Disclaimer: Just like usual ~


Chapter 8

Naruto mengamati isi lemari sebelum memutuskan apa yang akan dipakainya hari ini. Kalau ia ingin mengikuti kata hatinya, ia hanya ingin memakai jersey, tapi jika Konan-nee sampai tahu, ia akan menerima hukuman yang amat berat.

"Seorang gadis harus tahu cara berpakaian yang benar!"

Naruto menghela napas. Ia akhirnya memutuskan untuk memakai puff short cokelat dengan halter top putih dan cardigan berwarna lumut. Untuk sepatunya, ia akan memilih boots putih yang nyaman. Setelah selesai berpakaian, Naruto memakai bedak tipis dan lipgloss (ini juga perintah Konan-nee, untuk menjaga kulit tetap terhindar dari panas dan agar bibir tidak pecah-pecah katanya) dan menyandang tas kecil yang berisi dompet dan ponselnya.

Paket yang harusnya mereka antarkan telah dibagikan pada hari pembagian kelompok dan Itachi-senpai dengan murah hati menawarkan agar dia saja yang membawa paket itu pulang. Naruto tak keberatan, tentu saja. Dengan begitu pekerjaannnya akan berkurang.

Begitu keluar dari kamarnya, Naruto menemukan Sakura bersandar disamping pintunya sambil bercermin. Lagi-lagi Naruto menghela napas sebelum menyapa Sakura.

"Kau sudah terlihat cantik, Sakura-chan. Berhentilah bercermin."

Sakura mengalihkan pandangannya dari cerminnya dan menatap Naruto. "Kau sudah siap, Kyuuna? Ayo segera berangkat!"

Naruto mengikuti Sakura yang berjalan lebih dahulu. Mereka akan menuju ke kediaman keluarga Uchiha. Naruto mengeluh dalam hatinya. Kenapa Sakura bisa membuatnya setuju dengan keputusan itu?

(Flashback)

"Jadi, kita akan berkumpul di sekolah pada Minggu pagi?" Itachi bertanya padanya.

Naruto mengangguk. Tapi tiba-tiba saja Sakura muncul disampingnya dan merusak rencananya.

"Ehh? Sasuke-kun dan aku akan bertemu di rumah Sasuke-kun. Bagaimana jika kau ikut bersamaku, Kyuuna?"

'Bagaimana caranya membuat Sasuke setuju?' adalah hal pertama yang muncul di dalam pikiran Naruto. Ia masih sibuk berpikir hingga tak menyadari sampai semuanya sudah terlambat.

"Baiklah kalau begitu, kita akan berkumpul di rumah Sasuke-kun!" Sakura berkata dengan ceria.

Naruto tersentak dan berusaha menolak, tapi usahanya sia-sia karena begitu ia melihat sekelilingnya, Sasuke dan Itachi-senpai sudah tak ada.

(Flashback end)

"Nee.. Sakura-chan, bukankah seorang gadis yang meminta bertemu di rumah seorang laki-laki terlihat kurang pantas?" Naruto berusaha mengubah pikiran Sakura pada menit-menit terakhir.

"Omong kosong, Kyuuna." Sakura mengabaikan kata-kata Naruto. "Ini sudah waktunya bagi wanita untuk bersikap agresif." Tambahnya.

Naruto menyerah. Ia kelihatannya tak bisa mundur lagi. Akhirnya ia menjajari langkah Sakura dan memasang headphone yang tadinya terkalung di lehernya.

Hanya butuh lima belas menit berjalan untuk sampai ke kediaman keluarga Uchiha. Saat ini Naruto dan Sakura sudah berdiri di depan gerbang kediaman keluarga Uchiha.

"Sakura-chan, kita harus cepat." Naruto berbalik dan menatap Sakura yang lagi-lagi mengeluarkan cerminnya. Naruto menepuk dahinya dengan putus asa dan menekan bel yang terdapat disana.

"Siapa disana?" terdengar pertanyaan dari intercom yang dipasang di sebelah bel tersebut.

