Sinar matahari pagi mulai memaksa masuk ke celah jendela kamar sepasang suami-istri yang masih nyenyak dalam mimpinya. Dengan posisi saling berhadapan namun tidak saling memeluk. Hanya berhadapan saja.
Dan yang pertama kali membuka matanya adalah sang istri. Wanita bernama Hyungseob itu membuka matanya perlahan, lalu memfokuskan pandangannya ketika cahaya itu terkumpul dan ia sudah sadar dari tidurnya.
Hyungseob melirik sosok pria yang merupakan suaminya di hadapannya. Suaminya masih pulas dalam tidurnya dan wajahnya sangat damai, hal ini merupakan pemandangan setiap hari sang istri yang entah kenapa sudah biasa dan tak ada hal manis setiap paginya.
Hyungseob langsung bangun dari kasurnya dan bergegas mandi untuk bekerja di kantornya.
10 menit setelah mandi dan berganti baju, Hyungseob keluar dari kamar mandi dan menemukan sosok suaminya yang sudah terbangun namun masih terduduk di kasur. Kemudian mereka saling melempar tatapan.
"Akhirnya kau bangun juga, Woojin-ssi. Selamat pagi," ujar Hyungseob lalu tersenyum tipis, kemudian ia duduk di meja rias untuk memberikan sedikit sentuhan pada wajahnya.
Sementara Woojin masih memandangi istrinya yang sangat cantik dengan balutan kemeja putih yang ditutupi blazer dan rok hitam mini, menampakkan kaki jenjangnya yang mulus. Yang akan di tutupi oleh stocking berwarna kulit―Woojin bahkan sampai hapal dengan hal kecil seperti ini.
Lalu lekukan badan sang istri yang terlihat jelas juga bokong berisi yang terlihat karena rok mini yang digunakan mencetak bentuk badannya dengan jelas―
Woojin menggigit bibir bawah tanpa ia sadari sampai akhirnya Hyungseob mengeluarkan suara lagi, "kamu gak mandi? Apa gak ada kegiatan di kantor?" Tanya sang istri, masih fokus pada pantulan dirinya di cermin meja rias.
"O-oh iya, aku mandi," Woojin buru-buru mengambil pakaian kerjanya lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit akhirnya Woojin keluar kamar mandi dengan mengenakan kemeja putih dan celana hitam juga rambutnya yang sudah ia styling sendiri hingga ia terlihat cukup tampan untuk bekerja hari ini.
Pria itu keluar dari kamarnya dan menemukan sosok wanita yang sudah duduk di meja makan dan menatapnya dalam diam.
"Lama sekali. Kamu gak ngapa-ngapain kan di dalam kamar mandi, Woojin-ssi?"
Woojin duduk di depan Hyungseob lalu terkekeh, "mandiku kan memang lama. Dan aku gak melakukan apapun, Hyungseob-ssi."
Dan untuk yang kesekian kalinya, Woojin berbohong.
Di kamar mandi tadi, Woojin menyempatkan diri untuk mencari kepuasannya sendiri dengan menyentuh miliknya yang menegang setelah melihat sosok Hyungseob yang sangat cantik untuk yang kesekian kalinya.
Hyungseob mau tak mau mengangguk mendengar ucapan Woojin.
"Tunggu sebentar. Woojin-ssi, berdiri dulu," Woojin berdiri mengikuti perintah sang istri, "aku akan memakaikan dasimu."
Hyungseob meraih dasi biru bergaris milik Woojin yang sudah ia siapkan sebelumnya lalu memakaikannya pada Woojin. Sementara sang pria terdiam, berusaha menahan dirinya agar wajahnya tidak memerah dihadapan sang istri.
Dan terkutuklah Park Woojin serta pikiran kotornya, yang memikirkan hal jorok ketika Hyungseob berada di dekatnya. Terlebih melihat leher mulus sang wanita, dan kemeja yang kancingnya terbuka satu. Woojin juga tak sengaja―atau memang salah fokus―melihat kemeja yang sedikit terbuka dan dada Hyungseob yang besar tertutupi kemeja yang bentuknya tercetak jelas―
"Sudah selesai! Ayo makan, Woojin-ssi!"
