Setelah kejadian itu, Hyungseob pulang bersama Woojin yang mengemudikan mobilnya dan pergi dalam keadaan diam. Woojin yang diam karena memang dirinya pendiam dan juga sakit yang menjalar berkat pukulan pria-pria itu, sedangkan Hyungseob terdiam karena merasa canggung berada dalam satu ruangan bersama Woojin selain di rumah dan di kamarnya.
Sesampainya di rumah mereka, Hyungseob langsung membantu Woojin membawa perlengkapannya, mengabaikan tatapan pelayan rumah yang menatap mereka kaget dan senang. Senang karena tuannya dan istrinya pulang bersama, mungkin? Karena mereka belum pernah begini sebelumnya, mungkin pernah namun hanya sekali.
Mereka berdua tidur di kamar bersama. Sebenarnya ini permintaan Woojin pada awal pernikahan yang memintanya untuk sekamar bersama, hanya itu. Dan Hyungseob mau-mau saja, toh ia menganggapnya sebagai balas budi atas bantuan Woojin. Lama kelamaan hal itu sudah menjadi kebiasaan baginya.
Tapi kali ini ia tidak bisa biasa saja didepan Woojin. Jantungnya terus berdebar. Woojin terlihat sangat tampan kali ini. Juga pernyataan sebelumnya yang membuatnya berdebar tak karuan.
Bahkan saat bangun tidur pun, Hyungseob langsung memberi sedikit jarak karena wajah Woojin yang terlalu dekat dengannya. Wanita itu terduduk namun masih menatap Woojin dan luka lukanya.
"Ah, lukanya.." Setelah mengatur debarannya menjadi semula, Hyungseob bergerak menyentuh luka di dekat bibir Woojin yang masih tertidur dengan pelan. Tapi sentuhannya malah membuat pria itu tersadar dan meringis pelan, "e-eh, Woojin-ssi! Maaf aku gak bermak―"
Tangan Woojin bergerak meraih tangan Hyungseob yang berada di dekat wajahnya lalu menggenggamnya.
"... Disini aja."
"Eh?" Hyungseob memiringkan kepalanya bingung, menatap Woojin yang masih menutup matanya dan menggenggam tangannya.
Woojin tiba-tiba menarik tangan Hyungseob sehingga wanita itu terjatuh dari posisi duduk dan tangan Woojin bergerak memeluk tubuh kecil Hyungseob.
"Jangan pergi."
Siapa yang menduga 2 kata itu berhasil membuat Hyungseob berdebar lagi karena dirinya?
"Disini aja― akh.."
"W-Woojin!" Hyungseob kembali menaruh tangannya di sekitar luka pada wajah Woojin dan menatap Woojin―yang meringis kesakitan―dengan khawatir, "kau masih terluka! Jangan memaksakan diri begitu!" Tanpa sadar Hyungseob membentak Woojin, dan Woojin rasanya senang sendiri mendengarnya.
"Iya iya, aku gak― ssh.."
"Jangan ngomong dulu, bodoh!" Sang istri langsung melepaskan tangan suaminya dari tubuhnya lalu beranjak dari tempatnya. Tapi sebelum itu, tangan Woojin kembali menahannya dan posisi Woojin sudah berganti menjadi duduk di kasurnya.
Woojin dan Hyungseob sempat bertatapan sebentar sebelum Woojin membuka suara duluan, "sepertinya aku gak masuk kerja dulu untuk hari ini."
"Oh? Yasudah―"
"Dan kamu juga harus ikut membolos bersamaku disini."
"Oh yasu― HAH?!"
Mata Hyungseob melebar dengan lucunya mendengar ucapan Woojin yang sangat blak-blakan itu.
"T-tapi kenapa aku juga ikut membolos?" Tanya Hyungseob dengan polos. Woojin mana sanggup menghadapi Hyungseob yang super polos begini dihadapannya?
Woojin menyengir, entah karena apa, "karena aku ingin kamu mengobatiku dan menemaniku seharian di rumah," balasnya dengan santai.
