Hope you like this fiction :)


3 Years Later

"Jadi?" Tanya Sehun.

"Tidak bisa apa kita tidak memikirkan masa depan dulu? Aku malas." Chanyeol membalas.

"Tidak bisa. Tahu sendiri Ayah kalian itu bagaimana kan? Ini saja aku sudah disuruh untuk memburu-buru skripsi kalian. Hell, skripsiku saja belum selesai." Sehun mengeluh.

"Kau berbicara seperti Ayahmu tidak begitu saja." Chanyeol membalas kesal.

Sehun mendengus, "Ayahku begitu juga, makanya aku mau kalian cepat mengambil keputusan, biar aku tidak sendirian."

"Bagaimana pun aku ingin masa depanku melibatkan Baekhyun." Chanyeol berkata pasrah, "Terserah kalian mau melanjutkan S2 atau langsung kerja."

"Bukannya kemarin kau bilang sudah bosan dengan Baekhyun?" Sehun bertanya.

"What most people don't understand and what most romance novel fail to mention is that relationship requires effort beyond the initial courtship. It may be easy to come up with date ideas in the first few months, but after a while one runs out. Visit the museum? Done that. Dinner at fancy restaurant? Done that. And besides, neither of us really cares for the vagaries associated with travel. Ideas repeat themselves, energy wanes, and one starts to risk feeling boredom in the relationship." Chanyeol menjelaskan.

"Tapi kau sudah cukup lama dengannya." Sehun bersikeras.

Bukannya Chanyeol yang menjawab, "Sayang." Panggil Jongin yang sedari tadi diam saja.

Pipi Sehun otomatis memerah, dia paling tidak bisa dipanggil sayang, apalagi oleh Jongin, "Jangan bilang terserah juga Jongin." Kata Sehun cepat.

Jongin menggeleng, "Tidak. Hanya saja kita baru selesai ujian akhir. Aku dan Chanyeol bahkan belum menyelesaikan proposal kami. Aku tahu proposalmu pun masih butuh revisi kan?"

"Tapi Ayah bilang.."

"Mereka tidak akan tahu kalau tidak ada dari kita yang bercerita kan Chanyeol?" Jongin mengatakannya tanpa melihat Chanyeol.

"Kalau aku bercerita pada mereka berarti aku sudah gila." Chanyeol membalas setelah meneguk birnya.

"Kau sudah mengabiskan tiga botol Chan, berhenti dulu." Sehun menegur Chanyeol.

"Ayolaah Hun, kita bahkan baru selesai ujian tadi siang. Otakku sedang tidak bisa berpikir nih." Balas Chanyeol.

Melihat Sehun yang sepertinya akan berteriak pada Chanyeol dan Chanyeol yang sepertinya tidak akan peduli, Jongin pun ambil alih. Jongin menarik Sehun berdiri dari sofa dan menggiringnya ke kamar mereka, "Aku belum mengantuk Jongin, aku juga belum selesai bicara dengan Chanyeol." Tapi Jongin sudah menutup pintu kamarnya.

"Mulutmu itu punya kegiatan yang lebih baik selain berbicara pada Chanyeol yang sedang setengah sadar." Dan Jongin mencium Sehun.

"Aku akan benar-benar menyewa apartement sendiri mulai bulan depan! Dasar kelinci!" Teriak Chanyeol dari ruang tengah.


6 Years Later

"Chanyeol kau terlambat lagi!" Ini masih pagi dan Sehun sudah meneriaki Chanyeol. Kadang-kadang Jongin sebal. Jongin juga ingin diteriakki Sehun.

"Posesif sekali sih Hun, kita kan sudah satu apartment, satu kantor juga. Kalau aku ingin menikmati waktuku dalam perjalanan ke kantor kan tidak apa-apa." Chanyeol berkata sambil berjalan ke arah ruangan mereka.

"Kau melewatkan satu meeting, terlihat sekali sih kau menikmati waktumu." Sehun membalas kesal.

"Arrggh aku ingin kembali kuliah saja. Aku malas kerja." Tiba-tiba Jongin menyahut.

"Setuju!" Chanyeol dengan semangat berkata, "Bagaimana kalau kita belajar desain grafis?"

