Chapter 11 : Rapuh
"Kau mengambil pekerjaan lain? Pekerjaanmu disini sudah sampai jam 9 malam. Kau mau pulang jam berapa?!" bentak pria bersurai hitam itu.
Tanuma menyorot tajam Natsume, iris matanya meredup tanda khawatir. Sedang yang diajak berbicara hanya bisa menghela nafas. Tanuma tahu, temannya yang satu ini keras kepala. Sangat keras kepala!
"Tenang saja Tanuma, aku masih punya waktu untuk istirahat" seulas senyum terukir di bibirnya yang memutih. Lagi-lagi senyuman itu. Tanuma mengepalkan tangannya. Dalam benaknya penuh pertanyaan, 'kenapa sulit sekali untuk membujuk pria itu?'. Dia bahkan tidak memberitahukan alasan utamanya menambah pekerjaan lain.
Pelayan restoran dia bilang. Gila. Pelayan restoran bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi untuk pelajar sepertinya. Mondar-mandir membawa nampan, dan jika pelanggan lebih sedikit kau akan dipaksa mencuci setumpuk piring didapur.
Tapi sayang, ia tidak bisa menghentikan pria itu. Walaupun berkali-kali ia melarang Natsume. Natsume akan tetap melakukan hal yang baginya benar. Walau itu menyakiti dirinya sendiri.
"Natsume! Bawakan ini ke meja tiga"
Pria berkulit putih salju itu sigap meraih nampan dari koki dan segera melaksanakan perintah. Diselingi sapaan ramah, dan mencatat pesanan dengan cepat. Natsume seakan sudah menjadi bintang bagi para pelayan lainnya.
Ia gesit. Mudah belajar dan ulet. Semua pegawai lain menyukainya, manajer memberinya gaji tambahan karena kerja nya yang bagus. Setiap hari, usai mengerjakan pekerjaan dipenginapan bibinya Tanuma, ia langsung melanjutkan pekerjaan ini hingga pukul dua pagi.
Semua itu harus dilakukan, surat tagihan hutang telah tiba dirumahnya beberapa hari lalu. Ia hanya punya waktu tiga minggu lagi. Ia harus mencari uang tanpa bantuan siapapun. Tanpa membebani siapapun. Itulah yang Natsume pikirkan. Ia harus tanggung semuanya sendiri. Sejak saat itu, rasanya tiada hari tanpa bekerja. Bahkan dihari minggu pun ia mengambil pekerjaan menjadi kasir minimarket.
Lelah. Menyiksa. Itu yang ia rasakan. Membagi waktu antara sekolah dan tiga pekerjaannya rasanya hampir mustahil. Tapi tak ada lagi yg bisa ia lakukan. Ia hanya bisa makan seadanya. Segalanya harus hemat. Semua gajinya ia tabung untuk melunasi hutang ayahnya itu. Sudah hampir seminggu ini, dia hanya makan ramen instan dan air putih. Ia sudah tidak peduli dengan kesehatannya.
Ia harus melunasi hutang ayah. Uang hutang yang dulunya digunakan ayah demi dirinya. Ia harus membayarnya. Natori-san tidak boleh tahu. Tanuma dan Taki juga tidak boleh tahu. Jika mereka tahu, mereka pasti menolongnya. Dan jika itu terjadi, ia sama saja dengan dirinya yang tak berdaya dimasa lalu.
Senin, 01.15 a.m
Salju pertama turun dari langit gelap berawan.
"Natsume, setelah kau mencuci piring. Pulanglah ya"
Seminggu ini dia benar-benar menghajar habis tubuhnya. Pekerjaan berat ditambah ujian sekolah. Dia tahu sekarang akhirnya ia kena batunya. Tubuhnya terasa lemas, kakinya sedikit gemetar. Kepalanya pening luar biasa, pandangannya terasa berputar.
"Natsume" manajer restoran memanggilnya. Natsume menoleh. Bibirnya memutih, keningnya berkeringat. Manajer membulatkan mata, menyadari ada yang tak biasa dari pegawainya itu. "Natsume, wajahmu pucat sekali. Kau sakit?"
Pria itu mencoba berdiri tegak. Menggeleng pelan. "Aku baik baik saja" jawabnya. Tentu saja bohong. Manajer meninggalkannya bersama tumpukan piring kotor didapur. Bibir tipisnya gemetar, nafasnya tersengal, udara terasa sangat dingin menusuk, pandangannya berkunang-kunang, tubuhnya hampir ambruk sebelum tangannya berhasil berpegang ke sudut meja cuci.
