Part 3
.
.
.
.
.
.
.
.
Perpustakaan kota adalah hal utama yang di cari oleh para pelajar, terutama jika sudah berada di akhir semester. Hari ini, akhir pekan dimana semua orang tengah terbebas dari masalah sekolah ataupun beberapa pekerja kantoran. Namun, tidak untuk Baekhyun.
Akhir semester adalah tanda perang untuknya, jadi untuk menghadapi perang itu, Baekhyun harus mempunyai banyak senjata untuk menang. Ia tidak mau mengecewakan orang tuanya. Menjadi anak yang baik, pintar dan kebanggaan orang tua, adalah hal sederhana yang selalu Baekhyun ingin lakukan.
Melihat bagaimana orang tuanya tersenyum adalah definisi bahagia yang sangat utama untuk Baekhyun.
Duduk di perpustakaan kota dengan beberapa buku, tangan yang beberapa kali sibuk menuliskan jawaban dari contoh contoh soal, adalah kegiatannya saat ini. Perpustakaan kota tidak terlalu ramai, namun tidak bisa di bilang sepi juga.
Duduk di sana selama hampir 2 jam, membuatnya lapar dan haus. Karena itu, Baekhyun memutuskan untuk menghentikan kegiatannya dan pergi ke kantin kecil yang di sediakan perpustakaan.
Dengan satu kotak susu dan roti isi daging menjadi pilihan sederhana Baekhyun untuk mengisi perutnya.
Mata kecil itu menatap meja tempat ia belajar sebelumnya terdapat orang lain disana, langkahnya semakin dekat. Tangannya menarik kursi dan duduk kembali di sana, dimana sebelumnya ia memberikan senyum sopan kepada sosok pria di hadapannya.
Baekhyun kembali mengerjakan soal-soalnya dengan tangan lain yang memegang satu potong roti isi yang ia makan perlahan.
Ponselnya bergetar, tertera nama ibu disana.
Ibu menghubunginya dan menanyakan keberadaannya. Meminta Baekhyun untuk segera pulang dan makan siang. Baekhyun hanya menjawab ia akan pulang sebentar lagi.
Lalu sambungan itu terputus, Baekhyun kembali meletakan ponselnya dan mengucapkan kata maaf dengan suara kecil, yang hanya di balas dengan senyuman kecil oleh pria di hadapannya.
Alasan ia mengatakan maaf, karena pria itu terus menatapnya ketika ia tengah berbicara dengan ibu, dan ia berpikir mungkin saja aktifitasnya tadi menganggung pria di hadapannya.
Setengah jam setelahnya, Baekhyun merapikan buku-bukunya untuk segera pulang. Jam sudah menunjukkan hampir pukul satu siang.
.
.
.
Setelah mandi dan berganti pakaian Baekhyun menuju dapur untuk makan siang, karena sungguh ia sangat lapar saat ini. Ibu ada di dapur tengah membuat kue, suara lembut wanita paruh baya itu berujar memberi tahu Baekhyun jika sup dagingnya sudah di hangatkan.
"Ibu senang kau menghabiskan waktu untuk belajar, tapi jangan lupakan tubuhmu." Ujar ibu yang hanya di balas kekehan oleh Baekhyun.
"Ayah akan pulang besok?" Ibu bergumam menjawab pertanyaan Baekhyun, lalu menyuapkan satu potong kue pada putra tunggalnya.
"Kenapa rasanya asin sekali?" Ibu terkejut, ia segera mencoba sepotong kue dan berjengit ketika rasa asin terkecap oleh lidahnya.
"Bukankah kau yang mengisi persedian dapur?" Baekhyun mengangguk, lalu tak lama kemudian ia menepuk dahinya dan berdiri mendekati pentry. Keduanya tertawa, ibu memukul kecil bokong putranya dengan gemas.
"Oke, oke, maafkan aku ibu hahaha," Baekhyun kembali melanjutkan makannya, hingga kembali terhenti karena mendengar suara dering ponsel. Ia segera berjalan menuju kamarnya, dan memeriksa tas dimana ponselnya berada.
"Noona?" Tanya Baekhyun entah pada siapa ketika melihat nama noona disana. Tangannya ia bawa untuk melihat setiap sudut ponselnya, namun tak ada masalah. Ini memang ponselnya.
