terima kasih." kata Allessa pendek.
Hening.
"Kutunjukan cara kita mengisi perut di sini." James mengeluarkan tongkat sihirnya, Hawthorne tiga puluh tiga setengah senti dengan surai unicorn jantan sebagai intinya, ke arah meja batu kecil di samping bangku. "Segelas Butterbeer." Beberapa detik kemudian muncul segelas minuman berwarna kuning cerah dan berbau gurih di atasnya. James meraih gelas itu dan mulai menyesapnya.
Allessa takjub dengan kejadian barusan. Dia menatap kagum balkon yang beraksen batu pualam ini. "Kau mau mencobanya?" tanya James
"Boleh juga." Sahut Allessa kemudian bersiap mengeluarkan tongkatnya, kayu Ash, dua puluh lima setengah senti, berinti nadi naga remaja. Ia bersiap menggumamkan sesuatu yang ia inginkan.
"Tapi jangan minta cokelat panas, Als." Kata James dengan tatapan serius. Allessa memasang wajah tegang.
"Karena cokelat panasnya terlalu enak sehingga membuatmu ingin meminumnya berkali-kali, dan membuatmu semakin gendut." Tambahnya dengan muka jail dan disambung gelak tawanya. "Hahahaha!"
Allessa langsung menggembungkan pipinya, ia merasa jengkel setelah dipermainkan. Tapi ia heran bagaimana bisa James tahu apa yang dia inginkan. James langsung berhenti tertawa dan mencubit pipi Allessa karena gemas.
"Bagaimana kau tahu aku akan meminta cokelat panas? Kau seorang legilimens?"tanyanya dengan perasaan yang masih agak kesal.
"Aku tahu apa yang kau inginkan…" kata James sambil memejamkan mata seolah menerawang sesuatu,"Segelas cokelat panas." Ucapnya pada batu pualam sambil mengarahkan tongkatnya ke sana.
Kemudian muncul secangkir cokelat panas yang masih berasap dari sana. Aroma kayu manis menguar hebat dari sana. James langsung mengangsurkan gelas itu ke Allessa. Malam itu mereka habiskan dengan berbincang tentang Quidditch di bawah cahaya bulan September. Lentera melayang di sekeliling mereka memberikan efek yang membuat malam itu semakin indah.
"Jadi, dimana ayahmu kini bermain?" tanya James memotong pembicaraan mereka.
"Dad kini bermain di Pudlemore united. Namun setelah ini beliau berencana pensiun." Jawab Allessa sambil menggenggam erat cangkir cokelat panasnya.
James membelalakkan matanya. "Ayahmu orang penting disana. Mana mungkin Pudlemore akan merelakan keeper paling jeniusnya itu pergi dalam usia yang masih produktif." Katanya bingung.
"Entahlah. Aku juga sekaget dirimu saat Dad memberitahuku. Aku belum tahu apa yang akan ia lakukan." Kata Allessa sejenak sebelum memperhatikan langit berbintang di depan mereka. Kemudian tak ada lagi suara yang keluar dari James maupun Allessa. James yang biasanya akan mengoceh tentang leluconnya kini lebih memilih diam. Mungkin sedang mengulum pikiran untuk mencari bahan pembicaraan
Allessa juga lebih memilih asyik dengan pikirannya yang bergejolak akibat keputusan Ayah sekaligus idolanya itu.
"Als." Ujar James memecah keheningan. Allessa menoleh dan menatap James.
"Sejauh apa hubungan mu dengan si Flint itu?" tanya James dingin sambil melengos menjauhi tatapan Allessa.
"Aku—tidak ada apapun diantara kita, kok. Aku juga ingin memperpanjang harapan hidupku dari serangan penggemar-penggemarnya." Jawab Allessa lalu meneguk sisa cokelat panasnya yang mulai mendingin. Ia tak tahu arah pembicaraan ini. Lalu bangkit dan melangkah lunglai menuju jendela. "Jika tak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku masuk duluan," tambahnya lalu meraih Jam sakunya dan melihat pukul berapa saat ini." Sudah cukup larut malam ini." James hanya terdiam.
"Tunggu," kata James tiba tiba saat Allessa sudah mencapai semeter dari jendela. "Aku ingin mengatakan, lusa latihan pertamamu. Rahasiakan tempat ini dari yang lain, kumohon. Kau pasti lelah hari ini setelah semua kau kerahkan tadi sore. Jadi…" James meraih rambut cokelat milik Allessa, dan mengacaknya".. mimpi indah, putri tidur." Katanya sambil menyunggingkan senyum tampannya lalu melangkah menjauhi Allessa dan masuk lubang jendela di kamarnya.
