Requiem: Dead Soul
Genre : Fantasy, Adventure, Romance, Supernatural, Drama
Rating : T
Character : Rin. K, Len. K, Miku. H, Kaito. S
Summary :
Seperti sebuah bayangan. Mereka ada namun selalu bersembunyi dari sinar Matahari. Sebuah kelompok misterius yang beranggotakan enam orang dipimpin oleh seorang Iblis Sejati. Merekalah sang legenda, Silhoutte.
*
Gelap.
Tentu saja.
Allen Demirrorta suka dengan kegelapan.
Dia melangkah lebih jauh menuju dunia yang lebih gelap, kelam, dan sulit untuk disadari oleh Manusia biasa. Berlokasikan di sebuah gang sempit tanpa penghuni dan minat, tepat berada di ujung jalan Crypton yang buntu tertutup beton. Disanalah Len berjalan tanpa diketahui oleh orang lain.
Hingga sampai di ujung paling gelap dan suram, cahaya terang menderang tiba – tiba menyergap mata biru safirnya. Len masih membuka mata dan memilih untuk berbelok ke sebelah kiri. Ingatan, bahkan gerak tubuhnya terlampau terbiasa.
Ya. Karena dia adalah bosnya dari tempat ini. Dalang dari pembuatan markas rumit nan aneh.
Setelah sampai di sebuah Chateau megah keperakan, Allen masuk begitu saja. Dua orang telah menunggu di ruang tamu, duduk saling bersender mesra. Salah satu dari mereka adalah orang yang Len selamatkan beberapa tahun lalu dan lihatlah, ia telah menjadi pemberontak manis yang berbakat.
Allen Demirrorta duduk di sofa single pada pangkal ruangan, dekat dengan pintu masuk yang (sesungguhnya) tidak terlihat oleh mata biasa. Matanya menatap nyalang kepada dua pasang (bukan) Manusia yang duduk di sofa lain di hadapannya. Len mendecih kesal lalu tanpa sadar mendengus kasar. Tidak tahukah Len bahwa emosinya itu Sembilan puluh delapan persen mempengaruhi panas dinginnya ruangan? Akibat kelalaian dari bos besar, kedua orang yang menjadi dalang dari emosi Len akhirnya sadar. Mereka mengeluh.
"Kaichou, sebaiknya kau perhatikan dan rasakan lebih baik suhu ruangan saat ini." Sindir seorang laki – laki tinggi bersyal. Surai dan irisnya biru bagaikan laut, dengan suara yang serak basah. Dan seharusnya ialah yang lebih merasakan suhu ruangan, karena di tempat yang sudah sepanas ini mengapa laki – laki itu masih saja mengenakan syal?
"Kamu butuh kaca, Kaito." Timpal seorang gadis, Miku.
Lihat! Bahkan pacarnya sadar akan keanehan itu.
Len kembali ke mode seriusnya. Sungguh ia tampak manis dan tampan, dengan surai kuning gading yang diikat ponytail, juga poni panjang yang hampir menutupi sebagian iris safirnya. Indah bagaikan langit cerah di pagi hari. Sayang tinggi Len adalah rata – rata. Hanya mampu mencapai seratus enam puluh tiga diusianya yang telah menginjak angka dua puluh.
Dasar Shota.
"Kaito, sudah kau selidiki perkembangan Crypton Vocademy?"
Kaito mengangguk. Ia dan Miku juga berada dalam mode serius. Kaito menyodorkan lembaran – lembaran kertas berisi laporan pengamatan selama sebulan ini pada Len. Dalam kurang dari lima belas menit semua kertas itu sudah menjadi tidak berguna baginya, karena bos telah membaca keseluruhan.
Seperti biasa kemampuan membaca supersonic Len terlalu luar biasa.
"Kondisi yang mengerikan. Aku heran kenapa akademi itu masih bisa berdiri sampai sekarang, dengan semua serangan – serangan psikis dan fisik dari lebih dua puluh Undine? Semua tidak masuk akal."
Miku mengerjap berulangkali. Bahkan untuk melawan dua Undine saja cukup bisa membuat ia kerepotan dan lihat, akademi itu bisa selamat dalam sebulan ini padahal ada lebih dari dua puluh Undine menyerang? Miku tak habis pikir. Mungkin Kaito yang sudah gila, pikirnya.
"Benar, Kaichou. Itulah kondisinya. Bahkan aku tidak menyadari bahwa sedari dulu alasan mengapa akademi itu baik – baik saja, padahal bukan hanya kali ini mereka kedatangan Undine. Hanya saja jumlah kali ini empat belas kali lebih banyak." Kaito berdiri lalu mengambil sesuatu dari ruangannya yang terletak agak jauh dari ruang tamu. Sekembalinya Kaito ia langsung menyerahkan sejumlah dokumen tambahan. "Setiap bulannya ada ada dua Undine yang menyerang dan sekarang terhitung ada dua puluh delapan Undine yang menyerang akademi itu secara bersamaan."
Miku dan Len tersentak kaget. Kemungkinan perkataan Kaito itu terjadi sangatlah kecil, dan anggap saja hampir mustahil karena kejadian tersebut tercatat hanya pernah sekali terjadi di masa lampau. Itu pun lebih dari seribu-duaribu tahun yang lalu.
Merasa tidak yakin Len pun membaca dokumen – dokumen tersebut. Matanya membelalak kaget. Dunia memang aneh dan terlampau gila.
"M-mustahil! Bahkan selama lima tahun didirikannya Silhoutte tidak ada Undine yang pernah bekerja sama. Sekalinya bertemu mereka langsung berbaku hantam menghancurkan sesame. L-lalu kenapa!?" Sangkal Len.
"B-benar! Itu…. Terlalu mustahil untuk terjadi." Tambah Miku seraya terus meyakinkan dirinya.
Hinga Kaito menambahkan sebuah informasi yang tak kalah mengejutkan.
"Lost Magic dan Divine Sacred Arms. Mereka saling berhubungan dengan kejadian ini."
"Maksudmu? Darimana kau tahu semua informasi ini, Kaito?"
Kaito menghela napas. Ia sedikit tegang. Jujur saja Kaito juga kaget dan ….tak tahu harus berbuat apa.
"Dia memberitahuku secara Cuma – Cuma. Walau hanya secercah informasi. Dia—gadis itu sangat misterius. Asal – usulnya tidak aku temukan dimanapun. Nama gadis itu adalah Rin. Kagami Rin. Percaya tidak percaya dialah yang membershikan segala kekacauan di Crypton Vocademy. Dan Rin berkata bahwa dia akan mengatakan semua yang ia ketahui, jika Kaichou berkenan bertatap muka langsung dengannya."
Allen Demirrorta benci dengan keadaan seperti ini. Ia tidak menyukai sensasi saat muncul di depan umum. Dan gadis bernama Kagami Rin itu meminta mereka untuk saling bertemu, dengan harga informasi – informasi penting yang sangat Silhoutte butuhkan? Benar – benar gadis sialan. Dia tahu saja kalau mereka memang membutuhkan semua informasi tersebut.