Terlalu lama berpikir, panggilan itu pun terputus.
Baekhyun dengan segera membuka ponsel dan tampilan lockscreen ponsel ini berbeda dengan ponselnya.
Tak lama setelahnya, panggilan yang sama muncul, ia segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.
"Halo,"
'Akhirnya, apa kau pria yang ada di perpustakaan kota tadi siang?' Baekhyun terdiam untuk beberapa saat, dan kembali teringat dengan pria yang tadi siang duduk di hadapannya. Ah, ceroboh – gumamnya pada diri sendiri.
"Ya, apa ponsel kita tertukar?"
'Ya, apa kau tidak menyadarinya? Sedari tadi aku menghubungi ponselku.' Terdengar suara kekehan rendah di seberang sana, tanpa sadar itu membuatnya merasa aneh.
"Ah, maaf. Aku juga baru menyadarinya ketika mendapatkan telpon darimu."
'Boleh tau dimana rumahmu?' matanya terbelak, "Hah? Untuk apa?"
'Kkkk, tentu saja untuk menukar kembali ponsel kita.' Suara kekehan itu kembali terdengar, suara berat pria itu membuat suara kekehannya terdengar seksi – sht! Apa yang aku pikirkan rutuknya sendiri.
"A-ah, kita bisa bertemu kembali di perpustakaan kota, bagaimana?"
'Baiklah, aku akan disana setengah jam lagi. Dan kau bisa memanggilku Chanyeol Hyung.' Jelas pria itu yang mana hal itu membuat Baekhyun kembali terkejut.
"A-ah, baiklah Cha-Chanyeol Hyung."
Panggilan itu terputus, dan Baekhyun memukul bibirnya merutuki kebodohan dan juga kegugupannya. Kenapa ia harus memikirkan hal aneh seperti itu. Dan dilanjutkan dengan pikirannya yang sedari tadi mengingat nama pria itu. Chanyeol.
.
.
.
Setelah memutuskan sambungan itu ia menghampiri Yoora – Kakaknya untuk mengembalikan ponsel. Sedari tadi ia terus tersenyum membuat Yoora mengerut aneh melihat tingkahnya, dan yang ia lakukan hanya terus tersenyum tanpa memperdulikan tatapan aneh sang kakak.
"Apa kau sengaja menukarnya?" Tanya Yoora dengan tatapan menuduh pada sang adik, Chanyeol mendengus lalu duduk di hadapan Yoora dengan tenang.
"Ini yang di namakan dengan akhir benang merah," Yoora berdecih, lalu memukul kepala Chanyeol dengan cukup kerasa dimana hal itu membuat pria itu berteriak sakit dengan kelakuan sang kakak.
"Jadi, kau benar-benar jatuh di pandangan pertama?"
"Senyumnya menarikku terlalu jauh," Oh lihatlah tatapan berbinar pria itu, senyumnya bahkan tertarik begitu lebar mengingatkan akan kekasih Harley Queen.
"Sejak kapan kau jadi melankolis seperti ini, ah benar, ini pertama kalinya juga aku melihatmu begitu tertarik pada seseorang," ujar Yoora dengan wajah mengejek. "Bahkan kau tidak tau namanya, tapi sudah bertingkah layaknya kau tau segalanya."
"Baekhyun. Byun Baekhyun. Berada di tahun akhir JHS," Yoora membulat, mulutnya bahkan sampai menganga dengan tidak elit, menatap sang adik dengan tatapan horror.
"Kau penguntit?!" Bantal sofa melayang dan tepat jatuh di wajah Yoora, namun wanita itu hanya mengabaikannya dan masih menatap horror pada sang adik.
"Dia meninggalkan bukunya juga," Jelas Chanyeol pada Yoora, yang membuat Yoora mengangguk mengerti, "Ah, atau mungkin dia yang sengaja menukar ponsel kami dan meninggalkan bukunya untuk berkenalan denganku?" kembali senyuman lebar dan tatapan berbinar itu terpampang dia wajah aneh sang adik – Menurut Yoora.
.
.
.
TO BE
Romance Drama
Park Chanyeol x Byun Baekhyun
Park Yoora and Other cast
.
