Chapter 3 : So Far
Kami saling melepaskan pelukan, aku menatap wajah itu. Kuakui dia memang sedikit lebih tinggi dari tiga tahun lalu, membuatku perlu mendongak hanya untuk melihat wajahnya. Hinata tersenyum membuatku ikut tersenyum.
Aku menoleh kearah tas berukuran sedang disamping Hinata. Benar juga, perjalanan dari Miyagi ke Osaka cukup jauh. Ia tentunya akan lelah jika harus pulang hari ini juga "Kau akan menginap?"
Hinata mengangguk, "Rencana awalku begitu, hanya saja sekarang Madoka-san tidak ada, kau pasti canggung jika hanya kita berdua dirumah. Mungkin aku akan ke hotel sa-"
"Jangan!" selaku tiba-tiba, aku tidak tahu apa yang merasukiku sekarang ini. Dulu aku sangat pemalu, bahkan aku akan cepat merona hanya karena dia mengusap rambutku tiga tahun lalu. Sekarang aku merasa berbeda. Rindu yang terpendam membuatku ingin selalu berada didekat pria ini. Aku tak merasa malu sedikitpun saat memeluknya lebih dulu seperti tadi.
"Menginaplah disini, aku akan tidur dikamar ibu" usulku. Hinata nampak menggaruk tengkuknya sekilas, namun pria itu pada akhirnya mengangguk setuju.
"Masuklah, aku akan memasakkan makan malam untukmu"
Aku membuka kunci pintu dan melangkah masuk lebih dulu. Hinata mengekor sambil membawa tas nya yang terlihat berat. Pria itu duduk dilantai dan menyandarkan punggungnya pada kaki sofa. Wajahnya terlihat letih. Perjalanan dari Miyagi pastinya cukup melelahkan. Ditambah usai pertandingannya melawan China minggu lalu tentunya masih membuatnya cukup lelah.
Aku ingin mengutuk diriku sendiri karena keraguanku akhir-akhir ini. Padahal Hinata sudah berjuang demi masa depannya dan demi diriku. Aku membuka kulkas, masih ada beberapa potong daging di freezer.
"Hinata, bagaimana jika Katsudon ?" tanyaku membuat mata Hinata berbinar-binar.
"Kau mau membuatkannya?" tanyanya dan aku mengangguk.
Hinata tersenyum lebar, membuatku tertawa. Dari dulu Hinata selalu menyukai makanan berbahan utama daging itu. Hanya saja pria itu selalu salah waktu saat memakannya. Dia memakannya sebelum pertandingan dan itu justru membuat perutnya mual menjelang akan bertanding.
Dalam waktu 30 menit, dua mangkuk Katsudon panas telah selesai. Aku berjalan membawa nampan berisi dua mangkuk Katsudon dan dua gelas air putih ke meja pendek didepan Hinata. Aku tak bisa menahan senyumku melihat pria itu tertidur dengan mulut menganga. Aku duduk didepannya, mengusap surai oranye itu pelan.
"Ah manis sekali" pikirku.
Aku menepuk pelan pipinya, mulutnya kembali tertutup dan matanya terbuka walau terlihat redup, "Aku tertidur, maaf Yachi-san" gumamnya dengan suara serak. Matanya kembali menyala melihat dua mangkuk Katsudon didepannya.
"Uwah Katsudon!" pekiknya membuatku lagi-lagi tertawa geli.
Kami makan bersama, saling mengobrol. Menceritakan apa yang terjadi tiga tahun ini. Tentang teman baru, tentang kuliah, tentang pertandingan voli dan tentang besarnya rasa rindu kami masing-masing.
"Kau sengaja memanjangkan rambutmu?" tanya Hinata tiba-tiba.
Aku sontak meraih ujung rambutku, "Aku hanya selalu lupa memotongnya, jelek ya?"
Hinata tertawa, membuat keningku mengernyit bingung, "Tentu saja cocok. Kau terlihat cantik" ujarnya membuat pipiku merona seketika.
Hinata melepaskan jaketnya, sekarang ia mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam. Mataku teralih kearah kulit lengan tangannya. Memerah dan bahkan ada bagian yang membiru. Aku meraih kedua tangan kekasihku itu. Mataku sibuk menjelajah kulitnya yang terlihat lebam.
