Disclaimer: masih sama seperti chapter-chapter sebelumnya..


Warning: AU, mungkin OOC, mengandung genderbend


Chapter 4

Dua tahun kemudian…

##

Gaara berdiri dihadapan tou-sama nya.

"Gaara, kau akan ke Jepang dan mengurus perusahaan cabang kita disana untuk sementara."

"Baiklah, tou-sama. Kapan aku harus berangkat?"

"Hari ini juga."

"Bagaimana dengan sekolahku?"

"Aku sudah mengurusnya."

Gaara membungkukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu, aku akan bersiap-siap tou-sama." Dia berjalan keluar, namun tiba-tiba seakan teringat sesuatu, Gaara berbalik. "Apa aku boleh membawa onee-sama dan onii-sama denganku, tou-sama?"

"Tentu."

Gaara tersenyum. "Arigatou, tou-sama."

Ia menutup pintu ruangan tou-samanya dengan pelan. Gaara mengeluarkan smartphonenya dan mengirim email kepada seseorang.

From : bloody_sand

To : juice_orange

Subject : Japan

Aku akan ke Jepang, Na-chan.

Beberapa saat kemudian emailnya dibalas.

From : juice_orange

To : bloody_sand

Subject : [Re] Japan

Yattane! Aku akan menunggumu.. *smile*

PS: Ganti alamat emailmu, namanya terlalu mengerikan untuk dibaca.

##

Kelas I-A Akademi Konoha selalu ribut. Mulai dari anak-anak yang sibuk membicarakan pekerjaan orang tua mereka, atau memamerkan barang-barang baru mereka, bahkan debat tentang situasi politik Negara mereka.

Iruka menatap seluruh kelas. Ia berdehem untuk memperoleh perhatian murid-muridnya sebelum mempersilakan seseorang masuk. "Baiklah, perkenalkan dirimu di depan kelas." Suasana yang tadinya ribut berubah menjadi tenang, namun bisik-bisik tetap saja terdengar.

"Murid baru?" terdengar bisikan.

"Laki-laki?" bisik seseorang gadis.

"Kuharap begitu." Bisik yang lainnya. "Kita tak ingin saingan kita bertambah."

Namun harapan beberapa pembisik itu punah saat mendengar suara lembut menjawab dari luar kelas.

"Hai. Arigatou Iruka-sensei."

Seluruh kelas memusatkan perhatian mereka ke depan, tepatnya ke arah gadis yang sudah berdiri di depan kelas mereka sambil tersenyum. Gadis itu memiliki rambut hitam sepunggung dan sepasang mata dengan iris biru berkilauan.

"Hajimemashite, watashiwa Uzumaki Kyuuna. Douzo yoroshiku." Gadis itu membungkuk.

"Baiklah Uzumaki-san, kau bisa duduk disamping Nara-kun." Iruka menunjuk kearah salah satu kursi kosong.

"Baiklah, sensei."

"Nah, perkenalan lebih lanjut bisa menunggu saat istirahat nanti. Sekarang buka buku sejarah kalian halaman 255."

Terdengar suara tas dibuka dan beberapa saat kemudian hampir seluruh kelas telah tertidur.

##

Begitu bel berbunyi, hampir semua murid meregangkan tubuhnya. Kenapa menggunakan kata 'hampir'? Yah, karena tidak semuanya tertidur atau minimal mengantuk setelah dua jam disiksa dengan sejarah Jepang, dua jam matematika, dua jam pengetahuan sosial dan dua jam sastra Jepang.

Misalnya saja seorang pemuda berambut hitam yang duduk di sudut kelas yang sejak tadi memperhatikan Iruka-sensei dan Kurenai-sensei menerangkan pelajaran tanpa sekalipun menguap.

Atau gadis yang baru masuk tadi.

Atau pemuda berambut kuncir hitam yang duduk disamping gadis itu.

Ah, lagi-lagi ralat. Nara Shikamaru sudah tertidur bahkan sebelum pelajaran dimulai.

Saat mendengar bel berbunyi, para gadis langsung berdiri, mengeluarkan bento mereka, dan bergerombol di depan meja pemuda berambut hitam yang pertama kali kita bicarakan tadi.

"Sasuke-kun, apa aku boleh makan siang bersamamu?" seorang gadis dengan rambut pink lembut dan iris kehijauan bertanya.

"Urusai, Sasuke-kun akan makan siang denganku!" salah seorang gadis lainnya yang memiliki rambut pirang panjang mendorong gadis pertama.