"Aku ingin memperdalam ilmu bisnisku Chan, aku mau mencoba dari universitas lain." Jongin seolah tidak sadar kalau Sehun sudah sangat sebal.

"Kadang aku bingung kenapa aku bisa tahan berteman dengan kalian dari dulu, kenapa aku tidak mencari teman lain saja ya?" Sungguh Sehun sebal.

"Karena kau mencintai kami Sehun. Masa begitu saja tidak tahu?" Nada yang dipakai Chanyeol polos sekali, entah dia belajar dari mana menggunakan nada begitu.

"Kau terlalu banyak berhalusinasi Chan, Sehun kan hanya mencintaiku. Makanya move on." Jongin merangkul Sehun menjauhi Chanyeol.

Baru Chanyeol akan membalas Jongin, suara lain terdengar, "Kalian tidak ada kerjaan mengobrol disini?"

Sehun dengan cepat membalas, "Maaf Paman, maksudku Tuan Kim. Kami ada masalah yang harus didiskusikan."

"Diskusikan di ruangan kalian, tidak enak dilihat orang begini." Tuan Kim berkata.

"Baik Tuan." Balas Sehun lagi.

"Park, ku harap rekor terlambatmu bulan ini berkurang ya." Lalu Tuan Kim berjalan menjauhi mereka bertiga setelah melihat Chanyeol mengangguk.

"Kau memberi tahu Paman Kim Hun?"

"Sumpah demi Tuhan aku tidak berkata apa pun. Sesebal apa pun aku dengan kelakuanmu yang suka seenaknya begitu, aku tidak akan mengadu." Sehun berkata cepat.

Lalu Sehun dan Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Jongin. "Kenapa?" Tanya Jongin. "Kalian menuduhku yang mengadu?"

"Kau pulang minggu kemarin Jongin." Chanyeol berkata.

"Kepala HR yang mengadu. Tidak mungkin juga hampir setiap hari terlambat dan mereka tidak mengadukanmu kan?"

Dengan cepat Chanyeol berbalik arah, "Mau kemana Chan?" Sehun menahan Chanyeol.

"Ingin memberi pelajaran pada orang yang dengan seenaknya mengadukanku." Kata Chanyeol sambil berjalan ke ruangan HR.

Tadinya Sehun ingin mengikuti Chanyeol, tapi Jongin menahannya. Sebelum Sehun sempat protes, Jongin sudah menarik Sehun ke ruangan mereka. "Chanyeol itu sudah besar. Kau mengurusinya seperti dia masih anak sekolah saja."

"Kau tahu diantara kita bertiga, Chanyeol lah yang paling beresiko membuat masalah." Sehun menjelaskan.

"So? Let him deal with it. Kau tak bisa terus berada disampingnya dan mencegahnya membuat masalah kan?" Jongin mendengus sebal.

Sehun terdiam, mencerna perkataan Jongin. "Kalau kau meragukanku. Aku masih kekasihmu kok. Mungkin akan menjadi suamimu kalau kau cukup berani untuk mengambil keputusan dan melamarku."

Jongin terdiam mendengar omongan Sehun. Sementara Sehun langsung berbalik dan menempati mejanya. Dia mulai bekerja dengan membalas email yang masuk dan sesekali menandai email yang penting sementara Jongin berjalan perlahan ke mejanya. Dia bahkan tidak menyalakan komputernya. Otaknya masih memproses apa yang dikatakan Sehun.

Sampai Chanyeol masuk ke ruangan mereka, "Hun, feeku di potong bulan ini."

Tanpa mengalihkan pandangan dari komputernya Sehun menjawab, "Akhirnya mereka berbuat adil."

"Sebenarnya kau temanku atau bukan?" Chanyeol mendengus.

"Aku masih mempertanyakan hal yang sama sampai sekarang." Jawab Sehun ringan.


10 years later

"Sehun?"

"Huh?" Sehun masih fokus dengan makanannya.

"Dengar tidak yang tadi ku katakan?" Baekhyun berusaha sabar.

"Jongin punya kekasih baru kan? Lalu?" Sehun menyuapkan nasi terakhirnya dan mencoba fokus dengan apa yang Baekhyun bicarakan.

"Aku mau kau bicara dengannya." Baekhyun menjawab ringan.

