Pemuda itu membalik kalender yang tergantung di dinding, melingkari tanggal 19 agustus dan juga menambahkan catatan dibawahnya. Dia menghela nafas, tidak bergerak dari tempatnya barang sesenti pun, seakan membeku.

.

19 August: The Meeting

.

"Selamat sore kak."

.

Awake

Chapter2 : Flag and Before The Meetings

A Hetalia-Axis Power Fanfiction

Disclaimer: I own nothing, Himaruya Hidekazu own Hetalia

Warning: OC Fem!Indonesia, OC (mantan) Propinsi di Indonesia, Pembubaran RI, Pembentukan Negara baru, Alur membingungkan, gaje, OOC (?), genre gak jelas, typo(s), author baru di fandom Hetalia-Axis Power.

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fiction ini, dan tidak bermaksud menyinggung pihak manapun, pun cerita ini tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata.

.

Jakarta, 18 agustus

Surabaya memeriksa kopernya, memastikan semua barang yang diperlukannya selama lima hari di belahan dunia yang lain ada disana.

Bukannya dia mau menyebrang ke alam yang lain atau apa, tapi lima hari di Amerika tentu saja memerlukan lebih dari sekedar dua kaos oblong, celana jeans, dan sebuah uang bernominalkan 1 USD. Oh terutama celana dalam, kau butuh lebih dari yang sedang kau pakai saja.

Baiklah, pikiran sinting apa tadi itu? Singkirkan.

Surabaya menaikkan kacamatanya, memandang kopernya sekilas sebelum berpindah mengamati ruangan yang ditempatinnya.

Sebuah tempat tidur single yang masih berantakan dibelakangnya, dengan lampu tidur di kanan-kiri, dua buah lukisan terpasang di dinding, sebuah coffetable dengan dua sofa di depan jendela besar di seberang ruangan, sebuah meja rias dengan kaca besar disamping lemari pakaian, sebuah meja dengan banyak laci dilengkapi televisi yang bertengger manis diatasnya.

Tidur di kamar di hotel bintang lima dengan seluruh room-service yang mahal memang sebuah relaxsasi tersendiri (Terutama karena biaya ditanggung Jakarta.) dan Surabaya dengan senang hati memakai semua fasilitas yang ada.

Berjalan mendekat ke jendela, Surabaya menemukan pemandangan jalanan kota Jakarta yang penat.

.

"Ah, dan lihat semua bendera yang dikibarkan itu!"

.

Jika saja Jakarta tidak memintanya untuk pergi ke meeting di Istana negara nanti dan juga Wolrd Conference itu, tentu saja saat ini Surabaya tengah duduk di teras rumahnya sambil menikmati segelas teh hangat dan mencoba untuk sesaat melupakan segunung paper work yang dianugerahkan kepadanya.

Dan itulah salah satu alasan kenapa dia disini sekarang, memandangi pemandangan kemacetan lalu-lintas dari jendela kamar hotelnya setelah menikmati berbagai fasilitas hotel yang uhuksupermahaluhuk ini secara gratis: Surabaya sendiri sudah penuh dengan tugas, kenapa pula ia harus ikut campur dengan urusan Jakarta?

Jadi sebagai ganti Wolrd Conference di Amerika itu (dan entah tugas apa yang akan dianugerahkan lagi kepadanya setelah ini.) Jakarta harus rela (jika menurut prediksi Surabaya dengan memperhitungkan gaji Jakarta dengan biaya yang harus dibayarkannya sebagai honor Surabaya) makan nasi dengan garam saja selama sebulan kedepan. Ah, Surabaya tersenyum bahagia membayangkannya.

Oh, tadi disebutkan salah satu bukan?

Alasan lainnya? Ah, sebenarnya Surabaya pun akan menginap di hotel (yang lebih murah, pastinya.) jika dia memang harus ke Jakarta, seperti kemarin. Surabaya ada disini juga karena Jakarta tiba-tiba berubah baik, macam koruptor yang menyuap hakim dan menawarkan, 'Sur, nggak ambil cuti dari sana dulu? Menginaplah sehari dua hari lagi disini. Ada hotel bagus baru buka tuh, ntar aku yang bayar' Surabaya menerima.

