Chapter 5 : Kembalilah

Natori Shuichi POV

"Natori Shuichi-san, film mu lagi-lagi meraih rating yang cukup tinggi. Bagaimana pendapatmu?"

"Yah, tentu aku senang. Aku akan bekerja keras, agar kedepannya film yang kubintangi lebih bagus dari ini"

Hanya itu yang bisa kuucapkan didepan para wartawan. Memasang senyuman palsu seakan semua itu adalah hal menyenangkan. Akhir-akhir ini aku benar-benar dipusingkan dengan berbagai persiapan perilisan film dan panggilan wawancara ke beberapa stasiun TV. Menjadi bintang terkenal yang dikagum-kagumi semua orang tentu tidaklah mudah. Aku juga tidak merasa semua itu adalah hal menyenangkan, Aku tahu itu sejak dulu, walau begitu entah kenapa aku tetap menjalaninya.

Aku melirik kearah jam tanganku, pukul tiga sore. Anak itu seharusnya sudah pulang sekolah. Kira-kira bagaimana kabarnya sekarang? Setelah dia menolak untuk tinggal bersamaku. Anak keras kepala dan selalu memaksakan diri, walau begitu aku benar-benar menyayanginya.

Aku ingin melindunginya.

Sesampainya di apartemen, aku langsung merebahkan diriku di sofa. Ada sekitar tujuh wawancara TV hari ini, tambah tiga lagi mungkin aku akan dilarikan ke rumah sakit karena kelelahan. Aku melihat kearah pigura foto di atas lemari. Anak laki-laki kurus dengan kulit putih pucat nampak tersenyum riang disana.

Kapan aku bisa melihat senyuman itu lagi.

Aku melirik jam tanganku, pukul delapan malam. Sial. Sampai kapan aku terus merasa terjerat rasa khawatir seperti ini. Aku berdiri, meraih mantel dan segera pergi dengan mobilku. Aku berdiri didepan apartemen kecil berlantai tiga.

Pintu apartemen di lantai dua terbuka, dadaku langsung sesak. Anak itu keluar dari sana, dia sudah besar namun tubuhnya lebih kurus dari dulu. Aku ingin menghampirinya, namun dia bisa saja malah mengusirku nantinya. Anak itu berjalan membawa kantong besar yang nampak seperti kantong sampah.

Aku terus memperhatikannya, tanpa sadar kalau aku sedang berada tepat disamping tempat sampah. Anak itu berjalan kearah sini, dia terbelalak melihatku, begitu juga aku.

"Natori-san" panggilnya.

Aku terdiam. Aku tak tahu apa yang harus aku bicarakan dengannya, suhu udara dingin namun tubuh terasa panas. Perasaan bersalah memenuhi kepalaku, setelah apa yang sudah kulakukan padanya, bagaimana aku bisa bicara dengan normal?

"Jika kau ingin aku ikut denganmu, kurasa aku tak bisa. Tapi jika kau hanya ingin mampir. Aku bisa menyiapkan teh" ujarnya dengan intonasi tenang seperti biasa.

Benar juga. Natsume selalu tenang, berbeda denganku. Anak yang berhati lembut, dan sangat pemaaf. Ralat, dia bukannya anak yang pemaaf, hanya saja sifatnya yang menganggap segala masalah adalah salahnya, Dia bahkan bisa bersikap normal denganku setelah apa yang kulakukan padanya beberapa tahun lalu. Akhirnya aku mengikutinya, memasuki apartemen kecil itu.

Apartemen ini bisa dibilang tiga kali lebih kecil dari apartemenku, dia hanya hidup sendirian, walau begitu nampak tertata rapi dan bersih. Aku merasa kalah dewasa dengannya. Walau umurku beberapa tahun lebih tua.

Natsume memberiku teh hangat, kemudian melanjutkan kegiatannya didapur. Aku menghampirinya, dia nampak sedang memotong sayuran. Mungkin untuk makan malam. Aku melihat beberapa kantong plastik dari toko, dia pasti membeli bahan-bahan murah lagi. Selama ini uang yang aku kirimkan selalu ia kembalikan, aku pun heran darimana ia mendapatkan uang.

"Padahal kau bisa memintaku membelikan semua bahan makanan"

Tangan Natsume yang tengah memotong mentimun terhenti, ia terlihat membuang nafas. "Aku tak mau jadi beban"

Lagi-lagi ia mengucapkan kalimat itu. Mungkin ratusan kali sampai membuatku muak. Kenapa ia begitu sulit bergantung padaku? Aku memang bersalah, tapi setidaknya aku ingin menebus dosaku padanya. Keras kepala. Sangat keras kepala.

