"... Aku bakal dateng ke— hey Seob, kamu dengar aku gak, sih?"
Sosok wanita yang sedang melamun itu menoleh ke kursi pengemudi di samping lalu melebarkan matanya dan menyengir kuda.
"Ehehe.. Maaf kak Ong, aku gak denger."
"Tuh kan, kebiasaan ya kamu."
"Y-ya— ya! Ish, kak Ong jangan cubit cubit pipiku gini dong!"
"Habisnya gak dengerin sih! Nih, rasakan kekuatan ultraman ganteng!"
"Hahahaha! Ya ampun, kak Ong! Geliiii!"
Entah kenapa, beberapa hari ini Seongwoo bersikeras untuk mengantar-jemput Hyungseob kembali—yang tentu saja diterima dengan baik dan antusias oleh sang wanita—, mungkin sudah 3 hari mereka melakukan ini kembali? Seperti dulu.
Iya dulu, ketika Woojin belum bersikeras mendekati Hyungseob seperti sekarang.
Ah, bicara soal Woojin, pria itu nampaknya agak kecewa karena wanitanya kembali memilih pria lain dibanding dirinya, tapi tentu saja ia tak boleh egois. Apalagi melawan Ong Seongwoo yang notabenenya merupakan pujaan hati Ahn Hyungseob.
Kembali lagi ke mobil, yang didalamnya terdapat sosok Seongwoo yang tengah menggelitiki Hyungseob dan tawa geli terdengar membahana dalam mobil tersebut—sepertinya asyik sekali menunggu lampu lalu lintas berganti warna hingga seperti ini.
"Seob, nanti aku gak bisa jemput ya.. Ada urusan, gak apa kan?"
Sang wanita menoleh dan tersenyum tipis—bahkan Seongwoo tidak menyadari perubahan pada raut wajah Hyungseob, "gak apa-apa kok! Nanti aku nebeng temen aja pulangnya, hehe!" Balasnya dengan riang—berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang cukup bersedih mendengar ucapan pujaan hatinya.
Lagipula, sudah lama sekali Seongwoo tidak mengajaknya pergi bersama seperti ini. Dan ketika pria itu tak lagi bisa mengajaknya pergi bersama, Hyungseob merasa cukup sedih.
Kalau saja tak ada Woojin, mungkin Hyungseob benar-benar akan galau karena ditinggal Seongwoo seperti ini.
Ah, Woojin ya...
Hyungseob menunduk, memainkan ujung handphonenya yang sepi akan notifikasi—sedikit berharap akan adanya notifikasi dari suaminya itu, sekedar salah kirim pun Hyungseob tak masalah, asalkan Woojin mengirimkannya pesan...
Eh, Hyungseob memikirkan apa, sih?!
Buru-buru Hyungseob menepuk pipinya pelan lalu membuang pandangannya kearah jendela, sementara Seongwoo di kursi kemudinya melirik kearahnya dan berniat untuk mengucapkan sesuatu.
"Ehm, Hyungseo—"
"Ah, kak! Sudah sampai!" Hyungseob memotong ucapan Seongwoo yang ia sendiri tak sadar bahwa pengemudi mobil tersebut sedang berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu langsung menoleh kearah Seongwoo lalu tersenyum lebar, "yaudah ya kak, aku pergi dulu! Makasih ya, kak Ong!" Kemudian wanita itu keluar dari mobil, meninggalkan Seongwoo yang masih melongo dan pada akhirnya terkekeh melihat tingkah laku wanita yang sudah dianggap adiknya ini.
Hyungseob melangkahkan kaki jenjangnya memasuki gedung kantornya, menemukan sosok wanita yang melambaikan tangannya—menyuruh Hyungseob untuk mendekat kearahnya.
"Gunhee!" Ujar Hyungseob lalu mendekati wanita tersebut, "kamu ngapain disini?"
"Nungguin kamu aja kok, Seob."
"Jangan bohong, ah. Mana mungkin kamu nungguin aku sampai segininya, hm?"
"Hehehe, iya deh iya. Aku nungguin Donghyun sama Hwanwoong, biasa lah nyari tumbal buat nyetor kerjaan."
"Huh, dasar. Padahal tadi Jihoon ngechat aku, bilangnya mau nyetor berkas."
