Disclaimer: Seperti yang sama-sama kita ketahui, Naruto dan semua tokohnya adalah milik Kishimoto-sensei...


CHAPTER 9

Sasuke melihat Uzumaki Kyuuna terduduk. Wajahnya terkena percikan darah, namun kelihatannya ia tak peduli. Ia terlihat shock dan tatapan matanya kosong. Tapi itu hanya terjadi sesaat. Ia segera memperoleh kesadarannya kembali dan segera berdiri dan berlari menembus kerumunan orang-orang.

Sasuke tahu ia mengejar seseorang. Jadi ia mengikuti Uzumaki Kyuuna. Bukan hal mudah mengingat mall yang padat ditambah lagi dengan orang-orang yang panik berlari keluar.

Sasuke bersyukur karena kelihatannya mereka berlari ke arah tempat parkir di basement. Ia sempat kehilangan Uzumaki Kyuuna beberapa saat, namun ia bisa mendengar suaranya.

"Kau! Kau yang sudah menembak Ukon bukan? Kenapa kali ini kau menghabisi Kidomaru? Apa yang Orochimaru rencanakan?"

Sasuke mendengar Uzumaki Kyuuna berteriak dengan marah. Bagaimana ia bisa tahu tentang kasus Ukon?

"Yare~ yare~ Jangan marah-marah seperti itu.."

Sasuke tersentak. Ia mengenali suara itu.

"Apa tujuan kalian sebenarnya?"

Suara laki-laki itu terdengar seakan sedang tersenyum. "Aah, sekarang aku tahu siapa dirimu. Kau Uzumaki Kyuuna? Keponakan kesayangan Minato-san? Aku agak lupa wajahmu karena kau memakai wig dan lensa kontak itu. Bagaimana kau bisa tahu tentang kasus itu? Apa Naruto-chan bercerita padamu?"

"Jangan sebut namanya seperti itu! Dan semuanya salah kalian! Jika kau tidak melepaskan maniak itu atau bahkan menciptakan maniak seperti itu, Naruto-kun akan masih bersama kami!" Suara Uzumaki Kyuuna terdengar semakin marah.

"Lalu, kau mau apa, Kyuuna-chan? Apa kau mau mengambil alih tugas Naruto-chan? Menjadi partner Sasuke-kun yang punya banyak tuntutan?"

"Hentikan! Dan sudah kukatakan, jangan sebut namanya seperti itu!"

Sasuke akhirnya menemukan mereka sedang berdiri berhadap-hadapan. Uzumaki Kyuuna sudah menghunus sebilah belati. Mereka berdua menoleh serentak saat mendengar langkah kaki Sasuke yang mendekat.

"Wah.. Lihat siapa yang datang bergabung dengan kita."

Sasuke ingat wajah itu. Naruto bersikeras kalau laki-laki itu mencurigakan saat dalam misi terakhir mereka sebelum mereka berpisah.

"Kau.." Sasuke berkata dengan tenang.

Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya. "Hei..hei.. aku juga punya nama, kau tahu. Aku Kabuto."

Sasuke mengawasi laki-laki itu dengan hati-hati. "Apa ini lagi-lagi ada hubungannya dengan Orochimaru?"

"Kalian pintar." Laki-laki itu melirik Uzumaki Kyuuna dengan ujung matanya. "Kelihatannya Naruto-chan punya banyak penerus."

Clang!

Sasuke agak sedikit kaget saat tiba-tiba saja Uzumaki Kyuuna melempar belatinya dan laki-laki itu menangkisnya dengan sepucuk senjata yang entah bagaimana sudah ada ditangannya.

"Bagaimana bisa?" Uzumaki Kyuuna bertanya dengan nada tak percaya.

"Apa kau berpikir aku datang tanpa persiapan?" Laki-laki itu tersenyum dan mengarahkan senjatanya pada Uzumaki Kyuuna. "Walaupun kalian kelihatannya menarik, tapi sayang sekali aku harus pergi. Sampai nanti!"

DOR!

Sasuke tadinya akan bergerak mengejar laki-laki itu saat melihat Uzumaki Kyuuna berhasil menghindari peluru itu, tapi gerakannya terhenti saat melihat Uzumaki Kyuuna yang terjatuh.