"Enak saja, Sasuke-kun akan makan siang bersamaku!" gadis lainnya mendorong gadis kedua tadi. Akibatnya bisa dilihat, seluruh gadis itu saling dorong.

"Kalian berisik. Tinggalkan aku sendiri." Akhirnya Uchiha Sasuke kehilangan kesabarannya dan bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan kelas.

Uzumaki Kyuuna, menatap drama itu sambil diam-diam memutar bola matanya. Ia baru membuka bentonya saat mendengar salakan dari dekat kakinya.

"Akamaru, jangan menyalak padanya! Ia adalah teman sekelas kita! Ingat baunya!" Kyuuna menatap seorang pemuda yang dengan santai duduk di kursi dihadapannya.

"Yo, aku Inuzuka Kiba. Salam kenal!" ucapnya sambil tersenyum lebar.

"Salam kenal, Inuzuka-san." Kyuuna membalas senyuman itu.

"Yang memakai kacamata hitam dan terlihat murung ini Aburame Shino, dan dia Hyuuga Hinata." Kiba berkata sambil menunjuk dua orang lainnya yang berdiri disampingnya.

Si rambut pink yang baru saja ditolak bergumam, "Haruno Sakura."

"Yamanaka Ino." Giliran si rambut pirang berbicara.

Naruto menatap pemuda yang tertidur disampingnya. "Dia?"

"Oh, dia Nara Shikamaru. Yang sedang makan disana Akimichi Chouji." Kiba menjawab pertanyaan Naruto.

"Ne, Uzumaki-san, sebelumnya kau darimana?" Haruno Sakura bertanya dengan nada penasaran. "Sekolah ini bukan sekolah biasa dan kau bisa masuk di tengah tahun ajaran. Kau pastilah spesial."

Kyuuna lagi-lagi tersenyum. Ia sudah melatih ini berkali-kali.

"Aku berasal dari London, Haruno-san. Sepupuku memutuskan mengirimku ke Jepang karena menurutnya jika aku tidak diingatkan sekarang, mungkin saja aku akan melupakan Jepang sebagai daerah asalku."

"Sepupu? Memangnya orangtuamu dimana?" Sakura langsung menutup mulutnya saat pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.

"Ah, okaa-san meninggal saat melahirkanku dan aku jarang bertemu dengan otou-san karena dia sibuk. Sepupuku yang selalu mengurusku."

"Ma-maafkan aku."

"Tak masalah, Haruno-san."

Kyuuna mengamati seluruh teman-teman lamanya yang berkumpul di mejanya. Mereka saling tatap seakan mereka baru saja menyepakati sesuatu.

"Uzumaki-san, kami sebenarnya penasaran."

"Tentang apa, Yamanaka-san?"

"Apa kau mengenal Namikaze Naruto?"

Kyuna terlihat agak kaget. "Bagaimana kalian bisa berpikir seperti itu?"

Kiba menjawab dengan agak ragu. "Yah, kau berasal dari London dan terakhir kali kami mendengar kabar tentang Naruto, ia pergi ke London."

"Lalu?"

"Mu-mungkin kau akan menertawakan kami, Uzumaki-san, tapi ka-kami merasa kau mirip dengan Naruto-kun." Hinata menambahkan.

"Hah? Mirip? Apanya?"

"Matamu, dan intuisi kami." Ino menjawab dengan tegas.

Kyuuna menghela napas. Ia bisa melihat mereka menatapnya penuh harap. Dalam hatinya Kyuuna menyeringai.

"Well, aku tidak terlalu paham dengan masalah 'perasaan' ini, tapi ya, Naruto-kun adalah sepupu jauhku. Memangnya kenapa?"

"Bagaimana keadaan Naruto sekarang?"

Kyuuna memasang wajah sedih. "Ka-kalian tidak tahu?"

"Tahu apa?" beberapa suara bertanya serentak.

"Naruto-kun sudah meninggal, sekitar dua tahun yang lalu." Kyuuna meneteskan air mata. "Ia sedang mengejar seorang penculik ke sebuah gedung kosong dan saat Naruto-kun hampir menangkapnya, ia meledakkan dirinya dan membawa Naruto-kun tewas bersamanya. Tapi, untuk covernya, Naruto-kun dikatakan tewas karena kecelakaan mobil."

"Mu-mustahil.." Hinata memucat. Shino yang berdiri disamping Hinata langsung menangkap tubuh Hinata saat gadis itu pingsan.