"EH DEMI APA? YAH YAH YAH—"
"Sssst, berisik ah!"
Kemudian Hyungseob menggeret Gunhee untuk kembali ke ruangan kerja mereka. Tetapi terhenti sejenak untuk memberi ruang berjalan direkturnya beserta manajer dan krunya yang lain.
Dan juga terdapat kerumunan lain yang cukup asing bagi mereka—mungkin rekan bisnis perusahaannya.
Setelah menunduk, Hyungseob sempat bertukar pandangan dengan sosok direkturnya. Walau tidak terlalu dekat, tapi entah mengapa Hyungseob merasa lega karena suaminya itu baik-baik saja..
Tunggu, apa?
"Astaga.. Aku benar-benar.."
"Pssst, Hyungseob!"
Hyungseob menoleh setelah mendengar namanya dipanggil dengan bisikan, yang pada akhirnya membuat matanya melebar dan mulutnya ikut menganga tak karuan melihat sosok yang memanggilnya barusan.
"Kak Ong?!"
•
•
•
"Nampaknya anda terlihat senang sekali, Seongwoo-ssi."
Pertanyaan basa-basi itu terlontar dari bibir Park Woojin yang sedari tadi terdiam dan memerhatikan manajer dari perusahaan lain yang berada di sampingnya dan terkikik sendiri setelah melewati beberapa pekerjanya menuju ke ruangan meeting.
"Bukan hal yang besar kok, Woojin-ssi."
"Mungkin anda baru saja melihat kerabat disini?"
Skakmat! Ucapan Woojin berhasil melebarkan senyuman seorang Head Manager dari perusahaan H&G Corporation. Dan Woojin memang sengaja menanyakannya begitu...
... Karena memang ia mengetahui dengan baik siapa orang ini.
Ong Seongwoo.
Rivalnya—bukan, maksudnya adalah seseorang yang sangat dikenal oleh istrinya yang baru saja melempar pandangan kearah mereka.
Pria disampingnya tersenyum tipis menanggapi ucapan direktur dari perusahaan yang akan melakukan kerja sama kembali dengan perusahaannya.
"Saya baru saja melihat adik yang bekerja dalam perusahaan anda," Woojin sedikit menaikkan alisnya mendengar ucapan Seongwoo, "ah, bukan adik kandung, sih. Lebih tepatnya, saya yang mengakui bahwa dia adalah adik saya."
Tahu-tahu sang pria tersenyum kecil, dan sempat tertangkap oleh ekor mata seorang Park Woojin disampingnya.
"Aku sangat senang melihatnya bahagia."
Ucapan itu terdengar seperti gumaman, tetapi Woojin masih bisa mendengarnya dari samping. Walau pada akhirnya Woojin tak bisa mengucapkan sepatah kata apapun untuk menanggapinya—cukup tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Mereka dan rekan lainnya memasuki ruangan rapat dengan keheningan yang tercipta. Walau Woojin terlihat banyak pikiran hari ini, tetapi ia mampu menyelesaikan pekerjaannya dalam meeting ini dengan baik.
Meeting hari ini pun berakhir, namun Woojin tetap duduk di tempatnya dengan beberapa berkas yang masih harus ia baca dan teliti—walau sebenarnya ia bisa saja mengerjakannya di ruangannya. Ia juga mengabaikan ramai dan hangatnya suasana yang berbincang satu sama lain—yang pasti membicarakan hal lain selain pekerjaan.
"Ah, rupanya anda masih disini."
Sang direktur mengangkat kepalanya, menemukan sosok manajer dari perusahaan lain yang memanggilnya dan tersenyum lebar. Bila sudah selesai masalah pekerjaan, mereka memang bisa dibilang cukup dekat.
Woojin mengernyitkan dahinya, "anda tidak kembali ke kantor?"
"Anda mengusir saya?" Seongwoo tersenyum mengejek, sementara yang diejek hanya balas mendengus, "ngomong-ngomong, saya ingin memberikan sesuatu pada anda, Woojin-ssi."
Entah mengapa Woojin mulai merasakan firasat yang tidak enak, tetapi pada akhirnya ia berusaha menapik firasat tersebut dengan wajah santai.
