Chapter 10 : Masalah Baru

Matahari memanjat dinding langit di ufuk timur. Suara kereta dan mobil mulai terdengar riuh. Pagi ini mereka akan pergi ke pemandian air panas bersama. Ini pertama kalinya bagi Natsume pergi ke pemandian bersama teman-teman. Benar-benar menyenangkan. Mereka berangkat lebih pagi agar tempat pemandiannya tidak penuh.

Hanya dengan berjalan kaki belasan menit mereka sudah tiba di pemandian air panas. Senyum mereka mengembang. Pagi-pagi libur seperti ini tentulah waktu yang tepat untuk berendam. Hanya Nishimura yang memasang wajah masam, ia mendengus melihat tulisan 'Pemandian terpisah' di sepanduk diatas pintu.

"Mana ada pemandian air panas campur zaman sekarang, bodoh!"

Menyadari apa yang dipikirkan teman masa kecilnya itu. Kitamoto menepuk keras kepala Nishimura. Membuat pria berambut mangkok itu mengaduh.

Usai melepas semua helai pakaian mereka. Para lelaki mulai berendam di kolam air panas. Uap mengepul diseluruh permukaan air, panasnya menyengat namun terasa nyaman. Natsume menyadari aura yang tidak nyaman, kepalanya terangkat dari air dan melihat sekitar. Kitamoto dan Nishimura melototinya.

"A-apa?" Natsume nampak bingung. Tangan Kitamoto terulur. Menarik tangan Natsume dan mensejajarkannya dengan tangannya sendiri.

"Apa yang kau lakukan hingga kulitmu seputih ini?" gumam Kitamoto terlihat iri. "Kau sungguh tak melakukan perawatan kulit?"

Natsume menggeleng. "Tidak ada"

"Mungkinkah keturunan Ibu atau ayahmu? Apa mereka juga berkulit salju seperti ini?" Nishimura bersuara.

Natsume terkesiap. Ayah dan Ibu ya. Benar juga. Mungkinkah mereka juga berkulit putih juga? Mungkinkah mereka memiliki wajah yang mirip dengannya? Sayangnya pertanyaan dalam benaknya itu tidak bisa terjawab. Ia sudah hampir melupakan semua kenangannya dengan ayahnya karena ayah meninggal di saat usianya lima tahun. Usia yang sangat muda untuk menyimpan kenangan menyakitkan.

"Aku tidak tahu"

Nishimura dan Kitamoto menoleh "Bagaimana bisa kau tidak tahu, mereka kan orangtua mu send-"

"Mereka sudah tiada. Ibu meninggal sebelum aku lahir dan ayah meninggal saat usiaku lima tahun. Ingatanku tentang ayah juga mulai kabur terkikis waktu" sela Natsume. Wajah pria itu tertunduk dalam, tangannya terkepal dibawah air. Ia hanya bisa mengatakan itu. Tidak bisa lebih. Karena jika ia mengatakan tentang kematian ayahnya lebih detil. Sesuatu yang menyakitkan pasti akan kembali.

Kitamoto dan Nishimura terpaku mendengarkan Natsume. Hening. Tidak ada satupun dari mereka yang bersuara. Perasaan mereka diliputi rasa bersalah. Terutama Nishimura, seharusnya ia tidak menanyakan hal yang dapat mengoyak luka lamanya.

Selama ini mereka berdua selalu menganggap Natsume menjauhi mereka karena ia orang kota yang tak mau berteman dengan mereka. Tapi, setelah mendengar sedikit tentangnya dan menatap mata redup itu lebih dalam. Nyatanya dia kesepian. Ia pastinya telah melalui banyak hal. Dalam benak mereka berdua, seharusnya mulai awal mereka mencoba lebih keras untuk akrab dengannya. Mungkin mereka bisa mengurangi rasa kesepiannya walau sedikit"

'Baka mitai na ore-tachi'

Dan sejak saat itu. Kitamoto dan Nishimura mulai akrab dengan Natsume.

*********
Keesokan harinya.

Taki melangkah masuk kelas, senyumnya mengambang melihat Natsume sedang bermain shogi melawan Kitamoto dengan ditonton Nishimura disamping mereka.

"Jangan remehkan aku Natsume, aku ini cukup jago" Kitamoto menyusun bidak diatas papan permainan.

"Baiklah baiklah"

Nishimura mengacungkan tangan. Membuat kedua pria didepannya itu menoleh kearahnya. "Bagaimana jika yang kalah mentraktir jagung bakar di festival?"

