Chapter 14 : Natsume dan Natori II

Takashi mulai masuk sekolah hari ini, aku diminta ayah untuk mengantar dan jemputnya karena memang letak sekolahnya cukup dekat dengan sekolahku. Aku tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali, tidak pula merasa direpotkan. Aku ingin berada disisi Takashi, setidaknya untuk mengurangi luka di hatinya.

Beberapa hari kemudian, Takashi menunjukan kertas ujiannya pada ayah. Ia mendapat nilai sempurna di lima mata pelajaran. Ayah sangat senang, pria itu mengusap kepala Takashi sambil tertawa lebar. Sesuatu yang belum pernah aku dapatkan. Sejak itu aku mulai merasa perlakuan ayah pada Takashi dibandingkan padaku sangat jauh berbeda.

Aku masih sabar. Waktu terus berlalu, Takashi terus membuat prestasi di sekolahnya. Dia peringkat pertama dan menunjukan kertas raportnya pada ayah. Lagi-lagi ayah memujinya, mengusap lembut kepalanya. Saat itu aku hanya mendapat peringkat empat. Ayah sangat marah,

"Kau ini memang tidak berguna!" itulah yang ia ucapkan.

Aku sangat kesal, aku melihat Takashi datang menghampiriku, menunjukan raportnya juga padaku. Seakan meminta agar aku juga memujinya seperti ayah. Entah kenapa saat itu aku merasa muak pada Takashi

"Maaf Takashi, aku harus mengerjakan PR" sahutku dan berjalan menjauh.

Di sekolah, temanku mengajakku untuk bergabung bersama klub drama yang kekurangan anggota. Aku pun setuju, karena memang aku tak masuk ke klub apapun. Aku cukup bersinar disana, banyak yang menyukai aktingku. Aku juga mengikuti berbagai perlombaan, dan hampir semuanya kumenangkan. Saat itu aku senang, akhirnya menemukan sesuatu yang bisa aku lakukan dengan baik. Bakatku cocok disini.

Aku menunjukan sertifikat kemenanganku pada ayah. Dengan senyum lebar dan mata berbinar. Namun, tatapan itu masih sama. Ayah sama sekali tidak senang. Baginya, seni hanyalah sebuah pekerjaan yang membuang-buang waktu. Bukan pujian yang kudapat, melainkan makian dan omelan.

"Belajar dengan benar! Untuk apa kau ikut drama. Buang-buang waktu saja. Lebih baik kau belajar dan perbaiki nilai-nilaimu. Seni itu tidak berguna untuk kehidupan!" bentaknya.

Saat itu aku hanya bisa diam. Dengan tangan terkepal dan emosi tertahan. Padahal aku hanya ingin membuatnya senang dan bangga. Tapi kenapa rasanya sulit sekali. Aku tidak merasa semua yang kulakukan salah. Aku tidak pernah berhenti berusaha. Tidak pernah sekalipun! Tapi ayah tetap tak pernah mengakuiku.

Semilir angin sore dengan gemerisik dedaunan tertiup angin. Langit senja sudah terlihat sejak beberapa menit lalu. Matahari tertutup gumpalan awan berarak. Namun, aku masih disini. Ditepi sungai, dibawah pohon maple besar yang teduh. Tempat yang biasa aku datangi saat sedang jenuh.

Ketenangan. Satu-satunya yang kubutuhkan disaat perasaanku bercampur aduk seperti ini. Andai ibu ada disini, mungkinkah ia akan membelaku. Aku mengacak rambut, menatap kosong aliran air sungai didepan sana.

"Apa lagi yang harus aku lakukan agar dia mengakuiku?" aku bergumam.

Suara langkah kaki mendekat. Aku menoleh, mataku menangkap sosok pemuda berambut hitam sebahu dengan almamater sekolah berwarna hitam.

Pria itu tersenyum, senyum yang menyebalkan. "Are, bukankah ini tuan muda klan Natori" godanya membuatku mendengus kesal.

Aku menaikan alis, "Lalu apa yang dilakukan tuan muda klan Matoba ditempat seperti ini" ketusku tak mau kalah.

Pria itu tertawa. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya Shuuichi–san, ini jalan pintas ku pergi dan pulang sekolah. Aku sering lewat sini" ujarnya kemudian duduk disampingku membuatku tambah kesal. Seharusnya dia lekas-lekas pergi saja.

