AN: *sigh* cara baru copy paste di bikin susah ngedit dokumen. Kalau ada sedikit typo, mohon dimaafkan minna..
CHAPTER 6
"Kidomaru kabur ke Jepang?"
"Benar, Orochimaru-sama."
Orochimaru menekan salah satu tombol yang terdapat di pegangan kursinya. "Kabuto, kau harus ke Jepang dan pastikan kau menutup mulut Kidomaru. Kau harus bergerak cepat sebelum polisi menemukannya."
"Baik, Orochimaru-sama." Terdengar jawaban dari speaker kecil yang juga terdapat pada pegangan kursi itu.
"Hmm… sayang sekali." Orochimaru memegang dagunya. "Aku harus kehilangan satu subjek percobaan lagi."
##
"Kyuuna-san, kau yakin kau baik-baik saja?"
Naruto sebenarnya ingin menjawab 'tidak'. Kepalanya pusing dan lukanya terasa sakit, tapi ia tak ingin membuat Hinata cemas.
"Aku baik-baik saja, Hinata-chan." Naruto memaksakan dirinya tersenyum.
Hinata terlihat tak percaya. "Tapi kau terlihat pucat dan keringatmu banyak sekali, Kyuuna-san."
"Ini hanya karena panas, Hinata-chan."
"Sudah kuduga kita harus lapor ke UKS, Kyuuna-san." Hinata bangkit dan menarik Naruto bersamanya, tapi Naruto balik menarik Hinata sehingga Hinata duduk kembali. Saat ini mereka sedang berada di kantin, dan mereka duduk di salah satu meja paling sudut dan tak ada orang lain di dekat mereka.
"Kumohon, Hinata-chan." Naruto mengulang kata-katanya yang kemarin. "Kita tak ingin dapat masalah."
"Tapi kita tak akan dapat masalah. Ini bukan salah kita dan lagipula kita tak melanggar peraturan sekolah."
Naruto menggeleng. "Kita memang tak melanggar peraturan sekolah, tapi kita melanggar peraturan otou-sama mu, Hinata-chan. Bagaimana jika Hyuuga-senpai tahu kau keluar tanpa mengatakan apa-apa padanya? Bagaimana jika otou-sama mu tahu kau terlibat masalah? Bagaimana jika Hyuuga-senpai yang terkena masalah karena sudah lalai dalam mengawasimu?"
Hinata terdiam. Ia tahu Naruto mengatakan kebenaran, dan tentu saja ia juga cemas jika keluarganya mengetahui ini dan apa akibat yang akan terjadi pada Neji-niisan, tapi ia juga tak bisa membiarkan Naruto terluka seperti ini.
Naruto menepuk pelan pundak Hinata. "Jangan khawatir, Hinata-chan. Aku sudah pernah mengalami yang lebih buruk dari ini."
"Kapan?"
"Di kehidupan masa laluku." Naruto tertawa dan bangkit dari duduknya. "Ayo kembali ke kelas."
##
Mereka saat ini sedang mendengarkan penjelasan tentang kode. Anko-sensei menerangkan di depan kelas sambil menunjukkan beberapa contoh di papan tulis. Naruto berusaha memperhatikan penjelasan Anko-sensei, tapi pandangannya mulai berkunang-kunang. Ditambah lagi dengan penjelasan tentang kode yang rumit, kepalanya terasa panas.
"Jadi, ada banyak jenis kode yang telah diketahu. Mulai dari kode morse yang paling umum, kode freemason, Caesar Shift Cipher, dan lainnya. Kita beruntung jika menemukan kode seperti itu, tapi ada juga kode yang sama sekali bukan kode resmi dan belum pernah dipakai orang-orang sebelumnya."
Ino mengangkat tangannya. "Maksudnya seperti dying message, sensei?"
"Yah, sejenis itu. Atau bisa juga cara berkomunikasi suatu kelompok yang hanya akan dikenali oleh anggota mereka. Tapi pada dasarnya setiap kode itu memiliki pola, dan selama kita bisa memecahkan polanya, maka kita juga akan bisa memecahkan kode tersebut." Anko-sensei menatap Naruto yang kelihatannya tertidur di mejanya.
