Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama.
Pair : Naruto U., Hinata H.
Rated : T [15+]
Warning : Standart Warning Used. OOC
Basedon 'Critical Eleven by Ika Natassa' and 'Cold by Maroon 5'
I don't get any commercial when publish this story.
yamanakavidi Present
"Cold"
III
Mereka mendapatkan kabar gembira setelah setahun menikah, hari itu Naruto seperti biasa mendapatkan misi mengawasi kiriman ke desa Suna sekaligus temu kangen dengan Gaara, pria kuning itu berniat untuk tinggal beberapa hari karena Gaara menyuguhinya berbagai macam keindahan Suna, kapan-kapan Hinata akan kuajak kesini, ucap Naruto dalam hati. Namun, yang berencana adalah manusia dan keputusan terakhir tetap di tangan sang pencipta. Malam itu ada seekor burung merpati hinggap di kamar penginapannya dan dia tahu itu dari siapa, Hinata mengiriminya pesan mengatakan cukup dengan sebuah kalimat, "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Segeralah pulang." dan malam itu juga dia pulang ke Konoha, persetan dengan jamuan Gaara. Hinata prioritas utamanya.
Naruto berlari bahkan ketika dia mendapati gerbang rumah yang harusnya dibuka bukannya dia lompati seperti yang terjadi, pria itu membuka pintu tergesa, matanya mencari Hinata kesana-kemari sampai harus mengubah mode dirinya hanya untuk lebih cepat mencari Hinata padahal cukup dengan menyalakan lampu kamu akan menemui istrimu Naruto. Tapi memang dasar Naruto bebal dan bodoh, jadi Hinata yang sudah menunggu untuk memberikan kejutan itu haruslah yang peka dan menyalakan lampu di ruang keluarga.
"Kamu tidak apa-apa?" Naruto melesat mendekati istrinya, emmegang kedua pundaknya dan memeriksa bahkan masih dengan sage mode. Pria itu khawatir karena isi surat Hinata yang terasa sangat penting sehingga dia takut ada yang terjadi dengan pendamping hidupnya ini.
Naruto berhenti, dia berhenti memutar tubuh Hinata lagi setelah dirinya merasakan ada diri lain pada Hinata. Pria itu mencari sumber aura yang ada dan terdiam setelah menemukannya. Dia memang bebal dan tidak peka untuk beberapa hal –ralat- untuk banyak hal dia sangat tidak peka, tapi jiwa seorang pria tidak pernah salah.
"Hinata, apa kamu..." Naruto mengambil nafas sebelum melanjutkannya, "Hamil?"
Hinata mengangguk dengan senyum lebarnya, dia tidak menyangka bahwa suaminya itu lebih peka dari yang dilihat.
"Berarti aku akan jadi seorang ayah?" tanya Naruto lagi.
Hinata mengangguk.
"Aku jadi seorang ayah?" tanya si pria kuning itu lagi.
Hinata mengangguk lagi, "Iya Naruto-kun."
"AKU JADI AYAH. . AKU JADI AYAH." Naruto berteriak kegirangan, dia berlari mengelilingi rumahnya dan disambut tanya Hinata kemudian Naruto menatap Hinata dan memegang kedua tangan wanita berambut gelap itu, "Jadi nanti ada seseorang yang memanggilku otousan?"
Hinata tersenyum dan mengangguk. Hari ini dia tidak bisa mengatakan apapun karena setelah kemarin tubuhnya yang tiba-tiba letih serta kedinginan dilanjutkan dengan mual mendadak sehingga memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter dan mendapatkan kabar spesial ini, tiba-tiba dia tidak sabar ingin Naruto pulang. Wanita Uzumaki itu jadi egois dan membiarkan suaminya kalang kabut karena isi suratnya, hanya saja Hinata pasti tidak akan bisa menyimpan kabar besar ini sendirian.
Jadi disinilah dia sekarang, dipeluk erat oleh suaminya dan telinganya yang masih mendengar gumaman Naruto yang menjadi ayah serta ucapan terimakasih dari pria kuning itu juga.
