James Potter, Quidditch, dan Coklat Panas

Chapter 5

Disclaimer : HP ttep punya bunda J.K.R and

PERINGATAN : Typo(s) masih bertebaran (kayaknya sih?), OOC, dkk

Have fun reading!


Allessa meneguk sisa cokelat panas rasa Strawberry-nya lalu kembali berkutat dengan esai herbologinya. Di pangkuannya terbuka buku 'tanaman aneh bin ajaib dari Asia'. Sambil komat kamit ia menggoreskan pena bulunya dengan agresif. Ruang rekreasi hampir di penuhi anak-anak kelas empat yang mengerjakan pr mereka. James, membelai-belaikan ujung pena bulu di dagunya untuk mencari inspirasi—Brith sudah menasehatinya agar meminjam buku tentang tanaman obat, James hanya mendengus menanggapinya. Brith, menulis esainya dengan penuh pecaya diri dan telah melampaui batas panjang minimum pengerjaannya, 50 senti. Fred, berulangkali menoleh kan kepalanya ke esai Brith—Charina memberinya pandangan tak setuju. Setelah dilanda kebisuan selama beberapa jam. James berteriak,

"AAH! Aku sudah bisa merasakan kepalaku berasap sekarang. Ayo, Fred! Cari kesenangan di luar." Ujarnya sambil merenggangkan lengannya.

"Dengan senang hati." Sahut Fred penuh senyum sambil menggulung esainya dan merapikan mejanya. Fred lalu berdiri dan mengikuti James yang sudah setengah jalan memanjat keluar lukisan.

"Kalian belum menyelesaikan esai kalian dengan benar!" kata Brith dengan penuh penekanan

"Sudah, lima puluh lima senti." Kata James yang sudah separo keluar dari lukisan.

"Tapi…" perkataan Brith tak bersambung karena Allessa kemudian menyanggah.

"Sudahlah, Brith. Biarkan mereka keluar daripada mereka meledakkan ruangan ini saking bosannya." Kata Allessa penuh pengertian.

"Oh, Allessa. Kau memang yang terbaik." Kata Fred kagum. Sedangkan James sudah tersenyum jumawa sambil menatap Allessa.

"Aku menyukaimu saat kau baik hati begini, Als." Katanya tulus lalu menutup lukisan. Allessa hanya bisa mengangguk tulus membalasnya. Setengah karena dia berusaha bersikap anggun, setengahnya lagi ia ingin menyembunyikan pipinya yang merona. Setelah semua kembali normal pada pekerjaanya masing-masing, Brith menghadap Allessa yang akhirnya menuliskan titik akhir pada esainya.

"Als… kenapa kau membiarkan mereka pergi? Mereka pasti akan mencari masalah lagi dengan mr. Flich. Akh, percuma saja aku dapat sepuluh poin dari kelas Transfigurasi professor Patil hari ini." Keluh Brith dengan menatap Allessa yang sedang menggulung perkamennya. "Kau selalu menganggap enteng lelucon mereka."

"Hemh! Kita tidak punya pilihan lain, Brith. Lagipula, Mereka bisa menjaga diri mereka sendiri, kan?" Kata Allessa dengan tatapan penuh arti. "Sudahlah. Ayo cepat selesaikan esai mu. Aku ingin kembali ke kamar. Apa kau sudah selesai, Char?" tambahnya lalu menoleh ke Charina yang sedang membersihkan sisa-sisa tinta di tangan dan di perkamennya dengan tongkatnya. Charina menggangguk menanggapinya.

Sesampainya di kamar, Allessa dan kawan-kawan mengganti baju mereka dengan gaun tidur. Sebelum mematikan cahaya lentera, Allessa meraih pena bulu dan selembar perkamen.

"Astaga. Apa kau masih mau menambah panjang esaimu, Als?" tanya Charina heran saat ia beranjak menutup kelambunya

"Hem, tidak. Aku hanya ingin mengirim surat pada Mum dan Dad." Kata Allessa enteng sambil terus menggoreskan pena bulunya diatas perkamen. Setelah beberapa menit, ia akhirnya menggoreskan kalimat terakhirnya dan berseru kecil. "Yeah, selesai." Lalu ia mambaca kembali suratnya.