"Kau sebaiknya menjaga Kyuuna-chan, Sasuke-kun. Kau tak ingin kejadian yang sama seperti pada Naruto-chan terulang, bukan?"

Sekarang Sasuke yakin laki-laki itu melakukan sesuatu pada peluru yang ditembakkannya. Sasuke berlari ke arah Uzumaki Kyuuna dan menemukan gadis itu sudah tak sadarkan diri.

"Hei, kau baik-baik saja?"

##

Gaara berlari cepat. Dia sempat melihat Naruto yang mengejar seseorang diantara kerumunan dan berusaha mengikuti Naruto.

"Menyebar! Begitu salah satu dari kita menemukannya, beri tanda!" perintah Gaara pada Temari dan Kankurou yang langsung mengangguk.

Gaara menyimpan ponselnya. Ia terus berlari sampai akhirnya mendengar suara.

"Hei, Uzumaki Kyuuna! Kau dengar aku?"

Gaara berlari ke arah suara. "Kyuuna!" Ia melihat Naruto terbaring di lantai tak sadarkan diri sementara disampingnya Uchiha Sasuke menepuk pipinya pelan.

"Temari, Kankurou! Aku menemukan Kyuuna! Hubungi ambulans!"

Gaara berjongkok disamping Naruto dan memeriksa denyut nadinya. Ia menarik napas lega saat masih merasakan denyut nadi Naruto. Ia segera membopong Naruto.

"Tunggu dulu! Kau siapa?" Uchiha Sasuke menghentikannya dengan nada curiga.

Gaara menjawab kesal. "Aku adalah orang yang dipercaya untuk menjaga gadis ini."

##

"Bagaimana keadaan Kyuuna, sensei?"

Anko meletakkan buku yang dibawanya diatas meja. "Ia sudah sadarkan diri. Tapi ia masih harus menginap di rumah sakit sedikit lebih lama."

"Kenapa?" Hinata bertanya dengan khawatir. Ini hari Senin dan mereka tidak memperoleh kabar apa-apa tentang Kyuuna selain 'dia sedikit terluka dan dibawa ke rumah sakit.' Sasuke-kun yang terakhir bersama Kyuuna tidak mau menjawab pertanyaan mereka.

"Karena ia masih belum bisa bergerak." Anko menjawab. "Ia beruntung bisa menghindari peluru itu, tapi tetap saja ia terkena dampak peluru itu."

"Apa itu sejenis paralyze bullet, sensei?" tanya Shikamaru.

"Sepertinya begitu. Dan dicampur dengan sedikit obat bius."

"Jadi, kapan Kyuuna akan keluar dari rumah sakit, sensei?" kali ini Ino bertanya. "Apa kami boleh mengunjunginya?"

"Begitu ia bisa bergerak. Dan kalian bisa mengunjunginya sepulang sekolah, jika kalian ingin. Hanya berhati-hati saja terhadap pengawalnya."

"Pengawal?"

"Kalian akan mengerti jika kalian bertemu dengannya. Untuk sekarang, buka buku kalian!"

Dan kelas kembali tertidur dengan suksesnya.

##

"Itachi, bisa panggil Sasuke-kun untuk makan malam? Semenjak dia pulang sekolah tadi dia terus mengurung diri di kamarnya."

"Hai, kaa-san." Itachi meletakkan buku yang dibacanya dan beranjak ke menuju kamar adiknya.

Tok—tok..

"Sasuke, waktunya makan malam. Kaa-san memanggilmu."

Tak ada jawaban. Itachi mencoba membuka pintu kamar.

"Tidak dikunci?"

Itachi masuk dan menemukan Sasuke tertidur di meja belajarnya. Komputer dan printernya masih dalam keadaan menyala. Itachi tahu Sasuke tak suka jika orang-orang mengganggu privasinya, tapi Itachi penasaran apa yang dikerjakan Sasuke sampai membuatnya tertidur kelelahan seperti ini. Itachi mengambil beberapa lembar kertas yang kelihatannya baru saja dicetak oleh Sasuke.

"Hmm.. Data-data mengenai Orochimaru? Ck..ck.. Tou-san akan kesal jika ia tahu kau meretas data kepolisian, Sasuke." Itachi meletakkan kertas itu kembali. Ia menyelimuti Sasuke dan keluar kembali dengan tenang.

