Pemuda berkacamata itu menghela nafas panjang. Lelah adalah satu-satunya kata yang cocok untuk gambaran mukanya sekarang. Matanya terus berpindah-pindah dari berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya dengan jendela di seberang ruangan, tangannya terus mengetuk-ngetukkan penanya ke meja, ia tampak sedang berpikir keras.
"Oi.."
"Hm?"
"Setelah ini berakhir, apa lo bakal inget gue ya?"
"...Gue..."
Pemuda itu menghela nafas lagi, melempar pena itu (sekeras mungkin) ke seberang ruangan.
"Sialan"
.
"Selamat siang, Kak"
.
Awake
Chapter1 : Remember
A Hetalia-Axis Power Fanfiction
Disclaimer: I own nothing, Himaruya Hidekazu own Hetalia
Warning: OC Fem!Indonesia, OC (mantan) Propinsi di Indonesia, Pembubaran RI, Pembentukan Negara baru, Alur membingungkan, gaje, OOC (?), genre gak jelas, typo(s), author baru di fandom Hetalia-Axis Power.
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fiction ini, dan tidak bermaksud menyinggung pihak manapun, pun cerita ini tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata.
.
Jakarta, 09:34
"Arrgh! Sialaaan!" Pemuda itu mengacak acak rambutnya, sehingga rambutnya (Yang aslinya memang sudah berantakan) tampak (lebih) berantakan.
Tidak disangkanya tugasnya akan membengkak sampai sebanyak ini (lebih tinggi dari gunung Semeru kalau boleh dibandingkan), kalau begini sih, meski lembur sampai tengah malampun bakal belum kelar.
Dia berada di ruangan yang tidak begitu luas, namun juga tidak sempit. Ruangan ini diisi dengan sebuah meja kerja dan kursi (yang saat ini sedang didudukinya), tumpukan berkas-berkas yang menggunung (di atas meja juga di belakang pintu), juga sebuah lemari kayu yang diisi dengan buku-buku tebal, di dinding ruangan terdapat banyak figura foto serta beberapa lukisan, dan ada sebuah jendela besar bergorden di sebelah lemari.
.
"Kakak lembur lagi?"
Wanita yang duduk dibalik meja kerja itu tampak kelelahan, di depannya tampak tumpukan dokumen yang menggunung.
Sebuah senyum di wajah (oh, kenapa ia begitu murah senyum?),"Ini belum seberapa kok."
.
Jaka, atau boleh kita sebut Jakarta, adalah personifikasi dari kota metropolitan besar yang terletak di daerah khatulistiwa asia tenggara.
Oh, apa aku sudah mengatakan kalau dia juga merangkap sebagai personifikasi negara ini?
Ya, seperti si (coretalistebalcoret) personifikasi England yang merangkap sebagai personifikasi The United Kingdom of Great Britain and Nothern Ireland.
Indonesia? Bukan, negara apa yang kau bicarakan? Kau berada di satu dari tiga negara yang bertempat di kepulauan terbesar di asia tenggara; Negara Republik Demokratis Sumatra-Jawa.
Tok-tok-tok, suara ketukan di pintu. Pemuda itu (kita sebut saja Jaka) mengangkat mukanya sesaat dari berkas-berkas yang ada di mejanya.
"Masuk."
Seorang pemuda dengan wajah yang mirip dengannya dan mata yang dibingkai kaca mata ber-frame hitam masuk dengan pelan, kemudian ia duduk di kursi yang ada depan meja si personifikasi kota metropolitan (dan negara) itu.
"Kau belum selesai?"
"Kau bisa lihat sendiri."
Itu adalah satu-satunya percakapan yang terjadi di ruangan itu, bahkan setelah 20 menit kemudian.
Hanya suara goresan pena, balikan kertas, dan hentakan kaki yang ritmis saja yang terdengar di dalam ruangan itu.
Hingga akhirnya Jakarta memecah keheningan.
"Baiklah, apa maumu kesini?"
"Tidak ada."
Yang menjawab bahkan tidak memandang si penanya yang sudah menghentikan semua aktivitasnya dan memandang si pemuda berkaca mata.
"Surabaya, aku serius."
"Sungguh, Jakarta. Ora ono sing arep tak omongno.[1] "
"Kau-.."