Pekikan girang sang istri berhasil menyelamatkan dirinya dari pikiran kotor. Manik hitamnya melirik sang istri yang sudah tersenyum lebar, sementara jantungnya berdebar semakin kacau melihat istrinya yang sangat imut seperti itu.
Selama sarapan berlangsung, tak ada satupun diantara mereka yang mengeluarkan suara. Mereka hanya akan mengeluarkan suara seperti tadi, sisanya tak ada hal lain yang bisa dibicarakan.
Woojin melirik Hyungseob yang tengah mengunyah makanan dalam diam lalu sang pria kembali fokus pada makanannya sendiri.
"Terima kasih makanannya," Ucap Hyungseob setelah makanannya habis; disertai cengiran lebar, "hari ini makanannya enak sekali!"
Diam-diam pria bermarga Park tersenyum tipis melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan.
Namun ada hal lain yang harus ia lakukan hari ini.
Tangannya terkepal di meja makan, kemudian ia menatap sang istri yang masih fokus dengan hal lain.
Kali ini ia tidak boleh gagal.
"Hyungseo―"
Drrrrt. Drrrrt.
Getaran dari handphone milik Hyungseob mengalihkan perhatian mereka berdua. Sang pemilik handphone langsung meraih benda itu dan menempelkannya pada kupingnya.
"Halo? Ooooh, udah sampai ya kak? Oke oke aku kesana! Tunggu― ya! Jangan ditinggal dong, kak Ong! Tungguiiin! Daaah~"
Piiip. Sambungan pun terputus, menyisakan keheningan diantara Woojin dan Hyungseob.
Mungkin hanya Woojin, karena Hyungseob buru-buru mengemas barangnya kedalam tas dan akhirnya beranjak dari kursinya.
"Woojin-ssi, tadi mau ngomong apa?" Ternyata Hyungseob mendengarnya memanggil namanya tadi.
Woojin buru-buru menggeleng lalu tersenyum tipis, begitu juga Hyungseob, "aku udah di jemput kak Ong di dekat gang rumah. Pamit dulu ya, selamat pagi!"
Setelahnya, Hyungseob benar-benar pergi meninggalkan suaminya yang masih menatap kepergiannya dan tersenyum miris.
"Lagi-lagi aku gagal mengajaknya berangkat bersama, huh?"
Ini adalah yang ke 101 kalinya ia gagal mengajak istri cantiknya untuk pergi ke kantor bersama, dan selalu seperti ini.
Woojin bisa apa kalau Hyungseob hanya melihatnya sebagai orang asing yang berstatus sebagai suaminya?
・
・
・
"Makasih udah nganterin aku ya, kak Ong!"
"Ya sudah cepat kamu masuk, nanti malah telat terus aku yang disalahin dan di pukulin."
"Hehehe, enggak kok kak! Kali ini gak telat!" Hyungseob tersenyum lebar kearah pria yang berada di kursi kemudi mobil yang ia tumpangi saat ini. Pipi sang wanita memerah begitu merasakan tangan pria bernama Seongwoo ini mengelus puncak kepalanya.
"Semangat ya, Seob! Kalau ada sesuatu, jangan ragu buat nelpon kakak ya?"
Gawat gawat gawat gawat.
"U-udah dulu ya kak, nanti jangan lupa jemput!" Buru-buru Hyungseob keluar dari mobil Seongwoo dengan wajah yang memanas bahkan jantungnya tak bisa ia kendalikan karena berdegup sangat amat kencang.
Bahaya sekali Hyungseob berada di dekat cinta pertamanya yang sudah ia taksir sejak masih berumur 5 tahun ini. Padahal sudah lama sekali ia mencintai pria bermarga Ong ini, tapi jantungnya tetap berdebar tak karuan jika berada di dekatnya.
