Hope you like this fiction :)
Sehun memperhatikan Jongin yang sedang menidurkan kepalanya diatas paha Sehun yang diberi bantal, lalu memperhatikan Chanyeol yang ikut-ikutan bersandar pada Sehun.
"Aku masih sebal ya pada kalian." Sehun berkata, walaupun tidak mendorong Jongin atau Chanyeol menjauh. Sehun hanya mendengar gumaman sebagai balasan atas perkataannya. "Kau janji menjemputku jam lima Jongin." Sehun menekan pipi Jongin yang terdapat luka lebam sehingga Jongin meringis kesakitan. "Dan ku kira kau masih di rumah nenekmu Chanyeol." Sehun menjambak rambut panjang Chanyeol, kesal.
"Sakit Sehun!" Baru Sehun melepaskan jambakannya dari rambut Chanyeol.
"Lalu sekarang kalian pulang dengan muka babak belur begini. Kalian itu habis berkelahi dengan siapa?" Jelas sekali Sehun menahan amarahnya. Sehun tidak bisa membiarkan mereka pulang dengan muka babak belur begini kan? Belum lagi kalau Ayah mereka yang suka mengabari mendadak untuk bertemu. Sehun mau bilang apa?
"Yifan." Jawab Chanyeol.
"Lucu sekali Chan." Sehun mendengus.
"Tanya Jongin kalau kau tidak percaya padaku. Kau memang selalu lebih percaya pada Jongin." Kata Chanyeol sebal.
Seperti tidak mendengar keluhan Chanyeol, Sehun bertanya pada Jongin, "Kalian habis bertengkar dengan siapa Jongin?"
"Yifan." Jawab Jongin ringan.
"Why the hell you guys met him?" Sehun kebingungan. Chanyeol berdiri kearah dapur dan mengambil es batu dari kulkas. Seperti menghindar dari pertanyaan Sehun. "Jong?" Sehun mengelus pipi lebam Jongin yang tadi ditekannya.
Dengan mata yang terpejam, Jongin menikmati sentuhan Sehun di wajahnya, "Aku meminta Ayahmu untuk menjodohkanku denganmu." Seketika gerakan tangan Sehun berhenti. "You knew about my feeling towards you." Jongin meneruskan, masih dengan mata terpejam. "Aku hanya ingin mendapat restu dari Ayahmu."
Lama Sehun terdiam, "Ayah menyuruhmu menemui Yifan?"
Jongin membuka matanya, "Tidak. Ayahmu ingin memastikan kalau kau benar-benar sudah selesai dengannya."
Sehun tersenyum miris, "Bahkan Ayah tidak percaya saat aku bilang aku benar-benar ingin menghilangkan Yifan dari hidupku. Kadang aku bertanya sebenarnya siapa yang punya perasaan pada Yifan?"
"Kadang dalam hidup kau butuh second opinion dari orang lain." Chanyeol berkata. "Just saying. Mungkin Ayahmu melihat yang aku lihat, tentang Yifan yang masih punya efek terhadapmu kalau kalian bertemu."
Sehun menghela nafasnya, "Lalu kenapa kalian malah menemui Yifan?"
Chanyeol mendengus, "Itu urusan kalian berdua saja, aku mau tidur." Lalu Chanyeol berjalan ke kamarnya.
"Sebentar Jongin, aku bersihkan lukamu dulu." Sehun mengangkat kepala Jongin dan berdiri untuk mengambil kotak P3K mereka. Sehun meminta Jongin duduk dan mengompres lebam Jongin dengan es batu lalu membersihkan lukanya yang berdarah.
"Aku ingin memastikan Yifan tidak kembali menghubungimu lagi, jadi ku buat kekasihnya tahu masalah Yifan yang masih sering menghubungimu. Tentu saja dia lebih percaya pada Yifan. Yifan mengajakku bertemu, jadi aku mengajak Chanyeol ikut denganku. Kalau tidak karena Chanyeol mungkin lukaku akan lebih parah dari ini."
