Chapter 1 : So Far

Tiga tahun berlalu usai hari kelulusan. Ingatanku tentang janji itu masih segar. Tidak kulupakan sedikitpun momenku bersamanya saat SMA.

Pria itu menyatakan perasaannya saat kami berada di tahun kedua SMA. Berkencan bersamanya sangatlah menyenangkan. Berada disisinya benar-benar membuatku nyaman. Namun saat hari kelulusan, dia memberitahuku akan masuk ke Universitas olahraga di Tokyo bersama Kageyama. Ia pastinya ingin mengasah kemampuannya bermain voli lagi disana, aku sedih karena harus berpisah dengannya. Tapi bukan berarti aku mau menentang keputusannya.

Saat itulah kami membuat janji, harus terus berhubungan lewat telepon satu sama lain dan saling bertemu saat kita sama-sama sudah meraih mimpi kita kemudian mengikat janji baru lewat tali pernikahan. Sama seperti Hinata, aku pun fokus untuk mewujudkan mimpiku menjadi seorang desainer poster. Pekerjaan ibuku dipindah dan membuatku dan ibuku ikut harus pindah rumah ke Osaka, aku akhirnya memutuskan mengambil jurusan seni desain di salah satu universitas disana.

Satu tahun tidak bertemu, kami masih tetap terhubung lewat telepon. Saling bertukar kabar, dan menceritakan kehidupan masing-masing. Saat itu aku dengar dia akhirnya dimasukan ke dalam jajaran pemain tim nasional voli jepang menyusul Kageyama, mengingat kontribusi besar yang ditorehkannya dipanggung nasional saat SMA dulu.

Hinata memang tidak pernah berhenti membuatku kagum. Aku berani jamin tidak ada orang yang sekeras dirinya dalam berusaha. Mengatasi kekurangannya dengan kerja keras. Itulah salah satu hal yang membuatku begitu mencintainya.

Satu bulan setelah itu, Hinata tidak pernah menghubungiku lagi. Aku juga mencoba meneleponnya namun tidak tersambung. Saat itu aku benar-benar takut terjadi sesuatu padanya. Hingga suatu hari di kampus, aku melihatnya muncul di televisi. Dia bermain menjadi salah satu dari enam pemain inti tim nasional Jepang dengan seragam berwarna oranye seperti warna rambutnya dan bendera Jepang di dada kirinya serta nomor punggung '10' sama seperti nomor punggungnya dulu.

"Ah dia berhasil" pikirku. Kageyama juga ada disana. Mereka masih saja melakukan serangan cepat aneh itu untuk membungkam lawan mereka. Namun, Hinata tidak pernah menghubungiku lagi sejak saat itu.

Apa dia melupakan janjinya?

Apa dia melupakanku?

Apa dia sudah menemukan orang lain di sana?

Sejak saat itu aku merasa begitu gusar. Aku gelisah. Tiap malam air mataku selalu mengalir, aku sangat takut. Aku merindukannya. Ingin lagi kudengar suaranya. Berkali-kali kucoba meneleponnya namun nihil, tak ada jawaban sama sekali. Aku selalu mencoba berpikir positif. Ah dia pasti sibuk, mungkin besok aku akan bisa bicara dengannya lagi.

Namun besok dan seterusnya. Kami benar-benar tidak pernah bicara lagi. Hingga dua tahun kemudian, aku benar-benar tidak pernah mendengar suaranya lagi. Hari-hariku terasa suram, tidak ada malam tanpa isakan rindu ku pada pria itu. Aku sangat merindukan Hinata. Aku ingin memeluknya, mendekap erat di tubuh kecilnya.

"Hitoka, ibu ada seminar di luar kota selama dua hari. Kau jaga rumah dan jangan sampai lupa makan ya"

"Eum" anggukku sambil mengelap beberapa piring bekas sarapan.

Aku melihat ibu melangkah pergi keluar rumah. Jam dinding menunjukan pukul delapan, satu jam lagi kelasku akan dimulai. Usai membereskan meja makan dan piring kotor. Aku segera kembali ke kamarku, mengganti pakaian sedikit memakai riasan tipis.

Aku melihat pantulan diriku dicermin. Rambutku sudah panjang sepunggung. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Hinata jika melihat rambutku ya. Setetes air mata jatuh lagi dari pelupuk mataku. Tidak. Aku tak mau mengingatnya lagi. Dia pasti sudah melupakanku. Hinata pasti sudah melupakanku.

Semilir angin musim semi menerbangkan beberapa putik bunga sakura. Aku berjalan, menyatu dengan pejalan kaki lainnya. Melakukan aktivitas biasa sebagai mahasiswa tahun akhir. Aku menoleh melihat sebuah barner besar bertuliskan 'Kombo Maut Tim Voli Jepang' yang terpasang digedung tinggi.

Barner dengan dua wajah pria yang kukenal. Mereka berdua mengangkat bola voli dan mengenakan seragam kebanggaan tim nasional Jepang. Pria yang satunya berambut hitam sedikit kebiruan dengan mata tajam biru tua. Dan yang satunya lagi..

Aku menghela nafas panjang, kulangkahkan kakiku kembali. Aku tak boleh mengingatnya lagi. Lupakan saja Hinata. Lupakan atau aku akan menangis lagi.

Kantin kampus terlihat sepi sekarang, aku bersama teman-teman yang juga dari jurusan desain berkumpul untuk makan siang bersama. Entah kenapa hari ini nafsu makan ku benar-benar jelek, sejak tadi aku hanya mengaduk-aduk ramen didepanku.

