Pagi hari yang cerah sepertinya tak cukup untuk membuat Hyungseob bangkit dari kasurnya dan melakukan kegiatannya seperti biasa karena...
... Entah kenapa ia terlalu malu untuk bangun dan bertatapan muka dengan suaminya yang masih pulas tertidur didepannya.
Mengingat kejadian semalam terus membuat wajahnya memerah dan membuatnya mengumpat terus menerus tanpa henti.
Dan akhirnya ia memutuskan untuk langsung bangun dan pergi ke kamar pribadinya agar tidak berpapasan dengan batang hidung suaminya.
Tetapi begitu Hyungseob membuka pintu kamar pribadinya, di sisi lain Woojin juga membuka pintu kamar mereka dalam keadaan rapih dan sudah siap bekerja.
Dan mereka saling bertatapan cukup lama. Cukup lama hingga membuat wajah Hyungseob bersemu merah dan kecanggungan itu terjadi.
"E-eum.. P-pagi.." Hyungseob tersenyum kaku seraya menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata Woojin.
Andai Hyungseob tahu, bahwa Woojin juga merasakan hal yang sama dengannya.
"P-pagi juga," Balas sang pria seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, berusaha mengalihkan pandangannya juga dari sang istri yang seperti biasa cantik dan membuatnya tergoda.
Kecanggungan masih menyelimuti mereka berdua, apalagi setelah kejadian semalam yang entah kenapa berlalu tanpa perencanaan apapun. Semua terjadi begitu saja, tanpa memikirkan apapun lagi untuk saling memeluk satu sama lain dalam waktu yang cukup lama.
Tentu saja malam itu membuat Hyungseob merasakan debaran aneh yang biasanya hanya ia temukan ketika bersama dengan Seongwoo saja. Yang menjadi pertanyaannya adalah, debaran itu apa? Perasaan cinta?
Mana mungkin! Lagipula, Hyungseob kan bukan orang yang mudah mencintai orang lain. Dan ia juga masih mencintai teman semasa kecilnya itu, jadi perasaan yang semalam itu.. Apa?
Tiba-tiba dering handphone Hyungseob berbunyi, membuat 2 orang di tempat itu tersentak dan sang wanita langsung buru-buru mengambil handphonenya dan mengangkat telepon dari seorang di layar.
"Halo, kak Ong?"
Nama itu langsung membuat Woojin menoleh kearah sang istri dan menatapnya yang sedang berbicara dengan seorang dari telepon.
"Seob, kayaknya hari ini aku gak bisa jemput kamu deh! Gimana kalo kamu berangkat sendiri aja―"
"HAH KOK GAK BISA JEMPUT?!" Refleks Hyungseob berteriak kaget mendengar ucapan Seongwoo dari telepon, "t-terus aku gimana...?"
"Naik bus aja, atau bareng temenmu kayak biasanya gitu. Maaf ya Seob, kakak harus buru-buru!"
"Kak―halo? Halo? Oi, kak Ong?!" Sambungan itu terputus secara sepihak dari pihak Seongwoo dan membuat suasana hening diantara kedua orang yang berada di ruangan itu karena sedari tadi hanya sang wanita yang bersuara, sementara sang pria hanya terdiam memerhatikan sosok disampingnya dengan intens.
Woojin berdehem sebentar, mengundang perhatian dari Hyungseob yang kini menatapnya dan mereka saling melempar pandangan satu sama lain sampai akhirnya...
"M-mau berangkat bersamaku, Hyungseob?"
... Woojin berhasil mengajak istrinya berangkat ke kantor bersama. Untuk yang pertama kalinya.
・
・
・
Dan tawaran itu akhirnya diterima dengan anggukan canggung dari Hyungseob yang diketahui wajahnya memerah padam disaat kejadian itu berlangsung.
Kini mereka berdua telah menyelesaikan sarapan bersama dan sudah berada di mobil pribadi Woojin yang dikendarai oleh Woojin sendiri.
Sebetulnya Woojin mempekerjakan supir di rumahnya, tapi ia jarang sekali meminta sang supir untuk mengantarnya ke kantor. Mungkin hanya untuk mengantarkan beberapa proposal atau pekerjaan tertentu melalui supirnya, sisanya ia akan menggunakan mobilnya sendiri untuk pergi kemanapun.