"Lanjutkan saja pekerjaanmu, aku akan diam."
"Sebenarnya ada apa!?" Dia sedikit membentak.
"Bukankah sudah kubilang tidak ada!?"
.
"Tidak ada?"
.
"Jakarta, sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Tidak ada."
"Lalu kenapa kamu kesini?"
"Hanya ingin melihat kakak saja?"
"Itu bukan jawaban."
Pemuda itu menghela nafas, masuk ke ruang kerja wanita ini dengan wajah ditekuk seperti ini dan berkata tidak ada apa-apa tentulah ide yang sangat buruk.
Tapi, sekarang ia benar-benar membutuhkan ide buruk itu.
Karena kakaknya selalu berhasil membuatnya tenang, dan bertahan dalam situasi apapun.
"Kak?"
"Ya?"
"...Kenapa kita dilahirkan menjadi seorang personifikasi? Kenapa bukan manusia saja?"
"..."
.
Ruangan itu terasa begitu sepi karena Jakarta sudah berhenti menulis dan Surabaya juga berhenti menghentakkan kakinya.
Jakarta menghela nafas dan meletakkan penanya."Surabaya..."
"Apa?"
"...Cerita saja..."
Surabaya hanya diam.
Jakarta menghela nafas.
.
"Jaka?"
"Hm?"
"Apa kau menangis saat Aceh terkena tsunami?"
Pemuda itu diam, ingin menjawab namun gengsi, saat aceh terkena tsunami? Sedih tentu saja. Tapi apa kata orang kalau personifikasi ibukota ini menangis?
Jakarta memang tidak menjawab. Tapi wanita di depannya tahu jawabannya.
'Ya'
Adalah kata yang saat ini bertengger di mulut kota metropolitan itu.
"Jaka, kalau misalnya dunia ini kiamat, apa kamu bisa menghentikannya?"
'Tidak'
.
Kulihat Ibu Pertiwi
.
Wanita itu tersenyum,
"Apa yang kamu rasakan saat teks proklamasi dibacakan?"
Jakarta tersenyum lebar.
"Sekarang kita ganti topiknya. Apa yang kamu rasakan saat si kepala tulip itu melakukan agresi militer dulu?"
Hilang sudah senyuman itu, Jakarta mengepalkan tangannya dan memberikan tatapan yang bisa membunuh (si kepala tulip itu) sebagai jawaban.
Senyuman si wanita berubah menjadi getir,
.
Sedang bersusah hati
.
"Jaka, apa kamu merasa kesakitan saat para tikus itu menggigitmu?"
Koruptor! Tentu saja!
Semua personifikasi propinsi merasakan sakit saat para koruptor itu beraksi. Tapi tentu sakitnya tak seberapa dibandingkan yang dirasakan wanita di hadapannya.
Karena dialah yang menanggung rasa sakit dari seluruh wilayah negeri ini.
"Apa kamu marah pada mereka?"
"Memangnya kakak tidak?!" dia sedikit membentak.
Senyum itu terlihat makin pahit,"Memangnya bagaimana harusnya aku?"
.
Air matanya berlinang,
Mas intannya terkenang
.
Jakarta diam.
Sebuah helaan nafas, "Jakarta, siapa yang melakukan korupsi?"
'Pemerintah'
Sorot mata wanita itu tajam langsung ke mata sang personifikasi kota metropolis, "Sebagai seorang personifikasi, tentu kamu tahu apa pemerintah itu."
.
Hutan, sawah, gunung, lautan
Simpanan kekayaan
.
'Wilayah adalah badanmu, fisikmu.'
'Rakyat adalah semangat, jiwa, dan hatimu.'
'Pemerintah adalah rangka alat gerakmu'
"Bukankah melakukan korupsi sama saja dengan menyuruhku memegang dan menusukkan pisau ke badanku sendiri?"
.
Kini Ibu sedang susah
.
Senyum getir itu masih terpampang dengan jelas di wajah si wanita,
"Kau tahu? Itu lebih sakit dari pada saat masa kolonial, atau agresi."
Jakarta tidak bisa menjawab.
"Karena yang menusukku adalah tanganku sendiri, seaindainya aku mati karena tusukkan itu, aku tidak bisa menyalahkan orang lain. Karena aku sedang bertarung dengan diriku sendiri"
.