Allessa hanya bisa memerah dan bergumam pada jantungnya yang berdansa riang agar diam. Ia masuk ke lubang jendela dan otomatis terkunci sendiri. Allessa memastikan bahwa tak ada teman sekamarnya yang mengetahui ia masih terjaga. Allessa langsung menyusup berguling di dalam selimut dan berusaha tidur dengan memikirkan semua perasaannya hari ini dan memasang earphone-nya dan menyalakan mp3 playernya yang mulai memainkan lagu milik penyanyi rock muggle kesukaannya, Avril Lavigne yang berjudul Fall to pieces.
I looked away
Then I look back at you
You try to say
The things that you can't undo
If I had my way
I'd never get over you
Today's the day
I pray that we make it through
Make it through the fall
Make it through it all
And I don't wanna fall to pieces
I just want to sit and stare at you
I don't want to talk about it
And I don't want a conversation
I just want to cry in front of you
I don't want to talk about it
Allessa memejamkan matanya. Allessa berbohong kepada James bahwa ia tak menyukai musik keras. Sebetulnya ia tak sepenuhnya berbohong, toh Avril Lavigne lebih easy listening, kan daripada band sekelas Green Day . Ia menikmati bait demi bait lagu ini.
I'm in love with you, Cuz i'm in love with you
I'm in love with you, I'm in love with you
Allessa ingin mengucapkan kalimat itu pada James berulang-ulang kali seperti di lagu itu. Namun mulutnya terbungkam setiap kali James ada di depannya. Ia terbebat kata persahabatannya pada James. Allessa hanya bisa berteriak dalam relung batinnya tentang perasaanya. Ia merasa cukup bahagia dengan statusnya saat ini sebagai sahabat.
Ini semua cukup untuk saat ini, katanya meyakinkan hatinya. Sebelum ia selesai mengukuhkan hatinya, imajinasinya sudah duluan direnggut oleh alam mimpinya.
Minggu ini Allessa benar-benar harus memeras otak dan tenaganya. Guru-guru sepertinya ingin menyegarkan memori pelajaran murid tahun lalu. Padahal memori-memori itu sudah diterbangkan angin ke berbagai tempat. Di awal minggu, Allessa dan kawan-kawan sudah mendapatkan setumpuk tugas esai dari berbagai pelajaran. Transfigurasi professor Patil mengharuskan mereka membuat esai sepanjang setengah meter tentang Transfigurasi sederhana terhadap benda mati, professor Longbottom menyuruh mereka membuat esai minimal sepanjang 30 senti tentang tanaman berkhasiat dari laut mediterania.
Selain otak, fisik Allessa benar-benar di uji. Victorie Weasley mengerahkan hari-hari tenangnya di sore hari untuk melatih anggota-anggotanya. Tanah berlumpur nan becek dan hujan yang terus-terusan mengguyur Hogwarts saat petang tak menghentikannya. Dan sepertinya ia takkan berhenti hingga musim turnamen mulai di awal Oktober nanti. Hari-hari melelahkan Allessa di tutup dengan dialog singkatnya sebelum tidur dengan James di balkon rahasia mereka. Ajaibnya, tak ada teman-teman sekamar mereka yang tahu kegiatan mereka.
"Tak ada suara yang akan menembus jendela ke kamar kita." Kata James suatu hari di koridor menuju kelas sejarah sihir. Allessa menanyakannya dan akan di jawab ketika mereka memiliki kesempatan berdua saja. Tatapan-tatapan kejam nan mematikan dari penggemar Andrew mulai berkurang belakangan ini sehingga membuat mood Allessa kembali membaik.
Daun-daun pohon dedalu mulai menguning dan beberapa berguguran. Pemandangan di awal musim gugur membuat Allessa bepaling ke halaman kastil saat akan makan siang. Iris cokelat hazel-nya melihat pemandangan ini penuh takjub. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang sedang ia nikmati. Tiba-tiba…
GEDEBUKK!
"AW.." rintih Allessa menahan sakit di kepalanya yang sepertinya terbentur sesuatu yang berat.
"Oh. Maafkan aku. Aku tidak bisa melihat kedepan dengan jelas karena buku-buku ini, Allessa ?!" seru seseorang yang sepertinya mengenal Allessa.
"Hai, Andrew." Ujarnya Allessa singkat lalu mengeluarkan tongkatnya dan membantu membereskan buku-buku Andrew dengan mantra.
"Kepalamu tak apa-apa kan?" tanya Andrew
"Haha, Klise…" kata Allessa terdengar garing.
