Disclaimer: masih seperti biasa~~~
Chapter 7
Sasuke memilih menumpangi mobil tou-sannya ke sekolah. Pilihan itu jauh lebih aman daripada berjalan kaki seperti yang biasa dilakukan nii-san nya. Bukan karena apa-apa, tapi Sasuke selalu sendirian, dan berjalan sendirian itu sangat berbahaya bagi keamanannya. Sasuke bukan takut kepada penjahat, tentu saja. Tapi fangirls jauh lebih menakutkan daripada penjahat.
Itachi-niisan bisa aman karena ia tidak berjalan sendirian. Dia bersama teman-temannya dan dia sudah terlatih menghadapi fangirlsnya. Sasuke menghela napas dan menatap keluar lewat jendela mobil. Kenapa pagi ini tiba-tiba ia teringat dengan masalah fangirls? Apa mungkin karena murid pindahan yang baru itu?
Uzumaki Kyuuna.
Tidak. Sasuke tak akan pernah mengakuinya, tapi gadis itu mengingatkannya pada Naruto. Tentu saja tak ada yang sama dari mereka. Bahkan gendernya saja berbeda. Satu-satunya persamaan mereka adalah sepasang mata dengan iris biru berkilauan. Sasuke selalu mengagumi mata Naruto (diam-diam). Mata yang polos dan selalu menatap segala sesuatunya dengan positif. Mata yang tak pernah menyimpan rahasia.
Tapi bahkan dengan warna mata yang sama, Sasuke tahu mereka berbeda. Lalu apa yang membuatnya teringat dengan Naruto saat menatap gadis itu?
Sasuke menggelengkan kepalanya. Ia harus melupakan ini. Ia tak boleh terlarut dalam ingatan masa lalu.
"Paling tidak dia bukan termasuk gerombolan gadis-gadis berisik di kelas."
Dan Sasuke kembali bertanya-tanya. Kenapa gadis itu tidak tertarik padanya? Selama ini gadis yang besikap biasa padanya di kelas hanya Hinata, Sara dan Shion.
Ah, ralat.
Hinata bersikap biasa kepadanya, sementara Sara dan Shion boleh dibilang terlihat membencinya.
Yap. Membencinya.
Dan Sasuke tidak tahu alasannya. Mereka semua sudah menjadi teman sekelas semenjak kelas 1 SMP. Awalnya mereka bersikap biasa padanya, tapi entah mengapa sejak Naruto menghilang dua tahun yang lalu, sikap mereka juga berubah. Sasuke curiga perubahan sikap mereka ada hubungannya dengan Naruto, tapi ia tak bisa menemukan buktinya. Lagipula ia tidak peduli dengan mereka. Ia hanya harus fokus pada pelajarannya dan lulus dengan nilai terbaik, seperti yang akan dilakukan oleh nii-san. Sasuke yakin nii-san akan menjadi lulusan terbaik. Itachi adalah kebanggaannya dan rivalnya.
Rival.
Sasuke mengutuk dalam hatinya. Kenapa semua yang terpikir olehnya selalu membangkitkan ingatannya tentang Naruto? Sasuke kembali menggelengkan kepalanya.
"Sasuke, kau tidak turun?"
Suara tou-sannya menyadarkan Sasuke.
"Ah, ya." Sasuke menyandang tasnya dan membuka pintu mobil. Begitu ia keluar dan menutup pintu, mobil itu langsung melaju.
Sasuke melirik jam tangannya. Masih setengah jam lagi sebelum bel masuk berbunyi. Ia tak ingin ke kelas sekarang karena ia yakin beberapa gadis pastilah sudah berada di kelasnya. Hanya ada satu tempat yang tenang di saat seperti ini, dan biasanya satu-satunya yang berada disana selain dirinya hanyalah Nara Shikamaru.
##
Sasuke membuka pintu menuju atap. Hal pertama yang dilihatnya adalah Uzumaki Kyuuna yang tertidur sambil bersandar di dinding. Sasuke berjalan ke arahnya dan mengamati gadis itu. Walaupun ia sudah berkali-kali meyakinkan dirinya kalau ia tak peduli, tapi tetap saja ia penasaran.
"Jangan bangunkan dia."
Sasuke menengadahkan kepalanya dan melihat Nara Shikamaru.
"Ini merepotkan, tapi aku kasihan padanya." Shikamaru berkata dengan malas. "Kami semua dibangunkan lebih pagi karena ada pemeriksaan mendadak."