Ngomong-ngomong soal mengobati, memang benar kalau Woojin semalam tidak langsung mengobati lukanya dan hanya mencuci lukanya kemudian langsung tidur setelah mengganti baju. Sebenarnya Hyungseob ingin mengobatinya, tetapi sang suami langsung tidur tanpa mengobati lukanya terlebih dulu.
Jadi Hyungseob mau mau saja untuk sekedar mengobati suaminya.
"Tak apa sih, anggap saja sebagai balas budi," Hyungseob bermonolog, lalu menatap Woojin kembali, "tapi.. Gak apa kalau aku membolos kerja?"
"Bebas kok. Jangan lupakan aku direktur tempatmu bekerja, Hyungseob."
Ah, Hyungseob jadi lupa sendiri dengan fakta itu.
Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya Hyungseob menyetujui permintaan Woojin dan senyuman di bibir Woojin semakin melebar mendengarnya.
"Tapi sebelum itu.." Hyungseob melirik tangannya yang masih ditahan oleh Woojin, "bisakah kau melepas tanganku, Woojin?" Ucapnya santai.
Tetapi Woojin malah makin menarik Hyungseob hingga akhirnya ia terjatuh lagi.
Diatas badan Woojin.
"W-waaaaa―! L-lepasin, Woojin!" Hyungseob memberontak ketika badannya jatuh keatas badan Woojin dan Woojin malah memperparah keadaan dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.
Otak kotor Woojin kembali berjalan ketika merasakan dada sang istri yang menekan dadanya, tetapi sebisa mungkin ia membuang pikiran kotor itu dan tetap dalam posisinya memeluk Hyungseob.
Woojin terlalu fokus pada pikiran joroknya, sampai tak menyadari kalau jantung Hyungseob berdebar tak karuan dari balik piyamanya.
"Gak mau. Enak kayak gini," gumam Woojin tepat di telinga Hyungseob, membuat wanita itu bergidik geli karena napas hangat Woojin menerpa telinganya―ya, telinganya adalah titik kelemahannya.
Hyungseob menutup matanya, tidak memberontak lagi dalam pelukan Woojin sampai-sampai―
Drrrrt. Drrrrt.
Suara getaran handphone Hyungseob menyadarkannya.
Buru-buru Hyungseob melepaskan pelukan Woojin dan berdiri dari posisi itu, lalu mendekati handphonenya yang berada di meja. Ia sempat melebarkan matanya melihat layar handphonenya yang memunculkan tulisan 'Kak Ong is calling you..'
"H-halo, kak Ong?" Woojin memposisikan dirinya menjadi duduk lalu memandangi Hyungseob yang masih di depan meja dan mengangkat telpon dari Seongwoo itu.
"Seob, dijemput gak?"
"E-eh, eung.." Mata Hyungseob melirik Woojin yang memandanginya dari tempatnya lalu melanjutkan, "e-enggak kak. A-aku.. Aku sakit! Ya! Aku sakit flu! UHUK UHUK UHUK!" Akting Hyungseob berhasil meledakkan tawa Woojin, walau akhirnya ia harus menahannya karena delikan tajam dari sang istri―seakan-akan tatapan itu bisa membolongi kepalanya.
Woojin pada akhirnya terkekeh pelan, ekspresinya sangat manis sampai-sampai Hyungseob termenung sebentar melihat suaminya dari tempatnya.
"Lho? Sakit? Mau dijengukin gak? Kakak bawain makanan de―"
"JANGAN!" Buru-buru Hyungseob memotong ucapan Seongwoo dari seberang telepon sana dan meninggikan nada bicaranya. Setelah merasa gak beres, barulah Hyungseob panik, "e-eh, maksudnya.. Gak usah kak! Aku mau istirahat dulu, uhuk uhuk uhuk!"
"Padahal tadinya kakak mau traktir kamu. Hitung-hitung permohonan maaf karena semalam gak bisa jemput.."
"Y-ya! Nanti ajalah kak, gampang! Atur aja jadualnya! Uhuk!" Sebenarnya Hyungseob senang sekali dengan tawaran dari Seongwoo, tapi hari ini kan ia sudah menyetujui permintaan Woojin untuk menemaninya seharian dirumah. Janji itu tidak boleh diingkari, lho?