"Uzumaki Kyuuna dan Haruno Sakura." Jawab Naruto.

"Ah, teman-teman Sasuke?"

"Ya."

Beberapa saat kemudian, gerbang itu terbuka. Naruto dan Sakura berjalan masuk.

"Waah.. Halamannya luas sekali." Ujar Sakura dengan kagum. Naruto tak berkomentar apa-apa. Ini bukan pertama kalinya ia kesini dan apapun yang dilihatnya sudah tak lagi membuatnya heran.

Sakura mengetuk pintu dan seorang wanita membukakan pintu. Wanita itu tersenyum dan mempersilakan mereka masuk.

"Arigatou, Mikoto-baasan." Naruto berkata sebelum menutup mulutnya. Ini harusnya adalah kali pertama 'Kyuuna' datang kesini, bagaimana ia bisa mengenal Mikoto-baasan? Naruto lagi-lagi mengutuk dirinya sendiri.

"Ah, tak masalah."

Bagus, kelihatannya Mikoto-baasan tidak curiga. Ia sudah memakai lensa kontak berwarna hitam untuk berjaga-jaga hari ini, jadi tidak mungkin Mikoto-baasan bisa mengenalinya bukan?

"Jadi, biar kutebak. Yang berambut pink ini adalah Haruno Sakura dan kau adalah Uzumaki Kyuuna?"

Naruto dan Sakura mengangguk serentak.

##

"Sebaiknya kalian duduk dahulu. Kurasa Itachi dan Sasuke masih bersiap-siap." Mikoto pergi meninggalkan gadis-gadis itu menuju dapur.

Mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu keluarga Uchiha. Tak lama kemudian, Mikoto kembali membawa dua gelas teh dan sepiring kue kering yang baru dipanggangnya.

"Arigatou, baa-san." Gadis-gadis itu berkata serentak.

Mikoto tersenyum kecil. "Douita.." Ia duduk dihadapan gadis-gadis itu.

"Dimana praktek lapangan kalian akan diadakan kali ini?" tanyanya. Ia penasaran dengan gadis-gadis ini karena ini pertama kalinya ada gadis-gadis yang kelihatannya normal datang mengunjungi putra-putranya.

"Di mall Suna yang baru dibuka itu, baa-san." Gadis berambut pink yang bernama Sakura menjawab.

"Ah, disana. Kupikir praktek lapangannya akan diadakan di tengah kota lagi."

"Di tengah kota?" gadis berambut hitam yang bernama Kyuuna terlihat heran.

"Kau tidak ikut waktu itu?"

"Aku baru pindah ke Jepang, baa-san." Kyuuna menjawab. "Jadi ini adalah praktek lapangan pertamaku."

"Ooh.. Ini adalah pengalaman pertama bagimu? Kudengar praktek lapangan selalu menyenangkan, aku yakin kalian akan bersenang-senang hari ini."

Mereka masih bercakap-cakap selama beberapa saat sebelum Itachi dan Sasuke turun. Dari percakapan mereka, Mikoto bisa melihat kalau mereka adalah gadis-gadis yang baik, walaupun Sakura agak sedikit terlalu bersemangat. Yang membuatnya sedikit curiga adalah Kyuuna yang selalu berusaha menghindari percakapan tentang keluarganya. Walaupun dikatakan menghindar, tapi ia melakukannya dengan cara yang halus dan orang biasa tak akan bisa melihatnya. Namun Mikoto bukan orang biasa, bagaimanapun ia sudah berpengalaman sebagai seorang introgator dan berhenti saat ia menikah dengan Fugaku.

Mikoto bisa mengatakan dengan pasti kalau gadis ini sudah terlatih dan ia dilatih untuk menyembunyikan sesuatu. Ia sebenarnya ingin menanyai gadis itu lebih jauh (salahkan insting lamanya), tapi ia tak bisa menahan mereka lebih lama lagi.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu."

"Hn."

Sakura langsung berdiri. "Tak masalah, Itachi-senpai, Sasuke-kun."