"Bagaimana kelasmu hari ini?" tanya Andrew berusaha membuat topik pembicaraan
"Hah, terima kasih telah bertanya. Yah, hari ini begitu menyiksa. Profesor Greengrass menyuruh kami membuat ramuan penidur tanpa mimpi yang aromanya malah membuatku amat mengantuk. Dan itu berkerja dengan baik. Selanjutnya kelas sihir, baru saja professor Binns memberitahu tentang dua nama goblin pemberontak, efek hasil kelas ramuan sukses membuatku tidur nyenyak. Dan kelas herbologi yang kisruh akibat ulah Fred dan James yang berhasil menyusupkan kembang api Fillibuster di kantung-kantung pupuk kotoran naga. Dan hasilnya, Buff! Seluruh rumah kaca tiga di penuhi aroma kotoran naga. Professor Longbottom hanya bisa memerah meladeni mereka. Lalu mereka di panggil setelah pelajaran itu berakhir." Jelas Allessa sambil berjalan beriringan dengan Andrew.
"Wow. Kehidupanmu tidak pernah monoton karena mereka." Ujar Andrew
"Yeah. Setidaknya aku tidak mati bosan karena duniaku penuh guyonan segar mereka." Kata Allessa sambil berhenti melangkah dan menatap Andrew, "Aku bertanya-tanya. Untuk apa kau menanyakan itu?" lanjutnya sambil memiringkan kepala.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu. Ternyata kau menarik juga. Maukah kau berteman denganku?" cetus Andrew
Allessa terbelalak tak percaya. Ia berusaha mencari guratan kebohongan dalam wajah Andrew, namun tidak bisa. Ia selanjutnya menatap Andrew dan mencoba menjawabnya ketika dua lengan tegap mengapit kedua lengannya. Tubuhnya terangkat karena tinggi badannya kalah jakung dengan para pengapit itu.
"FRED?! JAMES!?" pekik Allessa kaget karena gerakan mereka terlalu tiba-tiba.
"Mau apa kau dengan Allessa?" kata James tajam dengan nada yang sarat tuduhan.
"Buat apa kau memberhentikannya disini saat kita seharusnya makan siang?" kata Fred ikut-ikut menuduh Andrew.
"Aku hanya kebetulan bertemu dengannya dan tidak sengaja menjatuhkan bukuku." Kata Andrew tegang. Namun sepertinya kata-katanya salah. Fred dan James membuka mulut mereka tak percaya. James dan Fred langsung cekatan mencabut tongkat mereka dari kantong jubah dengan tangan yang bebas.
"Jangan ganggu Allessa lagi. Atau kukutuk kau." Ujar James sambil mengacungkan tongkatnya di depan muka Andrew.
"Atau.. kami bisa membuat tangan-tanganmu jadi bulu lembut, atau berakar, atau penuh bisul di seluruh tubuhmu." Kata Fred sambil mengayun-ayunkan tongkatnya dengan santai namun sampai mengeluarkan bunga api.
"FRED! JAMES! Hentikan semua ini." Seru Allessa. Merasakan kemarahan Allessa, Fred dan James memasukkan tongkat mereka kembali ke dalam jubah tanpa mengalihkan matanya ke mata Andrew. Sejenak kemudian sadar karena Allessa yang terus menerus bergerak berusaha membebaskan diri.
Fred dan James lalu menoleh pada Allessa dan memberi tatapan, sebaiknya-kau-diam-saja- karena-kami-sedang-membantumu. "Baiklah. Kami ke Aula dulu, Flint. Ingat ancaman kami." Kata James. Lalu mereka berlalu sambil tetap membiarkan Allessa tergantung-gantung diantara mereka. Kaki Allessa yang pendek tak mampu menggapai tanah. Ia terus meronta-ronta seperti angsa sepanjang perjalanan menuju aula besar. Namun Fred dan James sama sekali tidak peduli dan tidak melepaskan pegangan mereka..
James dan Fred mendudukan Allessa di bangku panjang tanpa berkata-kata. Dan duduk di samping kanan dan kiri Allessa. Mereka mulai makan dalam diam dan muka masam.
"Kenapa kalian berperilaku seperti itu?" tanya Allessa sebal karena tidak tahan berdiam diri
"Kami hanya melindungi mu, Als." Sahut Fred sambil menyendok kaserol ayam
"Kau lupa beberapa minggu lalu, saat kau di benci mayoritas penggemarnya."Kata James
"Secara tidak langsung, dialah penyebab kemalanganmu hari itu."Kata Fred tegas.
"Lagipula. Aku alergi dengan yang hijau-hijau." Kata James tajam
"Tapi adikmu, 'kan juga di Slytherin!" Seru Allessa
"Oh. Itu lain dengan Flint. Aku hanya tidak suka senyum liciknya ketika melihatmu." Elak James.
"Memangnya kenapa kalau ia melihatku, heh?" kata Allessa pedas dan membanting sendoknya dan membuat suara yang bertabuh yang agak keras.
Fred mulai memasang muka dingin dan enggan bergabung dalam perdebatan.
"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan playboy seperti dia. Atau kau memang suka padanya!?" kali ini James menggebrak meja dan membuat meja sedikit bergetar. Semua menoleh padanya kini.
"Kau tak percaya padaku?" mulut Allessa menganga tak percaya. bibir bawahnya sedikit bergetar."Baiklah, jangan bicara padaku lagi!" jerit Allessa marah.