"Hinata!" Sakura bergegas mengikuti Shino yang menggendong Hinata ke UKS.

"Apa yang terjadi?" Kyuuna bertanya tak paham.

Teman-temannya yang berdiri di sekeliling mejanya menunduk. Bahkan Shikamaru yang sedang tertidur, bangun dari tidurnya. Dan Chouji menghentikan makannya.

"Hinata sudah lama menyukai Naruto, tapi ia tak pernah berani mengatakannya." Jawab Kiba. "Dan sekarang ia harus menerima kabar kalau ia tak akan pernah lagi bertemu dengan Naruto."

Kyuuna sedikit tersentak."Kalian benar-benar tidak tahu?" Ia menghapus air matanya. "Padahal aku yakin Uchiha-san mengetahuinya. Dia adalah partner Naruto-kun bukan?"

"Kau mengenal Sasuke-kun?" Ino bertanya dengan nada kurang suka.

"Naruto-kun pernah bercerita tentangnya beberapa kali." Jawab Kyuuna. "Aku heran kenapa Uchiha-san tidak memberi tahu kalian, padahal dia adalah partner Naruto-kun."

Kiba tersenyum pahit. "Mantan partner, lebih tepatnya."

##

Akademi Konoha adalah tempat anak-anak yang memiliki bakat khusus bersekolah. Disana mereka akan dilatih sejak awal untuk menjadi orang-orang penting. Mulai dari calon presiden, menteri, pengusaha, pengacara, polisi, bahkan agen khusus, dengan kata lain mata-mata.

Kelas mereka terbagi dua. Ada kelas umum dan kelas khusus.

Kelas umum berlangsung hingga sebelum makan siang, sementara kelas khusus berlangsung dari sesudah makan siang hingga pukul lima sore. Tapi terkadang bisa lebih dari itu, tergantung guru yang mengajar. Yang penting mereka tak melewati batas toleransi sekolah, yaitu pukul tujuh malam.

Kelas umum berisi pelajaran-pelajaran umum seperti sejarah, sastra, matematika, ilmu alam, dan lainnya. Sementara kelas khusus berisi pelajaran khusus sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Ada kelas khusus pertahanan, kelas khusus ilmu politik, kelas khusus ilmu medis, dan sebagainya.

##

"Setelah ini kita ada kelas apa?"

"Latihan fisik, dengan Guy-sensei."

Terdengar suara mengerang. Para murid kelas khusus lainnya menyeringai saat melihat murid kelas khusus pertahanan memasang wajah putus asa.

"Oh ayolah, tidak mungkin seburuk itu." Kyuuna menatap teman-temannya.

"Kau masuk kelas khusus apa, Uzumaki-san?" Shion, salah satu murid kelas khusus ilmu politik bertanya.

"Kelas khusus pertahanan." Kyuuna menjawab setelah melirik jadwalnya.

Shion menepuk bahu Kyuuna seakan ingin memberi semangat. "Kami berharap kau bisa bertahan, Uzumaki-san. Kelas Guy-sensei adalah kelas paling mengerikan diantara seluruh kelas-kelas lainnya."

"Kenapa?"

"Kau akan tahu nanti." Sara, salah satu murid kelas khusus ilmu medis mengedipkan matanya.

Kyuuna akan bertanya lebih lanjut, tapi ia merasakan handphonenya bergetar.

"Ara? Siapa yang menelfon?" gumamnya. Ia kemudian melambai pada Sakura dan Ino yang sedang menunggunya. "Kalian duluan saja, Haruno-san, Yamanaka-san. Aku harus menjawab telfon ini."

Kyuuna keluar dari kelas dan mencari salah tempat yang sepi sebelum mengangkat telfonnya.

"Moshi-moshi. Kyuuna disini."

"Wah, kau bisa menjawab telfonmu dengan lancar memakai nama itu. Kuharap kau belum lupa namamu yang sebenarnya, Na-chan."

"Ku-chan! Kenapa kau tiba-tiba menelfon?"

"Tidak ada yang penting sih, hanya ingin memperingatkanmu."

"Memangnya ada apa?"

"Gaara akan ke Jepang."

"Aku sudah tahu. Dia mengirimiku email."

"Kalau begitu jangan lupa ingatkan dia tentang identitasmu. Kita tak ingin kau mendapat bahaya disana, saat aku dan tou-san tak berada di dekatmu, Naruto."

"Baiklah, Ku-chan."