"Mana Sasuke?" Mikoto bertanya saat Itachi turun dari tingkat dua sendiri.

"Tertidur." Itachi duduk disamping tou-san nya. "Mungkin dia kelelahan."

Mikoto memberikan semangkuk nasi pada Itachi. "Ngomong-ngomong, apa yang sebenarnya terjadi saat praktek lapangan kalian kemarin?"

"Sama seperti yang kuceritakan kemarin, kaa-san."

"Bukankah Sasuke mengejar seseorang yang mencurigakan bersama Kyuuna? Dan Kyuuna hingga saat ini masih di rumah sakit bukan?"

"Sasuke belum mengatakan apa-apa padaku, kaa-san. Kelihatannya sesuatu memang terjadi, tapi Sasuke tak ingin mengatakannya pada siapapun."

Mikoto berpikir sejenak. "Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Naruto-kun?"

Fugaku dan Itachi sama-sama terlihat heran.

"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" Fugaku meletakkan sumpitnya dan menatap lurus istrinya.

"Yah, hanya perkiraanku. Kalian ingat, tahanan yang dikawal Sasuke dan Naruto-kun dulu juga tewas tertembak, bukan? Dan Sasuke selalu menolak membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan Naruto setelah itu."

Itachi ikut meletakkan sumpitnya. "Sejujurnya, aku merasa perkataan kaa-san masuk akal, tou-san."

"Kenapa?"

"Aku menemukan Sasuke tertidur di tumpukan kertas saat aku melihat ke kamarnya tadi. Saat aku melihat kertas-kertas itu, sebagian besar merupakan informasi tentang Orochimaru. Aku yakin, siapapun yang dikejar oleh Sasuke dan Kyuuna-san mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan Orochimaru."

"Hmm.. begitu.." Fugaku memegang dagunya. "Aku juga sudah memeriksa nama 'Kabuto' yang kau katakan diteriakkan oleh pelaku penyanderaan itu, dan aku menemukan kalau ia adalah tangan kanan Orochimaru."

"Lalu kenapa tou-san tidak menahannya? Paling tidak untuk dimintai keterangan."

"Saat aku mengatakan tangan kanan, ia adalah tangan kanan tidak resmi. Dengan kata lain, ia adalah orang yang paling dipercaya Orochimaru untuk melakukan pekerjaan kotornya. Kami masih berusaha melacaknya, tapi ia adalah salah satu orang terbaik Orochimaru."

"Aku akan berusaha mencari tahu apa yang terjadi kemarin. Mungkin aku bisa membujuk Sasuke untuk bercerita padaku."

"Ide bagus. Mungkin ada petunjuk yang bisa kita dapatkan."

##

"APA? Kabuto ada di Jepang?"

Naruto menjauhkan ponsel dari telinganya. "Iya, Ku-chan. Aku bertemu dengannya kemarin."

"Lalu?"

"Tidak ada apa-apa yang terjadi. Aku hanya ingin memberitahumu saja. Dan kelihatannya mereka belum menyadari identitasku." Naruto berusaha menjawab dengan ceria.

"Dia bohong, Kurama. Saat ini dia sedang berada di rumahku." Gaara merebut ponsel Naruto dan berbicara langsung pada Kurama.

"Apa yang terjadi?" Suara Kurama terdengar cemas.

"Kabuto menembaknya dengan sesuatu dan akibatnya ia tak bisa bergerak." Gaara menjawab sambil melirik Naruto.

Naruto yang melihat lirikan Gaara padanya berkata keras. "Aku berhasil menghindari tembakannya! Aku hanya tergores saja!"

"Tapi tetap saja kau tidak bisa bergerak. Kau baru bisa menggerakkan tanganmu pagi ini." Gaara berkata datar.

"Gaara, aku akan ke Jepang hari ini juga. Aku harus mellihat keadaan Naruto langsung."

"Tentu, Kurama." Gaara menutup telfon dan memberikan ponsel Naruto kembali.

"Kurama akan ke Jepang, katanya."

Naruto memucat. "Uwaaa… kenapa kau mengizinkannya? Ia pasti akan sangat marah jika mengetahui keadaanku seperti ini."

