Woojin benar-benar merealisasikan ucapannya pada waktu itu.
Selama seminggu ini, Woojin terus menerus berada di dekat Hyungseob dan selalu berangkat bersama—walau Hyungseob masih tetap menutupi kedekatannya selama di kantor. Well, selama Hyungseob yang meminta tentu saja Woojin tidak masalah. Toh ia percaya, Hyungseob masih belum ingin semuanya terbongkar secara tiba-tiba.
Dan juga.. Hyungseob masih belum menaruh perasaan apapun terhadapnya. Jadi ia tidak boleh langsung membocorkannya, karena ia takut sekali dibenci oleh istrinya sendiri.
Sampai segitunya.
Padahal Woojin tidak tahu, bahwa selama seminggu ini Hyungseob sudah jarang sekali mengkontak Seongwoo dan pikirannya terus dipenuhi oleh sosok bermarga Park itu.
Tidak, Hyungseob bukannya menyukai pria itu—tentu saja tidak, hell! Mana mungkin ia melupakan Seongwoo secepat itu, dan menurutnya jika Hyungseob menyukai Woojin.. Rasanya terlalu cepat.
Tetapi Hyungseob tak merasa risih ketika Woojin berada disisinya. Ia juga tidak merasa kesal atau semacamnya ketika Woojin berkata bahwa ia akan menjadi 'posesif' terhadapnya, padahal wanita itu termasuk seseorang yang sangat benci jika orang lain mulai berlaku posesif terhadapnya; kecuali ibunya sendiri, dan ibunya sendiri tidak melakukan hal itu terhadapnya.
Dan terakhir, Hyungseob baru menyadari bahwa Woojin hanya akan tersenyum lebar padanya, sementara di kantor ia hanya akan tersenyum tipis kepada orang lain. Sangat amat tipis, bahkan sepertinya jarang terlihat.
"Hyungseob? Kau kenapa memasang tampang begitu?"
Wanita yang dipanggil namanya langsung tersadar dari hal yang ia lakukan lalu tersenyum kikuk, "eh? Memangnya aku kenapa, Taedong-ah?" Sang wanita Ahn malah balik bertanya.
Taedong nampak berpikir sebentar sebelum melontarkan sesuatu kembali.
"Kau tahu? Setelah kita berpapasan dengan Daehwi yang baru saja keluar dari ruangan direktur, mukamu terlihat sedikit..." Pria bermarga Kim itu menggantungkan sedikit kalimatnya kemudian menaruh jarinya dibawah dagu—gaya berpikir, "... Murung dan sedih, kurasa?"
"Eh? Apa iya?" Hyungseob refleks menyentuh kedua pipinya lalu menepuknya pelan, kemudian memasang senyum cerianya, "aku gak apa, kok! Lagian, murung buat apa coba?" Balasnya dengan semangat.
Pria dihadapannya mengedikkan kedua bahu lalu menyengir, "mana kutahu? Siapa tahu kau cemburu karena akhir-akhir ini Daehwi sering sekali terlihat bersama dengan direktur Park?"
"Cemburu gima—"
"Selamat siang, direktur Park!"
Hyungseob dan Taedong menoleh kemudian menemukan sosok direktur mereka yang berjalan melewati mereka dengan sedikit senyuman di bibir. Mereka berdua pun ikut membungkukkan badannya sebentar lalu mata Hyungseob bertatapan dengan mata direkturnya—Woojin—sampai akhirnya...
"Direktur Park!"
... Suara itu memutus kontak mata mereka.
Wanita bermarga Ahn—atau Park?—itu menoleh kearah sumber suara, menemukan sosok wanita dengan surai cokelat madu panjang berjalan kearah direkturnya dengan senyuman lebarnya.
"Ada apa, Daehwi?"
Suara itu. Juga tatapan yang di torehkan Woojin kepada sosok wanita itu membuat Hyungseob kembali bertanya-tanya dalam hati.
Sementara wanita itu—Daehwi—mencondongkan badannya hingga terlihat sangat amat dekat posisinya dengan sang direktur, "direktur Park, aku menemukan se—ah tidak, mari kita bicarakan hal ini...
