Chapter 7 : Gosip

Minggu cerah di akhir musim panas

Taki dan Natsume pergi ke bioskop bersama dengan tiket VIP pemberian Natori. Bioskop di daerah tempat tinggal mereka tidak menyediakan kursi VIP, jadi mereka terpaksa pergi ke bioskop di kota sebelah. Tidak terlalu jauh . Hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit dengan kereta.

"Tapi aku heran, Natsume kun. Kau bilang tidak terlalu suka film tapi kenapa mau membeli tiket mahal?" tanya Taki.

Natsume menoleh, ia menggaruk tengkuk. Mana mungkin ia bilang bintang film nya yang memberikannya begitu bukan? "Kerabatku yang memberikannya" sahutnya tampak dipercayai begitu saja oleh Taki.

Mereka masuk ke studio. Nampaknya Natori benar-benar memilihkan tempat dengan baik sebelum mengirim tiketnya. Di studio ini hanya terdapat 50 kursi, kursi nya nyaman seperti sofa dengan balutan kulit ada pula sandaran kaki dan kepala serta selimut dan bantal. Lampu studio diredupkan, layar besar didepan menyala. Natori muncul disana, seperti biasa dengan ekspresi wajah tebar pesona, Natsume bisa mendengar jeritan tertahan dari para gadis di kursi lain. Natsume hanya memasang wajah datar, ceritanya menarik namun jika yang muncul orang yang dia kenal membuatnya sedikit jengah.

Natsume melirik kearah Taki, mata gadis itu berbinar-binar seakan tenggelam dalam cerita. Natsume tersenyum. Setidaknya gadis itu menikmatinya.

"Wah ceritanya bagus sekali ya Natsume-kun, Natori Shuuichi benar-benar keren!" celoteh Taki sepanjang perjalanan ke stasiun. Natsume tertawa pelan. Yah, ia senang gadis itu menikmati filmnya tapi kata-kata 'natori keren' itu sedikit membuatnya kesal. Taki menghentikan langkahnya, membuat Natsume melakukan hal yang sama. Taki menatap wajah Natsume dengan senyum mengambang di wajahnya. Pipi gadis itu agak merona kemerahan, gadis itu mengulurkan tangannya, menarik pelan lengan jaket Natsume hingga pria itu menghadap tepat didepannya.

"Tapi, tadi itu menyenangkan. Terima kasih Natsume-kun. Aku senang sekali"

Suasana kelas entah kenapa lebih ramai dari biasanya, pria atau wanita mereka membentuk kubu-kubu dan nampak saling berbisik menggosipkan sesuatu, Mereka semua membicarakan satu topik yang sama. Berita terpanas angkatan pertama.

"Selamat pagi semuanya" Taki melangkah masuk kelas dengan sapaan nyaring seperti biasa. Semua siswa menoleh, memandangnya dengan tatapan tajam tak biasa. "Eh? Kenapa?" Taki memasang wajah bingung, Sasada menarik tangan sahabatnya itu dan memegang kedua pundaknya. Mata cokelat keabuan Sasada menyorot tajam dibalik kacamatanya.

"Taki, kau berkencan dengan Natsume kun, bukan?"tanya Sasada. Seketika mimik wajah Taki berubah, terlihat jelas ia terkejut. Wajah gadis itu seketika memerah. Berkencan dengan Natsume, dari mana gosip gila itu berasal.

"T-tidak" jawab Taki. Namun, tatapan Sasada masih sama tajamnya.

"Kitamoto bilang ia melihatmu bersama Natsume Takashi pergi bersama ke bioskop kemarin!" Sasada menggoyang-goyangkan pundak Taki, raut wajahnya seakan masih meminta penjelasan. Taki mendelik kearah Kitamoto membuat pria itu reflek mengalihkan pandangan.

Siswa lain pun begitu, terutama kaum pria. Taki terkenal sebagai Himawari hime, gadis bunga matahari yang cantik dan disukai banyak orang. Banyak kaum adam dikelas yang menyukainya. Tentu saja berita ini membuat mereka cemburu, apalagi yang digosipkan sebagai pasangannya lelaki suram seperti Natsume Takashi si pria putih yang sombong.

"Kami hanya.."

Suara pintu digeser, membuat kalimat Taki tertahan. Natsume melangkah masuk, disambut tatapan tajam para anak lelaki di kelas. Pria itu juga memasang wajah bingung dan duduk di kursinya.

