Hope you like this fiction :)
Sehun menggerutu sepanjang jalan pulang ke apartment karena seharusnya hari ini Chanyeol lah yang mengantarnya pulang. Tapi karena Chanyeol merasa Baekhyun lebih membutuhkannya dia meminta Sehun pulang sendiri. Lagipula berjalan ke apartment tidak akan memakan waktu lama, sepuluh menit juga sampai. Sehun bersumpah akan mengadukan perbuatan Chanyeol pada Jongin nanti, kalau Jongin sudah pulang ke apartment mereka.
Sementara Baekhyun saat ini sedang mati-matian menahan senyumannya agar tidak terlalu lebar. Akhirnya Baekhyun bisa dibonceng Chanyeol lagi, walaupun dalam hati Baekhyun tidak enak juga karena membuat Sehun pulang jalan kaki. Tapi dengan cepat Baekhyun menepis perasaan tidak enaknya. Sesekali kan tidak apa-apa Sehun pulang jalan kaki, selama ini dia sudah enak sekali pulang pergi ke kampus dengan Chanyeol atau Jongin.
"Kau mau kemana dulu sebelum pulang?" Chanyeol bertanya dengan suaranya yang teredam helm.
Sekali lagi Baekhyun menahan jeritannya, dia tidak boleh terlalu menampakkan kalau dirinya sangat ingin bertemu dan jalan bersama Chanyeol. Dia tidak ingin sama dengan mantan-mantannya Chanyeol yang lain, "Kau mau makan dulu?" Tanyanya dengan suara yang dibuat setenang mungkin, walaupun Chanyeol pasti tidak akan bisa terlalu mendengar suaranya yang teredam helm.
"Aku tahu tempat makanan Thailand yang enak, kau mau?" Tawar Chanyeol.
"Boleh, aku sudah lama juga tidak makan makanan Thailand." Baekhyun tersenyum lagi, padahal sesungguhnya Baekhyun memang tidak pernah makan makanan Thailand sebelumnya.
Chanyeol membelokkan motornya ke arah kiri dan memasukki bangunan yang sepertinya restoran Thailand yang dibicarakan Chanyeol tadi. Tempatnya memang tidak terlalu besar dari luar, tapi begitu masuk ke dalam kita bisa melihat banyak pajangan khas Thailand yang berbau gajah atau foto tempat-tempat di Thailand dan beberapa tulisan Thailand yang melihatnya saja sudah membuat Baekhyun pusing.
Chanyeol mengarahkan mereka ke meja yang dibuat untuk dua orang, setelah duduk berhadapan dan pelayan mengantarkan buku menu, Chanyeol bertanya, "Kau mau pesan apa?"
Baekhyun inginnya tidak terlihat kebingungan melihat menunya tapi dia tidak bisa, karena sungguh dia tidak mengerti satu kata pun yang ada di buku menu ini, "Kau ada rekomendasi makanan enak disini tidak?"
"Aku sudah memilihkan tempat makan untuk kita, akan sangat arogan sekali kalau aku juga memilihkan apa yang kau makan kan?" Chanyeol tahu sekali kalau Baekhyun sebenarnya bingung ingin memilih apa. Baekhyun hanya menganggukan kepalanya sambil mencoba memahami apa yang ada di menu, "Makanan disini hampir semuanya enak, Sehun suka sekali makanan disini. Dia bilang kalau disini yang masak orang Thailand asli, jadi rasanya lebih enak."
Baekhyun masih mengangguk pelan sambil merutuki Sehun karena dia bisa memakan apa saja, "Aku mau pesan ini saja, dan minum ini." Baekhyun menunjuk menunya.
Chanyeol hanya mengangguk dan memanggil pelayan, siap untuk memesan. Tak satu kata pun dari nama menu yang diucapkan Chanyeol dimengerti Baekhyun, dia hanya berdoa dia tidak memesan makanan aneh, karena tadi dia hanya melihat yang bentuk ayamnya terlihat jelas, jadi dia yakin dia tidak akan salah pilih.