...Ya Tuhan, bersihkan darah di hidungmu itu. Surabaya menginap sendirian. Apa Elizaveta baru saja menghipnotismu?

Alasan yang lainnya adalah karena, ia tidak mau tidur barang semalam pun di rumah itu.

Bukan, bukan karena rumahnya penuh dengan hantu atau makhluk supranatural lainnya, Surabaya sudah kebal dengan yang seperti itu.

Tapi yang ditakutkannya akan muncul adalah sosok 'hantu' yang lain.

'Hantu' yang tidak akan hilang meski di hadapkan dengan bacaan ayat suci berapa kalipun, tidak akan lenyap karena jampi-jampi sesakti apapun, bahkan kebal terhadap senyuman 'manis' milik seorang personifikasi Russia sekalipun.

'Hantu' yang merupakan bagian dari dirinya (atau dirinya merupakan bagian dari 'hantu' itu?) yang dulu selalu memeluknya, dulu selalu berjuang bersamanya, yang begitu ia kagumi.

.

"Ah, tunggu. Bendera siapa itu?"

.

Yang sekarang hanya merupakan memorinya yang selalu meminta 'bermain' keluar dengan perasaannya setiap saat ia menatap rumah itu.

Dan juga setiap saat ia melihat tiang bendera berkarat di depan rumah itu yang tidak melakukan tugasnya.

Karena mereka semua tidak ingin tiang itu mengibarkan bendera selain bendera dwi warna yang gagah itu disana.

.

"Kenapa tidak ada satupun milikku?"

.

Jam tangan yang melingkari pergelangan kirinya menunjukkan pukul 11:01.

Surabaya mengalihkan pandangannya dan segera bersiap pergi menuju Istana Negara.

.

.

Istana Negara, 12:11

"Edan, Piye carane Jakarta bertahan hidup di belantara kendaraaan ini?!"

Surabaya, yang baru saja lulus dari belantara kendaraan yang berbaris rapi, langsung keluar dari mobilnya yang diparkir, berlari dengan kecepatan cahaya dengan satu tujuan: masuk Istana Negara lewat pintu, bukannya manjat jendela.

Dugaannya benar, perjalanan dari hotel ke Istana Negara akan makan waktu, padahal kalau saja tadi tidak perlu antri dengan rapi seperti itu, 15 menit juga nyampe!

"Oi, Sur!"

Mendengar namanya dipanggil, Surabaya menoleh.

Bandung, melambai-lambaikan tangannya sambil berlari ke arah Surabaya.

Surabaya berhenti, menunggu Bandung untuk sejajar dengannya dan kemudian mereka berjalan bersama menuju ruangan sempit yang hanya diketahui sebaigan orang; kantor sang personifikasi negara.

"Kau dipanggil Jaka buat meeting nanti?" Bandung bertanya, sambil membenahi beberapa dokumen dalam pelukannya.

"Iya, juga buat nemenin dia ke WC."

Bandung berhenti mendadak.

...

"Hah?"

Surabaya sadar ada kata ambigu di kalimatnya,"Wolrd Conference! Di Amerika! Jangan mikir yang aneh-aneh!"

"Oh... Kiraiin~"

"Kirain apa?!" Surabaya membentak, anda bisa dengan jelas melihat mukanya memerah.

"Emang apaan?"

Surabaya diam seribu bahasa.

Helaan nafas dari sang Paris van Java, "Makanya, pergaulan itu dijaga, Sur. Elizaveta sama Kiku-san emang baik, tapi kamu sudah terjerumus terlalu dalam."

Surabaya diam, cengo. Ah, ingin sekali rasanya melempar sepatu ke muka saudaranaya ini.

"Tapi tadi kamu bilang di Amerika?"

Surabaya yang masih gondok hanya mengangguk.

"Bukannya di Malaysia ya?"

...

"Hah?"

.

.

.