Dear Mum dan Dad

Mum, semoga mum bahagia dan sehat disana—untuk Dad juga. Dan untuk Dad, selamat menikmati masa pensiun!

Dad, disini mulai berangin. Coba Dad tebak? Aku Cheaser Gryffindor. Aku menghadapi pertandingan pertama ku dengan wow dua hari yang lalu! Gryffindor menang melawan Hufflepuff, 210-50. Asyik kan, Dad? Aku memasukan 3 gol ke gawang! Sapu pilihan Dad memang tidak salah. Ia sangat mudah di kendalikan walaupun bukan termasuk sapu mewah—lightning storm bukan sapu mewah, tapi berkualitas. Tiga minggu lagi aku akan melawan asrama Peter—Ravenclaw. Dan yang pasti aku akan melawannya di tiang gawang nanti. Doakan aku menang yah, Dad! HIDUP GRYFFINDORS!

Mum, aku tak tau harus berkata apa tentang gaun mum. Aku berjanji akan memfoto diriku sendiri di Yule ball nanti. Tapi, mum, jangan terlalu kaget dengan dekorasi tambahan di gaun itu, oke? Aku akan terlihat cantik. Apakah Peter juga punya jubah pesta? Kuharap jauh lebih antik dari pada milikku.

Nah, mum, dad. Sampai disini dulu suratku. Aku sangat merindukan kalian disini.

Salam sayang,

Allessa

Allessa lalu menggulung perkamennya dan mengikatnya di kaki Howl. Allessa lalu menyeberangi kamar dan menemukan sepotong Owl treat lalu di berikannya ke Howl. Lalu Allessa menyodorkan lengannya agar howl bisa di bawanya ke dekat jendela sambil bertengger di lengannya. Ia kemudian membuka jendela itu. "Antarkan ke rumah, ya?" bisiknya penuh sayang.

Burung hantu elang itu ber-uhu serak dan pelan dan mematuk tangan Allessa dengan anggun lalu mengepakkan sayapnya dan terbang ke selatan. Allessa mengawasinya hingga warna coklat keemasan Howl hilang ditelan malam. Lalu ia berbalik dan mengurung ranjangnya dengan kelambu. Saat ia menarik selimutnya,

"Als." Suara mengantuk Brith terdengar di samping kanan tempat tidur Allessa. Suara brith yang memecah keheningan malam.

"Ya?" sahut Allessa sambil membuka kelambunya sebatas kepalanya saja

"Apakah kau…" kalimat Brith mengambang."…menyukai James?"

Allessa terkejut mandengar pertanyaan Brith. Ia tak tau harus menjawab apa.

"Aku….aku dan James hanya sahabat. Hanya sahabat." Jawab Allessa tanpa dipikir. Ia mulai bertanya dalam hati apakah Brith juga menaruh perasaan pada James.

"Aku hanya berpikir, jika kau benar-benar menyukai James, persahabatan kita akan berubah." Kata Brith lambat-lambat."Tapi tak jadi soal jika kau mau jujur, seperti ini." Tambahnya sambil melempar senyum kecil ke Allessa dalam keremangan lentera.

"Sudahlah. Ayo tidur." Lanjut Brith sambil kemudian menutup kelambunya. Allessa lalu mengikuti Brith menutup kelambu. Namun ia tak terlalu cepat untuk tidur. Ia memikirkan kembali, apa perasaannya yang sebenarnya pada James. Ia sedikit merasa bersalah pada Brith. Tiba-tiba ia merasakan ingin pergi ke balkon rahasia, setidaknya untuk menjernihkan pikirannya yang berkabut.

Dengan amat pelan ia menyibakkan kelambunya. Ia mengambil mantelnya dan mengantongi tongkatnya dan berjalan berjingkat menuju jendela rahasia.