Dan setelah Seongwoo mengeluarkan sesuatu dari tasnya, Woojin melebarkan matanya dan kembali membenarkan firasat buruk yang ia duga sebelumnya.
Karena.. Firasat itu benar adanya.
•
•
•
"Kak Ong! Kok gak bilang kalau kakak bakal kesini?"
Seusai meeting dengan perusahaan tempat Seongwoo bekerja, manajer itu menghubungi Hyungseob untuk mengajaknya bertemu sebentar di salah satu lorong yang cukup sepi dan jarang ada pegawai yang melewati itu, yang tentu saja ditanggapi dengan semangat oleh sang wanita.
Tenang saja, Seongwoo bukan termasuk bajingan yang akan mencari kesempatan dalam suasana begini, kok. Toh, Hyungseob kan sudah ia anggap sebagai adiknya yang paling manis.
Sementara sang wanita merasa jantungnya berdegup kencang melihat Seongwoo yang terkekeh lebar dihadapannya. Walau tadi pagi ia sudah bertemu dengannya, tetapi sang wanita tetap merasa gugup.
"Tadi kakak akan mengatakannya padamu, bodoh. Tapi kau malah kabur dengan seenak jidatnya. Menyebalkan."
"Y-ya, aku kan gak tahu! Kakak sih!"
"Kan kamu yang salah, tapi kakak tetap disalahkan. Sedihnya~"
"Kakak memang selalu salah, haha!"
Waktu lowong itu mereka habiskan dengan berbicara dan berguyon ria, sampai akhirnya Seongwoo berhenti berguyon dan menatap Hyungseob serius.
"Seob, kayaknya kakak harus membicarakan ini sama kamu."
Deg.
"Membicarakan.. Apa?" Suara Hyungseob terasa tercekat dan degup jantungnya kian terasa semakin kencang. Membicarakan apa?! Dan kenapa rasanya Hyungseob.. Mempunyai firasat yang tidak mengenakan?
Sebelum melanjutkan ucapannya, Seongwoo terlebih dulu menghela napas panjang. Setelahnya, sang pria menatap wanita dihadapannya dengan penuh keseriusan.
"Hyungseob, sebenarnya aku.."
"Sedang apa kalian disitu?"
Ucapan Seongwoo terpotong oleh suara lain yang mendekat kearah mereka berdua, juga membuat Hyungseob melebarkan matanya karena kaget.
"P-pak direktur!" Tutur Hyungseob dengan gugup—entah gugup karena apa, "m-maafkan kelancangan saya karena malah membolos kerja, saya akan kembali—"
"Oh, Seongwoo-ssi? Anda belum kembali?" Bukannya menanggapi, Woojin malah menoleh ke lawan bicara pegawainya dan menyilangkan kedua tangannya dengan angkuh—walau kelihatannya ia tidak bermaksud begitu. Sementara yang diledeki begitu hanya mendengus geli.
"Saya sedang bertemu dengan adik saya, Woojin-ssi. Padahal saya akan membicarakan hal serius dengannya, tetapi anda malah mengganggu kami," tutur Seongwoo yang kembali membuat wajah Hyungseob memerah. Buru-buru sang wanita menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memanas itu.
Woojin menoleh kearah Hyungseob, kemudian mendecakan lidahnya.
"Memangnya ada seorang adik yang menyukai kakaknya sendiri dalam diam?"
"Eh?!" Hyungseob membelalakan matanya mendengar ucapan dari direktur—yang merupakan suaminya ini. Apa maksudnya ini? "A-apa maksud anda, pak?"
Sementara Seongwoo masih menatap Woojin dengan tatapan bingung, "apa maksudmu, Woojin-ssi?"
Woojin melebarkan seringai remehnya.
"Wanita ini," tahu-tahu tangan Woojin meraih pinggul Hyungseob dan memeluknya dari samping, "tch, apa kau tidak menyadarinya? Jelas-jelas ia menyukaimu—ah tidak. Ia mencintaimu, bodoh."
Deg.
Napas Hyungseob terasa tercekat, sementara jantungnya berdegup kencang dan maniknya melebar karena kaget—tak percaya dengan ucapan gamblang direkturnya, yang membongkar rahasia besar dalam hidupnya.