Dan sekarang Woojin mengemudikan mobilnya dengan sedikit melirik kearah samping, kearah Hyungseob yang menunduk sambil memainkan jemarinya, entah apa yang mengasyikan dari kegiatan seperti itu. Tapi sepertinya Hyungseob masih tetap melakukannya, membuat Woojin terkekeh pelan meliriknya.
"Kenapa tertawa?" Oh, sepertinya sang wanita menyadari kekehan pelan sang pria di sampingnya.
Woojin menggeleng lalu tersenyum disaat pandangannya masih tertuju kedepan, "gak apa. Kamu imut banget hari ini."
Dan wajah sang istri memerah begitu cepatnya.
"A-apaan sih!" Gerutu Hyungseob lalu mengerucutkan bibirnya, sementara wajahnya memerah padam, "gombal mulu kamu!"
"Ya daripada gombalin wanita lain, mendingan gombalin istri sendiri dong? Iya gak?"
"I-ish! Tau ah sebel!"
Tawa Woojin meledak begitu mendengar gerutu Hyungseob yang sangat menggemaskan, sementara Hyungseob menyilangkan kedua tangannya lalu mengerucutkan bibirnya dengan pipinya yang masih bersemu merah.
"Ketawa mulu! Memangnya lucu?"
"Iya, kan kamu lucu."
"U-udahan dong!"
"Hehehehe, istriku marah ya~"
"Hmph," Hyungseob membuang mukanya kearah jendela dan berusaha mengabaikan Woojin di sampingnya yang masih menatapnya dengan senyuman―ia melihatnya dari pantulan jendela yang ada.
Suasana kembali hening, dan Woojin gak menyukai hal ini. Ia tidak mau perjuangannya sia-sia hanya karena keheningan yang membuat mereka canggung begini.
"Jangan diem begini dong. Aku jadi mirip supirmu kalo diem begini, Seob," Hyungseob menahan tawanya mendengar ucapan Woojin yang sangat tiba-tiba itu.
"Biarin. Kamu emang mirip supir sih."
"Kalo jadi supir selamanya sih aku rela rela aja."
"Sementara, bung," Ucap Hyungseob seraya melirik Woojin di sampingnya, "nanti kak Ong bakal anter jemput lagi kok!" Rasanya jantung Woojin terasa sedikit mencelos mendengarnya.
"Memangnya kenapa gak dijemput kali ini? Tumben," Woojin akhirnya mengalihkan pembicaraan karena didasari rasa penasaran juga.
Wanita bersurai hitam panjang yang tercepol itu tampak berpikir sejenak kemudian mengedikan bahunya, "aku sendiri pun gak tahu, Jin. Tiba-tiba bilang gak bisa jemput, mana kelihatannya dia sedang buru-buru banget tadi," jawabnya dengan helaan napas yang panjang.
"Gak sempet nanya dia ada urusan apa?" Gelengan kepala menjawab pertanyaan Woojin yang satu ini.
"Dan kamu gak mikirin sesuatu tentang dia yang gak jemput kamu kali ini?"
Hyungseob menoleh―mengernyitkan dahinya bingung, "maksudmu?"
"Hm... Misalnya dia gak jemput karena urusan kantor, atau enggak..." Woojin menjeda ucapannya sebentar disaat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah, kemudian ia melirik Hyungseob, "... Sibuk dengan wanita lain, mungkin?"
Woojin tidak berniat untuk memancing emosi Hyungseob, sumpah ia hanya bertanya saja. Walau ia yakin Hyungseob akan marah besar padanya, yang penting rasa penasarannya tersalurkan kali ini.
Dan betul saja, jemari lentik Hyungseob kini menyubit lengan Woojin dengan keras. Untuk yang pertama kalinya, Hyungseob menyubit Woojin dan rasanya sangat amat perih.
"Faedahnya apa sih kamu ngomong begitu?" Pipi gembil Hyungseob makin menggembung saja karena kesal soal ucapan dari suaminya itu, "jangan begitu dong! Aku gamau kalo kak Ong sama cewek lain, pokoknya gamau!"
Sementara Woojin masih meringis kesakitan sambil mengelus lengan kiri yang menjadi sasaran cubit sang istri. Untungnya lampu lalu lintas masih menandakan berhenti, sehingga ia masih bisa bersantai dan melemaskan tangannya yang menjadi sasaran cubitan yang luar biasa dari Hyungseob.
"Kenapa kamu emosi banget sih, Seob? Aku kan cuma ngomong gitu aja.."