Sementara Woojin masih memerhatikan Hyungseob ditempatnya. Sepertinya ia tahu kemana arah pembicaraan mereka, tapi Woojin memutuskan untuk diam saja.
"Kayaknya parah banget sakitnya ya, Seob? Yasudah, kakak doain biar cepet sembuh dan biar kita bisa makan-makan!" Napas Hyungseob tercekat sebentar, "kakak sayang banget sama kamu, Seob."
Wajah Hyungseob sudah memerah padam. Rasanya ia ingin terjun saja dari balkon kamarnya dan terbangun dalam keadaan tersadar. Karena ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi.
Tapi sayangnya tidak. Ia masih melihat sosok suaminya yang tengah sibuk sendiri menguap lebar di atas kasur dan menggaruk kepalanya. Wanita itu buru-buru mengatur degup jantung yang terasa ingin copot karena Seongwoo.
"I-ih! Udahan dong kak!" Elak Hyungseob dengan nada kesal, sementara Seongwoo dari seberang telepon sudah tertawa terbahak-bahak, "y-yasudah, ku tutup teleponnya! Makasih lho kak!" Lalu Hyungseob menutup panggilannya masih dengan wajah yang memerah.
Keheningan langsung menyelimuti suasana di kamar tersebut. Hyungseob memegang kedua pipinya yang memanas lalu menutup matanya dan tersenyum lebar. Seongwoo terlalu hebat membuat harinya berwarna padahal masih pagi begini.
"Kenapa gak langsung ngakuin aja sih kalau kamu sudah menikah denganku?"
Kesenangan itu terhenti ketika mendengar suara baritone suaminya yang masih berada di kasur dan menatapnya dengan tatapan bertanya sambil menyilangkan kedua tangannya.
Wanita itu langsung meliriknya dan menghela napas.
"Memangnya kau pikir mengaku kalau aku sudah menikah itu gampang?" Sang wanita menghela napas lagi sebelum melanjutkan, "apalagi mengakuinya ke kak Ong. Urusannya bisa panjang..."
"... Dan aku belum menyiapkan mental untuk itu."
Woojin bisa merasakan kesedihan dari balik ucapan Hyungseob. Mau tak mau ia menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya ke kepala kasur dengan kedua tangan yang menopang bagian belakang kepalanya.
"Padahal lebih baik kalau langsung di akuin sih.." Woojin bergumam pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh istrinya, "Kan biar enak ngejelasinnya, gak perlu sembunyi sembunyi begini.."
Dan biar aku bisa ngakuin secara terang-terangan kalau kamu itu istriku, Seob.
Istrinya itu terdiam. Tetapi diamnya itu tidak lama, karena setelahnya ia kembali memasang senyuman lebar yang sangat amat lebar.
"Ah sudahlah! Biarkan aku bersenang-senang dulu kali ini. Yuhuuuu~" ujar Hyungseob dengan girang lalu berjalan dan melompat sesekali kearah kamar mandi. Bahkan di kamar mandi pun, ia masih sempat berteriak "KAK ONG SARANGHAEEEEEE~!" Yang membuat Woojin menghela napas dari tempatnya.
Untungnya Woojin ditabahkan dan untungnya Woojin sayang istrinya sendiri.
・
・
・
Selama sarapan berlangsung, Woojin tak berhenti memerhatikan istrinya yang masih memasang senyuman lebar bahkan sampai tidak menghabiskan makanannya. Hal itu membuatnya menghela napas sebentar.
"Mulutmu bisa sobek kalau terus terusan tersenyum, tau?" Ucap Woojin seraya menyendokan makanannya kedalam mulut, sementara Hyungseob membalasnya dengan cengiran lebar.
Karena gemas melihat 1 chicken wings yang masih utuh di piring sang istri, Woojin langsung mengambil chicken wings itu tanpa izin dari piring Hyungseob lalu menaruhnya ke piringnya sendiri. Sementara Hyungseob menyadarinya dan melotot kearahnya―dibalas dengan senyuman miring dari Woojin tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.
Hyungseob meraih sendoknya tanpa bersuara lalu mengambil chicken wings itu kembali dari piring Woojin. Dan diambil kembali oleh Woojin. Begitu terus yang mereka lakukan sampai disaat Woojin mengambilnya, sendok Hyungseob bergerak menahannya.