.
.
.
.
"Kau sungguh bos yang seenaknya," desis Baekhyun ketika ia merasakan ada tangan yang melingkari tubuhnya dengan erat dari balik punggungnya.
"Ada apa?" Tanya Chanyeol dengan santai, tidak mengerti sindiran sang kekasih.
"Bukankah aku bilang akan menunggumu selesai bekerja," Chanyeol mengangguk di bahunya, sudah mengerti kemana arah bicaranya.
"Rapatnya tak begitu penting, Jongin bisa menggantikanku," Sekali lagi, suara baritone itu berbicara dengan santai, membuat yang lebih mungil mendengus, lalu mendorong menjauh tubuh tiang itu dengan kasar.
"Hey, kenapa kau marah? Kau tau, disini aku selalu memperiotaskanmu sayang," dan yeah, itu membuat yang lebih mungil mendesir malu walaupun dengan wajah merajuk seperti itu.
"Jadi makan siang apa kali ini?" tanya Chanyeol lagi, kembali memeluk Baekhyun dari belakang.
"Apa kau akan kembali ke kantor setelah makan siang?"
"Apa kau ingin aku ke kantor setelah makan siang?"
"Hey, ketika orang bertanya, kau harus menjawabnya bukan malah memberikan pertanyaan kembali, dasar tiang menyebalkan," dia gemas, pria tinggi itu gemas, ia menggigit telinga Baekhyun dengan gemas, yang mana hal itu membuat si empunya berteriak sakit dengan menyikut perut si tinggi.
"Kau idiot, itu sakit bodoh," Semakin menggemaskan, bukannya berhenti, melihat bagaimana cara kekasihnya mengumpat membuat ia semakin gemas. Menangkup rahang si mungil lalu meraup bibir kekasihnya dengan lembut.
Melumatnya dan terus melumatnya. Ciuman itu semakin intim dan menuntut dengan segala gairah Chanyeol dan kepasrahan Baekhyun akan lumatan lembut penuh nafsu si tinggi.
Hingga Baekhyun tersadar dengan masakannya, ia mendorong tubuh besar Chanyeol lalu mendesis meminta kekasih besarnya untuk mengganti pakaian yang lebih santai jika ia tidak akan kembali lagi ke kantor.
.
.
"Aku bosan sekali, tapi tugas akhirku menumpuk lebih banyak dari pakaianku. Menyebalkan," Chanyeol terkekeh mendengar keluhan si mungil, "Ingin jalan-jalan?"
Dan Baekhyun melemparinya dengan sendok.
"Kau bodoh atau idiot. Aku mengatakan tugas akhirku menumpuk." Baekhyun menekankan kalimat terakhirnya dengan menatap jengah pada Chanyeol.
"Tapi kau juga mengatakan bosan, apa aku salah lagi?"
"Ya! Kau. Memang. Salah."
Dan Chanyeol hanya bisa meringis mendengar desisan kejam si mungil. Ia hanya mencoba untuk memberikan perhatian, tapi tak pernah tepat sasaran. Selalu saja. Selalu salah.
"Jadi..." Chanyeol masih mencoba, "Apa?" bentak si mungil, mendengar suara ragu-ragu si besar.
"Apa yang akan kita lakukan setelah makan?" Baekhyun terdiam, terlihat berpikir. Chanyeol menunggu, dengan tatapan penuh harap kepada si mungil yang terlihat menggemaskan ketika membuat ekspresi berpikir seperti itu.
"Kau. Mencuci piring dan rapikan dapurmu. Lalu, bantu aku mengerjakan tugas-tugasku." Dan sudah. Semua harapannya berakhir dengan redupnya binar penuh harap di mata bulatnya.
"Aku merindukanmu, kau mengabaikanku 3 hari belakangan, dan ketika aku penuh harap dengan segala rindu yang menumpuk, kau menghempasku dengan cucian piring dan tugasmu, kenapa kau begitu kejam?" Bariton itu terdengar parau, bahkan ia enggan menatap si mungil, hanya menunduk dan mengaduk sisa makanannya dengan asal.
Dan si mungil hanya terdiam, dengan telinga yang mulai memerah di susul dengan wajah dan bibirnya yang tak bisa ia tahan untuk tak tersenyum.