"Darimana kau bisa memastikan kalau dia tidak akan menggangguku lagi?" Sehun meneteskan obat merah pada luka Jongin yang membuat Jongin meringis.
"Aku tidak bisa memastikan itu. Yang bisa kupastikan adalah kau tidak akan kembali padanya." Jongin menggenggam tangan Sehun.
"Aku tidak tahu apa aku bisa." Sehun berkata pelan.
"Kau bisa Sehun. Pertanyaannya, apa kau mau memastikan dirimu agar tidak kembali pada Yifan?"
"Boleh tidak kau jadi kekasihku saja untuk memastikan aku tidak kembali pada Yifan?"
Jongin tersenyum mendengarnya, "Sebesar apa pun keinginanku untuk menjadikanmu kekasihku, tidakkah kau berpikir itu sangat jahat untuk menjadikanku pelarianmu dari Yifan?"
Sehun mengangguk, "Aku kesal pada diriku sendiri, sebenarnya apa sih yang bagus dari Yifan sampai aku tidak bisa melupakannya?" Sehun kalau sedang begini kelihatan lucu sekali.
Jongin sampai tertawa mendengarnya, "Mulai dari sekarang lihat aku saja, atau sesekali lihat Chanyeol karena kami yang bergantian menjagamu."
Giliran Sehun yang tertawa mendengarnya, "Aku yakin kita butuh banyak istirahat karena besok kita ada kelas pagi."
"Aku malas datang ke kampus dengan muka begini, bolos saja bagaimana?" Jongin mengerang.
Sehun mengangguk, "Ajak Chanyeol juga."
"Tidak bisa, besok aku ada kuis penting. Tapi sebelum jam 12 aku akan balik lagi, karena kelas besok membosankan semua." Chanyeol berteriak dari kamarnya.
"Kau menguping ya!" Sehun berkata sebal. Tadinya Sehun ingin menghampiri Chanyeol yang sedang tertawa di kamarnya, tapi Jongin menariknya masuk ke kamar duluan. Mau bagaimana pun Jongin lebih kuat dari Sehun. Akhirnya malam ini Sehun tertidur dengan tekad kalau besok dan seterusnya dia tidak ingin mengenal Yifan lagi.
Sehun dan Jongin pada akhirnya membolos kelas sampai tiga hari sedangkan Chanyeol hanya datang ke kelas yang dianggapnya penting lalu kembali ke apartment. Mereka bahkan tidak keluar dari apartment kecuali untuk membeli makan.
Maka dari itu di kamis pagi saat Jongin meninggalkan Sehun dikelasnya, Sehun langsung diserbu pertanyaan dari Baekhyun, "Kau kemana saja sih Sehun? Sakit? Aku menelpon ponselmu tapi tidak aktif. Kau tahu betapa terkejutnya aku melihat Chanyeol datang ke kampus hari senin kemarin dengan wajah lebam begitu, lalu kau tidak masuk, lalu kata temanku Jongin juga tidak masuk. Tadinya kalau hari ini kau tidak masuk juga aku akan mendatangai apartment kalian untuk melihat apa kalian masih hidup." Kadang-kadang Sehun tidak mengerti kenapa Baekhyun bisa berbicara secepat itu. "Dan karena kau tidak masuk, aku jarang sekali bisa melihat Chanyeol dari dekat."
Sehun memandang Baekhyun jengah, "Kenapa tidak kau hampiri saja Chanyeol lalu tanya kenapa mukanya babak belur?"
Yang tadinya Sehun kira mata Baekhyun tidak bisa lebih lebar, ternyata bisa melebar, "Kau ini tidak menjawab pertanyaanku. Lagipula rencanaku kan belum matang, aku tidak ingin berakhir seperti mantan-mantan Chanyeol yang lain."
"Kalau kau sudah menjadi kekasihnya Chanyeol baru aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanmu." Baekhyun terlihat membuka mulutnya lagi ingin berbicara, tapi Sehun memotongnya, "Sekarang lebih baik kita belajar, sudah tiga hari aku membolos, aku ketinggalan apa saja?"
