Disclaimer: Sadly, Naruto masih belum jadi milik LittleChomper~
CHAPTER 10
Naruto duduk di bangku taman rumah sakit sambil menatap sekelilingnya. Ia melihat beberapa perawat mendorong kursi roda beberapa pasien lainnya melewati taman dan beberapa orang anak-anak bermain diatas rerumputan.
Ini sudah dua minggu berlalu sejak pemakamannya. Sekarang Namikaze Naruto sudah tidak ada dan sebagai gantinya Uzumaki Kyuuna hadir. Luka-luka luarnya sudah hampir pulih, tapi ia masih harus berhati-hati karena beberapa tulangnya retak saat ia terjun bebas dari lantai tiga untuk melindungi kliennya.
Harusnya ia sudah bisa pulang, tapi Nagato-san berkata sebaiknya ia tetap berada di rumah sakit agar ia bisa mengawasinya karena ia bekerja di rumah sakit itu.
"Pulang, huh?" gumam Naruto sambil menatap langit. "Aku tak bisa pulang ke tempat tou-san dan Ku-chan sekarang.."
Uzumaki Nagato adalah keponakan dari Uzumaki Kushina, dan Minato menganggap Nagato bisa dipercaya untuk menjaga Naruto. Nagato juga seorang agen, namun ia bukan agen yang aktif dan sehari-harinya bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit kecil di pinggiran kota London.
"Lagi-lagi kau disini."
Naruto menatap seorang pemuda yang berdiri disampingnya. "Nagato-niisan!"
"Ah, maaf. Apa aku mengagetkanmu?" Nagato duduk disamping Naruto. "Kau terlihat melamun sambil menatap langit. Kau merindukan ayah dan saudaramu?"
"Tentu saja." Jawab Naruto segera. "Tapi ini adalah pilihanku. Aku tak ingin Ku-chan atau tou-san terluka karena kesalahanku. Dan lagipula, seorang teman pernah berkata kalau menatap langit adalah salah satu cara menenangkan pikiran."
Nagato bangkit dan menggosok kepala Naruto. "Kau anak yang baik. Baa-san pasti bangga padamu."
"Mou, nii-san." Naruto menggembungkan pipinya.
"Aku harus memeriksa beberapa pasien pagi ini. Jika kau sudah puas menatap langit, segera kembali ke kamarmu, oke?"
Naruto mengangguk. Saat ini dia adalah Uzumaki Kyuuna, satu-satunya adik perempuan dari Uzumaki Nagato. Mengenai masalah dokumen bisa diatasi dengan mudah, dan Nagato adalah orang baru di tempat itu, jadi mereka bisa dengan mudah membaur tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Hmm.. sekarang apa yang akan kulakukan ya?" Naruto mengeluarkan ponsel barunya dan menyalakannya. "Mungkin aku bisa mengambil foto awan?"
Naruto membuka aplikasi kamera dan mulai memotret awan yang dilihatnya. "Itu terlihat seperti bunga.. yang itu terlihat seperti es krim…" Naruto sibuk bergumam sendiri hingga ia tak menyadari seseorang sudah berdiri di hadapannya.
"Namikaze Naruto, aku menemukanmu."
Naruto tersentak kaget dan menjatuhkan ponselnya. Ia akan menangkap ponselnya, tapi tulang rusuknya yang retak menghentikannya.
"Ponselku!"
Naruto memejamkan matanya, terlalu takut untuk melihat nasib yang akan menimpa ponsel barunya. Tapi saat ia tak mendengar suara apapun terjatuh, ia membuka matanya. Dihadapannya sudah berdiri seorang pemuda sebayanya dengan rambut merah dan tato 'ai' yang sudah dikenalnya. Pemuda itu memegang ponsel Naruto dan menatap Naruto dengan ekspresi serius.
"A-ah… Arigatou.." Naruto mengulurkan tangannya, meminta kembali ponselnya. Namun Gaara tidak mengembalikan ponselnya dan masih menatapnya dengan ekspresi serius yang sama.
"Kenapa kau memalsukan kematianmu?" Tanya Gaara langsung.
Naruto berusaha memasang wajah polos. "Apa maksudmu?"
Gaara menghela napas. "Jangan berpura-pura tidak tahu apa maksudku, Namikaze Naruto. Atau kau lebih suka kupanggil Uzumaki Kyuuna sekarang?"
"Maaf, kau kelihatannya salah orang. Aku memang Uzumaki Kyuuna, tapi aku tidak mengenal Namikaze Naruto." Naruto tersenyum.