"Oh, baik. Aku juga tidak akan berbicara pada orang sepertimu." Sindir James pedas.
Allessa mendengus sebal dan tidak melanjutkan perkataanya. Ia mulai kembali ke piringnya seolah gumpalan daging ayam berminyak di situ jauh lebih menarik. Klan Potter-Weasley plus Brith hanya memandang mereka tegang, namun tak berani menengahi sampai akhir makan siang. Allessa merasakan matanya mulai panas dan memburam karena airmata yang beringsak masuk dari kelopaknya. Hatinya teriris mendengar perkataan James. 'Jangan menangis, jangan menangis.' Perintahnya pada diri sendiri. James diam-diam melirik ke arah Allessa dan menatap gadis itu yang berusaha keras menahan air matanya dan menghapus yang terlambat ia tahan.
Tiba-tiba datanglah gadis yang sangat cantik mendekati meja mereka. Gadis bersurai panjang berwarna hitam berkilau dan berwajah asiatik itu memasang senyum yang sangat manis. Di kepangan rambutnya bertengger jepit merah muda berbentuk serangkai sulur-suluran dan bunga kecil yang membingkai rambutnya rapi. Dia adalah Rin Corner. Ia melangkah ringan menuju James yang sedang meminum jus labu dari pialanya. Semua mata memandangnya. Hanya James, Allessa dan Fred yang tak mengacuhkannya.
"Kau James Potter, kan?" katanya dengan suara manis dan menepuk pelan pundak James
James tersedak karena ada yang tiba-tiba menepuk pundaknya. "I—iya." Katanya terbata sambil mengelap semburan jus labunya.
"Aku Rin Corner. Salam kenal." Kata Rin malu-malu. Ia meremas roknya karena gugup. Lalu mengulurkan tangannya kearah James.
Allessa baru menoleh dan melihat dari dekat bagaimana Rin Corner itu. Gadis Ravenclaw yang sangat menawan itu memakai rok kelabu yang pendek yang mempelihatkan paha putih mulus miliknya beberapa senti. Allessa melirik kulit gadis itu yang cerah nan bersih, tidak seperti kulitnya yang sepucat bubur. Jubahnya terlihat keliman yang membuat tubuh ramping nan berbentuk miliknya semakin terlihat (entah itu diperbolehkan atau tidak di Hogwarts). Lip gloss dan sedikit make up tipisnya semakin membuat Rin Corner terlihat cantik. Allessa mulai membandingkan rambut lurus, panjang, hitam dan berkilau milik Rin Corner dengan rambut cokelat tebalnya yang hanya diikat seperti biasanya, Ikatan kuncir kuda dan Bando kain lebar.
"Salam kenal juga." Kata James kaku karena heran dengan tamu agungnya.
"Em. Bolehkah aku berbicang-bincang denganmu lain kali?" tanya Rin Corner sambil mengerlingkan mata indahnya
"Boleh." Sahut James masih heran
"Kalau begitu, sudah ya. Sampai jumpa. Dah!" Kata Rin lalu berlalu dan kembali bergabung dengan geng-nya yang meninggalkan aula besar.
James kembali terdiam tanpa menatap kepergian Rin. Ia mengedikkan bahu saat teman-temannya—minus Allessa, menatapnya meminta penjelasan. dan kembali berkutat dengan makan penutupnya.
Aksi diam-diaman itu bertahan hingga beberapa hari setelahnya. Hal ini berakibat pada hasil latihan Allessa, Fred, dan James. Latihan mereka selama dua hari sangat buruk. Allessa sebagai Cheaser tak mampu berkonsentrasi penuh. Pukulan Bludger Fred yang bisanya ampuh kini sering kali meleset. James tak mampu lagi memfokuskan matanya mencari Golden Snitch. Selain itu wajah mereka muram sepanjang hari. Sementara kabar tentang aksi PDKT Rin Corner ke James Potter menyebar semakin luas. Bicang-bincang malam James dan Allessa terhenti berhari-hari. Brith yang didaulat sebagai diplomat menjadi sangat kerepotan.
"Brith, tolong bilang pada Fred, cepat kembalikan buku mantraku yang minggu lalu ia pinjam." Kata Allessa pada Brith, padahal Fred dan James hanya berjarak tak kurang dari 5 meter darinya.
Allessa berusaha tak mengacuhkan tatapan duo jail itu. Saat itu ruang rekreasi sedang agak lengang karena anak-anak kebanyakan pergi keluar asrama untuk berjalan-jalan di sekitar kastil. Maklum, ini malam minggu.
"Tolong bilang pada Allessa, aku akan mengembalikannya nanti, bilang padanya kau akan mengantarkannya." Kata Fred dingin saat Brith melangkah mendekatinya. Brith kembali melangkah ke Allessa.
