Chapter 6 : Hal baru
Author POV
Tiga hari setelah kejadian dihalaman belakang sekolah, sesuai dengan janjinya. Taki selalu membawakan Natsume bento. Menu nya sederhana, walau begitu, Natsume nampak senang saat menerimanya. Terkadang wajah pria itu terlihat merasa tak nyaman. Mungkin karena ia merasa merepotkan Taki beberapa hari ini.
Andai ia tahu, sebenarnya jauh di lubuk hati Taki, gadis itu justru merasa sangat senang.
Natsume cukup terbuka padanya sejak saat itu, mereka pun selalu makan siang bersama di taman halaman belakang sekolah tiga hari ini. Entah kenapa, Taki merasa sudah menjadi satu-satunya orang yang dipercaya Natsume. Ia sedikit merasa bangga, karena hingga sekarang, selain dengannya, pria itu belum juga berbicara dengan teman-teman sekelasnya yang lain.
Taman halaman belakang sekolah
Jam istirahat makan siang
"Natsume-kun boleh aku bertanya?"
Natsume yang sedang menikmati bentonya menoleh kearah Taki, alisnya sedikit terangkat. "Boleh"
"Kenapa kau selalu terlambat ke sekolah? Kau bisa kena masalah besar nanti!"
Taki menyorot Natsume dengan wajah cemas. Sudah hampir satu minggu mereka berada di SMA, dan lima hari nya Natsume selalu datang terlambat. Hal itu tentu saja tidak wajar dan membangun rasa penasaran di hati Taki. Mana ada orang yang mengulangi kesalahannya hingga lima kali. Apa dia tak bosan dimarahi Akibara sensei?
Natsume tersenyum. "Aku bekerja"
"Eh!"
Taki terkejut. Ia bekerja? Saat ia baru kelas satu. Hebat! "Bekerja apa?"
"Aku membantu mengurus penginapan. Pekerjaan ringan, seperti menyapu halaman dan membagikan handuk" jawabnya.
Taki tak bisa menahan senyumnya. Satu hal baru lagi yang ia ketahui tentang Natsume. Ia merasa dinding pembatas yang membuat Natsume menjauh dari teman-teman sekelasnya yang lain tak berpengaruh padanya. Natsume mau menceritakan tentang dirinya sedikit demi sedikit padanya. Satu hal yang mungkin tak akan pria ini lakukan pada orang lain.
Namun Taki bukanlah orang yang egois. Ia berharap Natsume kelak juga mampu terbuka pada orang lain selain dirinya, berteman dengan baik. Mengingat semua pandangan buruk teman-teman sekelas tentangnya karena selama ini Natsume menjauhi mereka.
Akan kuhancurkan dinding pembatas itu suatu saat nanti.
Taki tidak memberitahu Sasada soal ia yang selalu memasak bento untuk Natsume-kun dan pergi makan siang bersama itu membuat Sasada mulai curiga karena sahabatnya itu selalu menghilang saat jam istirahat makan siang.
"Ne Sasada, Taki menghilang lagi" Kaoru menghampiri Sasada yang tengah mengeluarkan kotak bekalnya.
"Ia bilang ada urusan di ruang klub teater dan makan siang disana" sahut Sasada.
"Tiga hari berturut-turut?" Kaoru menaikan alisnya, nampak heran.
Sasada menghela nafas, ia merasa gusar. Ia tak tahu apa yang direncanakan Taki sekarang ini. Ia tahu, Taki pasti melakukan hal lain, lagipula setahunya semua klub sekolah baru akan memulai kegiatan rutin setelah musim dingin. Sejak SMP Taki selalu terbuka padanya, ia tak pernah membuat rahasia apapun padanya.
"Aku kembali!" suara Taki menggema ke seluruh ruang kelas. Sasada dan Kaoru menoleh begitu juga dengan teman-teman kelas yang lain.
"Taki kau makan siang di luar lagi"
"Taki-san Makan sianglah bersamaku"
Beberapa teman sekelas menyapanya, tentu saja. Dia kan Himawari hime. Puteri bunga matahari yang selalu disukai banyak orang.
Taki menghampiri Sasada dan duduk di kursi didepan sahabatnya itu. Wajah Taki nampak lebih bersinar dari biasanya, ia juga tampak lebih berisik dari biasanya. Dibenak Sasada pasti ada sesuatu yang terjadi pada gadis ini.
"Kau tampak senang Taki-chan? Ada apa?" tanya Kaoru yang nampaknya juga menyadari hal itu.
Taki hanya menggeleng, namun senyumnya masih mengambang jelas di wajahnya, seperti orang aneh saja. Hak itu membuat Sasada sedikit geram. Lagi-lagi ia pasti menyembunyikan sesuatu darinya. Jujur Sasada merasa terkhianati. Ia sebenarnya selalu mendukung apa yang Taki lakukan, apapun itu. Entah tentang klub, urusan keluarga bahkan cinta. Namun hal yang paling Sasada tak suka adalah jika sahabatnya menyimpan sesuatu darinya.
Pukul 15.30
Jam pulang sekolah
Disaat hujan turun mengguyur kota
Lagi-lagi Taki mengabaikan laporan cuaca karena tertipu langit cerah pagi hari sebelum berangkat sekolah. Dia bahkan tidak membawa payung, Sasada sudah melengos pergi karena berburu buku diskonan di toko buku ujung jalan.
Taki mengutuk dirinya sendiri. Ia tak pernah belajar dari kesalahan, sebelumnya ia juga sering melakukan ini. Lagipula baginya musim panas itu seharusnya bebas dari hujan lebat seperti ini.