"Kamu gak ngerti rasanya jadi aku."
Woojin menoleh, mendapati istrinya tengah cemberut dengan wajahnya yang sudah memerah. Matanya sudah sedikit berkaca, dan hal itu membuat Woojin semakin panik.
"J-jangan nangis dong. Aku ngerti kok gimana rasanya," warna hijau pada lampu lalu lintas membuat Woojin kembali berfokus pada jalanan di depannya, sesekali melirik wanitanya di samping, "lagipula, kita sama-sama mencintai orang yang gak peka kok. Raganya bersamaku, tapi hatinya tidak bersamaku. Sedih, bukan?"
Woojin sempat berharap wanita disampingnya ini peka dengan kode yang ia berikan, sedikit saja peka Woojin tidak masalah.
Hyungseob memang tidak jadi menangis, tetapi matanya mengarah ke Woojin dengan tampang kaget yang sangat polos. Reaksinya itu membuat Woojin menghela napas pasrah. Apalagi setelah mendengar ucapannya setelah reaksi itu.
"Ya ampun, wanita macam apa itu? Gak peka rangsangan banget! Atau mungkin kodemu yang kurang, Jin?"
Dan mulai hari ini, Woojin bertekad akan banyak belajar untuk membuat Hyungseob peka dari manajernya yang sangat handal dalam urusan cinta-cintaan seperti ini.
・
・
・
Sebuah pukulan ringan mengarah ke kepala Hyungseob yang baru saja datang ke ruangannya. Setelah mengaduh kesakitan, barulah sang pemilik kepala melirik sosok wanita disampingnya yang berkacak pinggang dan menatapnya kesal.
"Kenapa kau malah gak masuk, bodoh?! Mana mengabarinya hanya lewat pesan, pula! Teman macam apa sih, kau―"
"Kemarin mondar mandir cemas sambil gangguin satu ruangan, sekarang giliran Hyungseob dateng malah dimarah-marahin~"
Hyungseob tak jadi membalas dengan kesal, malah tertawa melihat wajah Jihoon yang memerah sambil mencubit lengan Taedong karena salah tingkah―ucapan Taedong menohok telak akting Jihoon yang seperti itu.
"B-berisik banget sih!" Tukas Jihoon lalu mengerucutkan bibirnya, "terus, kenapa kamu gak masuk? Sakit?" Mata Jihoon pun mengarah ke Hyungseob yang tengah membereskan pekerjaannya di mejanya.
Wanita itu melirik sebentar, lalu tersenyum kecil, "sakit hati Hoon gara-gara ngegalauin kak Ong terus, hehe."
"MANA BISA BEGITU, BODOH!"
Dan tawa kencang pun lolos begitu saja dari orang-orang didalam ruangan itu; termasuk Hyungseob sendiri yang tertawa cukup kencang menertawai kekesalan Jihoon didepannya. Lagipula, mana mungkin Hyungseob berkata jujur kalau ia membolos kerja hanya untuk menemani direkturnya yang sedang sakit?
Bisa-bisa orang di ruangannya langsung terkena serangan jantung mendadak karena terlalu kaget.
Kaget? Tentu saja. Masalahnya, Hyungseob dan Woojin itu di kantor tidak pernah berinteraksi ataupun sekedar bertemu saja jarang sekali. Kalau tiba-tiba mereka mengumumkan pernikahannya, kira-kira apa yang akan terjadi pada orang-orang di kantor ini?
"―eob! Seob! Hyungseob!"
Hyungseob dan Jihoon saat ini tengah berada di kantin untuk makan setelah bekerja tadi. Jihoon memanggil wanita di hadapannya yang masih bengong dengan nampan makanan yang masih belum tersentuh sedari tadi.
Dan wanita itu langsung sigap menoleh kearah wanita berpipi gembil didepannya―yang terlihat semakin gembil karena mulutnya terisi makanan yang dikunyah dengan rakus.
"Ish, kau daritadi melamun terus!" Gerutu Jihoon seraya menelan makanannya yang masih ia kunyah tadi, "padahal aku mau nyeritain sesuatu penting tau."
"Kalo gak penting aku gamau de―"
"Soal Park Woojin."
Hyungseob berhenti menyeruput minumannya lalu melirik Jihoon, "ada apa dengan direktur kita?"
Tahu-tahu senyuman terpantri di bibir tebal Jihoon, menimbulkan banyak pertanyaan di benak Hyungseob.