... Berdua."
Berdua, katanya.
Setelahnya, Daehwi dan Woojin pergi ketempat lain, meninggalkan orang-orang disekitarnya dengan penuh tanda tanya. Begitu pula dengan...
"Hyungseob-ssi, jangan sedih begitu dong? Aku gak punya balon buat menyenangkan hatimu, nih!"
... Apa kesedihan dan rasa penasaran itu terlihat jelas di wajah Ahn Hyungseob?
Terlebih, setelah melihat kedekatan suaminya dengan rekan kerjanya sendiri?
•
•
•
To: You
From: Park Woojin-ssi
Sepertinya kita tidak bisa pulang bersama hari ini, tetapi aku sudah menyuruh supir untuk menjemputmu. Tak apa, kan? Sekali lagi, aku minta maaf.
Hyungseob tersenyum kecut seusai membaca pesan dari suaminya disaat ia sudah berada dalam bus menuju ke rumahnya. Rumah mereka.
Dengan lihai, Hyungseob mengetik pesan balasan—karena wanita itu sudah terlebih dulu pulang sebelum Woojin mengirimkannya pesan, agar supir yang sudah disuruh oleh Woojin untuk kembali dan tidak menjemputnya.
Setelah mengirimkan pesannya, Hyungseob menekam tombol 'berhenti' yang ada di setiap kursi bus, lalu turun setelahnya. Matanya menatap ramai hiruk piruk manusia yang ada di pasar modern di hadapannya.
Ya, Hyungseob berniat untuk membeli keperluan untuk memasak dan untuk keperluannya sendiri.
Memasak? Bukankah di rumahnya sudah ada tukang saji yang memasak?
Entahlah, semenjak hari 'itu', Woojin sering sekali meminta Hyungseob memasak dan alhasil Woojin sangat menyukai masakannya sehingga Hyungseob jadi terbiasa untuk memasak—tidak ada paksaan disini. Tetapi sejak kemarin ia hanya memasak untuk dirinya sendiri dan Woojin selalu pulang larut kembali, seperti kebiasaannya dulu.
Namun wanita itu masih saja membeli keperluan memasak saat ini.
Setelah membeli keperluan memasaknya, barulah ia kembali berjalan di dalam pasar modern itu untuk melihat-lihat—barangkali ia menemukan keperluannya.
Tetapi iris matanya malah menemukan sosok yang sangat familiar dari kejauhan.
"Woojin-ssi?"
Awalnya Hyungseob berniat menghampirinya bila saja seorang wanita bersurai cokelat madu tidak mendatanginya dan senyuman di bibir Woojin tidak terpoles melihat kedatangan wanita tersebut.
Dan makin kaget saat ia tahu bahwa wanita tersebut adalah...
"... Daehwi?"
Sosok wanita itu adalah Daehwi, terlihat ketika wajah itu menoleh dan Hyungseob dapat melihat dengan jelas dari samping wajah familiar itu.
Dan lagi.. Mereka terlihat sangat amat dekat dengan canda tawa seperti itu.
Astaga, kenapa rasanya ia tidak nyaman dan risih melihatnya?
Namun tentu saja Hyungseob tidak diam ditempat dan mengabaikan hal itu. Ia mengikuti mereka—mengendap-endap—seperti seorang stalker, dan bersembunyi dibalik tembok terdekat. Dengan tangan yang masih memegang belanjaan itu.
"Woojin! Aku ingin beli sesuatu!"
Hyungseob sontak tersadar dan melihat Daehwi yang sudah menarik tangan Woojin, tetapi pria itu masih stay di tempatnya.
"Oh? Aku ikutan deh."
"Ya, kamu memang harus ikut!" Cengiran tak luput dari bibirnya, begitu juga di bibir Woojin. Tiba-tiba tangan mereka bertautan, membuat panas di hati Hyungseob terasa kembali. Dan jauh lebih panas dibandingkan sebelumnya.