Matoba Seiji. Remaja SMA tahun pertama yang merupakan pewaris utama klan Matoba. Salah satu klan terbesar di Jepang. Aku sering bertemu dengannya saat pertemuan keluarga. Keluarga Natori dan Matoba memang sering melakukan kerja sama bisnis. Aku tak pernah akur dengannya, menurutku dia menyebalkan. Semua ucapannya terasa seperti sebuah cibiran ditelingaku. Walau mungkin memang seperti itulah cara dia berbicara.

"Kenapa kau duduk disini? aku sedang ingin sendiri" ketusku membuatnya lagi-lagi mengeluarkan tawa menyebalkan itu.

"Shuuichi–san sedang punya masalah?" tanyanya.

"Bukan urusanmu!"

"Apa tentang anak laki-laki yang diadopsi kepala klan?" tanyanya lagi namun kali ini cukup membuatku menoleh.

"Darimana kau tahu?!"

Seiji mengedikan bahu, "Sepertinya kepala klan cukup menyukai anak itu. Dia sering membicarakannya dengan kepala keluarga lain" sahutnya membuatku mengepalkan tangan. Begitu sayangnya ayah pada Takashi. "Pertemuan keluarga minggu depan kau ikut Shuuichi–san?"

"Pertemuan keluarga? Tahun ini diadakan?"

Seiji menautkan alis, menyorotku dengan wajah bingung. "Eh aneh. Kau tak tahu? Tanggalnya sudah diumumkan dua minggu lalu. Pertemuan kali ini akan membahas kandidat kepala keluarga selanjutnya. Aku dengar kepala klan Natori akan membawa anak adopsinya"

Mataku melebar. Dadaku terasa sesak, "Tidak ada yang memberitahuku" aku bergumam.

Pria bersurai hitam itu tersenyum miring. "Wah wah, apa jangan-jangan ayahmu ingin menjadikan anak itu sebagai calon kepala keluarga. Gawat buka-"

Tanpa sadar aku mendorong bahu Seiji. Aku tak ingin mendengar semua ini lebih banyak. Apa ayah begitu menganggapku tidak berguna sehingga tak diberitahu masalah sebesar ini? Apa ayah sungguh ingin menjadikan Takashi sebagai kepala keluarga selanjutnya walau dia bukan darah Natori? Tidak mungkin! Akulah yang seharusnya menjadi kepala keluarga. Aku putera klan Natori!

"Kau tahu Shuuichi–san, jika kau tak bertindak. Anak itu akan merebut segalanya darimu" ujar Seiji. "Aku dengar dia punya bakat. Aku yakin ayahmu mengincar hal itu."

"Kasihan sekali" gumam Seiji membuat Natori menggigit bibirnya. Seiji berjalan pergi. Menghilang bersama tenggelamnya matahari senja.

Pertemuan kepala keluarga itu adalah sesuatu yang sangat penting bagi kami putera pewaris keluarga. Disanalah para calon penerus akan ditentukan. Setiap tahunnya, aku selalu datang bersama ayah kesana. Walaupun nampak tak suka, ayah tetap mengajakku pergi kesana. Namun kali ini berbeda. Ayah sama sekali tak memberitahuku, ditambah lagi ayah justru akan membawa Takashi kesana.

Emosiku memuncak, aku membuka kasar pintu rumah. Membuat ayah dan Takashi yang sedang menonton TV terusik dan menoleh.

"Yak kau pelan-pelan!"

"Ayah!" aku berjalan menghampiri ayah, "Minggu depan ada pertemuan keluarga membahas tentang kandidat kepala keluarga. Kenapa ayah tidak memberitahuku?"

"Untuk apa kau tahu?" balas ayah dengan ketus membuat emosiku semakin meluap.

"Jadi aku tak perlu tahu, tapi Takashi justru akan kau ajak pergi" sahutku membuat ayah melebarkan matanya. Pria berumur hampir lima puluh itu mengalihkan pandangan, membuatku tersenyum miris. Keheningan yang menjawab segalanya. Aku menghela nafas, berusaha menahan gejolak dalam kepalaku.

"Tak kusangka aku akan dikalahkan orang asing yang bahkan bukan dari keluarga kita" sahutku lirih namun ayah pasti mendengarnya. "Benar juga. Kau pasti membenciku karena ibu meninggal saat melahirkanku"

"Shuuichi!" bentak ayah.

