Hope you like this fiction :)
"Langsung saja Kim, apa tujuanmu datang kesini?" Tuan Oh bertanya.
"Aku menyukai Sehun, Paman. Aku ingin meminta Paman untuk menjodohkanku dengan Sehun." Jujur saja Jongin gugup. Baru kali ini dia berbicara berdua dengan Tuan Oh.
Tuan Oh menatap Jongin tajam cukup lama, seperti ingin melihat apa yang Jongin katakan jujur atau tidak. Lalu beliau menghela nafas, "Mungkin kelihatannya aku seperti tidak peduli dengan anakku yang kedua itu, tapi dengan Sehun, entah kenapa tidak semudah dengan kakaknya. I care about them, a lot." Tuan Oh mengambil jeda, "Aku tidak akan menjodohkannya dengan siapapun." Jongin menahan nafasnya, tentu dia pikir hasilnya tidak akan seperti ini. "Aku akan membiarkannya memilih siapa yang mau dia jadikan pendamping hidup, kalau kau memang orang yang dia pilih, aku akan merestuinya."
Jongin menghembuskan nafas yang ditahannya perlahan, "Tidak ada syarat apa pun Paman?"
"Jangan nikahi dia sebelum kakaknya menikah duluan." Tuan Oh menjawab ringan.
"Aku pun yakin Sehun ingin menyelesaikan kuliahnya dulu Paman."
Tuan Oh terlihat ragu sebelum bertanya, "Kau kenal Yifan?"
"Aku tahu dia, dia berkunjung ke apartment kami saat Sehun sedang sendiri saat itu."
"Mungkin ini akan terdengar aneh karena aku yang berbicara," Tuan Oh terlihat memperhatikan ekspresi Jongin, "aku tidak tahu sebesar apa, tapi yang jelas Sehun masih menyimpan perasaan pada Yifan dan Yifan tahu kelemahan Sehun itu. Kalau kau memang serius dengan Sehun, aku ingin kau membereskan masalah Yifan dulu. Pastikan dia tidak mengganggu Sehun lagi atau Sehun menghubungi dia lagi." Jongin tahu dia tidak bisa menghindari ini, "Aku tidak ingin Sehun menjalani hubungan denganmu tetapi masih terbayang-bayang Yifan atau Sehun hanya mensubtitusikan kebutuhannya akan afeksi padamu karena Yifan tidak ada."
"Sehun tidak seperti itu Paman." Jongin langsung membalas, "Aku tahu masalah perasaannya pada Yifan, tapi kalau sampai Paman bilang dia menjadikanku subtitusinya Yifan hanya untuk afeksi, kurasa Paman salah besar." Jongin berusaha mengatur nada bicaranya agar tidak terlalu tinggi, "Dia adalah orang yang paling mandiri yang pernah ku kenal. Dia bahkan tidak pernah memintaku atau Chanyeol mengantarnya ke kampus padahal kita tahu kondisi kakinya seperti itu."
Tuan Oh tertawa, "Kalian baru tiga bulan tinggal bersama kan?"
"Kalau Paman tidak merasa sulit dengan Sehun mungkin Sehun akan menghabiskan lebih banyak waktu lagi dengan Paman, mungkin yang sebenarnya Paman maksud adalah Sehun membutuhkan afeksi dari Paman, karena Paman pasti tahu akan berbeda afeksi yang diberikan oleh Paman dibandingkan dengan afeksi yang diberikan olehku atau Yifan." Jongin berbicara seolah tidak mendengar omongan Tuan Oh sebelumnya.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi kau boleh pergi sekarang." Terdengar Tuan Oh menahan amarahnya.
"Permisi Paman." Jongin bangkit untuk membungkukkan badannya dan keluar dari ruang kerja Tuan Oh.
"Bagaimana menurutmu Chan?" Tanya Jongin. Saat ini mereka sedang berada di perpustakaan kampus. Tempat yang tidak akan Chanyeol masukki kalau bukan karena Jongin menyuruhnya kesini membicarakan hal yang penting katanya. Sesuatu yang tidak perlu diketahui Sehun. Sehun sebenarnya saat ini sedang ada jadwal ujian, jadi dia tidak akan keluar kelas sampai jam tiga nanti. Tetap saja Jongin ingin semuanya dibawah kendali.
"Apa menurutmu kita perlu bawa banyak orang?" Chanyeol bertanya baik.
"Jadi menurutmu dia tidak bisa diajak berbicara baik-baik?"