"Bilang pada Fred. Dia harus menepati janjinya." Kata Allessa sambil melirik Fred.
"Oh iya Brith. Katakan pada Allessa untuk pergi latihan tambahan besok malam." Kali ini giliran James yang ikut-ikut berpesan berantai.
"Katakan pada James, aku sudah tahu." Ujar Allessa taktis
"Katakan pada Allessa…" gumam Fred
"Bilang pada Fred….." ujar Allessa
"Bilang ke Allessa…." Kata James
"HENTIKAAAAN!" Perkataan James terputus karena teriakan nyaring nan lantang milik Brith.
Wajah Brith sedikit memerah dan nafasnya terdengar keras. Sepertinya sejak tadi ia menahan amarah.
"Kalian seperti anak-anak saja! Tidakkah kalian tahu, AKU BUKAN BURUNG HANTU! Kalian 'kan ada di satu ruangan. Sampai kapan kalian mempertahankan kelakuan konyol kalian ini…..! Hetikan semua ini dan kembali berteman! CEPAT!" omel Brith panjang lebar sambil mengentakkan kakinya ke lantai yang langsung membungkam Allessa, Fred, dan James.
Namun mereka masih bergeming. Dan masih enggan memaafkan satu sama lainnya. Tatapan James dan Allessa sekilas bertemu dan langsung berpaling kearah lain.
"Ayo cepat….!" Geram Brith. Namun mereka tetap membatu.
"Baiklah, jika kalian tak mau berbaikan. Kita sudahi saja persahabatan kita ini. Percuma saja bersahabat dengan batu." Kata Brith manis namun berbahaya. Ketika orang yang tadinya diam langsung menoleh ke arahnya.
"Ayo! Bersalaman." Kata Brith sambil berkacak pinggang. Namun teman-temannya seperti lebih baik mendapat kesempatan mencium (?) Voldemort daripada terjebak pada situasi seperti ini.
Dengan dengusan keras Brith berlalu sambil memasang muka jengkel. Ia memanjat menuju ke asrama puteri. Allessa hanya mampu mengikuti langkah Brith dengan pandangan matanya, yang terlihat sendu. 'maafkan aku, sobat.' Katanya dalam hati.
Hari hari James kini semakin membosankan dengan tiadanya teman bicara seperti Allessa. Ia bosan jika harus setiap hari berdiskusi dengan Fred. Karena ujung-ujungnya pasti mereka hanya akan membicarakan tentang rencana kejahilan mereka. Selain itu James kini memiliki penggemar dari kalangan atas. Yak, Rin Corner. Walau James berusaha dingin dan tetap sabar menghadapi kelakuan Rin Corner yang sangat mencolok itu. Setiap saat ucapan salam manis penuh cinta pasti akan terdengar di telinga James. Baik secara langsung saat ia dan Rin berpapasan atau dari kurir-kurir—yang herannya selalu berganti setiap salam.
"Apa sih yang dilakukan cewek aneh itu? Apa dia tidak malu mencari mangsa yang lebih muda setahun darinya." Gerutu Allessa pada Brith penuh intrik.
Brith hanya diam tanpa mengalihkan matanya ke mangkuk sup jagungnya. Seolah tak mendengar suara Allessa.
Tidak peduli dengan aksi diam Brith, Allessa melanjutkan kicauan beonya.
"Apa yang dilihat cowok-cowok itu? hanya karena roknya setinggi sepuluh senti dari lututnya, hanya karena kulitnya yang cerah yang katanya cantik itu. Hanya karena rambutnya lurus hitam dan panjang itu.?" Ujar Allessa dengan wajah yang amat tidak suka. Namun tiba-tiba Brith berdiri sambil membawa serta mangkuknya tanpa berkata-kata. Ia lalu pindah ke sebelah Miranda yang terbengong dengan tindakan Brith yang tiba-tiba.
"Kemarin James dan Fred. Sekarang kau juga ikut-ikut menjauhi ku?!" jeritan Allessa tertahan dengan diiringi kepalanya yang tertunduk dan menangis di sana. Jarak Samping kanan dan kirinya dari murid lain agak jauh. Hatinya semakin tertekan terlebih saat ia menyadari ia hanya sendirian menghadapi semua ini.
James hanya melihatnya dari kejauhan karena kini ia sedang makan di tempat Slytherin. Slytherin ?! yah, setelah masa kejatuhan Voldemort semua asrama bisa lebih menyatu bahkan Gryffindor dan Slytherin—yang dulu notabene adalah musuh bebuyutan, kini bisa sarapan dalam satu meja. Di sana James duduk beramai-ramai dengan koloni sepupunya dan satu anak laki-laki rambut pirang platina. Dia adalah Scorpius Malfoy. Sahabat kental adik laki-laki James dan Pacar sepupu James, Rose Weasley. Dua sejoli itu sedang saling suap menyuap pudding Strawberry sebagai makanan penutup pagi ini.