"Kau berhenti sibuk sendiri," ujar Jihoon lalu menyengir lebar, "itu artinya kau tertarik dengan direktur kita, Park Woojin?"
"H-hah?" Pipi Hyungseob sedikit memanas mendengar ucapan dari sahabatnya itu. Buru-buru ia memukul Jihoon sedikit kencang dan mengalihkan dirinya, "gak gitu, bodoh! Aku cuma penasaran dengan hal yang akan kau bicarakan!"
"Tapi gak memukulku juga dong, sialan!"
Hyungseob menyengir lebar, sementara Jihoon masih menggerutu sebal sambil mengelus lengannya yang menjadi sasaran pukul wanita yang telah menjadi sahabatnya sejak masih awal bekerja di perusahaan ini.
"Uhm, jadi 2 hari yang lalu aku bertemu dengan Woojin-ssi saat aku dan kamu sudah berpisah untuk pulang."
Hyungseob kembali menyeruput minumannya, namun tatapannya tak lepas dari wanita dihadapannya.
"Dan dia menanyakan tentangmu waktu itu," gerakan Hyungseob terhenti mendengar lanjutan dari ucapan Jihoon, "dia bertanya kamu ada dimana dan setelah kujawab ada di taman kantor, dia langsung buru-buru menghampiri ke tempatmu berada, lho! Dia terlihat khawatir sekali saat itu..."
Mata Hyungseob melebar mendengar cerita dari Jihoon. Seingatnya, Jihoon itu gak pernah berbohong padanya kalau soal cerita begini. Jadi.. Apa benar suaminya itu mengkhawatirkannya?
"Ehem!" Tersadar karena deheman Jihoon, Hyungseob lalu menoleh kearah sahabatnya yang sedang tersenyum―menyeringai―kecil, "yang ingin kutanyakan padamu adalah.. Ada hubungan apa kau dengan Woojin-ssi?"
"E-enggak ada hubungan apapun, kok.." Hyungseob berusaha membalas dengan normal walau pipinya terasa sedikit memanas saat membalasnya.
"Menurutku, Woojin-ssi tertarik padamu lho, Seob."
"Hah?"
Hyungseob memasang tampang bingung, sementara Jihoon bersiap untuk melanjutkan ucapannya lagi.
"Seingatku, direktur kita itu gak pernah sampai sepanik itu apalagi mengenai pegawainya saja. Dia itu kudengar sangat cuek, Seob," Ujar Jihoon dengan penuh semangat, "jadi kupikir Woojin-ssi tertarik padamu karena kemarin mengkhawatirkanmu sampai segitunya."
Sepertinya Hyungseob tidak lagi mendengar ucapan setelahnya, karena pikirannya masih tertuju pada Woojin yang pada malam itu mendatanginya dan menolongnya dari kerumunan pria yang hendak memperkosanya.
Apa Woojin benar-benar mengkhawatirkannya sampai seperti itu?
"Tapi, Seob," Hyungseob kembali menoleh kearah Jihoon, "Woojin-ssi itu menurutku tampan banget! Apalagi kalau sedang tersenyum lebar, bah! Gingsulnya itu lho!"
Tau-tau Jihoon sudah duduk disampingnya sambil membuka Instagramnya―yang membuat Hyungseob ikut penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Jihoon.
Ternyata Jihoon membuka profil Instagram milik direkturnya, Park Woojin.
"Sejak kapan kau tahu uname IGnya Woojin-ssi?" Ucap Hyungseob dengan sedikit berbisik.
"Apa sih yang enggak aku tahu selama ini, Seob?" Ah, Hyungseob lupa kalau wanita disampingnya ini adalah seorang yang handal dalam stalking, contohnya seperti sekarang.
Yang gak Jihoon tahu tentu saja tentang pernikahan Hyungseob dengan pria yang sedang ia stalk saat ini. Untung saja gak tahu, batin Hyungseob.
Tapi... Hyungseob bahkan gak tahu menahu soal Instagram suaminya yang bahkan rekannya saja tahu. Padahal ia kan istrinya, kenapa ia benar-benar gak tahu apapun soal Woojin, ya?
Mungkin karena ia terlalu fokus dengan Seongwoo sampai-sampai melupakan suaminya sendiri.
"Dari sekian banyak yang ku stalk, aku paling suka ngelihat IGnya Woojin-ssi."
Dahi Hyungseob mengerut, "kenapa begitu?"
