Disclaimer: Rasengan milik Minato, Oiroke no Jutsu milik Naruto, dan Naruto milik Masashi Kishimoto.


The Other Self

Chapter 15

Ada banyak hal yang masih diragukan dan harus dipertanyakan. Shikamaru bisa membuat daftarnya dan memberikannya pada Kyuuna, tapi Shikamaru terlalu malas untuk melakukan hal itu. Jadi ia memutuskan untuk diam dan mengawasi Kyuuna dan Gaara. Sepandai-pandai tupai melompat, mereka pasti akan jatuh juga. Shikamaru tinggal menunggu dan mencari kesempatan untuk membuat mereka terjatuh.

Sejujurnya, Shikamaru tidak berharap Kyuuna akan menjawab pertanyaannya, tapi saat Kyuuna menjawab, Shikamaru mendapatkan jawaban yang tidak diharapkannya.

Mayat?

Ada mayat didalam sana? Shikamaru yakin pasti yang dimaksud Kyuuna adalah mayat manusia, karena jika itu hewan, dia akan berkata bangkai, dan bukannya mayat.

Mereka berada didalam gua bersama dengan mayat? (Shikamaru ragu apa dia harus menjadikan objek itu jamak, karena kelihatannya Kyuuna tidak ingin menjelaskan lebih jauh)

Pantas saja Kyuuna terlihat shock. Walaupun mereka adalah calon agen, mereka masih belum terlatih melihat mayat secara langsung (kecuali mungkin Sasuke dan Naruto, dan Shikamaru bisa memasukkan dirinya dalam kategori yang sama, karena ayahnya terkadang mengizinkannya ikut melihat TKP kejahatan). Shikamaru ingin memeriksa sendiri ke dalam gua, tapi ia tidak ingin mengambil resiko kehilangan makan siangnya. Jika yang dikatakan Kyuuna benar, mungkin mayat itu sudah berada disana selama beberapa lama. Shikamaru harusnya bersyukur tidak ada bau yang tercium sampai ketempat mereka saat ini.

Shikamaru kembali melirik Kyuuna yang kelihatannya sudah menyerah mengetuk-ngetuk dinding gua dan saat ini sedang bersandar sambil memegang ponselnya.

Apa yang dimaksud Gaara dengan 'tak ada lagi harapan'? Kenapa jika ia mengunjungi pemakaman untuk kedua kalinya maka tidak akan ada lagi harapan? Terlalu banyak pertanyaan berseliweran dibenaknya dan Shikamaru tidak suka keadaan ini. Ia biasanya selalu menemukan jawaban dari apa yang ingin ia ketahui, tapi kali ini tampaknya ia harus bersabar.

"Aku akan menggantikanmu berjaga, Nara-san. Kau bisa tidur."

Ah, lagi-lagi 'Nara-san'. Entah mengapa Shikamaru merasa ada yang salah dengan cara Kyuuna memangggilnya, tapi Shikamaru tak tahu apa. Sudah beberapa kali ia mendapati Kyuuna hampir memanggilnya Shikamaru (dan dia pernah memanggilnya 'Shikamaru' saat sedang separo terjaga), tapi untuk alasan yang tidak ia ketahui, Kyuuna selalu memanggilnya (dan teman-teman sekelas lainnya) dengan nama keluarga mereka. Mungkin itu caranya memberi tahu bahwa ia tak ingin akrab dengan mereka? Shikamaru bisa merasakan kalau ia sudah lelah (fisik dan mental), dan biasanya ia tidak mudah percaya pada orang lain untuk menggantikannya berjaga, tapi sesuatu pada Kyuuna membuatnya percaya, dan begitu ia bersandar, ia tahu ia akan bisa tertidur dengan nyenyak kali ini.