"Itu akan menjadi pelajaran bagimu agar lebih berhati-hati di masa depan."

"K-kau tega.." Naruto menunjuk Gaara dengan ekspresi terluka.

Gaara menghela napas. "Berhenti menggunakan ekspresi itu padaku. Kau tahu itu hanya berpengaruh pada tou-sanmu. Kurama dan aku tak mempan dengan itu."

Naruto mengangkat bahunya. "Setidaknya aku sudah mencoba."

Gaara menunduk dan menepuk kepala Naruto pelan. "Jangan macam-macam selama aku pergi. Jika keadaanmu sudah membaik, kita bisa pergi sekolah bersama-sama."

"Baiklah..baiklah…" Naruto berbaring dan menarik selimutnya hingga menutup wajahnya. Setelah didengarnya suara pintu tertutup, barulah ia membuka selimutnya kembali.

##

"Kyuuna-san sudah tidak berada di rumah sakit."

"Bagaimana kau tahu, Hinata?" Kiba duduk disamping Hinata sambil membelai Akamaru.

"Anko-sensei memberi tahu tadi. Untuk alasan keamanan, Kyuuna-san dipindahkan ke tempat lain."

"Kemana?" Ino bertanya dengan penasaran.

"Mansion keluarga Sabaku."

Kiba bersiul. "Wow.. Kyuuna punya koneksi dengan orang penting ya?"

"Ponselnya tidak aktif." Sakura mencoba menghubungi ponsel Naruto. "Apa kita tinggalkan pesan saja? Kita kelihatannya tidak bisa menjenguknya."

Shino memperlihatkan layar laptopnya yang sedang menyala. "Kurasa hanya itu yang bisa kita lakukan. Pengamanan mansion keluarga Sabaku diperketat sejak kemarin."

Di layar laptop terlihat video yang kelihatannya merupakan rekaman CCTV. Dalam rekaman itu terlihat pengawal-pengawal pribadi yang mondar-mandir di depan gerbang mansion dan pemeriksaan bagi orang-orang yang akan memasuki mansion.

"Ini rekaman CCTV darimana?"

Shino menatap Shikamaru. "Ini rekaman dari kamera percobaan nomor 125 milikku. Kamera yang bisa dikendalikan dari jarak jauh."

"Hoo… bagaimana cara kerjanya?"

Shino merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu.

"Kyaaa! Apa itu serangga? Aku benci serangga!" teriak Ino saat melihat apa yang ada di tangan Shino.

"Ini adalah kamera mini. Aku bisa mengendalikannya dari jarak lima kilometer."

"Sugoii ne.." Hinata menyentuh kamera yang berbentuk kumbang itu dengan ujung jarinya.

Shino memperbaiki kacamatanya. "Ini bukan apa-apa. Karena targetku adalah membuat kamera yang bisa kukendalikan dari jarak 20 kilometer."

"Jadi, apa kamera itu masih berada disana sekarang?" Choji ikut bergabung dalam pembicaraan setelah sebelumnya sibuk dengan keripik kentangnya.

"Tentu. Ini adalah rekaman langsung."

"Apa kau tidak bisa membuat kumbangnya terbang ke dalam mansion?"

"Tidak."

"Eeh? Kenapa?" terdengar beberapa suara bertanya bersamaan.

"Aku tidak ingin mengambil resiko. Bisa saja aku merekam sesuatu dan ketahuan. Aku tidak ingin melanggar hukum."

'Bukannya sekarang kau sudah melanggar hukum?' batin yang lain serentak.

Kelas sudah berakhir dan murid-murid yang belum pulang biasanya menghabiskan waktu sore mereka dengan belajar di perpustakaan atau dengan kegiatan klub mereka.

Murid-murid kelas I kelas khusus pertahanan berhasil mendapatkan izin untuk mendirikan klub mereka sendiri dan mendapatkan ruangan klub sendiri. Mereka selalu membicarakan hal-hal rahasia diantara mereka hanya saat mereka berada di ruangan klub, karena murid kelas pertahanan selalu diajari tentang asas kerahasiaan.

