.
.
.
Part 5
.
.
.
.
.
Ada saatnya ketika rindu mengalahkan kewarasan diri sendiri. Itulah yang terjadi pada Chanyeol. Pria itu datang tepat pukul dua belas malam. Berdiri disana dengan senyuman menawan sekaligus menyebalkan. Tepat di depan pintu rumahnya. Seharusnya tadi ia membiarkan Junho menginap, bukan berakhir dengan situasi semacam ini.
Tapi bolehkan ia jujur jika keadaan ini sedikit banyak menguntungkannya?
"Aku rindu." Ujar Chanyeol dengan suara berat yang terdengar frustasi. Sedangkan yang lebih kecil hanya berdecak dan berjalan masuk tanpa menutup pintu, membiarkan tamu tak diundang itu masuk tanpa kalimat penyambutan.
Langkahnya terhenti, tubuhnya tertarik dengan cengkeraman tangan yang cukup kuat. Cukup membuatnya berdesis sakit.
"Aku rindu." Pria itu kembali mengulangnya.
"Kau sedang melihatku saat ini dan juga mencengkeram tanganku dengan sangat kuat," si mungil berujar sarkas dengan desisan dikalimat terakhirnya. Membuat Chanyeol tersadar dan sedikit merenggangkan cengkeramannya tanpa ada niat untuk melepaskan.
"Aku sendiri, masuklah." Adakah yang lebih membahagiakan. Tuhan, ia bahkan tidak berharap banyak dengan segala kenekatan beralas rindu untuk datang ke rumah kekasihnya. Ia hanya ingin bertemu, memeluk, mencium lalu pulang. Bukannya berjalan dengan senyuman lebar menuju kamar kekasihnya.
Setelah pintu kamar itu tertutup, Chanyeol segera membawa kekasihnya ke dalam dekapan erat. Menciumi tengkuk kekasihnya dan berakhir dengan saling melumat.
"Aku rindu."
"Tiga."
"Hmm?"
"Belum ada 5 menit kau disini dan sudah tiga kali kau mengatakan hal yang sama." Cengiran lebar itu membuatnya ikut tersenyum. Bagaimana ketika melihat pancaran kebahagiaan pria kesayanganmu dengan dirimu sendiri yang menjadi alasannya. Membahagiakan sekali.
"Diabaikan olehmu aku tak pernah tahan, kau sendiri tahu itu, tapi selalu melakukannya," itu sebuah rajukan yang sangat menggemaskan dari si besar.
"Aku menghargai pernikahanmu, kau juga sendiri tahu itu, tapi selalu merajuk," itu terdengar seperti ibu yang mengomeli putranya karena bermain tanah. Dimana hal itu membuat si bayi besar mendengus lalu kembali memeluk.
"Tak ada yang perlu di hargai untuk itu, tak masalah kau datang ke rumahku hanya untuk membuat sarapan walaupun dia ada disana, kau juga tahu sendiri jika dia mengetahui tentang kita," Baekhyun menjawil perut si besar yang mana hal itu memberikan teriakan berat dari kekasihnya.
"Aku selalu melupakan sarapan, makan siang dan makan malamku, karena terlalu banyak memakan rindu dan memikirkanmu," Baekhyun menangkup wajah kesayangannya, membelainya dengan sayang lalu mengecup hidung si besar cepat.
"Jangan lakukan itu, kau bisa sakit," tegur Baekhyun dengan sayang.
"Karena itu jangan buat aku sakit," Chanyeol kembali melumat bibir kekasihnya, "jangan buat aku terlalu rindu," melumatnya lagi, mendorong tubuh mungil kekasihnya ke atas ranjang hingga berakhir dengan rindu-rindu yang melingkupi tubuhnya selama 5 hari belakangan terbang dengan berbentuk kupu-kupu indah yang kini memenuhi kamar Baekhyun.
Berlebihan. Tapi itulah yang terjadi.
.
.
Matahari masih tertidur, tentu saja, ini masih pukul empat pagi. Setelah menerbangkan kupu-kupu kerinduan, ia tidak bisa tertidur sejak satu jam yang lalu. Kekasih mungilnya sudah tertidur sejak tadi. Terpejam dengan dengkuran halus dan rengkuhan si mungil pada tubuhnya. Pipi Baekhyun yang sedikit gembil bersandar tepat di dadanya, dan surai yang sedikit berpeluh itu menyentuh dagunya. Membuat harum tubuh Baekhyun semakin memanjakan penciumannya.