OoO

Naruto mengumpat dalam hatinya saat ia kalah lagi. Ini baru level 32 dan ia sudah menghabiskan persediaan nyawanya. Ia ingin membeli nyawa tambahan, tapi ia ingat kalau ia sedang disandera didalam sebuah gua dan jelas-jelas tak ada sinyal di dalam gua yang artinya ia tidak bisa terhubung dengan internet.

"Apa boleh buat." Naruto keluar dari aplikasi game yang sedang dimainkannya dan membuka aplikasi game lainnya. Ia sedang menunggu proses loading dari game itu saat ia merasakan getaran. Ia segera berdiri dan menoleh ke sekelilingnya. Naruto yakin getaran itu berasal dari luar, dan yang pasti senjata api biasa tidak akan bisa menimbulkan getaran seperti itu.

Naruto menimbang sesaat sebelum ia berjalan ke arah Shikamaru dan menepuk pundak Shikamaru pelan. Ia sebenarnya tidak tega membangunkan Shikamaru, tapi ia tidak punya pilihan.

"Shikamaru, kelihatannya sesuatu terjadi diluar." Bisik Naruto pelan.

Shikamaru langsung membuka matanya dan seperti yang dilakukan Naruto tadi, memeriksa keadaan sekelilingnya.

"Apa yang harus kita lakukan?" Naruto bertanya. Ia sedikit cemas, tapi mungkin saja yang datang adalah tim yang dikirim untuk menyelamatkan mereka.

Seperti biasanya, Shikamaru selalu terlihat tenang dan segera menganalisa situasi yang sedang (atau akan) mereka hadapi.

"Kyuuna, bangunkan yang lain dan mundur dari pintu gua. Kita tak akan tahu apa yang akan terjadi jika pintu ini terbuka."

Naruto mengangguk dan segera melaksanakan perintah Shikamaru. Dalam sekejap semuanya sudah bangun dan mundur, mereka semua menatap pintu gua dengan cemas.

Beberapa saat kemudian, pintu gua terbuka, dan seseorang yang tidak mereka kenal berdiri di depan gua sambil mengangkat kedua tangannya.

"Aku ketua dari tim penyelamat yang dikirim untuk membawa kalian pulang. Apa kalian siswa Akademi Konoha?"

Kiba, Shikamaru, Shino, dan Sasuke langsung menurunkan kuda-kuda mereka.

"Namaku Yamato." Laki-laki itu tersenyum dan Naruto tahu siapa laki-laki itu. Ia melihat foto laki-laki itu di album Kakashi-nii sebelumnya. Kalau tidak salah, Kakashi-nii berkata kalau laki-laki itu adalah 'kawaii kouhai' yang paling disukainya. Well, bagi Naruto, itu artinya laki-laki itu adalah korban utama keisengan Kakashi-nii. Jika Kakashi-nii menyukai seseorang, ia akan memperlihatkannya dengan cara yang berbeda.

Naruto menghela napas lega. Mereka selamat. Semuanya akan baik-baik saja.

OoO

Yamato menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seluruh siswa sudah masuk kedalam bus dan anggota timnya akan mengawal bus itu sampai ke sekolah dengan selamat.

Seluruh siswa kecuali satu orang.

Uzumaki Kyuuna untuk alasan yang tidak dikatakannya berkeras untuk tinggal di lokasi sampai Kakashi-senpai datang karena ia harus memberi tahu Kakashi-senpai tentang sesuatu yang amat sangat penting. Ia sudah mencoba berbagai cara, bahkan menggunakan ekspresi mengancamnya yang biasanya selalu sukses menakuti lawannya, tapi tak berpengaruh pada gadis itu.

"Kau bisa memberi tahunya nanti saat kita sudah sampai di sekolah." Yamato berusaha membujuk gadis itu, tapi gadis itu tak bergeming. Ia berdiri sambil melipat tangannya di dada dan menatap Yamato dengan tegas.

"Aku harus tetap disini. Kakashi-nii akan datang jika kau memintanya datang. Atau kau bisa meminjamkan padaku apapun yang kau gunakan untuk menghubunginya agar aku bisa langsung bicara pada Kakashi-nii."