"Ini makananku, Woojin-ssi," akhirnya Hyungseob bersuara dengan nada mengintimidasi lalu tersenyum simpul yang menakutkan. Woojin tidak peduli, bahkan senyuman miring kembali terpantri di bibirnya.
"Untuk apa berada di piringmu kalau tidak dimakan sama sekali, Hyungseob-ssi?" Balas Woojin dengan nada meremehkan, yang kemudian memancing emosi Hyungseob.
Akhirnya terjadi rebutan makanan dengan mereka yang saling tarik ayam itu hingga akhirnya ayam itu terlepas dari sendok mereka dan jatuh ke lantai.
"..." Mereka sempat terdiam sebentar sebelum saling melirik dan menghela napas.
"... Pelayan, tolong ambilkan chicken wings lagi untuk kita berdua."
・
・
・
Mari kita melupakan kejadian itu dan beralih pada mereka berdua yang sudah berada di gazebo taman rumah dengan sepiring berisi chicken wings dan Hyungseob yang membawa kotak P3K dan bak kecil juga kompresan untuk mengobati luka Woojin.
"Salahmu sih mengambil ayamku segala," gerutu sang wanita sambil mengatur kompresan, sementara Woojin mengambil 1 chicken wings yang ada dan memakannya sambil melihat kearah sang istri.
Diam-diam Woojin tersenyum. Gerutuan sang istri sangat imut dan menggemaskan, membuatnya ingin menciumnya―eh enggak, itu terlalu jauh. Minimal mencubitnya dulu lah.
"Salahmu sendiri gak langsung memakannya. Pakai senyum-senyum segala."
"Tapi gak harus diambil juga!" Woojin benar-benar tak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi gembil Hyungseob yang sekarang sudah memajukan bibirnya sebal, "apaan sih cubit cubit! Memangnya aku kue cubit?!"
"Ih galak ya kamu."
"Biarin! Cepet lepas, mau di obatin gak?!"
"Iya iya."
Woojin melepas tangannya dari pipi Hyungseob lalu kembali memandang istrinya yang sedang sibuk mengatur obat-obatan yang diperlukan untuk mengobati suaminya itu.
"Sepertinya kau mahir sekali dengan obat-obatan ini," Hyungseob menghentikan pergerakan tangannya lalu melirik Woojin.
Hyungseob mengalihkan pandangannya ke peralatannya lagi kemudian tersenyum kecil, "dari dulu aku sempat punya cita-cita yang tak bisa tercapai."
Perkataan yang menggantung itu membuat Woojin terus menaruh atensinya pada sosok wanita disampingnya, menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin sekali menjadi perawat atau menjadi apoteker. Aku sangat ingin masuk ke dunia medis..." Hyungseob menghela napas panjang, "... Tapi ibuku tidak membolehkanku."
Sebelum Woojin mengeluarkan suaranya, Hyungseob kembali melanjutkan, "ia tak mau teringat tentang mendiang ayah yang merupakan seorang dokter jika aku memasuki dunia medis. Oleh karena itu ibuku selalu menyuruhku untuk beralih ke hal lain agar membuatku lupa dengan keinginanku menjadi perawat atau apoteker."
Mereka berdua sempat terdiam dalam posisi yang sama sampai akhirnya Woojin mengeluarkan suara untuk memecah keheningan.
"Lalu apakah kau masih memiliki keinginan itu?" Hyungseob menoleh dengan tatapan bertanya, meminta kejelasan dari pertanyaan Woojin lewat tatapan mata, "maksudku.. Aku bisa membantumu jika kau masih ingin menjadi perawat atau apoteker."
"Untuk apa? Sudah terlambat, tahu," sang wanita mendengus geli mendengar tawaran dari suaminya, lalu terkekeh pelan, "lagipula aku sudah menikmati pekerjaanku yang sekarang kok. Gak perlu meratapi hal yang gak bakal terjadi, hehe," Hyungseob tersenyum, sementara Woojin terpaku melihat senyuman manis dari istrinya itu.