Sepertinya setelah ini, Hyungseob harus konsultasi ke dokter karena rasa nyeri dan panas di hatinya setelah melihat kedekatan mereka berdua.
Terlihat mereka berdua memasuki salah satu toko kosmetik, lalu setelahnya mereka memasuki toko bunga yang sempat meninggalkan tanda tanya di benak Hyungseob, dan Woojin—yang terlihat membawa sebuah buket bunga di tangan—memberikan bunga itu kepada Daehwi dengan senyuman lebar yang tak lepas dari wajahnya. Kemudian Daehwi menerima bunga tersebut dan tangannya bergerak memukul pelan lengan sang pria, dan mereka tertawa lepas sepanjang perjalanan.
Sementara sang wanita Ahn sudah semakin merasa cemburu melihat kedekatan mereka sampai-sampai tangannya meremat kantong belanja dan terus terusan menghela napas.
Sejenak matanya melebar.
"Cemburu? Apanya cemburu, sih.." Satu tangannya bergerak menepuk pipinya pelan, berniat untuk mengembalikan dirinya kepada kenyataan, "kalaupun mereka memang punya hubungan khusus pun, apa urusanku? Aku kan sudah menyukai kak Ong!" Lanjutnya dengan kembali menghela napas panjang.
Maniknya menangkap kedua orang itu berada di depan sebuah restoran mewah dan ternama dan sedikit perbincangan diantara pelayan dan Woojin—Hyungseob tidak ingin mendengarnya, rasanya malas dan membuatnya kesal, entah kenapa. Lalu setelahnya mereka berdua masuk ke dalamnya dan menempati tempat yang dekat dengan jendela. Mau tak mau Hyungseob bersembunyi dibalik semak-semak dan kembali menjadi sorotan bagi orang-orang yang berjalan melewatinya.
"Seharusnya aku gak melanjutkan hal konyol ini," Hyungseob menghela napas panjang dan menatap mereka yang sedang tertawa kembali dengan tatapan.. Sedih? "Toh, aku seharusnya juga gak mencampuri urusan mereka."
Pipinya menggembung, entah tanpa disadari.
"Aku memang istrinya, tapi aku tak memiliki perasaan apapun padanya," gumam sang wanita, lalu satu tangannya sedikit terkepal, "tapi.. Kenapa rasanya sakit sekali, sih? Kesal sekali, apakah pernyataan cintanya kemarin hanyalah bualan belaka? Menyebalkan!"
Disaat seperti itu, tiba-tiba mata Woojin mengarah kearahnya dan sontak mereka berdua saling bertatapan dengan posisi Hyungseob yang masih ada di dekat semak-semak.
BRUG!
Dan Hyungseob terjungkal—setelah sedari tadi menyeimbangkan posisi jongkoknya dengan licinnya, kemudian mata Woojin yang melebar melihat sosok istrinya disana.
"Hyungseob?!"
•
•
•
"Hyungseob, bokongmu tidak apa-apa, kan?! Astaga, kok bisa sih.."
Setelah insiden 'terciduk' barusan, Woojin buru-buru keluar dari restoran tersebut bersama dengan Daehwi yang mengikutinya, kemudian membawa Hyungseob masuk ke restoran tersebut—yang saat itu masih terasa sakit akibat terjengkang barusan. Kini mereka kembali duduk ditempatnya dengan tambahan Hyungseob di samping Woojin.
"Gak apa kok, Daehwi. Yang sakit tuh hatiku—EH!" Hyungseob buru-buru menepuk bibirnya karena tiba-tiba keceplosan didepan mereka berdua yang masih tidak mengerti apapun, sementara Hyungseob kembali berdehem, "m-maaf ya, aku jadi mengganggu kalian berdua.."
Sementara Woojin masih terdiam melihat istrinya disamping, entah kenapa.
"Tidak mengganggu kok—"
"Sejak kapan kamu ada disana?"
Kedua wanita itu menoleh begitu suara Woojin mengintrupsi obrolan mereka. Dengan manik tajam yang menatap Hyungseob, membuat nyali Hyungseob menciut seketika.
"Seob?"
