Disclaimer: Rasengan milik Minato, Oiroke no Jutsu milik Naruto, dan Naruto milik Masashi Kishimoto.


The Other Self

Chapter 12

Naruto dengan kesal berusaha menggerakkan kakinya. Ia tersenyum saat ia mulai bisa menggerakkan jari kakinya. Hari ini Gaara kembali sibuk dan hanya bisa menemaninya untuk sarapan. Jika perkiraan Gaara tepat, Kurama akan sampai siang ini dan Naruto saat ini sedang berusaha bergerak. Naruto bisa membayangkan, jika Kurama melihat keadaannya seperti ini, Kurama akan memaksa untuk kembali ke London.

"Oke, jika aku bisa menggerakkan jari kakiku, berarti aku mulai bisa mencoba menggerakkan kakiku." Naruto menyingkirkan selimutnya dan berusaha menurunkan kakinya perlahan ke lantai. Ia tersenyum saat ia bisa berdiri, walaupun belum terlalu kuat.

Naruto mulai melangkah pelan-pelan ke arah jendela.

Satu langkah….

Dua langkah….

Tiga langkah…..

Tapi keberuntungan Naruto habis di langkah ke empat. Kakinya gemetaran dan tak bisa lagi menyangga tubuhnya. Naruto bersiap untuk kemungkinan jatuh, tapi seseorang menangkapnya lebih dahulu.

"Na-chan, kau harusnya masih di tempat tidur, bukan?"

Aura gelap dari belakangnya membuat Naruto tahu tangan siapa yang saat ini menahan jatuhnya.

"Ahahaha.. Ku-chan… Aku hanya sedikit berlatih.."

OoO

Kurama menghabiskan beberapa jam kedepan untuk menceramahi Naruto. Ia baru berhenti saat Gaara masuk ke dalam kamar.

"Mattaku Kyuuna, kau selalu saja ceroboh." Kurama menggeleng-geleng.

Gaara tersenyum. "Kurasa kau sebaiknya segera berhenti, Kurama. Roh Kyuuna hampir meninggalkan tubuhnya akibat ceramahmu."

Naruto segera menganggukkan kepalanya. "Terima kasih Gaara. Kupikir aku sudah melihat cahaya terang di langit-langit kamar tadi, memanggilku untuk segera pergi ke atas."

"Ini semua salahmu, jadi jangan berharap Gaara bisa menyelamatkanmu." Kurama berkata dengan tajam.

"Mou…" Naruto berkata dengan air mata yang berlinang. "Maafkan aku, Ku-chan. Aku sudah mendapat pelajaran dari hal ini dan aku tidak akan mengulanginya lagi di masa depan."

"Kau benar-benar tahu cara menggunakan air mata." Gerutu Kurama. "Dan berhenti menyilangkan jarimu dibelakang punggungmu! Aku bisa melihat itu."

Naruto mengangkat kedua tangannya sambil bersungut-sungut. "Aku berjanji akan salalu mematuhi aturan keselamatan yang sudah ditetapkan oleh yang terhormat Namikaze Kurama,-"

Kurama memutar bola matanya saat mendengar ini.

"-dan mendengar serta mematuhi Gaara yang sudah didaulat sebagai seseorang yang bisa dipercaya dan bertanggung jawab oleh Namikaze Kurama." Naruto menurunkan tangannya. "Kau puas sekarang, Ku-chan?"

Kurama tersenyum penuh kemenangan dan mengangkat ponselnya. "Puas sekali."

"Kau merekamnya?" Teriak Naruto.

OoO

"Bagaimana keadaan Kyuuna?"

Kurama dan Gaara saat ini sedang duduk bersama sambil minum teh. Mereka berhasil memaksa Naruto untuk kembali beristirahat (ya, benar sekali. Memaksa Naruto untuk tidur. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi) setelah ia meminum obatnya.

"Sudah membaik. Melihat dia bisa berjalan beberapa langkah tadi, mungkin dia bisa kembali bersekolah dalam dua hari."

Kurama meletakkan cangkir tehnya. "Terima kasih banyak, Gaara. Kau sudah menjaganya."

"Tidak masalah Kurama-kun. Lagipula, aku bisa dibilang gagal. Jika saja aku lebih cepat, hal ini tidak akan terjadi."

Kurama merogoh tas punggungnya. "Jangan menyalahkan dirimu. Kyuuna juga ceroboh." Kurama memberikan sebuah file pada Gaara. "Itu adalah file tentang Kabuto yang berhasil aku kumpulkan. Kau bisa membacanya nanti dengan Kyuuna."