Badannya terasa bergetar, dan matanya terasa panas karena tak percaya dengan ini semua.
"Apa? Menyukaiku?" Seongwoo masih menatap Woojin dengan bingung, "tidak mungkin! Kita kan kakak beradik! Memangnya anda siapanya, hm?"
Baru saja Hyungseob akan menyelak, ketika suara itu kembali terdengar dan bahkan semakin parah ketika tangan itu semakin memeluknya erat dari samping, membuatnya semakin mendekat dan salah satu tangannya tanpa sengaja tersampir di dada sang suami—karena eratnya pelukan tersebut.
"Dengan posisi seperti ini, bukankah sudah jelas?"
Mata Hyungseob melebar mendengar ucapan setelahnya.
"Aku adalah suaminya," ujar Woojin dengan nada dingin, "tapi dia mencintaimu yang tak peka dan bodohnya hanya menganggapnya adik."
Dadanya terasa sesak dan emosinya kian menaik. Apa-apaan ini?
"A-anda bercanda!"
"Sayangnya, saya tidak bercanda."
"Hyungseob, bicaralah sesuatu! Apa benar yang dikatakan Woojin-ssi? K-kalian.. Menikah?!"
Tubuhnya bergetar, mendengar suara kakak yang sangat ia sukai saja kian membuat tubuhnya melemas dan rasanya semakin membuatnya ciut.
Ditambah suara sang direktur yang terus membuka semuanya. Segala rahasianya.
"Kau mau bukti? Aku akan memberikannya—"
Plak!
Suasana berubah hening, dengan sebuah tamparan yang mendarat tepat di pipi Woojin dan dilakukan oleh wanita dalam pelukannya.
Hyungseob—dengan air mata yang berlinang dan wajah yang memerah, menampar Woojin, direkturnya sendiri. Tepat dihadapan Seongwoo yang masih kaget dengan situasi yang dihadapinya. Napasnya kian tak beraturan, menahan segala gejolak emosi yang tengah dirasakan.
"Kamu keterlaluan, Jin!"
Setelahnya, sang wanita berlari dari tempat itu. Meninggalkan dua pria dengan kondisi yang berbeda, dan meninggalkannya dengan wajah yang basah karena linangan air mata.
Kenapa.. Orang yang sudah ia percaya, justru mengkhianatinya? Mengapa disaat Hyungseob sudah menaruh kepercayaannya pada Woojin, ia malah mengkhianatinya? Mengapa.. Rasanya sakit sekali?
Air mata itu kembali turun, bersamaan dengan sesak di dadanya yang tak kunjung hilang.
•
•
•
"Seob, kamu yakin gak apa-apa..? Kau terlihat pucat sekali, lho?"
Hyungseob memaksa untuk tersenyum tipis setelah mendengar ucapan khawatir dari Daehwi. Disampingnya, Jihoon masih mengelus punggung sang wanita; walau ia sendiri tidak tahu apa penyebab yang sebenarnya. Setelah pertemuannya dengan Seongwoo, Hyungseob datang dengan mata yang memerah sembab dan ia hanya berkata bahwa dirinya sehabis menonton drama korea sendirian dan terhanyut dalam alur ceritanya.
Walau rekannya yang lain masih tidak memercayai Hyungseob, tetapi pada akhirnya mereka semua mengalah dan memilih untuk percaya saja. Walau tetap dengan kekhawatirannya, sih.
"Lalu kau pulang bagaimana, Seob?"
"Ah, aku akan menaikki bus saj—"
Ucapannya terpotong ketika mendengar suara ringtone handphonenya, tanda masuknya sebuah panggilan. Hyungseob langsung meraih handphonenya. Matanya melebar melihat suatu nama yang menghubunginya di layar.
Dengan jemari yang bergetar, Hyungseob menekan tombol hijau pada handphonenya dan meletakkan handphonenya pada telinganya—siap mendengar segala ucapan yang akan terlontar dari sosok yang menghubunginya.
Tetapi, yang ia dengar hanyalah sebuah kalimat singkat yang sebenarnya cukup membuatnya kaget.
"Ayo pulang bersama, Seob. Aku sudah menunggumu didepan kantor."
Dan yang mengucapkannya adalah Ong Seongwoo. Orang yang terus menerus dipikirkannya sedari tadi.