"Pemeriksaan?"
"Guru-guru berkata kalau sesuatu yang mencurigakan terlihat pada kamera CCTV, jadi mereka membangunkan kami untuk membantu mereka memeriksa seluruh penjuru sekolah. Setelah mencari selama-" Shikamaru menguap, "-dua jam dan tidak menemukan apa-apa, akhirnya para guru memutuskan itu hanya kucing."
Sasuke mengangkat alisnya. Ia tak percaya kalau guru-guru bisa panic hanya karena seekor kucing.
"Ya..ya.. Aku juga tak percaya kalau guru-guru bisa panic hanya seekor kucing." Terdengar lagi suara Shikamaru. "Tapi mungkin mereka waspada karena kejadian yang menimpa Hinata dan Kyuuna."
Sasuke sudah mengetahui hal itu. Anko-sensei kembali ke kelas kemarin setelah melihat keadaan Uzumaki Kyuuna di ruang kesehatan. Ia berkata kalau kemarin Uzumaki Kyuuna dan Hyuuga Hinata diserang dan mereka harus berhati-hati karena penyerang itu belum tertangkap dan kemungkinan besar ia masih berkeliaran di daerah sekitar sekolah mereka.
Shikamaru melompat dari atas atap kecil tempatnya berbaring dan mendarat dengan ringan disamping Sasuke. "Luka gadis ini cukup dalam, menurut Hinata."
"Hn. Seseorang bisa terluka hanya karena ia idiot yang tak memperhatikan sekitarnya pada saat bertarung atau terlalu lemah untuk melindungi dirinya."
"Mungkin." Shikamaru setuju. "Tapi mungkin juga karena ia melindungi orang lain." Shikamaru berjongkok dan menepuk pelan bahu kiri Naruto.
"Kyuuna, kelas akan dimulai sebentar lagi, kau bisa melanjutkan tidurmu di kelas."
Shikamaru dan Sasuke benar-benar tak menduga apa yang akan terjadi. Karena begitu Shikamaru menyelesaikan perkataannya, sebuah pukulan langsung ditujukan lurus ke wajah Shikamaru. Beruntung Shikamaru sempat menahannya.
##
Naruto membuka matanya begitu merasakan seseorang menepuk bahunya. Instingnya langsung bekerja dan tanpa pikir panjang ia langsung mengarahkan pukulan kepada siapapun yang sedang berjongkok di hadapannya.
"Awww.."
Naruto mengejapkan matanya. Ia kenal suara itu. "Shikamaru?" gumamnya.
Shikamaru terlihat kaget. "Pukulanmu lumayan kuat juga Kyuuna."
Naruto langsung berdiri dan membungkukkan badannya. "Maafkan aku, Nara-san. Kurasa aku tadi masih separo tertidur saat menyerangmu."
Shikamaru melambaikan tangannya. "Bukan masalah besar."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan ke kelas lebih dahulu, Nara-san." Naruto bergegas menuruni tangga tanpa sekalipun menoleh atau menunjukkan tanda-tanda ia menyadari keberadaan Sasuke disana.
##
"Hmm.. Mencurigakan."
"Hn. Aku setuju."
"Awalnya saat dia baru terbangun, ia memanggilku Shikamaru. Saat dia sudah sadar sepenuhnya, ia kembali memanggilku Nara-san. Siapa dia sebenarnya?"
##
"Kyuuna-san!" Hinata melambaikan tangannya saat melihat Naruto muncul di pintu kelas.
Naruto tersenyum dan berjalan ke arah Hinata. Dilihatnya Sakura, Ino, dan beberapa gadis lainnya berdiri di samping meja Hinata. "Ada apa, Hinata-chan?"
"e-etoo.." Hinata menunduk menatap tangannya dengan ragu.
"Mou, Hinata. Aku saja yang mengatakannya kalau begitu." Potong Sakura.
Naruto menatap mereka tak mengerti. "Apa ada yang salah, Haruno-san?"
"itu yang salah!" Sakura menunjuk Naruto.
"Hah? Apa yang salah?"
"Be-begini, Kyuuna-san. Teman-teman menganggap kalau kau berbicara dengan cara yang terlalu formal dengan kami sehingga terkadang kau seperti menjaga jarak dari kami." Hinata berusaha menjelaskan.
"Tapi aku takut kalian akan menganggapku tidak sopan jika memanggil nama depan kalian begitu saja." Naruto menjawab pelan.