"Baik!" sahut Kitamoto.

Pria berambut hitam itu terlihat percaya diri. Namun kepercayaan diri itu lenyap dua puluh menit kemudian. Semua bidaknya berhasil diambil oleh pria putih didepannya. Kitamoto mengacak rambut frustasi. "Sial!"

Natsume tertawa. "Kau tak sebaik yang kukira Kitamoto" sindirnya membuat Nishimura ikut tertawa lantang.

Kitamoto menutup kedua telinganya "Berisik! Natsume apa kau dilatih Tanuma Kaname hah? Tak kusangka kau sangat jago"

"Sedikit"

"Kuso!" pekik Kitamoto membuat Natsume dan Nishimura tertawa lebih lantang, seakan senang temannya itu menderita.

Seulas senyum terukir di wajah Taki. Mata gadis itu menyorot momen pertemanan mereka. Akhirnya dinding pembatas itu mulai hancur. Retak berjatuhan sekeping demi sekeping. Sedikit demi sedikit. Iris mata itu masih redup, namun suatu saat Natsume pasti bisa menemukan mataharinya. Pasti.

Sepulang sekolah. Natsume dan Taki berjalan beriringan. Sebenarnya mereka pulang bersama Sasada, Kitamoto dan Nishimura tadi. Namun, ketiga orang itu berbelok ke persimpangan dan meninggalkan mereka berdua yang memang tinggal di daerah yang sama.

Kereta yang mereka tumpangi melaju tenang melewati persawahan. Dari jendela, ia bisa melihat hutan Yatsuhara dan kuil tempat tinggal Tanuma dan ayahnya. Saat itu kereta cukup longgar, tidak sepadat saat mereka berangkat ke sekolah. Natsume dan Taki duduk bersampingan. Hening. Masing-masing dari mereka berpikir untuk mencari topik pembicaraan.

Seorang wanita dengan perut besar karena mengandung terlihat bingung dipojokan. Ia tidak kebagian tempat duduk, sedangkan kereta tengah melewati area perbukitan dan membuat lantai terasa sedikit bergetar.

Natsume berdiri, menghampiri wanita itu. Taki memperhatikan. Natsume terlihat berbicara dengan wanita itu, senyuman wanita hamil itu mengambang dan ia berjalan kearah Taki dan duduk disampingnya. Sedang Natsume berdiri didepannya, sambil berpegangan.

"Natsume-kun benar-benar baik ya" pikirnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Hingga nafasnya terasa sedikit sesak. Pipinya panas. Tanpa ia sadari sudah muncul semburat merah diwajahnya. Taki mendongak, memandang sosok laki-laki tinggi didepannya. Rambutnya, hidung mancung nya, bibir tipisnya, iris cokelatnya hingga kulit putihnya. Sejak kapan ia menjadi begitu menyukai itu semua, sejak kapan ia menjadi sangat terpesona hanya dengan memandang sosok pria itu.

"Tenanglah Taki" pikirnya tentu tanpa mengeluarkan suara. Ia menekan dadanya, berusaha meredam detak jantungnya walau sedikit.

"Taki, kau tidak apa? Wajahmu merah" Natsume bersuara. Taki masih menunduk, takut pikiran liarnya semakin parah jika melihat wajah tampan itu. Namun gadis itu terkesiap saat sebuah sentuhan hangat mengenai dahinya. Nafasnya terhenti seketika, ia mendongak. Tangan kanan Natsume berada di dahinya sedang tangan kirinya berada di dahinya sendiri. Ia terlihat mencocokkan.

"Kau tidak demam. Kau tak apa?" Natsume terlihat khawatir dan menurunkan tangannya.

'Aku ingin sentuhan hangat itu lagi'

Taki segera menggeleng. "Mungkin karena udara di kereta yang cukup pengap" tentu saja ia berbohong. Ini musim gugur, udara dingin dimana saja. Bahkan kereta. Namun Natsume tak menyangkal, terlihat menerima jawaban itu.

Taki memegang keningnya sekali lagi. Kening yang tadi disentuh Natsume. Hangat. Nyaman. Ia ingin merasakannya lagi. Walau hanya sekali.

'Ternyata aku memang, menyukai Natsume-kun'

Usai mengantarkan Taki ke rumahnya. Natsume segera pulang. Ia harus mengganti pakaian dan pergi bekerja ke penginapan. Sesampainya di apartemen tempat tinggalnya. Seseorang pria berbadan tinggi dengan jas rapi dan dasi hitam berdiri didepan pintu. Pria itu melihat sekitar dan matanya melebar saat melihat Natsume.

