Chapter 12 : Sebuah Cerita
"Tidak mungkin"
Taki membekap mulutnya. Air matanya sudah mengalir deras sejak tadi, tubuh itu terlihat tidak berdaya dalam rengkuhan Natori. Natori mengatupkan giginya, wajahnya sudah ikut memucat. Tanuma menepuk bahunya, Tanuma itu menunduk dalam. Seakan berusaha menutupi wajah sedihnya.
Tidak mungkin. Natsume tidak mungkin mati. Batinnya menjerit.
Gadis itu mendekat kearah Natori yang masih mematung sambil terus merengkuh tubuh ringkih itu. Tangan gadis itu terulur, meraih tangan kanan Natsume yang dingin dan menaruh telapak tangan Natsume dipipinya. Tiba-tiba sentuhan itu terasa bergerak. Taki membulatkan mata, diturunkannya tangan Natsume. Ujung jari telunjuknya sedikit bergerak.
"Natori-san!" pekik Taki membuat pria itu mendongak. Ujung jari itu bergerak lagi, Natori melihatnya. Pria itu segera menempelkan telinganya didada Natsume.
Suara detaknya masih terdengar namun sangat kecil dan lirih, iris tajam Natori melebar. Taki bisa melihat pelupuk mata pria itu sudah mulai berair. "Taki telepon ambulan cepat! Tanuma bantu aku menghangatkannya"
Tanuma dan Taki mengangguk. Taki meraih ponselnya, menekan nomor telepon ambulan dengan jari gemetar. Sedang Tanuma dan Natori menggantikan pakaian basah Natsume. Dan menaruh tubuh pria itu didekat pemanas.
"Bertahanlah Natsume-kun"
Ambulan datang sekitar sepuluh unit usai Taki memanggilnya. Natsume segera diboyong tim medis, peralatan medis dilekatkan di tubuhnya, oksigen hingga alat deteksi jantung. Taki dan Tanuma mengekor dibelakang anggota tim medis dan ikut masuk dalam ambulan.
Langkah Natori terhenti saat kakinya menginjak sesuatu. Pria itu menoleh kebawah, melihat sebuah amplop dengan segel perusahaan. Ia meraih amplop itu, tangannya hendak membuka namun terhenti saat Tanuma memanggilnya.
"Natori-san ambulannya hanya muat untuk dua orang penjenguk"
"Kalian duluan temani Natsume, aku akan menyusul dengan Taxi" sahut Natori cepat dan Tanuma mengangguk lalu segera masuk ke dalam bak ambulan. Suara sirinenya terdengar melengking. Menaikan bulu remang siapa saja yang mendengarnya.
Natori segera memanggil Taxi dan memasukinya. "Ikuti ambulan didepan" perintahnya pada supir. Pria itu meraih amplop surat yang ditemukannya di rumah Natsume. Dibukanya amplop itu, matanya membulat melihat judul yang tertera di surat.
'Surat Tagihan Hutang' atas nama Natsume Satosi
Tangan pria itu mengepal. Jadi ini alasan Natsume menyiksa dirinya. "Tak akan kumaafkan" gumamnya dan meremas surat yang dipegangnya. Membuat supir yang tak sengaja melihat dari balik kaca bergidik karena wajah garang Natori.
Ambulan tiba di rumah sakit terdekat, begitu juga dengan Taxi yang ditumpangi Natori. Natsume dibawa dengan brankar menuju ruang ICU dan segera ditangani tim medis. Tiga orang itu menunggu diluar dengan wajah cemas.
Sekitar hampir tiga puluh menit, pria berjas putih keluar dari sana. Mereka segera menghambur kearah pria itu.
"Bagaimana kondisi adikku?" tanya Natori cepat.
"Dia menderita Hipotermia dan itu yang membuat suhu tubuhnya turun drastis. Detak jantungnya juga sudah melambat. Andai kalian terlambat sedikit saja. Nyawanya mungkin sudah melayang. Kami sudah menyuntikan obat dan menstabilkan detak jantungnya. Kami akan memindahnya ke ruang rawat dan memasang banyak penghangat. Sekarang dia koma ringan, dia akan sadar besok atau lusa. Dia akan baik-baik saja"
Taki tersenyum lebar. Natori dan Tanume menghela nafas lega. Dokter itu pergi, mereka terduduk dengan lutut gemetar. "Syukurlah syukurlah" gumam Taki. Tanuma menepuk pelan pundak gadis itu. "Ah dia pasti mencintai Natsume" batin Tanuma.
Natsume sudah dipindah ke ruang rawat, ruangan ini nyaman. Di kedua sisi brankar terdapat dua pemanas uap untuk menghangat tubuh pria yang terbaring disana dengan alat medis melekat ditubuhnya.