"Aku keturunan Crouch. Biarkan aku masuk." Bisiknya lalu membuat tanda silang ke kaca jendela yang dingin. lalu, ia membukanya dan langsung disambut terpaan udara dingin.

Begitu disana ia langsung menangkap profil James. James tertunduk dan membekap wajahnya dalam tangkupan kedua tangannya, lain dari pada James yang biasanya. Allessa mendekat tanpa suara. Ia berjingkat mendekati James.

"Boo!" serunya sambil tiba-tiba menepuk kedua pundak James, sang empunya pundak langsung terlonjak kaget. "Hihihi. Kenapa kau bersikap aneh sekarang, heh? Apakah leluconmu gagal? Apa kau tertangkap mr. Flinch? Atau kau ketahuan Profesor Rickman? Cerita padaku." Serang Allessa dengan pertanyaan bertubi-tubi lalu duduk di samping James.

James hanya tersenyum lemah. "Tak apa." katanya lalu hening.

Lalu Allessa mulai berkicau. "Kau tahu? Apa strategi kita waktu melawan Ravenclaw nanti. Aku sudah memikirkan beberapa kemungkinannya. Pertama keeper mereka hebat—tentu, dia kakakku, tapi kinerja beater meraka kacau. Kedua…."

Menyadari perkataan berapi-apinya tidak di gubris oleh James, Allessa lalu mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak kesini hanya untuk berbicara pada patung gargoyle. Tanggapi aku, James, aku sedang membuat strategi." Katanya kesal.

"Aku mendengarkanmu. Aku hanya mengetesmu. Berapa lama kau akan kuat berkicau seperti itu." balas James dengan seringainya seperti biasa.

Allessa memberi tinju di pundaknya. "Apa kau berharap menyakitiku dengan tinju sekuat serudukan kelinci itu? hemf." Goda James.

Karena semakin kesal, Allessa berpindah ke dada James dan memberinya pukulan bertubi-tubi."hei. hei. Heiii.! A…a.. sakit tahu. Oke—oke. Hentikan." Kata James terputus-putus lalu berhenti saat ia mengunci kedua lengan Allessa di depan dadanya dan menghentikan serangan itu, sekaligus menahan posisi mereka.

"Hentikan, oke?" kata James sambil menahan tawanya saat menatap wajah Allessa yang merah padam."Aku hanya bercanda. Kau seharusnya sudah terbiasa."

"Tapi kau selalu melakukannya." Keluh Allessa masih dengan kedua tangannya yang masih terkunci genggaman James. Lagi, James hanya menyeringai. Sejenak hening, dengan mereka yang masih bertatapan. Wajah mereka hanya berjarak belasan senti. Nafas hangat James menerpa wajah Allessa.

1 detik… 2 detik….. 3 detik…... Jantung Allessa tidak berhanti meloncat-loncat. Ia menyadari beberapa mililiter darahnya mengalir ke pipi. 'bisakah ini berlangsung sedikit lebih lama?' batin Allessa

"Aku lapar. Ayo minta sesuatu."

Setelah tangannya bebas, Allessa mendahului James meminta sesuatu ke batu pualam. Terbesit sedikit kecewa dalam hatinya. Namun Ia tetap mengetukkan tongkatnya dan bergumam tentang dua gelas Cokelat panas beraroma vanilla.

"Untuk apa kau meminta dua gelas? Kau mau semakin gemuk?"

Sejenak Allessa menggembungkan pipinya. "Sudahlah. Ini." Kata Allessa sambil mengangsurkan gelasnya."Cokelat bisa memberi rasa nyaman yang bisa membuat hati sedikit lebih tenang. Ada apa?"

"Apanya"

"Kau diam saja. Tidak seperti biasanya. Kau bengong, kau muram. Mau bukti apa lagi?" omel Allessa

"Ada beberapa hal yang tidak dapat kukatakan padamu." Kata James lalu meneguk cokelat panasnya.

