Chapter 9 : Teman
Author POV
Usai menyelesaikan pekerjaannya di penginapan. Natsume segera pergi ke stasiun. Malam ini, ia akan pergi ke rumah Kaoru untuk mengerjakan PR Akibara- sensei, kemudian keesokan harinya ia dan yang lainnya akan pergi ke pemandian air panas bersama. Orangtua Kaoru sedang tidak ada dirumah, jadi malam ini mereka akan menginap disana.
Awalnya ia ragu, namun ia memilih mengikuti saran dari Tanuma. Baginya mungkin inilah saatnya untuk berubah. Setelah sekian lama menutup diri dan menjadi orang anti-sosial. Yang ia bisa hanya mencoba. Manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan sandaran dan tempat berbagi.
Natsume tak akan membuat kesalahan. Ia tidak boleh lagi menjadi bencana bagi orang lain. Untuk itu, ia sudah menyiapkan beberapa tema untuk esai mereka. Ia berharap usahanya setidaknya bisa membantu teman-temannya yang lain.
"Natsume-kun?"
Gadis dengan rok selutut, jaket cream dan rambut sebahu yang terurai muncul didepannya. Gadis itu tidak lain adalah Taki. Mereka sudah berjanji akan bertemu di stasiun sebelumnya karena Natsume tidak tahu alamat rumah Kaoru. Taki tersenyum senang, gadis itu mengira Natsume tidak menerima ajakan Sasada kemarin dan menolak untuk datang hari ini.
"Ayo Natsume -kun" ajak Taki, dan Natsume mengekor dibelakang.
Hanya butuh sekitar dua puluh menit hingga kereta yang mereka tumpangi berhenti. Cuaca sore ini cukup mendung, gumpalan awan hitam menutupi langit senja. Hanya perlu waktu sebentar, pasti akan turun hujan lebat sebentar lagi.
"Tenang saja, rumah Kaoru tidak jauh dari sini. Kita pasti tiba sebelum turun hujan"
Seakan mengerti yang Natsume pikirkan, Taki bersuara. Natsume tersenyum dan mengangguk dan mereka berdua kembali berjalan kaki menyusuri jalanan kota. Benar juga. Hanya sekitar sepuluh menit dari stasiun, mereka tiba di apartemen berlantai lima didekat taman kota. Kaoru tinggal di lantai empat apartemen ini.
Sesampainya didalam, Kaoru menyambut kedatangan Taki dan Natsume. Selain Kaoru, sudah ada Kitamoto dan Nishimura lebih dulu tiba. Nishimura memasang wajah masam, mulutnya terbuka. Menggerutu sendiri karena cemburu melihat Natsume dan Taki datang bersamaan.
Natsume duduk disamping Nishimura, seakan tidak menyadari jika pria disampingnya itu membencinya sekarang. Sebenarnya Nishimura berharap, Taki yang duduk disampingnya, maka dari itu ia memberi ruang disamping tempat ia duduk. Tapi malah pria putih menyebalkan itu yang mengisinya.
"Natsume, tadi aku melihat mu di kota bersama anak kelas 1-3. Apa yang kau lakukan?"
Seakan menyadari atmosfir memanas karena emosi Nishimura yang tertahan. Kitamoto bersuara.
"Ah, Tanuma maksudmu. Kami membeli kebutuhan penginapan milik bibinya" sahut Natsume.
"Eh Tanuma? Maksudmu dia itu Tanuma Kaname?" Mata Kitamoto nampak melebar. Terlihat terkejut.
Nishimura heran melihat reaksi Kitamoto dan bertanya. "Memang kenapa? Apa Tanuma itu terkenal?"
"Aku dengar dia seorang juara nasional dalam turnamen shogi." sahut Kitamoto. Membuat yang lainnya ikut terkejut. "Orang-orang yang menyukai shogi sepertiku pasti mengenal nama Tanuma Kaname. Aku dengar dia sudah berkali-kali mendapatkan juara pertama dalam berbagai ajang turnamen Shogi. Benar-benar jago! Tak kusangka kalau orang itu ternyata siswa sekolah kita. " Mata Kitamoto berbinar-binar. Pria itu memang sangat menyukai catur jepang itu dari dulu.
Natsume tersenyum. "Kau sangat menyukai Shogi ya Kitamoto?"
