Part 4

.

.

.

.

TO BE

..

.

.

.

Chanyeol x Baekhyun

Kim Yeri – Choi Sooyoung and Other cast

.

.

.

..


.

.

.

'Kau tidak bisa menjemputku?'

"Maafkan aku, aku sedang dalam rapat. Sopirku akan ke bandara menjemputmu."

'Tak apa, aku akan naik taksi saja.'

"Hati-hati," helaan nafasnya berhembus kasar. Kedua tangannya ia bawa untuk menutupi wajah lalu sedikit mengusak surainya kasar.

Akhirnya wanita itu kembali. Setelah satu bulan dengan proyek Fashion weeknya di paris, akhirnya ia pulang. Entah harus senang atau berduka akan hal itu. Tapi sepertinya ia lebih banyak berduka untuk kepulangan wanita yang berstatus sebagai istri sahnya itu.

Pertama, tak akan ada Baekhyun yang datang ke apartemennya untuk sarapan bersama. Kedua, tak akan ada Baekhyun yang menginap dan tidur di dalam dekapannya. Ketiga, tak akan ada Baekhyun, tak akan ada. Karena kekasih prianya itu akan menghindarinya.

Benar-benar menghindarinya.

Selalu seperti itu, sejak perjodohan itu bermula. Entah ia harus mengutuk atau mengumpat. Karena saat ini ia ingin melakukan keduanya.

"Tuan Park, rapat di batalkan, Nyonya besar menelepon meminta anda untuk datang ke rumah beliau."

"Kenapa batal?"

"Tuan Kang mendadak tidak bisa hadir karena istrinya sakit dan dilarikan ke rumah sakit," lagi ia menghela nafas berat.

Lalu asistennya itu keluar, meninggalkan Chanyeol yang beberapa kali bergumam frustasi. Baru saja ia mempunyai alasan untuk tidak bertemu wanita itu dan sekarang apa? Ia malah diminta untuk datang ke rumah orang tuanya. Ini gila. Ya. Gila.

.

.

.

"Kau sudah seharusnya menghentikan kontrak pekerjaanmu itu, sayang," ujar Ibu pada Sooyoung yang kini tengah duduk di ruang tengah rumah besar keluarga Park. Chanyeol disana, duduk tepat di samping Sooyoung.

"Tidak bisa, bu. Aku terlanjur menandatangani kontrak kerjaku untuk dua tahun ke depan," ujar Sooyoung dengan wajah menyesal.

"Chanyeol hanya tinggal membayar penaltinya jika begitu," kekehan terdengar dari model cantik itu. Lalu tangannya ia bawa untuk merangkul satu tangan Chanyeol dan menyandarkan kepala pada bahu suaminya.

"Penaltinya bisa menghabiskan 70% sahammu, bagaimana?" Sooyoung berujar jenaka. Menatap Chanyeol dengan tatapan mengejek.

"Kau berusaha membuatku bangkrut?" lalu tawa wanita itu pecah, membuat Chanyeol tanpa sadar juga ikut terkekeh dalam diam.

"Lalu jika begitu kalian pasti akan menunda program kalian?"

"Iya, bu. Aku masih dalam kontrak dan ku rasa memang sudah sewajarnya aku menunda kehamilan."

Helaan nafas terdengar dari wanita paruh baya itu, "ibu hanya tidak sabar untuk menimang cucu dari kalian."

Chanyeol tersenyum pada sang ibu, lalu Sooyoung yang segera beranjak dari duduknya dan mendekati Ibu yang duduk di sofa single. Memeluk mertuanya, dan mengatakan kalimat penenang dan pengertian untuk sang ibu mertua.

.

.

.


.

.

.

Sudah di katakan bukan, jika kekasih prianya itu akan menghindarinya jika wanita itu berada di sekitarnya.

Tak akan ada Baekhyun.

Ya. Dan hal itu sudah terjadi hari ini.

Baekhyun memblokir nomornya. Tentu. Ia selalu melakukan itu.

Percuma seberapa kali ia menghubungi kekasihnya itu tak akan ada suara yang ia rindukan. Menyedihkan. Ya. Itulah dirinya saat ini.

Pintu ruang kerjanya terbuka.

Sooyoung berdiri di sana, dengan nampan di kedua tangannya berisi teh dan kue. Meletakannya di atas meja Chanyeol lalu memberikan senyum cantiknya. Yang Chanyeol lakukan hanya bergumam terima kasih, lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Atau lebih tepatnya menyibukkan diri.