"Kalau begitu, sampai nanti. Aku tak ingin membuatmu terlambat ke kelas berikutnya."

"Sampai nanti, Ku-chan."

Naruto menyimpan handphonenya. Ia menepuk pipinya dan mengeluarkan ekspresi 'Kyuuna' nya kembali.

"Aku siap."

##

Kelas Guy-sensei adalah latihan fisik. Materinya tergantung dengan suasana hati Guy-sensei. Terkadang mereka melakukan olahraga biasa, misalnya basket, voli, lari, atau olahraga normal lainnya. Tapi saat Guy-sensei dirasuki oleh semangat masa mudanya, mereka akan berlatih bertarung. Mengingat mereka semua adalah calon agen atau anggota kepolisian, mereka semua menguasai beberapa jenis beladiri.

Paling tidak itulah yang sudah dijelaskan oleh Hinata pada Naruto. Hinata sudah terlihat tenang dan bersikeras untuk mengikuti pelajaran seperti biasa. Tapi Sakura melapor kepada Guy-sensei dan berkata kalau Hinata kurang sehat, jadi Hinata diperbolehkan untuk beristirahat dan hanya memperhatikan teman-temannya.

Naruto menguap. Ia mengerahkan seluruh tenaganya agar ia tidak tertidur saat di kelas tadi. 'Uzumaki Kyuuna' adalah gadis normal (senormal yang mungkin bagi seorang calon agen) dan sama sekali bukan tomboy seperti Naruto.

"Baiklah, pemanasannya sudah selesai!" Guy-sensei meniup peluitnya. "Karena hari ini ada murid baru, kita akan mulai latihan fisik kita dengan yang ringan saja!"

Naruto menatap teman-temannya tak mengerti saat melihat ekspresi horror mereka. Guy-sensei berkata mereka hanya akan latihan ringan bukan? Jadi apa yang salah?

Beberapa saat kemudian Naruto sadar apa yang salah dari 'latihan ringan' ala Guy-sensei. Mereka sudah berlari mengelilingi lapangan lima puluh kali, sampai-sampai Naruto merasa kepalanya pusing, dan saat Naruto mengira ia bisa beristirahat, Guy-sensei memberi perintah untuk melanjutkan latihan mereka dengan push-up dan sit-up masing-masing 100 kali.

"Huufh…huufh.. Apa kalian selalu mengalami ini setiap hari?" Naruto berusaha mengatur pernafasannya sambil bertanya kepada Ino yang saat ini sedang push-up disampingnya dengan ekspresi yang sama parahnya dengannya.

"Huufh..huufh.." Ino berusaha menjawab diantara napasnya yang tersengal-sengal. "Minimal dua kali seminggu."

Dan begitu latihan ringan mereka berakhir, sebagian besar murid kelas pertahanan sudah terkapar. Naruto menatap sekelilingnya dan baru sadar ada beberapa wajah yang tidak dikenalnya. Ia bangkit dan berjalan tertatih ke dekat Hinata yang duduk mengamati mereka dengan ekspresi khawatir.

"Ne, Hyuuga-san. Aku baru sadar ada beberapa orang yang tak kukenal di kelas kita? Siapa mereka?"

Hinata tersenyum. "Pelajaran kita hampir berakhir dan kau baru sadar ada orang yang tak kau kenal, Uzumaki-san?"

Naruto cemberut. "Well, maafkan aku, tapi aku tadi terlalu sibuk mempertahankan agar nyawaku tetap di tubuhku sehingga aku tak sempat memperhatikan sekelilingku."

Hinata akhirnya tertawa kecil. Naruto menatap Hinata yang tertawa, merasa perasaan bersalahnya sedikit berkurang. Saat mendengar kalau Hinata selama ini menyukainya, Naruto benar-benar merasa bersalah karena tidak menyadari perasaan Hinata padanya. Ia harus mengakui, ia tak paham dengan masalah-masalah seperti ini. Saat menatap Hinata yang tertawa, Naruto menetapkan dalam hatinya, ia akan berusaha membayar kesalahannya pada Hinata dengan menjadi sahabat gadis ini.

"Mou, Hyuuga-san.."

Hinata menutup mulutnya. "Ah, gomenasai Uzumaki-san.."

"Kyuuna. Kau bisa memanggilku Kyuuna, Hyuuga-san." Potong Naruto.

"Kalau begitu kau juga bisa memanggilku Hinata, Kyuuna-san."