"Kau tidak pantas berwajah serius, James." Tukas Allessa. "Aku sedang ada masalah ya? Padahal kau kan hanya keluar beberapa menit. Tidak sampai satu jam. Setidaknya kau tidak membuat sessuatu yang membuat kekacauan besar, kan? Kau kan hanya punya satu ketakutan—dikeluarkan."

"Aku hanya bingung."

Allessa mengedikkan kepalanya dan menatap James. Tapi james hanya mengalihkan pandangan dari tatapan Allessa.

"Aku menyukai seseorang." Kata James sambil bermuka tegang

"O…kee. Lalu?" tanya Allessa

"Tapi dia tak bisa kugapai. Ada tembok diantara kami."

"Hancurkan temboknya kalau begitu." Canda Allessa.

James tersenyum pasrah. "Temboknya seorang manusia, Als."

"Aku ingin sangat ingin mengakatan aku suka—atau bahkan cinta—padanya. Tapi aku bingung. Saat aku akan berlari padanya, aku malah harus menjauhinya."

Allessa hanya terpatung, detak jantungnya berhenti sesaat. "Kenapa?" tanya James

"Wow! Kalimat puisimu luar biasa indah, James. HOOAM… sepertinya sudah larut malam. Ayo kembali ke kamar." Seru Allessa lalu meneguk sisa cokelat panasnya dan bangkit. Sejenak ia meregangkan ototnya yang kaku akibat duduk di udara yang dingin. James meminum habis cokelatnya. Matanya sudah diliputi rasa kantuk.

"Als, tunggu." Seru James saat akan meninggalkan balkon dan meraih pergelangan tangan Allessa.

Allessa berbalik, "Ada apa?"

"Ada sisa cokelat di mulutmu."Kata James lalu menghapus noda cokelat di sudut bibir Allessa dengan ibu jarinya. Lagi, Pipi Allessa merona.

Seperti biasa, James mengacak rambut Allessa. "Selamat tidur, putri kecil."

Allessa POV

Aku tak mengerti, kenapa ia menyatakan perasaan sukanya pada seorang gadis padaku. Masa bodoh. Ini menunjukkan sesuatu, hati James tak lagi kosong. Aku gagal menempati tempat itu. oh…. Andaikan ia bisa legilimens. Aku jadi tidak susah-susah menyatakan perasaanku, kan?

Huh… sudahlah. Sudah kuduga, ia tak melihat kearah gadis sepertiku. Aku tidak cantik, aku tidak berdandan, aku tidak suka memakai baju yang kekurangan kain. Aku tidak suka terkikik-kikik, lebih suka tertawa lepas. Aku tidak suka bermanis-manis di depan cowok, lebih suka jadi diriku sendiri.

Aku melangkah masuk ke kamar. Aneh sekali. Tak biasanya ada temanku yang mendengkur sekeras ini. Entah itu Brith, Roxanne, Miranda atau bahkan Charina. Aku tak peduli. Kulepas mantelku lalu naik ke tempat tidur. Kututup kelambu berwarna merah maroon ini dan segera terlelap.

Ada apa denganku? Kenapa hatiku terasa pedih saat James mengatakan masalahnya tadi. Tapi aku juga tak berhak untuk marah atau cemburu. Udara malam terasa membeku, meskipun para peri rumah Hogwarts pasti sudah menyelipkan menghangat di bawah setiap tempat tidur. Saat kutarik selimutku, tak terasa airmataku menitik di sudut mataku.

Aku mencoba terbaring dengan tenang, mencoba tidur. Tapi hatiku terasa terlalu risau untuk diajak tidur. Aku segera merogoh-rogoh tempat disekitar bantalku dan tak menemukan mp3 player-ku. Mungkin tertinggal di tas sekolah ku, dan aku terlalu malas untuk turun dari tempat tidur untuk mengambilnya.

Ah sudahlah. Sekali lagi kucoba tidur. Walau itu sulit, tetap akan kucoba.