Baekhyun mendengus mendengarnya.
Jumat ini memang tidak ada yang berencana untuk pulang ke rumah. Chanyeol pun pulang terlambat karena ada urusan organisasi di fakultasnya. Seharian kemarin dia selalu mengeluh dan bersumpah demi Tuhan kalau dia tidak ingin ikut-ikutan masalah politik seperti itu. Tapi Kyungsoo menjebaknya, sepertinya dia masih marah karena diputuskan oleh Chanyeol begitu saja.
Jadi Sehun dan Jongin hanya memesan makanan Thailand untuk makan malam mereka dan menghabiskan waktu dengan bermain game sampai Chanyeol pulang, rencananya. Tapi suara bel membuyarkan rencana mereka.
Jongin yang membukakan pintu karena dia kira Yifan datang lagi, tapi ternyata bukan Yifan yang datang, "Ibu?" Jongin terkejut melihat Ibunya membawa banyak sekali paper bag yang polos maupun dengan print-an merk terkenal.
"Ibu berterima kasih sekali kalau kau mau membantu Ibu membawa belanjaan Ibu atau setidaknya menyingkir dari pintu agar Ibu bisa masuk dan menyimpan semua belanjaan Ibu." Jelas sekali sindirannya.
Dengan segera Jongin mengambil berbagai macam paper bag dari tangan ibunya dan menutup pintu setelah Ibunya masuk. Jongin menggelengkan kepala melihat belanjaan Ibunya, entah bagaimana bisa Ibunya bertahan membawa belanjaan sebanyak ini dari bawah tanpa meminta bantuan supir.
"Apa kabar Bi?" Sehun dengan sopan menyapa Nyonya Kim.
"Punya anak seperti Jongin dan kakaknya serta punya suami seperti Ayahnya Jongin tentu saja aku sehat." Nyonya Kim memeluk Sehun, "Dan kau seharusnya tidak memanggilku Bibi, kau dan Chanyeol itu sudah seperti anakku sendiri."
"Ibu ini mau disimpan dimana?" Terdengar suara Jongin dari belakang mereka, masih kesusahan membawa semua barang belanjaan ibunya.
"Ah aku hampir lupa." Dengan segera Nyonya Kim mengambil beberapa paper bag dan berkata, "Itu untuk mengisi kulkas kalian, sekalian dibereskan saja Jongin." Jongin menahan dengusannya dengan sabar dan menuruti perkataan ibunya. "Nah Sehun lihatlah Ibu beli apa untuk kalian." Dengan penuh semangat Nyonya Kim mengeluarkan beberapa kemeja dari paper bag pertama dan beberapa barang lainnya.
"Banyak sekali Bi.. Bu." Dengan segera Sehun mengganti panggilannya sebelum Nyonya Kim menyadari.
"Ini buat kalian bertiga, tadi Ibu sedang berbelanja untuk mengisi kulkas kalian dan melihat barang bagus baru datang, ya sudah Ibu belikan sekalian. Ini kemeja untuk kalian, ukurannya sama karena ku kira kalian badannya tidak terlalu berbeda jauh. Lalu ini ada sepatu juga, ada tas.."
"Kemeja kami masih bagus Bu, sepatu juga, tas juga, kenapa dibelikan lagi? Boros sekali." Jongin kembali dari urusannya menata kulkas.
"Aissh kau ini bukan masalah bagus atau tidaknya, orang-orang bisa bosan kalau melihatmu terus dengan pakaian yang sama, dikiranya kau tidak punya cukup uang untuk membeli pakaian lagi. Lagipula ini season baru, Ibu yakin belum ada yang punya sepatu dan tas model begini di kampus kalian." Dan Ibu Jongin menjelaskan lagi betapa pentingnya menjaga penampilan untuk memperlihatkan siapa mereka.