Perlu di jelaskan, Ong Seongwoo adalah teman semasa kecil Hyungseob―merupakan tetangganya sejak kecil dan merangkap menjadi cinta pertama sang wanita hingga sekarang di umurnya yang sudah menginjak 23. Mereka berbeda 6 tahun dan sekarang Seongwoo sudah mendapat jabatan yang bagus di perusahaan tempatnya bekerja.
Seongwoo itu sudah seperti sosok kakak bagi Hyungseob karena selalu membantunya disaat kesusahan, terlebih disaat kedua orang tuanya masih ada.
Apakah aku pernah bercerita bahwa Hyungseob adalah anak yatim piatu?
Sebenarnya Hyungseob bukan anak yatim piatu sejak kecil. Ia masih bersama dengan ayahnya sampai umur 8 tahun, dan bersama ibunya sampai umur 23 tahun.
Ayahnya adalah seorang dokter besar di suatu rumah sakit ternama di Korea, dan beliau meninggal karena kecelakaan yang menimpanya.
Kemudian ibunya adalah pemilik kedai ramen yang tangguh karena beliau tak berniat untuk menikah lagi dengan pria lain setelah suaminya meninggal dunia. Rasa cintanya terhadap mendiang suaminya membuatnya bertahan dan kegigihannya mampu membesarkan Hyungseob, anak semata wayangnya, walau pada akhirnya beliau meninggalkan Hyungseob karena penyakit TBC yang sudah di idap sejak lama.
Kembali lagi ke Hyungseob. Saat ini ia berjalan memasuki gedung kantor dan ia juga sempat bertemu dengan rekan kantornya.
"Jihoon!" Pekik Hyungseob melihat sosok wanita bersurai cokelat bergelombang dengan pipi chubby dan tinggi badan yang pe―oke mari kita abaikan bagian yang itu.
Lalu wanita itu berbalik dan membalas panggilan Hyungseob dengan senyuman, "Seob! Aku nungguin daritadi!" Ujarnya.
"Nungguin buat apa, Hoon? Gak kayak biasanya," balas Hyungseob kemudian mendekat kearah wanita bernama Jihoon yang sudah bersama dengan Gunhee dan Daehwi―oh! Ada Taedong dan Donghyun juga.
"Gak apa-apa sih, nungguin aja. Hehe," Hyungseob memukul lengan Jihoon dan mengundang tawa serta pekikan dari sang pemilik lengan, "awww! Kenapa mukul aku, sih?!"
"Gak apa-apa sih, mukulin aja. Hehe."
Lalu mereka berdua saling melempar tatapan kesal, sementara teman-teman mereka yang lain hanya menatap mereka dengan berkacak pinggang.
"Kalian ini sudah tua malah makin seperti bocah, ya?" Gerutu Daehwi seraya mengerucutkan bibir.
"Memang begitu temanmu, Hwi. Biarin aja, nanti juga capek sendiri," itu Donghyun yang membalas dengan senyuman hangat bak pria idaman.
"Sudah tahu begitu masih aja di bahas," kalau yang ini Taedong yang membalas.
"Tapi sebenarnya ngapain sih kita disini? Kayak gak ada tempat lain buat ngumpul aja," ini Gunhee yang berbicara sambil merapihkan poninya yang kurang rapih. Wanita ini juga sempat bercermin dulu dengan kaca kecil miliknya.
Jihoon melirik teman-temannya yang lain lalu menyengir lebar, "gak apa-apa kali! Emangnya kalian mau langsung ke ruangan dan langsung ngerjain kertas-kertas di meja? Ini masih pagi, bung! Mending refreshing du―"
"Iya iya, Hoon. Kami tahu kamu disini buat nungguin Baejin dari divisi lain kan?"
Ucapan Taedong langsung membuat wajah Jihoon memerah, sementara Hyungseob tertawa lebar melihat Jihoon yang tak bisa melawan lagi.
