Disclaimer: Rasengan milik Minato, Oiroke no Jutsu milik Naruto, dan Naruto milik Masashi Kishimoto.
The Other Self
Chapter 13
Naruto menggigil dan merapatkan jaketnya. Gaara yang duduk disampingnya menatapnya dengan khawatir.
"Kau tak apa-apa?"
Naruto tersenyum. "Aku baik-baik saja, hanya merasa sedikit kedinginan." Naruto segera menghentikan gerakan Gaara yang akan memberikan jaketnya sendiri pada Naruto. "Pakai jaketmu, Gaara. Kau juga akan kedinginan jika kau memberikan jaketmu padaku."
Gaara mengangguk. "Jika menurutmu begitu, tapi paling tidak kau bisa memakai syalku."
Naruto menggeleng. "Kurasa aku akan berjalan-jalan sedikit untuk menghangatkan tubuhku."
Gaara tampak sedikit terkejut. "Kau akan berjalan-jalan kemana?"
"Kesana?" Naruto menunjuk ke arah dalam gua.
"Tidak." Gaara menjawab segera.
"Kenapa?"
"Bahaya."
Naruto kali ini tertawa. "Bahaya apa yang mungkin ada di dalam gua dangkal seperti ini, Gaara? Hal yang paling buruk yang mungkin kutemukan adalah beruang tidur atau beberapa ekor ular."
"Itu juga buruk."
"Oh ayolah, kita sudah pernah mengalami yang lebih buruk dari ini."
"Maksudmu kau yang sudah pernah mengalami yang lebih buruk ini?" suara Gaara mengeras.
"Kita berdua maksudku." Naruto juga menjawab dengan keras kepala. "Aku akan baik-baik saja, Gaara. Aku akan berjalan-jalan selama lima belas menit dan kembali duduk disampingmu setelah ini. Apa yang kau takutkan?"
"Aku tak ingin mengunjungi pemakaman sekali lagi!" Gaara berteriak frustasi. "Kali terakhir masih ada harapan, tapi jika terjadi lagi maka tak ada harapan. Kau harusnya tahu itu!"
"Tak akan ada yang terjadi kali ini!" Naruto juga balas berteriak.
"Oh lucu kau bilang begitu! Kau lihat sekarang kita dimana? Kita dikurung di dalam gua yang pintunya bisa ditutup dan entah kapan kita bisa keluar dari tempat ini!"
"Paling tidak kita aman di dalam sini daripada diluar sana!"
Gaara dan Naruto terlalu sibuk berteriak sampai mereka tidak sadar kalau mereka tidak hanya berdua di tempat itu.
"Ahem." Sara berdehem. "Kupikir Kyuuna-san akan baik-baik saja berjalan-jalan selama beberapa saat, Sabaku-san. Dan jika kau khawatir, kau bisa ikut dengannya."
"Tidak!" Naruto menjawab terlalu cepat.
Gaara menatap tajam. "Jadi kau memang akan melakukan sesuatu."
"A-aku hanya akan berjalan-jalan, Gaara." Naruto memohon sambil menangkupkan kedua tangannya. "Aku bersumpah, aku akan kembali dalam lima belas menit."
Gaara terdiam sesaat. Jika Naruto sudah bersumpah, maka berarti dia serius. Gaara menghela napas. "Baiklah. Lima belas menit."
Begitu Naruto berlari ke arah dalam gua, Gaara berbalik dan mendapati teman-teman sekelasnya menatapnya dengan campuran ekspresi geli dan khawatir. Gaara tak menyalahkan mereka. Selama beberapa minggu ini, ia bersikap seperti sepantasnya, dengan kata lain berteriak bukanlah bagian dari karakternya.
"A-ano, Sabaku-san, apa kami boleh tahu apa yang terjadi pada Kyuuna-san sebelumnya?" Shion bertanya hati-hati.
"Tidak." Jawab Gaara. Ia kembali duduk dan bersandar di dinding sambil memejamkan matanya. 'Bagaimana bisa kami terlibat dengan masalah seperti ini?' batin Gaara.
Mari kembali ke beberapa hari sebelumnya.
##
Seminggu sebelumnya..