"Uzumaki Kyuuna!"
Tak ada reaksi.
"Uzumaki Kyuuna!"
Masih tak ada reaksi. Anko-sensei mulai marah dan bersiap melempar Naruto dengan spidol yang dipegangnya, tapi perkataan Shikamaru menghentikannya.
"Sensei, kelihatannya Uzumaki-san sakit."
##
Shikamaru tak menyukai hal-hal yang merepotkan. Ia tak suka direpotkan dan tak pernah merepotkan orang lain. Hal yang disukainya adalah tidur sambil menatap langit, tapi tidur di kelas juga tak masalah baginya.
"Uzumaki Kyuuna!"
Shikamaru membuka matanya dengan malas. Ia melihat teman yang duduk disampingnya tertidur di mejanya.
"Uzumaki Kyuuna!"
Gadis itu masih tidak bereaksi. Shikamaru akhirnya berinisiatif membangunkan gadis itu agar Anko-sensei berhenti berteriak dan ia bisa kembali tidur. Shikamaru menendang kursi gadis itu. Tak ada tanggapan. Ia akhirnya mencoba menggoyang bahu gadis itu, tapi ekspresi gadis itu terlihat kesakitan saat ia menyentuh bahunya. Shikamaru kemudian menyentuh dahi gadis itu.
'Panas.' Batinnya.
Shikamaru melihat Anko-sensei bersiap melemparkan spidol yang dipegangnya. Ia menghela napas. Ini merepotkan, tapi ia tak bisa membiarkan Anko-sensei melempar gadis itu.
"Sensei, kelihatannya Uzumaki-san sakit."
##
Hinata langsung meninggalkan tempat duduknya dan berlari ke dekat Naruto. Ia menyentuh dahi Naruto. "Kyuuna-san.." Hinata mencoba membangunkan Naruto.
"Hm?" Naruto bereaksi.
"Ayo kita ke UKS. Aku akan mengantarmu. Apa kau bisa berjalan sendiri?"
Naruto hanya mengangguk. Hinata membantu Naruto berdiri dan memapahnya.
"Kau bisa membawanya sendiri, Hyuuga?" Anko-sensei bertanya.
"Ya, sensei."
Sakura dan Ino berdiri bersamaan. "Kami akan membantu, Hinata-chan."
"Tak usah, Sakura-san, Ino-san. Aku bisa sendiri." Hinata menjawab dengan tegas. Ia memapah Naruto dengan hati-hati dan membawanya keluar kelas.
"Ada yang mencurigakan." Kiba langsung berkata begitu Hinata dan Naruto meninggalkan kelas. "Ada bau darah pada Kyuuna. Benar kan Akamaru?"
"Guk!" salak Akamaru.
"Benarkah itu, Inuzuka?" Anko bertanya. Ia mulai sedikit khawatir.
"Penciumanku tak pernah salah, sensei." Kiba berkata dengan bangga.
Anko menutup bukunya. "Kalian tetap di kelas dan jangan ada yang ribut. Baca buku kalian. Sensei akan mengecek Uzumaki sebentar."
"Hai, sensei!"
##
Hinata membaringkan Naruto di salah satu tempat tidur di UKS. Ia mengambil alcohol, kapas, dan perban. Hinata membuka kancing seragam Naruto dan memeriksa perban yang masih menempel pada luka di bahu Naruto. Ia membuka perban itu, membersihkan luka itu kembali, dan mengganti perbannya. Setelah selesai, Hinata mengambil obat penurun panas dan segelas air.
"Kyuuna-san, apakah kau bisa bangun sebentar?"
Naruto membuka matanya. Ia menerima obat yang diberikan Hinata dan meminumnya. Setelah ia meminum obat itu, ia kembali berbaring.
"Gomene, Kyuuna-san. Jika kemarin kita langsung melapor, pasti kau akan baik-baik saja." Gumam Hinata.
"Hyuuga!" Anko-sensei membuka pintu ruangan UKS. "Bagaimana keadaan Uzumaki?" tanyanya dengan suara yang lebih pelan.
"Aku sudah memberinya obat penurun panas, sensei."