Jihoon menggeser jarinya dan menekan ibu jarinya pada salah satu foto yang ada.
"Woojin-ssi ini suka sekali traveling dan fotografi," jelas Jihoon lalu menggeser foto itu hingga terlihat sebuah caption yang ada, "dan dia juga suka sekali membaca, termasuk sastra dan literatur lainnya. Idaman sekali, bukan?"
Hyungseob tak sengaja melihat tanggal postingan foto itu di upload. Tanggal 9 april, dimana pada saat itu merupakan musim semi dan tanggal itu...
... Merupakan hari dimana seorang Park Woojin mendatanginya yang sedang berduka atas meninggalnya sang ibunda dan melamarnya tepat di siang hari pada musim semi itu.
Wanita itu ingat betul pada saat itu, ia yang tak tahu apa-apa dengan polosnya membuka pintu dan menemukan sosok Park Woojin dengan balutan jas hitam dan celana bahan hitam yang formal, menemuinya pada siang hari di musim semi―disaat penampilannya masih berantakan dan matanya yang bengkak karena terus terusan menangisi ibunya yang meninggal 2 hari yang lalu―kemudian mengatakan sesuatu yang membuatnya kaget setengah mati.
"Ahn Hyungseob, menikahlah denganku!"
Untung saja pada waktu itu Hyungseob belum benar-benar kembali seperti biasanya, sehingga ia tidak menghajar wajah pria bersurai cokelat itu sampai babak belur. Dan wanita itu pun mendapatkan penjelasan dari orang tua Woojin setelah dirinya―yang sudah mengganti baju dengan yang lebih rapih―dibawa ke kediaman orang tua dari Park Woojin.
Walau penjelasan itu cukup memberatkannya karena mau tak mau ia harus menerima lamaran dari Woojin yang bahkan ia sendiri lupa apakah ia pernah bertemu dengannya sebelumnya―dan beberapa hari setelahnya ia baru menyadari kalau Woojin adalah direktur dari perusahaan tempatnya bekerja―, tetapi disisi lain ia bersyukur bertemu dengan keluarga Park disaat Hyungseob membutuhkan seseorang untuk bersandar. Saudaranya berada jauh dari tempatnya, dan mungkin hanya beberapa tahun saja ia bisa menemui saudaranya. Bahkan wanita ini sudah menganggap keluarga Woojin sebagai keluarganya sendiri, dan ia bersyukur akan hal itu.
Tunggu, kenapa jadi membahas masa lalunya?
"Seob, pipimu memerah tuh."
Sial. Sial. Sial.
"Kamu suka sama Woojin-ssi ya―"
"Ya enggaklah, bodoh!" Potong Hyungseob lalu mengipasi wajahnya, "hari ini panas banget, makanya mukaku jadi gampang memerah, Hoon." ia beralasan kemudian kembali melihat foto yang di upload suaminya pada tanggal 9 april itu.
Terdapat foto pepohonan sakura yang berguguran dengan indahnya yang dibubuhi efek yang menambah keindahan dari hasil jepret pria bermarga Park ini. Tetapi yang membuatnya termenung bukan fotonya, melainkan captionnya.
'Found you.'
Tentu saja wanita itu bingung. Karena dari setiap foto yang ada, caption yang ia tulis pasti berupa sebuah quotes dari buku yang ia baca. Tetapi foto ini berbeda dari yang biasanya. Kira-kira ada apa, ya? Hyungseob masih menaruh rasa penasarannya terhadap foto ini.
"Eh, ada Woojin-ssi!"
Hyungseob dan Jihoon yang sudah selesai makan dan berjalan menjauhi kantin, dan tiba-tiba orang yang menjadi topik pembicaraan mereka berdua pun muncul. Mana mereka bertemu di tempat yang sepi, yang hanya ada mereka bertiga saja ditempat itu.
Dengan refleks, Jihoon membungkukan badannya dengan sopan. Berbeda dengan Hyungseob yang bertatapan dengan Woojin sebentar sebelum ikut menunduk sopan. Tetapi tangan Woojin menahan bahunya lalu mencondongkan badannya dan membisikan sesuatu yang tak terdengar oleh Jihoon pada Hyungseob.
"Nanti kita pulang bersama, jadi tunggu aku."
Setelah membisikan hal itu, Woojin kembali berjalan melewati mereka berdua. Meninggalkan Hyungseob dan Jihoon berdua dengan Hyungseob yang masih melongo, sementara Jihoon tersenyum lebar.