"Kau tinggal bilang saja, Kyuuna-san. Sekolah kita ini memakai system kelas yang tetap. Jadi dari SMP dahulu kami sudah bersama, dan boleh dibilang seluruh murid yang ada di kelas ini sudah seperti keluarga."
"Maafkan aku jika kalian beranggapan seperti itu. Kalau begitu, mulai sekarang aku boleh memanggil kalian dengan nama depan kalian?"
"Tentu!"
##
Pelajaran berlangsung dengan tenang seperti biasanya. Seperti biasa berarti beberapa murid ada yang tertidur, ada yang makan, ada yang sibuk mencoret-coret bukunya, dan ada juga yang benar-benar mendengarkan penjelasan guru mereka di depan.
Shikamaru termasuk golongan orang yang tertidur. Atau lebih tepatnya ia berusaha tidur. Ia belum mengatakan pada siapapun kalau ia mendengarkan apa yang dikatakan apa yang dikatakan oleh Kyuuna pada saat ia baru sampai di atap tadi pagi. Shikamaru sadar mengatakan hal itu pada teman-temannya hanya akan menimbulkan keributan yang tidak perlu. Ia menghela napas. Ini memang merepotkan, tapi ia juga ingin tahu kebenarannya. Siapa Uzumaki Kyuuna sebenarnya? Kenapa ia berkata seakan-akan ia sudah mengenal mereka sebelumnya? Darimana dia berasal? Dan yang terpenting, apa sebenarnya hubungan Naruto dengannya dan apa yang terjadi pada Naruto?
Shikamaru melirik gadis yang duduk disampingnya itu diam-diam. Gadis itu sudah menguap beberapa kali, tapi tetap saja ia tidak tidur. Kelihatannya ia memaksakan matanya tetap terbuka, tapi yang pasti pikirannya sudah tidak berada di kelas lagi.
Shikamaru mengalihkan pandangannya lagi dan memejamkan matanya. Ia bertekad akan menyelidiki masalah ini sendiri. Sampai ia menemukan kebenarannya, ia akan menyimpan semuanya sendiri.
##
Naruto bisa merasakannya. Shikamaru sudah meliriknya beberapa kali.
"Shikamaru pasti curiga karena aku salah memanggilnya tadi pagi." Batin Naruto. "atau apa ia mendengar perkataanku?" Naruto menggeleng cepat. "Jika ada seseorang yang berada disana, aku pasti bisa merasakannya atau mengetahuinya." Naruto kemudian mengangguk. "Yap. Dia pasti hanya curiga karena panggilanku tadi pagi padanya. Walaupun pemalas, Shikamaru cerdas dan aku harus lebih berhati-hati saat disekitarnya."
Tanpa terasa pelajaran sudah berakhir dan Naruto berjalan bersama Hinata, Sara, dan Shion menuju kantin. Gadis-gadis lainnya sudah berkerumun lagi di hadapan meja Sasuke, berharap bisa makan siang bersama.
"Tak ada ramen?" NAruto bertanya kecewa saat melihat daftar menu hari itu di kantin sekolah.
Gadis-gadis lainnya tertawa kecil saat melihat kekecewaan Naruto.
"Tapi ada kare, Kyuuna-san." Sara menunjuk daftar menu. "Kare juga enak."
Naruto menunduk dengan lesu. "Apa boleh buat kalau begitu."
Mereka mengambil makan siang mereka dan memilih duduk di meja sudut, tempat Hinata dan Naruto biasa duduk.
"Ne, aku ingin tahu." Naruto memulai pembicaraan setelah beberapa saat mereka makan dalam keheningan. "Bagaimana Sakura-chan dan Ino-chan bisa membuat bekal sementara mereka sama-sama tinggal di asrama dengan kita?"
"Menggunakan dapur kantin asrama, Kyuuna-san." Jawab Shion. "Kita boleh menggunakan dapur asal kita membereskannya sesudah kita memasak. Mereka membuatnya malam hari, dan memanaskannya di pagi hari."
"Hmm.. Mereka rajin sekali."
"Aku tak mengerti apa yang mereka lihat dari Sasuke-kun."
"Mungkin karena Uchiha-san yang paling pintar, Sara-chan." Naruto tersenyum.
"Jadi kau juga menyukai Sasuke-kun, Kyuuna-san?"
Naruto tersedak. Hinata yang duduk disampingnya menepuk-nepuk punggung Naruto. "A-apa? Tentu saja tidak! Jika aku menyukainya, aku pastilah sudah berada bersama Sakura-chan dan Ino-chan sekarang, bukannya bersama kalian."