Padahal ia bisa saja, meminta izin manajer untuk minta dipulangkan lebih dulu karena tidak enak badan. Tapi bukan Natsume namanya jika tidak memaksakan diri. Pria itu pada akhirnya membersihkan semua piring itu dengan tubuh layu itu.
Ia pulang kerumah. Menyerat paksa kaki dan tubuhnya yang terasa berat. Nafasnya terus tersengal. Hingga akhirnya ia bisa pulang ke rumah dengan susah payah. Namun, tubuhnya benar-benar mencapai batasnya. Sejak kecil, ia sangat mudah sakit. Tubuhnya lebih lemah dari orang lain. Ia akan sakit jika kelelahan sedikit saja. Ia tahu benar itu. Tapi baginya tak ada pilihan lain lagi. Baginya membayar hutang ayah sekarang adalah yang terpenting. Jika dengan menghabiskan semua tenaganya dapat membayar semua itu, maka akan ia lakukan.
Ia pusing. Perutnya mual. Rasanya dingin. Sangat dingin hingga seluruh tubuhnya terasa seperti ditusuk jarum. Sakit sekali.
Natsume mencengkram kepalanya, merasakan pusing yang luar biasa. Nafasnya terputus-putus. Ia membekap mulutnya, merasakan makan malam nya direstoran tadi akan keluar begitu saja. Pria itu berlari ke kamar mandi, memuntahkan semuanya di wastafel.
Sakit!
Ia memuntahkan semua isi perutnya, terbatuk-batuk tak berdaya. Uap mengepul dimulutnya seiring ia bernafas. Pandangannya kabur, ia memeluk diri, berusaha meredam rasa dingin yang luar biasa itu. Pandangannya kabur hingga
Bruk..
Pria itu tergeletak di lantai kamar mandi. Tubuhnya menggigil kuat, air dibak wastafel meluap karena ia tak sempat mematikan kerannya. Air itu mengalir, luapannya mengenai Natsume yang tergeletak dibawahnya. Menambah rasa dingin menusuk disekujur tubuhnya. Kakinya sudah tak sanggup berdiri, nafasnya terasa sesak menyakitkan, tubuhnya terasa seperti tertusuk ribuan jarum. Kesadarannya hampir hilang.
"T-tolong" bibir tipis itu berbisik pelan, "di-dingin.. T-tolong" namun tak ada sama sekali orang disini. Ia hanya tinggal sendirian. Mata sayunya menyorot keluar pintu kamar mandi, memandang kearah foto ayahnya diatas lemari kecil. "A-ayah" lirihnya diiringi jatuhnya tetes air dipelupuk matanya. Itu hanya foto. Andai ayah ada, sosok pahlawan itu pasti merengkuhnya sekarang. Mendekapnya agar tak kedinginan. Isakan kecil keluar dari bibir tipis getir itu. Matanya mulai tertutup, kesadarannya benar-benar terenggut.
"Benar juga. Aku hanya sendiri. Sebanyak apapun aku memanggil nama 'ayah' dan meminta tolong. Tidak akan ada yang datang. Aku sendiri. Sejak dulu sendiri. Bencana sepertiku, memang paling pantas dengan takdir ini"
Buram. Gelap. Senyap.
Taki Tooru POV
Seminggu ini aku merasa ada sesuatu yang aneh dari Natsume-kun. Saat jam pelajaran, dia selalu tertidur dimejanya. Sensei juga sudah berkali-kali menegurnya. Namun, hal yang sama terus terjadi. Wajahnya terlihat letih, matanya layu dan sedikit menghitam layaknya orang yang jarang tidur.
Cemas. Itulah yang aku rasakan sekarang. Setiap aku bertanya apa ada sesuatu yang terjadi, dia selalu memberikan jawaban yang sama. 'Aku baik-baik saja'. Aku pun menanyakannya pada Nishimura dan Kitamoto karena mereka cukup akrab akhir-akhir ini. Namun mereka juga tidak tahu apa-apa.
Salju pertama sudah turun pagi tadi. Suhu udara dijepang mencapai nol derajat, membuat semua pelajar harus menyiapkan jaket tebal dan sarung tangan untuk pergi ke sekolah.