"Jadi Baek, ku dengar kau menyusun rencana untuk mendekatiku." Chanyeol berkata setelah pelayan pergi dari meja mereka.
Baekhyun tertegun, tentu saja Chanyeol tahu, Sehun kan lebih dulu mengenal Chanyeol daripada Baekhyun. "Sehun yang bilang?"
"Jangan salahkan Sehun, kau memanggilku Daddy." Chanyeol berkata seolah jelas sekali tendensi Baekhyun.
Baekhyun mengangguk karena ekspresi Chanyeol terlihat menakutkan sekali tadi, Baekhyun tahu kalau sudah menyangkut urusan Sehun, Chanyeol dan Jongin akan menjadi sangat posesif. Baekhyun jadi iri. "Kalau iya memangnya kau mau melarangku?" Baekhyun bertanya.
Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Kita makan dulu." Tepat sekali pelayan mengantarkan makanan dan minuman yang mereka pesan. Sesekali Chanyeol menanyakan hal-hal ringan pada Baekhyun, tentang kuliah, tentang keluarga, tentang Sehun, yang akan dijawab dengan senang hati oleh Baekhyun.
Selesai makan Chanyeol bertanya, "Kau mau melakukan hal yang menyenangkan tidak?"
"Maksudmu?"
Chanyeol menunjuk salah satu menu di buku menu, "Ini rasanya enak sekali dan kita bisa mendapatkannya gratis." Chanyeol berkata yakin.
"Aku tidak mau mencuri." Baekhyun berkata tegas.
"Mereka akan memberikannya dengan ikhlas kok. Kau ikuti saja petunjukku." Sekali lagi Chanyeol meyakinkan.
"Baiklah." Baekhyun akhirnya mengikuti, setampan apa pun Chanyeol tapi Sehun sudah memperingatkannya kalau Chanyeol itu memang suka bertingkah aneh dan diluar nalar.
Chanyeol tersenyum puas, "Nah itu makanan dipiringmu kan masih sisa sedikit, coba kunyah lalu kau muntahkan di tissue ini." Chanyeol memberikan selembar tissue pada Baekhyun. Baekhyun menuruti apa yang diperintahkan Chanyeol selagi Chanyeol memanggil pelayan.
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" Kata Chanyeol pada pelayan itu.
"Kalian tidak punya uang untuk membayar makanan kalian?" Pelayan itu langsung bertanya.
Chanyeol menggeleng, "Temanku ini, kekasihku maksudnya, dia terkena kanker otak stadium akhir." Baekhyun ingin protes rasanya dikatai begitu, "Dia saja memuntahkan apa yang dimakannya tadi." Chanyeol menunjuk tissue yang di pegang Baekhyun, "Dia ingin sekali makan makanan ini." Chanyeol menunjuk buku menu, "Tapi uang kami hanya cukup untuk membayar makanan yang sudah kami pesan. Bolehkan kami mendapatkan sedikit saja makanan ini." Pelayan tersebut terlihat berpikir, "Tolonglah, kekasihku hanya ingin mencicipinya sedikit, bahkan mungkin ini kesempatan terakhirnya untuk mencoba makanan ini."
Wajah pelayan wanita itu melunak, "Baiklah, kuberi kalian jatah karyawanku ya." Pelayan tersebut mengusap lengan Baekhyun, "Kau beruntung mempunyai kekasih yang tidak malu melakukan apa pun untukmu seperti dia." Lalu pelayan tersebut pergi.
Chanyeol terkekeh didepannya sementara Baekhyun memandangnya tidak percaya. "Kau bilang aku kanker otak stadium akhir Chanyeol."
"Sebentar lagi, kau hanya perlu berakting sebentar lagi sampai makanannya datang." Kata Chanyeol masih terkekeh geli.
Baekhyun hanya mendengus melihat Chanyeol yang tidak bisa berhenti terkekeh, "Kau bahkan bisa membeli berpuluh-puluh piring kalau kau mau, dia memberikan jatah karyawannya padamu loh."