Sara terlihat puas dengan jawaban NAruto. "Kupikir kau termasuk gadis-gadis berpikiran dangkal seperti yang lainnya, Kyuuna-san. Tapi untunglah kau tidak seperti itu."
"Memangnya apa yang terjadi sampai kalian tidak menyukai Uchiha-san?" Naruto bertanya dengan penasaran. Setahunya sebelum ia pergi, hubungan semua orang di kelas baik-baik saja.
"Naruto-kun pergi karena salahnya. Dan jika Naruto-kun tetap disini, ia akan baik-baik saja." Shion menjawab dengan nada marah. "Ia selalu bersikap angkuh hanya karena ia seorang 'Uchiha' dan Naruto-kun sudah cukup baik bersabar menghadapinya. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ada rumor yang mengatakan kalau Sasuke-kun menyalahkan Naruto-kun karena misi terakhir mereka mengalami masalah."
"Begitu." Naruto sekarang paham. Saat ia melihat ekspresi Hinata, ia juga tahu kalau Hinata berpendapat sama dengan Shion dan Sara. "Tapi kurasa Naruto-kun tak akan senang jika ia tahu kalian menyalahkan Sasuke-kun. Ia mengambil pilihannya sendiri dan bertanggung jawab dengan keputusannya."
"Kami tahu." Kali ini Sara menjawab. "Kami yakin Naruto-kun juga akan berkata seperti itu. Tapi tetap saja kami tak bisa memaafkan Sasuke-kun sepenuhnya."
Naruto tak bisa mengatakan apa-apa. Karena ia tahu kebenarannya.
Shion dan Sara mencintai Namikaze Naruto.
##
Naruto berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia tak berpikir Sara dan Shion akan membenci Sasuke, tapi ia bisa memahami perasaan mereka. Yah, dia memang bukan perempuan sejak awal, tapi Konan-nee sudah mengajarinya cukup banyak hal, diantaranya perasaan gadis yang jatuh cinta.
"Apa aku perlu ikut campur ya?" Naruto menarik selimutnya. "Tapi ini bukan urusanku lagi. Sekarang aku adalah Uzumaki Kyuuna."
Bzzt..bzzt…
"Moshi-moshi.."
"Na-chan, Sarutobi-jiichan menelepon ke sini dan bertanya tentang hubunganmu dengan Orochimaru."
Naruto tersenyum. Kurama pastilah sangat khawatir sampai-sampai lupa mengganggunya dan langsung berbicara to the point.
"Lalu, kau bilang apa?"
"Aku tak bilang apa-apa, tentu saja." Suara Kurama terdengar kesal. "Tapi jii-chan berbicara dengan tou-san dan aku tak boleh mendengar pembicaraan mereka."
"Jangan khawatir Ku-chan. Tou-san pasti sudah menjelaskan seperlunya pada jii-chan." Naruto berusaha menenangkan Kurama. "Dan lagipula sekarang keadaan sudah tenang."
"Tapi.."
"Bagaimana sekolahmu disana, Ku-chan?" Naruto cepat mengalihkan pembicaraan sebelum Kurama mulai menceramahinya tentang standar perlindungan diri dan hal-hal merepotkan lainnya.
"Baik-baik saja. Dan ngomong-ngomong soal sekolah, bagaimana dengan sekolahmu sendiri, Na-chan?"
Sial. Naruto mengumpat dalam hatinya. Pertanyaan yang tadinya ingin ia manfaatkan untuk kabur dari ceramah Kurama malah berbalik menjadi boomerang baginya.
"Te-tentu saja baik, Ku-chan."
"Jawabanmu sama sekali tak meyakinkanku."
"Oh, baiklah! Baiklah! Aku berjuang, oke? Kau tahu kalau aku tak terlalu suka pelajaran teori!" Naruto kesulitan menjaga nada suaranya tetap kecil.
Terdengar tawa kecil dari seberang telepon. "Aku tahu." Kurama terdiam sejenak. "Kalau begitu aku akan menghubungimu lagi nanti, Na-chan. Sekarang sudah waktunya tidur, bukan?"
"Baiklah, Ku-chan. Jaa ne."
"Jaa ne, Na-chan."
##
"Huuffh… huuffh.."
Kidomaru bernapas tersengal-sengal. Ia tahu ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya. Orochimaru-sama pasti tahu apa yang terjadi dengannya, tapi ia tak bisa kembali ke sana. Tidak setelah Ukon dan Sakon kabur.