"Dilihat dari pertemuan pertama kita kemarin dengannya, tidak."
Jongin terlihat ragu, "Aku mau coba menemuinya berdua denganmu dulu."
Chanyeol terlihat tidak suka, "Tidak bisakah kita mencari informasi tentangnya dulu? Aku tidak suka maju tanpa rencana seperti ini. Aku juga butuh senjata sebelum perang kan?"
Jongin mengangguk setuju, "Gunakan orangmu?" Jongin berkata tidak yakin.
Chanyeol mendengus, "Nanti aku akan memberikanmu nomor rekening, kau tinggal transfer saja. Biar aku yang berbicara langsung dengan mereka."
Jongin tersenyum lebar, "Kau tahu aku tidak mau tanganku kotor Chan."
"Kata orang yang tadinya ingin bertemu langsung tanpa persiapan." Yang hanya dibalas Jongin dengan cengirannya, "Sudah kan? Aku tidak bisa berada terlalu lama di tempat seperti ini."
"Lunch, on me?"
"Senang bekerja sama denganmu Tuan Kim." Chanyeol menggunakan nada bisnis Ayahnya. Kalau tidak ingat ini sedang di perpustakaan mungkin Jongin sudah tertawa kencang sekarang.
"Kalian menghindariku ya?" Sehun memberanikan dirinya bertanya saat dia menemukan Jongin dan Chanyeol bermain game di rabu sore yang cerah namun berangin ini. Tentu saja mereka tidak perlu belajar seperti mahasiswa pada umumnya, seperti Sehun.
Chanyeol mengerang karena Jongin memberhentikan game mereka sementara, tapi tetap melihat ke arah Sehun yang baru saja pulang dan masih berdiri di lorong setelah pintu. Bahkan masih memakai topinya. "Sini duduk disebelahku Hun." Jongin menepuk kursi disebelahnya setelah dia meminta Chanyeol menggeser duduknya.
Sehun menurut dan duduk diantara Jongin dan Chanyeol, "Aku pasti bukan teman yang baik sampai kalian menghindariku ya?"
"Seriously Hun…" Chanyeol berkata jengah, tapi Chanyeol langsung menghentikan omongannya ketika Jongin menatapnya tajam.
Jongin dengan perlahan mengambil tangan kiri Sehun dan mengangkat lengan baju Sehun. Terlihat ada goresan baru disana. Chanyeol pun dengan segera berdiri untuk mengambil kotak P3K. "Boleh aku memelukmu?" Jongin bertanya dan Sehun mengangguk sebagai jawabannya. Jongin memeluk Sehun erat walaupun Sehun tidak memeluk Jongin balik. Jongin baru melepaskan pelukannya saat Chanyeol datang dengan kotak P3k ditangannya.
Dengan hati-hati Chanyeol membersihkan luka Sehun dan menempelkan plester pada lukanya setelah memberikan obat merah. Setelah Chanyeol selesai Sehun baru berbicara, "Aku lelah. Aku mencari kalian tadi tapi kalian tidak ada. Aku menelpon kalian pun tidak diangkat. Kakiku sakit kalau diajak berjalan. Aku merasa kalian menghindariku, kalian lebih sering menghabiskan waktu berdua sekarang." Sehun memang tidak menangis, tapi suaranya terdengar menyedihkan sekali.
Jongin dan Chanyeol terdiam, mereka memberikan waktu untuk Sehun mengeluarkan kesedihannya. Saat diarasa Sehun sudah selesai Chanyeol berkata, "We're not going to leave you or abandon you." Chanyeol memberikan kode pada Jongin untuk berbicara. Chanyeol sadar dia tidak ahli dalam menangani masalah seperti ini, makanya dia tidak pernah lama kalau pacaran.
"Sehun," Jongin berkata pelan, "kau belajar sangat keras untuk ujian. Kau tetap belajar saat aku dan Chanyeol tidur. Makan siang pun kami tidak bisa bertemu denganmu karena kau belajar. Jujur aku dan Chanyeol takut mengganggumu."
"Tapi kalian tidak pernah menggangguku." Sehun menyanggah.
Chanyeol mendengus tapi Jongin tetap meneruskan perkataannya, "Aku minta maaf karena aku dan Chanyeol terlalu serius bermain game sampai tidak bisa menjawab telponmu tapi sungguh kami tidak menghindarimu."
"Benarkah?" Sehun menatap Jongin dan Chanyeol seolah ingin mencari kebenaran disana.
