Chapter 3 : Suara
Taki Tooru POV
Bel jam istirahat sudah berbunyi. Para siswa yang tidak membawa bekal makan siang menghambur keluar kelas untuk membeli yakisoba di kantin sekolah. Aku meraih kotak bekal yang kusimpan dibawah laci meja ku.
"Taki, ayo makan siang bersama!"
"Eum" aku mengangguk pada Sasada.
Sasada dan Kaoru menarik meja mereka dan menyatukannya dengan mejaku agar kami bisa makan siang bersama. Aku melirik Natsume-kun yang nampak beranjak dari kursinya dan berjalan keluar kelas. Dia tak membawa kotak bekal, sepertinya setiap hari dia membeli makanannya di kantin sekolah.
"Hari ini dia tak berbicara dengan yang lain lagi" ujar Sasada.
Aku menghela nafas. Sama seperti kemarin, Natsume-kun sama sekali tak berbicara dengan teman-teman sekelasnya juga hari ini.
"Sepertinya dia benar-benar meremehkan kita, karena dia dari kota besar" sahut Kaoru.
Kaoru ini adalah teman baru ku, kami baru berkenalan kemarin. Dia berasal dari Miyagi, dia bersekolah disini karena pekerjaan ayahnya dipindah di kota ini. Kaoru adalah gadis yang cukup manis. Rambutnya panjang sedikit bergelombang, matanya hitam kecokelatan, tubuhnya ramping dan tinggi. Dia hampir mendekati sempurna untuk ukuran anak SMA. Jujur aku agak iri.
"Kemarin, aku juga menyapanya. Namun, dia hanya tersenyum. Apa mulutnya itu dijahit? Setidaknya dia mengucap 'Selamat pagi' " ketus Kaoru.
Satu-satunya kelemahan gadis ini, yah mungkin kadang dia agak kasar saat berbicara. Tapi sebenarnya dia gadis yang baik.
"Sudahlah Kaoru-chan, kau bisa membuat Taki kesal" sahut Sasada sambil melayangkan senyuman jail nya kepadaku. Aku merengut, sedang Kaoru nampak bingung beberapa saat hingga dia menutup mulutnya sambil memasang wajah terkejut.
"Taki chan, jangan-jangan kau.."
Belum sempat Kaoru menyelesaikan kalimatnya, aku sudah membungkam mulutnya. "Sudah kubilang tidak, aku hanya-"
Aku terdiam. Benar juga, aku juga bingung kenapa aku begitu peduli padahal aku belum pernah berbicara banyak dengan lelaki itu.
"Hanya?" Kaoru dan Sasada menatapku, meminta kelanjutan kalimat yang menggantung itu. Sedang aku hanya diam, tidak bisa menjawab.
"Ah, aku dengar kafe di ujung jalan punya sandwich yang enak" aku mengalihkan pembicaraan. Sangat jelas memang, namun Sasada yang mengerti akhirnya membantu dengan melanjutkan topik mengenai kafe ujung jalan itu hingga kami akhirnya berhenti berbicara tentang Natsume-kun.
Lima belas menit sebelum jam istirahat selesai, aku berjalan ke toilet wanita hanya untuk sekedar mencuci tangan. Saat aku berjalan keluar sambil mengeringkan tanganku dengan sapu tangan, aku melihat Natsume-kun duduk sendirian di bangku taman sekolah sambil menikmati roti yakisoba dan sekotak susu. Dia benar-benar membeli makanannya di kantin.
Aku memberanikan diri menghampirinya. Dia mendongak dan nampak menyadari kehadiranku.
"Natsume-kun, kau selalu makan disini?"
Natsume-kun menyorotku dengan bola matanya yang seperti bola kaca itu. Dia mengangguk dan tersenyum. Lagi-lagi dia hanya tersenyum tanpa berbicara. Aku duduk tepat disampingnya.
"Kau selalu makan sendirian?" tanyaku lagi, membuat mimik wajahnya berubah, namun senyumannya masih belum pudar. Dia mengangguk lagi. Lagi-lagi dia tidak berbicara.
"Kenapa?" tanpa aku sadari aku terus bertanya padanya.
Natsume kun, membuka mulutnya.
"Karena sejak dulu selalu seperti ini" ujarnya.
Aku bisa mendengar suara Natsume-kun dengan jelas, suaranya lembut dan terdengar ramah. Matanya memandang kosong ke depan, seakan jiwanya tak berada disini. Sekilas, aku merasa takut. Aku merasa aku baru saja membuka sedikit luka dihatinya nya tanpa sengaja. Pasti ada alasan kenapa Natsume-kun menghindari semua orang.