"kenapa kau memberikannya padaku?" Gaara menatap kurama tak paham.

"Karena kau bisa memberikannya pada Kyuuna dengan berangsur-angsur tanpa membuatnya lepas kendali. Jika ia membaca semua file ini sekaligus, maka aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Kyuuna. Ia mempercayaimu, jadi aku yakin ia akan mendengarkan kata-katamu."

Gaara mengangguk. Ia membalik-balik file itu sekilas saat ia melihat sesuatu yang benar-benar menarik perhatiannya.

"Oh tidak. Mereka terlibat dalam penculikan anak-anak itu?"

OoO

Kurama hanya berada di Jepang selama sehari. Begitu ia memastikan Naruto baik-baik saja dan menyerahkan file itu pada Gaara, ia segera kembali ke London.

"Aku ingin tinggal lebih lama dan memastikan kau sembuh sepenuhnya, tapi mereka sudah menghubungiku dan memerintahkanku agar cepat kembali." Kurama mengacak rambut Naruto. "Tou-san awalnya ingin ikut, tapi ada persidangan yang harus ia hadiri, jadi ia mempercayakan semuanya padaku. Jangan membuat kami cemas seperti ini lagi, paham?"

"Hai . . ." Naruto menunduk. Ia benar-benar menyesal sudah sampai membuat tou-san nya juga cemas. Kurama memang selalu khawatir, tapi tou-san biasanya selalu percaya padanya, jadi jika tou-san sampai khawatir, ia pastilah sudah keterlaluan. "Aku akan lebih berhati-hati lagi."

"Baiklah kalau begitu. Aku berangkat sekarang." Kurama menyandang tas punggungnya dan melambaikan tangannya sebelum masuk ke mobil yang akan membawanya ke bandara.

Begitu mobil itu keluar dari pekarangan mansion keluarga Sabaku, Gaara mendorong kembali kursi roda Naruto masuk ke dalam rumah. Awalnya Naruto berkeras ia sudah bisa berjalan, namun saat ia hampir terjatuh lagi (pada langkah kelima), Gaara dan Kurama sepakat ia belum boleh berjalan.

"Maaf Kyuuna, aku masih ada pekerjaan sedikit lagi. Kau tak apa-apa sendirian bukan?" Gaara berkata dengan menyesal.

"Tentu." Naruto mengangkat bahunya.

"Kuharap aku sudah bisa menyelesaikan semuanya sebelum makan malam, jadi kita bisa makan malam bersama."

Naruto menyentuh tangan Gaara dengan lembut. "Tak masalah, Gaara. Jangan memaksakan dirimu."

OoO

Tiga hari kemudian, Naruto sudah bisa dikatakan pulih dan normal kembali. Menurut dokter yang memeriksanya, Naruto memiliki kemampuan penyembuhan yang lebih cepat dari manusia normal. Naruto hanya tersenyum dan mengatakan kalau itu adalah warisan keluarganya.

"Aku tahu kau sudah ingin langsung kembali ke sekolah, tapi kurasa ada baiknya kita menunggu beberapa hari lagi untuk memastikannya." Gaara berkata dengan tegas. "kau akan masuk sekolah kembali pada hari Senin, bersama denganku."

"Haruskah?" Naruto berkata dengan ekspresi memohonnya.

"Aku tak ingin ambil resiko."

"Tapi disini membosankan . . . . . ." Keluh Naruto.

Temari yang sedang duduk disamping Naruto tersenyum saat mendengar keluhan Naruto. Hanya orang seperti Naruto lah yang akan menganggap mansion ini membosankan. Dengan bioskop pribadi, ruangan yang dipenuhi game-game terbaru, dan TV yang bisa menangkap siaran dari Negara manapun (Naruto pernah berkata ia menangkap siaran TV alien), belum lagi koleksi perpustakaannya yang luar biasa, mansion ini jauh dari kata membosankan.

Namun, bagi orang seperti Naruto yang (terlalu) aktif, tentu saja terkurung di dalam mansion adalah sesuatu yang membosankan, tak peduli seberapa banyak hiburan yang ada disini.

Gaara akhirnya menghela napas. "Bagaimana kalau kita bermain?"

"Bermain?"

Gaara mengangguk. "Aku akan menyembunyikan beberapa lembar kertas dan kau akan mencari kertas-kertas tersebut."

"Haah? Kertas? Bukan benda? Atau mungkin ramen?"