"Woah! Itu tayangan ulang pertandingan voli melawan China tengah malam tadi. Kebetulan sekali aku belum menontonnya"

Beberapa mahasiswa yang ada dikantin menoleh kearah televisi yang menempel di dinding kantin. Aku dan beberapa temanku ikut menoleh, hatiku tercekat melihat pria bersurai oranye disana.

"Wah itu dia! Serangan kombo Hinata Shoyou dan Kageyama Tobio . Ah mereka berdua selalu membuat kita kagum ya."

"Benar-benar! Mereka memang sudah terkenal sejak SMA sebagai pasangan maut. Tim nasional kita sangat beruntung memiliki pemuda berbakat seperti mereka"

"Hahaa lihatlah wajah tim lawan yang terkejut itu. Mereka pasti belum pernah melihat serangan segila itu sebelumnya. Saya rasa lagi-lagi Hinata Shoyou yang paling banyak mencetak angka di pertandingan ini"

Aku hanya menunduk. Mendengar percakapan MC di televisi. Aku tak sanggup melihat ke layar. Aku tak sanggup melihat wajah itu lagi, sebelum aku akhirnya menangis lagi. Aku tak ingin menangisi pria itu lagi. Seperti yang di prediksi, akhir pertandingan itu berakhir dengan kemenangan Tim Nasional Jepang.

"Pemain Voli itu terlihat keren ya, benar kah Hitoka" senggol Marin teman satu jurusanku.

Aku hanya mengangguk.

"Apalagi pemukul kecil itu keren sekali"

Aku hanya mengangguk. Air mataku sudah mulai ingin keluar lagi. Hinata memang keren, selalu keren. Dulu dia selalu melompat didepanku, aku yang melemparkan bola untuknya. Aku rindu momen itu.

"Hitoka kau baik-baik saja"

Aku menggeleng, mengusap sudut mataku yang berair. "Aku baik-baik saja"

"Apanya yang baik-baik saja, Hinata masih belum menghubungimu juga hingga sekarang?"

Aku dan beberapa temanku menoleh mendengar suara berat itu. Pria berambut mangkuk dengan sweater hijau muncul. Dia Yahaba-san , dia juga dari jurusan seni hanya saja satu tingkat diatasku. Dia dulunya salah satu pemain voli Aoba Johsai yang juga pernah dilawan tim sekolah kami.

Aku menggeleng. Yahaba-san duduk disampingku. "Yah dia pasti sibuk sekali, dia harus berkeliling negara untuk pertandingannya bukan?" ucapnya membuat Marin temanku mengernyit bingung.

"Yahaba-san, Hinata itu siapa? Kekasih Hitoka-chan?" tanya Marin terlihat penasaran. Yah aku memang menyembunyikan segalanya tentang hubunganku dengan Hinata dari semua orang. Yahaba-san yang sesama pemain voli tentu tahu hubungan kami.

"Benar benar. Dia kekasih Yacchi san, lihat pria berambut oranye itu di televisi. Dia Hinata. Hinata Shoyou" jawab Yahaba-san membuat beberapa temanku selain Marin ikut menoleh kearahku dengan tampang terkejut. "Tapi dia sudah lama tak menghubungi Yacchi, dia pasti sudah lupa padamu. Jadi lupakan saja Hinata dan berkencan denganku-"

Aku menggebrak meja tanpa sadar. Air mataku sudah mulai keluar lagi. "Hinata tak akan lupa padaku! Kami sudah berjanji" bentakku nyaring membuat seisi kantin menoleh kearahku. "Dia tak akan lupa"

"Buktinya dia sudah tak menghubungimu lagi. Bukankah kau tahu sendiri Hinata itu gila voli, dia akan mengutamakan voli dibanding segalanya, bahkan kau"

"TIDAK!" sahutku sudah terpancing emosi. "Hinata tidak seperti itu, dia pasti punya alasan" benar, Hinata bukan orang yang akan melupakan janji. Mengapa selama ini aku ragu? Dia bukan orang seperti itu. Pasti ada suatu alasan, aku harus percaya pada Hinata dan bersabar.

"Gadis bodoh, padahal kau bisa mendapat yang lebih baik" gumam Yahaba-san terlihat tidak senang. "Aku contohnya, daripada dia aku le-"

Plakkk~

Semua orang terpekik, atmosfir di kantin seakan memanas seketika. Aku ikut terkejut, benar-benar tidak sadar dengan apa yang barusan aku lakukan. Aku menyorot telapak tanganku yang memerah. Aku baru saja menamparnya. Aku melihat kearah Yahaba-san yang mengantup giginya.

"Aku.. Aku minta maaf" gumamku lirih tanpa berani melihat kearah Yahaba-san, aku melihat sekitar, semua orang menatapku. Aku takut. Aku takut. Aku meraih tasku dan membungkuk kearah Yahaba-san kemudian berlari pergi.

"Yacchi-san!"

Aku bisa mendengar suara Yahaba-san memanggilku. Tapi itu tidak membuat langkahku berhenti. Air mataku mengalir deras. Aku takut. Emosiku sudah membuatku menyakiti Yahaba-san. "Hinata..Hinata" aku memanggil nama itu, dengan isakan kecil tertahan. Namun, dia tidak ada. Dia tidak juga datang.

Yahaba-san pasti salah. Dia tidak melupakanku. Dia hanya sibuk.

Dia hanya sibuk..

Bukan?

Bersambung..