"Sudahlah" sela ku. "Aku sudah lelah. Semua yang aku lakukan hanya untuk demi membanggakanmu tidak ada artinya. Sejak aku lahir kau bahkan mungkin sudah menaruh dendam padaku. Mulai sekarang, aku akan hidup sesuai kemauanku sendiri. Aku tak peduli jika kau tak menjadikanku sebagai pewaris. Takashi lebih baik dariku, itu kan menurutmu" sahutku, mataku terbelalak saat tamparan kuat menghantam pipi kananku.

Ayah menatapku tajam. Aku mendongak, balas menatapnya. Benar. Aku tidak salah. Aku sudah berusaha. Hati ayah yang sekeras batu itu, hanya Takashi yang bisa melelehkannya. Aku tidak tahu kenapa, entah kenapa sekarang aku membenci Takashi. Lebih dari apapun. Anak itu merebut segalanya dariku. Sejak awal hidupku sudah berat, namun kehadirannya justru memperburuk segalanya.

Aku berjalan ke kamarku. Atmosfir rumah memanas. Pelayan rumah yang melihat kejadian itu pun hanya bisa mematung. Baru kali ini aku melawan ayah. Aku kesal. Namun entah kenapa hatiku terasa lega.

Pukul delapan malam. Aku tidak ikut makan malam bersama di meja makan dan lebih memilih mengurung diri dikamar. Duduk di kursi meja belajar sambil membaca naskah drama yang akan kami bawakan untuk festival sekolah ternyata cukup mampu mengalihkan pikiran kacauku akibat kejadian sore tadi.

Terdengar suara gagang pintu yang diputar disertai dencitan pintu yang dibuka. Aku menoleh. Takashi berdiri disana, ia menatapku polos dengan manik mata cokelatnya sambil membawa nampan berisi sup dan nasi putih. "Shuuichi–san, ini makanan untukmu"

Aku mendengus. Wajah polos yang amat aku benci. Bagiku sekarang dia hanyalah monster kecil yang menambah beban di pundakku. "Aku tidak butuh" ketusku.

Matanya melebar, "Tapi jika ni–san l tidak makan, ni–san bisa sakit"

"Aku sudah sakit Takashi!" bentakku. "Hatiku sakit. Perih. Seperti tercabik-cabik karena ayah tak pernah mengakuiku. Dan sekarang kau muncul. Menambah beban ku membuatku hampir gila" sambungku.

Tangan Takashi gemetar, ia mundur satu langkah ke belakang. "A-apa Shuuichi–san membenciku?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Ya.." jawabku cepat. Takashi tercekat, iris matanya bergetar. "Aku sangat membencimu. Kau hanya pembawa bencana" sambungku. Aku sudah tidak peduli. Semua yang menimpaku terasa lebih sakit saat kedatangannya. Aku membencinya. Aku ingin anak itu segera lenyap saja ditelan bumi.

Takashi menaruh nampan di atas tempat tidur, bibirnya getir. "G-gomenasai" ujarnya sambil menunduk tak berani menatapku dan berlari pergi keluar kamar.

Cih. Dia pasti akan melapor pada ayah, dan aku akan menerima hukuman berat dari pria tua itu. Aku sudah tidak peduli dengan keluarga ini. Jika ayah mengusirku pun aku akan pergi dengan senang hati.

Pagi harinya. Sarapan kali ini cukup tenang, ayah tidak menyinggung sedikitpun tentang malam tadi. Ia hanya diam seribu bahasa sambil membaca koran pagi. "Shuuichi, hari ini aku akan lebur dikantor, kau jemput Takashi, mengerti?" ujarnya tanpa mengalihkan pandangan.

Aku mendecih, Takashi yang menyadari itu hanya bisa menunduk. Pergi mengantar lalu menjemput pula, lagipula dia sudah kelas lima SD, setidaknya seharusnya dia bisa naik kereta sendiri.

Usai sarapan aku dan Takashi berangkat. Aku berjalan didepan mendahuluinya, kakiku yang lebih lebar darinya membuat ia bersusah payah mengikutiku. Kami tiba disekolah Takashi, anak itu membungkuk dan mengucapkan terima kasih lalu pergi. Aku menghela nafas, dan melanjutkan langkah menuju sekolahku.

Hari ini aku menghabiskan waktu pada kegiatan klub. Festival budaya sebentar lagi, kami pun giat berlatih untuk pementasan nanti. Aku mendapat peran utama menjadi seorang pangeran. Yah, kegiatan seperti ini ternyata cukup menyenangkan. Lumayan untuk melepas sedikit bebanku.