"Jangan khawatir. Kau akan menyukai kertas-kertas ini."

Naruto melipat tangannya di depan dadanya. "Hmph! Kau tahu aku tak suka membaca!"

"Meskipun ini adalah file tentang Kabuto?"

Naruto membeku. "Ka-kau serius?"

Gaara tersenyum dan melambaikan beberapa helai kertas di tangannya. "Kau menerima tantanganku?"

OoO

"Harusnya aku tahu, Gaara akan memanfaatkan momen ini untuk membuatku belajar." Naruto menggerutu sambil membalik-balik halaman buku dihadapannya. Gaara menyembunyikan kertas-kertas itu diantara halaman buku-buku di perpustakaan, jadi Naruto tidak punya pilihan lain selain menghabiskan harinya di perpustakaan memeriksa satu-persatu buku yang mungkin menyembunyikan kertas-kertas itu.

Setelah beberapa jam dan menemukan dua lembar kertas, Naruto akhirnya menemukan pola tempat Gaara menyembunyikan kertas-kertas itu. Dia hanya akan menyembunyikannya di buku-buku pelajaran. Naruto menemukan kertas pertama di buku sejarah, dan kertas kedua di buku matematika.

"Aku tak percaya Gaara punya buku ini." Naruto memegang buku matematika itu dengan ujung-ujung jarinya, seakan buku itu memiliki penyakit menular. Ia meletakkannya kembali di rak-rak buku dengan hati-hati. "Yosh! Dua lembar ditemukan, tinggal delapan lembar lagi!"

Sementara itu, Gaara sedang duduk di ruang kerjanya sambil tersenyum. Kamera pengawas yang dipasangnya di perpustakaan memperlihatkan apa saja yang dilakukan Naruto disana. Sebut saja ia paranoid, tapi ia masih khawatir Naruto tiba-tiba tak bisa bergerak lagi, dan mengawasinya lewat kamera pengawas adalah pilihan yang aman.

Kankurou yang sedang meletakkan beberapa dokumen diatas meja Gaara melirik layar pengawas dan tertawa. "Lihat caranya memegang buku matematika itu."

"Kau seharusnya tidak menertawakannya, Kankurou. Toh kau juga bersikap seperti itu saat melihat buku sejarah." Temari menegur Kankurou dengan senyum.

"Hei, aku tidak suka pelajaran sejarah karena itu membosankan!" Protes Kankurou. "Dan aku suka matematika karena…."

Temari memotong kata-kata Kankurou. "Itu membantumu dalam membuat mainan-mainanmu. Aku paham."

"Itu bukan mainan!"

"Apapun katamu, Kankurou."

OoO

Hari ini hari Minggu. Naruto akhirnya berhasil menemukan seluruh kertas-kertas itu. Gaara mengawasi ekspresi Naruto saat Naruto membaca file itu. Diluar dugaan Gaara, Naruto terlihat tenang.

"Kau ingin minum, Kyuuna?" Gaara akhirnya bertanya saat ia melihat ekspresi datar Naruto.

Naruto meletakkan file itu dan memejamkan matanya. "Aku tak percaya ini. Mereka yang sudah menculik anak-anak itu?"

Gaara tak tahu apa yang harus dilakukannya. Jika Naruto mengamuk seperti reaksi biasanya saat marah, Gaara tinggal menenangkannya, tapi jika Naruto terlihat tenang seperti ini, apa yang harus dilakukannya?

"Kurama berpesan agar jangan gegabah, Kyuuna. Kita tak tahu dimana Kabuto atau apa rencananya saat ini bersama dengan Orochimaru, tapi kau tidak bisa berindak ceroboh dan membongkar penyamaranmu."

"Aku tahu Gaara. Aku harus bisa menahan diriku agar bisa menemukan dan menghentikan apapun rencana mereka saat ini. Saat ini aku hanya berharap agar mereka masih hidup Gaara." Akhirnya pertahanan Naruto hancur dan air matanya mulai menetes. "Mereka sudah dibuang dan tak ada yang menginginkan mereka, dan sekarang mereka juga dijadikan objek percobaan."

Sejujurnya, Gaara berpikir kalau anak-anak itu sudah tewas, ataupun jika mereka masih hidup, mereka tak akan lagi sama dengan mereka yang dulu. Tapi bagaimana mungkin ia tega mengatakannya langsung pada Naruto yang sedang menangis seperti ini?