"H-hoi! Kepala Direktur datang!"
Tiba-tiba suara langkah kaki dari sepatu pantofel terdengar jelas dari arah masuk ke gedung, membuat semua perhatian tertuju pada sosok pria dengan kemeja dan jas rapih juga berwibawa itu.
Awalnya Hyungseob sempat diam dulu sebelum menoleh kearah direkturnya yang berjalan melewati mereka dan sempat beradu pandang sesaat.
Setelahnya barulah Hyungseob membungkukan badannya dan ia bersama rekannya yang lain mengucapkan salam kepada direkturnya.
"Selamat pagi, pak Woojin!"
Pria yang bernama Woojin itu mengangguk sekilas sebelum melirik Hyungseob―istrinya― dan pergi meninggalkan pegawainya yang membungkuk dihadapannya.
Ah, apakah aku pernah bilang kalau direktur dari perusahaan tempat Hyungseob bekerja adalah suaminya sendiri, Park Woojin?
・
・
・
Mungkin ada yang penasaran bagaimana bisa Hyungseob dan Woojin menikah tanpa adanya perasaan satu sama lain.
Sebelumnya aku pernah menceritakan kalau ibu Hyungseob meninggal dunia baru-baru ini, bukan begitu?
Setelah ibunda Hyungseob meninggal dunia, seorang Park Woojin datang ke rumahnya dan mengaku sebagai anak dari rekan ayahnya Hyungseob. Ia juga bersedia membantu Hyungseob membayar hutang yang ada karena meninggalnya sang ibunda dengan syarat yang simpel namun cukup memberatkan.
Yaitu menikah dengannya.
Sebelumnya Hyungseob sendiri tahu Woojin, bahkan sebelum Woojin mendatanginya disaat berduka begini. Karena Woojin merupakan direktur dari perusahaan tempatnya bekerja dan mereka bertemu beberapa kali. Namun Hyungseob tidak menyangka bahwa direkturnya menawarkan bantuan―atau lebih tepatnya melamar dirinya!
Awalnya Hyungseob ragu dan tidak percaya sampai akhirnya Woojin mempertemukannya dengan kedua orang tuanya dan mereka sangat senang dengan sosok Hyungseob. Ayahanda Woojin juga berkata bahwa ia adalah sahabat dari ayah Hyungseob sejak lama dan menunjukkan bukti kedekatan mereka. Juga berkata bahwa apa yang diucapkan Woojin mengenai bantuan itu benar adanya.
"Ayahmu pernah meminta tolong padaku untuk membantumu dan ibumu jika sedang kesulitan. Tetapi kami malah tidak bisa menghubungimu sampai akhirnya Woojin berhasil menemukanmu, namun ibumu sudah tiada..."
"Jadi aku mohon terimalah permintaan Woojin, anakku, sebagai bantuan yang kami berikan untukmu dan kehidupanmu, nak Hyungseob."
Tentu saja Hyungseob tidak tega dengan orang tua Woojin yang terus memohon agar menerima bantuan dari anaknya. Karena itulah Hyungseob menyetujui lamaran tersebut.
Tetapi...
"Aku menerima lamaranmu, Woojin-ssi. Tetapi sepertinya aku akan sulit melihatmu sebagai 'suami'ku. Karena aku.."
"... Sudah mencintai orang lain."
Pernikahan mereka berlangsung secara diam-diam dan banyak orang yang tidak tahu tentang hal ini―termasuk Seongwoo yang tidak Hyungseob beritahu, karena hanya kakek nenek serta saudaranya yang diberitahu. Walau pernikahan ini sudah berjalan 4 bulan, tetapi Hyungseob masih belum memiliki perasaan apapun terhadap suaminya. Padahal Woojin sudah menyuruhnya untuk bersikap santai padanya, tetapi tetap saja Hyungseob masih menganggapnya sebagai orang yang menolongnya dari keterpurukan.
