Chapter 2 : So Far
"Aku benar-benar baru tahu! Hitoka-chan selalu menutup-nutupi tentang dirinya. Tidak kusangka ternyata kekasihnya seorang pemain voli terkenal"
"Benar juga. Tapi Yachi-san memang manis, tak aneh jika kekasihnya juga orang hebat"
"Tapi aku rasa hubungan mereka sepertinya kurang berjalan baik"
Usai kejadian di kantin itu, hampir semua mahasiswa jurusan seni menggosipkan satu hal. Yaitu tentang, hubungan Hitoka dengan Hinata Shoyou. Sebagian dari mereka mendukung, dan sebagiannya lagi menerka-nerka kelanjutan hubungan mereka yang kemungkinan besar akan kandas. Itulah dua kubu penggosip sekarang.
Pria berambut mangkok itu mendukung kubu kedua. Lubuk hatinya paling dalam, ia berharap agar Hitoka bisa segera putus dengan Hinata. Sejak ia tahu bahwa ia dan gadis itu berada di jurusan yang sama. Yahaba selalu berusaha mendekati Hitoka.
Benar. Pria itu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis itu. Menurutnya, Hitoka adalah gadis yang manis. Kadang dia ceroboh dan pelupa. Namun, justru itu yang menjadikan suatu daya tarik tersendiri dari Hitoka. Usai mendengar dari Iwami kalau ternyata Hitoka sudah menjalin hubungan cukup lama dengan Hinata. Ia tentunya sungguh kesal. Dalam Voli ia boleh kalah dengan pria pendek itu, tapi tidak dalam perebutan wanita.
Namun, seberapa banyak ia mencoba mendekati Hitoka, gadis itu tetap teguh mencintai Hinata. Bahkan dua tahun lebih Hitoka dan Hinata tak saling bicara, Hitoka tampak terus setia menunggu pria itu walau terlihat jelas batinnya menderita karena rindu.
"Aku harap dia menyerah saja"
[Yachi Hitoka POV]
Kepalaku terasa berat. Aku berjalan gontai menuju taman kota dan duduk di kursi panjang sambil menikmati permen lolipop yang diberi Marin pagi tadi. Aku sudah tidak tahu betapa kusutnya wajahku sekarang, akhir-akhir ini aku selalu menangis. Semakin banyak Hinata muncul di TV, semakin besar rasa rinduku padanya.
Aku meraih tasku dan memgambil bedak dan lipstik. Ku make up sedikit wajahku untuk menutupi mataku yang sudah agak sedikit membengkak. Siang nanti aku masih ada kelas, aku tak boleh sampai membolos hanya karena tidak mampu mengontrol emosi. Aku juga harus minta maaf lagi pada Yahaba-san dengan benar.
Aku melangkah menyusuri koridor gedung Jurusan Seni. Entah perasaanku saja, semua orang terlihat menatapku. Aku masuk ke ruang kelas ku, Marin melebarkan mata melihat kedatanganku dan langsung begitu saja menarikku dan menyuruhku untuk duduk bersama dengan yang lain.
"Ada apa ini?" tanyaku.
Marin tersenyum lebar "Ano ne, Hitoka-chan selalu menutup diri tentang masalah pribadi. Berbagilah dengan kami kali ini. Bagaimana hubunganmu dengan pemain voli itu?"
Lagi-lagi, topik yang benar-benar tak ingin aku bahas muncul. "Kenapa kalian ingin tahu?"
"Kau tahu, gosip tentang dirimu sudah menyebar ke semua mahasiswa Jurusan Seni, banyak yang bilang kalian sudah putus-"
"Kami belum putus!" selaku lagi-lagi benar-benar tanpa sadar.
Marin tersenyum, lebih tepatnya menahan tawa "Kalian sudah kenal sejak SMA bukan? Bagaimana kalian bisa kenal?"
Aku menghela nafas, pertanyaan yang seakan menyeretku begitu saja ke kenangan masa lalu "Klub Voli kami membutuhkan seorang manajer karena saat itu manajer klub voli pria sudah berada di kelas tiga dan akan segera lulus. Aku salah satu orang yang belum masuk klub apapun saat itu, dan manajer klub memintaku untuk menggantikannya kelak. Awalnya aku ragu karena ibuku bilang jika aku tidak berusaha didepan para anggota klub yang sangat bekerja keras, itu sama saja tidak sopan. Namun Hinata meyakinkanku"
Aku meremas ujung rok "Dia membawaku ke tempat ibuku dan memberiku semangat hingga akhirnya aku bisa bicara dengan yakin didepan ibuku untuk bergabung ke Klub Voli. Sejak menjadi manajer kami selalu bersama dan pulang bersama. Dia sangat bekerja keras hingga terkadang aku bisa melihat telapak tangannya memerah atau lengannya lebam karena terlalu banyak berlatih receive. Dia selalu saja diremehkan karena tinggi badannya, namun saat dilapangan dialah yang paling banyak membuat lawan tertekan. Dia pria yang baik dan hebat. semua orang di klub tahu itu"
"Pria yang baik dia bilang" gumam pria yang baru saja masuk ruangan.