"Ah, maafkan aku." Naruto tiba-tiba melepaskan diri, "Aku lupa ada dia di dalam sini. Tidak boleh berpelukan kencang."
Hinata tertawa kecil karena kepanikan suaminya yang diikuti sentuhan tangan besar ke perutnya lembut, "Tumbuh sehat ya."
"Iya otousan." Jawab Hinata yang langsung diberi kecupan manis dari suaminya serta pelukan hangat sepanjang malam itu.
Pada masa kehamilan Hinata, wanita itu tetap bekerja dan menerima misi. Ada banyak perubahan setelah perang dunia, diantaranya kemajuan teknologi yang begitu pesat hingga harus banyak orang yang menangani. Hinata berada pada misi sosialisasi, sehingga mengharuskan dia pergi setiap ada presentasi baru untuk para warga Konoha agar mereka tidak ketinggalan langkah. Begitupun Naruto, dia jauh dari Hinata untuk sebulan sampai dua bulan karena misi dari Hokage untuk menyebarkan gawai di seluruh desa yang sudah bekerja sama dengan Konoha. Pria itu hanya selalu menggunakan Kype* untuk menghubungi Hinata dan berbicara dengan anak mereka yang masih dalam perut Hinata saat itu.
Dan setelahnya, dia pulang untuk menghadiri pemakaman anaknya.
Hinata pernah membaca ini pada salah satu buku yang dia temui di perpustakaan kota, dia lupa judul bukunya tapi sangat ingat akan isinya, disana dituliskan bahwa kota Konoha adalah cahayanya dunia, kamu bisa menemukan damai di Suna, tenang di Ame, tapi Konoha itu segalanya. Disini kamu bisa menemukan segalanya. Damai, tenang, cinta, kasih sayang, mencintai, dicintai, bahkan sampai membenci, menuduh, menjauh.
Wanita itu membiarkan udara dingin di luar sana datang mendekati ruang kecil ini, membiarkan dia meringkuk di lantai kayu ini, membiarkan dia yang menangis sesegukan sambil memeluk sweater kecil milik Eiichi. Anak itu pasti tampan saat memakai sweater warna biru dengan gambar harimau di tengahnya, dan saat jari-jari kecilnya itu mencoba menggapai-gapai mainan yang jauh dari jangkauannya Hinata akan dengan senang hati membawakannya.
Eiichi -kun, pakai selimut tebal ya. Hari ini dingin.
Hinata bercakap dalam hati, masih dengan memeluk sweater itu. Hari ini biarkan dia kembali menghayal, berfikir bahwa semua sesuai dengan apa yang dia pikirkan, anaknya masih ada di sampingnya dipeluknya karena kedinginan tapi tetap rewel saat disuruh pakai baju tebal. Wanita itu mulai memutar ingatannya, tadi ketika Naruto dengan sangat biasa membuang semua kenangan saat dirinya masih memiliki Eiichi, saat dimana dia masih merasa menjadi yang terbahagia karena Eiichi, saat terbaik dalam pernikahannya.
Dia tidak tahu tujuan Naruto apa, membuang semua kenangan Eiichi hingga menganggap bahwa ketidakhadiran Eiichi sekarang adalah hal yang lumrah untuk beberapa calon ibu di luar sana. Apa yang lumrah dari kehilangan seorang anak, Hinata ingin berteriak sekarang. Dia yang paling bahagia saat itu, paling bahagia karena ada seseorang yang sedang dijaganya.
"Kalau saja kamu tidak sibuk, mungkin…" Hinata tidak bisa melanjutkan untuk mengingat ucapan Naruto saat itu. Hamil, kemudian sebelum digendong bayinya sudah harus pulang kembali ke tuhan, ditinggal suaminya selama dua bulan karena misi, dan ketika pulang Naruto mengucapkan hal itu.
"Naruto-kun, kenapa kamu begitu?" Hinata hanya tidak menyangka, pria yang awalnya dia beri kepercayaan untuk menjaganya seumur hidup, pria yang selalu dia cintai bahkan ketika Naruto belum mencintainya, malah menghancurkannya hanya dengan satu kata.