•
•
•
Suasana didalam mobil terasa sangat canggung—atau mungkin hanya Hyungseob yang merasa demikian?
Padahal Seongwoo sudah berkata bahwa ia tak bisa menjemputnya, tetapi pada nyatanya sosok pria itu sudah berada tepat didepan kantornya tanpa basa-basi. Dan setelah menemui Seongwoo yang sudah berada di depan kantornya, mereka memasuki mobil dalam diam. Hingga sekarang pun, mereka masih bertahan dalam keheningan itu. Sebuah tanda tanya terus muncul dalam benak sang wanita, akan tetapi ia tak berani untuk memulai percakapan dalam kecanggungan ini.
"Aku akan mengantarmu sampai kedepan rumah."
Hyungseob melebarkan matanya, "j-jangan, kak! Di tempat biasa sa—"
"Rumah direktur Woojin, bukan?" Lagi lagi Hyungseob melebarkan mata—dan bahkan mulutnya ikut terbuka, "tenang saja, aku hanya akan mengantarmu sampai ke depan rumah."
Walau begitu, Hyungseob masih merasa tak nyaman dan gugup setengah mati. Rasanya seperti ingin mengubur diri hidup hidup, kau tahu? Tapi kedengarannya berlebihan sekali, ya.
Dan beberapa waktu setelahnya, Seongwoo mengantarkannya benar-benar tepat didepan rumahnya. Tanpa bertanya apapun selama perjalanan, dan bahkan Hyungseob sempat kaget karena ia benar-benar sudah sampai didepan rumahnya.
Tanpa mau menatap sosok disampingnya, Hyungseob buru-buru merapihkan barangnya, "k-kalo gitu, aku permisi—"
"Kakak.. Mau ngomong sebentar.." Ucapannya terhenti begitu mendengar suara lirih dari Seongwoo yang menunduk ditempatnya, "... Boleh, kan?" Tanyanya dengan pelan.
Hyungseob kembali terdiam di posisinya, menunggu Seongwoo untuk melanjutkan ucapannya.
"Kakak sudah dengar semuanya dari Woojin," Hyungseob melebarkan matanya, "dan semuanya membuatku kaget. Apalagi dengan fakta yang tiba-tiba seperti ini, juga kau yang tidak memberitahukan apapun padaku."
Sang wanita menunduk, membiarkan sosok yang lebih tua melanjutkan perkataannya.
"Jujur, aku kecewa Seob. Kecewa banget. Karena adik manisku sudah berani membohongi kakaknya, apalagi hal ini sangat besar.." Seongwoo menarik napas lalu menghelanya perlahan, "... Dan juga membohongiku soal perasaanmu sendiri terhadapku."
Wanita disampingnya menoleh, kilat matanya yang tak nampak dalam kegelapan itu menatap sang pria dengan sedikit panik, "kak, aku gak bermaksud untuk itu—"
Tahu-tahu Seongwoo tersenyum tipis, walau senyumannya tetap tak terlihat karena gelapnya suasana mobil, "iya, aku tahu itu, Seob. Aku gak masalah dengan perasaan itu, karena aku sudah tahu segalanya dari Woojin."
"Kalian menikah karena suatu hal tertentu, bukan?" Hyungseob menunduk, diam-diam menganggukkan kepalanya, "aku senang mendapat perasaan cinta ini dari adik manisku. Jika ditanya apakah aku akan membencinya, jawabannya tidak, Seobbie. Aku sangat senang mendengarnya."
"Tetapi.. Aku tetap tidak bisa membalasnya dengan baik," Hyungseob merasakan pikirannya sudah mulai kosong sekarang, "bukan karena bertepuk sebelah tangan saja, tetapi.."
Tangan Seongwoo terjulur mengambil suatu hal dari tas yang ada di tengah mereka berdua, menyalakan lampu mobilnya, lalu menyerahkan benda yang ditemukannya kepada sosok wanita yang kini menatap benda itu dengan manik yang melebar.
"Aku.. Akan menikah dengan Daniella, wanita yang sangat ku cintai."