"Spike tim nasional China benar-benar kuat. Mereka sepertinya mengincarku karena tubuhku lebih pendek dari yang lain. Itu membuatku kewalahan melakukan saat receive"
Seakan menyadari apa yang aku pikirkan. Hinata sudah mengatakan penyebab lebam di kulit lengannya. Entah seperti apa air mukaku sekarang di mata Hinata. Namun, ia pasti tahu bahwa aku sangat mencemaskannya sekarang.
"Hinata-"
"Tenang saja! Aku sudah membalasnya, kau lihat skor kemenangan kami bukan?" selanya membuatku menghela nafas.
"Hm.. Kau memang hebat Hinata"
Layar TV menyala. Sekarang waktunya anime favoritku tayang. Namun berbeda dari biasanya, sekarang aku menontonnya bersama Hinata. Sekedar info, pria ini cukup menyukai anime shojou, seperti wajah dan tubuhnya. Seleranya juga cukup imut menurutku.
Aku menyandarkan kepalaku dipundaknya, tangan kami saling tertaut.
"Hinata, kapan kau kembali ke tempat pelatihanmu?" tanyaku membuat pria yang sudah mulai fokus dengan layar itu menoleh. Sedikit membuatku bersalah sudah bertanya.
"Besok lusa" sahutnya, "Aku akan langsung ke Tokyo dari Osaka, aku sudah pergi ke Miyagi sebelumnya dan menemui orangtua serta adikku. Setelah berpamitan dengan Madoka-san aku akan langsung berangkat"
Tiga tahun kami tidak bersama. Dan hanya bisa ditebus selama dua hari. Jujur, itu membuatku sedih. Aku ingin bersamanya lebih lama.
"Aku dengar dari penumpang kereta akan ada festival besok malam. Mau pergi bersama?" tanya Hinata membuat mataku membulat seketika. Aku mendongak, Hinata tersenyum lembut. "Ayo habiskan waktu yang singkat ini dengan bersama-sama" lanjutnya membuatku ingin menangis.
"Eum..Ayo"
Menyebalkan.
Pagi tadi aku sempat berdebat dengan Hinata karena aku ingin membolos agar bisa tetap bersamanya dirumah. Namun Hinata tak mengizinkanku dan membuatku terpaksa mengikuti perkuliahan membosankan ini hingga sore. Dia selalu memahami apa yang kupikirkan. Seharusnya dia biarkan saja aku membolos hari ini.
"Wajahmu masam sekali dari pagi tadi, ada apa Hitoka-chan?" tanya Marin tiba-tiba.
"Benar. Kau jelek jika seperti itu" timpal Kana yang mengekor dibelakang Marin.
Aku menghela nafas, "Hinata tak memperbolehkanku bolos kuliah" ketusku membuat mata mereka berdua membulat. Bukan hanya mereka berdua, teman-teman dikelaspun ikut menoleh. Entah karena apa.
"Maksudmu kekasihmu sudah kembali?!" pekik Marin.
Aku mengangguk, membuat Kana reflek berteriak membuat para teman-teman wanitaku yang lain menghambur kearahku. Dahiku mengkerut. Heran kenapa mereka begitu tertarik hanya karena aku menyebut nama Hinata. Yah, dia memang cukup terkenal sih.
"Hitoka-chan sungguh kekasih pemain voli itu ya?!"
"Hebat!"
Aku hanya mengangguk membenarkan, "Eum, benar"
Teman-teman wanitaku terpekik. Aku menghela nafas, Kana dan Marin benar-benar membuatku terseret ke pembicaraan wanita. Beberapa saat kemudian, wanita disekelilingku sibuk menggosip tentang kekasih mereka masing-masing. Mereka membandingkan kekasih mereka dengan Hinata, seperti, 'Andai dia sekeren kekasih Hitoka-chan' dan celotehan lainnya. Jujur itu sedikit membuatku bangga. Mereka benar, aku sungguh beruntung memiliki Hinata.
"Jadi kau sudah bertemu dengan Hinata Shoyou?" suara berat itu membuatku menoleh. Itu Yahaba-san. Seketika aku merasa ingin menghamburkan garam ke wajahnya. Tempo hari dia bersikeras mengatakan seakan Hinata hanya pria brengsek yg meninggalkan kekasihnya begitu saja. Tadi semua itu terbukti salah.
"Begitu" jawabnya singkat lalu pergi.
Aku menghela nafas. Pria itu memang menjengkelkan, tapi tetap saja sebenarnya dia cukup baik. Ponselku bergetar, aku segera meraihnya. Satu pesan dari Hinata.