"Natsume, kau juga suka bermain shogi?"
"Aku sering memainkannya. Hanya saja aku tak pernah menang melawan Tanuma. Seperti yang kau bilang, dia itu sangat jago" ekspresi Natsume berubah masam. Kitamoto tertawa. Ia seakan melihat sisi lain dari Natsume. Natsume yang selalu menutup diri selama ini ternyata cukup mudah diajak berbicara.
Hanya dengan pembicaraan tentang Shogi. Natsume dan Kitamoto bisa menjadi akrab. "Kau ternyata mudah diajak bicara, Natsume" sahut Kitamoto dan menepuk pundak pria berkulit putih itu. "Lain kali ayo bermain Shogi bersama. Yang kalah harus mentraktir jagung bakar"
Natsume mengangguk. "Baiklah"
Sedang pria dengan rambut mangkok berwarna cokelat muda disamping Natsume mendecih kesal. Melihat sahabat baiknya mulai akrab dengan orang yang ia benci.
Sasada muncul dari balik pintu, pundak gadis itu terlihat basah. Tanpa mereka sadari, diluar ternyata sudah turun hujan lebat. "Ah Taki dan Natsume juga sudah datang. Yosh, kita mulai saja. Agar cepat selesai dan waktu bermain lebih banyak" Sasada melepas jaket basahnya dan menggantungnya di tiang gantungan disamping pintu masuk.
Hanya jaket gadis itu yang basah, pakaian gadis itu terlihat cukup kering. Sasada berjalan kearah meja dan mulai mengeluarkan buku-bukunya. Mereka semua duduk melingkar mengelilingi meja pendek. Kaoru menghidangkan cake stroberi dan teh hangat sebagai pengantar belajar.
"Pertama kita pikirkan tema essai dulu, apa ada yang punya ide?" Sasada memulai berbicara, ia menjadi ketua kelompok yang baik.
Natsume mengeluarkan secarik kertas dari tas nya dan memberikannya pada Sasada. Dikertas tertulis beberapa tema yang sudah ia pikirkan. "Ini dariku, aku tak tahu apa bisa membantu atau tidak" ucap Natsume tampak tidak percaya diri. Sasada dan yang lain mengerubungi, ikut membaca kertas itu. Ada sekitar lima belas tema disana.
"Sugoi, Natsume-kun ini kau semua yang memikirkannya?" tanya Sasada dibalas anggukan oleh Natsume. "Eh? Kau ternyata cukup pintar. Dengan ini kita bisa selesai lebih cepat!"
Mereka semua memulai belajar bersama. Dengan ide tema milik Natsume, pekerjaan seakan lebih mudah. Hanya sekitar tiga jam, mereka telah menyelesaikan PR Akibara -sensei. Natsume sangat berperan kali ini, tanpa orang-orang ketahui. Natsume ternyata pria yang pandai, ia memiliki pemikiran yang luas. Ide-ide dalam pokok bahasan essai mereka sebagian besar dari pemikiran Natsume.
Makan malam mereka kali ini adalah hasil masakan anak perempuan. Onigiri isi ikan dengan taburan kismis diatasnya dan ditemani ebi goreng sebagai pelengkap, Kaoru juga menyiapkan teh Oolong untuk menghangatkan badan karena di luar masih turun hujan.
"Yah, kita benar-benar terselamatkan berkat Natsume-kun"
"Syukurlah, tak kusangka aku bisa membantu" Raut wajah Natsume terlihat senang.
"Aku pikir, aku hanya akan mengganggu jika bergabung dengan kalian"
Hening. Semua orang membisu sejenak. Hanya dengan satu kalimat terakhir Natsume, mereka semua mulai menyadari alasan mengapa Natsume menutup diri dari mereka selama ini.
"Kami pikir selama ini kau menghindari kami karena kami pengganggu bagimu" celetuk Kaoru, membuat mata cokelat Natsume membulat.
"Eh?" Natsume terkejut dengan wajah polosnya. "Kapan kalian mengangguku?"
Semua orang saling lempar pandang. Kemudian tertawa lepas. Sasada memegangi perutnya yang mulai keram karena tertawa. Sedangkan, Taki menghela nafas lega karena sepertinya kesalahpahaman teman-temannya pada Natsume sudah berakhir.