Gaara tidak menanggapi perkataan Naruto. Alih-alih ia malah memeriksa ponsel Naruto yang saat ini dipegangnya.
"Hei, apa yang kau lakukan? Kau tahu kalau memeriksa ponsel seseorang tanpa izin itu tidak sopan bukan?" Naruto bangkit dari duduknya dengan cepat, berusaha merebut ponselnya, tapi ia segera menyesali keputusannya.
"Awww…"
Gaara menghentikan aktifitasnya memeriksa ponsel Naruto saat mendengar erangan kesakitan Naruto. Ia memasukkan ponsel Naruto ke sakunya dan berdiri disamping Naruto. Tanpa berkata apa-apa, ia memapah Naruto.
"Kamarku nomor 28. Dan tolong hubungi Nagato-niisan." Naruto bergumam sambil menahan sakit.
Gaara tak menjawab, tapi ia mengantarkan Naruto ke kamarnya dan setelah itu mencari Nagato. Begitu Gaara menemuinya dan mengatakan tentang keadaan Naruto, Nagato terlihat cemas dan bergegas ke kamar Naruto.
"Kyuuna! Sudah kubilang kau harus berhati-hati! Kau ingin berada di rumah sakit lebih lama lagi?" Nagato mengomeli Naruto setelah ia memeriksa keadaan Naruto.
"Ma-maafkan aku, nii-san. Aku ceroboh." Naruto meringis menahan sakit.
"Sebaiknya sekarang kau istirahat. Aku akan berbicara dengan pemuda itu."
"Baiklah, nii-san."
Nagato memastikan Naruto sudah berbaring dengan nyaman sebelum ia keluar dari kamar Naruto. Begitu keluar, ia mendapati pemuda yang tadi memanggilnya berdiri disamping pintu kamar ruangan Naruto dengan wajah datar. Nagato tentu saja mengenal pemuda itu. Wajahnya paling tidak muncul di berita sekali seminggu dan langganan muncul di majalah-majalah bisnis.
"Ikut denganku. Aku akan menjelaskan semuanya padamu."
Nagato memperhatikan pemuda itu mengikutinya tanpa bertanya. Nagato membawa pemuda itu ke ruangannya. Ia mempersilakan pemuda itu duduk sebelum mulai berbicara.
"Kurasa tak ada gunanya menyembunyikan kebenarannya darimu, mengingat kau berhasil melacak Kyuuna hingga ke sampai ke tempat ini."
"Benar."
Nagato tak suka pemuda ini. Sikapnya angkuh, seakan ia selalu melakukan hal benar dan tidak pernah berbuat kesalahan.
"Kyuuna mengalami banyak masalah sehingga ia melakukan hal ini. Jadi kuharap kau melupakan pertemuan ini dan lanjutkan hidupmu. Kyuuna tak butuh tambahan masalah dan kau sepertinya akan membawa banyak masalah baginya." Nagato akhirnya memutuskan berkata langsung tanpa basa-basi. Lagipula ia bisa melihat tak ada gunanya berbicara berbelit-belit pada pemuda ini.
"Bagaimana jika aku menolak?"
Nagato menatap pemuda ini kesal. "Apa alasanmu untuk menolaknya? Kyuuna bukan siapa-siapa bagimu dan kau juga bukan siapa-siapa baginya."
"Dia sudah menyelamatkan nyawaku, dan aku tak suka berhutang budi kepada siapapun."
"Dia menyelamatkanmu hanya karena tuntutan tugasnya."
Gaara tak percaya hal itu. Namikaze Naruto menyelamatkannya bukan hanya karena tuntutan tugasnya. Dia tak pernah mengenal seseorang yang rela mengorbankan nyawanya untuk orang lain hanya karena tuntutan tugas. Mengingat ia punya banyak pengalaman dengan pengawal bayarannya, ia sangat paham mengenai hal itu.
"Aku menolak untuk memenuhi permintaanmu. Aku juga punya alasan sendiri menemuinya. Dan jika kau khawatir aku akan membocorkan rahasianya, kau bisa tenang. Aku menemukan informasi ini sendiri dan tak ada orang lain yang tahu tentang masalah ini. Lagipula, kurasa aku bisa membantunya dalam banyak hal."
Tanpa menunggu jawaban dari Nagato, pemuda itu keluar dari ruangan Nagato.