Merintih dan berdoa
.
"Rasanya seperti dikhianati oleh diri sendiri"
.
"...Ibu, apa yang bisa aku lakukan?"
Wanita itu tertawa, "Sudah berapa lama kamu tidak memanggilku 'Ibu'? Dua ratus tahun?"
"Dua ratus lima puluh."
Wanita itu masih terus tertawa.
.
"Ah? Dia tertawa?"
.
"Tidak, kamu hanya perlu melakukan apa yang sudah kamu lakukan."
Jakarta menaikkan sebelah alisnya.
.
"Merasakan"
.
"Karena dengan merasakan, kamu akan tergerak untuk bertindak dan menyelesaikan."
"Dan karena kita memiliki semua perasaan itu." Dia tersenyum-lebih lebar-lagi,
"Kita adalah manusia."
.
"Kau tahu? Ketika kau menanyakan apa kau adalah manusia merupakan saat dimana kau terbukti adalah manusia."
.
"...Karena saat itulah hati nuranimu bicara"
.
"Oi, Jakarta."
"Apaan!?" Jakarta sedikit sewot, 'ini anak tadi ditanyain nggak mau ngomong, sekarang ada apaan?!' yah, begitulah kurang lebih jeritan hatinya (?).
"Kamu masih ingat-..." Surabaya berhenti, tiba-tiba menggeleng dan terlihat begitu sedih.
Tapi Jakarta tahu apa yang personifikasi kota metropolitan terbesar setelahnya itu coba tanyakan.
Pemuda yang tidak berkaca mata memandang lurus, ke arah jam digital yang juga menunjukkan hari dan tanggal.
17 / Agustus / 10:02
"...Mana mungkin aku lupa, Sur."
.
"Kalau hari ini, bertahun-tahun lalu aku melihatnya tersenyum sambil menangis"
.
.
Semarang, 17 Agustus, 15:57
Pemuda itu duduk sambil mengedarkan pandangannya ke jalan daerah simpang lima yang ramai, sesekali pemuda itu akan menyesap kopinya dengan perlahan, merasakan cairan yang panas itu memberikan sensasi pahit dimulutnya, dan menikmati bagaimana disetiap tegukan, suhu minuman itu terus turun.
Tampak jelas sekali ia sedang menunggu seseorang.
Klinting-klingting
Ah, bel cafe yang dipasang di pintu itu berbunyi ketika seorang pemuda yang terlihat berumur tak lebih dari 25 tahun masuk.
Ya, terlihat tak lebih dari 25 tahun. Karena siapa sangka pria itu sudah ada bahkan sejak jauh sebelum negara-yang baru seumur jagung jika dibandingkan dengan pendahulunya-ini terbentuk?
Pemuda yang tengah duduk menurunkan cangkir kopinya dan tersenyum, "Mas Semar!" [2] panggilnya.
Yang baru saja memasuki cafe berbalik, terlihat sedikit sebal. Ia berjalan dan kemudian duduk di depan pemuda yang tadi memanggilnya.
"Yog," katanya begitu dia duduk, "Bisa nggak kalau nggak usah panggil aku Semar?"
Yang ditegur hanya tertawa kecil, "Lha, kepriye toh mas? Sampeyan gelem diceluk Arang?" [3].
Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh sang personifikasi Yogyakarta, Semarang hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas, Adik kembarnya memang orang yang ramah dan suka bercanda.
"Sampeyan kan isa nyeluk aku Rangga." [4].
Yogyakarta tertawa.
Semarang hanya menghela nafas kemudian mengangkat tangan untuk memanggil pelayan cafe, ia memesan segelas kopi Espresso dan satu potong (Jelas, masa' satu box? Memangnya mau ada pesta ulang tahun?!) Blueberry cheesecake.
"Sendirian mas?" tanya Yogya setelah Semarang selesai memesan.
Semarang mengendikkan bahu, "Surabaya dolan ke Jakarta, Banten sibuk mengurus urusan pemilihan dewan nanti sama Bandung. Ah, ya. Aceh sama Padang pesawatnya di-delay 2 jam, nanti baru sampai disini maghrib."
"Medan nggak ikutan nanti mas?"
"Medan lagi sibuk."
"Oh."