Pintu terbuka saat Ibu Jongin masih berbicara dan masuklah Chanyeol dengan membawa plastik penuh bir, "Chanyeol kau ini kenapa malam sekali baru pulang?" Nyonya Kim langsung berdiri menghampiri Chanyeol yang bingung mau disembunyikan dimana plastik yang dibawanya.
"Ibu kesini mendadak sekali." Kata Chanyeol sambil memeluk Nyonya Kim.
"Kau membawa apa itu?" Seolah tidak mendengar pernyataan Chanyeol, Nyonya Kim menunjuk ke arah plastik. "Jongin kau sudah bilang pada Chanyeol kan kalau dia harus menghentikan kebiasaannya minum bir?"
Jongin yang baru saja ingin pindah duduk ke sebelah Sehun pun menengok, "Sudah, tapi dia tidak mau mendengar." Rasakan kau, Jongin berkata tanpa suara pada Chanyeol saat Ibunya sudah kembali memusatkan perhatiannya pada Chanyeol.
"Kau ini tidak baik terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol begitu. Sekarang kau masih muda, belum terasa akibatnya, coba nanti kalau kau sudah seumur Ayahmu, perut membuncit jalan sedikit saja sakit. Kesehatan itu harus dijaga dari dini.." Dan Nyonya Kim terus berceramah tentang pentingnya menjaga kesehatan, istirahat teratur dan lain sebagainya.
"Aku mengerti Bu. Ngomong-ngomong Ibu berbelanja apa saja?" Dan dengan itu perhatian Nyonya Kim kembali teralihkan pada barang-barang yang dibawanya tadi sementara Chanyeol dengan sembunyi-sembunyi menyimpan plastik bawaannya.
"Ibumu itu Jong, aku tidak mengerti dia mendapat kekuatan berbicara sepanjang itu dengan satu tarikan nafas dari mana." Chanyeol berkata setelah Jongin kembali dari mengantar Ibunya ke mobil.
"Yang kau bicarakan itu Ibuku! Hati-hatilah!" Kata Jongin kesal.
"Kalau kau sudah lebih banyak mengobrol dengan Baekhyun mungkin kau akan tahu kalau Baekhyun bisa berbicara lebih cepat dari Ibunya Jongin." Sehun meneruskan.
"Menurutmu kalau aku melaksanakan pendekatan yang lebih dari sekarang bagaimana Hun?" Chanyeol tiba-tiba bertanya, seolah baru ingat kalau sudah cukup lama dia tidak mempunyai kekasih.
"Jangan sekarang, sebentar lagi kan ujian akhir, kalau GPA mu rendah bagaimana?" Jongin mengingatkan.
"Ujian akhir masih akan datang setiap enam bulan sekali, tapi Baekhyun kan cuma ada satu, bagaimana menurutmu Hun?"
"Aku tidak mengerti, kalian berdua itu sebenarnya saling suka tidak sih? Kau bilang mau mengamati Baekhyun dulu lalu Baekhyun bilang dia belum mematangkan rencananya untuk mendekatimu, alasannya tidak ingin berakhir seperti mantanmu yang sebelum-sebelumnya, maksudku apa susahnya dijalani saja dulu ya kan? Kalau cocok yang lanjutkan, kalau tidak ya sudah." Sehun berkata gemas.
"Tentu kau tidak mengerti Hun, karena Jongin masih seperti itu, coba nanti kalau Jongin sudah memintamu jadi kekasihnya." Chanyeol membalas.
"Tidak usah membawa-bawa namaku begitu Chan. Mana adil kalau kau membandingkan aku denganmu." Kata Jongin sambil menyiapkan game yang akan dimainkannya dan Sehun.
"Who told you life was fair? They clearly are filthy liars." Kata Chanyeol membuat yang lain tertawa mendengarnya.
Let the people who love you remind you of the goodness you can't see when your mind and the mirror are full of lies.
It is easy to be cruel to yourself when you're scared or lonely or doubtful, but please remember that in these times,
you are unreliable source.
Always get a second opinion.
Believe that those who love you see what is worth loving.