"Kalau begitu ini waktunya berangkat, Sakura-chan." Kyuuna ikut berdiri. "Terima kasih untuk teh dan kuenya, baa-san." Ia kemudian menatap Itachi. "Kami akan menunggu di luar, Itachi-senpai."

Mikoto memperhatikan gadis itu sama sekali tak menyebut nama Sasuke. Gadis itu hanya menatap lurus pada Itachi.

"Selamat tinggal, baa-san." Kedua gadis itu menundukkan kepalanya sebelum keluar.

"Bukan begitu!" Mikoto menggoyangkan jarinya. "Seharusnya kalian mengatakan 'Sampai jumpa'. Siapa tahu suatu saat nanti kita akan bertemu lagi."

Kedua gadis itu saling tatap sebelum tersenyum.

"Baiklah, sampai jumpa, baa-san."

##

"Kaa-san tak menyangka kalian akan mengizinkan mereka berkunjung."

"Hn. Mereka memaksa."

"Maksudmu, Sakura-san memaksa? Yang kulihat adalah Kyuuna-san juga sama terlihat terpaksanya denganmu."

Mikoto tersenyum. "Jadi, pada awalnya Kyuuna tak ingin ikut?"

Itachi mengangguk. "Ia awalnya mengusulkan untuk bertemu di sekolah."

"Lalu?"

"Sakura-san datang dan mengajaknya agar bertemu disini." Itachi menatap penuh arti pada Sasuke. "Ia sudah lama mengejar Sasuke, jadi kupikir ia menganggap ini sebagai kesempatan."

"Hn."

"Tapi kau kelihatannya cukup dekat dengan Kyuuna, Itachi."

Itachi mengangkat alisnya. "Kenapa kaa-san berkata seperti itu?"

"Kau bercerita tentang keluarga kita padanya, bukan? Ia memanggil kaa-san dengan Mikoto-baasan saat ia baru sampai tadi."

"Bagaimana ia bisa tahu?" Itachi menggeleng. "aku tak pernah bercerita tentang kaa-san padanya. Bahkan boleh dibilang kami baru bercakap-cakap setelah partner kami ditentukan dan Kyuuna-san tidak banyak bicara."

"Hmm… kalau begitu darimana dia tahu?"

"Mungkin ia hanya mencari tahu di internet." Sasuke memotong pembicaraan Itachi dan kaa-sannya. "Aniki, kita harus bergegas."

"Selamat bersenang- senang kalau begitu!" Mikoto menepuk pundak mereka berdua.

##

Begitu sampai di mall, mereka langsung menyebar. Naruto dan Itachi sedang duduk di salah satu tempat duduk yang terdapat di mall itu. Mereka baru akan membuka paket merah mereka.

"Senpai, apakah tidak ada kemungkinan curang bagi tim biru?" Tanya Naruto.

"Curang?"

"Bagaimana jika mereka membuka paket mereka diam-diam di rumah?"

"Tidak mungkin, Kyuuna-san. Kita dilatih untuk jujur, dan lagipula setiap paket biru memiliki pengaman khusus. Aku sudah melihat paket miliki Sasuke."

"Ah, begitu." Naruto mengangguk.

"Kau ingin melihat isinya?" Itachi menyodorkan paket yang baru dibukanya pada Naruto.

Naruto mengintip paket itu dan melihat dua kotak suplemen bagi ibu hamil di dalamnya. "Kira-kira siapa penerimanya ya?"

"Ini mudah." Itachi kembali menutup kotak paket itu. "Satu-satunya yang mungkin menerima paket ini adalah Kurenai-sensei."

"Siapa?" Naruto merasa belum pernah mendengar nama sensei itu.

"Dia mengajar teknik hipnotis untuk tingkat akhir. Dan Kurenai-sensei juga adalah istri dari Asuma-sensei. Aku heran Asuma-sensei mengizinkannya untuk mengikuti praktek lapangan ini."

Naruto terlihat tertarik. "Kita juga belajar teknik hipnotis?"

