AN: Gomenasai, Little Chomper updatenya amat sangat telat sekali.. accountnya Little Chomper bermasalah dan gak mau dibuka, jadi butuh beberapa waktu dan beberapa tenaga untuk membukanya kembali..


CHAPTER 5

Neji memperhatikan Hinata yang berjalan beriringan dengan murid baru itu. Kelihatannya belum sampai murid baru itu sehari berada di sekolah ini, Hinata sudah akrab dengannya.

"Tenten, siapa nama murid baru itu?"

Tenten berbalik. "Kau tertarik dengannya?"

"Hanya karena Hinata-sama terlihat dekat dengannya."

Tenten mengangkat bahunya. "Terserah apa katamu, Neji. Dia Uzumaki Kyuuna, pindahan dari London."

Neji memilih untuk tidak menanggapi pernyataan Tenten. Ia terus mengamati Hinata dan gadis itu hingga mereka menjauh.

##

Naruto mengunci pintu kamarnya. Ia dan Hinata sudah berjanji akan ke kantin bersama-sama setengah jam lagi. Naruto memeriksa kamarnya sesaat, memastikan tak ada kamera pengawas ataupun kamera-kamera tersembunyi lainnya sebelum melepaskan wig yang dipakainya.

"Haah.. akhirnya lega juga.." Naruto melepaskan beberapa jepitan yang masih terpasang di rambutnya. Ia kemudian menyambar handuknya sebelum masuk ke kamar mandi.

Beberapa saat kemudian, Naruto keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Ia memakai piyamanya (bukan, bukan piyama kodok favoritnya. Konan-nee sudah membakar piyama itu karena menurutnya piyama kodok itu sangat tidak 'girly' dan mengganti seluruh isi lemari Naruto dengan pakaian-pakaian yang menurutnya cukup 'girly') dan mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya sebelum kembali memakai wignya.

Tok..tok..

"Kyuuna-san, apa kau sudah selesai?"

Naruto segera merapikan wignya dan membuka pintu kamarnya. "Aku sudah selesai Hinata-chan! Ayo kita segera ke kantin!"

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa Naruto dengan santainya ke kantin dengan mengenakan piyama. Itu karena Hinata tadi sudah bercerita, setiap asrama memiliki kantin sendiri-sendiri dan mengingat asrama putra dan putri terpisah, dan menurut Naruto tak ada masalah bagi mereka berkeliaran dengan piyama selama masih berada dalam gedung asrama.

"Etoo.. Ada yang salah, Hinata-chan?" Naruto bertanya setelah ia menangkap basah Hinata beberapa kali meliriknya.

"Ti-tidak ada Kyuuna-san. Hanya saja aku tak menyangka kau akan mengenakan piyama."

"Memangnya kau mengira aku akan mengenakan apa?"

"Pakaian biasa?"

Naruto menatap piyama birunya yang bergambar teddy bear. Ia bersyukur ia tidak jadi mengenakan gaun tidurnya (yang entah bagaimana berhasil diselundupkan Konan-nee kedalam kopernya). "Ehehe.. karena kau bilang kantin kita terpisah, jadi aku pikir tidak masalah jika mengenakan piyama saja, Hinata-chan. Aku terlalu lapar untuk berpikir."

Dan lagi-lagi perut Naruto berbunyi.

##

Uchiha Itachi membawa beberapa dokumen di tangannya. Salah seorang sensei menitipkan ini padanya dan berpesan agar ia menyerahkannya pada Anko-sensei.

"Kenapa harus aku, sensei? Ini sudah malam." Itachi baru saja menyelesaikan beberapa tugas kelasnya. Ia adalah ketua kelas, jadi ada beberapa hal yang harus diurusnya.

"Tolonglah, Itachi-kun. Ini dokumen yang penting. Kau bisa mengantarkannya sebelum kau pulang bukan?"

"Anda bisa meminta bantuan salah seorang murid asrama pria sensei."

"Aku tidak percaya mereka." Senseinya menjawab tegas.

Alasan apa lagi yang bisa diberikan oleh Itachi? Akhirnya ia menerima dokumen itu. Itachi melirik jam tangannya dan menyadari sekarang adalah waktu makan malam dan berarti Anko-sensei sedang makan malam di kantin.

Itachi melambaikan tangannya pada satpam yang berjaga di depan asrama putri. Satpam itu sudah mengenalnya karena ini bukan pertama kalinya ia ditugaskan ke asrama putri untuk mengantarkan sesuatu.