James masih asik memandangi Allessa yang masih merunduk. Hatinya kadang tak tega melihat gadis itu menangis karenanya, sebagian lagi bahagia saat melihat Allessa hampir menangis karena leluconnya (Catatan : hampir, sekali lagi, HAMPIR.). Entahlah, belakangan ini James lebih sering gelisah saat memikirkan hal yang berkaitan dengan Allessa. Apalagi saat melihat air mata gadis itu menetes. Hatinya seakan teriris sepelan turunnya air mata itu dari pelupuknya.
"Hai, James!" sapa Rin Corner manis sambil berjalan di sebelah James yang tak peduli.
James hanya mengangguk malas.
"Boleh aku berjalan denganmu?" tanya Rin Corner antusias. James hanya mengangkat alisnya sebelah lalu mengedikkan bahunya.
'apa yang dia inginkan?' tanyanya dalam hati.
"Aku akan ke kelas mantra. Satu arah denganmu kan ?" Rin masih berkata dengan girang.
"Hm." Sahut James pendek.
"Emm. By the way, hari ini kau ada latihan?" tanya Rin penuh harap
"Terserah kau." Jawab James singkat
"Oh. Baiklah. Sampai nanti." Seru Rin sambil berlari mendahului James yang menatap kepergiannya dengan pandangan kosong. Perlu beberapa detik bagi James untuk menyadari Rin mencium pipinya sebelum berlalu.
Tapi tak apa. James tidak peduli. Ia hanya fokus untuk latihan terakhir ini dengan kemampuan penuh, tidak setengah-setengah seperti belakangan ini. Namun ia sendiri tidak optimis Gryffindor akan menang melawan Hufflepuff kali ini. James menghela nafasnya, panjang dan pelan. Ia tak lagi menemukan dirinya yang biasanya antusias setiap kali latihan. Ia tak tahu kemana serpihan dirinya itu hilang.
Dengan langkah gontai, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas Transfigurasi dengan harapan professor Patil belum memulai kelasnya. Walau itu harapan kosong karena professor Patil adalah orang yang luar biasa disiplin masalah waktu.
sesi latihan terakhir sebelum pertandingan melawan Hufflepuff
Allessa melewati hamparan padang rumput di dalam lapangan Quidditch dengan perasaan kelabu. Tangan kanannya menggenggam lighting storm 002-nya dan tangan kirinya menyentuh kalung pemberian James.
"Allessa! Cepat kemari." Seru Victorie Weasley
Allessa segera berlari ke tangah lapangan. Seluruh tim sudah lengkap, bahkan Rose Weasley yang seharusnya di bangku cadangan sore ini mengikuti latihan. Terlihat pula James dan Fred yang sedang mendengarkan pidato Victorie yang berapi-api.
"Baiklah, teman-teman. Ayo lakukan latihan terakhir ini dengan matang." Ujar Vic mengakhiri pidatonya sambil menaiki sapunya sejurus kemudian menjejak tanah dan terbang tinggi. Diikuti seluruh anggota tim yang ikut terbakar semangat dari pidato sang ketua, setidaknya hampir seluruh. Allessa, Fred dan James masih termenung dengan wajah datar. Victorie lalu terbang mendatangi Allessa.
"Aku tahu kau sedang dilanda masalah, Allessa. Kumohon, kali ini saja kau berkonsentrasi dalam permainan. Semangat. Lagipula, sulit bagiku mempertahankanmu di tim ini tanpa kontribusi yang bagus darimu. Baik. Ayo latihan." Ujar Victorie menasehati Allessa diakhiri tepukan di bahu Allessa.
"Kulihat James juga kehilanganmu sebagai sahabatnya. Kau tahu?" tambahnya sambil mengerling kearah Allessa yang mengerutkan dahinya tak mengerti. Lalu Victorie kembali pergi mengatur timnya.
Dalam hati Allessa menyadari, tak seharusnya ia bersikap tidak profesional seperti ini. Dengan senyuman tegar ia kembali membulatkan tekadnya.
"Semangat!" gumamnya keras pada dirinya sendiri sambil mengepalkan tangan. Lalu menaiki sapunya dan menjejakkan kakinya dan terbang! Walau ia juga melengos dengan kehadiran Rin corner di bangku penonton bersama antek-anteknya, yang pasti bertujuan untuk menonton James.
pertandingan melawan Hufflepuff, skor sementara Griffindor 60-30 Hufflepuff
Allessa melesat melewati cheaser-cheaser Hufflepuff dengan kecepatan yang mencengangkan. Di sampingnya Helena Finnigan mengawalnya siap mendapat operan Quaffle darinya. Di samping Finnigan, ada Jeremy Finch-Fletchey—murid kelas enam yang tidak Allessa kenal. Allessa mengoper Quaffle ke Jeremy dengan satu tangan yang kemudian langsung di berikan kepada Helena. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh, Helena memasukkan quaffle ke ring Hufflepuff dan memberikan sepuluh poin lagi untuk Griffindor. Allessa hanya bisa bersorak dengan diiringi gegap gempita dari tribune yang di dominasi warna merah-emas. Cuaca sedang agak mendung saat itu.