Tangan Hyungseob terasa bergetar begitu tangannya meraih selembaran itu, kemudian membacanya dengan seksama—walau hatinya terasa sesak ketika membaca selembaran tersebut yang bertuliskan nama Seongwoo dengan seorang yang bernama Kang Daniella, wanita yang akan menjadi istrinya bulan depan.
Seongwoo menghela napas seraya menatap sosok wanita disamping, "aku merasa bersalah karena sudah menutupi ini berbulan-bulan lamanya. Tetapi, rasanya ini sudah cukup setimpal dengan apa yang kamu lakukan dengan menutupi suatu hal padaku," tuturnya dengan jujur.
Walau terasa sesak dan sakit, akan tetapi Hyungseob tidak merasa tangisnya akan meledak saat ini juga. Ia justru merasa.. Kosong?
Dan sedikit senang karena akhirnya Seongwoo berhasil menemukan kebahagiaan, setelah ditinggal oleh ayahnya beberapa tahun silam.
"Kak, aku turut senang.." Ujar Hyungseob, menapik segala rasa sesak yang ia rasakan dalam hati, "akhirnya kakak menemukan kebahagiaan kembali.." Lanjutnya dengan lirih, lalu tersenyum tipis kearah Seongwoo.
Seongwoo cukup sadar dengan perubahan yang ada pada suasana disekitar Hyungseob, namun pada akhirnya ia menghela napas dan tersenyum kecil.
"Maafkan kakak karena telah menutupinya selama ini, ya?" Tangan Seongwoo mengelus kepala Hyungseob dengan penuh sayang, "dan sebenarnya aku akan memberitahukannya disaat kita bertemu tadi, tetapi Woojin menyela ucapanku dan membuat rahasia kalian terbongkar begitu saja."
Nampaknya ucapan itu berhasil membuat Hyungseob tertegun sesaat, lalu matanya yang sendu kembali menatap Seongwoo dengan senyuman simpul. Tangannya bergerak memegang tangan sosok yang sudah dianggapnya sebagai kakak, lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Berbahagialah, kak Ong. Selama bersama kak Dani bisa membuatmu bahagia.."
Hyungseob sedikit melebarkan senyumannya.
"... Aku juga akan bahagia, kak."
•
•
•
Tak seperti biasanya kediaman Woojin terasa sepi begini.
Biasanya disaat Woojin pulang terlambat, akan ada Hyungseob yang sedang asyik menonton TV di ruangan tengah, dan biasanya ia akan melakukannya dengan tambahan kentang goreng dan segelas cola, kemudian asyik sendiri tanpa menyadari kehadiran Woojin dibelakangnya.
Tetapi malam ini tampak berbeda. Bahkan disaat Woojin pulang terlambat pun, sosok istri itu nampaknya tidak terlihat disekitar.
Pria itu menghela napas. Tentu saja, kelakuan bodohnya tadi pasti sangat membuatnya sakit hati. Tamparan keras pada pipinya tak terasa sesakit hati sang istri karena perlakuannya yang sangat brengsek.
"Apa mungkin.."
Setelah melepas jas dan menaruh tasnya di sofa ruang tengah, Woojin berjalan kearah taman—atau lebih tepatnya, kearah kolam renang di dalam rumahnya. Betapa leganya ia melihat sang istri tengah berada dipinggir kolam dalam diam seraya menatap air yang tenang.
Woojin tentu saja tak bisa diam ditempatnya. Perlahan, kakinya bergerak mendekat dengan pikiran yang berkecamuk—memikirkan bagaimana caranya agar dapat menyampaikan permintaan maafnya atas kelakuan bajingannya barusan. Namun ketika langkahnya sampai ke sisi Hyungseob, sebuah suara membuatnya bungkam.
"Aku sudah tahu semuanya, tentang kak Ong."
Woojin terdiam sebentar sebelum mendudukan dirinya disamping Hyungseob—yang masih menundukkan kepalanya.
"Kamu pasti sudah tahu duluan, kan?" Tahu-tahu Hyungseob menolehkan kepalanya, dengan tatapannya yang terlihat kosong, "dan kamu tidak memberitahukannya padaku, dan malah membuat kak Ong memberitahukannya setelah insiden tadi.."
Woojin menatap Hyungseob, "maafkan aku karena melakukannya dan terlihat seperti bajingan didepanmu. Tapi aku melakukannya.."