"Tenanglah Kyuuna. Kita akan berusaha menemukan mereka. Bahkan Kurama ikut mencari mereka." Gaara memeluk Naruto dan mengusap punggung Naruto, berusaha menenangkannya.

OoO

Naruto kembali ke sekolah pada hari Senin. Begitu ia masuk kelas, ia dihujani dengan pertanyaan bertubi-tubi dari teman sekelasnya.

"Bagaimana keadaanmu, Uzumaki-san?"

"Apakah lukamu sudah sembuh, Kyuuna-san?"

"Bagaimana kamu bisa mengenal Sabaku-san?"

"Apa kamu dilayani maid selama tinggal di rumahnya?"

"Status hubunganmu dengan Sabaku-san sebenarnya apa?"

Begitu pertanyaan terakhir diucapkan, suasana kelas langsung hening. Yang laki-laki terlihat tidak peduli, tapi siswa yang perempuan terlihat penasaran.

"Gaara dan aku hanya berteman." Naruto menjawab sambil tertawa. "Dan aku tidak dilayani maid selama disana."

"Lalu bagaimana kamu bisa mengenal Sabaku-san? Kamu belum menjawab pertanyaan yang itu, Kyuuna-san." Salah seorang siswi dari kelas khusus bisnis, Ariko mengulangi pertanyaannya.

"A-aku tidak ingin membahas itu." Naruto berusaha tersenyum, tapi jelas terlihat di wajahnya kalau ia tidak nyaman dengan pertanyaan itu.

"Kenapa? Apa karena itu melibatkan sesuatu yang memalukan?"

Ekspresi Naruto menggelap. "Tidak. Karena awal pertemuanku dengannya melibatkan kematian."

Kelas kembali hening begitu mendengar jawaban Naruto. Keheningan itu dipecahkan oleh suara pintu dibuka dan sapaan ceria Iruka.

"Selamat pagi! Hari ini kalian akan mendapat teman baru lagi. Dia baru pulang ke Jepang, karena itu bersikap baiklah padanya, oke?"

OoO

Diluar dugaan Naruto, tak ada yang berani mendekati Gaara. Awalnya Naruto mengira begitu istirahat, meja Gaara akan dikerubungi gadis-gadis, seperti halnya Sasuke. Tapi tampaknya hawa dingin Gaara lebih ampuh dari Sasuke sehingga tak ada yang berani mendekatinya.

"Kyuuna, mau ikut makan siang bersama kami?" Temari dan Kankurou sudah berdiri di depan pintu kelas Naruto sambil memperlihatkan kotak bekal mereka.

Tadinya Naruto berencana akan makan siang dengan Hinata, Shion, dan Sara seperti biasanya, tapi saat melihat tak ada yang menemani Gaara selain Kankurou dan Temari, Naruto membatalkan niatnya. Naruto memberi isyarat dengan tangannya agar Hinata dan yang lain pergi lebih dahulu sebelum ia menjawab, "Tentu!"

Mereka makan di salah satu kelas kosong. Naruto makan dengan lahap seperti biasanya, sementara Gaara mengamatinya sambil tersenyum.

"Apa?" Naruto bertanya begitu ia menelan makanan di mulutnya (Konan-nee sudah memaksanya belajar tentang tata karma saat makan).

"Tidak ada." Gaara mengambil potongan omeletnya dengan sumpit. "Aku hanya merasa terhibur saat melihatmu makan."

Naruto hanya mengangkat bahunya. "Senang bisa membuatmu terhibur." Dan kembali melanjutkannya makannya.

Temari dan Kankurou hanya menggeleng-geleng saat melihat interaksi mereka.

Seperti biasanya, Naruto selalu yang pertama menghabiskan makanannya. Mungkin itu adalah bakat Naruto, walaupun ia makan dengan (agak) anggun dan (lumayan) mengikuti tatakrama, ia selalu bisa makan dengan cepat.

"Ah, aku harus segera mengganti bajuku dengan seragam olahraga!" Naruto bangkit dan mengemasi kotak bekalnya. "Kau juga harus bergegas, Kankurou. Guy-sensei akan memberikanmu hukuman yang penuh semangat masa muda jika kau terlambat!"

"Apa?" Kankurou hanya menatap tak paham, tapi ia melanjutkan makannya dengan santai.

OoO

"Hosh..hosh.." Kankurou mengakhiri hukumannya yang penuh semangat muda. Ia berjalan menghampiri Naruto yang sedang duduk memperhatikan teman-temannya saling bertarung. "Seharusnya kau bilang hukuman karena terlambat kelas ini lumayang berat." Ucapnya sambil duduk di samping Naruto.