"Oke, semester ini kita akan mengadakan kunjungan lapangan ke Pusat Penelitian Konoha." Anko-sensei mengumumkan di depan kelas. Segera saja terdengar gumaman-gumaman tertarik.
Pusat Penelitian Konoha adalah tempat yang sangat rahasia dan hanya boleh diketahui oleh beberapa orang tertentu saja. Fakta bahwa mereka akan mengunjungi salah satu tempat paling rahasia di seluruh Jepang tentu saja membuat siswa-siswa tertarik.
"Akan tetapi, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi jika kalian ingin mengikuti kegiatan lapangan ini. Pertama kalian akan menandatangani surat yang menyatakan kalau kalian akan menjaga kerahasiaan apapun yang akan kalian lihat disana, dan kedua kalian juga tidak boleh memberi tahu siapapun tentang kunjungan ini, bahkan keluarga kalian. Jika kalian tak bisa memenuhi persyaratan ini, maka kalian tak bisa ikut."
Seluruh siswa setuju dengan persyaratan itu. Dan Anko-sensei tidak main-main dengan hal 'menjaga kerahasiaan' yang dikatakannya. Tidak hanya harus menandatangani surat perjanjian, mereka juga harus merekam perjanjian itu dengan suara mereka.
Tak ada masalah yang terjadi, sampai beberapa hari sebelum keberangkatan mereka.
"Hmph!" Naruto duduk disampingnya dengan kesal.
"Ada apa?" Ia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya.
"Oh, bukan apa-apa. Hanya seorang moronic idiot yang berpikir dia bisa lolos dari peraturan yang dibuat Anko-sensei dan membuat tweet tentang rencana kunjungan kita."
"Hmm.."
"Kau tidak khawatir, Gaara?" Naruto merebut buku yang sedang dibacanya, memaksanya untuk memperhatikannya.
"Tidak. Kau sudah mengurus semuanya, bukan?" Ia mengambil kembali bukunya dari tangan Naruto.
"Kau terlalu percaya diri." Naruto merengut. Ia tersenyum dalam hati saat mendengarnya.
"Tapi aku yakin kalau aku benar." Ia menatap lurus kearah Naruto. Ia kembali tersenyum saat melihat sedikit rona pink di pipi Naruto yang segera mengalihkan wajahnya dari tatapannya.
"Kau menang. Aku memang sudah menemukannya dan meminta bantuan Shino untuk menghapusnya. Tapi tetap saja tweet itu sempat muncul selama dua menit dan hanya Kami-sama yang tahu siapa saja yang sempat membaca tweet itu."
Ia kembali ke bukunya. "Kau tahu, kenapa kau begitu khawatir tentang hal ini? Biasanya kau tidak peduli dengan hal-hal seperti ini." Ia sedikit heran, Naruto tak pernah ribut tentang peraturan sebelumnya, karena biasanya ialah yang suka melanggar peraturan.
"Yah, aku punya firasat buruk tentang hal ini dan aku juga tak punya kenangan bagus tentang tempat itu." Naruto berkata dengan pelan, tapi tetap saja ia bisa mendengarnya.
"Karena Orochimaru?" Ia bertanya pelan.
Naruto hanya mengangguk. Ia ingat Naruto pernah bercerita kalau Orochimaru sempat bekerja di Pusat Penelitian Konoha dan Naruto sempat beberapa kali mengunjungi tempat itu untuk memeriksa kesehatannya.
"Jangan khawatir." Ia kemudian mengacak rambut Naruto.
Tapi kekhawatiran Naruto ternyata benar-benar terjadi. Betapa Gaara ingin mengutuk sesuatu yang disebut dengan 'insting wanita'. Dalam perjalanan pulang, bus yang mereka tumpangi dihadang oleh beberapa orang bertopeng. Sopir bus yang malang berusaha melawan saat orang-orang itu ingin mengambil alih kemudi, tapi ia malah ditembak dan dilempar keluar dari bus. Orang-orang itu kemudian membawa mereka kedalam hutan dengan tangan terikat dan mengurung mereka dalam sebuah gua.
"Jika kalian berencana untuk kabur, lupakan saja." Salah satu penculik mereka berkata dengan nada puas. "Gua ini bisa ditutup, kalian tahu? Kami menemukannya beberapa bulan yang lalu. Benar-benar gua yang praktis."