"Orochimaru-sama menjadikan kita sebagai objek percobaannya."
Itulah kata-kata terakhir Ukon dan Sakon sebelum mereka menghilang. Beberapa waktu kemudian ia mendengar kabar kalau mereka berdua sudah tewas dalam kecelakaan. Kidomaru tidak bodoh. Ia tahu Orochimaru-sama di balik semua kecelakaan itu. Orochimaru-sama tak akan membiarkan mereka mengkhianatinya. Saat ia mendengar tentang kecelakaan itu, ia akhirnya memutuskan untuk kabur. Ia mencoba mengajak Tayuya dan Jirobo, tapi mereka berdua menolaknya. Kimimaro out of question. Semua orang tahu bagaimana loyalnya ia pada Orochimaru-sama, jadi mencoba mengajak Kimimaro kabur sama saja dengan meminta dirimu untuk dibunuh.
Kidomaru memegang dadanya yang terasa sakit. Akhir-akhir ini ia merasa kalau penyakitnya, apapun jenisnya itu, semakin parah. Ia tak yakin berapa waktu yang masih ia miliki, tapi ia menolak untuk menyerah. Ia akan menemukan jalan untuk memaksa Orochimaru-sama menyembuhkannya. Kidomaru kembali teringat dengan gadis bermata biru yang ia temui di mini market. Ia yakin mengenali gadis itu. Ia pernah melihat gadis itu, walaupun saat itu gadis itu masih berumur tiga tahun.
Rambut pirang dan mata biru. Gadis itu memang berambut hitam, tapi Kidomaru yakin mata biru itu mata yang sama dilihatnya bertahun-tahun lalu. Ia masih ingat Orochimaru-sama bergumam kalau gadis itu adalah ciptaannya yang gagal, tapi saat gadis itu tewas, Orochimaru-sama tetap saja terlihat kecewa.
"Hmmm.. Siapa nama gadis itu? Nami-Namikaze Naruto! Ya, namanya Namikaze Naruto! Aku akan memberikan info ini kepada Orochimaru-sama sebagai imbalan untuk menyembuhkanku!"
##
"Kepada seluruh siswa kelas pertahanan, harap segera berkumpul di aula!"
Pengumuman itu terdengar begitu jam makan siang berakhir. Naruto yang sudah berada di kelas kembali, mengecek jadwalnya.
"Praktek Lapangan?" gumamnya.
"Kelas praktek lapangan kita biasanya digabung dengan para senior, Kyuuna-san. Aku pernah mengatakannya sebelumnya bukan?" Hinata sudah menyandang tasnya berdiri disamping Naruto yang masih menatap jadwalnya.
"Ah, benar." Naruto ikut menyandang tasnya. "Jadi apa saja biasanya yang kita pelajari di kelas praktek lapangan ini, Hinata-chan?"
"Hmm.." Hinata berpikir sesaat. "Ada macam-macam, tapi biasanya kita selalu melakukan aktifitas diluar."
Naruto menutup mulutnya dengan ekspresi horor. "Jangan bilang kalau kelas praktek lapangan ini juga melibatkan latihan ringan."
"Tentu saja tidak, Kyuuna-san. Biasanya kita hanya diberi misi ringan yang harus kita laksanakan bersama partner kita."
"Syukurlah.." Naruto berkata dengan lega. "Tunggu dulu, partner?"
Hinata mengangguk. "Ditentukan dengan cara undian. Jadi akan berbeda di setiap misi."
"Bagaimana cara mengundinya?"
"Cukup mengambil kertas dari kotak yang sudah disediakan oleh Asuma-sensei. Kertas-kertas itu terbagi dalam nomor, misalnya 1A, 2A."
"Lalu, bagaimana menentukan partner kita?"
"Cukup temukan kertas dengan nomor yang sama, tapi memiliki alphabet B. 1A-1B, 2A-2B, dan begitu seterusnya."
"Hoo.. cukup simpel.."
Mereka bercakap-cakap dan Hinata masih menjelaskan beberapa hal lainnya hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di aula. Disana sudah berkumpul teman-teman sekelas mereka dan senior-senior mereka.
Saat mereka semua sudah duduk, tiba-tiba pintu aula tertutup. Naruto menatap heran, tapi ia melihat teman-teman yang duduk disekitarnya sama sekali tidak bereaksi.