Hinata bukanlah wanita yang marah saat kekasihnya terlambat pada kencan pertama mereka, bahkan dia sudah berekspetasi duluan bahwa pria itu pasti akan terlambat sehingga dia pelankan langkahnya ketika hampir sampai di festival. Tapi dia disana, tersenyum lebar dan melambaikan tangan kearahnya, Naruto datang tepat waktu dan malah dia yang meragukan pria itu.
Sejak saat itu Hinata percaya, hari Naruto sudah tertulis namanya.
"Mau apel?" tawar Naruto sambil menawarkan apel yang tadi dia beli sembari menunggu Hinata.
Hinata mengangguk, "Arigatou." Dan memakan apel pemberian kekasihnya. Hinata yang memang dasarnya pendiam tidak tahu lagi harus berbicara apa, dia hanya menatap sekeliling, menurutnya berjalan bergandengan tangan dengan Naruto saja sudah cukup.
Dan sekarang, Hinata benci disentuh Naruto.
.
.
.
Pagi datang membangukan Hinata dengan mata bengkak dan tubuh kakunya setelah tertidur di lantai kamar anaknya. Dia terduduk, kemudian melipat baju Eiichi, mengembalikannya ke almari pakaian, berjalan masuk ke kamarnya lewat pintu penghubung dan membasuh muka serta mandi, hari ini ada penyuluhan tentang kesehatan dan Hinata diwajibkan hadir untuk membahas alur kegiatannya.
Dibawah guyuran shower dingin dia termenung, ada yang tidak diketahui suaminya tentang kebiasaan barunya setelah Eiichi tidak ada. Pada setiap malam sepulang dari kantornya –apa nama yang lebih tepat untuk sebuah gedung dengan kubikel yang membahas tentang masa depan Konoha kalau bukan kantor- dia masuk ke kamarnya, membersihkan diri, menaruh baju kotor di keranjang, masuk ke kamar Eiichi, mengambil sepasang baju untuk menemaninya tidur.
Tentu saja Naruto tidak tahu, pria itu semakin sibuk setelah Hokage memerintahkan revolusi Konoha dipercepat. Naruto selalu mendapatkan misi keluar desa bahkan sampai ke luar pulau, sebulan misi, dan sebulan pulang. Begitu siklusnya.
"Mau sarapan Hinata?"
Ada kebiasaan baru Naruto setelah mereka menikah, dia akan membuatkan minuman untuk Hinata setiap pagi. Entah itu kopi, teh, jus, atau apapun. Seringnya sih kopi, karena dia juga suka aroma dari biji hitam. Dan buatan Naruto pasti selalu jadi juara walaupun pada awalnya Hinata meragukan hasil kerja si kuning menyebalkan itu.
"Aku sudah terlambat." Hinata hanya mengambil sebotol jus yang sudah dia siapkan dari dalam kulkas.
"Sarapan dulu. Kemarin kamu belum makan apapun."
Hindari matanya Hinata, atau kamu akan jatuh lagi nanti. Hinata lalu mengambil sandwich di atas meja, dia mencoba secepat mungkin pergi dari rumah dan menjauh dari pria itu. setelah tadi malam, dia rasa tidak siap bertemu Naruto lagi.
.
.
Naruto tersenyum pelan, pagi ini dia harus menyiapkan sarapan untuk istrinya yang masih terlelap di dalam kamar. Dulu Hinata selalu tersipu karena hasil masakannya, yang menurutnya lebih buruk dari kios pinggir jalan tapi menurut Hinata lebih mewah dari restoran berbintang. Hyuuga satu itu tergila-gila padanya. Itu dulu, Naruto tertawa miris dalam hati.
Semuanya siap, sandwich dan coklat panas, hari ini lumayan dingin walaupun suhunya sudah naik daripada yang kemarin tapi tetap saja coklat panas adalah hal wajib pada Senin pagi. Pria itu juga sudah mandi dan rapi, siap meminta maaf dan mengambil hati istrinya lagi.