"Jadi selama ini kami salah paham" Sasada mengusap sudut matanya yang berair. "Kami pikir kau menjauhi kami karena kau tak tertarik berteman dengan kami. Kau dari kota besar. Kami pikir kau meremehkan kami selama ini"
"Itu tidak benar" timpal Natsume tidak terima. Helaan nafas panjang keluar dari bibir tipisnya. "Aku bukan orang yang pandai berbicara, jadi yah- aku kurang percaya diri"
Kitamoto menepuk pundak Natsume. "Percaya dirilah! Jika kau tak bicara, darimana kau bisa tahu kau menyakiti kami atau tidak" Natsume tertunduk. Perkataan yang hampir sama dengan Tanuma. "Maafkan kami karena sudah salah paham terhadapmu, Natsume. Mulai sekarang, kami temanmu. Jadi.."
"Selamat datang Natsume"
Semua orang tersenyum, menyambut baik Natsume bergabung bersama mereka. Kecuali satu orang. Nishimura. Alasan utamanya tentu saja karena Taki.
Jam menunjukan pukul sebelas malam.
Perempuan dan laki-laki tidur terpisah. Anak perempuan tidur di kamar Kaoru sedangkan laki-laki tidur diruang tengah dengan beralaskan futon. Hampir semua dari mereka sudah terlelap dalam tidur. Kecuali Natsume.
Pria itu masih termenung di balkon lantai empat apartemen. Memandang cahaya bulan yang terlihat lebih terang hari ini. Ditengah keheningan malam dimana suara mobil dan kereta tidak terdengar lagi. Dadanya terasa sesak, namun ia tidak membencinya justru ia menyukainya. Sensasi saat semua orang menerimanya disisi mereka melekat dihatinya sekarang. Ia sangat senang. Syukurlah ia mencoba. Syukurlah ia mendengarkan Tanuma. Suara Kitamoto saat mengatakan 'Selamat datang Natsume' masih menggema dikepalanya.
Ayah
Ibu
Sekarang aku punya teman, aku berjanji tak akan membuat bencana lagi. Aku ingin melindungi kedamaian ini.
"Natsume.."
Panggilan kecil itu membuat Natsume menoleh, kedua alisnya bertaut melihat Nishimura disana tengah menatapnya. "Nishimura, kau belum tidur?"
"Seharusnya itu juga pertanyaanku" Nishimura melangkah ke balkon, dan duduk disamping Natsume. Mata cokelat kemerahannya menyorot bulan di langit kelam. "Natsume, menurutmu Taki-chan itu seperti apa?"
"Taki?" Kedua alis pria berkulit putih itu tertaut. Raut wajahnya terlihat bingung. "Dia gadis yang baik, dia juga sering menolongku. Dia selalu ceria dan disukai banyak orang" Natsume melayangkan pandangannya kearah Nishimura. "Memang ada apa Nishimura?"
Helaan nafas panjang terdengar dari Nishimura. Kedua tangan pria itu terkepal. "Sebenarnya aku.. Menyukai Taki-chan"
Natsume terkesiap. Raut wajah Nishimura terlihat serius, tidak ada celah kebohongan dibalik mata cokelat kemerahannya. Ia tulus mengatakan itu.
"Kau tidak ada perasaan apapun padanya bukan? Asal kau tahu, aku menyukai Taki-chan sejak SMP. Kami memang berbeda sekolah. Tapi aku sering bertemu dengannya di bimbel belajar. Aku lebih mengenalnya dibanding kau" desak Nishimura. Wajah pria itu memerah, kalimatnya terdengar tergesa. "Aku tak suka saat kau bersamanya. Jadi Natsume ka-"
"Kami hanya teman"
Kalimat Nishimura tertahan. Ia menoleh, Natsume tengah memandangnya dengan seulas senyum di bibir tipis merah mudanya.
"Kami hanya teman Nishimura"
"Benarkah?" tatajam tajam Nishimura berangsur pudar. Natsume mengangguk. Terdengar helaan nafas lega dari pria itu.
Cahaya riang dibalik mata Nishimura kembali, satu kalimat dari Natsume seakan menjadi obat dari rasa gelisahnya selama ini. Nishimura tersenyum senang.
"Begitu. Syukurlah"
"Kalau begitu. Ayo berteman Natsume"
To be continue..