"Natsume-kun bukan?"

Pria yang terlihat berumur hampir lima puluhan itu tersenyum. Natsume mengangguk membenarkan.

"Bisa kita bicara?"

Uap mengepul dari teh panas didalam gelas tembikar. Pria berjas itu menyeruput tehnya kemudian menghela nafas dengan raut wajah serius.

"Ada apa tuan? Kenapa mencari saya?" tanya Natsume.

"Ini tentang ayahmu"

Seketika tubuh Natsume membeku. Ia menelan ludah"Ayah saya?"

Pria berjas itu mengangguk. "Sebenarnya dulu saat kau masih didalam perut ibumu. Ayahmu pernah meminjam uang sebesar lima juta yen pada sebuah instansi peminjaman uang. Ayahmu berjanji akan mengembalikannya setelah bisnisnya berjalan lancar kembali. Namun, setelah bisnis tuan Natsume berjalan dengan baik. Ia belum juga mengembalikannya. Mungkin karena ia ingin menyimpan uang untuk biaya kelahiranmu. Dan setelah kau lahir. Ayahmu juga masih saja belum mengembalikan uang itu. Ibumu meninggal dan bisnisnya naik turun, tidak stabil dan terkesan perkembangannya labil. Tidak banyak keuntungan yang ia dapatkan. Namun, ia harus membiayaimu, makan dan sekolah, sebagai orangtua tunggal. Kemudian beberapa tahun kemudian dia terjerat kasus pembunuhan demi melindungimu. Instansi peminjakan uang itu tidak lagi menagih uangnya karena takut dikira terlibat dengan seorang kriminal. Namun, baru-baru ini instansi itu mengalami kerugian. Mereka memerlukan biaya untuk memajukan bisnisnya kembali. Maka dari itu, ia ingin uang yang dipinjam segera dikembalikan. Kau pasti mengerti apa maksudku nak. Lima juta yen, dan harus dibayar dalam sebulan ke depan"

Natsume terdiam. Sedang kepalanya terasa penuh. Memikirkan cara untuk mendapatkan lima juta yen. Uang sebanyak itu dalam waktu sebulan benar-benar terasa mustahil. Peluh mengalir di keningnya, tangannya terkepal kuat. Ia panik.

"Kalau begitu, aku permisi. Aku akan menemuimu lagi bulan depan. Aku harap kau melunasinya bagaimanapun caranya. Walau kau masih muda, kau bisa saja terkena pasal hukuman atas pelanggaran pengembalian uang. Mengerti?"

Pria berjas itu berjalan menuju pintu. Tubuhnya terhenti, "Kau tahu Natsume-kun, jika aku boleh memberikan pendapat. Akar masalah ayahmu itu adalah dirimu. Kau punya ayah yang hebat karena mau membesarkan anak sepertimu"

Suara langkah kaki dan suara pintu yang tertutup. Natsume masih mematung ditempatnya. Ia berpikir keras. Perlukah ia meminjam pada Natori-san? Pikirnya. Namun ia segera menggeleng kuat. Pria itu benar. Jika ia meminjam uang pada Natori. Itu sama saja dengan dirinya yang dulu. Dirinya yang menyusahkan dan pembawa bencana. Ia harus berusaha sendiri walau itu bisa membuatnya mati.

Menyakitkan! Menyakitkan! Beban apa lagi ini.

Natsume menekan dadanya berusaha meredam rasa sakit disana. Nafasnya terasa sesak, tubuhnya lunglai "Ayah. Maafkan aku" bulir air mata menetes dari mata cokelat itu. Ia roboh. Ia hanya manusia biasa yang kesepian. Benar-benar menyakitkan. Ia mengutuk diri sendiri. Daripada uang, cerita pria berjas itu jauh lebih menyakitkan, mengiris lagi hatinya yang sudah terluka. Tentang bagaimana ayahnya berusaha menghidupi beban sepertinya. Pembawa bencana sepertinya. Seharusnya ayah biarkan saja dirinya mati di tangan perampok itu.

'Ya Tuhan. Sakit sekali!'

Saat itu di sebuah apartemen kecil, di sepetak ruangan di lantai dua, di ruang sempit dan pengap itu. Seorang pemuda tujuh belas tahun menangis. Merutuki takdir menyakitkan yang melekat pada dirinya, menggerogoti cahaya riang di hatinya. Menariknya dalam lembah keputusasaan.

Bersambung..