Jongin mengangguk, dengan sigap dia berjalan ke kamar mereka untuk mengambil ponselnya, "Ponselku di kamar." Katanya sambil duduk kembali di sebelah Sehun, Jongin terlihat memainkan ponselnya sebentar sebelum berbicara lagi, "Lihatlah, ini jadwal ujianku dan Chanyeol, lalu ini jadwal ujianmu." Sehun terlihat memperhatikan gambar yang diperlihatkan oleh Chanyeol, "Jadwal ujianmu sangat berbeda dengan kami, saat kami kosong kau ada jadwal ujian. Aku dan Chanyeol pun tidak selalu mendapat jadwal yang sama, kebetulan saja jam selesai kami berdekatan. Kami tidak menghindarimu Hun." Jongin mengakhiri penjelasannya.
Sehun mengangguk, "Maafkan aku ya." Sehun menghela nafas, "Aku harap aku bisa dengan mudah menjelaskan apa yang terjadi dalam pikiranku. Kadang aku berharap bisa semudah orang lain yang menjelaskan kenapa mereka depresi, mungkin karena dipukuli orang tuanya atau diusir dari rumah. Tapi kehidupanku baik-baik saja kan? Aku juga bingung kenapa aku merasa seperti ini."
"Sehun," Chanyeol memanggilnya pelan, "you're not alone in this. You're important for me, for us. You need to know that we are not on this earth to see through one another, but to see one another through. We love you." Jongin mengangguk setuju, "You know, I can't really understand what you are feeling, but I, we can offer our compassion."
Sehun mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, "Kenapa aku tidak menemukan kalian dari dulu ya?"
Chanyeol tertawa, "Do you want a hug? I saw Jongin gave you one before."
Tanpa menjawab Sehun pun memeluk Chanyeol. "Jong, aku bersumpah Sehun duluan yang memelukku." Chanyeol berkata sambil membalas pelukan Sehun.
Jongin mendengus, "Kita mau lanjutkan gamenya atau tidak?" Lalu Sehun berbalik dan gantian memeluk Jongin.
"Nah sekarang giliran aku yang bertanya. Mau dilanjutkan atau tidak gamenya?" Chanyeol tahu pelukan Sehun pada Jongin pasti berbeda dengan pelukannya dan Sehun tadi.
"Lanjutkan saja, aku tidak akan mengganggu kok." Sehun berkata masih dengan memeluk Jongin dari samping, sehingga tangan Jongin masih bisa memegang stick.
Jongin pun memulai permainan, "Curang! Aku belum siap Jong!" Dan sore itu mereka habiskan hanya dengan tertawa.
"Kenapa kalian meninggalkanku?" Sehun dapat merasakan dirinya menangis.
Chanyeol mendengus, "Dari awal pun aku sudah tidak tahan tinggal denganmu. Kau tidak bisa seproduktif aku dan Jongin. Jongin kasian padamu makanya dia mempertahankanmu tinggal disini."
"Aku lelah dengan mood mu yang bisa tiba-tiba berubah. Kau menuntut kami untuk terus bersamamu tapi kau tidak bisa memberikan apa pun pada kami." Sehun melihat Jongin memandang jijik padanya, Chanyeol bahkan memalingkan wajahnya, tidak mau melihat Sehun. "You are a disappointment Sehun."
Sehun terbangun dengan nafas yang berat di kamar yang ditempatinya bersama Jongin. Dia bisa melihat Jongin tidur disebelahnya dengan nyenyak. Sehun mendudukan dirinya untuk mengatur nafasnya, hanya mimpi pikirnya. Dia melihat jam yang masih menunjukkan pukul dua pagi.
Sehun memejamkan matanya dan yang dilihat adalah wajah Jongin yang memandangnya jijik, dia bisa merasakan nafasnya memberat lagi dan dapat merasakan kulitnya terbakar oleh rasa kecewa yang mereka tunjukkan padanya. Tatapan kecewa yang mereka berikan sama seperti yang Ayahnya selalu berikan padanya.
Dengan segera Sehun menuju kamar mandi, pandangannya kabur karena dia tidak sempat memakai kacamatanya. Dia tambah merasa kesal dengan dirinya sendiri. Bahkan dia tidak bisa berguna maksimal untuk dirinya sendiri, bagaimana untuk orang lain? Sehun membuka lemari kaca diatas wastafel mereka. Sehun mengambil pisau cukur yang biasa digunakannya dengan tangan yang gemetaran. Sehun mengarahkan pisau tersebut ke lengan kirinya. Satu goresan dan dia merasakan nafasnya mulai teratur, rasa lega perlahan menyelimutinya. Sampai dia melihat ke kaca dan memandang mata Jongin yang berdiri memperhatikannya dari pintu kamar mandi. Sehun bahkan tidak menyadari kalau dia tidak menutup pintu kamar mandinya. Pisau cukur pun terjatuh dari tangannya.