Tanpa sadar tanganku sudah menarik tangannya, mencengkram kerah bajunya, membuat tubuhnya menghadapku. Ia terkejut sesaat namun kembali menatapku dengan tatapan kosong yang selalu membuatku merinding, seakan seperti ia sudah terbiasa menderita.

"Tak bisakah kau lebih bergantung padaku?! Aku kakakmu bukan? Berhentilah keras kepala dan menurutlah, aku akan memberikan uang padamu, membelikan apartemen yang lebih besar. Jadi hiduplah dengan layak, kau tak perlu memikirkan apapun." Aku mengatakan semua yang aku pikirkan. Namun, mimik wajahnya sama sekali tak berubah. Tanpa membuka mulutpun aku tahu dia tak mau aku melakukan semua itu.

Ia menghela nafas dan tersenyum tipis. Memegang tanganku yang sedang mencengkram kuat kerah kemejanya, melepaskan tanganku darinya dengan lembut. "Aku baik-baik saja" jawabnya membuatku ingin menangis.

Baik-baik saja dia bilang? Apanya yang baik-baik saja?

Tubuhnya kurus, aku bisa sedikit sobekan di ujung kemejanya. Ia pasti tak pernah membeli baju baru selama beberapa tahun ini. Tentu saja, setelah ia mengirim kembali semua amplop berisi uang yang kuberikan, darimana ia punya uang membeli pakaian.

Sebenarnya bagaimana ia menjalani hidup selama ini.

Aku mengutuk diriku, seharusnya aku lebih memperhatikannya dibandingkan pekerjaanku. Seharusnya aku tak mengatakan hal bodoh padanya dimasa lalu. Seharusnya aku selalu berada disampingnya. Anak ini sudah berubah, jiwa nya yang riang dan ceria seolah telah tenggelam didasar laut yang dalam. Ia sudah mengubur dirinya yang dulu, membuatku ragu apa dia mampu kembali lagi.

Aku merindukan dirinya yang dulu. Kembalilah.

Kembalilah

Seperti saat baru pertama kali aku bertemu denganmu.

Aku memeluk tubuh ringkih itu, menyembunyikan air mataku yang sudah mengalir di balik pundaknya. Dia masih tujuh belas tahun, namun beban yang ia tanggung sungguh berat. Dia masih terlalu muda. Aku benar-benar menyesal. Aku ingin melindunginya, sebagai seorang kakak. Namun sayangnya, ia tak menganggapku sebagai pelindungnya.

Kami makan malam bersama, Natsume membuatkan omelet dan salad dengan sayuran seadanya. "Bukankah omelet seharusnya untuk sarapan?" ujarku kemudian ikut membantunya menata makanan di meja kecil.

Natsume mendengus pelan. "Mau bagaimana lagi, bahan makanan yang tersisa hanya bisa untuk membuat itu" ujarnya kemudian mulai memakan makanannya.

Natsume pandai memasak, aku yakin ia bisa saja memenangkan kontes memasak hanya dengan omelet ini. Seingatku saat SD ia juga pernah menjuarai lomba membuat kare, saat itu dia benar-benar senang saat mendapatkan tropi pertamanya. Dulu banyak kenangan indah yang kami alami bersama, hingga kejadian itu meruntuhkan segalanya.

"Natori-san?"

Aku menoleh, Natsume memandangku dengan tatapan khawatir. "Kau melamun, apa pekerjaanmu sangat berat?" tanyanya. Yah, walau dia banyak berubah. Mungkin sifat utama anak ini tidak berubah sama sekali. Mencemaskan orang lain disaat dirinya lebih menderita pada orang tersebut.

"Filmku baru rilis, tontonlah, akan kuberi tiket gratis untukmu"

Natsume mengalihkan pandangannya, tentu saja ia tidak tertarik. Lagipula sejak dulu ia tak menyukai fi-

"Berikan padaku"

"Eh?"

Aku menatap Natsume tidak percaya, apa tadi aku salah dengar? Natsume mau menerima tiket film dariku, setelah mengembalikan semua amplop uang berjumlah jutaan yen yang kuberikan untuknya.

"Apa? Kau mau memberikannya bukan?"

Eh? Aku benar-benar tidak salah dengar ternyata. "Sejak kapan kau tertarik dengan film?" tanyaku penasaran. Natsume nampak malu, ia mengalihkan pandangannya dariku.

"Bukan untukku, untuk temanku"

Sudah kuduga. Tapi, teman? Setahuku sejak kejadian itu ia selalu menutup diri dan tak mau berteman. Namun, syukurlah. Setidaknya ia masih memiliki seseorang yang mungkin ia percaya. Aku tak bisa menahan senyumku, aku mengacak gemas kepalanya hingga ia memukul kuat perutku.

Ranting pohon itu juga ternyata cukup kuat juga