Pelayan tersebut kembali dan memberikan mereka dua porsi dari menu yang ditunjuk Chanyeol tadi, "Ini banyak sekali." Kata Baekhyun.
"Tidak perlu sungkan. Melawan penyakit itu butuh banyak tenaga." Pelayan tersebut mengusap tangan Baekhyun sekali lagi, "Kau kurus sekali."
"Terima kasih, terima kasih banyak." Chanyeol berkata dengan mata yang berkaca, bukan karena terharu tapi karena dia terlalu banyak tertawa.
Dengan cepat mereka menghabiskan makanan tersebut karena memang rasanya enak sekali, Chanyeol tidak berbohong. Chanyeol membayar semua pesanan mereka termasuk dua porsi makanan tambahan tadi dan langsung keluar sambil melingkarkan tangannya di bahu Baekhyun. Membuat jantung Baekhyun berdetak sangat cepat. "Aku tidak menyangka kalau pelayan tersebut akan percaya pada akting kita."
Baekhyun dengan cepat melepaskan tangan Chanyeol dari bahunya, sebenarnya dia kesal Chanyeol menganggap semua hanya acting, Baekhyun merutuki dirinya yang terbawa perasaan.
"Kau mau tidak jadi kekasihku sungguhan Baekhyun?" Chanyeol berkata serius.
"Aku mau, tapi aku tidak mau berakhir seperti mantan kekasihmu sebelumnya." Baekhyun berkata.
"Kekasihku yang sebelumnya tidak mau ku ajak menggila seperti tadi." Chanyeol mengatakannya masih dengan muka seriusnya. "Kau berbeda."
"Baiklah."
"Baiklah apa?"
"Kau jelas sekali tahu kalau aku memang ingin menjadi kekasihmu kan? Ku kira aktingnya sudah selesai." Baekhyun mendengus.
Chanyeol kembali merangkul Baekhyun, "Bersikap manislah sedikit pada kekasih barumu ini, kalau dia diambil orang bagaimana?"
Lagi-lagi Baekhyun mendengus, "Ku bakar apartmentmu nanti."
Chanyeol tertawa, "Bisa bahagia terus aku kalau kau begini." Entah kenapa perkataan Chanyeol yang ini membuat muka Baekhyun memerah.
Sementara Sehun telah selesai mengungkapkan kekesalannya yang ditinggal Chanyeol pada Jongin. "Sudah?" Jongin bertanya sementara Sehun mengatur nafasnya setelah bercerita panjang lebar.
"Sudah." Sehun mengangguk.
"Bagaimana kalau kita menonton film?" Jongin beranjak dari tempat duduknya untuk menyalakan tv dan mencari film apa yang sedang tayang.
"Kau tidak mau membelaku dulu? Chanyeol meninggalkanku demi Baekhyun loh, padahal dia bisa mengantarkanku sebentar baru mengantar Baekhyun, sekarang juga dia belum pulang, pasti makan diluar sama Baekhyun." Sehun kembali menggerutu.
"Kau mau kita makan diluar juga?" Jongin mengalihkan perhatiannya pada Sehun.
"Aku sudah masak tadi sambil menunggumu pulang. Sebentar ku hangatkan dulu." Sehun beranjak ke dapur. Dia sebenarnya sangat suka memasak. Dulu dia pernah berpikir mungkin dia bisa menjadi koki professional saja, tapi Ayahnya melarang. Jadilah Sehun biasanya hanya membantu ibunya memasak, atau mencatat menu dari acara masak yang ditontonnya lalu mencobanya sendiri. Menambahkan bahan lain atau mengurangi bahan lainnya atau mengganti bahan dengan bahan yang ada.
Setelah selesai Sehun langsung mengambilkan untuknya dan Jongin. Sementara Jongin sudah dengan tenang menonton filmnya, "Seriously Jongin, ini jumat malam, kenapa kau malah menonton Little Mermaid, bukannya Gotham?" Sehun menyerahkan satu piringnya pada Jongin yang diambil dengan senang hati.