Dia berjalan, mengetuk pintu kamar dan tidak ada jawaban, kemudian dia masuk ke dalam, matanya mencari dan tidak dapat apapun sampai dia tidak sengaja melihat Hinata tertidur di lantai kamar Eiichi, anak mereka.
Naruto berjalan dan membuka pintu penghubung itu, kakinya kaku dan tidak mau bergerak. Dia diam, bahkan saat sesuatu dalam dirinya tidak tega melihat istrinya yang pastinya kedinginan ditambah suhu di luar yang bisa dibilang sangat tidak bersahabat. Pria kuning itu menutup pintu penghubung dengan tenang, biarlah Hinata tertidur kalau nanti dia bangunkan bisa-bisa Hinata tambah marah seperti kemarin malam.
Dia saat itu selalu mengambil misi bukan karena dia ingin dapat uang banyak –walaupun itu salah satunya- tapi karena memang tugas dari Hokage yang selalu dilimpahkan kepadanya. Teknologi-teknologi maju setelah perang dunia terlalu pesat sehingga mau tidak mau dia harus mendistribusikan semua hal yang menjadi kerjasama Konoha dan dunia luar, dan itu artinya dia meninggalkan Hinata serta Eiichi di rumah.
Hinata bukan wanita yang akan diam hanya karena perutnya bukan lagi berisi lambung dan usus namun juga sebuah janin, Hinata yang tergabung dalam tim penyuluhan selalu bepergian untuk mensosialisasikan teknologi terbaru kepada warga Konoha. Naruto tidak mengizinkan jika wanita itu keluar desa, bahkan tentang penyuluhan di Konoha saja Hinata harus memohon dengan sangat kepadanya agar diizinkan, pria itu hanya tidak ingin terjadi apapun kepada istri dan anaknya.
Walaupun setiap mereka cek ke dokter, Eiichi selalu bersemangat menendang dan selalu baik-baik saja. "Eiichi-kun sering menendang saat aku dan tim berjalan menuju tempat sosialisasi. Dia sepertinya senang bertemu orang banyak." Hinata bercerita pada satu malam, saat Naruto pulang dari misi dan menemaninya menatap bintang di teras belakang.
"Tidak ada apa-apa Naruto-kun, ternyata tadi Eiichi-kun bergerak lagi. mungkin lagi kesal karena otousan nya belum pulang." Hinata mengatakan itu setelah paginya dia mendapat kabar bahwa anak mereka tidak aktif menendang, saat itu umur kandungan Hinata hampir sembilan bulan, saat itu Naruto tengah bernegosiasi dengan petinggi tirai besi untuk mengantarkan bahan-bahan dalam rangka revolusi Konoha.
Dan ketika dia datang ke rumah sakit malam itu, seminggu setelah berita Hinata soal Eiichi yang ngambek, Naruto berlari melewati banyak orang di lobi rumah sakit, dia hanya mencari Hinata entah dimana dia. Si pria kuning berhenti setelah melihat wanitanya tengah berbaring di kamar pasien menunggu hasil tes yang tadi dia lakukan.
Selanjutnya, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa Eiichi mereka sudah tidak bernafas di dalam perut Hinata, malam itu Hinata harus melahirkan Eiichi segera untuk mengeluarkan tubuh kaku anak mereka. Hasil tes tubuh Hinata sehat sehingga jika melakukan operasi malah akan berbahaya, Hinata melahirkan mayat anak mereka. Naruto menungguinya, memegang tangannya, mengelap peluhnya, melihat berkali-kali istrinya meregang nyawa malam itu, hingga tubuh Eiichi diserahkan kepadanya ketika Hinata pingsan.
Naruto melihatnya, bayi dengan rambut kuning di kepalanya, dengan mata yang pasti mirip dengan Hinata, hidung sepertinya, serta kulit yang tidak seputih Hinata namun tetap selembut wanita itu. Naruto mengingat secara rinci dan jelas wajah anaknya, sebelum dia memandikan dan memakaikan Hakama pertama dan terakhir bayi itu.