Jongin menghampiri Sehun perlahan, dia menendang pisau cukur yang dijatuhkan Sehun tadi. "Maaf." Jongin mendengar Sehun berbisik. Dengan perlahan Jongin menggandeng tangan Sehun dan menuntunnya keluar dari kamar mandi, Jongin mendudukan Sehun di ruang tengah, masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. Sementara Sehun benar-benar takut Jongin marah padanya, "Maaf." Bisik Sehun sekali lagi. Tapi Jongin seperti tidak mendengar malah berdiri untuk mengambil kotak P3K. Jongin kembali dan langsung menangani luka goresan Sehun tadi. "Jongin maafkan aku." Sehun sudah ingin menangis sekarang.
Jongin menempelkan plester di luka Sehun, "Lain kali kau mau melakukan ini, langsung di skip saja ke menempelkan plester." Lalu Jongin memeluk Sehun.
"Kau tidak marah padaku Jongin? Aku melanggar janjiku." Sehun mengeratkan pelukannya pada Jongin.
"Tidak marah bukan berarti aku membenarkan perbuatanmu." Jawab Jongin. "Lagi pula aku tidak punya hak untuk marah padamu Sehun."
Sehun melepaskan pelukan Jongin, "Kau mau tidak jadi kekasihku Jongin?"
Jongin terdiam sebentar kemudian tertawa, Sehun memandangnya bingung. "Kau mau mengakui kalau kau merasakan apa yang kurasakan?" Jongin bertanya. Sehun terdiam dan bagi Jongin ini cukup untuk menjawab pertanyannya. "Tidak apa-apa. Seperti yang ku katakan, aku akan menunggu. Kau tidak perlu merasa bersalah atau berhutang karena menurutmu aku terlalu baik padamu." Sehun hanya mengangguk dan tersenyum pada Jongin sebagai rasa terima kasihnya, "Ayo tidur lagi, kali ini kau tidak boleh terlalu jauh dariku ya." Jongin berkata.
Sehun mengangguk dan mengikuti Jongin ke kamar mereka. Sehun tidur dengan berbantalkan tangan Jongin malam itu. Sehun menepis ingatannya tentang wajah Jongin yang memandangnya jijik dan Chanyeol yang bahkan tidak mau melihatnya, itu hanya mimpi. Karena kenyataannya Jongin dan Chanyeol tidak akan mengingkari janji mereka dan meninggalkan Sehun.
Karena ujian tengah semester mereka sudah selesai, mereka pun kembali ke rutinitas awal. Sehun berangkat dengan Chanyeol pagi ini. Yang berbeda adalah Chanyeol bersikeras untuk mengantarkan Sehun sampai ke kelasnya.
"Kenapa sih kau harus mengantarkanku sampai ke kelas segala?" Gerutu Sehun.
"Perintah Tuan Kim." Jawab Chanyeol ringan.
Sehun mendengus, "Aku tidak pernah setuju." Sehun tidak suka sebenarnya kalau harus jadi pusat perhatian seperti sekarang, dia berjalan sendiri saja orang memperhatikannya, apa lagi jika dia berdua dengan Chanyeol seperti ini. Chanyeol sendiri terlihat tidak peduli dengan pandangan orang-orang terhadap mereka, seperti sudah terbiasa, Sehun berharap suatu saat nanti dia bisa seperti Chanyeol dan Jongin yang tidak masalah saat menjadi pusat perhatian.
"Dua lawan satu, mau tidak mau kau harus setuju Sehun." Lagi-lagi Chanyeol menjawab ringan. "Lagi pula kau hanya tinggal berjalan bersamaku atau Jongin. Bukankah menambah quality time kita adalah hal yang kau usahakan dari dulu?"
"Iya sih, aku merasa seperti anak TK saja kalau begini Chan."
"Nonsense. Aku tidak melihatmu menggantungkan botol minum di lehermu." Akhirnya mereka sampai di kelas Sehun. Sehun langsung masuk dan duduk di sebelah Baekhyun yang sudah datang duluan, tidak sadar kalau Chanyeol masih mengikutinya.
Sampai Baekhyun berkata, "Good Morning Daddy Park."
