Chapter 2 : Lelaki di Stasiun
Taki Tooru POV
"Taki.. Kau mau langsung pulang? Bagaimana jika kita makan dulu di kafe dekat sini"
Aku menoleh kearah Sasada dan langsung mengangguk setuju. Hari pertama ini, kami diperbolehkan pulang usai acara penyambutan. Jadi masih banyak waktu tersisa untuk bermain.
Aku dan Sasada singgah di kafe terdekat dan menyantap makanan disana. Rumahku dengan sekolah cukup jauh, hingga mengharuskanku naik kereta setiap hari, jadi aku masih merasa asing dengan wilayah sekitar sini. Aku rasa sering jalan-jalan seperti ini cukup berguna bagiku mengingat beberapa beberapa jalan agar kelak tidak tersesat.
Temanku yang duduk bersamaku sekarang bernama Sasada Jun. Aku dan dia sudah satu sekolah sejak SMP. Jadi bisa dikatakan, dia teman terdekatku sekarang. Wajahnya agak bulat hingga terkesan cukup manis, ia menggunakan kacamata dan tingginya sedikit lebih rendah dariku.
"Aku harap di kelas kita ada beberapa pria tampan" ucap Sasada tiba-tiba.
Aku tertawa. Tiba-tiba aku teringat dengan lelaki yang kutemui di stasiun pagi tadi. Lelaki dengan kulit seputih salju berhidung mancung dan iris cokelat pada matanya. Aku masih ingat senyum manis lelaki itu saat aku memanggilnya 'Yuki'.
"Taki?"
Aku terbangun dari lamunan dan mendongak memandang Sasada. Sasada nampak menyipitkan matanya dan menyorotku dengan tatapan curiga. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Sasada.
Aku pun menceritakan apa yang terjadi pagi tadi padanya. Sasada nampak antusias mendengarkan apalagi setelah kusebut pria itu cukup tampan.
"Bodoh! Seharusnya kau tanya namanya" tandas Sasada. Aku hanya bisa tersenyum dan menggaruk tengkuk.
"Tidak sempat.. Dia sudah langsung masuk ke dalam kereta saat kereta tiba"
Keesokan harinya. Wali kelas kami memasuki kelas, melakukan hal yang biasa dilakukan saat pertama kalinya memulai kegiatan belajar. Wali kelas kami seorang lelaki yang nampaknya berumur lima puluhan bernama Akibara sensei.
Beliau memperkenalkan dirinya didepan kami dengan ramah, menyelipkan beberapa cerita perjalanan karirnya dan memberikan sedikit lelucon untuk mencairkan suasana kelas. Aku menyukai cara bicaranya, lembut tanpa tekanan, seakan berbicara dengan anaknya sendiri.
"Baiklah, aku sudah selesai memperkenalkan diri. Giliran kalian. Dimulai dari barisan depan pojok kanan"
Akibara-sensei memberi perintah. Kami mulai maju satu persatu memperkenalkan diri. Mereka semua berasal dari sekolah yang berbeda kecuali Sasada, membuatku tambah bersemangat. Sejak kecil, aku sangat senang mendapat teman baru. Menurutku, mencari teman sebanyak-banyaknya itu penting, karena hidup tak akan berwarna jika kita kesepian. Aku maju kedepan, memperkenalkan nama dan memberi sapaan.
"Namaku Taki Tooru, aku dari SMP Puteri Hishigaki, salam kenal dan mohon bantuannya"
Aku kembali ke tempat dudukku usai melakukan perkenalan sederhana itu. Aku menoleh ke kursi disebelahku. Kursi tempat orang yang seharusnya melakukan perkenalan selanjutnya, namun kursi itu kosong.
"Selanjutnya!" sahut Akibara sensei.
Semua siswa dan Akibara sensei memandang kursi kosong disampingku. Nampaknya siswa yang seharusnya melakukan perkenalan terakhir tidak masuk. Aneh! Padahal ini baru hari kedua di sekolah.
Apa dia sakit?
"Apa siswa selanjutnya tak masuk?" tanya Akibara sensei. Dan banyak dari kami hanya mengedikkan bahu.
"Baiklah kita mulai sa-"
Sreek..
Terdengar suara pintu yang digeser, dilanjutkan langkah kaki ringan membuat sontak seluruh siswa dan Akibara sensei menoleh. Lelaki tinggi berkulit puti itu melangkah masuk dan membungkuk pelan kearah Akibara sensei.
"Maaf atas keterlambatanku, sensei" ucap pria itu namun dengan intonasi tenang.
Suaranya tidak terlalu berat dan terkesan lembut terdengar, suara yang sudah pernah kudengar sebelumnya. Mataku tidak bisa berpaling dari pria itu. Semilir angin dari jendela meniup rambut lelaki itu hingga wajahnya terlihat jelas. Wajah itu, kulitnya yang seputih salju. Tidak salah lagi. Itu pria di stasiun. Ternyata dia berada di kelas yang sama denganku.
"Kau ini! Ini baru hari kedua kau ada di SMA, bagaimana bisa kau terlambat, huh!" sahut Akibara sensei, nampak tak senang.