"S-sejak kalian memasuki toko kosmetik bersama.." Jawabnya dengan kepala yang menunduk, tak berani menatap mata Woojin yang masih menatapnya, sementara Daehwi di depan mereka tak tahu harus melakukan apa.
"H-hey, jangan begitu, Jin! Dia ketakutan, lho!" Ujar Daehwi.
Woojin kembali menatap Hyungseob lalu menghela napasnya, "mana mungkin aku marah kepadanya, Hwi. Aku takkan bisa marah padanya."
Dan tangan Woojin bergerak mengelus kepala Hyungseob, kemudian kepala itu terangkat, menatap Woojin tepat di matanya.
"Kamu salah paham, sepertinya."
Dahi Hyungseob mengerut, "salah paham gima—"
"Aku dan Daehwi itu saudara sepupu."
Hyungseob melebarkan matanya, menatap Woojin yang tersenyum dan Daehwi yang tertawa manis dihadapannya lalu berpose dua jari seperti yang biasanya ia lakukan.
"Sauda—apa?"
"Kami ini sepupuan."
"HAH?!" Barulah Hyungseob tersadar dan memekik karena pernyataan barusan, lalu menoleh kearah Daehwi, "s-sepupu? T-tapi kok.. Waktu itu.."
Sang pria terkekeh, lalu melepas tangannya dari puncak kepala sang wanita.
"Dia tidak datang ke acara waktu itu. Sakit parah, padahal hanya demam biasa sih. Tapi ia terlalu berlebihan sampai-sampai tak bisa bangun dari kasurnya," balasnya lalu menjulurkan lidahnya kearah Daehwi.
"Wah, kurang ajar kau, kak Woojin!"
"Lho, mendadak ada 'kak'nya."
"Menyebalkan!" Daehwi merenggut sebal, tetapi tersadar saat ada sesuatu yang cukup janggal, "eh, acara? Maksudmu acara apa..?"
"Dasar bodoh," Woojin berdecak kesal, "acara pernikahanku lah, acara apa lagi memangnya?"
Daehwi melotot kaget.
"Maksudnya?!"
"Ck, kau ini. Hyungseob ini istriku, tahu."
Kali ini giliran Daehwi yang memekik kaget sampai membuat sebagian atensi berpindah kepadanya, karena terlalu kaget.
"Kalian suami-istri tapi aku tak tahu apa apa?! Dan kalian gak menunjukkannya di kantor!" Daehwi—yang masih ribut sendiri—menunjuk mereka berdua dengan tampang kaget, sementara Hyungseob dan Woojin saling melempar pandangan.
"Kami memang merahasiakannya di kantor," Woojin menjelaskan semuanya kepada Daehwi sampai akhirnya kalimat 'OOOOH' keluar dari bibir sang wanita—menandakan bahwa sepupunya itu sudah paham. Mereka juga mengadakan suatu perjanjian agar tidak membocorkannya di kantor, dan dibalas dengan salam hormat dari Daehwi.
Diam-diam Hyungseob menghela napas dan tersenyum kecil. Karena ia merasa lega, juga senang karena ia mungkin bisa bertukar cerita dengan sepupu dari suaminya sendiri. Dan ternyata mereka hanyalah sepupu..
Buru-buru Hyungseob menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menghilangkan pikiran aneh di benaknya lalu tersenyum lagi.
"Lalu, apa yang sedang kalian lakukan disini?"
Woojin dan Daehwi yang sedang bermain tangan menoleh kearah Hyungseob.
"Oh, itu. Kami sedang menunggu—"
"Kak Youngmin!"
Ucapan Woojin reflek membuat kedua wanita disitu menoleh kearah pintu masuk restoran dan menemukan sosok pria bersurai merah yang menggandeng seorang wanita bersurai cokelat terang panjang dan berjalan menghampiri mereka.
"Kak Youngmin! Kita udah nungguin lama, tahu! Sibuk pacaran terus sih, mentang-mentang sebentar lagi nikah!" Daehwi meninju pelan lengan pria dihadapannya yang dibalas dengan kekehan dari sang pria yang dipanggil Youngmin ini.