"Aku sudah memperingatkanmu." Jawab Naruto dengan ekspresi polosnya.

"Cih. Memperingatkan apanya." Gerutu Kankurou.

Mereka kemudian sama-sama memperhatikan pertarungan antara Kiba (bersama Akamaru) melawan Itachi. Pertarungan itu berakhir beberapa menit kemudian dengan kemenangan Itachi.

"Kalian berdua dan kalian masih bisa dikalahkan oleh Itachi-senpai yang hanya sendirian?" komentar Naruto saat Kiba lewat di dekatnya.

"Urusai na." Kiba mengelap peluhnya.

"Baiklah, siapa berikutnya?" Guy berkeliling mencari korba- maksudnya pasangan bertarung berikutnya. "Bagaimana dengan Sasuke-kun melawan . . . . . . . . . . ."

"Kyaaa! Sensei! Pilih aku!" terdengar tiga suara teriakan serentak dari Sakura, Karin, dan Ino.

"Kyuuna-san! Tunjukkan semangat masa mudamu!" sambung Guy dengan senyum berkilaunya.

Naruto berdiri dan menepukkan debu di celananya. "Bersiaplah untuk kalah, Uchiha-san."

"Hn."

OoO

Pertarungan berakhir dengan seri. Naruto dan Sasuke bertarung dengan imbang selama hampir satu jam sebelum akhirnya Guy menghentikan pertarungan mereka.

"Cukup!" Guy mengangkat tangannya.

Naruto dan Sasuke mundur sambil mengatur napas mereka yang tersengal-sengal.

"Berikutnya Lee melawan Tenten-san!" Guy mengumumkan pertarungan berikutnya.

Naruto kemudian duduk disamping Kankurou kembali. Hinata yang dari tadi juga duduk di dekatnya memberikan sebotol air mineral pada Naruto yang segera meneguknya dengan cepat.

"Kamu bisa mengimbangi Sasuke-kun, Kyuuna-san. Itu hebat sekali." Puji Hinata.

"Memangnya yang lain tidak bisa?"

"Yah, Sasuke-kun memang agak sedikit lebih dari kami. Dia sebelumnya pernah menjadi agen, tapi karena kejadian dengan Naruto-kun, dia mundur dan kembali ke kelas di akademi."

"Hoo.." Naruto hanya mengangguk-angguk.

"Lihat memar-memar itu. Mereka akan kesal." Kankurou tiba-tiba bergabung dalam pembicaraan sambil menunjuk beberapa bekas-bekas pukulan Sasuke yang tidak sempat Naruto tangkis sebelumnya.

"Jika kau tidak mengadu kepada mereka, tidak ada yang akan tahu, Kankurou."

"Aku bukan pengadu!"

"Aku tidak pernah bilang kau pengadu."

OoO

Hari-hari berlalu dengan relative damai, mengingat tidak ada terjadi tragedi yang berarti. Hinata, Shion, dan Sara sekarang bergabung saat makan siang bersama dengan Naruto, Gaara, Temari, dan Kankurou. Awalnya memang sedikit canggung, tapi Naruto berhasil mencairkan suasana dengan cerita-ceritanya.

"Kira-kira, tahun ini kita akan mengunjungi tempat apa ya?" Shion membuka percakapan siang itu saat mereka makan siang bersama.

"Berkunjung?" Naruto bertanya.

"Ah, setiap tahun, Akademi Konoha akan mengadakan kunjungan lapangan, Kyuuna-san." Jelas Sara.

"Ta-tahun lalu kami mengunjungi markas pertahanan tentara Jepang." Tambah Hinata.

"Yah, bagiku selama kita tidak mengunjungi rumah sakit, tidak masalah." Naruto berkata sambil lalu.

"Memangnya kenapa, Kyuuna-san?"

"Aku sudah bosan dengan rumah sakit." Jawab Naruto pendek.

Hinata, Shion, dan Sara tidak bertanya lebih jauh. Mereka mengira Naruto bosan karena ia baru saja dirawat di rumah sakit beberapa minggu yang lalu.

Tapi Gaara, Temari, dan Kankurou lebih tahu. Naruto bosan dengan rumah sakit karena ia terlalu sering mengunjungi tempat itu.


Hahahaha... *ketawa penuh rasa bersalah*

Gomenasai telat update minna. Terlalu banyak tugas dan ujian bikin ga sempat nulis..

Sekali lagi hontouni gomenasai...