"Lepaskan kami! Apa kalian tidak tahu siapa kami?" Salah satu teman sekelasnya berteriak dengan marah.
"Ya..ya.. Tentu saja kami tahu, Akira-chan. Soalnya, kami merencanakan hal ini setelah melihat tweetmu." Penculik lainnya berkata dengan nada mengejek. "Kurasa kami harus berterima kasih padamu. Kapan lagi kami bisa menculik segerombolan anak-anak kaya yang cengeng seperti kalian dengan mudah kalau bukan karena petunjukmu?" tambahnya saat melihat beberapa gadis mulai menangis.
"Aku sudah bilang kan, hanya Kami-sama yang tahu siapa yang sudah melihat tweet itu." Naruto yang berdiri disampingnya berbisik pelan.
"Kami akan mengurung kalian malam ini disini sementara kami akan menghubungi orang tua kalian dan…ah, berdiskusi tentang bagaimana caranya mengantarkan kalian pulang dengan selamat." Penculik yang pertama tadi berbicara lagi. "Jangan khawatir, ada sungai di dalam sana, jadi kalian tidak akan kehausan. Yah, itu jika kalian berhasil melepaskan ikatan kalian." Ucapnya dengan tawa.
Penculik-penculik itu tidak bercanda. Mereka memang menutup pintu gua dan meninggalkan mereka dalam kegelapan sesudah itu. Gaara mendengus kesal saat mendengar beberapa suara isakan, tapi ia tak mengatakan apa-apa. Namun hal yang membuatnya kaget terdengar dari sampingnya.
"Ini klasik sekali." Naruto tertawa kecil. "Aku belum pernah diculik dan diikat seperti ini."
Suara isakan terhenti.
"Bagaimana kau bisa tertawa dalam keadaan seperti ini?" ada yang bertanya dengan nada marah.
"Karena aku sudah melepaskan ikatanku." Naruto menjawab ringan.
Gaara merasakan tali yang mengikat tangannya juga sudah dilepaskan. Ia menggerakkan tangannya yang kebas dan merogoh saku untuk mengambil ponselnya.
"Tidak ada sinyal." Gumamnya. Tentu saja, jika disini ada sinyal, penculik-penculik itu tak akan membiarkan mereka memiliki ponsel mereka. Gaara memandang sekelilingnya saat siswa-siswa kelas pertahanan yang lain juga sudah melepaskan ikatan mereka dan menyalakan senter pada ponsel mereka.
"Kurasa sebaiknya kita sekarang duduk dulu." Naruto mengarahkan senternya ke dinding gua. "Kita semua sudah lelah berjalan lebih dari setengah jam masuk hutan ini."
"Iih.. maksudmu, di dinding gua itu?" siswa kelas khusus lainnya yang sudah dilepaskan dari ikatannya berkata dengan jijik. "Siapa yang tahu apa saja yang sudah menempel disana sebelumnya?"
Naruto mengangkat bahunya. "Terserah kalian. Aku tak memaksa."
Gaara mengikuti Naruto dan duduk disampingnya. Naruto menatapnya dengan ekspresi menang sambil berkata, "Firasatku benar, bukan?"
Cuma satu kata yang bisa digunakan Gaara untuk menggambarkan perasaannya dan situasi mereka.
Sial.
##
Naruto berjalan dengan hati-hati. Ia tak ingin jatuh dan cedera, yang akan memberikan Gaara beribu alasan untuk menceramahinya.
"Sudah kuduga. Gua ini memang tempat itu." Naruto bergumam. Sedikit rasa takut mulai menyusup dihatinya. Bagaimana jika orang-orang itu ada disini? Tapi kata-kata para penculik itu membuatnya sedikit tenang. Penculik itu berkata mereka menemukan tempat ini beberapa bulan yang lalu. Orang-orang itu tak akan membiarkan beberapa penjahat rendahan mengotori tempat mereka bukan?