"Satu rahasia yang terungkap bisa saja menghancurkan satu Negara!" Itu adalah pelajaran pertama yang mereka terima sebagai murid kelas pertahanan. Yah, walaupun saat ini hal paling rahasia yang pernah mereka lakukan adalah diam-diam belajar meretas situs-situs pemerintahan. Dan mereka cukup sukses melakukannya, mengingat mereka tidak pernah ketahuan.

"Aku baru sadar, Sasuke mana?" Chouji tiba-tiba bertanya.

"Entahlah. Ia memang jarang bergabung disini." Jawab Kiba. "Sejak kemarin tingkahnya mencurigakan dan ia tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat ia mengejar pelaku penembakan itu."

"Sasuke-kun selalu seperti itu." Hinata berkata pelan. "Ia juga tidak mau menceritakan apa-apa tentang misi terakhir yang dilakukannya bersama Naruto-kun."

"Walaupun begitu, aku yakin ia merasa bersalah." Shikamaru menengahi. "Jika tidak, mana mungkin ia memutuskan berhenti sebagai agen level C dan memulai kembali dari awal?"

Sasuke dan Naruto telah direkrut menjadi agen khusus semenjak mereka lulus SD. Karena prestasi mereka, dengan mudah mereka menaikkan level mereka. Tapi sejak Naruto menghilang, tiba-tiba saja Sasuke berhenti sebagai agen dan memutuskan untuk belajar sebagai murid biasa. Keputusannya tentu saja mengagetkan banyak orang, tapi Sasuke sudah tetap dengan keputusannya.

"Yah, kuharap ia memang berhenti karena merasa bersalah."

Tok..tok..

"Siapa itu?"

"Sara dan Shion." Jawab Shino setelah memeriksa kamera tersembunyi yang ia pasang di pintu ruangan klub mereka.

Hinata bangkit dan membuka pintu. "Silahkan masuk, Shion-san, Sara-san."

"Terima kasih, Hinata-san." Mereka berdua menjawab serentak.

"Tumben murid kelas khusus lainnya mengunjungi ruangan klub kami. Ada apa?" Ino bertanya langsung tanpa basa-basi. Sudah rahasia umum kalau Shion dan Sara memiliki hubungan buruk dengan Sakura dan Ino. Penyebabnya mudah ditebak, Sasuke.

"Kami hanya ingin menanyakan keadaan Kyuuna-san. Sensei tidak mengatakan apa-apa di kelas dan informasi yang kami dapatkan hanya sebatas berita yang ditayangkan di televisi." Shion berkata tegas.

"Kyuuna-san hanya luka ringan, Shion-san, Sara-san. Kalian tidak perlu khawatir." Hinata menjawab cepat sebelum terjadi perang mulut antara Shion dan Sara melawan Ino dan Sakura.

"Syukurlah." Sara terlihat lega. "Ia akan segera kembali ke sekolah, bukan?"

"Tentu. Begitu ia pulih, ia akan kembali ke sekolah."

"Baiklah, kalau begitu kami akan kembali ke asrama. Kami bisa merasakan kalau kehadiran kami disini tidak diinginkan." Shion bangkit, diikuti oleh Sara.

"Baguslah kalau kalian sadar." Sakura menjawab.

"Sakura-san.." Hinata menggelengkan kepalanya.

Shion dan Sara tersenyum menatap Hinata.

"Sampai nanti, Hinata-san."

Begitu Shion dan Sara keluar, Hinata menghembuskan napas lega. Sulit baginya bersikap netral, karena jauh di lubuk hatinya, ia paham kenapa Shion dan Sara bersikap seperti itu.

"Kalian tak harus selalu bertengkar setiap kalian bertemu."

Mereka kaget saat mendengar perkataan Shikamaru. Orang yang biasanya tak ingin ikut campur kali ini ikut campur? Terlebih lagi dalam masalah pertengkaran perempuan?

"Ini merepotkan, tapi berusahalah paham dengan keadaan mereka berdua." Lanjut Shikamaru.

"Bagaimana kami bisa paham dengan mereka? Mereka selalu menyebalkan!" Ino berkata kesal.

"Hanya karena mereka membenci Sasuke? Kalian pikir semua orang harus menyukai Sasuke? Apa kalian pernah bertanya apa alasan mereka bersikap seperti itu?"

Ino terdiam. Shikamaru benar, ia memang tak pernah bertanya.