Istana Negara, Kantor Personifikasi Negara, 14:00

Pemuda itu memandangi sebuah kertas dalam genggamannya. Ya, memandangi, bukan membaca. Pikirannya sudah jauh melayang-layang di langit sebuah ruangan berbentuk kubus yang ia sebut di sebagian hari normal sebagai 'Kantor' dan sebagian hari yang lebih sial sebagai 'Penjara'.

Jakarta menghela nafas, Surabaya menolak. Yah, awalnya.

Oke, jauhkan pikiran Shonen-ai dan Indocest dari pikirian kalian. Yang kita maksud adalah Surabaya menolak ajakan-perintah-Jakarta untuk ikut WM.

Tapi setelah diingatkan akan fasilitas hotel yang sudah dinikmatinya dengan menggunakan uang Jakarta, Surabaya jadi marah-marah dan langsung pergi keluar begitu saja (dengan alasan mencari kemenyan untuk menyantet). Sudah pasti tidak akan kembali untuk menghadiri meeting di Istana Negara.

Jakarta kembali memandang kertas digenggamannya.

Sebuah helaan nafas.

18 Agustus...

Hari ini, bertahun-tahun yang lalu...

.

"Kenapa?"

.

Jakarta memandang kertas dihadapannya, tidak, tidak membaca. Karena sungguh, ia tidak ingin dan tidak sanggup membacanya.

Ia begitu mengenal nama-nama yang memberikan tanda tangan, bukti persetujuan mereka di kertas itu.

.

Oh ya, mereka saudaramu, sayang. Tentulah kau mengenal nama-nama mereka.

.

Ia bisa melihat negara-negara wakil United Nations yang menjadi saksi di perjanjian ini.

Familiar dengan mereka? Tentunya iya.

Dan ia bisa melihat orang yang nasibnya dirundingkan disini.

Wanita itu, duduk dalam diam di kursinya, memandang lurus ke depan, tatapan kosong di wajahnya. Dan dibalik semua itu kau bisa melihat kesedihan dan kilat kekecewaan.

Jakarta memandang bahu wanita itu, segan untuk menatap mata Sang Garuda.

Dan dia bisa melihatnya, semua luka yang wanita itu derita, semua yang tersembunyi dibalik seragamnya yang berlengan panjang, yang tersembunyi dibalik senyumannya, dibalik semua seruan cerianya.

Dibalik topeng wajahnya.

Jakarta memalingkan muka, mencoba memasang topeng di wajahnya sendiri.

Agar dia tidak menangis, saat wanita itu pergi.

.

"Dimana semua warna yang berani dan suci itu?"

.

Surabaya benar-benar cari kemenyan.

Ya, sayangnya tidak ketemu. Yah, karena Surabaya nyari kemenyannya di mall, lebih spesifiknya di Starbags [1] ditemani segelas minuman-apalah namanya itu tadi- yang sama sekali tidak disentuhnya.

Surabaya tahu, Jakarta mengajaknya bukan tanpa alasan, tidak memberi tahu dimana tempat WM dilaksanakan secara langsung bukan tanpa alasan juga.

Heh, bahkan alasan kenapa Wolrd Meeting tahun ini dilaksanakan di Malaysia, alih-alih di markas PBB atau di negara Eropa yang jadi langganannya pun, Surabaya tahu.

Karena saudara-saudara, masih ingatkah kalian ini bulan apa?

Ya, Agustus.

Karena tanggal 19 Agustus, Negara ini menyatakan kemerdekaan.

Ah, ya. Hiasan bendera-bendera kebangsaan mereka terpasang di rumah-rumah penduduk sipil.

Jangankan penduduk sipil, lihat saja sekelilingnya, nuansa patriotis dan cinta negara sudah sangat terasa.

Tapi Surabaya sudah lama berhenti merayakan 'kemerdekaan'. Tidak pernah, sejujurnya.

Bahkan sejak Jakarta menjadi seorang personifikasi ganda dari sebuah negara dan kota. Surabaya tidak pernah merayakan 'Kemerdekaan'.

.

"Memangnya apa arti kemerdekaan bagimu? Ah, kau bahkan tidak pernah terbelenggu."

.

Upacara di Istana negara? Tentu dia hadir. Tapi yang dinamakan sebagai merayakan memiliki arti yang lebih dalam daripada mengangkat tangan untuk memberi hormat kepada sebuah tiang dengan bendera yang terikat diatasnya.