Hyungseob tersenyum kearah pria dan wanita yang baru saja bergabung bersama mereka, karena ia sudah mengenal Youngmin sejak acara pernikahannya dengan Woojin dan pria ini banyak membantu mereka disaat pernikahannya berlangsung. Ya, Youngmin adalah kakak sepupu dari Woojin dan Daehwi.
"Wah, ada nona Hyungseob juga. Halo!"
"Kak Youngmin kenal Hyungseob? Gila, se-kudet apa aku sampai gak tahu kalau istrinya Woojin itu Hyungseob!"
"Kamu memang kudet, Hwi."
"AAARGH, Woojin berisik!"
"Ssssh, sudah sudah. Aku kan belum mengenalkan calonku ke Hyungseob. Diam dulu ya, kalian berdua," ucapan Youngmin sukses membuat kedua saudara sepupu itu bungkam dan pria itu kembali tersenyum kearah Hyungseob, "Seob, kenalin ini tunanganku dan calon istriku, Takada Kenta. Kita akan menikah bulan depan."
Wanita bermata rubah dan bergingsul itu membungkukan badannya dan memperkenalkan dirinya kepada Hyungseob, dan dalam waktu yang singkat pun Hyungseob dan Kenta sudah berhasil dekat dan mereka berkumpul untuk membicarakan hal penting mengenai pernikahan Youngmin dan Kenta mendatang.
"Tadi aku ngomongin konsep resepsi pernikahan kalian sama Woojin di kantor, tapi dia gak mudeng juga!" Ucap Daehwi dengan sedikit mencak-mencak untuk menyalurkan kekesalannya kepada direktur perusahaan tempatnya bekerja, "udah ku seret buat ngobrol berdua pun, dia tetep gak mudeng! Bodoh banget, kan?"
Hyungseob melirik kesamping, menatap suaminya yang tengah tertawa mendengar ucapan adik sepupunya lalu membuang pandangannya begitu tatapan mereka bertemu. Namun matanya melebar begitu merasakan tangan Woojin menggenggam tangannya yang dingin dibawah meja mereka dengan erat.
Pipinya memanas dan memerah, merasa malu karena beradu tatap dengan suaminya, dan menyesal karena sempat berprasangka buruk terhadapnya.
•
•
•
"Kak Youngmin sebentar lagi menikah, lalu kak Donghyun juga bakal menikah sama kak Sewoon. Aduh, ini sedang musim kawin kali, ya?"
Seusai pertemuan dengan calon suami-istri di restoran, mereka semua pergi dari restoran tersebut dan kini menyisakan Hyungseob bersama Woojin yang tengah menemani Daehwi yang sedang menunggu jemputannya.
"Mungkin kamu juga harus menyusul mereka? Minta Samuel untuk menikahimu saja," tutur Hyungseob dengan sedikit ledekan yang sukses membuat wajah manis Daehwi memerah.
Setelahnya, mobil milik Samuel datang kearah mereka dan akhirnya Daehwi pamit pulang meninggalkan mereka berdua di pasar modern tersebut. Hyungseob menunduk, sebisa mungkin menghindari tatapan dari Woojin yang masih menatapnya.
"Aku minta maaf," Hyungseob menoleh mendapati suaminya yang meminta maaf padanya, "kamu jadi salah sangka padaku, aku minta maaf karena menutupi banyak hal," lanjutnya, dibalas dengan gelengan dari Hyungseob.
"Aku tak apa, kok. Aku juga minta maaf karena berburuk sangka padamu," ujar sang wanita kepada Woojin lalu tersenyum tipis, membuat Woojin semakin gemas dan sontak mengusak kepala sang istri.
"Urusan kakak sepupuku ini memang sangat rumit, makanya aku dan Daehwi sejak kemarin membicarakan hal ini terus menerus. Sampai di kantor juga," terang Woojin, "maklum, dulunya kak Youngmin sempat ribut dengan kak Yongguk karena memperebutkan kak Kenta, sampai akhirnya kak Yongguk menyerah dan menikah dengan Shihyun. Hubungan mereka memang rumit."