Sooyoung duduk tepat di pinggiran meja kerja Chanyeol, menatap menerawang ke arah jendela besar di hadapannya yang menampilkan langit malam tanpa bintang itu.

"Aku bertemu seseorang di Paris," wanita itu memulai obrolan, sedang pria itu hanya bergumam untuk menanggapi.

"Dan seseorang itu ternyata adalah seniorku ketika di universitas," lanjutnya kini lebih semangat. Senyum terlukis di wajah cantik wanita itu. Ada binar lain di pancaran matanya. Chanyeol yang menyadari nada suara Sooyoung, hanya melirik sebentar pada istrinya itu lalu kembali menyibukkan diri.

"Kau menyukainya?" tanya Chanyeol. Dan langsung dibalas dengan anggukan oleh Sooyoung, walaupun percuma karena Chanyeol tak melihatnya. Ia masih fokus dengan pekerjaannya.

"Ya. Dulu aku menyukainya," terang Sooyoung. Kini, wanita itu menatap Chanyeol yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.

"Lalu?"

"Kau tahu sendiri, jika aku menyukaimu sekarang," ujar Sooyoung yang terdengar kesal. Mendecak. Lalu ia berjalan sedikit memutar untuk berdiri tepat di samping Chanyeol. Tangan lentiknya ia arahkan pada surai suaminya lalu turun hingga ke bahu. Mengelusnya pelan. Sedangkan Chanyeol masih tak bergeming. Terlihat tidak peduli.

"Tapi kau juga tahu, jika aku menyukai orang lain," Sooyoung berdecih, "Kau mengatakannya dengan jelas ketika malam pertama kita." Kini tangannya ia bawa bersedakap dada. Menatap jengkel pada suaminya.

"Maaf."

"Entah kenapa, aku benci setiap kali kau berkata maaf padaku." Chanyeol diam. Keadaan ruangan itu menjadi hening untuk beberapa saat. Mereka hanya saling terdiam, Chanyeol masih sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Sooyoung yang entah memikirkan apa.

Hingga tak berapa lama, Sooyoung kembali memulai obrolan.

"Aku tidak akan ada proyek keluar negeri selama dua bulan ini. Hanya jadwal pemotretan majalah biasa," Chanyeol membeku. Sooyoung menyeringai melihatnya. Dan tak lama ia terkekeh kecil melihat Chanyeol yang membeku seperti itu.

Dua bulan katanya. Sial. Rutuk batin Chanyeol.

"Kau tahu sendiri jika dia akan mengabaikanku ketika kau berada di sekitarku," ujar Chanyeol, menatap Sooyoung dengan tatapan memelas. Mereka kini saling menatap. Posisi Chanyeol yang duduk sedangkan Sooyoung berdiri, membuat pria itu sedikit mendongak dengan mata bundar yang meredup memelas.

Sooyoung berdecih. Lalu segera mengalihkan tatapannya kemanapun asalkan bukan mata bulat suaminya itu. Karena sedikit banyak, sikap suaminya itu mempengaruhi degup jantungnya.

"Itu urusanmu."

Lalu terdengar bantingan pintu. Sooyoung berdiri di depan pintu setelah menutupnya cukup keras. Memegang dadanya yang sedari dari berdegup dengan tidak tahu dirinya.

"Sial." Desisnya lalu berlalu menuju kamarnya.

.

.

.


.

.

.

Akhir pekan, di libur musim panas seperti ini adalah surga untuknya. Tugas sudah ia kerjakan semua, hanya tertinggal tugas kelompok dan itu masih bisa dikerjakan akhir pekan nanti sebelum kegiatan kampus kembali dimulai.

Tapi, sepertinya libur musim panas tahun ini hanya manis di awal saja. Karena saat ini, ia tak mungkin datang ataupun menghubungi kekasihnya. Libur musim panas tinggal menghitung hari. Terasa menyenangkan tapi juga membosankan.

Pintu kamarnya di ketuk dari luar, namun tak lama terdengar pintu terbuka dan suara ibu.

"Kau sudah bangun?" tanya ibu. Ia mengangguk lalu segera beranjak menghampiri ibu yang berdiri di dekat pintu. Menatap ibu dengan pandangan bertanya.

"Bahkan kau sudah mandi? Apa kau ada janji kencan?" Ia mendengus, ibu menatapnya mengejek.

"Yeri ada di bawah," ujar ibu.

Baekhyun? Tentu ia terkejut.

"Ia bilang, kalian mempunyai janji kencan."

Baekhyun hanya tersenyum kecil, lalu berjalan menuju dapur meninggalkan sang ibu yang tertawa gemas melihat tingkah putranya.