"... Untuk menghindarimu dari rasa sakit karena mendengar fakta itu."
Hyungseob terdiam menatap Woojin yang masih menatapnya lekat, tetapi responnya hanya sebuah kekehan kecil dan juga kontak mata yang sengaja ia putus begitu saja, "kalau kamu masih mempertahankan hal itu, mungkin sampai nanti kak Ong menikah pun, aku takkan mengetahui apapun dan akan tetap mempertahankan perasaan bodoh ini."
"Hyungseob—"
"Bodoh."
Tak ada peringatan atau aba-aba, tiba-tiba Hyungseob mendorong Woojin hingga terjatuh kedalam kolam renang dan membuatnya basah kuyup di malam hari.
Tetapi Hyungseob juga ikut masuk kedalam kolam dan mencengkram kemeja Woojin di bagian dadanya.
"Seob—"
"Kak Ong akan menikah dengan kak Daniella.." Lirih Hyungseob dengan kepala yang tertunduk, "ia bilang, ia sangat mencintainya. Bahkan sebelumnya, kak Ong tak pernah sedikitpun membicarakan hal mengenai percintaan padaku."
Sebelum melayangkan protes, Woojin kembali dibuat bungkam mendengar gumaman lirih dari sang istri. Dingin air yang menusuk pun terabaikan karena atensi yang ia berikan pada sosok dihadapannya.
Cengkraman tangan Hyungseob semakin mengerat, "kak Ong sudah menemukan kebahagiaannya lagi, dan seharusnya aku merasa senang, bukan?"
Woojin terdiam mendengarkan semuanya. Walau ia sangat ingin menggerakkan tangannya untuk memeluk tubuh kecil ini, tetapi ia tak dapat melakukannya.
"Aku bahagia, Woojin. Kau tahu? Aku bahkan berkata padanya bahwa aku akan bahagia melihatnya bahagia!" Hyungseob berusaha untuk terdengar ceria terdengar dipaksakan, juga senyum yang sangat dipaksakan terpoles dengan lebarnya, "iya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri agar bahagia jikalau kak Ong sudah menemukan kebahagiaannya.."
Badan itu bergetar pelan, tanpa sadar cengkramannya melemah dan kepalanya kembali tertunduk, "aku sudah berjanji untuk tidak menangis karena hal ini.."
"Tapi.. Mengapa rasanya sesak sekali? Mengapa.. Mengapa mataku terasa basah dengan air mata, Woojin?"
Terdiamnya Woojin bukan berarti ia tidak menyadari bahwa mata indah istrinya sudah basah dengan air selain air kolam renangnya. Ia sangat menyadari itu, bahkan hatinya terasa tercubit melihat istrinya mendongakkan kepalanya dan menangis tepat dihadapannya.
Oleh karena itu, tanpa berdebat dengan pikirannya lagi, tangannya bergerak merengkuh erat wanita dihadapannya, membiarkannya bersandar pada bahunya dan membiarkannya menangis; mengeluarkan segala kesedihan yang tengah dirasakannya. Membiarkan dirinya sendiri melawan egonya dan memeluk Hyungseob tanpa harus meminta izin terlebih dahulu.
Karena Hyungseob sangat membutuhkannya. Jauh dari itu, Hyungseob semakin menumpahkan kesedihannya dalam pelukan sang suami. Membalas pelukan tersebut dan menangis pada bahu Woojin sekerasnya, mengeluarkan segala kesedihannya karena perasaan nyaman dalam pelukan tersebut.
"Kak Ong.. Kak Seongwoo..!"
Woojin mengeratkan pelukannya, mengelus belakang kepala Hyungseob dengan lembut, membiarkannya menangisi sosok yang dicintainya itu, dan berharap bahwa tangisan itu adalah tangisan terakhirnya yang dikarenakan oleh seorang Ong Seongwoo yang akan menempuh hidup baru dengan wanita lain.
Suaminya itu memang tidak berkata apapun—setidaknya belum, tetapi gestur yang diberikannya seakan mengatakan bahwa; "tak apa untuk menangis, karena itu menangislah. Ada aku yang akan menenangkanmu dan memelukmu seperti ini," walau tak berbentuk lisan sekalipun.