Sejak awal Naruto tahu, gua yang bisa ditutup pintunya tak mungkin ada secara alami. Ia mengenal tempat ini. Ia pernah beberapa kali kesini bersama orangtuanya, meskipun ini tidak terlalu ingat apa yang mereka lakukan di tempat ini. Satu-satunya hal yang diingatnya adalah tabung-tabung besar yang di dalamnya ada orang-orang yang kelihatannya sedang tertidur. Dan seorang oji-san berkata padanya kalau orang-orang itu sedang tertidur agar mereka cepat sembuh dari penyakitnya.
"Apa aku juga sakit? Kaa-san berkata aku hanya demam biasa, tapi tou-san berkata aku harus berobat."
"Hmm... Mungkin sedikit." Oji-san itu menjawab dengan senyum.
"Apa aku juga akan tertidur di dalam tabung kaca?"
"Tidak." Oji-san itu mengacak rambutnya. "Kau terlalu berharga untuk itu."
Naruto mengejapkan matanya. 'Siapa oji-san itu ya?'
##
Sementara itu, Shikamaru sedang memikirkan banyak hal. Pertama, mereka semua tertangkap terlalu mudah. Tentu saja ia harus berterima kasih kepada Suzuki Akira yang sudah memberi tahu rencana kelas mereka, tapi tetap saja orang-orang itu tidak seharusnya mengetahui rute perjalanan mereka dengan mudah mengingat tempat yang mereka kunjungi adalah salah satu fasilitas rahasia milik Negara.
'Berarti ada pihak dalam yang terlibat.' Batin Shikamaru. Sekarang ia juga harus memikirkan bagaimana cara mereka meloloskan diri dari tempat ini. Sebagai seorang calon agen terlatih, ia sudah diajari banyak hal. Jangan percaya pada penjahat adalah salah satunya. Shikamaru tidak yakin para penculik itu akan membiarkan mereka pergi tanpa tergores sedikitpun, bahkan jika negosiasi mereka dengan para orang tua berjalan lancar.
Sisi baiknya, orang-orang tersebut tidak tahu dengan keberadaan kelas khusus pertahanan. Memang, untuk menjaga kerahasiaan para calon agen (walaupun tidak semua siswa kelas pertahanan memilih untuk menjadi agen rahasia), keberadaan kelas khusus pertahanan dirahasiakan.
"Shino." Shikamaru berkata pelan. "Apa kau membawa robot kumbangmu?"
Shino mengangguk. "Tentu. Tapi jika kau berpikir untuk menggunakannya sebagai sarana meminta bantuan kepada seseorang yang mungkin bisa membantu kita, itu mustahil, karena . . . "
"Ya, kau sudah mengatakannya sebelumnya. Jangkauan robot kumbangmu masih belum terlalu jauh." Shikamaru menyelesaikan kata-kata Shino. "Tapi bisakah kau mengirim robot kumbangmu melalui celah kecil di dinding gua dan menemukan dimana lokasi kita sekarang berada?"
Shino lagi-lagi hanya mengangguk dan mengeluarkan beberapa robot kumbang kecil dari sakunya dan menyalakan ponselnya.
Shikamaru berdiri.
"Kau mau kemana, Shikamaru?" Ino segera bertanya.
"Memeriksa pintu gua. Jika pintu itu bisa menutup sendiri, berarti ada mekanisme tertentu yang mengendalikannya. Siapa tahu kita bisa merusaknya dari dalam."
"Bagaimana jika orang-orang itu mendengarnya?"
"Mereka tidak akan mendengarnya." Jawab Sasuke. Ia juga ikut berdiri. "Disini tidak ada sinyal dan mereka harus menghubungi orang tua kita, jadi pastilah mereka pergi ke tempat yang ada sinyalnya. Dan melihat karakter orang-orang tadi, mereka pastilah terlalu percaya diri kita tak akan bisa kabur. Jadi mereka tidak meninggalkan penjaga di depan pintu gua."
"Bagaimana jika apapun yang akan kalian lakukan malah akan membuat kita terkurung disini selamanya?" salah seorang murid kelas khusus ilmu politik bertanya dengan cemas.
"Jangan khawatir. Setidaknya kami lebih menguasai masalah-masalah kabel lebih banyak dari kalian." Ino akhirnya ikut berdiri. "Dan jangan lupa masalah ini disebabkan oleh salah satu diantara kalian." Tambah Ino.