"Aah.. sudah kuduga. Aku tak bisa menghentikan orang dengan tipe seperti itu. Untuk sekarang aku hanya harus mengawasi mereka." Nagato bersandar di kursinya dan memejamkan matanya.
)()()()()()()()(
Saat Naruto membuka matanya, ia bisa melihat langit yang sudah memerah dari jendela kamarnya. Ia mengejapkan matanya dan mencoba untuk duduk.
"Yap, sudah tidak terlalu sakit." Naruto tersenyum senang saat menyadari rasa sakit yang sudah berkurang dari tadi.
Naruto menatap meja kecil disamping tempat tidurnya dan melihat makan siangnya masih disana, tertutup rapi. Saat melihat makan siangnya, barulah Naruto menyadari kalau ia merasa lapar. Ia berusaha menjangkaunya, namun lagi-lagi rasa sakit menyengatnya.
"Aww.."
"Harusnya kau memanggil seseorang untuk membantumu." Sepasang tangan mengambil bakinya dan membantunya meletakkan baki itu dihadapannya.
Naruto menatap Gaara dengan kesal. "Aku tak akan berterima kasih. Kau yang membuatku seperti ini."
"Kau benar. Aku minta maaf karena kecerobohanku kau harus melindungiku dari ledakan itu."
Naruto yang baru saja menyuap nasinya tersedak. "Bu-bukan begitu maksudku!"
Gaara menepuk-nepuk punggung Naruto dan memberikan segelas air putih. "Kau harus makan pelan-pelan."
Naruto meminum air yang diberikan Gaara dan mengatur napasnya sebelum berbicara.
"Aku sama sekali tidak menyinggung masalah ledakan itu! Yang aku maksud adalah kejadian pagi ini!"
"Tapi tetap saja kau terluka karena kesalahanku."
Naruto menepuk dahinya. "Dengar, jika kau mencariku karena kau merasa bersalah, berhutang budi, atau yang sejenisnya, sebaiknya lupakan itu. Aku sudah sering mengalami hal ini. Menginap di rumah sakit dengan beberapa luka bukan hal pertama bagiku, jadi kau bisa tenang."
Gaara terdiam sejenak.
"Kau selalu melompat dari lantai tiga untuk melindungi klienmu?"
"Tentu saja tidak!" Naruto menatap Gaara tak percaya.
"Lalu?"
Naruto memejamkan matanya sesaat sebelum menatap Gaara. "Sebaiknya kau melupakanku dan melanjutkan hidupmu. Terlibat denganku hanya akan membuat tuan muda kaya sepertimu terkena masalah."
Gaara mengeluarkan ponsel Naruto dari sakunya dan meletakkannya disamping bantal Naruto. "Kau tak usah mengkhawatirkanku. Aku akan kembali besok mengunjungimu."
"Hei! Tunggu dulu!"
Namun Gaara tidak mempedulikan panggilan Naruto dan berjalan keluar dengan santai.
"Astaga, dia benar-benar egois seperti Sasuke. Apa aku sudah dikutuk sehingga selalu ada orang-orang seperti itu di sekitarku?"
)()()()()()()()(
Gaara benar-benar menepati kata-katanya. Keesokan harinya ia kembali muncul di kamar Naruto sambil membawa sekeranjang buah-buahan.
"Kau benar-benar tak akan mendengarkan peringatanku dan Nagato-niisan ya?"
Gaara tak menjawab dan meletakkan buah-buahan yang dibawanya diatas meja.
"Kau tidak keluar?" tanyanya begitu ia duduk di salah satu sofa di kamar Naruto.
Naruto mengangkat manga yang sedang dibacanya. "Aku dihukum karena kejadian kemarin."
"Oh."
Naruto mengamati wajah Gaara. Walaupun ekspresinya terlihat datar, Naruto bisa melihat sekilas rasa bersalah di wajahnya. Naruto kemudian mengambil ponselnya dan melemparnya kea rah Gaara.
Gaara menangkap ponsel itu dan menatap Naruto tak mengerti.
"Simpan nomormu dan alamat emailmu, jadi kau bisa memberitahuku jika kau ingin mengunjungiku. Menghentikanmu kelihatannya sia-sia, jadi sebaiknya aku berdamai denganmu." Naruto tersenyum dan melanjutkan bacaannya. "Dan jika kau akan kembali besok, bisakah kau menolongku dan membawakan volume selanjutnya dari manga ini? Tempat ini terlalu terpencil dan tak memiliki toko buku yang lengkap."