"Terima kasih atas kerja kerasnya" teriak ketua klub.

Aku meraih ranselku dan bersiap pulang. Aku melirik kearah jendela. Hujan deras dan aku lupa membawa payung.

"Shuuichi–kun, kau juga terjebak hujan? Ayo makan ayam goreng bersama" ujar ketua klub dan aku mengangguk.

Bersama anggota klub yang masih bertahan di aula, kami asyik mengobrol sambil makan ayam goreng dan segelas soda. Aku bersyukur ikut klub drama. Aku punya banyak teman baik disini.

"Ah menyenangkan sekali, tak terasa sudah hampir gelap ya"

Aku tercekat dan sontak beranjak dari duduk. Membuat semua orang disitu memperhatikanku seketika. Aku melirik jam tangan, sudah pukul setengah delapan. Aku lupa menjemput Takashi. Takashi seharusnya sudah keluar enam jam lalu. Aku sama sekali lupa! Biasanya ayah yang menjemputnya, aku lupa ayah memintaku menggantikannya pagi tadi.

"Aku harus pulang"

Aku segera meraih ranselku dan berlari keluar pintu depan. Hujan masih mengguyur dengan lebatnya, disertai gemuruh di langit mendung. Aku menaruh tas ku diatas kepala dan berlari menerobos hujan. Bodohnya aku sampai melupakan Takashi. Lima belas menit, aku tiba SD Takashi. Gerbang luarnya gelap dan sunyi. Aku mengedarkan pandangan, dan mendapati anak yang kucari sedang duduk memeluk lutut dibawah pohon maple kecil.

Aku melangkah menghampirinya, anak itu gemetaran, aku bisa melihat bibirnya menggigil dari samping. Seragamnya sudah basah kuyup. "Takashi" teriakku, Takashi menoleh dan menyorotku. Matanya melebar, bibirnya tersenyum seketika.

"Shuuichi–san" gumamnya.

"Maaf, aku lupa menjemputmu"

Ujung bibir tipisnya terangkat, "Tidak.. Shuuichi–san tidak lupa. Buktinya kau datang sekarang" ujarnya.

Aku membencinya. Dia mengambil semuanya dariku, tapi kenapa aku merasa begitu bersalah. Aku membungkuk, meraih tangan ringkih itu, "Ayo pu–" kalimatku tercekat saat merasakan tangannya yang terasa panas. Aku menoleh dan menatap wajah Takashi. Wajahnya memerah, bibirnya pucat pasi dan matanya sayu.

Takashi berdiri dan perlahan memakai ranselnya. "Ayo Shuuichi–san" ajaknya. Sedangkan aku masih mematung.

"Takashi, kau demam tinggi. Maafkan aku"

"Daijobu! Aku memang selalu sakit hanya karena setetes hujan. Aku sudah biasa" hiburnya justru membuatku tambah cemas.

Aku membungkuk, "Naiklah"

Takashi menautkan alisnya bingung kemudian perlahan naik ke punggungku.

Takashi demam tinggi selama tiga hari, ayah tidak menyalahkanku, artinya Takashi masih belum memberitahu ayah kejadian aku yang lupa menjemputnya tiga hari lalu. Anak aneh. Jika dia memang membenciku seharusnya laporkan saja kejadian itu pada ayah. Aku bahkan tidak peduli.

Flashback off

"Aku tak bermaksud menyinggungmu, tapi aku rasa kau cukup jahat juga ya Natori–san"

Natori tertawa mendengar ucapan Tanuma, ia menghela nafas. "Saat itu aku masih muda, aku cukup rentan depresi. Aku memang bersalah menyalahkan semuanya pada Natsume. Saat itu, aku pikir Natsume hanya anak yang hanya bisa membawa bencana bagi semua orang. Pemikiran itulah yang membuatku melukai Natsume begitu dalam"

Iris Taki dan Tanuma melebar. Air wajah Natori berubah. "Hari itu mungkin merupakan hari yang paling menyakitkan bagi Natsume"

Flashback on

Mata terasa berat. Sudah dua jam aku sibuk membaca naskah drama untuk perlombaan bulan depan. Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Aku meletakan naskah diatas meja belajarku. Beranjak dan melangkah keluar kamar berniat membuat segelas kopi di dapur.