Detik setelahnya, pipi Hyungseob memerah dan buru-buru ia mengambil obat yang dibutuhkan dengan cepat, "k-kenapa aku malah menceritakan ini padamu, sih?! Sudah ah, aku obati ya lukamu!"
"A-AW! Pelan-pelan, Hyungseob!"
"M-m-maaf maaf!"
"Akh!"
"Sakit ya? Maaf, tahan dulu ya Woojin!"
Dan dengan posisi sedekat ini, Woojin dapat merasakan sesuatu yang aneh melihat istrinya dari dekat. Berbeda dengan yang biasanya, kali ini ia merasa sangat ingin memeluknya dari posisi yang dekat seperti ini.
Andaikan ia bisa, dan ia berharap ia dapat melakukannya tanpa keraguan suatu saat nanti.
・
・
・
Hyungseob mencelupkan kakinya kedalam kolam renang di dekat taman belakang rumahnya lalu sedikit memainkan kakinya didalam air yang tenang dan jernih itu. Cahaya penerangan yang terpasang di dekat kolam renang juga cahaya rembulan di malam itu cukup meneranginya saat ini.
Setelah kejadian di gazebo tadi siang, Hyungseob dan Woojin menghabiskan waktunya berdua di rumah―yang sangat amat jarang terjadi selama 4 bulan pernikahan mereka. Biasanya Hyungseob akan pergi atau menyibukkan dirinya di kamar pribadinya jika sedang hari libur, atau Woojin yang menyibukkan dirinya di perpustakaan rumahnya untuk bekerja, bahkan di hari libur begini.
Ah tolong koreksi, mereka bukan berlibur. Melainkan membolos kerja bersama.
Mereka benar-benar menghabiskan waktu berdua. Dimulai dari Hyungseob yang mengobati luka Woojin, duduk di gazebo yang ditemani oleh semilir angin sore bersama, lalu bermain game bersama di ruang game, kemudian Hyungseob yang berlari mengejar Woojin―karena tidak terima dengan kemenangan Woojin yang curang―di taman belakang rumah yang berakhir dengan Hyungseob yang tergelincir lalu jatuh kedalam kolam renang sampai basah kuyup. Disusul juga Woojin yang ikut masuk ke kolam renang dan mereka berdua saling bermain air kemudian tertawa bersama.
Dan setelah berenang itu, Hyungseob dan Woojin langsung mandi―gak mandi bareng kok, Woojin mandi di kamar mereka sementara Hyungseob mandi di kamar pribadinya. Seusai mandi, Hyungseob mengeringkan rambutnya kemudian pergi ke kolam renang lagi untuk sekedar menyegarkan pikirannya dengan menyendiri.
"Seob, ngapain disini?"
Suara baritone milik suaminya menyadarkannya dari lamunannya. Wanita itu langsung melirik kearah suaminya yang masih mengenakan bathrobenya namun rambutnya sudah mengering sempurna dan pria itu ikut duduk di sampingnya kemudian ikut mencemplungkan kakinya kedalam kolam renang.
"Kenapa kamu gak ganti baju, sih? Ini kan udah malam, tahu," gerutu Hyungseob melihat Woojin yang masih mengenakan bathrobe itu. Padahal kan malam ini dingin sekali, "memangnya kamu mau sakit lagi, hm? Mau bolos lagi?"
Kalau sakit lagi dan di rawat olehmu sih, aku mau mau saja. Batin Woojin yang sayangnya tidak bisa ia ucapkan. Jadi ia hanya bisa mengucapkannya dalam hati, "aku hanya malas ganti baju saja," ucap Woojin seadanya.
"Cih, aku gak mau ngebolos lagi kalau kamu sampai sakit ya," Ucap sang wanita seraya menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan menatap Woojin kesal―yang terlihat sangat imut di mata Woojin.
"Memangnya kenapa sih kalau membolos? Gajimu takkan terpotong, kok. Kan ada aku―"
"Bukan masalah gaji! Aku cuma pingin kerja..." Hyungseob memberi jeda sebentar, "... Biar bisa ketemu kak Ong."
"Kenapa sama kak Ong?" Woojin mengernyitkan dahinya bingung, memang apa hubungannya kerja dengan Seongwoo? Bukankah Seongwoo bekerja di perusahaan lain?