_
To : .xx
From : Hinata_ .xx
Yachi-san, apa kelasmu sudah selesai? Aku sekarang di gerbang kampusmu 😆😆
Aku akan menunggumu disini dan kita pergi ke festival bersama.
_
Senyumku mengambang. Aku segera beranjak, membuat teman-teman wanitaku yang asik menggosip menoleh. Aku membuka jendela kelas, melihat kearah gerbang depan. Hinata ada disana dengan setelan sweater dan celana kain hitam panjang.
Aku membereskan buku ku dan meraih tasku segera.
"Hitoka-chan kau mau kemana?" tanya Marin heran.
"Gomen Marin, Hinata menjemputku" sahutku disambut pekikan dari Marin dan yang lainnya. Aku berlari menuju gerbang depan dan berlari menuju Hinata. Marin dan yang lainnya melihat lewat jendela.
"Semangat untuk kencanmu Hitoka-chan!" teriak Kana.
Hinata menoleh saat melihatku berlari menghampirinya. Kedua alisnya tertaut, "Apa kelasmu sudah selesai?" tanyanya dan aku menggeleng karena memang seharusnya masih ada satu perkuliahan lagi, "Baka! Sudah kubilang untuk tidak membolos, aku akan menunggu jadi tak perlu terburu-bu-"
Aku membekap mulut pria itu gemas, "Ayo ke festival" sahutku membuat Hinata menghela nafas panjang pasrah.
Hari semakin gelap, namun suasana festival semakin ramai. Kami mencoba berbagai jenis permainan disana. Melempar bola kearah tumpukan kaleng, menangkap ikan dengan jaring kertas hingga adu tepat sasaran menembak. Hinata memenangkan beberapa permainan, ia memberiku sebuah boneka hadiah berbentuk burung gagak. Mengingatkanku dengan icon SMA kami dulu.
Hari yang sangat menyenangkan.
Usai puas bermain. Kami duduk di karpet kecil sambil menikmati Takoyaki hangat sembari menunggu kembang api diluncurkan. Aku berharap waktu berjalan lebih lambat, dan aku bisa disisinya lebih lama. Besok pagi Hinata akan kembali ke Tokyo. Entah kapan dia bisa kembali lagi menemuiku.
Tanpa sadar air mataku sudah mengalir lagi. Aku sudah tak ingin merasakan kerinduan yang menyakitkan saat dia menghilang selama tiga tahun. Aku ingin terus berada disisinya. Kapanpun. Tanpa harus khawatir takut kehilangannya lagi.
Hinata menoleh, terlihat terkejut melihatku yang sudah mulai terhisak. Namun seperti biasa Hinata tahu yang sedang kupikirkan. Ia tahu alasan kenapa aku menangis. Sentuhan hangat itu membuaiku. Hinata mengusap pelan air mataku, mengecup sekilas bibirku hingga membuat mataku membulat dan pipiku merona.
"Boleh kuperbaharui janjiku padamu?"
Alisku tertaut begitu saja. Heran. "Janji?"
"Tentang janji ikatan pernikahan itu" sahutnya lagi membuat tubuhku membeku seketika, "Beri aku satu tahun. Hanya satu tahun. Aku akan menjadi salah satu anggota tim yang memenangkan Kejuaraan Asia. Aku akan membawa mendaliku dan cincin pernikahan kehadapanmu. Aku berjanji. Jadi tenang dan tunggulah"
Aku menatap iris mata itu, mencari celah kebohongan dibalik raut polosnya. Tidak ada. Hinata tulus dan serius mengatakannya. Aku membekap mulutku, terhisak pelan. Bukan sedih. Melainkan bahagia.
"Dalam satu tahun, kau juga pastinya sudah menyelesaikan kuliahmu bukan? Kita bisa memulai hidup baru mulai dari situ"
Aku tersenyum lebar. Mengusap pelan pipi pria didepanku. "Bisa aku memegang janji itu?"
Dan pria itu mengangguk.
"Ini lamaranku padamu"
End
Ini sebenarnya fic yang sudah aira publish di wattpad. Baru-baru ini aira kurang asupan dan buka-buka ff haikyuu di fanfiction net buat ngilangin bosen. Berhubung aira ship hinayachi, jadi aira cari fic yang tokohnya tentang mereka berdua. Eh taunya. Dari seribu lebih fic haikyuu bahasa indonesia, cuman nemu enam judul, dan itu nyesek sekali :") Akhirnya aira pun berinisiatif mem-publish ff ini buat para penggemar hinayachi yang bernasib sama seperti aira.