Sehun mengerang melihat Baekhyun kembali flirting dengan Chanyeol, "Good morning Byun Baekhyun." Chanyeol membalas dengan senyum lebarnya.
"Tidak biasanya kau mengantar Sehun sampai ke kelas, apa Sehun sedang sakit?"
"Tidak." Jawab Sehun singkat yang tentu saja diabaikan oleh Baekhyun yang matanya hanya tertuju pada Chanyeol.
"Dia baik-baik saja. Anakku yang satu ini memang sedang manja-manjanya, jadi aku terpaksa mengantarkannya sampai kelas." Chanyeol berbicara dengan nada bisnis yang biasa digunakan Tuan Park.
"Anakmu hmm?" Baekhyun berbisik.
"Iya. Anak keduaku setelah Jongin. Aku minta tolong padamu untuk menjaganya selagi aku dan Jongin tidak ada disampingnya, tolong belikan dia makan dulu kalau dia lapar." Chanyeol berbisik, "Dia akan sangat boros kalau memegang uang sendiri."
Sehun pun mendorong Chanyeol menjauh, "Pergi kau menyebalkan!" Chanyeol pun tertawa dan melambaikan tangannya pada Baekhyun.
Sehun kembali ke tempat duduknya dan Baekhyun langsung bertanya, "Sebenarnya hubungan kalian bertiga itu bagaimana sih? Kenapa Chanyeol menganggapmu anak? Kau bermanja-manja dengan Chanyeol? Atau dengan Jongin juga? Jawab Sehun!" Sehun mengerang, It's gonna be a long day.
Untuk pertama kalinya sejak mereka pindah ke apartment, Sehun pulang ke rumahnya. Ibunya sudah mengingatkan Sehun dari awal minggu agar pada akhir pekan ini dia bisa pulang dulu ke rumahnya. Kadang Sehun kagum pada orang yang rela menghabiskan waktu berjam-jam di jalan terkena macet hanya untuk pulang ke rumah, Sehun sendiri tidak tahu rumah itu dimana.
Sehun diantarkan Jongin untuk pulang. Demi apapun Sehun sudah menolak, tapi Jongin bersikeras. Katanya sekalian dia juga mau pulang. Chanyeol yang tahu mereka pulang pun memutuskan untuk pulang juga daripada sendirian di apartment.
"Kau tidak mau pulang?" Jongin bertanya.
"Kau tahu jawabannya." Sehun mendengus.
"Kau pernah coba menghabiskan lebih banyak waktu dengan Ayahmu?" Sebenarnya diantara mereka bertiga Jongin merasa kalau Sehun itu orang yang paling bisa 'diperbaiki' kehidupannya. Jadi Jongin akan mencoba membantunya sedikit-sedikit.
"Pernah. Tapi tidak berakhir baik. Aku berhenti mencoba sejak itu." Sehun memandang jalanan di depannya, "Di depan belok kiri."
Jongin mengangguk dan membelokkan mobilnya. "Kau mau mencobanya lagi sekarang? Setelah tiga bulan kalian tidak bertemu."
Sehun terdiam, "Mungkin aku akan coba." Jongin menepikan mobilnya di depan rumah yang ditunjuk Sehun. "Aku mau bertanya padamu." Kata Sehun
"Bertanya apa?"
"Sudah berapa lama kau menyukaiku?"
Jongin tidak menyangka, dari semua waktu mereka bersama, Sehun memilih saat ini untuk melontarkan pertanyaan ini. "Haruskah aku menjawabnya?"
"Aku sudah memberanikan diriku untuk bertanya dengan harapan kau akan berani juga menjawabnya."
"Sejak 3 tahun yang lalu saat kau cedera, when I saw you in that bed, I realized how the thought of you dying terrified me." Jongin akhirnya mengakui.
"Aku mau minta maaf karena aku pernah berbicara kalau Yifan cinta pertamaku. Setelah ku ingat lagi, waktu kita kecil dulu kau lah orang yang pertama memintaku menikah denganmu." Sehun tersenyum melihat reaksi terkejut Jongin.
"Kau ingat?"
18 years ago
Jongin menggigit bibirnya menahan sedih karena tidak ada orang yang mau berbicara dengannya. Kata Ibunya Jongin dia akan bertemu dengan anak baik disini, anak yang sudah dikenalkan dengannya dulu. Dia melihat ke arah jendela, jelas saja Ibunya sudah bergabung dengan ibu-ibu yang lain. Ini tidak menyenangkan. Kenapa acara ini memisahkan anak dengan orang tuanya sih?