'Kakashi-nii'? Yamato tak punya alasan untuk menolak gadis itu saat ia mendengar panggilan gadis itu pada Kakashi-senpai.

"Senpai?"

"Ya?" terdengar jawaban diseberang.

"Uzumaki Kyuuna berkata kau harus segera ke lokasi karena ada sesuatu yang harus dikatakannya padamu."

Bahkan saat ia berbicara Yamato merasa konyol dan ia hampir akan meminta maaf pada senpainya, tapi jawaban senpai diluar dugaannya.

"Tunggu aku disana. Aku akan segera kesana. Kau bisa mengirim bocah-bocah yang lain lebih dahulu."

Eeh? Yamato hampir saja ternganga, tapi ia segera menjawab, "Ba-baik senpai!"

Ia kemudian menatap Uzumaki Kyuuna yang balas menatapnya dengan ekspresi lelah. Salah seorang siswa lainnya turun dari bus dan membisikkan sesuatu pada gadis itu, tapi Uzumaki Kyuuna hanya menggeleng dan tersenyum berusaha meyakinkan pemuda itu. Yamato sekarang bisa mendengarkan kata-kata gadis itu.

"Aku akan baik-baik saja, Gaara. Kakashi-nii akan segera datang."

"Tapi.." Pemuda itu masih terlihat ragu.

"Yamato-san ada bersamaku. Aku akan baik-baik saja." Ulang gadis itu.

"Kau yakin?"

"Sangat yakin."

Pemuda itu (Sabaku Gaara, Yamato mengenal nama itu) memeluk Uzumaki Kyuuna yang balas memeluknya.

"Berhati-hatilah. Kau tahu kau bisa mengandalkanku bukan?" Ucapnya sebelum ia kembali menaiki bus.

Yamato mengamati interaksi mereka. Ia selalu mengamati sekelilingnya, karena hal itu sangat penting, terutama saat kau sedang dalam misi penyamaran. Ada banyak hal yang bisa diamati dalam hubungan antar manusia. Sentuhan kecil, senyuman samar, lirikan mata, dan hal-hal lainnya.

Yamato bisa melihat ada hal yang lebih dalam pelukan itu. Bukan hanya sekedar pelukan perpisahan antar teman, tapi pelukan itu juga menyiratkan dukungan, rasa khawatir, dan (sepertinya) cinta. Tapi sepertinya mereka belum menyadarinya, dan Yamato tahu itu bukan urusannya.

Begitu bus itu berangkat, Uzumaki Kyuuna duduk dan mengeluarkan ponselnya.

"Menurutmu berapa lama kita akan menunggu Kakashi-nii, Yamato-san?"

OoO

Saat bus itu mulai berjalan, ekspresi para siswa didalamnya mulai lega. Mereka akan segera pulang dengan aman.

Shikamaru duduk disamping Gaara yang sibuk dengan ponselnya. Begitu mereka keluar dari daerah hutan, ponsel mereka kembali mendapatkan sinyal dan langsung saja bus dipenuhi dengan suara deringan ponsel.

Kiba dengan santai membalas pesan Kaa-sannya dengan 'Ok' dan berteriak memanggil Suzuki Akira yang juga memegang ponselnya.

"Oi Akira-chan! Jangan ribut sekali lagi di akun media sosialmu mengumumkan pada dunia kalau kau sudah aman! Kita tidak tahu jika penculik-penculik itu punya rekan lainnya diluar sana!"

Seluruh bus langsung hening. Kiba biasanya jarang mengatakan sesuatu yang serius, tapi kali ini Kiba benar. Siswa-siswa lainnya langsung menatap Akira dengan tatapan curiga dan Akira mengangkat kedua tangannya.

"Aku tidak melakukan apa-apa!"