Anko melihat perban bekas yang terletak di meja. Hinata melihat arah tatapan Anko-sensei dan segera mengemasi perban itu, membuangnya ke tempat sampah.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Hyuuga?"
Hinata diam sambil menunduk. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi Naruto sudah memohon padanya agar jangan mengatakan hal ini pada siapapun.
"Hyuuga?"
"Bu-bukan apa-apa, sensei. Kyuuna-san hanya lelah karena latihan khusus dari Guy-sensei. Ia hanya belum terbiasa."
"Tapi Inuzuka berkata kalau ia mencium bau darah dari Uzumaki."
Hinata membeku. Anko bisa melihat tubuh Hinata yang menegang.
"Jadi, apa yang terjadi?"
Pada dasarnya, Hinata bukan pembohong yang baik. Ia akhirnya menceritakan semua yang terjadi kemarin di mini market, termasuk luka Naruto dan gumaman laki-laki itu yang mengatakan sesuatu tentang 'mata biru'.
Anko memegang dahinya. "Kenapa kalian tidak melapor kemarin?"
"Kyuuna-san berkata kalau dia baik-baik saja sensei." Hinata menunduk. "Aku sudah membujuknya, tapi ia tak ingin menimbulkan masalah."
"Ini bukan salah kalian. Lagipula bagaimana jika pisau itu beracun? Bisa saja nyawa Uzumaki berada dalam bahaya."
Hinata masih menunduk. Ia menyesal. Perkataan Anko-sensei memang benar, seharusnya ia mempertimbangkan hal itu dan memaksa Kyuuna-san untuk melapor.
"Jadi, kau bilang kalau laki-laki itu berhenti menyerang saat melihat mata Uzumaki?"
"Benar, sensei."
"Aku harus melaporkan ini pada Kepala Sekolah. Mungkin saja ia dikirim ke daerah ini untuk mengincar salah satu murid sekolah kita." Anko meninggalkan UKS sambil sibuk bergumam.
##
Kring!
Kurama langsung mengangkat telpon setelah sebelumnya melirik caller id. 'Jepang?' batinnya.
"Kediaman Keluarga Namikaze disini. Anda ingin bicara dengan siapa?"
"Kurama-kun? Ini Sarutobi-jiichan."
"Sarutobi-jiichan? Ada kabar apa?" Kurama bertanya dengan nada santai biasa, tapi tiba-tiba sesuatu yang buruk terlintas di ingatannya. "Apa sesuatu terjadi pada Naruto?"
"Mana tou-san mu?" Sarutobi tidak menjawab pertanyaan KUrama.
"Jii-chan…" Kurama berkata dengan nada serius. "Apa sesuatu terjadi pada Naruto?" Ulangnya.
Terdengar suara helaan napas diseberang telpon. "Kurasa tak ada gunanya menghindari pertanyaanmu. Naruto sedikit terluka, tapi-"
"Sedikit?"
"Ya, Kurama-kun. Sedikit." Suara Sarutobi terdengar lelah. "Tapi ada yang lebih penting dari itu. Apa Naruto memiliki hubungan dengan Orochimaru?"
Kurama berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu. Masalah Naruto dan Orochimaru hanya diketahui oleh beberapa orang tertentu karena mereka harus menjaga keselamatan Naruto. Bahkan Sarutobi-jiichan saja hanya tahu fakta bahwa Uzumaki Kyuuna sebelumnya adalah Namikaze Naruto, tidak lebih dan tidak kurang.
"Aku tak bisa memberi tahu detailnya padamu, jii-chan. Tapi aku akan memberi tahu tou-san. Mungkin tou-san akan menghubungimu lagi malam ini. Apa nomor ini bisa selalu dihubungi, jii-chan?"
"Tidak. Tapi aku akan menghubungimu lagi kira-kira pukul delapan malam nanti. Apa Minato sudah pulang pada jam itu?"
"Sudah, jii-chan."
"Kalau begitu, sampai nanti Kurama-kun. Dan jangan khawatir, walaupun lukanya sedikit dalam, tapi Naruto akan baik-baik saja."
"Jii-chan!"
Tuut…..
Kurama menatap gagang telpon dengan kesal. Ia masih belum sempat menanyakan keadaan Naruto dengan detail.