Langit sudah gelap sejak beberapa jam lalu, sekarang sudah hampir waktunya tengah malam. Taki masih setia duduk di kursi disamping brankar Natsume. Iris mata gadis itu menyorot dalam pria yang terbaring disana. Sorot matanya cemas, seakan kata 'dia akan baik-baik saja' dari dokter tadi sama sekali tidak mempengaruhinya.
"Kau menyukai Natsume?" Natori muncul dibalik pintu dengan membawa tas yang cukup besar, "Aku yang akan menginap disini, Taki-chan akan kuantar pulang. Oh iya mana Tanuma?"
"Dia baru saja pulang, dia bilang harus menyiapkan makan malam ayahnya dulu" sahut Taki.
"Bilang padanya untuk datang besok saja. Kalian besok sekolah bukan?" Natori mendekat, mengusap pelan surai pria yang terbaring disitu "Natsume juga pastinya tak ingin kau terlalu mencemaskannya. Dia bahkan rela meminta tiket VIP filmku untukmu"
Iris mata Taki membulat, "Jadi tiket itu"
"Eum" Natori mengangguk, "Natsume sangat jarang meminta sesuatu padaku, setiap bulan aku selalu mengirimkan uang jutaan yen untuknya. Namun selalu saja ia kembalikan. Hari itu aku benar-benar terkejut tiba-tiba dia menginginkan tiket bioskop" Natori tertawa pelan.
"Natsume-kun" seulas senyum terukir di wajah Taki, lagi-lagi gadis itu menyorot Natsume. Natori tersenyum.
"Ja.. Ayo kuantar kau pulang"
Mobil hitam itu membelah jalanan kota di tengah malam yang sunyi. Jalanan terasa renggang, kebanyakan orang sudah pulang bekerja dan beristirahat di jam ini. Tidak ada lagi bus dan taxi yang beroperasi. Natori melirik gadis remaja disampingnya. Air mukanya masih saja tegang.
"Apa orangtuamu tidak marah kau pulang larut begini?" tanya Natori membuat gadis itu menoleh.
Taki menggeleng, "Eum tidak apa, aku sudah meminta izin"
Natori menghela nafas, "Syukurlah"
Gadis itu melirik kearah Natori, "Natori-san, kau terlihat begitu perhatian pada Natsume-kun, tapi kenapa kalian tidak tinggal bersama saja? Maaf pertanyaanku aneh, aku hanya khawatir pada Natsume-kun" pelupuk mata Taki mulai berair lagi, "Membayangkan bagaimana Natsume-kun menjalani hidupnya selama ini, selama ini dia pasti merawat dirinya sendiri saat dia sakit. Saat dia demam, dia mungkin mengompres keningnya sendirian. Itu pasti sangat menyakitkan" Taki meremas ujung roknya.
Air muka pria disampingnya berubah. Kedua tangannya mencengkram kuat roda kemudi, "Aku tahu itu" gumamnya membuat Taki menoleh.
"Taki-chan apa kau menyukai Natsume?" tanya Natori membuat pipi Taki merona merah. Natori tertawa pelan, "Aku anggap ekspresimu itu sebagai jawaban 'iya'. Kalau begitu, besok aku akan mentraktirmu makan di kantin rumah sakit."
Taki mendengus kesal "Natori-san ini bukan saatnya un-"
"Akan kuceritakan, tentang diriku dan Natsume di masa lalu" sela Natori membuat gadis disampingnya membisu seketika. "Pertanyaanmu tadi, akan terjawab dari cerita itu"
"Kau mau mendengarnya bukan? Cerita masa kecil Natsume"
Mobil hitam itu terparkir didepan gerbang rumah keluarga Taki. Gadis itu turun dari mobil dan segera masuk kedalam usai berterima kasih.
"Tooru-chan kau sudah pulang, bagaimana keadaan teman pria mu itu?"
Taki tersenyum tipis, "Dia koma ringan sekarang, tapi kata dokter dia akan baik-baik saja" sahut Taki lalu melangkah menuju kamarnya. Gadis itu menghempaskan tubuhnya ke ranjang, matanya menyorot langit-langit kamar.
"Air muka Natori-san berubah saat aku bertanya. Natsume-kun juga tidak pernah menceritakan sedikitpun tentang Natori-san pada kami. Apa hubungan mereka seburuk itu di masa lalu? Namun, setelah apa yang terjadi tadi, Natori-san benar-benar menyayangi Natsume sebagaimana seorang kakak pada adiknya"
Taki menghela nafas, pikirannya mencoba menerka-nerka. Gadis itu duduk, melihat pantulan dirinya dicermin.
Besok. Semua jawaban di benaknya akan terjawab.
Bahkan mungkin alasan utama Natsume selalu menutup dirinya selama ini. Membangun dinding pembatas hingga ia memilih untuk sendirian.
Cerita tentang Natsume-kun dan Natori-san.
Bersambung..