"Tentu." Itachi berdiri. "Hipnotis banyak gunanya. Mulai dari untuk melarikan diri, menanyai musuh, melindungi diri sendiri.."

"Wah, kelihatannya menarik. Aku juga ingin mempelajarinya." Naruto ikut berdiri mengikuti Itachi.

Itachi tak menjawab. Ia menjinjing paket itu di tangan kirinya dan menggandeng Naruto dengan tangan kanannya.

"I-Itachi-senpai?" Naruto menatapnya kaget.

"Agar kita tak terpisah. Mall sangat ramai pada hari Minggu seperti ini." Jelas Itachi.

"O-ooh.. Baiklah."

"Nah, menurutmu, kita akan mulai mencari dari lantai berapa?"

##

Kurenai menyesap tehnya dengan santai. Butuh sedikit usaha untuk meyakinkan suaminya agar mengizinkannya untuk mengikuti praktek lapangan ini, tapi akhirnya Asuma mengalah dan membiarkannya ikut. Yah, walaupun pada akhirnya ia memberikan paketnya pada Itachi.

Kurenai tahu Asuma sengaja mengaturnya agar ia bisa segera pulang. Itachi selalu memperoleh nilai tertinggi dalam praktek lapangan ini, jadi Asuma yakin Itachi bisa menemukannya dengan cepat dan begitu Itachi menemukannya, Asuma akan mendapat alasan untuk menyuruhnya pulang.

"Tou-san mu terlalu khawatir." Kurenai berkata sambil membelai perutnya yang sudah membuncit. Kehamilannya baru memasuki bulan ke Sembilan dan menurutnya ia masih punya banyak waktu. Ia menolak mengambil cuti karena ia masih bisa bergerak dan ia hanya mengajar selama dua jam dalam seminggu.

Ia menatap tas-tas belanjaan yang ada disampingnya. Bukan salahnya memanfaatkan kesempatan ini untuk berbelanja kebutuhan bayinya. Ia mendapatkan beberapa baju bayi yang terlihat cute dengan harga diskon.

"Hmm.. aku bisa meminta bantuan pada Itachi-kun untuk membawakannya nanti. Untuk sekarang sebaiknya aku menunggunya di café ini saja." Kurenai mengeluarkan sebuah buku dan mulai membaca. "Tapi, ngomong-ngomong aku juga penasaran dengan anak baru itu. Menurut Asuma dia anak yang cukup menarik."

Bzzt..bzzt..

"Dimana posisimu?"

Kurenai mengetik balasan dengan cepat.

"Café yang ada di lantai empat."

Tak beberapa lama, ada balasan yang masuk.

"Bagus. Berarti sebentar lagi kamu bisa pulang. Aku melihat Itachi dan Kyuuna sudah berada di lantai empat."

Kurenai menatap layar ponselnya dengan kaget. Ia segera menghubungi Asuma.

"Bagaimana bisa?"

Terdengar tawa kecil. "Jangan tanya padaku. Aku sendiri juga heran. Ini belum sampai satu jam dari waktu praktek dimulai."

"Kau yakin tidak memberi mereka petunjuk?"

"Mana mungkin aku berbuat seperti itu. Walaupun aku ingin melakukannya, tapi itu tak akan adil bagi siswa yang lain."

Kurenai menyerah. Ia harus mengakui Asuma tak mungkin memberi petunjuk pada Itachi-kun. Ini pasti sepenuhnya karena kemampuan Itachi-kun dan partnernya. "Kau menang. Aku akan segera pulang."

"Hati-hati di jalan. Minta Itachi dan Kyuuna membawakan belanjaanmu."

"Baiklah."

##

"Bagaimana kau bisa berpikir Kurenai-sensei ada di lantai empat?" Itachi bertanya. Mereka hanya memperhatikan peta mall itu dan tiba-tiba saja Naruto menunjuk salah satu café yang ada di lantai empat.

"Ini hanya perkiraanku, tapi kelihatannya hanya café itu yang kelihatannya cocok sebagai tempat Kurenai-sensei beristirahat."