Dua hari setelahnya, saat Hinata belum sepenuhnya pulih dari sakitnya setelah melahirkan, dia pergi karena misi. Siapa yang harus disalahkan untuk misi kali ini, Hokage karena menyuruhnya menyelesaikan negosiasi secepatnya, anbu yang tidak bisa mengendalikan situasi sebelum dia kembali ke misi, atau dirinya yang hanya ingin pergi sebentar untuk melebur diri dalam kesibukan. Dia tidak tahu jawabannya.
.
.
Naruto menghela nafas, sarapan yang dibuat dengan cinta tadi tidak jadi mendarat di perut Hinata namun tandas di perutnya sendiri. Dia sudah bertekad setelah ingat apa yang dimaksud "menuduh" kemarin malam, dia ingat dengan jelas, hampir saja dia lupa kenapa dia mengikuti aturan Hinata untuk diam-diaman seperti ini hampir setengah tahun kalau bukan karena ucapannya sendiri, untuk membuat Hinata kembali kesisinya. Dia bertekad mengambil hati Hinata kembali, kalau dulu Hinata yang menunggunya, sekarang giliran dirinya yang menunggu hati Hinata.
Dan tadi pagi dia melihat cincin yang hampir membuatnya bangkrut itu masih hinggap di jari manis kiri Hinata, dia masih dianggap suami walaupun statusnya lebih mirip bisul, dia ingin dekat namun Hinata ingin mengusirnya pergi. Jalannya tidak mudah, dia tahu itu karena memang dosa yang dibuatnya juga tidak sedikit.
"Tunggu Hinata, aku akan membuatmu kembali padaku."
.
.
.
To Be Continued
.
A/N : Terima kasih untuk semua review kalian, terima kasih untuk semangatnya dan hai untuk yang baru saja membaca karya Vidi, Vidi ucapkan selamat datang. So, di review pada tanya "Hinata keguguran?" nah sekarang sudah tahu jawabannya. Lalu ada juga yang bilang masih muter-muter alurnya, jadi di fic kali ini Vidi berupaya membuat alur yang kayak puzzle, dan sesuai dengan novel aslinya 'Critical Eleven' -btw aku gak lagi ngomongin filmnya lho ya- memang ceritanya dari dua sudut pandang, jadi nanti reader sendiri yang akan memutuskan pihak mana yang didukung, bisa salah satunya, bisa keduanya, dan bisa malah untuk membenci keduanya juga -btw, itu di novel- dan untuk fic aku yang COLD aku juga pengen buatnya begitu, dari dua sudut pandang biar mengerti perasaan Naruto maupun Hinata saat menghadapi kehilangan.
Ide ini sebenarnya udah lama, karena emang Vidi baca novelnya dan setelah Boruto: Next Generation hadir, Vidi kayak bingung kenapa Boruto punya umur yang sama kayak anak lainnya padahal orang tuanya yang nikah lebih dulu. Jadi, Vidi buat fic ini untuk menerangkan jalan pikiran Vidi, biar gak tersesat -sering tersesat soalnya-. Dan terimakasih lho sudah mampir dan nungguin COLD, btw silent reader nya banyak banget. hihihi.
Special Thanks for : diniyuni, hyuna toki, Rei, chrizzle, DiTa, Hikari Tsubaki, ketelan, Amu B, Shafirameliana, Nia Anis, antiy3629.
p.s.
*Kype: Ini kayak Skype cuma versi Konoha, kan tadi di fic sudah diceritakan bahwa Konoha sedang mengalami revolusi besar-besaran dari yang non teknologi jadi high technology, jadi di cerita ini salah satu penggambarannya melalui Kype.
Maaf. Tadi aku unpublish chapter ini karena lupa kasih keterangan. *peace
Ini cuma cek sekali, soalnya harus packing untuk keluar kota besok. Sorry typo(s)
Jangan lupa review. :)
.
.
.
p.s.s
Soon ya habis COLD selesai, sekarang Vidi mau menyelesaikan satu fic, habis itu buat lagi yang lain, takut keteteran kayak dulu terus malah discontinued. Doain aja RL lancar gak ada halangan jadi bisa cepat nyelesaiin timeline COLD dan ceritanya, nanti habis itu Good Father? diterusin. *kedipin antiy3629