Dan sudah 3 bulan ini Woojin sering pulang malam dan terkadang tidur dengan wanita lain―atau kasarnya seks. Hyungseob tahu itu, namun ia tidak marah atau sebagainya. Menurutnya, terserah Woojin akan melakukan apa. Toh disini Hyungseob hanya orang asing yang berstatus sebagai 'istri' dari direkturnya, Park Woojin.
Padahal Hyungseob tidak tahu bahwa yang membuat Woojin bernafsu adalah karena dirinya. Karena Hyungseob.
Sepasang suami istri ini tidak pernah melakukan hubungan intim sejak awal. Walau begitu, Woojin tidak pernah memaksa sang istri untuk melakukannya karena ia tahu, sang istri pasti menjaga kehormatannya untuk orang yang ia cintai.
Oleh karena itu Woojin melampiaskannya pada orang lain. Selalu begitu, bahkan disaat melakukannya pun Woojin selalu membayangkan sosok Hyungseob yang ada dirumahnya.
Satu hal lain yang Hyungseob tidak tahu adalah, Woojin mencintainya. Dari awal pernikahan mereka hingga sekarang, dimana Hyungseob masih mengejar cinta pertamanya.
・
・
・
"Seob, kamu pulangnya gimana?"
Wanita bersurai hitam menoleh dan tersenyum ketika namanya terpanggil, "hm? Aku bareng kak Ong lah!" Ucapnya dengan semangat.
"Tapi.. Ini udah malem banget, lho? Kamu yakin kak Ong ngejemput selarut ini?"
Hyungseob melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 10:27 malam.
"Gak apa-apa! Aku nungguin aja!" Balas Hyungseob lalu menyengir lebar kearah Jihoon yang memandangnya khawatir, "atau enggak aku naik bus aja.." Gumamnya sangat kecil dan bahkan tak terdengar oleh wanita bermarga Park itu.
Awalnya Jihoon masih ragu meninggalkan Hyungseob sendirian, sampai akhirnya ia menatap Hyungseob lagi lalu tersenyum, "baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Hyungseob!" Lalu Jihoon pergi menuju ke mobilnya bersama dengan Bae Jinyoung, gebetannya dari divisi lain.
Hyungseob masih duduk di bangku taman kantornya sembari menggesekan kedua tangannya yang terasa dingin di malam hari. Ia lupa membawa jaket sehingga angin malam terasa sangat menusuk walau sudah menggunakan blazer tebal.
Dan bodohnya Hyungseob tidak men-cek handphonenya yang ada di tas sehingga lupa mengabari kakak kesayangannya.
"Astaga! Tuh kan!" Buru-buru Hyungseob mengambil handphone di tasnya dan membukanya. Sial amat sial karena handphonenya sebentar lagi akan mati karena baterainya sedikit dan hanya bisa membuka satu pesan saja.
Wanita itu langsung membuka pesan masuk dari Seongwoo dan membacanya cepat.
'Hyungseob! Maaf ya malam ini aku gak bisa menjemput, ada urusan kantor yang gak bisa di tunda! Maaf ya, apa kamu bisa pulang sendiri? Sekali lagi, aku minta maaf ya..'
Dan setelahnya, handphone Hyungseob benar-benar mati karena kehabisan baterai.
・
・
・
Woojin baru saja menyelesaikan pekerjaan terakhirnya dan turun dari ruangannya untuk pulang ke rumahnya. Sepertinya ia tak mau pergi ke tempat lain seperti biasanya karena terlalu lelah hari ini.
Ia membutuhkan istrinya. Ia membutuhkan Hyungseob yang bisa membuat energinya kembali walau hanya melihat batang hidungnya.
Manik hitamnya menemukan dua orang pegawainya yang tidak asing berada di parkiran mobil sedang berbincang cukup asyik, bahkan tidak menyadari kehadiran Woojin di dekatnya.