Aoi Tsubasa, salah seorang siswa kelas khusus ilmu politik lainnya merogoh saku Akira dan mengambil ponsel Akira.

"Maaf Akira-kun, tapi untuk berjaga-jaga, aku akan menahan ponselmu. Kami tidak bisa mengambil resiko kau 'kelepasan' lagi. Kali ini kita masih bisa selamat tapi jika Kiba-kun benar, rekan-rekan penculik itu bisa saja merencanakan balas dendam pada kita."

Akira menatap Tsubasa yang notabene adalah salah satu temannya dengan tak percaya.

"Ka-kau mengambil ponselku?"

"Hanya sementara, Akira-kun."

Akira tak bisa mengatakan apa-apa karena dia kalah suara. Seluruh teman-teman sekelasnya jelas-jelas masih kesal padanya, dan Akira tak akan menang, jadi ia duduk sambil bersungut-sungut.

Setelah tiga jam perjalanan yang tenang, mereka sampai di sekolah. Saat mereka turun dari bus, mereka langsung diperintahkan untuk menuju ruang kesehatan dimana tim medis sudah menunggu untuk memeriksa keadaan mereka. Sementara mereka diperiksa bergantian, yang lain beristirahat di kelas kosong disamping ruang kesehatan. Beberapa saat kemudian, beberapa sensei muncul membawa roti dan cokelat hangat.

"Jika kalian lapar, kalian bisa singgah di kantin sebelum kalian pulang ke rumah kalian atau ke asrama." Anko-sensei memberi tahu sambil lalu.

Siswa kelas pertahanan adalah yang paling terakhir diperiksa, dan saat ini yang tertinggal di kelas itu hanya mereka ditambah dengan Gaara. Suasana agak canggung karena mereka tidak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan.

"Kalian tidak marah padaku?" Gaara akhirnya memecah keheningan.

"Tidak." Terdengar beberapa jawaban tegas. Yang lain tak perlu bertanya apa maksud dari pertanyaan Gaara, karena mereka semua tahu.

"Kenapa?" Gaara bertanya, dan siapapun yang mendengar nada pertanyaan itu bisa merasakan heran, tak percaya, dan rasa syukur bercampur dalam pertanyaan itu.

"Karena itu pilihan Naruto." Kiba menjawab pendek.

"Karena kami mengenal Naruto." Tambah Shino.

"Dan karena kami tahu, Naruto akan selalu mendahulukan orang lain dibandingkan dengan dirinya sendiri." Shikamaru menyambung jawaban teman-temannya. "Ini bukan pertama kalinya Naruto jatuh dari ketinggian karena ia menolong seseorang."

"Oh, aku ingat. Ia pernah jatuh berguling-guling dari tebing bersama Hinata saat kita kelas tiga SD bukan?" Sakura berkata sambil tersenyum kecil.

"Aku ingat itu!" Ino juga ikut tersenyum. "Ia membantu Hinata saat Hinata hampir jatuh mengambil bunga yang tumbuh ditepi tebing itu."

Hinata tak berkata apa-apa dan hanya menunduk. Sakura dan Ino tersadar saat Kiba yang duduk dihadapan mereka memberi isyarat dengan matanya.

"Ah, maafkan kami, Hinata-chan!" Sakura dan Ino berkata serentak.

Hinata mengangkat kepalanya dan tersenyum sedih. "Tak apa, Sakura-san, Ino-san."

"Ta-tapi kami . . . ."

Hinata menggeleng, membuat Sakura dan Ino terdiam. Hinata kemudian menatap Gaara dengan tegas.

"Seperti yang dikatakan yang lain, Gaara-san, Naruto-kun memang selalu seperti itu. Jika ia memilih untuk menyelamatkanmu, maka yang harus kau lakukan hanyalah berterima kasih padanya."

Gaara tersenyum dalam hatinya. Seperti kata Naruto, teman-temannya memang orang-orang baik.

Terlalu baik, malahan.