Aku menoleh, Yahaba-san yang bersuara. Aku berdiri dan berjalan menghampiri pria itu. "Yahaba-san maaf karena sudah menamparmu pagi tadi. Aku sungguh minta maaf" ujarku lalu membungkuk didepan pria itu.
"Kau sungguh tak menyerah?"
Aku mendongak. Yahaba-san bicara tanpa melihat kearahku. Aku tersenyum tipis. "Aku tak akan menyerah"
"Bodoh! Padahal kau bisa bersamaku dan melupakan Hinata, aku pasti bisa membuatmu bahagia-"
"Hanya Hinata"
Kalimat Yahaba-san terputus karena aku menyela. Yahaba-san menatapku dengan iris cokelat bergetar. Aku tahu pria ini sudah memendam rasa padaku, namun aku mencintai Hinata. Aku akan selalu mencintai Hinata.
"Hanya Hinata yang bisa membuatku bahagia, Yahaba-san"
Dosen masuk ke kelas, aku membungkuk sekilas pada pria itu dan duduk di kursiku. Marin mengacungkan jempolnya padaku membuatku tersenyum. Aku tak akan menyerah. Perasaan ini belum hilang. Walau bagaimana sakitnya. Aku akan tetap bertahan. Suatu saat, aku pasti menemuinya lagi.
Senja mulai terlihat di ufuk barat. Aku berjalan sedikit lebih cepat menuju halte bus. Kami keluar kelas lebih lambat dari biasanya karena ada tugas tambahan dari dosen. Yang ada dipikiranku saat ini hanya makan, perutku sangat lapar karena siang tadi aku hanya menyentuh sedikit makananku di kantin.
Ibu pergi untuk seminar di luar kota, tapi dia bilang sudah menyiapkan beberapa makanan di dalam kulkas untuk kupanaskan. Bus berhenti di halte depan gedung apartemen yang kutinggali. Aku segera melangkah cepat menuju lift dan menekan tombol lantai lima.
Bunyi denting disertai pintu lift yang terbuka, aku berjalan dikoridor menuju pintu apartemenku. Tas yang kupegang jatuh seketika saat melihat sosok pria disana. Dia menyadarkan punggungnya didepan pintu apartemenku. Pria itu menoleh, ia tersenyum. Senyum yang sangat kurindukan.
"Yo.. Lama tak bertemu Yachi-san"
Aku masih mematung. Suara itu, suara yang selama ini aku rindukan. Jantungku berdetak selangkah lebih cepat. Badanku terasa gemetar, emosiku memuncak hingga aku tak bisa membendung air mataku lagi. Aku selalu menunggu. Aku selalu bersabar. Sekarang dia sungguh muncul didepanku, tersenyum manis seperti dulu.
"Yachi-san?"
Aku berlari dan memeluk tubuh itu erat. Membenamkan wajahku di pundaknya. Aku terhisak, meluapkan segala rindu yang selama ini tertahan. Aroma parfum pria, tubuhnya yang hangat. Aku merindukan semua ini. Hinata tersenyum dan balas memelukku.
"Maaf membuatmu menunggu lama" ujarnya "Di camp pelatihan, semua ponsel kami disita agar kami fokus berlatih, aku sebenarnya sempat mengirimkan beberapa surat dan kartu natal untukmu dan adikku, Natsu. Tapi sepertinya justru tak sampai padamu karena aku tak tahu kalau kau pindah rumah. Aku mengirimkan surat itu ke alamat tempat tinggalmu di Miyagi"
Aku melepaskan pelukan dan menyorot dalam iris mata cerah itu "Jadi kau tak melupakanku selama ini?"
"Hah?!" pekiknya, "Kenapa aku harus melupakanmu? Seperti biasa pemikiranmu itu sensitif sekali Yachi-san. Ah benar juga! Tebak sekarang tinggiku berapa?"
Aku memiringkan kepala.
"Aku sekarang 172 cm! Aku naik hampir sepuluh cm dari saat SMA, bagaimana hebat bukan?" ucapnya dengan nada riang seperti biasa "Tapi tetap saja aku yang terpendek di tim" lanjutnya lagi dengan wajah masam.
Aku tertawa. Entah kapan terakhir kali aku bisa tertawa seperti ini. "Ah dia memang Hinata" pikirku. Aku menangkup kedua pipinya, sedikit mencubitnya hingga membuatnya meringis. Ini bukan mimpi. Ini memang dia. Aku memeluknya sekali lagi.
"Syukurlah kau kembali" gumamku.
Hinata mengangguk dan mengecup pelan puncak kepalaku "Eum.. Aku kembali"
Syukurlah aku tak menyerah
Bersambung..