Tangannya tak tinggal diam, ia memainkan surai Baekhyun sedari tadi. Seolah-olah ia tengah menghitung surai kekasihnya.
"Wae?"
Terkejut? Tentu. Pertanyaan dengan suara parau bangun tidur itu mengejutkannya.
"Kenapa tidak tidur?" Baekhyun kembali bertanya dan sedikit menjauhkan tubuhnya agar bisa menatap Chanyeol yang tengah balas menatapnya.
"Kenapa terbangun?" Hal yang paling Baekhyun tidak sukai adalah, ketika Chanyeol selalu melemparkan pertanyaan kembali ketika ia bertanya. Menyebalkan. Dan karena terlalu sering mendebatkan hal itu, hingga Baekhyun hanya menghela nafas lalu menjawab pertanyaan kekasih besarnya.
"Kau mengganggu tidurku," Chanyeol hanya terkekeh, lalu menyentuh bulu mata Baekhyun dan memainkannya seolah itu adalah hal paling menyenangkan.
"Masih pukul empat, tidurlah kembali," ujar Chanyeol lalu mengecup kedua mata kekasihnya. Baekhyun memejamkan mata merasakan ciuman Chanyeol pada matanya. Lalu kembali merengkuh tubuh besar Chanyeol.
"Kau selalu mengabaikan pertanyaanku," Baekhyun bergumam. Sedikit jengah dengan cara Chanyeol untuk mengganti topik pembicaraan.
"Kenapa orangtuamu tidak ada dirumah?" Lihat. Bukannya menjawab pertanyaan yang belum ia jawab, si besar hanya kembali memberikan pertanyaan lain.
"Bibiku sakit, sedangkan paman sedang ada di luar kota, jadi ibu yang membantu menjaga bibi. Sedangkan ayah ada pekerjaan yang mengharuskannya lembur." Jelas Baekhyun. Dan Chanyeol hanya bergumam lalu kembali bermain dengan surai kekasihnya.
"Apa ada yang mengganggumu?" tanya Baekhyun dan Chanyeol hanya bergumam tidak mengerti maksud pertanyaan kekasihnya.
"Kau tidak tidur karena ada yang mengganggu pikiranmu," terang Baekhyun.
"Aku hanya rindu," jelas Chanyeol yang mana hal itu membuat Baekhyun kembali menjauhkan tubuhnya dan menatap kekasihnya jengah.
"Bukan itu," tolak Baekhyun, merasa jawaban Chanyeol terlalu berlebihan. Ia menangkup wajah kekasihnya dan kembali meringis karena merasakan tulang wajah kekasihnya. Setidaknya, sebelumnya ia masih bisa merasakan lemak ada di rahang dan wajah Chanyeol, namun lihatlah, ia terlihat kurus. Itu menyakiti sesuatu dalam dirinya.
"Aku serius dengan mengatakan untuk jangan sakit, istirahatlah jika lelah, dan makanlah jika waktunya makan," ujar Baekhyun masih dengan menangkup wajah Chanyeol, mengelusnya dengan sayang. Sedangkan Chanyeol hanya terpejam, menikmati bagaimana jemari Baekhyun bermain di wajahnya.
"Jangan melukai tubuhmu sendiri, Yeol," lalu si mungil mendekatkan bibir mereka dan terhanyut akan lumatan lembut si besar. Ada saat dimana, Baekhyun tidak bisa mengerti ataupun memahami tingkah Chanyeol yang terlalu bergantung akan dirinya. Dan terkadang ada saat dimana Baekhyun kesal dengan bagaimana cara Chanyeol yang melukai tubuhnya sendiri dengan dirinya yang menjadi alasan.
Jika menjadi alasan ketika pria itu bahagia maka hal itu akan kembali membuatnya bahagia, begitu pula sebaliknya ketika ia menjadi alasan ketika pria itu terluka maka itu juga akan melukai perasaannya.