Itachi langsung menuju gedung kecil yang terpisah dari gedung utama asrama putri. Gedung kecil itu adalah kantin, atau bisa juga dikatakan ruang makan asrama putri. Itachi menghela napas sebelum membuka pintu kantin itu.

##

"Kyaa!" Itachi-senpai disini!" terdengar teriakan.

Itachi menahan diri agar tidak mengerang. Inilah kenapa ia merasa tidak nyaman setiap kali sensei mengirimnya ke asrama putri. Itachi berusaha mengabaikan teriakan-teriakan itu dan segera mencari Anko-sensei. Begitu ia menemukannya, ia segera menyerahkan dokumen yang dibawanya.

"Te,-" perkataan Anko-sensei terpotong oleh teriakan beberapa gadis.

"-ri-" lagi-lagi perkataan Anko-sensei terpotong.

"-ma-"

"Kyaaa! Itachi-senpai!"

Anko-sensei meletakkan sumpitnya dan memukul meja sekuat yang ia bisa.

"Bisakah kalian tenang? Kalian sama sekali tidak bertingkah seperti gadis-gadis dari keluarga terpandang."

Hening.

"Nah, seperti itu." Anko-sensei duduk dan memegang sumpitnya kembali. "Terima kasih Itachi-kun. Sebaiknya sekarang kau segera pulang sebelum sesuatu yang buruk terjadi padamu."

Itachi mengangguk. Ia paham 'sesuatu yang buruk' disini sama sekali tak ada hubungannya dengan penjahat. "Selamat malam, sensei."

Itachi berjalan secepat namun setenang yang ia bisa. Tapi, mau tak mau ia memperhatikan sekelilingnya. Gadis-gadis yang dilihatnya tetap mengenakan make-up dan pakaian yang boleh dikatakan tetap bergaya walaupun ini sudah malam dan bisa dipastikan sebentar lagi akan kembali ke kamar mereka masing-masing.

Namun tiba-tiba tatapan Itachi tertumbuk pada seorang gadis yang duduk di meja paling sudut. Gadis itu sama sekali tidak memakai make-up dan hanya memakai piyama. Ia kelihatan menikmati ramennya dan sesekali berbicara untuk menanggapi teman yang duduk disebelahnya. Itachi mengenali teman gadis itu sebagai Hyuuga Hinata, calon penerus keluarga Hyuuga yang ternama.

Itachi menatap dengan sedikit heran. Seingatnya Hyuuga Hinata adalah gadis pendiam dan pemalu, tak banyak bicara, dan tak suka jadi pusat perhatian. Ia juga selalu menjaga ekspresi dan tingkah lakunya. Tapi Hyuuga Hinata yang dilihatnya kali ini berbeda. Ia tertawa bersama gadis yang duduk disampingnya dan kelihatannya bercerita tentang sesuatu pada gadis itu.

"Hmm.."

'Gadis baru itu menarik.' Batin Itachi sebelum ia meninggalkan asrama putri.

##

"Kau tidak ikut berteriak-teriak seperti mereka, Hinata-chan?" Naruto mengedikkan kepalanya ke arah kerumunan gadis yang masih histeris, bahkan setelah Itachi meninggalkan kantin.

Hinata menggeleng cepat. "Bagaimana denganmu, Kyuuna-san?"

Naruto berdiri sambil membawa mangkoknya yang sudah kosong. "Tidak, HInata-chan. Ia bukan tipeku."

"Aah.." Hinata mengangguk paham.

"Lagipula aku tidak ingin berurusan dengan 'Uchiha' lagi." Naruto bergumam.

Hinata mendengar gumaman itu, walaupun Naruto mengatakannya dengan suara pelan. Ia ingin menanyakannya, tapi melihat ekspresi Naruto, ia memilih untuk menutup mulutnya. Ia kelihatan sangat sedih, walaupun Hinata tak tahu apa penyebabnya.

"Kau juga sudah selesai, Hinata-chan?" Naruto menggelengkan kepalanya dan menatap Hinata dengan senyum. Ia hampir saja memperlihatkan perasaannya yang sebenarnya pada Hinata.

Hinata juga ikut bangkit sambil membawa bakinya. "Hai, Kyuuna-san. Apa kau akan langsung ke kamarmu setelah ini?"

"Yup! Latihan ringan dari Guy-sensei membunuhku. Bahkan untuk membuka mataku saat ini butuh kekuatan ekstra."