Sang wanita mengangguk mendengar ucapan Woojin lalu kembali menatap tanah dibawahnya. Mereka berdua sedang berjalan dalam ramainya kerumunan manusia menuju ke mobil Woojin di parkiran.
"Kupikir kau berbohong padaku, Woojin-ssi."
Woojin menoleh kemudian terkekeh, "mana mungkin aku berbohong soal perasaanku sendiri? Terlebih padamu, Hyungseob."
"Kan kupikir begitu, Woojin," Hyungseob menggembungkan pipinya sambil mengeratkan pegangannya pada kantong belanjanya, membuat Woojin menyadari bahwa sedari tadi istrinya memegang sebuah kantong belanja.
Tangan Woojin langsung bergerak mengambil kantong tersebut dan membawanya. Sebelumnya ia melihat dulu isi dari kantong tersebut kemudian menoleh kearah Hyungseob—meminta penjelasan.
"A-aku tidak bisa berhenti membeli keperluan untuk memasak.." Pipi Hyungseob memerah, "semenjak kau bilang masakanku enak.. A-aku jadi sering sekali memasak, berharap kau akan memujinya lagi.. T-tapi kemarin kau tidak menyentuhnya—"
Cup.
Hyungseob terbelalak begitu merasakan bibir Woojin mengecup pipinya. Begitu mereka berhadapan, Hyungseob langsung bersitatap dengan Woojin yang sudah sedikit mensejajarkan tingginya dengan tinggi Hyungseob lalu tersenyum hangat.
"Maaf karena aku tidak memakan masakanmu kemarin, dan terima kasih karena sudah mau menuruti permintaanku yang seperti ini, Seobbie," kemudian tangan itu mengelus pipi wanitanya dan mencubit pipi itu pelan, "kali ini aku akan memakan masakanmu sampai habis tak bersisa! Mungkin aku bisa membantumu juga agar rasanya tambah nikmat?" Lanjutnya yang semakin memainkan pipi memerah sang istri, walau tangannya sudah terus menerus ditepuk oleh Hyungseob.
"Lehas, hihh! (lepas, ih!)"
"Gak mau."
"Ah, kamu itu menyebalkan sekali!" Setelahnya, tangan Woojin berhenti mencubit pipi Hyungseob dan tersenyum. Lagi-lagi tangan itu bergerak mengusak rambutnya dan lalu menggenggam tangan Hyungseob dengan erat.
"Seobbie, aku sangat mencintaimu, kau tahu itu, kan?"
Mata itu kembali beradu, kilatan di mata Woojin menjawab semuanya—meyakinkan Hyungseob bahwa; semuanya baik-baik saja, semuanya adalah keseriusan dari seorang Park Woojin.
"Ayo kita pulang.. Ke rumah kita."
Entah bagaimana bisa kalimat itu membuat Hyungseob berdebar, membuat kenyamanan yang selalu saja ia rasakan bersamanya, dan membuatnya terus menerus menginginkan momen ini. Semuanya, karena Park Woojin.
Dan Hyungseob berharap, semuanya akan baik-baik saja.
Bersama sang suami.
•
•
•
•
•
AAAAAA HALO SEMUANYAAA! Masih ada yang nungguin ini update gak sih? Kalo ada, maaf ya karena slow update banget dikarenakan authornya baru saja memasuki dunia perkuliahan yang nyantai tapi ga nyantai nyantai banget ((ini sok tau banget sih))
Aku gatel mau update ini soalnya gemes bgt liat update di fanbase JinSeob kalo akhir akhir ini Hyungseob sering jalan sama aktor namanya Dohyun, terus beberapa hari setelahnya Woojin ((DENGAN BANGSATNYA)) nge-ekspos jidatnya yang nyebelin itu!1!1!1! Apakah ini semacam kode kodean dari JinSeob?! WKWKWKW
Btw maafkan kalau updatenya kurang memuaskan, dan makasih buat yang udah mampir! Boleh dong RnRnya? Hehe~
Kecup basah dari kanashiaru! /o/~