"Kenapa?"

Naruto menyerahkan selembar pamflet pada Itachi. "Aku mendapatkannya tadi di atas bangku tempat kita duduk. Tadinya aku mencari ramen, tapi setelah melihat menu dan tipe cafenya, kurasa Kurenai-sensei akan mengunjunginya. Café itu tidak terlihat untuk remaja dan pilihan menunya kebanyakan berbau herbal."

"Ah, begitu."

##

Kidomaru berjalan tak tentu arah. Seluruh tubuhnya terasa sakit, tapi ia mendengar kabar kalau siswa-siswa Akademi Konoha akan mengadakan praktek lapangan di mall ini hari ini. Ia harus menemukan gadis itu dan menjadikannya sebagai alat pertukaran bagi Orochimaru-sama.

"Huh? Lantai empat?" Kidomaru menatap sekelilingnya. Pandangannya tertumbuk pada seraut wajah yang sudah sangat dikenalnya. "Ka-kabuto?" gumamnya.

Kidomaru tak berpikir panjang sebelum ia berlari menembus kerumunan. Jika Orochimaru-sama mengirim Kabuto untuk mengejarnya, maka pastilah ia akan dibunuh.

"Tidak! Tidak! Aku tak ingin mati!"

##

"Sensei, kami menemukanmu." Itachi dan Naruto berdiri di hadapan seorang wanita hamil yang sedang sibuk membaca buku.

"Maaf, kalian salah orang." Jawab wanita itu.

"Oh, ayolah sensei. Kami tak ingin mendapatkan nilai minus dari Asuma-sensei karena gagal membuatmu pulang lebih cepat." Itachi mengangkat beberapa tas belanjaan disamping wanita itu dan Naruto mengambil sisanya.

"Asuma tak mungkin melakukan itu." Kurenai akhirnya menurunkan bukunya dan menyimpannya di dalam tas tangannya.

"Asuma-sensei selalu berkata, 'semua sah dalam cinta dan perang', dan situasi kita ini mengancam keselamatan 'cinta' nya, sensei. Kami yakin Asuma-sensei tak akan segan mengurangi nilai kami." Jawab Itachi.

Kurenai tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan berjalan menuju kasir. Itachi dan Naruto mengikuti Kurenai di belakangnya.

Tepat setelah Kurenai membayar tehnya, Kidomaru masuk kedalam café itu. Naruto menjatuhkan kantong yang dibawanya dan berteriak, "Awas, sensei!"

Tapi lagi-lagi ia terlambat. Kidomaru sudah mengalungkan tangannya di leher Kurenai dan menodongkan pisaunya.

"Menjauh dariku! Atau wanita ini akan merasakan akibatnya!"

##

Perbedaan antara ponsel siswa Akademi Konoha dengan ponsel siswa biasa hanyalah satu. Ponsel para siswa akedemi Konoha dilengkapi dengan tombol panggilan darurat yang begitu ditekan akan terhubung dengan seluruh guru dan polisi.

Dan Asuma saat ini sedang panik karena ia mendapatkan panggilan darurat dari Itachi yang berarti satu hal.

Ada masalah dengan Kurenai.

Ia tak butuh waktu lama untuk mengetahui masalahnya. Begitu ia sampai di lantai empat, ia mendengar teriakan dan percakapan orang-orang yang ramai berkerumun di depan sebuah café.

"Lihat, orang itu menyandera seorang wanita hamil!"

##

"Kenapa aku harus memeriksa keadaan mall, Temari?" Gaara bertanya dengan sedikit kesal. Ini adalah hari Minggu dan ia berencana untuk mengajak Naruto makan ramen atau nonton film, tapi Temari merusak rencananya dengan memaksanya memeriksan keadaan mall Suna yang baru saja dibuka.

"Kudengar siswa Akademi Konoha hari ini mengadakan kegiatan praktek lapangan disini, Gaara." Temari menjawab sambil menyerahkan dokumen permintaan izin untuk melaksanakan kegiatan di mall Suna.