Hinata lagi-lagi tertawa. Ia sebenarnya sedikit heran, entah mengapa saat berada disekitar Kyuuna, ia selalu bisa tertawa lepas, padahal ia belum sampai satu hari mengenalnya.

Mereka kemudian kembali berjalan beriringan. Naruto mengucapkan selamat malam pada Hinata di depan pintu kamar 23 dan ia memasuki kamarnya sendiri.

Naruto tidak bercanda. Ia benar-benar lelah. Baru saja kepalanya menyentuh bantal, matanya langsung terpejam.

##

Kringg!

Naruto mematikan alarm dengan kesal. Seluruh tubuhnya terasa sakit karena latihan ringan kemarin, dan sejujurnya hal yang paling diinginkannya hanyalah tidur kembali.

Naruto memaksakan dirinya duduk. Ia mengambil handphonenya dan tersenyum saat melihat salah satu email yang baru masuk.

From : sandy_boy

To : juice_orange

Subject : Delay

Kelihatannya baru dua minggu lagi aku bisa bertemu denganmu. Ada banyak hal yang harus kuselesaikan terlebih dahulu.

PS: Aku sudah mengganti namaku.

From : juice_orange

To : sandy_boy

Subject : [RE] Delay

Tak masalah, Gaara. Yang penting kau sampai disini dengan selamat. Jika kau sudah punya waktu luang, beritahu aku.

PS: Ini lebih baik, walaupun namamu mengingatkanku pada sebuah kartun dengan spons, bintang laut, dan seekor tupai. Namamu seperti versi jantan dari tupai sahabat spons tersebut.

Naruto menguap dan meregangkan tubuhnya. Ia berdiri dengan malas dan beranjak ke kamar mandi.

##

Temari dan Kankurou mengamati Gaara yang baru saja keluar dari kamarnya sambil tersenyum.

Gaara.

Tersenyum.

Dua tahun yang lalu, mereka tak akan pernah berpikir Gaara akan tersenyum tulus, atau bahkan menghormati mereka dan memperlakukan mereka seperti saudaranya.

Tapi disinilah mereka, di Jepang. Gaara membawa mereka bersamanya karena menurutnya tak akan ada yang membantu perkerjaannya jika ia meninggalkan mereka. Tapi Temari meragukan alasan itu. Sudah dua hari mereka berada di Jepang, tapi Gaara belum memerintahkan mereka melakukan sesuatu yang sulit.

Temari bersyukur karena Gaara mengenal gadis itu.

Gaara berubah berkat gadis itu.

Saat ini saja, Temari yakin kalau Gaara baru saja mendapat pesan dari gadis itu. Hanya gadis itu yang bisa membuat Gaara bisa tersenyum bahagia, dan bukan menyeringai seperti biasanya.

"Pesan dari Naruto?" Kankurou bertanya sambil menguap. Gaara hanya mengangguk dan mereka mengikuti Gaara yang berjalan menuju ruang makan.

"Ah, Temari, Kankurou, selama berada di Jepang, namanya adalah Uzumaki Kyuuna, pastikan agar kalian jangan sampai lupa."

"Tentu." Temari dan Kankurou menjawab bersamaan.

"Jadi, apa jadwalku hari ini?"

Temari mengeluarkan buku agendanya. "Kita akan ke Kyoto hari ini. Ada laporan kalau para pekerja di perusahaan kita disana menolak bekerja karena tidak puas dengan bayaran yang mereka terima."

"Baiklah. Jam berapa pesawatnya berangkat?"

"Jam 10."

Gaara mengangguk dan mereka melanjutkan sarapan mereka dengan tenang.

##

Naruto berusaha menahan rasa kantuknya. Ia berkali-kali melirik Shikamaru dengan iri. Shikamaru langsung tidur saat ia baru saja meletakkan tasnya. Dan tidak ada guru yang repor-repot menegurnya karena mereka tahu itu sia-sia. Lebih mudah memberikan detensi daripada membuang-buang tenaga mereka meneriaki Shikamaru.

Entah untuk keberapa kalinya semenjak dua tahun lalu, Naruto mengutuk perubahan dirinya. Dulu saat ia masih laki-laki, ia bisa tidur di kelas dengan santai, tapi semenjak ia berubah, tak ada lagi tidur di kelas.