Namun, lelaki itu tak menunjukan rasa takut sedikitpun. Wajahnya nampak tenang, mimiknya juga tak berubah sedikitpun.
Akibara sensei menghela nafas.
"Baiklah, kali ini kuampuni. Sekarang perkenalkan dirimu kedepan teman-temanmu"
Lelaki itu mengangguk dan menghadap kearah kami. Aku bisa melihat seluruh wajahnya, benar-benar seputih salju. Beberapa gadis nampak mulai berbisik, beberapa dari mereka berpikiran sama denganku, beberapa lagi memuji wajahnya yang cukup manis.
"Namaku Natsume Takashi, aku dari Tokyo, salam kenal dan mohon bantuannya"
Dia orang kota, pantas saja. Lelaki desa tak akan punya wajah setampan itu. Lelaki itu berjalan menuju kursi kosong disampingku, beberapa siswi meliriknya dan saling berbisik lagi.
"Keren, ya" ujar mereka terdengar samar ditelingaku. Laki-laki itu duduk di kursi kosong tepat disebelahku. Aku memandangnya membuatnya menoleh. Mata kami bertemu, aku tersenyum.
"Kita pernah bertemu di stasiun" ucapku memulai pembicaraan.
Lelaki itu nampak terdiam sejenak. Nampak berpikir.
Tunggu! Apa dia lupa? Itu baru kemarin!
"Kau tidak ingat ya?" tanyaku lagi.
Lelaki itu mengangguk, "Maaf, aku tidak ingat"
"Eh! Itu baru kemarin!" pekikku tanpa sengaja mengeluarkan suara cukup keras hingga Akibara sensei dan beberapa siswa lain menoleh. Aku menutup mulutku dan menunduk malu.
"Aku tak pandai mengingat wajah orang"
Suara lelaki itu terdengar setengah berbisik, aku menoleh. Ia berbicara tanpa melihat kearahku.
Aku mengerti
"Jadi pria yang kau temui di stasiun itu Natsume-kun!" pekik Sasada. Membuatku reflek membungkam mulutnya.
"Memang benar, wajahnya cukup manis. Dan sekarang kau kesal karena dia lupa dengan pertemuan kalian kemarin?" terka Sasada dan seperti biasa selalu tepat sasaran.
Sasada sudah bersamaku bertahun-tahun. Dia selalu tahu apa yang sedang aku pikirkan. Padahal aku hanya memasang wajah masam sebentar tapi dia sudah tahu inti permasalahannya. Sasada tertawa, membuatku tambah kesal.
"Apa yang lucu?"
"Yah, aku mengerti kau tertarik dengannya. Tapi kau tak bisa marah hanya karena hal tersebut. Lagipula kemarin kalian hanya berbicara beberapa kata. Wajar saja jika dia lupa" sahut Sasada.
Itu memang benar. Tapi kami bertemu baru kemarin. Apa seburuk itu Natsume-kun mengingat wajah orang.
"Tapi Taki, bukankah Natsume kun itu terlalu pendiam. Nishimura dan Kitamoto bilang sejak tadi dia tak pernah berbicara dengan orang lain. Sekarang jam istirahatpun dia menghilang entah kemana"
Sasada benar. Aku duduk disamping Natsume-kun. Sejak tadi, aku belum pernah melihatnya berbicara dengan teman-teman sekelas walau sedikit. Setiap orang yang mengajaknya berbicara, dia nampak hanya tersenyum seakan tak tertarik.
"Apa dia lelaki yang sombong. Yah dia dari kota besar, mungkin saja dia tak senang berbicara dengan orang-orang seperti kita" terka Sasada.
"Aku rasa tidak" sahutku lirih, karena aku sendiri tak yakin.
Aku belum mengenal Natsume kun sama sekali. Aku tak tahu apa Natsume-kun sungguh lelaki yang sombong. Namun, entah kenapa aku yakin, saat di stasiun, senyuman Natsume-kun itu nampak tulus dan sorotan matanya bukan seperti tatapan merendahkan. Namun seperti tatapan
Kesepian.
"Taki"
Aku mendongak, memandang Sasada yang menyorotku tajam. "Ada apa? Kenapa kau memandangku seperti itu" sahutku membuat Sasada menghela nafas.
"Aku hanya penasaran, kenapa kau begitu peduli dengan lelaki itu? Kau mengenalnya saja tidak, dia bahkan sudah lupa dengan pertemuanmu dengannya kemarin di stasiun. Jangan-jangan kau-"
"Taki. Apa kau menyukai Natsume-kun?"
Sesampainya dirumah, aku langsung melempar tas dan kaus kakiku ke sembarang tempat. Ku jatuhkan tubuhku ke ranjang. Kepalaku terasa berdenyut. Pertanyaan Sasada masih saja membekas. Apa-apaan dia itu!
Taki. Apa kau menyukai Natsume-kun?
Aku tidak tahu.
Aku sungguh tidak tahu, kenapa aku menjadi sangat peduli dengan lelaki itu, padahal aku hanya bertemu dengannya beberapa kali. aku tidak tahu. Kenapa aku kesal saat Natsume kun melupakan pertemuan kami di stasiun. Aku tidak tahu. Apa ini berarti aku menyukainya.
Aku juga tidak tahu.