"Kalian tahu apa isu yang berkembang tentang perginya Naruto dua tahun yang lalu?"

"Kami tahu. Orang-orang berkata kalau itu salah Sasuke-kun. Tapi apa hubungannya dengan mereka berdua?" Sakura melipat tangannya di dada.

"Mereka berdua mencintai Naruto-kun." Hinata menjawab.

"Haah? Shion dan Sara? Mencintai Naruto? Aku tak percaya."

"Naruto-kun punya banyak sisi baik yang tidak kalian ketahui. Kalian lihat pin bel yang selalu dibawa Shion-san? Naruto-kun pernah melompat ke dalam danau saat bel itu jatuh ke sana. Dan belati yang selalu dibawa-bawa Sara-san? Itu adalah hadiah dari Naruto-kun setelah ia menyelamatkan Sara-san dari seseorang yang mencoba merampoknya." Hinata menjelaskan dengan pelan. "Ka-kalian terlalu dibutakan dengan Sasuke-kun sehingga kalian tidak bisa melihat kebaikan pada Naruto-kun!" Hinata segera keluar begitu ia menyelesaikan perkataannya.

"Hinata!" Kiba keluar bersama Akamaru mengejar Hinata.

Shikamaru menghela napas. "Kalian harus lebih berhati-hati dalam berucap. Kata-kata adalah sesuatu yang magis."

Ino dan Sakura hanya menunduk.

##

Naruto menatap sekelilingnya dengan bosan. Tak ada apapun yang bisa ia kerjakan. Walaupun tangannya sudah bisa digerakkan, tapi apa yang bisa dilakukannya? Hanya memainkan game di ponselnyalah satu-satunya kegiatan Naruto untuk saat ini.

"Gaara terlalu berlebihan." Naruto meletakkan ponselnya dan berbaring menatap langit-langit kamar dengan kesal. "Seharusnya ia membiarkanku di rumah sakit. Paling tidak disana aku bisa berbicara dengan para perawat dan tidak sendirian seperti ini."

Naruto kembali menarik selimutnya. "Tapi Gaara selalu seperti itu. Sama seperti dulu…."

##

"Bagaimana keadaan Naruto?" Kankurou bertanya begitu ia masuk ke ruang kerja Gaara.

"Tak ada masalah yang serius. Hanya perlu menunggu sampai ia bisa menggerakkan seluruh bagian tubuhnya kembali dengan normal. "

"Hoo.. baguslah kalau begitu." Kankurou sibuk mengatur pengamanan mansion sejak Naruto dibawa ke mansion keluarga Sabaku. Gaara memperingatkannya agar ia memperketat penjagaan karena ia khawatir dengan keselamatan Naruto.

"Tapi apa Naruto tidak akan bosan di kamar itu sendirian? Kau bahkan tidak mengizinkannya menonton televisi." Temari bertanya sambil meletakkan beberapa dokumen yang baru di printnya di hadapan Gaara.

Gaara mengangkat kepalanya. "Mungkin saja. Karena itu aku harus segera menyelesaikan pekerjaan ini agar aku bisa menemaninya nanti."

"Kau tahu, kau benar-benar berubah sejak bertemu dengannya, Gaara." Kankurou menatap Gaara penuh arti.

"Maksudmu?" Gaara bertanya sambil terus memeriksa dokumen-dokumen di atas mejanya.

"Yah, kau berubah. Tapi jangan salah sangka, berubah yang kumaksud adalah kau menjadi lebih baik dan peduli pada sekitarmu."

Gaara meletakkan penanya. "Ini sudah yang terakhir untuk hari ini bukan, Temari? Aku sudah menyelesaikan semuanya."

Temari mengambil tumpukan dokumen di atas meja Gaara dan memeriksanya sekilas. "Ya, ini sudah semuanya. Kau bisa istirahat sekarang, Gaara."

"Baiklah." Gaara bangkit dari duduknya. "Dan Kankurou? Aku berubah karena ia mengajariku. Ia berkata ada banyak hal baik yang akan terjadi padaku jika aku berusaha menjadi orang yang lebih baik."

"Apa itu terbukti?"

Gaara tersenyum. "Ya. Bagiku itu terbukti."

##