"Sebentar saja aku ingin berhenti berpikir, menonton kartun begini kan aku tidak perlu berpikir."
Sehun melihat para duyung berenang di layar tv mereka, mau tidak mau Sehun harus mengakui kalau Disney itu kelemahannya yang lain selain DC.
Selesai makan mereka masih meneruskan menonton Little Mermaid, "Kenapa ya Ariel bisa percaya begitu saja dengan pangeran yang baru pertama kali ditemuinya?"
"Karena dia pangeran." Jongin menjawab asal.
"Tapi kan Ariel juga putri." Sehun bersikeras.
"Rumput tetangga memang kadang terlihat lebih hijau." Jongin menjawab tidak nyambung.
"Terserah Jong, aku mau tidur saja. Aku butuh tenaga untuk mengeluh pada Chanyeol besok." Sehun ingin beranjak tapi tangannya ditahan Jongin.
"Temani aku saja disini." Jongin memeluk Sehun dan menyandarkan badannya di lengan sofa. Membuat Sehun bisa memanjangkan kakinya. Demi apa pun Jongin dan Sehun itu tinggi, kakinya panjang. Susah untuk mereka merasa nyaman dengan keadaan sofa yang sempit begitu, tapi Jongin terlihat tidak peduli dan masih meneruskan acara menontonnya.
"Kau tahu kita bisa berbaring lebih nyaman di tempat tidur." Sehun berkata, suaranya teredam di dada Jongin.
"Setelah filmnya habis kita bisa pindah ke kamar." Jongin menjawab pelan sambil tangannya mengusap punggung Sehun.
"Baiklah." Tapi gerakkan tangan Jongin membuatnya mengantuk dan akhirnya tertidur. Dia bahkan tidak sadar saat Chanyeol pulang dengan senyum lebar bahagianya, tentu saja dengan menenteng bir di tangannya. Karena Chanyeol akan sangat malas mengisi persediaan kulkas mereka kecuali dengan bir.
Karena lagi-lagi Chanyeol memilih untuk mengantarkan Baekhyun, Sehun pun pulang sendirian. Dia sudah menelpon Jongin bahkan mencari Jongin di perpustakaan, tapi tetap tidak ketemu juga, kakinya juga sudah lelah, jadi Sehun memilih untuk pulang saja. Mungkin Jongin sudah di rumah kan.
Ini hari jumat, mereka bertiga pun tidak ada yang berencana pulang ke rumah. Tapi sepertinya Sehun akan menghabiskan kebanyakan waktunya hanya berdua dengan Jongin saja. Chanyeol akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Baekhyun. Jongin sampai bilang kalau Sehun terlihat cemburu karena selalu marah-marah kalau Chanyeol tidak pulang ke apartment sebelum jam 10. Tapi kan sebenarnya bukan begitu, salah tidak sih Sehun kalau merasa kehilangan? Sebelumnya kan dia mempunyai perhatian dari Jongin dan Chanyeol hanya untuk dirinya sendiri, walaupun Chanyeol tetap memperhatikannya juga sih, tapi kan tetap saja tidak sebanyak dulu. Tidak baik memang terbiasa menjadi prioritas orang lain.
"Sehun." Sehun mengerang mendengar suara itu. Padahal dia sudah sampai di depan pintu gedung apartmentnya.
Sehun berbalik untuk menghadap orang yang memanggilnya tadi, "Apa?"
"Kau berpacaran dengan si Jongin itu?" Yifan langsung bertanya.
"Bukan urusanmu."
"Menjadi urusanku kalau dia memukuliku sampai babak belur kan? Bicara kalau aku tidak boleh menemuimu lagi. Memangnya kalian sudah berpacaran? Kenapa dia berani melarangku menemuimu?" Yifan mendekati Sehun, tapi Sehun tetap menjaga jaraknya dengan Yifan.
"Baguslah kalau kau juga babak belur. Agar kau tidak mengejar lelaki lain selain kekasihmu." Kata Sehun kesal.