"Yasudah, kalau tidak mau. Aku juga tidak memaksa."
Baekhyun mempermainkan si besar. Ia bangkit, membawa piringnya menuju wastafel lalu mencucinya dalam diam. Walaupun tanpa Chanyeol sadari, si mungil tengah terkekeh tertahan. Menertawakan sisi melankolis kekasihnya.
Setelah selesai mencuci piringnya sendiri. Ia segera berjalan kembali menuju meja makan. Tepatnya menuju pria besarnya.
"Kau sudah selesai? Biar aku yang mencuci piring kotormu." Chanyeol tersenyum kecut, memberikan piringnya pada Baekhyun dengan gerakan malas.
Ketika Baekhyun kembali sibuk dengan urusan merapikan dapur, si besar hanya mengubur kepalanya di dalam lipatan tangan.
Si besar merajuk. Dan Baekhyun yang sesekali melirik ke arah si besar yang masih bertangkup di meja makan hanya bisa terkekeh dalam diam.
"Jika kau tidak bisa membantu, aku lebih baik pulang dan mengerjakan tugasku sendiri."
Chanyeol bangkit, menatap kekasihnya dengan tatapan memelas.
Oh Tuhan, kuatkan Baekhyun. Itu sangat lucu, bagaimana si besar membuat wajah merajuk seperti bayi yang tengah kehilangan ibunya.
"Kerjakan di sini saja, aku akan membantumu." Lalu si besar beranjak. Berjalan menuju ruang tengah dengan segala beban kerinduan di bahunya.
Dan Baekhyun hanya bisa mengepalkan kedua tangannya untuk menahan seluruh gejolak perasaan yang mungkin sebentar lagi akan meledak.
"Aku melatakan tugasku di kamarmu," ujar Baekhyun ketika Chanyeol hampir saja mendudukkan diri di sofa.
.
.
.
"Kenapa kau membuatnya seperti ini? Bukan begini, Yeol." Geram Baekhyun ketika Chanyeol salah membuat slide untuk tugas powerpoint-nya. Ia menggeser tubuh si besar dan mengambil alih pekerjaannya.
"Aku sudah mengikuti intruksimu, terus saja salahkan aku," desis Chanyeol pada si mungil yang tengah sibuk merapikan powerpoint-nya.
"Apanya yang mengikuti intruksi, lihat bahkan kau memakai font yang salah," ujar si mungil semakin geram.
"Terserah. Kerjakan sendiri."
"Itulah yang aku lakukan sekarang!"
Dan Baekhyun fokus akan tugasnya, mengabaikan Chanyeol yang membanting pintu kamar cukup keras.
.
.
Setelah hampir setengah jam menyelesaikan tugasnya, Baekhyun segera mematikan laptop lalu merapikan buku-buku yang berserakan di atas ranjang Chanyeol.
Ah, benar, dimana si besar itu?
Baekhyun berjalan keluar, melihat si besar yang tengah duduk santai di sofa dengan tatapan datar kepada layar tv yang menampilkan acara Gag konser dari salah satu channel swasta. Sepertinya si besar sedang kehilangan selera humornya.
Baekhyun mendekat, mendudukan dirinya tepat di samping Chanyeol dengan jarak yang begitu intim melihat bagaimana besarnya sofa itu.
Chanyeol mengacuhkannya. Tak ingin menyerah si mungil melingkarkan tangannya pada pinggang si besar dari samping. Menyandarkan kepala pada bahu si besar dengan manja.
"Ingin es krim," rengek si mungil, namun itu tak membuat si besar mengalihkan tatapan datarnya pada layar tv.
"Yeol, ingin es krim. Yeol-ie~ Yeol-ah~" tak menyerah, ia terus merajuk dengan suara rengekan yang lucu. Bahkan jemarinya ia bawa untuk menusuk-nusuk nakal pada pipi si besar.
"Baek ingin es krim, Yeol harus membelikan Baek es krim," tak berhenti, masih dengan usahanya untuk mengalihkan si besar, mencari perhatian si besar.