"O-oh, pak Woojin!" Jinyoung yang menyadari hal itu langsung membungkukan badannya, disusul oleh Jihoon di sampingnya.
Woojin tersenyum tipis lalu melirik Jihoon di samping Jinyoung, "baru pulang? Tidak bersama temanmu itu, Jihoon-ssi?" Tanyanya, bermaksud menanyakan Hyungseob lewat Jihoon.
Jihoon melirik Jinyoung terlebih dulu sebelum membalas pertanyaan direkturnya.
"Tadi kalau gak salah Hyungseob bilang akan dijemput kak Seongwoo, tapi sampai tadi kak Seongwoo belum datang juga menjemput Hyungseob.."
Mata Woojin melebar sedikit.
"Sekarang dia ada dimana?"
Jihoon menatap Woojin takut-takut, terlebih melihat kilatan di mata Woojin, "t-tadi saya lihat Hyungseob ada di taman kantor, pak.."
Tanpa mengucap apapun, Woojin langsung memasuki mobilnya dan membawanya ke taman kantor dengan cepat. Pikirannya tak bisa berhenti memikirkan istrinya yang duduk sendirian di taman sana.
Namun sial nasibnya, karena Hyungseob sudah tidak ada di taman kantornya.
"Sial!" Woojin memukul stir mobilnya dan semakin panik karena istrinya tidak bisa dihubungi karena handphonenya yang kehabisan baterai.
Pria itu menundukan kepalanya dan menempelkan dahinya pada stir mobilnya.
"Kamu kemana, Seobbie... Jangan membuat suamimu khawatir, bodoh!"
・
・
・
Akhirnya Hyungseob menaiki bus terakhir yang melewati perumahannya walau masih agak jauh dari rumahnya sehingga ia harus berjalan dulu untuk sampai ke rumahnya.
Sebelumnya ia tak pernah sampai menaiki bus untuk pulang di waktu begini. Kalau tidak dijemput Seongwoo, Hyungseob akan pulang bersama Jihoon, Gunhee, atau temannya yang lain dan akan meminta mereka menurunkannya di gang dekat rumahnya. Dan ia tidak pernah berjalan jauh kerumahnya begini.
Hyungseob juga semakin merasa takut melewati jalanan menuju rumahnya di waktu begini karena banyak terdengar kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh sekelompok geng yang sering berkumpul di dekat situ. Ia mendengarnya dari orang-orang di divisi kantornya dan hal itu semakin membuatnya merinding tak karuan.
"Ahn Hyungseob, bertahan. Jangan tengok ke belakang dan jalan lurus ke depan."
Hyungseob terus menggumamkan hal itu terus menerus dan mempercepat langkahnya menuju rumah.
Namun sayang, karena tiba-tiba satu suara mengusik konsentrasinya.
"Oi cewek, kok baru pulang jam segini?"
Gak, gak. Hyungseob harus mengabaikan suara itu.
Sang wanita langsung mempercepat langkahnya, tapi tetap saja tidak berhasil. Tangannya ditarik oleh salah satu dari 5 orang pria yang mendekat kearahnya.
"Kalau ditanya tuh jawab, pecun!" Salah satu pria itu menarik tangan Hyungseob lalu memojokannya ke salah satu dinding yang ada di dekat situ. Fyi, mereka berada di gang yang lumayan kecil tapi masih cukup untuk 6 orang didalamnya.
"Akh.." Hyungseob meringis begitu punggungnya menubruk dinding dengan keras, rasanya sakit sekali. Belum lagi cengkraman keras pada tangannya yang tak kunjung lepas.
"Hm? Baru pulang dari kantor, bos," salah seorang pria disitu menatap Hyungseob dengan tatapan lapar. Bagaimana tidak? Bentuk badan Hyungseob yang sangat ideal dan bagian dada dan bokong yang terbentuk karena pakaiannya yang cukup ketat sangat mengundang nafsu.