Wanita itu terdiam menatap air kolam yang tenang dan kakinya yang ikut terdiam sehingga air itu ikut terdiam, "karena aku hanya bisa bertemu kak Ong di hari kerja. Sisanya, aku tak bisa bertemu dengannya di hari libur."
Dahi Woojin mengernyit, "lalu apa yang kau lakukan di hari libur kalau bukan bertemu dengan kak Ong?"
"Aku? Liburan. Entah itu sendiri atau bersama dengan temanku, Euiwoong," terang Hyungseob, "tapi sepertinya aku akan menghabiskan liburan sendiri karena.. Euiwoong akan menikah."
Woojin masih menjadi pendengar yang baik sementara Hyungseob mengerucutkan bibirnya, "menyebalkan sekali Euiwoong itu, setelah menikah pun ia dan si babi malah akan pergi ke Jeju selama 2 minggu lebih! Honeymoon atau pulang kampung, sih?!"
Sementara Hyungseob menggerutu, Woojin menahan tawanya karena kata 'si babi' dan gerutunya sang istri yang menggemaskan. Namun sebelum itu, ia ingin mengutarakan pertanyaan yang terus mengganjal otaknya.
"Kenapa kelihatannya kau sedih sekali sih gak bertemu dengan kak Ong? Padahal kalian kan bakal sering ketemu di hari kerja, walau gak seminggu full―"
Pletak.
Tiba-tiba Hyungseob memukul kepala Woojin agak kencang hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan dan memutus ucapannya.
"Ya―! Kenapa kau memukulku?!" Ringis Woojin, masih mengelusi kepalanya dengan sayang sementara Hyungseob menatapnya dengan tatapan kesal.
"Habisnya kau bodoh sekali!"
"Ha? Bodoh apanya?!"
"Ucapanmu itu! Dasar bodoh!" Ah, ternyata karena itu. Woojin melirik Hyungseob yang menyilangkan kedua tangannya, "memangnya kau pikir aku tahan tidak melihat kak Ong walau hanya sehari saja?"
Sama sepertiku kalau gak melihatmu, Seob. Woojin kembali membatin mendengar ucapan Hyungseob.
Tapi rasa kesal itu masih ada karena pukulan yang keras barusan, "lalu, apa harus banget mukul aku sampai segitu kencangnya?" Ujar Woojin dengan nada kesal.
Hyungseob tau tau menjulurkan lidahnya, "biarin. Biar otakmu bisa jalan," ujarnya dengan nada sarkas―yang sebenarnya hal yang pertama kali Woojin dengar dari istrinya itu.
"Kok?!"
"Lagian, udah tau aku suka banget sama kak Ong. Jelas aku gak bisa tahan gak ketemu sehari sama dia," gerutu Hyungseob kemudian mengerucutkan bibirnya, "ditambah kita udah gak bisa ketemu setiap hari kayak dulu disaat aku masih tinggal di rumah bareng ibu..."
Tiba-tiba rasa bersalah muncul setelah mengatakan hal itu secara gamblang ke istrinya. Walau ia merasa cemburu dalam hatinya, tapi ia tak mau menunjukkannya secara terang-terangan. Lagipula ia kan sudah berjanji untuk memaklumi perasaan Hyungseob terhadap cinta pertamanya.
"Maaf ya, aku memang gak tau hal itu―"
"Memang! Kau itu memang gak mengerti ya!" Hyungseob masih menunjukkan kekesalannya terhadap Woojin dan menatapnya sengit, "gak pernah ngerasain jatuh cinta sih!"
Dan ucapan itu tentu saja membuat Woojin terdiam sambil menatap wanitanya dengan tatapan yang dalam dan tak dapat terdefinisikan. Cukup lama Woojin menatapnya tepat di mata, membuat Hyungseob terdiam karena tatapan Woojin yang dalam itu membuat jantungnya kembali berdebar tak karuan.
Cahaya rembulan juga semilir angin malam cukup mendukung suasana yang sedang diselimuti keheningan itu. Tak ada satupun dari mereka yang mau menghentikan hal itu. Woojin terus menatap Hyungseob seperti mengirimkan kode, entah kode apa. Kemudian Hyungseob yang terus membalas tatapan Woojin dan entah kenapa tak mau melepaskan tatapannya dari mata indah Woojin yang tajam namun menatapnya teduh dan dalam.