"Oppa," panggil Yeri ketika melihat Baekhyun yang berjalan mendekat ke arahnya, gadis cantik itu segera menerjang Baekhyun ke dalam dekapannya.

"Oppa tidak tahu tentang janji kencan hari ini," ujar Baekhyun yang di balas dengan kekehan jenaka oleh Yeri.

"Aku membantu ibu membuat sarapan, ayo," ajak Yeri, mengalihkan pembicaraan. Lalu ia segera menarik Baekhyun menuju meja makan.

.

.

.


.

.

.

"Apa yang sebenarnya kau cari, Yeri-ah?" tanya Baekhyun dengan jengah. Bagaimana tidak. Setelah sarapan, Yeri segera mengajaknya menuju Coex dan lihat, mereka sudah hampir 3 jam di sini. Memutari setiap sudut pusat belanja besar ini.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, waktu yang di gunakan untuk makan siang, tapi gadis itu masih sibuk entah itu mencari apa.

"Ada sesuatu. Tapi aku lupa dimana tepat letaknya," jelas Yeri yang juga mulai merasa lelah.

"Kenapa kau tidak menanyakannya pada meja informasi?" Tanya Baekhyun yang di balas dengan cengiran lebar gadis itu.

"Sudahlah, lebih baik kita cari tempat makan."

Lalu akhirnya mereka berjalan mencari tempat makan untuk makan siang dengan Yeri yang bergelayut manja pada lengan Baekhyun.

.

.

.

.

"Kau benar tidak ingin membantuku membawa ini?" tanya Sooyoung kesal dengan mengangkat tinggi-tinggi barang belanjaannya.

Jadi tadi pagi, Sooyoung mencegat Chanyeol untuk pergi bekerja karena ia ingin suaminya menemaninya berbelanja. Apa kalian fikir Chanyeol menyetujuinya begitu saja? Tentu saja tidak. Mereka harus berdebat panjang lebih dulu untuk menentukan siapa yang menang dan kalah.

Tentu saja, Sooyoung yang berhasil memenangkannya. Melihat bagaimana saat ini mereka berada di pusat perbelanjaan dengan Chanyeol bersamanya.

"Itu milikmu," acuh Chanyeol.

"Oh sial, Chan!" umpat wanita itu, lalu berjalan di belakang Chanyeol dengan kaki yang ia sentakan kesal.

"Akh!"

Barang-barangnya jatuh. Wajahnya membentur pundak seseorang dengan keras. Sakit sekali.

Itu pundak suaminya. Bodoh. Kenapa ia berhenti tiba-tiba seperti itu.

"Ada apa deng-"

"Kau ingin makan sushi?" Tanya Chanyeol memotong perkataan Sooyoung. Wanita itu sibuk memunguti barang bawaannya.

Seingat Sooyoung, sedari tadi suaminya itu sudah mengeluh ingin pulang dan pulang. Bahkan saat tadi mereka melewati restoran italia dan Sooyoung menawarkan untuk makan dulu sebelum pulang, Chanyeol hanya mendengus lalu mengatakan jika ia tidak nafsu makan. Menyebalkan bukan?!

"Tadi kau bilang tidak nafsu makan," sindir Sooyoung sebal.

"Aku lapar. Kita makan sushi saja."

Sooyoung menganga, menghela nafas kasar lalu melangkah mengikuti suaminya.

.

.

"Temanku bilang di sini ada tempat untuk membuat barcelet yang sangat indah, tapi ia juga lupa nama tokonya," jelas Yeri, Baekhyun hanya mengangguk menanggapi.

"Nanti coba kita tanyakan dulu ke meja informasi," Ujar Baekhyun lalu menyuapkan satu potong sushi ke dalam mulutnya. Yeri mengangguk, lalu tersenyum senang. Ikut menyuapkan satu potong sushi ke dalam mulutnya.

"Oppa pasti akan menyukainya, karena- Eoh? Chanyeol Oppa?" perkataan Yeri terpotong karena tatapannya bertemu pada pria tinggi yang ia tahu adalah Hyung dari kekasihnya.

Baekhyun terkejut. Ia segera menoleh mengikuti arah pandang Yeri. Dan yeah, Chanyeol duduk di sana, menatapnya lalu tersenyum. Entah itu tersenyum atau menyeringai?

Yeri bangkit dari kursinya berjalan meninggalkan Baekhyun yang masih menatap terkejut dengan kehadiran pria itu. Yeri meminta Chanyeol untuk bergabung dengan mereka. Tentu saja itu di setujui dengan cepat oleh Chanyeol. Ia segera berjalan mendekat, menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Baekhyun.