Apalagi sekarang tangan orang-orang itu mulai menyentuh badan Hyungseob. Mulai dari lengannya, kemudian pinggangnya, dan lainnya yang entah membuat Hyungseob menangis dan menutup matanya rapat-rapat.
"L-lepas!" Pekik Hyungseob, namun pria itu malah menjambak rambutnya hingga terdengar rintihan pilu dari sang wanita.
"Diam dan nikmati saja, jalang."
Air mata tak kunjung berhenti keluar dari matanya, apalagi sekarang para pria berhidung belang itu mulai menyentuh bagian belakang dan pahanya dengan paksa. Padahal Hyungseob sudah memberontak terus dalam kunkungan mereka, tapi yang ia dapatkan hanya jambakan dan tamparan keras di pipinya.
Tolong aku.. Woojin―
"Singkirkan tangan kalian dari istriku, bajingan."
Sebuah suara berhasil menghentikan pergerakan tangan para pria itu pada tubuh Hyungseob. Seluruh mata menoleh kearah pemilik suara, begitu juga Hyungseob yang menatap sosok pria yang berjalan kearahnya dengan mata yang masih mengeluarkan air.
"Ha? Istri, katamu?!" Akhirnya pria-pria itu melepas tangan mereka dari tubuh Hyungseob, yang pada akhirnya membuat tubuh Hyungseob merosot jatuh dan fokus kerumunan pria itu terarah pada sosok pria yang mendatangi mereka dengan kemeja yang sudah tergulung sampai lengan.
"Brengsek."
Setelah mengucap kata itu, suami dari Hyungseob―Woojin―langsung melayangkan pukulan telak pada salah satu dari 5 orang pria berhidung belang itu. Pukulan itu kelak mengundang amarah dari pria lainnya, sehingga terjadilah baku hantam diantara mereka yang disaksikan oleh Hyungseob dari tempatnya.
Wanita itu sudah tidak disentuh lagi oleh pria brengsek itu, tapi kenapa air matanya tak kunjung berhenti juga? Dan kenapa ia rasanya ingin menangis kencang ketika suaminya datang dan menolongnya disaat seperti ini?
Buk.
"Woojin!"
Tiba-tiba Woojin tersungkur begitu satu pukulan melayang kearah pipinya. Hyungseob langsung berlari kearah Woojin dan menghampiri Woojin yang tersungkur di tanah.
"Woojin-ssi, kau tak apa?! Ayo kita pulang sa―"
"Gak. Aku gak apa-apa, Hyungseob," Hyungseob terdiam melihat tatapan dalam dari Woojin setelah memanggil namanya tanpa sufiks apapun, "aku baik-baik saja, jadi kamu tunggu aja di belakangku ya?"
"Kau..!" Salah satu pria itu mendekat lagi dan berancang-ancang untuk memukul Woojin, tapi Woojin langsung berdiri dan memukulnya duluan sampai tersungkur tak berdaya.
Mereka masih melanjutkan baku hantam, Hyungseob yang melihatnya langsung merosot jatuh dan kembali menangis. Melihat Woojin yang rela maju melawan orang-orang yang mengganggunya semakin membuatnya sedih dan senang sekaligus. Ia hanya takut melihat sebuah perkelahian yang melibatkan otot begini.
Hyungseob menangis sambil menunduk, terisak sendiri. Bahkan sampai tidak menyadari Woojin sudah selesai melakukan perkelahian dan mendatanginya yang terduduk sambil menangis itu. Pria-pria berhidung belang tadi juga sudah pergi―kabur―dari tempat itu.
"Hyungseob?"
Suara Woojinlah yang menyadarkan sang wanita. Ia mengangkat kepalanya, mendapati Woojin yang tengah berjongkok agar sejajar dengannya dengan luka lebam dan bibirnya yang berdarah sedikit. Mata Hyungseob masih basah karena airmata, membuatnya terlihat sangat menyedihkan kali ini.
Grep.