"Un! Hinata-chan kalau begitu!" Naruto mengangguk. "Jadi bisa beritahu aku siapa mereka, Hinata-chan?"

Hinata menunjuk salah satu murid laki-laki yang berlari. "Itu Neji-niisan."

"Kakakmu?"

"Sepupu." Naruto memperhatikan mata Hinata yang terlihat sedih saat menatap 'Neji-niisan' ini. "Yang pakai seragam hijau dibelakangnya adalah Rock Lee-senpai, dan gadis yang sedang meneriaki mereka adalah Tenten-senpai."

"Hoo.." Naruto mengangguk-angguk. "Dan yang disana?" Naruto menunjuk sekelompok murid yang kelihatannya juga lebih tua dari mereka sedang berlatih bertarung dan dikerumuni segerombolan gadis-gadis yang berteriak menyemangati mereka. Naruto bahkan yakin ia bisa melihat kilasan rambut pink di kerumunan itu.

"Ah, itu senpai-senpai kelas tiga. Yang berambut hitam dengan kerutan di hidungnya itu Uchiha Itachi-senpai, rambut merah dengan iris violet Akasuna Sasori-senpai, dan yang berambut pirang panjang seperti Ino-san itu Deidara-senpai."

"Lalu, gadis berambut merah dan berkacamata itu siapa?"

"Itu Karin-senpai." Hinata menambahkan. "Ia kelas II, sama seperti Neji-niisan, Lee-senpai, dan Tenten-senpai."

"Dan semua yang berada di sini adalah murid kelas pertahanan?"

"Begitulah, Kyuuna-san. Beberapa kelas kita digabung dengan kelas senior kita."

"Masih ada kelas lain yang digabung?"

"Kelas praktek lapangan kita juga digabung, Kyuuna-san."

Mereka duduk dalam keheningan sambil memperhatikan teman-temannya yang lain menyelesaikan jatah mereka. Tepat pukul enam, Guy-sensei meniup peluitnya.

"Untuk hari ini cukup! Sampai bertemu lagi hari Rabu!" Guy-sensei mengacungkan jempolnya.

Begitu Guy-sensei berlalu, murid-murid kelas pertahanan langsung terduduk. Naruto duduk dan bersandar di salah satu pohon, namun Hinata mengulurkan tangannya. "Ayo, Kyuuna-san. Kita harus segera mengganti baju kita dan kembali ke asrama."

Naruto mengeluh. "Hinata-chan, tidak bisakah kita duduk disini sebentar? Kakiku terasa seperti pudding."

Hinata mengangkat alisnya. "Kenapa pudding?"

"Pudding lebih lunak daripada jelly." Naruto tersenyum. Ia kemudian menatap sekelilingnya dan melihat murid-murid kelas pertahanan lainnya berjalan dengan lunglai. Beberapa bahkan kelihatan berjalan sambil menyeret kaki mereka. Tiba-tiba Naruto melihat sosok yang tadi luput dari pengamatannya

"Hinata-chan, yang sedang duduk di pohon sana,-" Naruto menunjuk salah satu pohon tak jauh dari mereka, "-apa dia juga anggota kelas pertahanan?"

Hinata mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Naruto. "Ah, ya. Itu Sai-senpai."

"Dia tidak ikut latihan tadi."

"Fisiknya agak lemah, jadi dia jarang mengikuti kelas ini. Biasanya ia hanya duduk memperhatikan."

"Ooh.." Naruto kemudian bangkit dan menepukkan debu dari celananya. "Aku siap, Hinata-chan. Ayo kembali ke asrama."

Hinata berjalan disamping Naruto. "Kamarmu nomor berapa, Kyuuna-san?"

"25. Kamarmu?"

"23."

"Yaay! Kamarmu dekat denganku." Naruto menggandeng tangan Hinata. "Tapi siapa penghuni kamar 24?"

"Shion-san. Dan kamar 26 adalah milik Sara-san."

Hinata bisa melihat ekspresi Naruto yang sedikit berubah. "Ka-kau baik-baik saja, Kyuuna-san?"

"Tentu, Hinata-chan."

"Kau yakin?"

Naruto melambaikan tangannya. "Aku hanya lapar. Itu saja." Dan seakan mendukung pernyataan itu, perut Naruto berbunyi.

Hinata tertawa saat melihat Naruto yang menggosok pipinya dengan wajah merona.

"Kalau begitu kita harus bergegas. Setelah kita sampai di asrama, kita mandi dan setelah itu langsung ke kantin."

"Yup!"

##