"Benar, setidaknya aku ingin menolong Takashi seperti ayahnya menolongku dulu"

Langkahku terhenti, lampu di ruang tengah masih menyala. Aku mendengar suara ayah dari sini. Mereka membicarakan tentang Takashi. Aku yang penasaran mendekat kearah pintu ruang tengah, menggeser sedikit pintu hingga meninggalkan celah sempit. Ayah duduk di sofa sambil menyesap teh bersama Takuma–san, asisten dikantornya.

"Jadi ayah Takashi meninggal di penjara? Apa dia seorang kriminal?"

Mataku melebar. Apa maksudnya itu?

Ayah terlihat menggeleng, "Natsume orang yang baik, dia baik hati. Saat itu ada seorang perampok yang ingin mencuri sejumlah uang jutaan yen yang dibawa Natsume. Uang itu rencananya akan ia pakai untuk menebus hutangnya. Nampaknya perampok itu sempat mengancam dengan hampir menyakiti Takashi, saat itulah Natsume lepas kendali dan tanpa sengaja membunuh perampok itu."

Takuma–san terlihat tercekat. "Tapi kenapa dia bisa sampai masuk penjara?"

"Orang yang mau bersaksi tidak banyak. Semua orang yang sebenarnya melihat kejadian itu tidak mau terlibat. Uang yang ia punya juga tidak banyak untuk menyewa pengacara handal. Akhirnya dia tetap dihukum dan dipenjara"

Aku menutup mulut dan perlahan menggeser pintu ruang tengah kembali. Aku melangkah ke dapur, melirik sekilas kamar Takashi.

"Sebagaimanapun sulitnya hidupmu. Aku tetap membencimu karena merebut segalanya dariku"

Keesokan malamnya. Saat aku baru pulang dari aula teater, teriakan Takashi terdengar saat aku baru saja membuka pintu rumah. Suara itu berasal dari dapur. Aku melangkah cepat. Nafasku seketika tertahan saat melihat ayah sudah terbaring tak sadarkan diri di lantai.

"Apa yang terjadi?!" tanyaku ikut panik.

"T-tidak tahu, tadi aku memasak kue yang aku pelajari dari ibu guru dan menawarkannya ke tuan Natori. Setelah memakannya dia langsung tak sadarkan diri" ujarnya dengan tubuh gemetaran.

Aku meraih potongan kue yang berserak di lantai. "Kau memakai kacang?"

Takashi mengangguk.

"Ayah alergi kacang!" bentakku emosi. Takashi tercekat, mata anak itu berair.

"G-gomenasai" lirihnya.

Aku bergegas meraih ponsel dan menghubungi ambulan. Usai ambulan datang, ayah segera dibawa ke rumah sakit terdekat dan ditangani. Aku dan Takashi menunggu di ruang tunggu. Dengan perasaan takut dan resah. Aku memang membenci ayah, tapi bagaimanapun dia juga ayahku.

"Shuuichi–san, ma-maafkan aku" lirihnya.

Tapi sekarang aku lebih membenci anak ini. Emosiku meluap, membuatku merasa ingin segera berteriak. "Ini semua salahmu!" ketusku. Membuat mata Takashi membulat.

Aku berdiri dihadapan anak itu. Menatap tajam manik cokelatnya. "Kau tahu tidak betapa memuakkannya kau ini! Semenjak kedatanganmu, hidupku yang sudah sulit semakin sulit. Membuatku ingin gila!"

"Ni–san"

"Ni–san Ni–san berisik! Aku bukan kakakmu! Aku bahkan tak sudi punya adik sepertimu" bentakku membuat Takashi menunduk dalam. "Takashi, apa kau tak sadar bahwa kau itu adalah sumber bencana?"

Air mata Takashi menetes, anak lelaki itu terhisak kecil. "Aku bukan-"

"Kau iya!" selaku membuat Takashi tercekat. "Kau merebut segalanya dariku, mengambil hak yang seharusnya aku dapat dari ayah, dan sekarang kau bahkan menyakiti ayah. Apa kau mau membuat keluarga hancur Takashi?!"

"T-tidak aku tidak bermaksud-" Takashi mengusap air matanya. Ia masih terhisak, bahu kecilnya bergetar seiring suara deru nafasnya.

"Kau benar-benar monster!" pekikku, "Pantas saja ayahmu mati dipenjara juga gara-gara kau

Iris cokelat Takashi menyempit, isakannya terhenti. Jantungnya seperti diremas kuat. "Ayah.." lirihnya dengan air mata mengalir dan jatuh di lantai licin.