Kucoba mengitung domba—seperti yang pernah disarankan James suatu hari saat aku mengeluh tak bisa tidur. Aku terhenyak, hatiku terasa sakit sekali. Bahkan alam bawah sadarku berontak dengan ku karena aku menolak mengatakan bahwa James telah menguasainya. Nyeri rasanya merasakan—sekali lagi—itu bukan hakku.

Pelan-pelan mataku mulai memberat, mungkin karena terlalu lelah bersakit-sakit hati ria. Mencoba memikirkan saat-saat dimana aku belum mengenal cowok berambut cokelat gelap berantakan dan bermata cokelat itu. mikirkan sebuah memori mungkin akan membantu—daripada menghitung domba, tuh kan. jantungku nyeri lagi.

Oke, sebuah memori….. sebuah memori….. Mulai kuobrak abrik ruang arsip memoriku.

Entah kenapa aku kembali teringat seorang anak laki-laki bertopi Holyhead harpies yang dulu pernah ku temui di Diagon Aley. James kecil yang tersenyum cerah kepadaku.

.

.

"Al…. Allessa?"

Kepala ku terasa masih berat. Ini masih subuh dan buat apa Brith membangunkan ku sepagi ini? Lagipula, kenapa suara Brith lebih besar? Ah, aku berjanji memintakan obat flu untuknya jika ia membiarkanku tidur satu dua jam lagi.

"Ayolah, Brith. Matahari saja belum bangun….. Aku masih ngantuk….."

"Al…. bangunlah…." Suara kedua ini terdengar lebih berat

Oke, ada sesuatu yang aneh disini. Aku merasa asing dengan tempat tidurku. Baiklah, aku bangun.

End of Allessa POV

Allessa pelahan membuka matanya. Ia lalu duduk dengan mata masih setengah tertutup. Kamar itu masih remang-remang, karena lentera bukan matahari. Ini masih dini hari.

Pelan namun pasti ia membuka matanya. Yang dilihatnya pertama kali adalah wajah berbintik-bintik Fred.

"Eh… selamat pagi als."

"KYAAAAAAAA!"

/

"Aku tidak percaya ini! Dua orang siswa dan siswi melanggar jam tidur dan bertukar ranjang!? Memangnya kalian pikir ini pesta piyama? Kalian seharusnya malu! Lima puluh angka dipotong dari Gryffindor! Ya Potter, lima puluh untuk setiap orang dari kalian!" cecar Mcgonnagal sambil mondar-mandir di ruangan bundar tempatnya biasa melakukan tugasnya sebagai kepala sekolah.

James yang masih berantakan, dan Allessa yang hanya memakai mantelnya diatas gaun tidurnya hanya bisa menunduk mendengarkan teguran keras sang kepala sekolah.

Tak seorangpun tahu bagaimana ini bisa terjadi, kecuali tetntu saja mereka berdua. Proffessor Longbottom juga sudah mengintrogasi seluruh murid yang sekamar dengan mereka berdua namun hasilnya nihil. Penghuni asrama Griffindor langsung heboh dengan adanya peristiwa ini.

"Sekarang jelaskan padaku. Bagaimana ini bisa terjadi, Potter? Wood?"

"Saya punya gangguan tidur professor, saya bisa tidur sambil berjalan." Cetus James dengan wajah yang berusaha sekuat tenaga untuk terlihat serius.

"Lalu berikan alasan logis padaku bagaimana Wood juga bisa ikut tertular gangguan konyolmu, Potter?" mata Mcgonnagal memicing memandang James, seolah bisa membakarnya di tempat.

James membuka mulutnya namun, tak ada jawaban cerdas yang dapat ia lontarkan sehingga terpaksa menutup mulutnya kembali.

"Ini salah saya professor. Saya yang mengajak James membuka balkon tambahan di menara Griffindor. Saya juga yang terlebih dahulu memasuki kamar putra tanpa sadar." Ujar Allessa.