"Yeol tidak mau membelikan Baek es krim?" senyum merekah cerah dengan mata sipitnya yang terbentuk menjadi bulan sabit yang indah, ketika si besar mengalihkan perhatian padanya.
"Cium aku," ujar si besar, "beri Baek es krim terlebih dulu." Balas Baekhyun.
Chanyeol mendengus. Lalu kembali mengalihkan perhatian kepada layar tv.
"Tak ada ciuman, maka tak ada – Yak!" kalimatnya terpotong, Baekhyun menggit telinga si besar dan menjilatnya seperti ia menjilat es krim.
"Baek ingin es krim. Ingin sekarang. Es krim." Ujar Baekhyun dengan rengekkan semakin menjadi.
Chanyeol menatapnya sengit. Sedangkan yang lebih mungil hanya menatapnya dengan senyuman penuh harap pada si besar.
"Bukannya kau membeli banyak stok es krimmu di kulkas?" Baekhyun terdiam, mengingat apakah ia masih mempunyai stok es krim. Tak menemukan jawaban, si mungil akhirnya beranjak, berjalan menuju dapur dan membuka lemari pendingin milik si besar.
Ada sisa 2 kotak stok es krim miliknya di dalam sana. Senyumnya merekah. Mengeluarkan salah satu kotak es krim dan mengambil sendok. Lalu kembali duduk di samping si besar yang sedari tadi memperhatikannya.
"Mana ciuman untukku?" Baekhyun yang baru saja menyuapkan es krim kedalam mulutnya, segera mendekat pada si besar. Namun gerakkannya kalah cepat dengan si mesum Park. Chanyeol menerjangnya lebih dulu, melumat bibirnya yang masih penuh oleh es krim. Memainkan lidahnya dan merampas es kirim di mulutnya dengan cara yang sangat menjengkelkan.
Si mungil menjauh dan mendengus lucu. Melemparkan tatapan sengit pada si besar yang tengah mengecap rasa es krim yang ia rampas dari mulutnya. Menyebalkan.
"Tugasmu sudah selesai?" Si besar kini mendekatkan diri pada si mungil, membuka mulutnya besar-besar, meminta Baekhyun menyuapkan es krim untuknya.
"Sudah, tanpa bantuan seseorang." Rengut Baekhyun dengan tangan yang sibuk menyuapkan satu sendok es kirim pada mulut si besar.
"Jangan mulai lagi," suara peringatan di berikan Chanyeol, dan Baekhyun terkekeh untuk itu.
"Berbaringlah," pinta Baekhyun dengan tangan yang menepuk pahanya. Meminta Chanyeol berbaring di sana.
"Dia akan pulang bukan?" tanya Baekhyun, si besar terdiam tidak mengerti maksud si mungil. Tapi tak lama setelahnya ia mengangguk.
"Bagaimana kau dan Yeri?" kini Chanyeol yang ganti menyerukan pertanyaan. Baekhyun hanya mengedikkan bahu untuk pertanyaan itu.
"Kau tidak memberitahunya tentang kita?" gelengan Baekhyun berikan untuk pertanyaan Chanyeol.
"Apa harus aku yang memberi tahunya? Mengatakan jika aku telah memasukan penisku pada kekasihnya?" Pukulan keras Chanyeol dapatkan tepat di bibirnya. Terasa sangat panas. Sakit sekali. Pukulan si mungil bukan main-main.
"Idiot!"
"Sakit Baek," rengek si besar, tangannya sesekali mengusap bibirnya yang terasa panas dan perih karena pukulan si mungil.
Baekhyun meletakan es krim di atas bibir Chanyeol dengan asal bahkan sampai ke dagu dan hidungnya, membuat si besar menyerngit kesal dengan kelakuan aneh si mungil.
Sebelum ia berteriak jengkel, Baekhyun terlebih dulu mendekat. Menjilati es krim itu dengan perlahan. Si besar terdiam, menatap wajah kekasihnya yang terlihat sangat intim dengan segala tindak keintimannya.
Mata bulatnya semakin membesar, antara terkejut, senang, dan menikmati bagaimana lidah si mungil menjelajahi wajahnya dengan begitu lembut.
Tindakan manis kekasih mungilnya.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
Yehet.
Semoga kalian bisa ngikutin alur yang aku tulis ya (:
.
.