Woojin langsung memeluk tubuh Hyungseob dan merengkuhnya erat, berusaha menenangkan Hyungseob dan menyalurkan rasa khawatirnya yang terus menerus muncul sejak mencari sosok ini yang menghilang begitu saja.
Bukannya tenang, tangis Hyungseob malah semakin pecah. Pelukan Woojin membuatnya nyaman dan entah kenapa ia merasa di khawatirkan oleh sosok pria bermarga Park ini. Ia merasa dibutuhkan dan disayangi, entah kenapa ia merasakan hal itu.
"Untung saja aku bisa mencarimu dengan pantauan chip yang sudah ku simpan di tasmu," Tangan Woojin mengelus kepala Hyungseob pelan, "walau aku terlambat datang ya tadi.."
Elusan Woojin pada kepala Hyungseob membuat Hyungseob membalas pelukan sang suami dengan erat dan tetap menangis dalam pelukannya.
"Woojin.. Woojin..!"
Hyungseob terus terisak dan memanggil nama suaminya tanpa sufiks seperti biasanya, pelukannya juga semakin mengerat. Woojin awalnya kaget, namun lama kelamaan ia menikmati suasana ini. Pelukan itu berlangsung cukup lama, beruntungnya tangis Hyungseob sudah mulai mereda walau masih mengeluarkan air mata sedikit.
Tau tau Woojin melepaskan pelukannya dan jemarinya bergerak menyeka air mata yang turun dari mata sang istri, air mata yang sudah mengering di pipinya, kemudian menatapnya seraya tersenyum.
"Jangan menangis lagi ya, Hyungseob?" Ucap Woojin seraya menangkup pipi Hyungseob dengan kedua tangannya, juga senyuman lebar yang jarang sekali ia tunjukkan kepada siapapun, "karena melihatmu menangis rasanya menyakitkan, Seob."
Dan wajah Hyungseob jadi memerah karena ucapan Woojin yang blak-blakan dan tak seperti biasanya itu.
"Kenapa..?"
"Hm?" Woojin menatap istrinya yang menatapnya dengan tatapan bertanya, ia dengan sabar membalas tatapan itu dan menunggu Hyungseob melanjutkan ucapannya.
"Kenapa kau begitu peduli padaku..?" Hyungseob menunduk, sebisa mungkin menghindari tatapan suaminya yang begitu dalam, "padahal aku bahkan belum membuka hatiku untukmu, Woojin. Aku masih mencintai kak Ong, dan itu belum berubah..."
Pria dihadapannya nampak terkejut dengan pertanyaannya. Retoris sih, memang. Tapi istrinya itu pasti membutuhkan jawaban yang jelas mengenai perlakuannya kali ini.
"Memangnya ada salah dari seorang suami yang peduli terhadap istrinya?" Woojin menyengir lebar, hingga muncul gingsul yang membuat Hyungseob termenung sebentar, "lagipula kau bilang 'belum' berubah, kan?"
Kemudian Hyungseob dibuat bersemu ketika Woojin kembali memasang cengirannya dan melanjutkan ucapannya, yang sangat amat luar biasa membuat hatinya berdegup kencang.
"Jadi, apakah perasaanmu terhadap kak Ong bisa berubah dan tertuju hanya padaku, Park Hyungseob?"
・
・
・
・
・
Karena disuruh lanjut, aku jadi gencar buat bikin chapter 1nya HEHEHEHE
Makasih banyak loh buat yang ngereview dan ngefav + follow! Karena kalian, aku jadi makin semangat buat lanjut hehehe! :"))
Oh iya, aku cuma pengen bilang karena ini kupasang rate M jadi ada kemungkinan buat ((ehem)) smut gitu ya, tapi sebenernya awal niatku masang rate M karena alurnya yang dewasa dan banyak konflik yang gak bisa di cerna anak dibawah umur hehe. Jangan salah paham dulu loh, nanti malah ngiranya ini ff full ena ena lagi :")) /plak
Sekali lagi, makasih semuanyaa! Kecup basah dari kanashiaru /o/~