Bendera yang selalu ingin diturunkannya, dirobek, dan digantinya.

Diganti dengan yang lebih pantas. Salah. Dengan yang sepantasnya ada disana.

Ya, Agustus dan Asia Tenggara.

Itu berarti masalah yang akan dibahas adalah masalah...

.

"Kau pikir perjuangan kami semudah itu?"

.

Surabaya berdiri, gemetar. Bukan. Bukan karena takut. Tapi karena marah.

Luar biasa marah.

'Dia pikir siapa dia?!' Pikirnya.

Langit itu, di langit birunya, diatas kotanya. Lihat bagaimana secarik kain itu menghilangkan keindahan lukisan Tuhan diatasnya.

Bendera Triwarna itu berkibar. Tak tahu malu.

Sungguh.

Seorang personifikasi bisa merasakan apa yang dirasakan rakyatnya, Surabaya bisa dengan jelas meraskan apa yang ratusan orang disekitarnya, yang memenuhi jalan ini rasakan.

Marah.

Surabaya masuk ke bangunan itu. Diikuti bosnya, Residen Soedirman, dan dua orang pemuda, Sidik dan Hariyono.

Memasuki hotel, sedikit membentak resepsionis dan menemukan apa yang dicarinya.

Ah, lebih tepatnya, siapa.

Orang itu duduk dengan santainya, merokok. Heh, seperti Surabaya tidak tahu kebiasaannya saja. Oh, ayolah! Ratusan, catat itu, ratusan tahun bersama seseorang, yang dibenci sekalipun, pasti membuatmu mengenal semua perilaku dari orang itu.

Ah, justru karena kau membencinya, kau akan lebih mengenalnya, karena kau akan memperhatikannya, setiap jengkal dari dirinya, dimana kemampuannya, apa yang dia suka, apa kebiasaannya, dan yang paling penting: apa kelemahannya.

Surabaya tersenyum, Ah, sebagai TUAN RUMAH yang baik, sebagai orang yang BERKUASA disini, tentulah sepantasnya ia bermanis-manis dengan tamu-tamu sialannya.

"Selamat siang tuan. Bisa kita bicara sebentar?"

Yang ditanya hanya memandang keluar jendela. Tanpa memberikan satu kesan pun bahwa ia mengetahui bahwa Surabaya ada.

"Saya bisa lihat ada sebuah bendera Belanda dikibarkan diatas bangunan ini, tuan. Dan karena kami, rakyat kami yang berada di Surabaya sedang melaksanakan gerakan pengibaran bendera nasional kami secara serentak, saya rasa bendera itu tidak sepantasnya dikibarkan karena itu melukai perasaa rakyat kami."

.

Terima itu Tuan, seluruh hal disini adalah milik kami. Bukan milikmu.

Bukan lagi.

.

Orang benua biru di hadapannya hanya berhenti merokok dan memandang ke bawah-ya, dia lebih tinggi-ke Surabaya dengan sinis.

Jika yang menatap Surabaya sekarang bukanlah seorang Konkrijk de Netherland, Percayalah, orang itu akan langsung kocar-kacir dihadapan mata setajam Garuda dan senyuman sedingin es yang terpampang di wajah yang terangkat penuh harga diri itu.

"Ah, Apa yang kalian lakukan bukan merupakan urusan kami kan?"

Surabaya geram, "Tuan, anda sekalian sedang menginjak harga diri dan perasaan kami dengan mengibarkan bendera itu. Karena bendera itu menghina kedaulatan kami."

"Kedaulatan sebagai apa, boleh kutanya?"

Kesabaran habis.

"Sebagai Negara! Akuilah dasar kau Kompeni brengsek! Kami sudah MERDEKA!"

Tawa sarkastik pelan,"Tidak ada yang perlu diakui, bocah."

Dari luar hotel para pemuda Surabaya bisa mendengar kekacauan. Pertama, sebuah letusan senjata api, kedua suara perabotan terguling, kemudian suara pistol lagi.