Gaara lagi-lagi tak berkata apa-apa dan hanya melakukan permintaan Naruto.
)()()()()()()()(
"Woow… Kau bahkan membawakan volume tiga yang baru akan keluar bulan depan! Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" Naruto bertanya kagum saat melihat manga yang dibawakan Gaara untuknya.
"Aku bertanya langsung kepada penerbitnya." Gaara menjawab pendek.
Naruto tersenyum lebar. "Arigatou, Gaara."
)()()()()()()()(
"Ne, Gaara. Kau selalu datang mengunjungiku setiap hari. Apa kau tidak bosan atau merasa repot? Nii-san berkata kalau kau adalah orang yang sibuk. Kau tak boleh memaksakan dirimu."
Gaara tak menjawab dan melanjutkan kegiatannya, mengupas apel. Jika Kankurou atau Temari melihat hal yang dilakukan Gaara saat ini, mungkin mereka akan terkena serangan jantung. Gaara, yang seumur hidupnya sampai sekarang selalu dilayani, melakukan sesuatu untuk orang lain?
"Kau bisa datang beberapa hari sekali. Lagipula tak lama lagi aku sudah boleh keluar dari rumah sakit." Naruto melanjutkan kata-katanya. "Huuffh…. Artinya aku harus kembali sekolah."
Gaara mengangkat kepalanya. "Kau akan sekolah dimana?"
Naruto mengangkat bahunya. "Entahlah. Mungkin sekolah negeri yang ada di sekitar sini? Nii-san bekerja disini dan rumah kami tak jauh dari rumah sakit ini. Nii-san tak akan mengizinkanku jauh-jauh dari rumah."
"Kau bisa bersekolah di tempatku."
Naruto menatap Gaara tak percaya. "Kau bercanda? Itu hal terburuk yang paling mungkin kau tawarkan padaku."
"Oh."
Naruto langsung merasa bersalah saat melihat Gaara yang menunduk tanpa suara. "Aku tak bermaksud buruk saat mengatakan hal itu, tapi aku harus mengakui sesuatu padamu."
"Apa?"
"A-aku tak terlalu suka belajar." Gumam Naruto. "Dan sekolahmu adalah sekolah elit yang dipenuhi orang-orang pintar. Aku tak akan cocok disana."
"Ah, begitu." Walaupun tak memperlihatkannya, tapi sebenarnya Gaara merasa lega. Tadinya ia berpikir Naruto membencinya sehingga Naruto menganggap berada di sekolah yang sama dengannya adalah hal yang buruk.
Tunggu.
Kenapa dia harus lega saat mengetahui Naruto tidak membencinya? Ia melakukan hal ini hanya karena ingin membalas budi pada Naruto, bukan? Kenapa ia harus peduli tentang perasaan Naruto padanya?
"Ne, Gaara… Gaara…"
Gaara tersentak saat Naruto melambaikan tangannya dihadapan wajahnya.
"Jangan melamun saat memegang benda tajam seperti ini. Kau bisa terluka." Naruto mengambil pisau yang ada di tangan Gaara. "Apa kau lelah? Kau bisa berbaring di sofa sana."
Gaara bangkit dari duduknya. "Aku harus pulang sekarang. Tapi kelihatannya aku tak bisa datang besok karena ada sesuatu yang harus kuurus."
Naruto tersenyum. "Tentu. Hati-hati di jalan dan jaga dirimu."
)()()()()()()()(
Dua minggu kemudian..
"Gaara, apa kau akan ke rumah sakit lagi hari ini?" Temari bertanya saat melihat Gaara yang sudah berpakaian rapi walaupun hari ini ia tidak ke sekolah dan ia juga tidak mempunyai jadwal pertemuan apapun.
"Tidak." Gaara hanya menjawab pendek.
"Apa kau butuh Kankurou ikut bersamamu?"
Gaara terlihat berpikir sejenak. "Ya. Dan kau juga, Temari."
Temari sedikit heran. "Aku?"
"Naruto berkata ia ingin berkenalan dengan kalian, karena itu kalian harus ikut."
"Kau tidak akan ke rumah sakit tapi kau akan bertemu dengan Naruto? Memangnya dia sudah keluar dari rumah sakit?"
Gaara mengangguk dan berlalu.
)()()()()()()()()()(
Hanya dalam waktu singkat, Temari dan Kankurou sudah akrab dengan Naruto.