Hari ini aku berangkat lebih cepat, aku menyiapkan dua bento untuk Natsume-kun. Beberapa hari terakhir aku selalu lupa membawakan bento untuknya karena bangun kesiangan akibat belajar ekstra untuk ujian. Ujian sudah berakhir, aku tak punya alasan untuk bangun kesiangan lagi.
Aku tiba di sekolah sepuluh menit lebih cepat. Mataku menyorot pria berambut hitam yang berjalan tidak jauh dariku. Aku pernah melihatnya bersama Natsume beberapa hari lalu, kalau tidak salah namanya. Tanuma, si juara shogi yang dikagumi Kitamoto. Mungkin dia tahu sesuatu tentang alasan Natsume terlihat lelah akhir-akhir ini.
Kulangkahkan kaki mendekati pria itu dan berjalan tepat disampingnya. Dia menoleh, "Kau Tanuma bukan?" tanyaku. Dia mengerjap kemudian mengangguk.
"Kalau tidak salah kau kekasihnya Natsume?" terka Tanuma membuat pipiku terasa panas.
"Bukan" sanggahku cepat. Saking cepatnya sampai aku sendiri sakit hati. "Aku temannya, namaku Taki Tooru. Panggil saja Taki"
Pria bersurai hitam itu tertawa pelan. "Maaf maaf, aku kira kau kekasihnya karena kalian selalu terlihat bersama" ia menghela nafas pelan. "Apa ada sesuatu? Atau kau hanya senang menyapa saja hingga menyapa pria yang tak kau kenal seperti ini?" tanyanya.
Benar juga. Aku ingin menanyakan tentang Natsume padanya. "Apa terjadi sesuatu pada Natsume-kun, dia terlihat lelah dan selalu tertidur dikelas. Aku dengar dia bekerja di penginapan bibimu"
"Ah itu.." Tanuma memegang ujung rambutnya, "Sebenarnya Natsume mengambil beberapa pekerjaan lain selain di penginapan. Dia tak memberitahuku alasannya. Tapi kau benar, wajahnya sering pucat akhir-akhir ini. Aku pikir dia kelelahan. Aku selalu memintanya pulang saja jika dia lelah, tapi dia keras kepala dan menolak"
Astaga. Perasaan cemasku semakin meluap begitu saja. Pekerjaan-pekerjaan itu pasti alasannya terlihat lelah akhir-akhir ini. Tapi kenapa Natsume-kun mengambil banyak pekerjaan? Apa dia kesulitan membayar uang sekolah? Ah itu tidak mungkin. Aku dengar Natsume anak penerima beasiswa prestasi dan semua biaya sekolahnya sudah ditanggung.
"Kalau begitu aku akan ke kelasku" aku terbangun dari lamunan. Tanpa kusadari, sekarang aku sudah ada didepan pintu kelas. Aku melihat Tanuma sudah melangkah pergi menuju kelasnya di gedung sebelah.
Kelas sudah dimulai setengah jam lalu, namun kursi disampingku masih kosong. Dan hingga jam pulang sekolah. Natsume benar-benar tidak datang. Aku menekan dadaku, aku sangat khawatir terjadi sesuatu padanya. Ia bahkan tidak meminta izin cuti pada sensei. Pasti terjadi sesuatu.
Aku meraih ranselku dan berlari keluar kelas, tanpa memperdulikan Sasada yang berteriak memanggilku. Aku melangkah cepat menuju kelas 1-3. Kelas Tanuma. Aku yakin pria bersurai hitam itu tahu dimana Natsume tinggal. Aku harus ke rumah Natsume!
Author POV
"Natori-san lokasi syuting nya tertutup salju. Mereka bilang perlu waktu untuk membersihkannya jadi syutingnya diliburkan"
Pria berambut pirang dengan dandanan glamor itu tersenyum senang. Satu bulan ini dia disibukkan dengan berbagai acara TV. Hampir tak ada waktu baginya beristirahat. Ditambah lagi anak itu tidak menghubunginya sama sekali. Uang dua juta yen yang ia kirim lagi-lagi dikembalikan.
"Keras kepala" batinnya. "Mungkin lebih baik kutemui saja"
Masker hitam, topi dan sweater cokelat tua dengan mendorong sebuah troli belanja. Niat untuk menyembunyikan identitasnya justru malah membuatnya menarik perhatian. Tentu saja, siapapun akan curiga dengan orang berpakaian tertutup seperti itu di pusat perbelanjaan.
Security yang berdiri didepan pintu supermarket terus melototinya hingga membuat perasaannya jauh dari kata baik. Ia akan berbelanja dengan cepat, bayar dan pergi mengantar ini semua ke rumah Natsume.