Dan dari pintu hotel keluar dua manusia, ah, tiga.

"Pak! Sidik pak!"

"Sudahlah, Sidik sudah mati! Dia pahlawan!"

"Bapak kembali saja! Saya ada urusan disini!"

Dengan itu Surabaya kembali masuk ke bangunan itu, dikejar oleh Hariyono dan segerombolan massa pemuda Surabaya.

Tidak mudah untuk mencapai tangga. Para tentara Belanda itu mencoba menghalangi, ah, tapi mereka kalah jumlah.

.

Oh, tuan-tuan dari tanah biru yang terhormat! Dengarlah seruan marah banteng-banteng ini, lihatlah kilatan di mata para pemuda yang dareh merahnya masih mengalir ini.

Dan rasakan perasaan mereka.

Cinta mereka akan tanah ini.

.

Berhasil mencapai tangga, Surabaya terus naik. Sampai di atap.

Dan Surabaya bisa melihatnya. Bendera itu.

Bendera itu diturunkan dengan paksa. Dan Surabaya, dengan senyum lebar, hampir-hampir tertawa, menyobek sebuah bagian warna yang mengganggu di susunan bendera itu dengan kasar, membiarkannya pergi ditiup angin miliknya entah kemana.

Mengibarkan kembali sebuah bendera yang telah meraih harga dirinya, Surabaya tersenyum lebar, didengarnya kata-kata sakti yang selalu saja membuatnya dan kakaknya tersenyum.

"MERDEKA!"

.

"Mas? Bangun mas."

Surabaya terbangun, di situasi awkward.

Di tengah mall yang ramai, dia tertidur, dilihat banyak orang dan dibangunkan seorang waitress cantik yang memandangnya... uh... jijik?

Dan sudahkah kukatakan mejanya banjir dengan enzim pembunuh kuman? Iler, maksudnya.

Menghapus cairan di mulutnya dengan sekeren mungkin, Surabaya berdiri, menyelesaikan urusannya, dan pergi dari situ.

"***! Kok iso, aku keturon neng kono?!" [2]

Surabaya yang merasa ini hari sialnya berjalan keluar dari mall dan mendapati dirinya memandangi bendera sialan yang terpasang dengan santainya dihadapannya.

Dan sesaat dia lupa bahwa bendera itu adalah bendera yang seharusnya merupakan bendera kebanggaannya.

Selama sesaat ia kembali ke tanggal 20 September 1945, di hari dimana dia berdiri diatas sebuah hotel yang menjulang di rumahnya dibawah langit yang akhirnya bisa dikaguminya dengan bangga, tersenyum kepada sebuah eksistensi dari dua carik kain berbeda warna yang dijahit menjadi satu, dimana dialah yang merobek satu warna yang lain, yang kemudian ditiup angin entah kemana.

Sesaat, dia merasakan sensasi itu lagi.

Keinginan untuk memanjat tiang itu, merobek bendera dan mengibarkannya lagi.

Menjadikan bendera itu lebih pantas, salah, menjadikan bendera yang sudah sepantasnya ada disana itu berkibar sebagaimana seharusnya.

Sesaat. Selama sesaat, dia kembali menjadi seorang pemuda berdarah panas yang tidak sabaran.

Kembali menjadi dirinya.

.

"Karena tidak, sungguh. Kami berjuang lebih dari yang kami bisa untukmu."

.

Tbc!

Footnotes:

[1] Iya, saya tahu. Tapi saya nggak dibayar buat iklan!

[2] "******! Kenapa aku bisa ketiduran disana?!"


Omongan Author:

Lama banget nggak updaateee! Aah! Toloong!

Maap. Ini FAIL banget ya? ya ampun... saya nulis asal-asalan... ARGH! Yay... saya tahu deh.. saya labil (?)

Yah, kalau anda mendukung saya agar tidak hiatus silahkan review...

Btw, saya pengen nunjukkin OC dari kalimantan dan dari Papua... tapi nggak tahu mereka sifatnya gimana.. bisa minta saran?

Dan enaknya Bandung itu fem atau male?

Silahkan kasih pendapat di review... :)

Yeah... REVIEW!