Satu tangan Woojin bergerak kearah wajah Hyungseob, menyeka air mata yang masih mengalir dari matanya, dan menatap kedua maniknya dalam.
"Aku.. Aku menyerah, Woojin."
Setelah menyeka air mata sang istri, satu tangannya bergerak kearah pipi Hyungseob yang memerah dan masih menatapnya intens.
"Lalu, apakah aku boleh bersikap egois terhadapmu sekarang?" Ujar Woojin dengan nada penuh keseriusan, "apa aku boleh.. Melakukannya?"
Hyungseob masih menatap manik hitam nan tajam dihadapannya, menatap keseriusan yang dipancarkan dari kilatan mata tersebut. Pancaran keseriusan yang terus menerus meyakinkan dirinya untuk membuka hatinya.
Air mata itu kembali turun melewati pipi merahnya, tanpa dipikirkan lebih panjang, Hyungseob kembali bergerak memeluk Woojin dan terisak pelan didalamnya, "jangan tinggalkan aku.. Jangan tinggalkan aku sendirian, Woojin.."
Kembali Woojin menggerakkan tangannya untuk menyentuh kedua pipi Hyungseob dan menyeka air mata yang berlinang itu.
"Tidak akan," sang pria mendekatkan wajahnya, mendekat kepada istrinya, "tidak akan pernah."
Wajah itu mendekat, kian mendekat, gumaman kecil seperti 'maaf' pun terdengar didepan wajah Hyungseob, sebelum akhirnya bibir itu saling bertemu. Mengecup bibir tipis nan manis dihadapannya, mengecupnya untuk yang pertama kali setelah janji suci pernikahannya beberapa bulan yang lalu.
Woojin bisa merasakan Hyungseob yang cukup kaget dengan ciuman yang ia berikan, tapi pada akhirnya sang wanita berhasil dibuat luluh olehnya. Tangannya masih setia menahan tengkuk sang istri, terus menerus memperdalam kecupan yang ia berikan padanya.
Pria itu tidak peduli lagi dengan benteng pertahanannya untuk tidak melakukan lebih dengan istrinya, karena pada akhirnya ia akan melakukannya. Melanggar janji pada dirinya sendiri, yang kemudian disaksikan oleh bulan purnama yang menyinari dan menjadi saksi atas janjinya terhadap seorang Ahn Hyungseob, istrinya. Masa bodoh dengan pertahanan yang sudah dibangunnya sejak awal pernikahan, karena pada akhirnya, ia akan tetap bersikap egois demi menunjukkan perasaannya.
Dibawah rembulan yang bersinar, dan dengan kecupan panjang pada malam itu, Woojin berjanji pada dirinya sendiri; ia akan melindungi Hyungseob, entah bagaimana caranya.
Dan Woojin berjanji, kali ini merupakan kali terakhir ia melihat istri cantiknya menitikan air matanya.
•
•
•
•
•
HALOOOO! Udah berapa bulan ya aku ga ngelanjutin fanfic ini.. Astaga sudah berdebu sekali ;;;; tapi akhirnya aku berhasil menemukan ide dan mood buat ngelanjutin! Yuhuuu!
Pertama, maafkan karena iNI KOK JADI DRAMA BANGET YA ASTAGA? Aku bingung sendiri ngelanjutinnya. Terus yang kedua, maafkan kalo lanjutannya terlalu keju atau mungkin konfliknya kurang 'nganu' (?). Dan ketiga, ini gapenting sih sebenernya, tapi aku melanjutkan fanfic ini di kereta otw balik kampong dan sekarang pun ku publish pas masih di kereta dengan bantuan VPN. Aku bangga dengan pencapaianku HAHAHA. *claps* /ey
Dan terakhir, aku gak pernah bosen buat ngucapin terima kasih buat yang udah mampir baca, terutama buat yang udah setia nungguin update, ninggalin comment dan udah masukin fanfic ini ke follow/fave listnya ;;;;;;;; you guys are rock! Thank you so much! 33333
Ini kubuat juga pelarian dari stress tugas UTS sih, walau ya sebenernya masih ada lagi tapi yasudalaya~ pokoknya makasih banyak semuanya! Doakan agar fanfic ini bisa update sering sering yaa! Kecup basah dari kanashiaru /o/~