Semburat kemerahan tampak mulai muncul di kejauhan langit simpang lima, kedua personifikasi dari daerah yang ada di pulau Jawa-ah, Java maksudku-itu hanya diam dan memandangi alam mengerjakan tugasnya untuk menidurkan sang surya dari langit jawa dan membangunkannya di tanah dengan zona waktu lain.
"...Bagaimana dengan Bali?" Yogya memejah keheningan.
"Entahlah, Bali sama seperti Manokwari dan Jayapura, masih tidak memihak."
"...Ambon? Sofifi?"
"Tidak menyatakan secara langsung, tapi lebih memihak Kali- ah, maksudku Borneo."
"...Kupang? Mataram?"
"...Aku tidak tahu."
Suasana menjadi dingin lagi, tidak ada satupun dari mereka yang bicara. Larut dalam pikiran mereka sendiri, tidak menyadari bahwa kopi yang mereka pesan sudah habis sedangkan Blueberry Cheesecake milik sang personifikasi kota Semarang sama sekali tidak tersentuh.
"...Hey, Yog..."
"Ya, mas?"
"Kamu nggak kangen mbak ?"
"...Ya kangen mas, apalagi kalau ingat waktu mbak bawa-bawa bambu runcing sama teriak-teriak kata-kata saktinya itu."
.
"Merdeka!"
.
Semarang tertawa pelan,"Iya, ya... Aku juga inget waktu mbak nangis setiap tahun di hari ini..."
.
"Proklamasi."
.
Yogyakarta mengambil sendok, "Tanggal 15 januari, mbak pasti seharian mandangin laut"
.
"Kobarkan semangat Pertempuran!"
.
"Ya, dan tanggal 10 Oktober nanti mbak sama Surabaya pasti ke Tugu Pahlawan sama Jembatan Merah."
.
"Merdeka atau Mati"
.
"Dan nanti tanggal 28 Oktober, kita semua pasti kumpul bareng-bareng di rumah Jakarta. Dan semuanya pasti bawa oleh-oleh dari rumah.."
.
"Sumpah Pemuda"
.
Yogyakarta tersenyum lemah sambil menaruh sendok,"Kapan yo, kita bisa kumpul-kumpul maneh koyok ngono?" [5]
"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal Yog."
"Apa itu?"
"Kenapa Blueberry Cheesecake-ku kamu yang habisin?"
"Hehehe... Sepurane mas, lha ono Cheesecake nganggur kok gak dipangan ya mending takpangan to mas?" [6]
"Alasan."
TBC
Footnotes:
[1] "Sungguh Jakarta. Tidak ada yang ingin kubicarakan."
[2] Eeeh, dari yang aku pahami kalau nggak salah dulu Yogya sama semarang itu satu kerajaaan kemudian karena ada 2 putra mahkota dipecah jadi 2 and terus ada sejarahnya semarang itu dihadiahkan ke seseorang gitu (entah belanda-VOC- atau ningrat pribumi) sebagai tanda pelunasan hutang, maaf kalau salah.. ini Author geblek sejarah.
[3] "Lha gimana toh mas? Kamu mau aku panggil Arang?" note: asal-usul kata semarang di wikipedia: Asem Arang yang kemudian dilafalkan menjadi Semarang.
[4] "Kamu kan bisa panggil aku Rangga."
[5] "Kapan ya, kita bisa kumpul-kumpul lagi seperti itu? "
[6] "Hehehe... Maaf mas, soalnya ada Cheesecake nganggur kok nggak dimakan ya lebih baik saya makan to mas?"
Author lelet mau ngomong:
Gyaaaa! Maaf! Ini kenapa baru di upload?! padahal udah lama selesainya!
Lagu yang diatas: Kulihat Ibu Pertiwi bukan punya saya...
Chapter 1 cuman mau menekankan keadaan di dunia buatan saya ini.. juga ngasih clue sedikit kenapa Indonesia di bubarkan... Kira-kira kenapa ya...? Hmm tanyakan pada Author yang bergoyang (?)
Chapter 2 akan apdet cepat (Semoga, jika saja adik saya tidak dengan sengaja langsung main matiin laptop saat saya mengetik atau main cabut modem saat saya upload atau jika saja saya tidak kena semprot tiap kali saya pegang laptop...)
Sign, TifaCAT
p.s bisa tebak siapa chara yang selalu muncul di paragraf pertama?