"Hari ini Woojin-ssi terlihat tampan sekali―loh Seob, mukamu memerah lagi!"
Jadi, ada apa dengan Park Woojin hari ini?
・
・
・
Hyungseob benar-benar menunggu suaminya di ruangan Hyungseob, karena Woojin berpesan agar menunggunya disitu saja. Dan ia menunggu, bahkan sampai ruangan itu kosong dan hanya bersisa dirinya yang duduk di depan meja kerjanya sambil mengetukan jarinya di meja, menghilangkan rasa bosan dari kegiatannya menunggu suaminya, entah untuk apa ia melakukan hal ini.
Dan pintu ruangan kerjanya terbuka, menampilkan sosok Woojin dengan jas yang ia bawa di lengannya, juga pipinya yang sedikit memerah―hal yang tidak diketahui oleh Hyungseob saat ini.
"Yuk pulang."
Kerumah kita.
Ingin rasanya Woojin mengucapkan hal terakhir yang ada di benaknya, tetapi lidahnya terasa kaku dan ia hanya bisa mengucapkan kedua kata barusan. Dan pria itu merasa sebagai manusia yang paling pengecut di dunia ini.
Tetapi melihat Hyungseob yang sudah berada di hadapannya, membuatnya mendapat suatu ide di otaknya.
"Tapi sepertinya kita akan pergi ke suatu tempat dulu."
・
・
・
Saat ini, pukul 8 malam.
Dan Woojin benar benar membawanya ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum pulang kerumah mereka.
Pria bermarga Park itu memarkirkan mobilnya lalu membawa Hyungseob ke sungai Han.
Iya, Woojin membawa Hyungseob ke sungai Han, entah apa maksudnya.
Pria itu memarkirkan mobilnya dan sekarang mereka berdua berjalan beriringan mengintari sungai terbesar di Korea Selatan itu, dengan Hyungseob yang takjub melihat pemandangan yang ada.
"Wah, aku belum pernah melihat sungai Han di malam hari seperti ini, lho!" Wanita itu berseru dengan semangat sambil menaruh tangannya pada pegangan yang ada di pinggir, membuat Woojin menghentikan langkahnya dan berdiri di samping Hyungseob dan tersenyum.
"Maaf ya jadi membawamu kemari."
"Kenapa harus minta maaf?" Woojin menoleh dan menemukan sosok istrinya tersenyum manis dan sangat lebar kearahnya, "justru aku berterima kasih padamu karena telah mengajakku kemari, Woojin!" Lanjutnya dengan riang, hal yang sangat jarang Woojin dengar sebelumnya.
Awalnya Woojin sempat terdiam, kemudian tangannya mengelus surai hitam sang wanita dengan lembut dan tersenyum.
"Kamu menggemaskan sekali," dan ucapan Woojin berhasil memunculkan semburat merah di pipinya. Rasanya panas. Untung saja ini sudah malam, sehingga hanya terdapat cahaya yang penerangannya kurang dan Woojin takkan melihat wajahnya yang memerah begini.
Suasana hening kembali menyelimuti mereka. Dengan Hyungseob yang menaruh tangannya yang terlipat di pagar yang melintang di sekitar jalanan sungai Han, juga Woojin yang ikut menaruh tangannya dan keduanya menatap hal yang sama. Pemandangan sungai Han yang terpampang jelas dihadapannya.
"Bukankah indah sekali pemandangan di malam hari?" Woojin menoleh, mendapati istrinya tengah tersenyum sambil menatap pemandangan yang terhampar dihadapannya, "rasanya aku jadi tak ingin pulang.."
Sang pria mendengus geli mendengarnya, "kau bisa sakit kalau begitu."
"Iya sih, hehe," setelahnya sang wanita terkekeh. Terdengar merdu di telinga Woojin, entah mengapa. Rasanya ia ingin terus menerus mendengar istrinya tertawa seperti itu, "ngomong-ngomong, ada angin apa kau mengajakku kemari?" Tanya Hyungseob lalu menoleh kearah suaminya yang membuatnya tertegun sebentar.
Woojin pada malam ini terlihat cukup tampan di mata Hyungseob. Jas hitam yang masih ia sampirkan pada tangan kirinya, lalu tubuh Woojin yang besar―tidak terlalu besar tapi cukup proporsional, bahu lebar sang pria dan kemeja putih yang membalut tubuh atletis sang pria, juga rambut cokelat yang berponi―Hyungseob biasanya hanya melihat rambut berponinya ketika di rumah, karena ketika di kantor Woojin akan menggunakan gel rambut sehingga poninya terangkat.