"Baiklah, sepertinya kalian semua sudah disini." Seorang laki-laki berdiri di panggung aula sambil merokok dengan santainya. "Aku akan menjelaskan misi kalian kali ini dan setelah itu kita akan menentukan partner kalian seperti biasa."
Laki-laki itu menghembuskan asap rokoknya sebelum melanjutkan perkataannya. Naruto tidak bisa bertanya pada siapapun karena semua orang terlihat serius, jadi ia hanya bisa menebak kalau laki-laki yang berdiri di panggung itu adalah Asuma-sensei.
"Misi kalian kali ini adalah mengantarkan barang. Kalian akan diberikan sebuah paket yang harus kalian antarkan kepada orang-orang tertentu. Ada dua jenis paket yang bisa kalian pilih, paket merah dan paket biru. Bagi yang mendapatkan paket merah, mereka diperbolehkan mengintip isi paketnya, akan tetapi tidak akan diberitahu nama penerima paket itu. Jadi kalian harus menentukan penerima paket itu sendiri. Sementara bagi yang mendapatkan paket biru, kalian tidak diizinkan mengintip isi paket kalian, tetapi akan diberitahukan nama penerima paket kalian."
"Itu tidak adil sensei!" terdengar beberapa suara menyatakan protes mereka. "Paket biru mendapatkan tugas yang terlalu mudah!"
Asuma-sensei tersenyum. "Siapa yang mengatakan paket biru lebih mudah? Mereka memang akan diberitahukan nama penerima paket mereka, tapi penerima paket itu akan menyamar sehingga mereka harus menemukan penerima paket itu dalam penyamaran mereka."
"Dua-duanya sama-sama sulit." Naruto sibuk berpikir sehingga ia tidak menyadari yang lain sudah berdiri. Saat Hinata menepuk punggungnya, barulah Naruto tersentak.
"Saatnya untuk mengambil undian untuk menentukan partner kita, Kyuuna-san."
##
"1A, 1B, dan 1C?" Asuma-sensei bertanya sambil memegang sebuah clipboard.
Hinata, Kiba, dan Shino mengacungkan tangan mereka. Naruto tadi sempat bertanya bagaimana mereka akan membagi kelompok jika jumlah mereka semua ganjil, dan Hinata sudah menjelaskan kalau ada satu kelompok yang akan terdiri dari tiga orang.
"2A dan 2B?"
Giliran Shikamaru dan Ino mengacungkan tangan mereka.
"3A dan 3B?"
Lee-senpai dan Choji mengacungkan tangan mereka.
"4A dan 4B?"
Terdengar suara 'Kyaa' saat Sasuke mengacungkan tangannya. Naruto tak perlu menoleh untuk menebak suara itu berasal dari Sakura.
"5A dan 5B?"
Sai-senpai dan Karin-senpai mengacungkan tangan mereka. Sai-senpai dengan wajah senyumnya sementara Karin-senpai terlihat bersungut-sungut.
"6A dan 6B?"
Deidara-senpai mengacungkan tangannya dengan bersemangat sementara Sasori-senpai terlihat malas-malasan.
Naruto melirik satu-satunya orang selain dirinya yang belum mengacungkan tangannya, dan Naruto mengutuk dengan segala kutukan yang diketahuinya di dalam hati.
"Ah, berarti Itachi dan Kyuuna untuk kelompok terakhir." Asuma-sensei menulis sesuatu pada clipboard yang dipegangnya. "Nah, sekarang kalian duduk di dekat partner kalian masing-masing dan kalian bisa menentukan siapa diantara kalian yang akan mengambil undian untuk menentukan paket kalian."
Naruto bangkit dari tempat duduknya disamping Hinata dan duduk disamping Itachi-senpai yang tersenyum sopan padanya. Sebelum Itachi mengatakan apapun, Naruto sudah mendahuluinya.
"Sebaiknya senpai saja yang mengambil undiannya."
"Kau yakin?"
"Tak ada bedanya merah atau biru, senpai. Dan jika aku yang mengambilnya, aku merasa kurang sopan terhadap seniorku."
"Baiklah kalau begitu." Itachi dan beberapa siswa lainnya berdiri dan berjalan ke panggung. Disana sudah disediakan sebuah kotak hitam dengan lubang diatasnya.
Naruto memperhatikan dengan tidak terlalu antusias saat melihat Itachi mengambil bola kecil berwarna merah dari kotak itu.
"Tebak-tebakan siapa pemilik paket, berarti."
##