OoO

Yamato mengamati gadis yang disampingnya sambil sesekali menatap ke arah langit. Helikopter memang berisik dan Kakashi-senpai tak mungkin datang dengan cepat, tapi itu tak menghentikan Yamato untuk berharap senpai nya segera datang.

Gadis itu mengalihkan tatapannya dari layar ponselnya dan melirik Yamato sebelum kembali berkonsentrasi dengan gamenya. Yamato bertaruh (dan ia selalu yakin dengan pengamatannya), gadis itu menatapnya dengan ekspresi geli.

"Apakah kau bosan, Yamato-san?"

"Tidak." Yamato menjawab pendek.

"Khawatir?"

"Tidak."

"Takut?"

"Bukan." Yamato menghela napas. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"

Gadis itu mengangkat alisnya. "Kau terlihat begitu gelisah."

Yamato menjaga ekspresinya tetap datar. Ia yakin selain dari melirik kearah langit, ia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Bagaimana gadis ini bisa tahu?

"Ada banyak cara mengetahui suasana hati seseorang selain dari ekspresi dan gerak tubuhnya, Yamato-san."

Kelihatannya gadis ini juga bisa membaca pikirannya.

"Aku tidak bisa membaca pikiran, Yamato-san."

Sial. Bagaimana ia bisa mengetahui apa yang ia pikirkan?

"Mungkin kau bisa menyebut ini dengan firasat, Yamato-san. Keluargaku selalu berkata aku punya firasat yang bagus." Gadis itu mengangkat bahunya. Ia kemudian menawarkan ponselnya pada Yamato. "Kau pasti bosan, Yamato-san. Kau mau mencoba bermain?"

Belum beberapa saat Yamato bersama gadis itu, ia sudah bisa memutuskan.

Uzumaki Kyuuna bukan gadis biasa.

OoO

"Kita akan sampai dua puluh menit lagi, Kakashi."

Kakashi hanya mengangguk. Sejujurnya ia kaget saat Tenzo menghubunginya dan mengatakan Uzumaki Kyuuna memintanya datang. Kakashi tentu saja tahu siapa Uzumaki Kyuuna, karena itulah ia tak menyangka gadis itu dengan sukarela memilihnya.

Selama ini interaksi mereka dikelas hanya sebatas guru dan murid, dan Kyuuna sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda kalau ia mengenalinya. Kakashi bisa merasakan kalau Kyuuna berusaha menjaga jarak darinya, dan Kakashi tidak bisa menyalahkannya. Mendengar Kyuuna memanggilnya dengan Kakashi-nii benar-benar membangkitkan memori lama.

Naruto tak pernah lagi memanggilnya nii-san semenjak ia menjadi mentornya dan Sasuke saat mereka dalam pelatihan. Ia selalu memanggilnya Kakashi-senpai dengan hormat, terkadang bercanda dengannya, dan dalam kesempatan langka saat suasana hati Sasuke sedang baik, mereka akan makan siang bersama. Dan ia tak pernah memintanya untuk mengawasi latihannya lagi. Kakashi tentu saja menyadari Naruto selalu berlatih sendirian di malam hari saat semua orang sudah tertidur.

Mengingat bagaimana dekatnya ia dengan Kakashi saat masih kecil dahulu, tentu saja perubahan sikapnya sangat terasa, dan Kakashi tak ingat apa kesalahannya sampai akhirnya Kurama yang mengatakannya padanya.

"Kau memilih Sasuke. Naruto tahu kau sebenarnya tidak menginginkannya dan hanya melatihnya karena tou-san, jadi ia tak mau lagi merepotkanmu."

Kurama mengatakannya tanpa basa basi. Jika Kakashi tidak mengenalnya, mungkin Kakashi akan mengira Kurama adalah salah satu hasil dari program latihan Danzou. Dingin, ekspresi datar, dan terlalu pintar.

"Bagaimana ia bisa dapat ide seperti itu?"