"Natsume?!" Nishimura bersuara membuat Natsume menoleh, "Apa benar kau berkencan dengan Taki chan?" pertanyaan yang membuat atmosfir kelas memanas seketika sekaligus membuat jantung Taki hampir berhenti berdetak.

Natsume nampak terkejut dengan pertanyaan Nishimura namun beberapa saat raut wajahnya kembali normal. "Tidak" sahutnya singkat. "Kami hanya berteman"

"Benarkah?! Tapi kau pergi menonton film bersama dengannya kemarin bukan?" Nishimura masih meninggikan suaranya. Sudah jadi rahasia umum kalau Nishimura menyukai Taki. Sejak awal masuk SMA, diantara para laki-laki lain, terlihat jelas bahwa Nishimura yang paling berusaha untuk dekat dengan Taki.

"Benar" Natsume nampak tenang, namun entah kenapa matanya terlihat lebih redup dari biasanya. Natsume menghembuskan nafas panjang kemudian bersuara "Aku punya tiket bioskop pemberian temanku, Taki sudah banyak membantuku di sekolah jadi aku memberikannya. Hanya itu. Kumohon jangan salah paham, aku tak ingin membebani Taki"

Taki mematung. Mata Natsume lagi-lagi redup, cahaya riang pria itu yang mulai ia rasakan akhir-akhir ini tiba-tiba menghilang.

Apa ia merasa bersalah?

Apa ia merasa dirinya adalah beban?

Tanpa sadar tangan Taki sudah gemetar. Ia takut Natsume akan menjauhinya karena kejadian ini.

Beberapa saat suasana kelas menjadi hening. Para siswa saling pandang, beberapa dari mereka nampak masih belum yakin.

"Itu benar, kami tak ada hubungan apapun" Suara Taki memecah keheningan.

Para siswa yang nampak ragu mulai percaya. Mereka tentunya lebih percaya perkataan Taki dibanding Natsume. Beberapa saat kemudian, teman-teman sekelasnya sudah kembali duduk dikursi mereka hingga Akibara sensei masuk dan memulai jam belajar.

Jam pelajaran selesai, Akibara sensei memberi tugas kelompok untuk mengarang essai seribu kata tentang alam. Taki, Sasada, Kaoru, Nishimura dan Kitamoto berada di kelompok yang sama.

"Natsume-kun nampaknya tak kebagian kelompok ya" Sasada bersuara, membuat Taki menoleh kearah Natsume yang tengah membereskan alat tulisnya.

Kaoru mendengus. "Yah itu salahnya sendiri"

Taki hanya diam. Nampaknya semua orang masih tak menyukai Natsume kecuali dirinya.

"Natsume bilang" Taki tiba-tiba bersuara membuat Sasada dan Kaoru menoleh. "Natsume bilang, dia tak pandai berbicara dengan siapapun sejak dulu. Natsume orang yang selalu mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri. Aku juga tidak mengerti, aku yakin ada alasan kenapa Natsume menjauh dari orang lain. Tapi satu hal yang kuyakini.."

"Natsume-kun orang yang baik"

Taki mengeluarkan semua kata hatinya, matanya cerah dan tulus, tidak ada kebohongan dan keraguan sedikitpun. Sasada menghembuskan nafas panjang. "Baiklah kalau begitu"

Sasada berjalan menghampiri kursi Natsume, membuat pria itu menoleh. "Natsume-kun bagaimana jika kau bergabung di kelompok kami?" ajak Sasada seketika membuat Taki dan Kaoru tersentak kaget.

"Kenapa aku?" tanya Natsume.

"Kau belum dapat kelompok bukan? Lagipula sahabat baik ku bilang kau orang yang baik. Sebenarnya aku ragu padamu. Jadi buktikanlah"

"Buktikanlah kalau Taki tidak membohongi kami. Dengan begitu kau tidak bisa menolak bukan?"

Mata Natsume melebar, ia menoleh kearah Taki, sedang Taki nampak berusaha menutupi wajahnya karena malu. Bukan seperti ajakan, cara Sasada seakan seperti sebuah ancaman. Seakan jika Natsume tidak menyetujuinya, kepercayaan antar teman yang mengikat Taki dan teman-temannya bisa terputus. Pria itu menghembuskan nafas panjang.

"Baiklah"