"Kenapa?" Sehun menunjukkan muka bingungnya.

Sementara Baekhyun berdecak kesal karena jelas sekali Sehun tidak memperhatikan apa yang dibicarakannya sedari tadi. "Kalau kau tidak sadar Jongin terlihat lebih kurus akhir-akhir ini. Sejak dia menjalin hubungan dengan wanita yang kalau diingat namanya saja aku sudah pusing."

Sehun tertawa, tapi langsung terhenti karena Baekhyun menunjukkan muka marahnya. Sehun berdeham lalu berkata, "Jadi kau ingin aku bicara apa dengan Jongin?"

Baekhyun menghela nafasnya, lelah, "Melihat kau dan Jongin seperti ini membuatku sedih Sehun. Kenapa sih kalian harus menyiksa diri kalian begini?"

"Lalu aku harus bagaimana? Meminta Jongin berpisah dengan kekasihnya?" Sehun menjawab kesal, tapi Baekhyun memandangnya tajam. Sehun menghela nafas dan berkata, "Baiklah aku akan bicara dengan Jongin pulang kerja nanti." Dengan itu Sehun meninggalkan Baekhyun untuk berjalan ke ruangannya.

Sehun kesal. Demi apa pun dia berusaha biasa saja. Hubungan Sehun dan Jongin baik, sampai kadang-kadang Baekhyun dan Chanyeol iri karena mereka berdua jarang bertengkar. Tidak pernah meributkan hal-hal kecil seperti yang sering dilakukan Chanyeol dan Baekhyun. Sampai lima bulan yang lalu Sehun memutuskan hubungan mereka. Tidak ada pertengkaran hebat. Sehun kembali ke kebiasaan buruknya, cutting. Jongin tidak suka, berusaha mencegah. Tapi dia tidak bisa menjaga Sehun 24 jam setiap harinya. Sehun merasa tidak ada yang bisa diperjuangkan lagi dengan Jongin dan meminta berpisah, Jongin hanya mengiyakan saja. Sejak satu tahun lalu Sehun dipindah ke kantor cabang di daerah, begitu juga Chanyeol. Mereka bertiga berbeda kantor sekarang.

Awal-awal berpisah mereka masih menyempatkan untuk bertemu, tapi kesibukan mengalahkan mereka. Awalnya bertemu seminggu sekali, dua minggu sekali, sebulan sekali, skype setiap minggu menjadi chat yang hanya dibalas pagi dan malam dan bertemu saat Sehun dan Chanyeol pulang saja.

Seperti saat ini. Sehun dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang ke apartment yang ditinggalinya dengan Jongin dan Chanyeol. Apartmennya sendiri terlalu hening sampai dia bisa kembali ke kebiasaan buruknya. Sepenuhnya, Sehun menyalahkan putusnya hubungan mereka karena dirinya sendiri. Kalau saja dia lebih kuat, kalau saja dia tidak sebergantung itu pada Chanyeol dan Jongin mungkin mereka masih bersama saat ini.

"Kau pulang?" Jongin melihat Sehun yang duduk di sofa kesayangan mereka.

Sehun mengangguk, "Chanyeol juga bilang akan pulang." Benar kata Baekhyun, Jongin terlihat lebih kurus, apa dia tidak bahagia? "Kau langsung pulang? Ini kan hari jumat."

Jongin mendudukkan diri di sebelah Sehun, "Aku seperti punya feeling kalian akan pulang jadi aku memutuskan pulang saja."

"Kau kurusan Jong." Sehun berkata.

"Banyak yang ku kerjakan akhir-akhir ini, tidak sempat makan juga. Kau sudah makan malam?" Jongin bertanya.

"Belum, tadinya aku ingin memasak, tapi kulkas kosong. Mau memesan apa? Chanyeol pasti hanya membeli bir diluar sana." Sehun mengeluarkan ponselnya.

"Ayam?" Ada sedikit harapan di nada Jongin.

Sehun tertawa dan mulai memesan melalui ponselnya, "Kau dan kesukaanmu akan ayam tidak bisa berubah."

"Banyak hal lain juga dariku yang belum berubah." Jongin berkata pelan.