Yifan menghela nafas, "Masalah itu, I want to make amend with my past." Yifan mengulurkan tangannya, "Maafkan aku."
Sehun menerima tangan Yifan dan menjabatnya, "Aku maafkan." Kata Sehun pelan.
"Aku sebenarnya ingin memberikanmu ini." Yifan memberikan amplop coklat yang sedari tadi dipegang di tangan kirinya.
Sehun mengambilnya, "Apa ini?"
"Undangan pernikahanku, ku harap kau, Jongin, dan temanmu yang ikut memukuliku bisa datang. Kita tidak harus benar-benar berteman, hanya memastikan kalau kita berada dalam keadaan yang baik-baik saja. Kurasa itu juga akan baik untuk bisnis kita ke depannya kalau kau mau meneruskan kerjasama dengan perusahaanku mungkin." Yifan berkata cepat seperti dia sudah hafal apa yang ingin dia bicarakan sebelumnya.
"Aku mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Ku pastikan kita dalam keadaan baik-baik saja kalau dimasa yang akan datang kita akan bekerja sama dalam bisnis." Yifan terdiam tapi tidak beranjak, "Aku benar-benar berharap kau mendapatkan kebahagian dengan pasanganmu. Menemaninya bahkan disaat yang paling buruk baginya. Kau tahu kau bisa menjadi pendamping yang baik kan?"
"Dia yang merubahku, he made me believe that love was forever and love could sustain us through every fight."
Sehun tertawa mendengarnya, "Aku percaya dia merubahmu, kata-katamu sudah seperti penyair begitu."
"Sehun?" Jongin langsung menghampirinya, "Kenapa dia kesini? Dia mengganggumu?"
Yifan menghela nafas lagi, "Aku pergi dulu ya Sehun. Kau bisa pastikan pada kekasihmu kalau aku tidak mengganggumu kan?"
Sehun mengangguk dan Yifan pun meninggalkan keduanya, "Ayo Jongin, kau tidak mau masuk?" Sehun mendorong pintu menuju lobby apartment mereka.
"Mau apa dia menemuimu?" Jongin bertanya sambil menahan tangan Sehun agar berhenti berjalan.
"Dia mengantarkan ini." Sehun memberikan amplop coklat tadi pada Jongin.
Jongin kembali berjalan di sebelah Sehun sambil membaca isi amplop yang diberikan Sehun tadi. "Dia mau menikah? Umurnya berapa sih?"
"Apa penting kalau kau tahu berapa umurnya?"
"Memangnya dia tidak seumuran kita?"
"Kenapa sih kita suka sekali menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?"
"Jadi kau mau datang?" Jongin menunjuk amplop yang dipegangnya saat Sehun membuka pintu apartment mereka.
"Menurutmu aku datang tidak? Dia juga mengundang kau dan Chanyeol sih."
"Benarkah? Ku kira dia akan menuntut aku dan Chanyeol karena sudah memukulinya." Jongin terlihat sekali terkejut.
"Kalian sih tidak percaya kalau aku juga bisa mengatur perasaanku sendiri. Kan kalau kalian percaya padaku kalian tidak perlu memukuli anak orang begitu." Sehun merebahkan dirinya diatas sofa kesayangan mereka.
"Tapi aku dan Chanyeol punya bukti kalau dia duluan yang memukulku Hun." Jongin bersikeras duduk di sofa yang di tiduri Sehun.
"Don't care." Gumam Sehun.
"Sehun kami itu membelamu ya." Jongin mengguncang badan Sehun agar Sehun membuka matanya.
Sehun mengerang dan membuka matanya, dia mendudukan dirinya bersandar pada lengan sofa agar Jongin punya lahan yang lebih luas untuk duduk, "Aku tahu dan aku berterima kasih untuk itu. Tapi kadang-kadang kalian memperlakukanku seperti anak kecil, kalian tidak memberikan aku kesempatan untuk berpikir dan mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Kalian sama saja seperti ayahku." Kata Sehun pelan.