Tiba-tiba, sapu Allessa bergolak ke kanan dan ke kiri tak karuan. Allessa kehilangan kendali pada sapunya. Ia hampir saja terlempar dari sapunya. Namun harga dirinya terlalu tinggi untuk menyerah memegangi sapu dan jatuh di tengah suasana meriah seperti ini. Sontak sorak sorai berhenti dan berganti menjadi gumaman cemas dari bangku penonton terdengar seperti dengung lebah.
"Ada yang salah dengan sapu Allessa." Kata Brith gusar
"Bagaimana kalau dia jatuh…..?" ujar Charina cemas. Mata Brith langsung menjelajah mencari siapapun yang sedang terlihat melakukan hal yang mencurigakan. Dan akhirnya ia menemukan seseorang yang sedang berkomat kamit sambil memegang tongkat dengan tangan kanan.
"Hmh. Gotcha!" seru Brith sambil menyeringai penuh arti. Ia segera berlari mendekati orang yang mencurigakan itu, yang jauhnya dua bangku di bawahnya. Dengan sedikit berbisik dan berusaha membaur dengan orang-orang di sekitarnya, ia mengucapkan mantra dan mengarahkan tongkatnya ke atas kepala orang itu.
"Aguamenti." Bisiknya keras. Mantra itu langsung memunculkan se-galon air yang entah dari mana datangnya ke sekujur tubuh orang yang memantrai Allessa.
"Awww!" orang yang dimantrai langsung menghentikan aksinya memantrai sapu Allessa. Dalam sedetik kemudian sapu Allessa kembali normal dan bisa membuat penunggangnya kembali beraksi di udara diiringi desah lega dari tribune penonton. Brith tersenyum puas melihat sang pelaku berlari dengan menahan malu karena tubuhnya basah kuyup. 'kau tak bisa melakukan itu pada sahabatku,dasar pengecut!'batinnya.
Pertandingan kembali berlanjut dan penonton langsung bersorak saat James meliuk-liuk indah dan akhirnya berhasil meraih Golden Snitch. Pertandingan berakhir dengan perolehan angka yang 'yeeeeah!' untuk Gryffindor dan 'eewww…' untuk Hufflepuff. Namun Norman Garlin, kapten Hufflepuff, menjabat tangan Victorie Weasley dengan rasa Sportifitas di tengah gegap gempita kemenangan Gryffindor.
"Senang bisa betanding denganmu, Weasley. Kau memang benar-benar Raja—Ratu—nya." Ujar Norman dengan wajah terpesona.
"Terima kasih." Tukas Vic dengan senyum termanisnya. Lalu melepas tangan Norman dengan wajah puas. Tak ada yang bisa menahan rasa terpesonanya pada si seperdelapan Veela ini.
"Kau memang Ratunya, Vic." Goda James yang entah sejak kapan sudah merapat ke bahu kanan saudara sepupunya yang paling tua ini.
"Hemh, bagaimana Teddy bisa tenang di kamp pelatihan Auror kalau kau disini bertingkah seperti itu." tambah Fred dari sebelah kiri Victorie dengan nada yang disedih-sedihkan. Vic yang masih kaget bersiap meledak marah.
"HEII KALIANNN! HENTIKAN OCEHAN KALIAN, ATAU KUSURATI GRANDMA WEASLEY TENTANG KELAKUAN KALIAN INI…!" teriak Victorie dengan muka keunguan.
Yang diancam sudah melesat meninggalkannya sambil meninggalkan gelak tawa mereka yang semakin melemah karena jauh. "Hemh….. dasar anak-anak itu…." gumamnya geli.
Lalu perlahan stadion semakin sepi karena orang-orang perlahan meninggalkannya dan kembali ke kastil. Selain karena sudah mulai gerimis, tak ada lagi yang bisa meraka lakukan di sana. Kedua tim Quidditch pun segera memasuki ruang ganti dan menyimpan sapu mereka sebelum cepat-cepat kembali ke asrama mereka yang hangat dan tentram. Allessa bahkan sempat membalas lambaian antusias dari Dione setelah kemenangan Gryffindor tadi. Mereka semakin dekat sejak Allessa menolongnya beberapa hari yag lalu.
Di ruang rekreasi Gryffindor, kemeriahan kembali berlanjut dengan pesta kecil-kecilan namun meriah lengkap dengan kembang api Fillibuster dan panji-panji Gryffindor yang bersedia dipinjamkan oleh Proffessor Longbottom. Tak lupa makanan yang melimpah hasil "jarahan" Fred dan James dari dapur sekolah.