Aku tahu seharusnya aku tak bertanya lebih jauh, namun aku ingin tahu lebih banyak tentang lelaki ini. Aku mencengkram ujung rok seragamku. Aku ingin berbicara lebih banyak dengannya.
"Natsume-kun, apa kau tidak kesepian?" lagi-lagi aku bertanya pertanyaan berat. Aku memberanikan diri melihat wajah lelaki disampingku. Dadaku berdegup lebih kencang, tanpa aku sadari tanganku sedikit gemetar karena gugup. Mimik wajahnya berubah, senyuman yang sejak tadi ia pertahankan menghilang. Ia menunduk pelan, poni rambutnya yang agak panjang menutupi kedua mata indahnya.
Dia tidak menjawab. Apa dia benar-benar kesepian? Tapi kenapa dia tak berbicara dengan teman-temannya yang lain. Setidaknya hal itu bisa mengurangi bebannya bukan.
"Natsume-kun.."
Bel jam masuk berbunyi. Natsume-kun beranjak dari tempat duduknya. Sasada, Sepertinya aku membuatnya marah. Aku menunduk, sepertinya pertanyaanku lebih sensitif dari yang kukira untuk Natsume kun. Aku hanya ingin berteman dengannya, aku hanya ingin mencoba mengenalnya lebih jauh. Aku menunduk dalam, aku tak berani memandang wajah lelaki itu.
"Terima kasih"
Aku mendongak cepat, Natsume kun berdiri didepanku dan memandangku dengan senyumannya.
"Senang berbicara denganmu Taki-san, kau berbicara padaku karena khawatir padaku bukan? Kau sangat baik. Aku bukanlah orang yang pandai dalam berbicara, terkadang aku takut menyakiti orang lain saat berbicara dengan mereka. " ujarnya.
Baru pertama kali ini Natsume-kun nampak berterus terang. Natsume-kun tersenyum. Senyuman yang terlihat tulus. Dia benar-benar senang berbicara denganku. Aku tersenyum lebar, aku senang sekali karena dia nampak mulai terbuka denganku.
Natsume-kun berjalan pergi. Aku meraih tangannya, membuatnya menoleh dan memandangku dengan wajah bingung.
"Natsume-kun, jika kau merasa kesepian. Berbicaralah denganku, aku akan jadi temanmu. Jika kau merasa sedih, bergantunglah padaku" entah dorongan apa yang membuatku mengatakan semua itu. Natsume-kun memandangku, menyorotku dengan mata indahnya. Dia tersenyum lembut dan mengangguk.
"Terimakasih" ucapnya lagi membuatku mengangguk senang.
Natsume-kun berjalan pergi dan melambaikan tangannya sekilas. Mulai sekarang, aku akan bisa berbicara lebih banyak dengan Natsume-kun. Aku melirik kearah bungkusan roti yakisoba di tempat sampah. Jika dilihat-lihat, Natsume-kun itu sangat kurus. Tubuhnya hampir seperti wanita. Apa orangtuanya sangat sibuk hingga tak bisa memasak bento untuknya.
Aku ada ide.
"Tooru-chan, kau bangun lebih awal ya"
Aku menoleh kearah ibuku yang nampaknya baru bangun. Ini pukul lima pagi. Aku sengaja bangun lebih awal agar bisa memasak lebih banyak. Akan kubagi sedikit untuk Natsume-kun.
"Kenapa kau membuat dua kotak bento?" tanya Ibu heran. "Kau mau menghabiskan semuanya?"
Aku menggeleng. "Akan kubagikan dengan temanku" ujarku sambil sibuk menata sosis dan sayuran di kotak bento.
"Untuk Sasada?"
"Bukan" sahutku membuat ibuku tampak bingung.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya ibuku lagi.
Aku menghela nafas, "Laki-laki" seketika ibu melemparkan senyuman jahilnya padaku. Aku tersipu malu, dia pasti berpikir yang tidak-tidak.
"Akhirnya Tooru-chan mulai dewasa, apa dia tampan?" goda Ibu membuat wajahku tambah panas.
"Ayolah ibu, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kami hanya teman. Dia selalu makan yakisoba di kantin sekolah, tubuhnya agak kurus. Aku hanya khawatir, tapi yah dia memang lumayan tampan" sahutku sedikit malu-malu membuat ibuku tertawa.
"Lain kali ajak dia kemari ya"
*Bento : sebutan bekal di jepang