"Kita," ujar Chanyeol ketika pagutan mereka terlepas, Baekhyun menatapnya sedangkan Chanyeol menyentuh bibir Baekhyun membersihkan sisa saliva yang berada pada bibir kekasihnya.
"Aku memikirkan tentang kita," lanjut Chanyeol lagi. Tatapan mereka sangat intens, lekat dan menuntut.
"Kau tahu jika pilihan menikah dengannya bukan pilihan yang aku inginkan. Aku merasa baik saat di awal, dan aku mengatakan pada diriku jika itu akan baik-baik saja. Hingga saat kau mulai memutus kontak kita dan menghindariku dengan cara yang begitu kejam, aku juga masih meyakinkan diriku jika semua akan baik-baik saja. Tapi ternyata semua tidak semudah itu, karena aku sadar jika sedari awal aku memang sudah tidak baik-baik saja," Chanyeol berujar dengan begitu parau, mata bulatnya meredup dipenuhi dengan tatapan terluka yang begitu mendalam. Seolah ia memberitahu melalui tatapan itu jika ia kesulitan, ia tercekik dan memohon bantuan. Dan saat itu Baekhyun sadar betul jika ia memang belum terlalu memahami kekasih besarnya.
Baekhyun hanya memikirkan dirinya. Karena terlalu fokus untuk memperlihatkan ia juga baik-baik saja, ia harus menutup mata dengan bagaimana ada orang lain yang sama berusaha seperti dirinya. Yang seharusnya mereka saling menuntun dan membantu satu sama lain, tapi yang di lakukan Baekhyun hanya memikirkan dirinya sendiri.
Ia sadar jika ia yang memulainya. Chanyeol menolak dengan keras saat itu, bahkan mereka sampai berdebat tentang perjodohan yang dilakukan orang tua Chanyeol. Ketika Chanyeol mengatakan jika ia akan membawa Baekhyun kehadapan orang tuanya, Baekhyun hanya berteriak, mengumpat dan mengutuk sikap Chanyeol kala itu. Karena jika yang Baekhyun tahu Chanyeol hanya bertindak egois dengan sikap yang beralas cinta itu maka Baekhyun akan tanpa segan berbalik dan pergi meninggalkan Chanyeol. Kejam. Ya, ia mengakuinya.
Tapi, sedari awal. Ia memang sudah mengetahui akhir kisah cintanya. Hubungan mereka berawal dengan cara yang salah. Hubungan yang tidak seharusnya terjadi. Hubungan yang hanya akan mengecewakan orang tuanya. Mungkin ia bahagia dengan hubungan itu, tapi, Baekhyun banyak memikirkan perasaan orang tuanya. Terlalu banyak berpikir bagaimana orang tuanya ketika mereka mengetahui jika dirinya tidak seperti yang di harapkan.
Banyak hal sulit yang ia jalani sebelumnya, yang mana hal itu membuatnya takut dan resah di setiap langkah yang akan ia ambil.
Menjalin hubungan dengan Chanyeol dengan cara diam-diam adalah pilihan terburuk Baekhyun selama ini. Ia harus berbohong kepada orang tuanya, dan mengungkapkan banyak hal omong kosong kepada mereka.
Tapi, lihat. Selama itu, yang Baekhyun pikirkan hanya dirinya. Tanpa mau menoleh dan melihat bagaimana pria yang mempunyai alasan cinta untuk bersama dengannya. Melupakan perasaan pria itu karena ia terlalu memikirkan perasaannya sendiri dan kedua orang tuanya.
"Jangan," Chanyeol memeluknya, membenamkan wajah Baekhyun kedalam dekapannya. "Maafkan aku, jangan menangis, jangan," tangannya semakin erat memeluk si mungil. Tubuh bergetar Baekhyun membuatnya khawatir dan takut.
"Kumohon," lagi, Chanyeol kembali mencoba menenangkan kekasihnya yang masih terisak dengan tubuh bergetar di dalam dekapannya.
Dan ketika Baekhyun mendorong tubuhnya menjauh, menghapus air mata dengan kasar, lalu bangkit meninggalkan ranjang berjalan menuju kamar mandi. Semua berakhir tragis.