Jika dia tidak menerima uang, setidaknya ia mau menerima bahan makanan. Pikir Natori.
Natori selesai berbelanja, ia mengendarai mobil merek audy silver itu menyusuri jalanan kota bersalju. Ia tidak bisa cepat karena jalanan cukup licin. "Aku akan memarahinya nanti. Beraninya dia tak menghubungiku sama sekali" gumamnya.
Dalam waktu satu setengah jam. Ia tiba di apartemen berlantai tiga itu. Natori membawa dua kantong belanjaan. Isinya berbagai macam bahan makanan, roti, susu, beras, keju, daging dan lain-lain. Langkah pria itu terhenti saat melihat dua orang remaja berdiri didepan pintu apartemen Natsume.
"Siapa kalian?"
Dua remaja pria dan wanita itu menoleh, "Kami teman Natsume, dia tidak masuk sekolah jadi kami khawatir" jawab gadis remaja yang tentu saja adalah Taki.
Mata pria bermasker itu terlihat berbinar-binar, bahkan hampir menangis. "Natsume bocah itu punya teman" gumamnya terharu.
Dahi Tanuma berkerut, "Anda sendiri siapa?" tanyanya.
Pria itu melepas masker dan topi hitamnya, Taki membekap mulutnya. "Eh?" gadis itu mengusap-usap matanya. Berkali-kali. "Aku tidak sedang bermimpi bukan? Anda Natori Shuuichi?!" pekik Taki seakan sudah lupa tujuannya kemari.
Natori tertawa, "Benar-benar gadis manis"
"Eh?!" pekik Taki lagi membuat Tanuma menutup telinganya. "Apa hubungan anda dengan Natsume?"
"Aku kakaknya"
"Hah?" Dua remaja didepannya saling pandang. Kemudian sama-sama menjerit. "Kakak Natsume?!"
"Yah, bukan kakak kandung. Hanya saja aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri" air muka pria bersurai pirang itu berubah sendu. "Yah, walau sekarang Natsume mungkin tak mengakuiku lagi sebagai kakaknya. Jadi- kenapa kalian tak masuk?"
"Kami sudah disini setengah jam. Namun, tak ada jawaban dari Natsume. Ponselnya mati. Beberapa hari lalu dia menambah pekerjaannya dan akhir-akhir ini dia terlihat tidak sehat. Jadi kami sangat khawatir"
Iris Natori membulat. Entah kenapa, perasaannya berubah tidak enak. Firasatnya buruk. Sejak dulu ia selalu punya insting yang baik, firasatnya tidak pernah salah. Natori melangkah kedepan pintu, menekan bel berkali-kali dan menggedor-gedor pintu didepannya.
"Natsume!" panggil Natori berkali-kali.
Tidak ada jawaban.
"Gawat, firasatku tidak enak" gumam Natori membuat Tanuma dan Taki ikut diliput rasa gusar. "Kita harus membuka pintunya bagaimanapun caranya"
Tanuma terlonjak. "Kantor staf mungkin punya kunci cadangannya. Akan aku ambil" pria bersurai hitam itu berlari menuruni tangga menuju kantor staf dilantai satu.
Taki menekan dadanya. Ia takut terjadi sesuatu pada Natsume.
"Sial! Inilah paling aku benci darinya" Natori bersuara, "Ia selalu memaksakan diri"
Tanuma kembali, membawakan sebuah kunci cadangan apartemen Natsume. Natori mengambil alih kuncinya, memasukannya ke lubang kunci dan perlahan membuka pintu dengan nafas tercekat dan jantung berdetak cepat. Mereka melangkah masuk. Sepi. Hanta terdengar suara gemericik air.
Mereka mengikuti arah suara tetesan air itu. Tubuh mereka seakan tersengat. Selama beberapa detik mereka mematung. Syok. Semua mata membulat. Melihat tubuh remaja pria tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi. Pakaiannya basah karena luapan air dari bak wastafel.
"Natsume!" teriak ketiganya dan segera mendekati tubuh itu. Natori memegang tangannya, nafasnya tercekat. Tubuhnya sedingin es. Rona diwajah remaja itu hilang, bibirnya putih. Taki membekap mulutnya. Air
matanya jatuh. Natori merengkuh tubuh anak laki-laki itu.
Dingin. Rapuh.
"T-tidak mungkin"