"Karena kau memang membawa sial bagi semua orang. Orang sepertimu tak pantas berada di sisi kami! Tidak pantas" bentakku lagi dengan nafas terhingal. Tanpa sadar aku mengeluarkan semuanya. Semua perasaan yang aku pendam. Menguras keresahan dihati. Melampiaskannya pada anak laki-laki didepanku ini.

Takashi mematung. Air matanya sudah tak mengalir, namun ekspresinya terlihat begitu depresi. Matanya melebar, mulutnya mengaga kecil. Pandangannya kosong.

"Taka-"

Takashi melangkah dan berlari menjauh. "Takashi!" teriakku. Namun langkah anak itu tidak terhenti. Ia tetap berlari, punggungnya menghilang dibalik belokan lorong. Aku ingin menyusul, namun langkahku terhenti saat dokter memintaku masuk untuk bertemu ayah.

Aku melangkah memasuki ruangan, ayah sudah sadar. Ia duduk di ranjang dan menatapku dengan tatapan miris, matanya redup. Bibirnya getir. "Apa yang kau ucapkan pada Takashi?" tanyanya.

Aku mengepalkan tangan. Dia mendengar semuanya. Dan sekarang nampaknya dia justru ingin membela Takashi dibanding anaknya sendiri. "Aku hanya membeberkan kebenarannya, aku sama sekali tidak salah"

"Baka!" teriak ayah, matanya memerah.

"Apa?!" sahutku. "aku hanya khawatir padamu.. Kenapa aku selalu disalahkan? Kau sakit seperti ini gara-gara dia, Aku hanya-"

"Kau salah paham Shuuichi!" sela ayah membuat mataku melebar. Aku menggigir bibir. Salah paham? Atas semua yang ia lakukan padaku?

"Aku sudah sakit sejak lama. Sakit parah. Ini bukan salah Takashi"

Aku tercekat.

"Aku sama sekali tak bermaksud menjadikannya kepala keluarga, atau terus berpihak padanya. Kau tetap puteraku, kau yang akan mewarisiku. Saat kau marah karena aku akan mengajak Takashi ke pertemuan keluarga. Aku bukan bermaksud menjadikannya ahli warisku. Aku tahu mungkin aku bisa mati kapan saja. Jadi aku ingin setidaknya menitipkan Takashi sementara kepada mereka saat itu tiba karena kau mungkin akan sibuk dalam pendidikanmu"

Tunggu. Selama ini ayah memperhatikanku?

"Aku sudah berjanji pada ayah Takashi untuk merawat puteranya. Ayah Takashi adalah sahabat baikku. Tapi... Kenapa kau mengatakan semua itu padanya? Kenapa kau membeberkan semua itu..?"

Mataku menyorot ayah, "Membeberkan apa maksud ayah?"

"Takashi tak pernah tahu ayahnya dipenjara!"

Wajahku terasa ditampar oleh kenyataan mengejutkan, semua kalimat menyakitkan yang ku lemparkan dengan jahatnya pada Takashi terputar kembali di kepalaku. Menggema membuat kepalaku sakit.

"Semua kerabat menyembunyikan semuanya. Takashi hanya tahu ayahnya meninggal karena pekerjaan saat perjalanan bisnis. Takashi melihat semua kejadian mengerikan saat ayah membunuh perampok yang hampir menyakitinya. Jika Takashi sampai tahu ayahnya meninggal dipenjara demi menolong dirinya..."

Aku tersungkur dilantai, tubuhku lemas. Begitu juga dengan ayah, pria tua yang bijaksana itu bahkan meneteskan air matanya.

"Takashi mungkin tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri seumur hidupnya!"

Kini anak itu tahu segalanya. Semua tentang kematian ayahnya yang sebenarnya. Kematian ayahnya karena dirinya. Perkataan Shuuichi menggema di kepalanya, seperti nyanyian menyakitkan yang mampu menyayat dalam hatinya.

Anak itu berlari di bawah sinar bulan. Tanpa arah. Tanpa tujuan. Hanya ingin menjauh, pergi dari semua orang sebelum menyakiti mereka lebih dalam. Ia hanya pembawa bencana. Bibir tipisnya bergetar, nafasnya terhingal-hingal.

Anak itu berteriak-teriak. Meneriakan nama 'ayah'. Namun orang yang ia panggil tak juga datang. Sudah lenyap. Dan yang membuat orang itu lenyap adalah dirinya.

Chapter Natsume dan Natori End

Bersambung..