Kurama menatapnya dengan ekspresi menuduh. "Kau tidak ingat?"

Kakashi memutar kembali ingatannya. Ia yakin ia tak pernah membedakan Sasuke dan Naruto, kecuali . . . .

"Ah."

"Kelihatannya kau sudah ingat."

Tentu saja. Sebelum ujian kenaikan level mereka, Kakashi memberikan latihan khusus pada Sasuke.

"Tapi aku sudah mencarikan guru pengganti untuk Naruto."

"Ya. Dan guru pengganti itu meninggalkan Naruto setelah mengamati latihannya selama sepuluh menit dengan alasan Naruto tak cukup berbakat."

"Apa?" Kakashi tak pernah mendengar hal ini.

"Menurutmu bagaimana perasaan Naruto setelah ditinggalkan oleh seseorang yang dipercayainya?" Kurama memberinya tatapan sinis. "Dia percaya padamu, kau meninggalkannya, dia merasa dikhianati, kau kehilangan kepercayaannya."

"Ta-tapi . . ." untuk pertama kalinya Kakashi kehilangan kata-kata.

"Kau tahu sulit untuk memperoleh kepercayaan Naruto. Dibesarkan oleh tou-san, kami sudah dibiasakan untuk tidak percaya pada siapapun. Sekarang kau sudah kehilangan kepercayaannya." Kurama mengangkat bahunya. "Aku tidak mengeluh sih, sekarang dia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah daripada denganmu dan Sasuke."

Kakashi tak pernah sempat menjelaskan alasannya pada Naruto karena beberapa hari setelah itu ia ditugaskan dalam misi pengintaian, dan begitu ia pulang sepuluh bulan kemudian, hal pertama yang didengarnya adalah Naruto tidak lagi berada di Jepang.

Kakashi menggelengkan kepalanya. Ia ingin menjelaskan alasannya, tapi Kyuuna selalu menghindarinya dan Kakashi tak ingin membuat orang-orang curiga.

Yah, mungkin hari ini ia bisa menjelaskan semuanya pada Kyuuna.

OoO

"Aku tak punya pilihan. Kurama terlalu jauh dan tou-san akan khawatir."

Kelihatannya Kurama sudah melatih saudaranya dengan baik. Jelas Kyuuna sudah menguasai teknik bagaimana memasang ekspresi dingin dan bicara tanpa basa-basi khas seperti Kurama.

"Oh, oke." Apa lagi yang bisa Kakashi katakan?

"Ikuti aku." Kyuuna mengedikkan kepalanya kearah gua. "Kau bisa mengajak Yamato-san jika menurutmu dia bisa dipercaya, Kakashi-sensei."

Jika ekspresi Kyuuna tidak serius seperti ini, Kakashi mungkin akan tertawa melihat Tenzo yang ternganga saat mendengar perkataan Kyuuna. Kakashi yakin Tenzo tak pernah mendengarkan seseorang berbicara seperti itu tentangnya dihadapannya langsung.

"Aku percaya pada Tenzo." Kakashi tersenyum kecil. "Kau bisa dipercaya bukan, Tenzo?"

Melihat Tenzo yang mengangguk cepat, Kakashi kembali merasakan nostalgia, saat ia masih menjadi senior para rekrutmen yang baru masuk dan kebagian tugas untuk menyiks-ah, maksudnya melatih mereka. Menjahili Tenzo adalah salah satu hobinya saat itu.

Jika Kyuuna menyadari perbedaan nama, ia tidak memperlihatkannya. Dia hanya mengangguk dan berjalan memasuki gua. Kakashi dengan cepat memberi isyarat pada pilot heli agar menunggunya sebelum mengikuti Kyuuna.

OoO


Romance? Hahaha *tertawa pedih* mungkin ada hint nya, tapi kalo yang fluffy-fluffy pasti nggak ada. Little Chomper bukan ahlinya bikin cerita manis kayak gitu.