Murid kelas khusus ilmu politik lainnya tak bisa mengatakan apa-apa, karena Suzuki Akira memang salah seorang anggota kelas khusus itu.
"Sebaiknya kita bergegas." Shikamaru berjalan menuju pintu gua.
OoO
Naruto terus berjalan, berusaha mengembalikan memori lamanya.
"Kiri, kiri, tengah, kanan." Naruto bergumam. Well, dia memang punya memori yang bagus untuk hal-hal seperti ini. Kurama selalu bertanya kenapa ia tidak bisa mengingat tanggal-tanggal bersejarah sementara ia bisa ingat tanggal lahir setiap tokoh favorit dalam manga kesukaannya.
Naruto akhirnya berhenti saat ia menemui dinding di hadapannya. "Jalan buntu?" Naruto mengetuk-ngetuk dinding di sekitarnya, sampai akhirnya ia mengetuk sesuatu yang bukan batu dan sebuah panel kecil muncul di dinding.
"Ummm.. apa passwordnya masih sama ya?" Naruto ragu sejenak. Jika passwordnya sudah diubah, dan ia memasukkan password yang salah, maka mungkin saja ada alarm yang akan menyala.
"Yah, ada alarm atau tidak, aku bisa pikirkan nanti." Naruto mengangkat bahunya dan menekan passwordnya. "Mari kita lihat apa oji-san itu sudah mengganti passwornya atau belum. R-A-M-E-N." gumam Naruto sambil menekan 72636.
Terdengar suara "ping" dan dinding batu dihadapan Naruto bergeser, menampakkan sebuah laboratorium canggih di hadapannya.
"Oji-san, kenapa kita harus memasukkan angka-angka untuk membuka pintu? Tidak bisakah memakai pegangan pintu saja? Seperti di rumah Naru." Naruto kecil menatap tak paham saat oji-san itu menekan beberapa angka dengan suara 'pi-pi-pi' kecil.
"Karena tempat ini rahasia, dan oji-san tak ingin orang lain masuk ke tempat ini." Oji-san itu menjawab sambil mengacak pelan rambut Naruto kecil.
"Naru juga ingin masuk." Naruto kecil memberikan tatapan puppy eyes nya yang biasanya selalu berhasil membuat tou-san memenuhi keinginannya.
"Hmm..baiklah. Oji-san akan mengganti angkanya sehingga Naru bisa mengingatnya dengan mudah. Tapi jangan beritahu siapa-siapa, oke?"
"Un!"
"Jadi, angka apa yang sebaiknya kita gunakan?"
"RAMEN!"
Naruto menggelengkan kepalanya. Lagi? Siapa oji-san itu? Naruto melangkahkan kakinya masuk, berharap ia tidak akan menemukan orang-orang yang tertidur dalam tabung lagi (jika ingatannya benar), tapi apa yang dilihatnya jauh lebih mengejutkan dari itu.
"Ti-tidak mungkin."
OoO
Gaara bolak-balik melirik jam tangannya. Ini sudah setengah jam dan Naruto masih belum kembali. Shikamaru, Sasuke, dan Ino masih sibuk di pintu gua. Gaara sudah tidak sabar dan ia berdiri, bersiap menyusul Naruto kedalam gua.
Ia baru berjalan beberapa langkah masuk saat seseorang menabraknya. Gaara dengan refleks langsung menangkap tubuh orang yang menabraknya.
"Na-Kyuuna?"
Gaara mengamati Naruto dengan cemas. Ada yang tidak beres dengan keadaan Naruto. Ia terlalu pucat dan terlalu dingin.
"Kyuuna, apa sesuatu terjadi?"
Gaara hampir tidak mendengar gumaman lemah Naruto. ". . . . . mukan mereka."
"Apa?"
Naruto mengulangi kata-katanya dengan suara yang agak keras. "Aku menemukan mereka."
"Siapa?"
"Anak-anak yang hilang itu."
OoO
Thanks as always buat yang udah review, follow, dan favorit fic ini. :)
Ah, dan like fb page little Chomper jika kalian ingin tahu update Little Chomper dan sedang malas untuk cek inbox email~ (Link ada pada profil Little Chomper)