"Apa kau masih akan mengunjungi Kyuuna? Saat ini dia sudah sembuh dank au tak punya hutang apa-apa lagi padanya." Nagato bertanya saat ia duduk bertiga dengan Kankurou dan Gaara di teras belakang rumah kecil yang saat ini ditempati oleh Naruto dan Nagato.
"Memangnya ada aturan yang melarangku untuk mengunjunginya?" Gaara balas bertanya.
"Tidak. Tapi aku berharap kau tidak menganggu Kyuuna lebih jauh lagi. Sejujurnya Minato-san dan Kurama memintaku agar menjauhkan Kyuuna dari hal-hal berbahaya, dan kau adalah salah satu hal berbahaya menurutku."
"Bagaimana bisa aku berbahaya?" Gaara bertanya dengan kesal.
"Berada di dekatmu hanya akan mengingatkannya tentang misi, dan aku yakin kau juga sadar bahwa kau berbahaya."
Gaara tak bisa menjawab karena dia tahu Nagato mengatakan kebenaran. Dengan posisinya sekarang ini, percobaan penculikan bahkan pembunuhan sudah merupakan hal normal baginya.
"Kenapa kalian terlihat serius seperti itu?" Naruto menjengukkan kepalanya di pintu. "Kami sudah selesai menata meja makan, ayo masuk."
Mereka menghabiskan makan siang mereka dalam diam. Naruto ingin memulai pembicaraan, tapi ia bisa merasakan suasana yang tegang, entah karena apa. Begitu mereka menyelesaikan makan siang mereka dan merapikan meja makan kembali, Naruto dan Temari bergabung duduk di teras belakang bersama gaara, Kankurou, dan Nagato.
"Jadi, apa yang kalian bicarakan dengan wajah serius tadi?" Naruto berkata ringan sambil duduk disamping Nagato.
"Aku hanya memperingatkan Gaara agar tidak terlalu dekat denganmu." Nagato menjawab langsung.
"Kenapa kau berkata seperti itu, Nii-san? Gaara adalah temanku, kenapa ia tak boleh dekat denganku?" Naruto terlihat heran. "Dia adalah satu-satunya teman sebayaku yang mengetahui rahasiaku dan aku tak perlu berpura-pura dihadapannya."
"Kau tahu apa pesan Minato-san dan Kurama? Mereka tak ingin kau terlibat dengan hal-hal berbahaya lagi, dan sebagai informasi, mereka sudah melaporkan pengunduran dirimu kepada agensi."
"Terserah kalau begitu, tapi jangan coba-coba menjauhkan Gaara dariku." Naruto berdiri dan melangkah kearah kursi tempat Gaara duduk. Dia berdiri di belakang kursi Gaara, menundukkan badannya dan memeluk leher Gaara dari belakang. "Dia adalah temanku."
Nagato bisa merasakan kalau Naruto serius. "Baiklah..baiklah.. Aku menyerah. Lakukan sesukamu."
)()()()()()()()(
"Aku kaget. Terus terang aku tak akan menyangka kalau ia akan memelukmu dari belakang seperti itu." Kankurou tertawa saat mengingat kejadian siang tadi. "Kau harusnya melihat ekspresimu sendiri, Gaara."
Temari tersenyum kecil. "Daripada menyatakan kalau kau adalah temannya, dia lebih seperti mendeklarasikan kalau kau adalah miliknya."
"Kau yakin tidak menyembunyikan status hubunganmu dari kami bukan?" Kankuro bertanya dengan penasaran.
"Dia hanya temanku, Temari, Kankurou. Dan dia memang selalu seperti itu. Jadi berhentilah menggodaku."
Tapi Kankurou dan Temari tetap tersenyum. Mereka tahu Gaara tidak marah, bahkan mungkin Gaara merasa sedikit senang, karena tak ada nada tajam sama sekali terasa dari kata-kata Gaara. Yah, seseorang mengakuinya sebagai teman adalah hal yang langka bagi Gaara. Beberapa orang yang sebelumnya sempat berkata kalau mereka adalah teman Gaara hanyalah orang-orang yang ingin mencari keuntungan dari Gaara.
"Well, kami ikut senang untukmu, Gaara."
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, Kankurou dan Temari melihat Gaara tersenyum tulus.
"Terima kasih, Temari, Kankurou."
Gomene, lagi-lagi LittleChomper kesulitan membuka .. T.T
Hontouni arigatou buat semua review, follow, dan favorite nya minna!
Ini adalah flashback dari sudut pandang Naruto dan Gaara. Chapter berikutnya adalah flashback dari sudut pandang Kurama!