"Pulanglah," itu kalimat terakhirnya sebelum menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Meninggalkan seseorang di sana yang tengah menatap kosong pintu tertutup itu.
Alasan mengapa ia sangat takut ketika Baekhyun menangis.
.
.
.
"Ayah menjodohkanku," Chanyeol memulai. Berbisik dengan kepala tertunduk. Sedang pria mungil di sebelahnya menatap kosong ke depan dengan satu tarikan tipis di bibir.
"Lalu?" Chanyeol mengalihkan tatapannya. Menatap pria di sampingnya dengan tatapan bingung.
"Itulah yang memang seharusnya terjadi," Baekhyun balas menatap Chanyeol, tersenyum dengan sangat kaku dan menyebalkan.
Chanyeol mendengus kasar, mata bulatnya menatap terkejut dengan perkataan Baekhyun.
"Baek-"
"Kau menikah. Dan aku menikah. Bukan kau dan aku menikah. Itu berbeda." Bagaimana caranya berujar, adalah apa yang membuat Chanyeol sedikit merasa marah.
"Kenapa kau seperti ini?"
"Lalu apa? Kau ingin menolak perjodohan itu, membawaku ke hadapan orang tuamu dan mengatakan jika kau hanya ingin menikah denganku?" pertanyaan itu terlalu datar di ucapkan dan bagaimana tatapan mata sipit itu hanya menatap kosong tepat ke arahnya.
"Baek-"
"Kau salah jika berharap aku akan melakukan itu. Bersamamu saat ini saja tak pernah terbayangkan olehku, lalu mengharapkan pernikahan?" memberikan desisan dan kekehan kaku di akhir kalimat, yang mana hal itu membuatnya telalu banyak merasa terpukul. Bukan ini yang ia harapkan.
"Tidakkah…tidakkah kita saling mencintai?"
"Untuk apa aku bersamamu saat ini jika aku tidak mencintaimu? Untuk apa aku memberikan omong kosong pada orang tuaku jika aku tidak mencintaimu? Untuk apa aku memilih jalan terjal ini jika aku tidak mencintaimu? Untuk apa?!" bentakan itu keluar, emosi yang sedari tadi ia tahan meledak.
"Tak ada yang salah tentang pernikahan," Chanyeol mencoba meraih tangan Baekhyun, mencoba memberitahunya jika saat ini yang ia inginkan bukanlah sebuah pertengkaran.
"Tak ada yang menyalahkan pernikahan. Aku hanya menyalahkan takdir kita." Baekhyun menjauhkan tangannya, menghindari tangan Chanyeol.
"Menikahlah," Chanyeol membelak. Baekhyun bangkit dari duduknya, membiarkan Chanyeol mendongak menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
Lalu ketika Baekhyun mencoba melangkah pergi, pergelangannya di cengkeram dengan sangat kuat.
"Lalu apa? Kau akan meninggalkanku?" Tanya Chanyeol dengan geram.
"Apa kau benar mencintaiku? Apa begitu mudah bagimu untuk meninggalkanku?" tuntut Chanyeol kembali.
"Tidak salah bukan jika aku memang hanya ingin menikah denganmu? Tidak salah jika aku membawamu kehadapan orang tuaku, bukan? kita tak pernah mencobanya, semua hanya tentang ketakutanmu sendiri, tidakkah kau sadar itu?" kini suaranya semakin terdengar parau, terlalu lelah dengan sikap kekasihnya.
"Apa kau fikir semua itu terdengar benar? Tapi maaf, bagiku tidak." Baekhyun mendekat membiarkan tangannya yang masih di cengkram erat oleh Chanyeol. Ia mengusak surai pria itu, mendekatkan wajahnya.
"Menikah atau berpisah, itu pilihanmu. Aku menjaminnya, tak akan meninggalkanmu jika kau menikah, jadi menikahlah," berbisik tepat di telinga pria itu. Hingga ia merasakan cengkeraman Chanyeol sedikit mengendur. Dengan cepat ia segera berjalan pergi.
Meninggalkan pria yang menatap kosong ke arahnya.
.
.
.
Dilanjut nanti
Masih 6 mei di indo mah, jadi sukseslah update di harinya Baekhyun.
Terima kasih yang sudah berniat membaca ff ini^^
.
.
.