"Taki"
Taki mendongak. Natsume berdiri didepannya dengan memegang payung plastik. "Masuklah"
Taki dan Natsume berjalan ditengah hujan, berlindung dibawah payung yang sama. Langkah mereka membelah jalanan kota. Natsume berjalan di tepi jalan, sebuah mobil lewat menerobos genangan air yang cukup dalam.
Natsume merangkul pelan pundak kanan Taki, menyembunyikan tubuh gadis itu di tubuhnya. Dekat. Jantung Taki berpacu tak karuan, ia bisa mencium samar aroma parfum pria dari tubuh laki-laki didepannya. Air genangan hujan itu menyembur ke seragam putih Natsume. Natsume menepuk pundaknya yang juga kotor kena percikan air bercampur tanah.
Dia melindungiku. Tapi seragamnya basah karena itu.
Taki merasa bersalah. Sebenarnya ia masih menahan rasa gugup karena sejak dulu ia belum pernah berdiri sedekat itu dengan pria. Walau Natsume melakukannya bukan untuk hal seperti itu. Namun, itu tidak penting sekarang. Seragamnya kotor. Bagaimana bisa ia pulang seperti itu?
"Maafkan aku Natsume-kun, setelah turun dari kereta. Mampirlah sebentar ke rumahku. Kau bisa memakai mesin cuci dan pengeringku" Taki sedikit memaksa. Wajahnya terlihat khawatir. Natsume tersenyum dan mengangguk setuju.
Mereka berdua turun dari kereta dan berjalan kaki menuju rumah Taki. Rumahnya tidak terlalu jauh dari stasiun kereta, hanya berjarak sekitar satu setengah kilometer. Dalam waktu kurang lebih lima belas menit, mereka tiba di kediaman keluarga Taki. Rumahnya besar dan cukup panjang, dilindungi pagar yang cukup tinggi, berlorong-lorong seperti rumah khas jepang pada umumnya. Didepan rumahnya juga terdapat taman yang cukup terawat dengan kolam air mancur berbentuk naga.
"Lumayan besar ya" gumam Natsume dengan matanya yang menyorot seluruh halaman depan. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam. Taki mengantar Natsume ke ruang dimana keluarganya meletakan mesin cuci dan pengering.
"Mandilah dulu, kau bisa demam nanti" Taki menyerahkan handuk pada Natsume. Natsume mengangguk, walau sedikit terlihat canggung. Taki menunggu sambil menyiapkan teh. Wajahnya memerah, seakan semua darah di tubuhnya terpusat kesana. Ia mengusap dada sesekali. Sekarang ia hanya berdua dengan seorang pria dirumahnya. Apalagi pria itu adalah Natsume.
"Taki aku sudah selesai" terdengar suara Natsume dari ruang tengah.
Taki terbangun dari lamunannya dan segera membawa nampan tempat dua cangkir teh dan sebuah teko kecil.
Mereka berada di salah satu ruang santai keluarga Taki. Walau terkesan sangat tua, rumah ini sangat panjang, entah berapa ruangan yang mereka punya. Natsume menyeruput teh nya sambil sesekali melihat sekitar. Di ruangan tempat mereka berada terdapat beberapa hiasan dinding ala jepang, seperti pedang samurai dan katana.
Natsume terjengat, ia melupakan sesuatu. Taki memandang pria itu dengan wajah bingung.
"Ada apa Natsume-kun?" tanya Taki.
"Taki, kau suka menonton film?"
"Eh?"
Wajah Taki tambah memerah, dibenaknya Natsume seakan hendak mengajaknya menonton film bersama. Seperti kencan saja.
"Ya, aku suka" sahut Taki tanpa mampu menahan senyuman lebarnya.
Natsume mengeluarkan sebuah amplop panjang dari tasnya dan memberikan itu pada Taki. Taki memiringkan alisnya, memandang sepucuk amplop itu bingung. Taki perlahan membuka amplop itu, disana ada dua tiket bioskop film terbaru aktor papan atas Natori Shuichi. Dan...
VIP!
Yah, walau sebenarnya Natsume mendapatkan tiket itu sebagai tiket gratis dari Natori-san.
"Ada dua tiket disana, ajaklah temanmu pergi bersama. Mungkin gadis berkacamata yang sering bersamamu itu" yang Natsume maksud tentu saja Sasada, dan Sasada bisa saja memukulnya jika tahu pria itu menyebutnya gadis berkacamata.
"Tapi kenapa memberikannya padaku?" Taki sebenarnya tertarik walau ia agak kecewa bahwa kenyataan Natsume tidak mengajaknya pergi kencan. "Apalagi ini tiket VIP, sayang sekali bukan?"
Natsume tersenyum sambil menyeruput tehnya lagi. "Aku tak terlalu suka menonton film, dan lagi aku setidaknya ingin membalas kebaikanmu karena sudah sering membawakanku bento"
Taki memandang tiket bioskop itu, Sasada pasti senang namun entah kenapa ada sesuatu yang membuat Taki gusar. Ia tadi merasa kecewa Natsume ternyata tidak mengajaknya pergi bersama. Entah kenapa, Taki sangat ingin hal itu terjadi.
"Jika aku bilang aku ingin pergi bersamamu bagaimana?"
Natsume sedikit terkejut.
"Ayo pergi menonton bersama, aku bisa menonton dengan Sasada lain kali" Taki sedikit memaksa. Natsume mengalihkan pandangannya sekilas, ia nampak malu. Namun terlihat dari wajahnya ia..
"Baiklah jika itu maumu"
Ia tidak terlihat akan menolak