Jongin terdiam mendengarnya, apa benar mereka terlalu mengatur Sehun? Apa benar sekarang mereka sudah berubah menjadi seperti ayah mereka? "Aku minta maaf." Jongin membalas pelan. "Sepertinya aku mengerti sekarang kenapa ayah kita benar-benar mengatur apa yang kita lakukan. Kurasa aku merasakan hal yang sama, aku hanya ingin kau tidak merasakan sakit dalam menjalani hidupmu. Tapi ternyata aku salah. Aku justru terlalu mengekangmu. Aku minta maaf kalau aku malah menjadi sumber kesakitanmu."
"Jongin tidak bisakah kau jadi kekasihku?" Sehun bertanya setelah dia terdiam lama karena menyerap perkataan Jongin tadi.
"Kalau menurutmu kau sudah siap tentu saja aku mau. Kau tahu sendiri itu salah satu keinginan terbesarku." Jongin melihat ke mata Sehun untuk mencari adakah keraguan dalam mata coklat itu.
"Kurasa aku sudah siap sejak aku sadar kalau sebenarnya yang kurasakan pada Yifan itu bukan rasa sayang lagi, tapi rasa kesal karena aku tidak mendapatkan perhatiannya lagi sementara itu aku tidak melihatmu yang memberikan hampir semua perhatianmu kepadaku. Kau bahkan mau mengobati luka yang kubuat." Sehun mengambil jeda. "Kau tahu kenapa aku melukai diriku sendiri?" Jongin menggelengkan kepalanya. "Karena aku merasakan sakit tapi aku tidak bisa melihat lukaku, karena aku ingin mengalahkan rasa sakit yang ada didalam dengan rasa sakit yang ku buat diluar."
Jongin menggenggam tangan Sehun, mengusap bekas luka yang dibuat Sehun pelan, "Berbagilah kesakitanmu denganku, aku tidak berjanji semua akan baik-baik saja, tapi aku berjanji tidak akan meninggalkanmu apa pun yang terjadi." Jongin mengernyit, "Aku tidak terdengar cheesy kan?"
Sehun tertawa melihat Jongin yang mengernyit, "Cheesy sekali sampai ku kira kau bukan Jongin tadi."
"Padahal aku dan Baekhyun tadinya ingin mempercepat proses kalian menjadi sepasang kekasih, sepertinya kalian tidak membutuhkan itu ya?" Chanyeol berjalan ke ruang tengah. Sehun dan Jongin bahkan tidak sadar kalau Chanyeol menguping mereka dari tadi.
"Kenapa sih kau suka sekali menguping?" Sehun mengerang sebal.
"Aku tidak menguping, aku tidak sengaja mendengar, lagi pula kalian bicara keras sekali, tidak salah dong kalau telinga besarku mendengarnya." Chanyeol membela diri, "Jadi kenapa kalian tiba-tiba memutuskan untuk bersama?"
Jongin menunjuk amplop coklat yang disimpan di meja tadi. Chanyeol dengan segera mengambilnya untuk dikeluarkan isinya dan dibaca, "Waah ini serius?" Sehun mengangguk, "Lebamnya sudah hilang belum? Dia menikah besok loh."
Jongin dan Sehun terkejut. Mereka tidak tahu kalau besok lah tanggal pernikahan Yifan, karena Sehun tidak membuka isinya sedangkan Jongin hanya melihat namanya saja, "Dia mengundang kita untuk datang. Menurutmu kita datang tidak?"
"Benar juga, dia menuliskan Oh Sehun and friends, kenapa nama kita jadi seperti boyband begini?" Chanyeol mendengus. Serahkan pada Chanyeol untuk fokus pada sesuatu yang salah.
I don't wanna touch you
I don't wanna be
Just another ex-love
You don't wanna see
I don't wanna miss you
Like the other girls do
I don't wanna hurt you
I just wanna be
Drinkin' on a beach with
You all over me
I know what they all say
But I ain't tryna play
(Taylor Swift – End Game)