"Apa aku harus ke Jepang ya?" Kurama bergumam sambil meletakkan gagang telpon. "Tapi Naruto akan marah jika aku terlalu khawatir." Ia berjalan ke kamarnya masih sambil berpikir. "Hmm.. kalau begitu aku akan menelponnya saja."
##
Bzzt..bzzt..
Naruto terbangun karena handphonenya yang bergetar di atas meja. Setelah jam sekolah berakhir tadi, Hinata membantunya kembali ke asrama dan ia langsung tertidur setelah Hinata meninggalkannya dan memastikan dia telah meminum obatnya.
Kepalanya masih pusing, tapi paling tidak pandangannya sudah tidak berkunang-kunang lagi. Ia mengambil handphonenya.
"Ya?"
"Begitukah caramu menjawab telponmu? Kau benar-benar tidak sopan, Na-chan."
"Jika kau hanya ingin menggangguku Ku-chan, aku akan mematikan handphoneku." Naruto menjauhkan handphonenya dan bersiap menekan tombol 'end call'.
"Chotto matte, Na-chan! Aku serius!" Kurama terdengar panik. "Aku khawatir."
"Kenapa?" Naruto tetap bertanya walaupun ia sudah bisa menebak apa yang terjadi.
"Sarutobi-jiichan menelepon."
"Oh."
"Hanya 'oh' saja reaksimu?"
"Hanya luka kecil, Ku-chan."
"Dimana?"
"Bahuku kananku."
"Panjangnya?"
"Sekitar 10 cm. Dalamnya sekitar lima mm."
"Itu termasuk dalam dan panjang, Na-chan!" Sekarang Kurama terdengar marah. "Dan apa laki-laki itu punya hubungan dengan Orochimaru?"
"Mungkin." Naruto tak ingin menjelaskan dengan detail, tapi Kurama sangat keras kepala, sama dengannya. Ia tak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang diinginkannya, dan dalam hal ini adalah informasi dari Naruto. "Ia punya tato ular yang sama dengan Ukon dan Sakon, dan ia berhenti menyerangku saat melihat mataku."
"Sepertinya keadaan disana berbahaya, Naruto. Kau harus kembali ke sini."
"TIdak, Kurama. Aku tak mau lari lagi. Aku bukan pengecut." Naruto menjawab tegas. "Jika mereka memang kesini, aku akan menghadapi mereka. Jika aku lari, maka aku tak akan bisa menjalani hidupku dengan tenang."
"Baiklah kalau begitu, Na-chan. Tapi, maukah kau berjanji untuk menjaga dirimu dengan baik? Aku tak ingin menyelenggarakan acara pemakaman lagi."
Naruto tersenyum, walaupun Kurama tak bisa melihatnya tersenyum, tapi ia yakin Kurama tahu. "Demi seluruh ramen yang ada di muka bumi ini, Ku-chan. Aku akan menjaga diriku."
##
"Kyuuna-san?"
Naruto melambai pelan dari salah satu meja. "Hinata-chan!"
Hinata duduk di samping Naruto yang sudah mengambil sarapannya pagi itu, segelas susu dan roti bakar dengan selai cokelat. Setiap murid wajib sarapan di kantin asrama mereka masing-masing karena mereka butuh tenaga untuk belajar, itu adalah peraturan wajib sekolah.
"Kau sudah baikan?"
"Un." Naruto menjawab diantara kunyahannya.
Hinata tak berkata apa-apa lagi. Ia meletakkan tasnya disamping Naruto dan mengambil sarapannya.
Begitu Hinata duduk disampingnya, Naruto langsung bertanya. "Kau juga baik-baik saja? Apa otou-sama mu tahu masalah ini?"
Hinata menggeleng. "Aku sudah memohon pada pihak sekolah agar tidak memberitahukan hal ini pada orang tuaku ataupun Neji-niisan."
"Baguslah. Kita hanya harus memberikan penjelasan pada teman-teman sekelas kita, tapi kurasa Anko-sensei sudah melakukannya kemarin."
Naruto menghabiskan susunya. Ia hampir saja akan mengelap mulutnya dengan punggung tangannya, tapi ia teringat dengan pelajaran Konan-nee padanya.