Konan-nee dengan senang hati mengambil tugas sebagai pelatih dan pengawasnya dan ia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Naruto harus belajar dari awal bagaiman bersikap sebagai seorang wanita. Mulai dari cara bicara, berjalan, berpakaian,dan segudang hal lainnya. Dan sekarang, walaupun Naruto sangat ingin tidur di kelas, pikirannya tak akan membiarkannya melakukan hal itu. Naruto curiga Kurama dan Konan-nee bekerja sama dan menempatkan suatu hipnotis padanya agar ia tak bisa tidur saat sedang belajar lagi.

Hinata tampaknya bisa melihat kegundahan Naruto. Begitu istirahat, ia duduk disamping Naruto yang terkantuk-kantuk sambil berusaha menghabiskan sandwichnya.

"Kyuuna-san, kau kelihatan lelah sekali."

Naruto mengangkat kepalanya. "Hinata-chan! Gomenasai, aku tadi langsung ke kantin. Kelihatannya aku berjalan tanpa aku sadari. Tiba-tiba saja saat aku sadar aku sudah duduk disini dan memegang sepotong sandwich."

Hinata menggeleng. "Tak apa, Kyuuna-san." Hinata berpikir sesaat sebelum berbicara kembali. "Apa kau mau menemaniku keluar sore ini? Ada mini market tak jauh dari sini, dan mereka menjual pudding yang enak. Mungkin jika kau makan pudding itu, tenagamu akan pulih kembali, Kyuuna-san."

"Tentu." Naruto menghabiskan gigitan terakhir sandwichnya. "Btw, apa pelajaran kita sesudah ini, Hinata-chan?"

"Bahasa, bersama Kakashi-sensei. Tapi tadi aku mendengar Shion-san berkata kalau Kakashi-sensei tidak bisa hadir, jadi kita belajar mandiri."

"Akhirnya!" Naruto tersenyum lebar. "Aku bisa tidur beberapa saat."

"Tapi Kakashi-sensei meninggalkan tugas untuk kita." Sambung Hinata.

"Yaaah.."

##

"Hoo.. Jadi Hyuuga-senpai ditugaskan untuk mengawasimu?"

"Begitulah.. Walaupun aku sebenarnya berharap otou-sama mengizinkan Neji-niisan melakukan sesuatu yang benar-benar diinginkannya daripada terus-terusan mengikutiku. Aku yakin Neji-niisan juga punya impiannya sendiri."

Naruto dan Hinata saat ini sedang berjalan bersama menuju mini market yang terletak tak jauh dari sekolah mereka. Menurut Hinata, mereka hanya perlu berjalan kaki selama lima belas menit untuk sampai ke mini market itu.

Naruto setuju saja, walaupun ia sebenarnya ingin tidur, tapi ia tidak tega menolak permintaan Hinata, dan selain itu ia juga penasaran dengan pudding yang dikatakan Hinata sangat enak tersebut. Selain itu, ia juga bisa membeli ramen sebagai cadangan makanan daruratnya saat kelaparan di asrama nanti.

"Jadi, apa kau sudah mengatakan pada Hyuuga-senpai kalau kau akan keluar sore ini?"

Hinata yang menunduk dan tidak menjawab pertanyaannya sudah cukup memberi jawaban bagi Naruto.

"Kau tidak mengatakan apa-apa padanya." Itu pernyataan, bukan pertanyaan.

"I-ini hanya sebentar, dan jaraknya dekat."

Naruto menghela napas. Ia paham kalau Hinata juga ingin sedikit kebebasan, karena itu ia tidak mempertanyakannya lagi.

##

Neji menatap seluruh kelas dengan seksama, namun ia tidak menemukan apa yang dicarinya.

"A-ano.. Hyuuga-senpai. Hinata-san tadi sudah pergi bersama dengan Uzumaki-san. Mungkin mereka ke asrama." Shion berkata dengan takut-takut. Bagaimana tidak, Neji menatapnya dengan tatapannya yang tajam.

"Oh. Terima kasih atas informasinya." Neji berbalik dan meninggalkan kelas itu. Setidaknya ia sudah tahu kalau Hinata-sama sudah berada di asramanya dengan aman.

##

Naruto mengambil salah satu keranjang dan memenuhinya dengan ramen cup, beberapa kotak pocky, dan beberapa potong cokelat.

"Seluruh ramen itu untukmu, Kyuuna-san?" Hinata menunjuk keranjang Naruto.

"Tentu." Naruto menjawab santai.

"Na-naruto-kun? Apa semua ramen itu untukmu?"