"Aku sudah merasakannya kok. Jatuh cinta," jantung Hyungseob terasa berdebar mendengar suara baritone yang kali ini terdengar sedikit lebih berat dari barusan, "kau saja yang tidak pernah tahu itu."
Dan kalimat Woojin yang terakhir akhirnya berhasil membuat Hyungseob melepas pandangannya dari mata itu dan menatap kearah lain, kearah kakinya misalnya. Sambil bergumam 'ooooh' untuk membalas ucapan dari suaminya.
Tau tau Hyungseob merasa kedinginan dan menggigil. Wanita itu langsung memeluk dirinya sendiri sebagai refleks. Padahal ia sudah mengenakan piyama yang panjang dan tebal, tapi kenapa dingin itu masih saja terasa?
Dan tiba-tiba badannya ditarik dan kehangatan pun mengalunginya. Ya, Woojin memeluk Hyungseob dan menyalurkan kehangatan pada wanita itu yang sedari tadi merasa menggigil.
"W-Woojin―"
"Sssst," Woojin berbisik, membuat Hyungseob terdiam dalam pelukannya, "biarkan aku memelukmu seperti ini untuk beberapa saat."
"... Boleh kan?"
Hyungseob tak membalas apapun, ia malah membenamkan wajahnya pada bahu lebar Woojin dan ikut mengalungkan tangannya walau tidak memeluk suaminya dengan erat―tangannya hanya mencengkram bathrobe Woojin pelan.
Entah apa yang ada di pikiran mereka berdua, berpelukan dibawah sinar rembulan juga di malam yang dingin untuk saling menghangatkan satu sama lain. Walau masih terasa sangat kikuk karena perasaan ini adalah yang pertama kalinya untuk mereka. Biar begitu, Hyungseob terus merasakan kehangatan dan rasa nyaman dari pelukan Woojin dan ia tak berniat untuk melepaskan pelukan Woojin darinya.
Begitu juga Woojin yang berharap agar waktu berhenti dalam keadaan seperti ini, bersama dengan wanita yang dicintainya.
Satu hal yang Woojin tidak tahu adalah.
Hyungseob memikirkan hal yang sama dengannya.
Mengharapkan waktu berhenti dan kenyamanan ini tetap berlangsung selamanya.
・
・
・
・
・
HAHAHAHAHA KEJU SEKALI apa kurang keju ya? Maaf kalo ada yang kurang yaa :"))
Makasih banyak buat yang udah mampir dan ngereview, ngefav dan ngefollow yaa! Gak nyangka ff asal asalanku ini ada yang ngelirik ternyata :"))
Oh iya, kalo baca ini sambil dengerin lagunya Loco (Ft. Dean) - Too Much ya hehe, gapapa sih sebenernya. Soalnya liriknya itu ngegambarin Woojin banget disini. Apalagi ada lirik 'I imagine you secretly, I hope you won't know this' dan seketika aku teringat Woojin di ff ini yang diem diem mikirin Hyungseob HAHAHAHA /plak
Aku juga gatau kenapa selalu suka ff JinSeob yang Woojinnya ngejar ngejar Hyungseob gitu. Soalnya disaat orang lain bilang kalo Hyungseob yang suka duluan (?) sama Woojin dan Woojinnya tsundere, aku malah mikir Woojinnya itu merhatiin Hyungseob dari jauh tapi Hyungseob ngeliat Woojin cuma kayak 'orang yang disuka' kayak fans ke idolanya gitu loh. Terus aslinya Hyungseob sukanya sama Ong gitu (?), dan ini underrated opinionku sih hehe. Soalnya pasti orang lain mikirnya gak kayak gini, cuma aku doang HAHAHA. Kalo menurut kalian sendiri gimana?
Ya sudahlah ini masih tahap awal ff, belum banyak dramanya. Mungkin kalo moodku terus lanjut, aku bakal terus fokus sama ff yang ini huehuehue. Makasih yang udah baca dan review dan follow dan favorite! xD