"Seorang gadis tidak pernah mengelap mulutnya dengan punggung tangannya. Mereka akan menggunakan tisu atau sapu tangan."
Naruto merogoh saku roknya dan mengambil saputangannya. Ia mengelap mulutnya dan menyandang tasnya. "Aku akan ke kelas lebih dahulu, Hinata-chan. Aku ingin mengulang membaca apa yang diterangkan Anko-sensei kemarin karena aku sudah ketinggalan."
"Baiklah, Kyuuna-san."
Begitu Naruto berlalu, Ino dan Sakura duduk di samping kiri dan kanan Hinata. Mereka berdua sama-sama menguap dan sama-sama membawa baki sarapan mereka.
"Mana Uzumaki-san, Hinata?" Sakura bertanya sambil terkantuk-kantuk. Wajar saja, mereka bangun lebih pagi dari biasanya. Mereka dibangunkan jam empat dini hari oleh Anko-sensei karena ada pemeriksaan mendadak. Saat ditanya kenapa, Anko-sensei mengatakan kalau ada penyusup yang terlihat di CCTV, tapi setelah dicari di seluruh penjuru sekolah dan asrama, para guru memutuskan kalau itu hanyalah kucing.
"Dia sudah lebih dahulu ke kelas, Sakura-san."
"Hoo.."
"Ne..ne.. Apa kalian tidak merasa Uzumaki-san itu aneh?" Ino ikut dalam percakapan.
"Aneh?" Hinata bertanya tak mengerti.
"Hu-uh." Ino meletakkan roti yang akan digigitnya. "Dia terlihat seperti menjaga jarak dengan kita. Kau lihat bagaimana dia masih memanggil kita dengan nama keluarga kita dan jarang melibatkan diri dalam percakapan di kelas? Dia hanya menjawab saat kita bertanya. Dan hingga saat ini, hanya Hinata yang satu-satunya memanggilnya dengan namanya depannya. Dan hanya Hinata pula yang dipanggilnya dengan nama depannya."
"Kau benar juga." Sakura ikut meletakkan roti yang dipegangnya.
"Mu-mungkin karena dia anak baru, Ino-san, Sakura-san. Saat ia sudah terbiasa dengan lingkungannya, ia mungkin akan memanggil kalian dengan nama kalian. Atau kalian bisa memintanya."
"Ide bagus!" Ino menjentikkan jarinya. "Dengan begitu kita akan bisa lebih akrab dengannya."
Hinata hanya mendengarkan tanpa benar-benar memahami pembicaraan Sakura dan Ino selanjutnya. Sepertinya sesuatu tentang tas model terbaru. Pikiran Hinata masih tetap pada topik Kyuuna yang menurut Ino menghindari mereka. Hinata harus mengakui kalau Kyuuna kelihatannya punya beberapa rahasia.
'Apa ia khawatir rahasianya akan terbongkar apabila ia dekat dengan kami?' pikir Hinata.
##
Naruto membuka pintu menuju atap dengan pelan. Hatinya bersorak saat menyadari pintu itu tidak terkunci. Tentu saja alasan 'akan belajar' yang diberikannya tadi pada Hinata adalah bohong. Naruto yakin jika ia memaksakan otaknya yang malang untuk belajar sepagi ini, maka telinganya akan mengeluarkan asap.
Ia melihat masih ada tangga menempel di dinding untuk menuju ke atas, tapi melihat keadaannya yang memakai rok, Naruto tak mau ambil resiko jika ada yang juga ke atap pagi ini. Akhirnya Naruto memutuskan untuk bersandar di dinding, memejamkan matanya sesaat.
"Aku tak bisa dekat dengan mereka. Mereka terlalu baik dan aku terlalu percaya dengan mereka. Bagaimana jika aku tak sengaja menceritakan rahasiaku pada mereka?" Naruto bergumam kecil. Sungguh, ia ingin kembali memanggil teman-temannya seperti saat mereka masih kecil dahulu, dan bukannya memanggil mereka dengan nama keluarga mereka seperti yang saat ini ia lakukan, tapi hanya ini cara yang terpikir olehnya untuk memberi jarak antara dirinya dan teman-temannya.
"Maafkan aku.."
##