"Mereka bahkan tak sabar memberikannya kok." Kilah James saat mata biru Rose Weasley mengintrogasinya.
"Tapi tidak sebanyak ini." Kata Rose dengan wajah setengah murka.
"Tatapan mereka seperti menghamba kepada kami. Kami tak tega melihat peri-peri itu menangis dengan hanya mengambil sepotong biskuit kecil, Rose." Ujar Fred santai sambil mencomot kue pai apel yang terlihat menggirukan itu.
"Lagipula, Rose. Kurasa kau semakin mirip Aunt 'Mione kalau kau seperti ini." Kata Roxanne sambil mengangsurkan segelas besar butterbeer. "Santailah sedikit."
Dangan raut menyerah, Rose Weasley perlahan meminum butterbeernya dan mulai menikmati pesta kecil-kecilan ini. Di sisi lain Allessa masih menyendiri dan menduduki kursi empuk paling pojok ruang rekreasi. Matanya hanya menerawang dari jauh keriuhan pesta itu.
"Kenapa kau tidak bergabung saja?" Tanya James yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Allessa terlonjak kaget dan menatapnya sebentar lalu kembali menerawang.
"Sudah lama kita tidak duduk dan bicara seperti ini, ya?" tanya James kembali untuk memancing pembicaraan namun sepertinya usahanya tidak mempan. Allessa sendiri merutuk dalam hati karena sikap dinginnya pada James. Seperti membuka sumbat dalam hatinya selama ini, Allessa akhirnya berkata,
"Maafkan aku." Kata Allessa dan James bersamaan. Keduanya merasa kaget.
"Kau dulu." Ujar James
"Ti—tidak. Kau dulu." Kata Allessa bersikeras namun tak berkutik saat mata cokelat terang James menatapnya lembut. "Baiklah."
"Aku minta maaf karena selama ini bersikap berlebihan. Aku terlalu emosional saat itu." kata Allessa dengan wajah penuh penyesalan.
"Aku juga salah karena bersikap kasar padamu. Kurasa aku juga berlebihan." Kata James mengakui kesalahannya sambil melempar cengiran tampannya ke Allessa.
"Jadi….. teman ?" tanya Allessa Sambil mengarahkan jabatan tangannya. Dan tanpa membuang waktu James langsung meraih tangan Allessa dan menjabat tangannya.
"Sahabat." Tegasnnya. Lalu mereka saling tersenyum dan membiarkan pertengakaran konyol mereka menguap dengan sendirinya. Lalu james menarik Allessa ke dalam pelukannya.
"Ini apa?!" tanya Allessa bingung. Wajahnya mulai merona lagi dan jantungnya mulai meloncat-loncat.
"Pelukan Sahabat." Ujar James singkat namun ia tak tahu, dalam lubuk hatinya mengganggap lebih dari itu. Debaran jantung James bahkan lebih keras dan James berharap Allessa tidak menyadarinya.
JEPRET! Kilatan blitz kamera mengagetkan mereka.
"Ehem.." Fred akhirnya berdeham dan langsung memisahkan James dan Allessa."Sepertinya ada yang melupakan kita, Brith." Seringai jahilnya menguarkan hawa tak manyenangkan.
"Akhirnya….." ujar Brith parau karena mulai menangis.
"Dan James, aku mendapat koleksi foto kalian lagi… ahahahaha." Kata Fred riang. Dan disambut tinju main-main James.
Dalam sekejap mereka melupakan bahwa mereka telah seminggu tak berbicara berdekatan dan akrab seperti ini..
"Fred?" ujar Allessa seperti ingin mengucapkan sesuatu, permintaan maafnya.
"Tak perlu, Als. Aku sudah memaafkanmu. Jika kau sudah meminta maaf pada James, Kau otomatis juga meminta maaf padaku. Emh… tanpa pelukan itu pastinya." Mereka berempat lalu tertawa lepas dan melanjutkan malam dengan keadaan riang gembira mereka tanpa mengira-ngira apa yang akan mereka hadapi besok.
Di tempat lain di Kastil ada dua orang yang sedang bertemu untuk membicarakan sesuatu yang penting.
"Kau harus membantuku mendapatkannya." Ujar seorang Cowok
"Tenang saja, asalkan kau mau membantuku menyingkirkan cewek aneh itu darinya." Ujar seorang Cewek dari balik jubah.
TBC
RnR please :')
Makasih buat yang masih setia membaca Fic ini walau saya (benar-benar) telat mempublish chap ini.
Sekali lagi saya meminta maaf sebesar besarnya, doakan chap berikutnya terbit lebih lancar, amin.
And I hope you still Review it walau itu flame sekalipun.
Okey… bye next chapter!
Xoxo
Ellena Weasley