"Apa Naruto ikut?" tanya Gaara.

"Yup." Temari menunjuk dokumen itu. "Disana juga terdapat daftar nama-nama peserta praktek lapangan tersebut."

Gaara mengembalikan dokumen itu pada Temari, kali ini sambil tersenyum. Ia baru saja mengeluarkan ponselnya dan akan menghubungi Naruto, tapi suara sirine mobil polisi menghentikannya.

"Temari, cari tahu apa yang terjadi!" Perintah Gaara segera.

Ia tak perlu menunggu lama karena Kankurou muncul dengan wajah panik.

"Ada seseorang yang menyandera wanita hamil di lantai empat, Gaara."

"Apa tuntutannya?"

"Tidak ada. Ia hanya berteriak-teriak agar semua orang menjauh darinya." Kankurou menjawab khawatir. "Dan Naruto juga ada disana."

"Apa?"

"Wanita yang disandera itu adalah salah satu guru dari Akademi Konoha, jadi kurasa dia adalah salah seorang penguji mereka."

"Apa kau sudah menghubungi polisi?"

Kankurou mengangguk.

"Baiklah, kita juga kesana, Kankurou, Temari." Gaara berjalan cepat, diikuti Temari dan kankurou dibelakangnya.

##

Beberapa saat kemudian, seluruh siswa kelas pertahanan sudah berada di lantai empat, membaur dengan para pengunjung yang berkerumun di dekat café.

"Apa yang harus kita lakukan?" bisik Hinata pada Kiba dan Shino.

"Jika ia tidak menyandera Kurenai-sensei, aku bisa menyuruh Akamaru untuk menyerangnya. Tapi karena ia menyandera Kurenai-sensei, kita harus bertindak lebih hati-hati." Kiba mengelus Akamaru yang menyusup di dalam jaketnya.

"Kelihatannya yang lain juga sudah berada disini."

Hinata menatap sekitarnya. Shino benar, ia bisa melihat Lee-senpai, Neji-niisan, Sasori-senpai, Karin-senpai, Sasuke-kun, dan Sakura-san.

Hinata menatap kedalam café. Ia bisa melihat Kyuuna dan Itachi-senpai masih berdiri tanpa bergerak dari posisi awalnya, tak jauh dari Kurenai-sensei. Ia juga bisa melihat ekspresi Itachi-senpai yang berusaha tenang dan ekspresi Kyuuna yang terlihat takut.

Hinata mengamati wajah laki-laki yang menyandera Kurenai-sensei, dan paham kenapa Kyuuna terlihat takut.

"Dia orang yang melukai Kyuuna-san sebelumnya." Hinata memberi tahu Kiba dan Shino yang berdiri disampingnya.

"Haah? Bagaimana ia bisa sampai disini?" Kiba bertanya heran.

"Entahlah." Hinata juga sama herannya. "Apa mungkin hanya kebetulan?"

##

Naruto merasakan kaki dan tangannya yang mulai dingin. Laki-laki ini berbahaya, ia tahu itu dengan pasti. Dan laki-laki ini menyandera Kurenai-sensei yang sedang hamil. Naruto tahu wanita hamil tak boleh berada dalam tekanan karena itu akan mengganggu kehamilannya. Dan dengan tekanan sebesar ini, siapa yang bisa menduga apa yang akan terjadi pada Kurenai-sensei?

Akhirnya Naruto mengambil keputusan. Ia maju selangkah dengan hati-hati.

"Ne, bisakah kau melepaskan nee-sanku?" Naruto berkata pelan sambil terus berjalan mendekat. "Nee-san sedang hamil, dan itu adalah putra pertamanya, kau tahu? Nii-san menunggu kami di lantai satu dan aku tak ingin membuat nii-san cemas."

"Kau bercanda?" Laki-laki itu mengayunkan pisaunya pada Naruto.