Saat dia baru saja ingin berdiri, seorang anak laki-laki duduk di seberangnya. Jongin sampai terkejut karena melihat kecantikan anak itu, kalau bukan karena pakaiannya Jongin akan mengira dia perempuan. Mata cokelatnya terlihat bersinar sekali. Terlihat seperti malaikat di kartun yang sering ditontonnya. "Matamu cantik." Jongin berkata. Anak lelaki tadi tersenyum, membuat Jongin tersenyum juga.
"Matamu juga cantik." Anak lelaki tadi berkata.
Jongin bersyukur akhirnya dia sudah menemukan teman. Anak tadi bernama Oh Sehun. Ibunya bilang dia akan mempunyai banyak teman tapi hanya Sehun yang mau mengajaknya berbicara. Sehun saja cukup, pikir Jongin.
Ada rasa menyenangkan di perutnya saat mereka bermain bersama. Jongin sudah menganggap Sehun sebagai sahabatnya. "Kau mau menjadi sahabatku?"
"Asal kau menjadi sahabatku juga." Sehun menjawab, yang tentu saja disetujui Jongin dengan senang hati.
Mereka sedang makan siang bersama saat ini. Jongin membuka bekal yang dibuat Ibunya begitu pula Sehun. Jongin kebingungan melihat bekal Sehun yang penuh dengan sayuran. "Kenapa kau memakan sayuran saja?" Jongin bertanya.
"Karena aku akan kuat kalau aku memakan sayuran. Kata Ibu untuk tumbuh kuat aku harus memakan banyak sayuran." Sehun menjelaskan dengan bangga.
Jongin hanya mengangguk sampai dia teringat perkataan Pamannya, "Karena kita bersahabat dan aku menyukaimu, kita harus menikah!" Jongin yakin sekali begitulah cara kerjanya kalau meminta orang untuk menikah dengannya.
Jongin berusaha tidak bergerak saat mata cokelat Sehun memandangnya. Jongin tidak yakin apa Sehun mau menerimanya. Bukankah dia sudah menunggu terlalu lama untuk bertanya?
"Hanya jika kau memberikanku puddingmu." Sehun menjawab.
Jongin menunduk, memandang pudding cokelatnya dan menggigit bibirnya ragu. Dia sangat menyukai pudding.. tapi dia lebih menyukai Sehun. "Oke." Katanya cepat dan memberikan puddingnya pada Sehun agar dia tidak perlu melihatnya lagi.
"Kita sudah menikah." Sehun berbisik pelan. "Aku belum pernah menikah sebelumnya."
"Aku juga." Jongin menjawab ringan sambil meneruskan makan siangnya.
"Ya ampun itu memalukan sekali. Kenapa kau harus mengingatnya sih?" Jongin berkata saat Sehun menganggukan kepalanya.
"Tadinya aku lupa sampai kau mengaku sejak kapan kau mempunyai rasa padaku." Sehun menjawab.
"Oh aku benci cara otakmu bekerja kalau begitu. Banyak sekali hal memalukan yang kita lakukan saat masih kecil dulu." Jongin mengerang.
"Mungkin kita bisa diskusikan nanti saat kembali ke apartment, karena sekarang aku harus masuk dulu." Sehun berkata.
"Lebih baik tidak usah didiskusikan saja." Jongin mengeluh.
"Dan rumahmu masih jauh dari sini." Sehun meneruskan seolah dia tidak mendengar omongan Jongin. Sehun melepaskan sabuk pengamannya dan memeluk Jongin dari samping, "Terima kasih sudah mengantarkanku Jongin."
Jongin membalas pelukan Sehun semampunya, "Besok ku jemput jam lima ya?"
"Boleh, kalau kau mau menemui Ayahku dulu." Sehun berkata sambil melepaskan pelukannya pada Jongin. Sementara Jongin tidak tahu harus menjawab apa, berbicara dengan Ayahnya Sehun bukan sesuatu yang berani dia lakukan sekarang. Dia harus memastikan urusan Yifan selesai dulu sebelum kembali berbicara dengan Tuan Oh.
Hugging is a good medicine.
It transfers energy and gives the person hugged an emotional lift.
You need four hugs a day for survival.
Eight hugs for maintenance.
And twelve hugs for growth.
Scientists say that hugging is a form of communication because it can say things you don't have the word for.
And the nicest thing about a hug is that you usually can't give one without getting one.
(Anonymous)