Semua yang ia lihat pada malam ini entah mengapa membuat jantungnya berdegup kencang.
Woojin menatap Hyungseob, dan yang ditatap kembali merasa pipinya memanas untuk yang kesekian kalinya, "aku hanya.. Ingin kesini saja. Bersamamu."
"Apa tidak boleh?"
Tentu saja Hyungseob bingung harus menjawab apa, dan pemandangan ini merupakan hal yang sangat menarik bagi pria bermarga Park itu.
"T-tentu saja boleh!" Balas Hyungseob, "lagipula.. Kita juga tidak pernah pergi berdua atau semacamnya."
Setelah mengucapkan hal itu, barulah Hyungseob menyadari kesalahannya.
Sial.
Kenapa ucapannya terdengar seperti kode atau semacamnya?
Hyungseob berharap Woojin tak akan menangkap maksud lain dari ucapannya, tetapi apa yang terjadi justru kebalikannya.
"Kita bisa pergi berdua bila kau mau. Melakukan kencan ke taman atau ke tempat yang mengasyikan lainnya, mungkin?"
Hyungseob menoleh dan mendapati Woojin tengah menatapnya dalam. Sangat dalam, hampir membuatnya kewelahan sendiri karena sibuk mengatur detak jantungnya yang menggila dibalik kaosnya.
Tau tau Woojin mendekatkan badannya sedikit dengan matanya yang masih menatap Hyungseob dengan tatapan yang tak bisa diartikan, "aku ingin sekali menghabiskan banyak waktu suntukku bersama orang yang menjadi istriku. Sejak dulu, aku selalu mengharapkan hal yang sama.."
Dan dekapan hangat itu kembali lagi.
Woojin memeluk tubuh mungil sang istri, sementara Hyungseob masih berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.
Dekapan itu.. Membuat Hyungseob terus menerus merasa nyaman. Membuatnya merasa menjadi orang yang paling beruntung, entah karena apa.
Mungkin karena seorang Park Woojin memeluknya? Direktur perusahaannya yang memiliki banyak penggemar itu memeluknya? Tetapi.. Rasanya berbeda.
Hyungseob merasa pelukan itu membuatnya terlindungi, membuatnya merasa dicintai dengan sepenuh hati. Tetapi Hyungseob sendiri tidak mengerti dengan jelas perasaan apa yang menyelimutinya ketika pria bermarga Park itu memeluknya.
"Aku ingin sekali bersikap egois terhadap istriku. Aku ingin sekali bersikap posesif terhadap istriku..." Kembali Woojin mengeratkan dekapannya, dan suara baritone itu terdengar jelas di kuping Hyungseob yang membuat wajah sang wanita kembali memerah, ".. Dan aku ingin sekali berada di sisi istriku untuk selamanya, begitupun dengannya."
"Karena itulah aku ingin sekali bersikap egois, membuat istriku untuk terus berada di sisiku dan membuatnya menjadi milikku. Hanya untukku. Dan hanya menatapku, bukan orang lain."
Dan ketika Woojin mengatakan hal terakhir, Hyungseob semakin tertohok. Selama ini, Hyungseob baru menyadari perasaan Woojin terhadapnya dan segala hal yang dilakukan Woojin merupakan sebuah pertanda jelas perasaan spesial dari Woojin untuknya. Lalu kenapa.. Kenapa Hyungseob selalu buta dan tidak menyadari hal seperti ini?
Bodohnya ia yang terus menerus memikirkan hal lain, bahkan melupakan seorang lain yang menaruh perasaan kepadanya. Seseorang yang terus menerus memberikan sebuah afeksi yang ditangkap hanya sebatas 'pelampiasan' oleh sang wanita itu sendiri. Hyungseob terus merutuki kebodohannya, bahkan disaat masih berada dalam dekapan suaminya seperti ini.
Tau tau tangan sang wanita terangkat untuk membalas pelukan sang suami dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria bermarga Park itu. Dan disaat itulah, Woojin melonggarkan pelukannya namun tangannya masih memeluk pinggang Hyungseob.