"Hah? Tentu saja, Hinata-chan! Ramen adalah makanan yang paling enak di dunia!"

"Hello… Bumi pada Hinata-chan… Apa kau mendengarku?"

Hinata tersentak saat melihat Naruto yang melambaikan tangan dihadapan wajahnya dengan ekspresi cemas.

"A-aku mendengarmu, Kyuuna-san." Hinata tergagap menjawab.

Naruto tersenyum. "Syukurlah, kupikir sesuatu yang buruk terjadi padamu." Ia kemudian menunjukkan keranjangnya pada Hinata. "Ayo kita segera bayar belanjaan kita dan kembali ke asrama sebelum Hyuuga-senpai menyadari kau tidak berada di sekolah."

Hinata mengangguk dan mengikuti Naruto menuju kasir. Ia senang karena hari ini ia bisa berbelanja dengan normal bersama teman perempuannya tanpa harus diikuti Neji. Hinata hanya berharap tidak akan ada masalah yang terjadi dan mereka akan kembali dengan aman ke sekolah.

Namun Hinata keliru.

Baru saja mereka berdiri di depan meja kasir, seorang laki-laki masuk ke mini market itu. Laki-laki itu memakai kaos putih dan celana panjang biasa. Rambut cokelatnya agak panjang dan diikat model ekor kuda. Sekilas tak ada yang salah kelihatannya dengan laki-laki itu. Tapi saat ia mengeluarkan pisau lipat yang kelihatannya tajam dari sakunya dan menodongkannya pada seorang nenek-nenek yang berdiri di dekatnya, Hinata dan Naruto berpikiran sama.

Masalah.

"Jangan ada yang bergerak atau aku akan menusukkan pisau ini ke lehernya!"

Naruto dan Hinata meletakkan keranjang belanjaan mereka serentak.

"Masukkan seluruh uang yang ada di mesin kasir kedalam kantong!" teriaknya pada kasir yang terlihat ketakutan. "Dan jangan coba-coba lapor polisi!" tambahnya.

Untunglah, sore itu hanya ada mereka, petugas kasir, dan nenek yang disandera itu. Jika mini market itu ramai, akan terjadi kepanikan. Yah, tentu saja sekarangpun terjadi kepanikan, tapi paling tidak kepanikan itu hanya terjadi pada dua orang.

Naruto dan Hinata khawatir, tapi mereka tidak panik. Mereka telah dilatih untuk menghadapi situasi seperti ini.

"Kita akan tunggu sampai dia melepaskan nenek itu, Kyuuna-san?" bisik Hinata.

"Ya." Naruto menjawa pendek. Ia mengamati laki-laki itu. Entah mengapa Naruto merasa ada bagian dari laki-laki itu yang familiar. Ia berusaha menggali ingatannya. Tatapan Naruto kemudian tertumbuk pada bagian belakang leher laki-laki itu. "Tato itu…" batin Naruto.

(Flasback)

"Ne, Na-chan. Bagaimana kau bisa begitu yakin Ukon dan Sakon adalah kembar?"

Naruto memutar bola matanya. "Bisa dilihat di wajahnya, Ku-chan. Selain itu…"

"Selain itu?" Kurama bertanya tak sabar.

"Mereka memiliki tato yang sama, Ku-chan."

"Tato?"

"Un." Naruto mengangguk. "Ada tato kecil berbentuk ular dibelakang leher mereka."

"Aah.. lambang khas Orochimaru." Kurama paham. "Jadi itu bagaimana kau bisa mengenali mereka?"

"Yup."

(Flashback end)

Baiklah, Naruto mulai sedikit panik. Sejarah dan pengalaman membuktikan, urusan dengan orang-orang bertato ular ini selalu berakhir buruk. Yang pertama pelakunya tewas, yang kedua pelakunya tewas dan hampir membawa Naruto tewas bersamanya.

Lagipula, mereka juga punya persamaan lain. Naruto baru menyadari itu saat ini. Mata mereka terlihat aneh dan tak pernah fokus. Mereka seakan memikirkan hal yang berbeda dengan yang saat ini sedang mereka lakukan. Dan mereka sama-sama terlihat kurang sehat, secara mental.

Firasat Naruto terbukti saat petugas kasir itu mendekat untuk menyerahkan kantong yang berisi uang yang diminta laki-laki itu.

"Aduh!" laki-laki itu mendorong nenek-nenek yang tadi disanderanya dengan kasar. Hinata segera bergegas menolong nenek itu berdiri sementara Naruto masih mengamati laki-laki itu dengan waspada.