Mcgonnagal hanya bisa meluruskan kacamatanya, wajahnya memucat hendak memuntahkan titah tak terbantahkan apapun yang ada di ujung mulutnya. Namun setelah beberapa detik berlalu, yang keluar hanya helaan napas panjang. "Haah. Seharusnya tidak kubiarkan peri kecil itu melakukan hal ini. Jika bukan karena dia, mungkin hal ini tidak akan terjadi." Mcgonnagal berkata lebih pada dirinya sendiri. "Kuserahkan padamu, professor longbottom"

"Baiklah, Potter, Wood. Aku ttidak dapat membiarkan hal ini terjadi begitu saja, aku memberikan detensi pada kalian. Seperti apa detensinya, kita tunggu kamis sore setelah jam belajar mengajar berakhir." Ujar professor longbottom dengan nada final.

"Tapi Proffessor—"

"Ssh, tidak ada tapi-tapian Wood. Kalian berdua harus menjalaninya bersama. Titik."

"Proffessor, Quiddit—"

"Tak ada quidditch sampai kalian menyelesaikan detensi kalian. Paham?"

"Baik, Proffessor." Sahut Allessa dan James secara bersamaan.

"Baik, kembali ke kamar kalian masing-masing dan bersiaplah sekolah hari ini. 15 menit lagi sarapan dimulai."

/

GUBRAK! Sebuah nampan alumunium dibanting dan membuat stew kentang yang tadinya terwadahi dnegan rapi tercecer ke meja Griffindor.

Wajah murka peter membuat Allessa makin malas melanjutkan makan pagi, "Jangan buat aku makin mual pagi ini, Peter."Ujar Allessa dengan lesu.

"Apa… yang… kau… lakukan…. Di kamar…. Putra…. tadi pagi?" Tanya Peter siap naik pitam

"Oh, berhentilah membuatku mengulangi pernyataanku, kau bukan Proffessor Mcgonnagal." Alessa hanya menyeruput cangkir cokelat panasnya, ia terlalu dongkol untuk berbicara dengan siapapun pagi ini. "Dan, tolong kembalilah ke mejamu, KAK. Kau semakin membuatku tenar pagi ini. Aku muak dengan tatapan orang."

Peter dengan wajah ungu dan mulut ternganaga saking marahnya bersiap berkata pedas hingga Roxane memberinya senyum maklum dan meredakan amarahnya.

"Mum akan sangat marah, lessa. Howler bisa datang kapan saja."

"Terserah."

Dengan langkah angkuh, ia berbalik ke meja Ravenclaw, berpapasan dengan James yang wajahnya mendung akibat cekcok dengan Rin.

"Kita sudah berbicara sebelumnya."

"Aku sudah mengerti, Wood."

"Huh, pagi ini menunnjukkan kau belum mengerti sama sekali, Potter." Ujar Peter dengan dingin.

James hanya memandang jubah Peter yang melambai cepat seiring langkah marahnya.

"Pagi yang kacau, eh?" cetus Fred sambil menggigit sosis gorengnya

"Sesuai dengan cuaca hari ini kan?" komentar James sambil mendongak meligat kubah aula makan yang dihiasi awan sewarna baja yang bersiap mengguyur Hogwarts dengan hujan angin.

~TBC~


A/N

Hollaaa…. Sekian lama kalian nunggu dan Cuma dapet segini… #PLAK! #BUAGH!

Maapkeun diri ini wahai readers sekalian, karena sekian lama, ane nunggu inspirasi plot yang bisa ane pakai buat selanjutnya, eh malah ane yang stuck nggak lanjut-lanjut.

So, ane minta kalian bersabar lebih sedikit lagi, karena sebenernya ane sendiri udah mulai males, eh bukan, maksud nya udah mulai capek nulis di FFn, soalnya ane sendiri udah ngerasa readers udah mulai menghilang… entah pindah ke lapak sbelah ato pensi baca beginian…

But, ane selaku orang yang udah betah nulis disini, mengharapkan kalian untuk tetap stay tune, disini. Dan terima kasih kalau kalian masih setia baca fic ini sampe disini…

Keep RnR, biar saya tau dimana borok dan kebiasaan buruk saya saat nulis,

Sekian,

E. Weasley