"Ahaha, maaf ya. Aku terdengar sangat melankolis saat ini," Woojin terkekeh pelan, membuat Hyungseob tertegun sebentar karena tawa manisnya yang membuat gingsulnya terlihat dengan jelas, "tapi aku gak main-main kalo aku bilang aku menyukai istriku sendiri."
Hyungseob melebarkan matanya sebentar.
Hah?
"Iya, Ahn Hyungseob," Woojin mengangkat satu tangannya lalu mengelus pipi Hyungseob dengan lembut lalu tersenyum, "aku menyukaimu. Aku menyukai istriku, yang sekarang sedang berada didalam dekapanku."
"T-tapi, kenapa..?"
Suasana kembali menjadi hening, dan Woojin kembali mengelus pipi Hyungseob, bahkan sekarang mengelus tengkuknya.
"Memangnya ada yang salah dari seorang suami yang menyukai istrinya sendiri?"
Dan Hyungseob menunduk.
Disaat Hyungseob menunduk itulah, Woojin mengambil kesempatan untuk mengecup singkat kepala Hyungseob lalu melepas pelukannya dan menyengir lebar.
"Aku menyukaimu. Oleh karena itu, biarkan aku bersikap egois untuk orang yang kusuka."
Sial. Pipi Hyungseob terus menerus memerah dan memanas, bahkan udara dingin di sekitarnya tidak membantu apapun untuk hal ini.
"Lalu mulai besok, aku yang akan mengantar dan menjemputmu ke kantor. Kita akan berangkat bersama," akhirnya setelah sekian lama memendam, Woojin berhasil mengatakannya. Walaupun ia masih merasa gugup dengan ucapannya, apalagi melihat reaksi yang diberikan oleh istrinya.
Tetapi bukan itu yang menjadi hal yang di pikirkan oleh Hyungseob. Melainkan...
"Bagaimana kalau aku masih belum bisa menyukaimu bahkan sampai bertahun-tahun sekalipun?"
Woojin mendengus geli.
"Kenapa harus dibuat susah? Tentu saja aku akan membuatmu menyukaiku dan membuat atensimu hanya tertuju padaku," Woojin tersenyum lebar, "aku akan benar-benar membuatmu lupa dengan kak Ong dan membuatmu jatuh cinta padaku!"
Ucapan Woojin bukanlah alasan kenapa Hyungseob melongo hebat.
Tetapi kecupan singkat pada pipinya lah yang berhasil membuatnya tercengang dan membuat pipinya kembali memanas.
"W-Woojin!"
Setelahnya, Hyungseob berlari mengejar Woojin yang sudah berlari sambil tertawa sementara sang istri terus mengejar suaminya dengan wajah yang memerah, dan mereka terus melakukan hal itu di sungai Han yang sepi oleh pengunjung.
Biarlah mereka pulang larut hanya karena masalah ini, karena mereka tahu bahwa momen seperti ini tidak akan pernah terulang lagi.
Dan Woojin bersyukur telah membawa istrinya kemari.
Juga menyatakan segalanya dengan sungai Han sebagai saksi atas segalanya.
Mungkin sehabis ini ia akan banyak banyak berterima kasih pada Haknyeon karena telah memberinya petuah sehingga ia bisa merealisasikan ini semua.
・
・
・
・
・
Halo! Akhirnya aku mengupdate fanfic ini setelah sebulan ku anggurin karena menyibukkan diri di real life huhuhu.
Sumpah ini chapter yang menurutku agak boring karena buntu ide, jadi maafin ya kalo begini gini aja :")) tapi aku janji next chapter bakal ada konfliknya kok, jadi tungguin aja ya?
Anyway, aku gak nyangka ternyata banyak yang se pemikiran sama aku soal JinSeob yang itu (?), dan aku gak nyangka kalo ffku yg ini dilirik huhuhu, terima kasih banyak! :"))
Tapi aku mau negasin aja, disini aku bakal bikin banyak pairing yang gak terduga dan crack. Jadi kalo kalian gak suka dengan crack pairing yang kubuat, sebaiknya stop aja sampai disini. Daripada syok di tengah tengah dan gak feel lagi, lebih baik ku kasih peringatan di awal.
Makasih buat semua yang udah mampir dan review, fav dan follow! Makasih juga loh buat haters JinSeob yang ninggalin review tapi di chapter ke 2 :)) kamu terlalu niat loh, aku terharu dan ngakak WKWKWKWKWK.
Sekali lagi, makasih yaa! Kecup basah dari kanashiaru /o/~