Naruto mundur selangkah. "Aku bersungguh-sungguh. Sebagai gantinya, bagaimana kalau aku menggantikan nee-san? Aku yakin menyandera wanita hamil akan menyulitkanmu."

Naruto memperhatikan laki-laki itu berpikir.

"Mendekat kesini!" Perintah laki-laki itu. "Dan jangan coba macam-macam!"

Naruto mengangkat kedua tangannya. "Aku tak akan melakukan apapun. Jadi bisakah kau melepaskan nee-sanku baik-baik?"

Laki-laki itu mendorong Kurenai begitu Naruto sudah berada dekat dengannya. Naruto menangkap Kurenai sensei dan mendorongnya dengan lembut ke arah Itachi-senpai.

"Sekarang kau mendekat kesini! Atau aku akan melemparkan pisau-pisauku pada wanita itu!"

Naruto tadinya ingin segera menendang laki-laki ini, tapi Kurenai-sensei belum berada di tempat yang aman dan ia tak ingin ambil resiko. Ia mendekat, dan begitu ia berada dalam jangkauannya, laki-laki itu segera mengalungkan tangannya ke leher Naruto.

"Kabuto! Kau dengar aku! Aku menemukan si mata biru! Jika kau membunuhku, maka kau tak akan pernah menemukannya!"

Naruto tersentak. Laki-laki ini mencarinya?

"Aku ingin pertukaran, Kabuto!" laki-laki itu masih berteriak.

Naruto menatap kerumunan orang-orang di depan café itu dan melihat teman-teman sekelasnya. Namun ia melihat seseorang yang lain di kerumunan itu. Seseorang yang wajahnya tak akan pernah ia lupakan. Dan pemilik wajah itu sedang memegang sepucuk pistol dengan peredam suara dan tersenyum ke arahnya.

Naruto masih ingat wajah itu. Itu wajah orang yang sudah menembak Ukon tepat dihadapannya. Dan tiba-tiba saja, Naruto bisa menebak apa yang akan terjadi.

##

Kabuto melihat gadis berambut hitam itu dengan berani menggantikan wanita hamil tersebut sebagai sandera. Kabuto tak yakin jika mereka adalah keluarga, tapi keberanian gadis itu patut mendapatkan pujian.

"Well, kau tidak akan lama menjadi sandera." Kabuto mengeluarkan pistolnya dan membidik ke arah Kidomaru. Kabuto tahu gadis itu entah bagaimana bisa melihatnya dan Kabuto tersenyum pada gadis itu.

"Selamat tinggal Kidomaru. Tak peduli apa tawaranmu, gadis itu sudah tewas." Gumam Kabuto.

##

"Kyaaaa!" terdengar jeritan begitu sebutir peluru menembus tepat di dahi laki-laki yang menyanderanya. Naruto bisa mencium bau darah, tapi alih-alih melihat kebelakangnya, ia masih menatap laki-laki yang sudah menembak penyanderanya dengan senyum. Laki-laki itu mengedipkan matanya, melempar pistolnya, dan berbaur dalam kerumunan orang-orang yang panic.

Naruto terduduk begitu tak ada lagi yang menyangganya. Ia masih menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.

Ia gagal lagi.

Seseorang tewas di hadapannya. Lagi.

Apa ia akan dibuang lagi?

Apa ia harus pergi lagi?

Naruto tak menyadari air matanya yang mulai menetes.

Ia tak ingin dicampakkan lagi.

Ia baru saja mendapatkan tempatnya kembali.

Naruto menggeleng. Ia menolak untuk menyerah. Kali ini ia tak akan gagal. Naruto segera bangkit dan berlari mengejar laki-laki berkacamata yang sudah menembak Kidomaru.

'Kabuto? Rasanya aku pernah mendengar nama itu.' Batin Naruto. Ia tak memperhatikan sekitarnya dan hanya fokus ke arah depannya. Ia masih bisa melihat punggung laki-laki itu yang berlari dengan lihai menyelip diantara kerumunan orang-orang.

'Aku tak boleh kehilangan dia kali ini!'

##