Baekhyun merutuk. Bodohnya Yeri.

"Chanyeol oppa sendirian?" Tanya Yeri. Namun sebelum Chanyeol menjawab, suara seorang wanita terdengar.

"Yak! Kenapa kau berjalan sangat cepat sih, -Eoh?!" Sooyoung yang terkejut.

Lalu ia tersenyum kecil ketika tatapannya beradu pandang tepat pada Baekhyun.

Sialan. Dasar Park sialan. Batinnya kesal.

.

.

.

Tak ada perbincangan berarti. Hanya ada pertanyaan random yang di lontarkan Yeri pada pasangan suami-istri itu. Pertama, ia adalah peminat majalah fashion dan itu alasannya saat tadi melihat Sooyoung berjalan kearahnya ia memekik dengan heboh. Kedua, dia sudah mendedikasikan dirinya sebagai pendukung hubungan YCouple – ah Yeri membuatnya secara mendadakan dengan cengiran kebanggaan luar biasa ketika menyebut nama itu. Y untuk Yeol dan Young.

Yeri baru mengetahui jika model cantik yang ia sukai itu sudah menikah dengan Hyung kekasihnya sendiri. Itu mendembarkan, mengejutkan dan membahagiakan.

"Aku selalu mengikuti majalah mode dimana Eonnie menjadi modelnya," ujar Yeri, dan itu adalah yang kesekian kalinya.

"Tapi sungguh aku tak tahu jika eonnie ternyata sudah menikah dengan Chanyeol Oppa," Sooyoung hanya terkekeh mendengar penuturan Yeri sedari tadi. Matanya terus melirik bagaimana Baekhyun hanya tertunduk memakan makanannya dan Chanyeol yang tak berhenti memperhatikan bagaimana pria itu makan.

Dan bolehkan ia saat ini menangkup wajah itu dan memintanya untuk menatapnya seperti ia menatap pria itu? Sooyoung merutuki dirinya sendiri.

Baekhyun yang baru saja menyeruput minum setelah menyelesaikan makannya itu terkejut karena tetiba Yeri menggenggam tangannya dan berbisik.

"Mereka sangat terlihat serasikan, oppa?" Baekhyun tersenyum kecil menanggapi penuturan Yeri. Lalu ia balas menggenggam tangan Yeri dan balas berbisik.

"Jadi, masih ingin mencari tokonya?" Yeri mengangguk. Mereka saling melemparkan senyum dengan jarak yang begitu intim. Hingga suara kekehan wanita yang membuat mereka terkejut dan duduk seperti semula.

"Ah, kami harus segera pergi." Ujar Yeri dengan kaku. Wajahnya memanas dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Baekhyun. Ia malu. Pertama kalinya ia melakukan skinship dengan Baekhyun di hadapan orang yang baru ia kenal.

"Kami juga akan segera pulang, karena suamiku mempunyai pekerjaan yang ia tinggalkan untuk mengantarku berbelanja tadi."

Baekhyun dan Yeri beranjak, yang sebelumnya melemparkan senyum pada pasangan suami-istri itu. Sooyoung balas dengan senyuman gemas melihat pasangan itu, sedangkan Chanyeol hanya melemparkan senyum kaku dengan tatapan penuh intimidasi pada Baekhyun yang di abaikan oleh si pria mungil.

"Dia punya kekasih?" tanya Sooyoung setelah ia kembali duduk. Chanyeol hanya diam disana. Menyuapkan sushinya dengan malas.

"Dan sepertinya kekasihnya tidak tahu jika ia baru saja makan bersama dengan kekasih lain dari kekasihnya." Chanyeol meletakan sumpit dengan kasar, menimbulkan suara yang begitu keras hingga Sooyoung terkejut.

Namun itu hanya sebentar, karena Sooyoung kembali menatap Chanyeol datar yang di balas menantang oleh Chanyeol.

"Wae? Kenapa kau terlihat marah?" Tanya Sooyoung tenang, "ingin mengusirku? Atau menceraikanku?" tanya Sooyoung kembali. Kini Chanyeol melunak, ia hanya terdiam dan mengalihkan tatapannya, enggan menatap Sooyoung.

Sooyoung berdecak kesal. Lalu dengan cepat ia bangkit, membawa semua barang belanjaannya dan pergi meninggalkan Chanyeol yang masih terdiam mematung disana.

.

.

.

Bersambung

.

.

.