Alih-alih mengambil kantong yang disodorkan petugas kasir itu padanya, laki-laki itu malah menusukkan pisau yang dipegangnya pada petugas kasir itu. Naruto yang sudah bersiap segera berlari dan menendang tangan laki-laki itu, namun pisau yang dipegangnya tidak terlepas.

Laki-laki itu terlihat sedikit kaget karena Naruto ytiba-tiba menendangnya, tapi dengan cepat kembali dan berusaha menusukkan pisaunya kali ini ke arah Naruto.

"Kyaaa!" petugas kasir itu berteriak.

Naruto menatap ke arah sampingnya dengan kaget. Tampaknya karena terlalu takut, petugas kasir itu tak sanggup berdiri ataupun menjauh darinya yang sedang bertarung dengan laki-laki itu.

"Hinata-chan, bantu onee-san ini dan bawa dia menjauh dariku!" Naruto melirik sesaat ke arah Hinata.

Itu kesalah besar. Laki-laki itu melihat Naruto yang lengah dan kali ini mengayunkan pisaunya lagi. Naruto sempat menghindar, tapi itu tidak cukup.

SLASH!

Naruto terhuyung kebelakang, tapi ia masih sempat melayangkan tendangan ke arah laki-laki itu yang ditangkisnya dengan menggunakan tangannya. Laki-laki itu menurunkan tangannya dan memiringkan kepalanya, menatap Naruto.

"Mata biru…" gumam laki-laki itu. "Orochimaru-sama bilang tak boleh menyakiti mata biru." Laki-laki itu menunduk dan memungut kantong plastik berisi uang yang tadi dijatuhkan oleh petugas kasir. Ia kemudian berjalan keluar sambil terus bergumam, "Mata biru.."

"Tunggu!" Naruto akan mengejar laki-laki itu, tapi Hinata memegang tangannya dan menahannya.

"Kyuuna-san, kau terluka!"

Naruto menatap bahu kanannya. "Ini hanya tergores, Hinata-chan."

"Tapi kelihatannya cukup dalam." Hinata berjongkok dan bertanya kepada petugas kasir yang masih terduduk dengan shock. "Maaf, apa anda punya kotak P3K? Temanku terluka."

"Te-tentu." Ia mencoba berdiri, namun kelihatannya rasa takut masih menguasainya.

Hinata kemudian berdiri. "Bisa tunjukkan padaku dimana anda menyimpannya?"

Petugas kasir itu menunjukkannya dan Hinata mengambil kotak P3K itu. Ia kemudian mengeluarkan alcohol, menuangkannya ke kapas dan membersihkan luka Naruto dengan hati-hati. Setelah itu ia mengambil perban dan menutup luka itu dengan perban.

"Arigatou, Hinata-chan." Naruto tersenyum kecil.

Hinata tak menjawab, hanya membalas senyum Naruto. Ia membuka sweater yang dipakainya dan memberikannya pada Naruto.

"Kau sebaiknya memakai ini, Kyuuna-san. Dan begitu kita sampai di sekolah, sebaiknya kita segera lapor sensei."

Naruto menerima sweater yang diberikan Hinata dan mengenakannya. "Kita tak usah lapor, Hinata-chan. Ini hanya luka kecil dan kita tak ingin membuat keributan."

"Tapi.."

"Kumohon, Hinata-chan."

Hinata akhirnya menghela napas. "Terserah padamu saja kalau begitu, Kyuuna-san."

Naruto mengambil keranjang belanjanya. "Bisa tolong dihitung belanjaan kami?"

Kasir itu tersentak dan segera berdiri. "Ba-baik.."

Setelah mereka membayar belanjaan mereka, Naruto berhenti sejenak sebelum keluar dari mini market itu. "Kau bisa melaporkan ini kepada Polisi, tapi kumuhon jangan sebut-sebut kami ada disini. Bisakah kau melakukan itu?"

Kasir itu hanya bisa mengangguk. Ia tidak mengenal kedua gadis ini, tapi gadis ini sudah menyelamatkannya. Mana mungkin ia menolak permintaannya?

"Hontouni arigatou." Naruto menoleh ke arah nenek-nenek yang terduduk di dekat meja kasir. "Dan pastikan polisi mengantarkan nenek ini pulang ke rumahnya."

Kasir itu lagi-lagi mengangguk.

##