Sehun menyelesaikan pesanannya dengan cepat dan kembali memerhatikan Jongin, "Kau ingin bercerita?"

"Aku tidak bahagia Sehun." Jongin berkata sungguh-sungguh.

"Aku juga tidak." Chanyeol keluar dari kamarnya.

"Kau sudah pulang?" Sehun berkata kesal. Tapi Chanyeol tidak mempedulikan perkataan Sehun dan duduk di sebelah Sehun sehingga Sehun diapit oleh Jongin dan Chanyeol. Chanyeol menyandarkan kepalanya pada pundak Sehun.

"Aku lebih memilih diomeli olehmu daripada orang kantor." Chanyeol melanjutkan. "Tidak bisa ya kita berhenti bekerja saja?"

Jongin menaruh bantal di atas paha Sehun dan menidurinya, "Kita resign bersama saja. Paling nanti Ayah kita yang panik."

"I just wonder if everyone experiences happiness the same way. For me, maybe it's more of a feeling of satisfaction, like I've done my duty, or I'm living up to expectations." Sehun berkata dengan tangan kirinya mengelus rambut Jongin dan tangan kanannya mengelus rambut Chanyeol.

"Kalau Jongin sih kelihatan bahagia ya dengan kekasih barunya?" Chanyeol menjawab dengan nada bercanda.

"Aku sudah putus dengannya dan tidak mau membicarakannya lagi." Jawab Jongin dengan nada kesalnya.

"Jadi kekasihku lagi saja Jongin." Sehun membalas.

"Boleh. Asal kau tidak meminta berpisah lagi denganku nanti." Jawab Jongin ringan.

Chanyeol tertawa lalu dengan cepat mengambil ponselnya, "Baekhyun, mereka berbaikan dan kembali lagi. Aku menang taruhan ya."

Sehun yang mendengarnya pun kesal, "Jadi resign tidak Jong? Aku mulai minggu depan mau resign saja lah. Biarkan saja Chanyeol sendirian disana."

Jongin dengn cepat menanggapi Sehun, "Aku akan memesan tiket liburan ke Eropa sekalian untuk kita berdua, bagaimana? Biarkan saja Chanyeol dengan Baekhyun disini."

"Kalian seperti anak kecil sekali sih." Chanyeol menutup telponnya dengan Baekhyun. "Masa karena aku taruhan saja kalian tidak mau menemaniku lagi."

Sehun dan Jongin terus membicarakan rencana liburan mereka seolah Chanyeol tidak ada disana. Setidaknya malam itu ada sesuatu yang berubah.


Now

"Aku tidak menyangka sampai juga aku menyelamati kalian di hari pernikahan kalian." Chanyeol memeluk Sehun dan Jongin bergantian.

"Kau tahu aku pun sempat ragu akan sampai di hari ini mengingat usia kita pun sudah tidak muda lagi." Sehun membalas.

"Chanyeol! Anakmu menangis nih! Hanya ingin Papa katanya." Baekhyun berteriak dari tempat duduknya.

Chanyeol menghela nafas, "Kalau kalian benar-benar belum siap, lebih baik nanti dulu adopsi anaknya."

"Chanyeol!" Panggil Baekhyun lagi, sementara anak di gendongannya terus menangis.

"Sana bantu Baekhyun." Sehun mendorong Chanyeol.

"Aku tidak mau punya anak." Jongin berkata.

"Aku pun tidak." Lalu mereka berdua tertawa bersama.

"Seriously?" Sepertinya Nyonya Kim mendengar perkataan mereka. "Kalian tidak bisa seperti itu. Nanti kalau sudah tua memangnya siapa yang akan mengurus kalian?" Bahkan di hari pernikahannya pun mereka tidak bisa lepas dari omelan Ibu mereka.


This is the end of this story and the end for this account

If you follow all my story you'll know that I write based on my real life

This the most honest story I ever write, the plot based on my experienced except part "Now" in this chapter

I can't thank you guys enough to always read my story

You make an offer to make it commercial seems uninteresting

Just send me a message and I'll reply it guys

It'll nice to know you personally

Once again thank you for always be one of my reason I keep writing :)

Much love for you guys :)

p.s: I won't delete story in this account in case you want to read again later

p.s.s: much love