Tittle: Complementary
(1st Chapter )
Present by RoséBear
Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Warning! GS. Companionship.
The Paradox of Lost Complementary
Ketika Beethoven sudah mulai mengalami ketulian, ia pun mulai mengubah sebuah karya dengan kehendak sendiri, sudah mulai melenceng dari aturan-aturan yang ada pada periode klasik, dan ketika itu terjadi maka dimulai periode Romantic.
Alunan lembut violin berhasil menghentikan gerakan seorang pria tan, ia menutup beberapa jurnal yang baru diterima. Sesaat ia terdiam namun suara violin itu adalah nada-nada yang mengikat dan menarik tubuh untuk bangkit dari kursi nyamannya. Langkah kaki panjang itu sangatlah pelan, mengeratkan jas putih kebanggaannya, melangkah sendirian menyusuri lorong sebuah rumah sakit. Ia berhenti saat berada di ujung lorong menghadap ke taman rumah sakit. Suasana sangat sepi mengingat ini masih pagi hari. Tapi di area ini memang sering kali sepi.
Aroma musim gugur dan tarian daun maple menyatu dengan alunan violin.
Mata hitam itu cukup lama memperhatikan, berdiri tanpa memiliki gerak sedikitpun. Perlahan bibir tebalnya naik membentuk kekaguman luar biasa. Tidak terlalu lama hingga keningnya tiba-tiba mengernyit. Nafasnya meluncur seperti sebuah ejekkan namun sedetik kemudian ia tertawa.
Rupanya seorang gadis sedang bermain violin di taman rumah sakit yang sepi, tanpa penonton, setidaknya sebelum Kai tiba. Mendekati bagian akhir, gadis itu memainkan nada terbuka dan itu terdengar 'kasar', seakan dia bukan pemain violin solo. Seketika permainannya berhenti saat suara Kai ditangkap pendengarannya.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
Suaranya terdengar berat. Mata bulat itu melotot, sepasang alis tebal yang ditutupi sedikit poni dari rambut hitamnya. Oh, jangan lupakan bibir hati yang tebal dan begitu nyaman diperhatikan.
Tak
Tak
Tak
"Apa kau senang memandang rendah orang?"
Pria itu terdiam beberapa saat mendengar kata-kata sakratis meluncur dengan ringan dari bibir hati seorang gadis.
Ya Tuhan.
Baru saja dia akan berteriak meminta penjelasan namun gadis itu telah melewatinya dengan cepat.
dr. Kim
Pria berumur dua puluh tujuh tahun. Ia baru saja resmi bekerja di rumah sakit ini sebagai seorang dokter. Ya. Benar-benar seorang dokter muda setelah melewati banyak tahapan yang amat sangat menyusahkan.
Meski menjadi dokter muda, bukan berarti Kai kurang berkompeten, ia telah tertarik dengan dunia kedokteran sejak masih kecil, memberinya inspirasi agar belajar banyak hal tentang medis. Kai mampu berinteraksi dengan pasien, pendidikannya sangat baik, dan ia telah mampu menjalankan sumpah sebagai seorang dokter yang profesional.
Saat akan melangkah mengejar gadis itu ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari UGD. Kai harus mengangkat panggilan itu segera.
"Aku akan bersiap ke ruang operasi."
Kaki panjang itu melangkah terburu-buru mengurungkan niatnya mengejar sang gadis. Dia harus melakukan operasi, seorang korban luka tembak baru saja dibawa ke rumah sakit, walau keadaan korban tidak cukup stabil untuk melakukan operasi.
"Kau yang akan membantuku?"
Saat mencuci tangan Kai menoleh menatap seorang pria tua di sebelah. Dia tentu mengenal baik pria ini. Tidak ingin kehilangan sopan santun Kai mengangguk membenarkan. "Ya benar dr. Do. "
"Pagi ini benar-benar ribut untuk beberapa operasi dadakan hingga aku tidak sempat menghabiskan kopi pagiku."
Dengan canggung Kai ikut tertawa.
Beberapa perawat telah bersiap di dalam ruang operasi. dr. Do mengambil alih operasi, meminta pisau bedah dan begitu serius saat membedah bagian perut korban. Selera humornya beberapa menit yang lalu hilang seperti di telan angin begitu saja.
dr. Do berusaha mengeluarkan peluru dari perut korban dengan dibantu oleh Kai dan kepala perawat. Korban terbaring dengan alat yang dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Aku telah menyelamatkan jiwanya yang hampir mati. Kau yang selesaikan sisanya."
dr. Do berkomentar pada Kai lalu melangkah keluar.
Beberapa menit Kai juga menyusul keluar, melepas baju operasi dan berganti dengan pakaian yang lebih kasual. Kepala perawat menyapa, mengucapkan selamat karena berhasil bekerjasama dengan dr. Do
Tidak hanya sebagai pemilik rumah sakit ini, namun juga sebagai seorang dokter yang dikenal memiliki kemampuan dalam hal medis yang sangat luar biasa. Dia bahkan pernah mengoperasi dirinya sendiri.
"Ya. selama ini aku hanya bisa melihatnya saja sebagai seorang residen."
"Tentu. Tapi dia mengawasimu Kai."
Kai tampak terkejut. Kepala perawat menepuk pundaknya pelan.
"Aku duluan."
Pelan kepalanya mengangguk.
~ RoséBear~
Kai sedang membereskan beberapa buku di meja kerjanya, ruangan berkumpul para dokter sedang sepi, hanya ada dia di sini. Sebagian belum tiba, sebagian masih bertugas. Dia yang seharusnya kembali ke asrama rumah sakit tapi masih di sini karena terlalu bersemangat dengan jurnal-jurnal yang baru ia terima kemarin sore.
Sebagai seorang dokter, Kai hanya butuh beberapa jam untuk benar-benar tertidur dengan nyenyak. Sepenuhnya dia bisa mencuri waktu ketika berjaga, dan kini dia ingin bergegas pulang. Operasi terakhir menguras sisa tenaga dari semangkuk sup labu semalam.
Ia berhenti saat melewati cermin, memperhatikan kondisi fisiknya sendiri. Oh Tuhan. Kai benar-benar berantakan. Benarkah seperti ini dia berada di ruang operasi tadi? Rambut dark brown yang kusut dan kering, namun tetap halus saat disentuh, mata sendu dan tampak dingin, sedikit beruntung wajahnya tetap tampan dengan rahang tegas, bibir tebal dan senyum menawan. Hanya perlu beberapa tarikan untuk merapikan rambutnya, Kai meraih topi dan memasangnya disusul sebuah mantel.
"Kau sudah akan pulang?"
"Owh!" Ia terkejut oleh kedatangan seseorang. "Iya dokter. Jam kerjaku di mulai nanti siang lagi." Sebisa mungkin Kai memberi jawaban yang sopan.
Pria yang menyapanya mengangguk sejenak mencoba memahami apa yang Kai sampaikan. Bersender di depan pintu dan menawarkan sekaleng kopi.
"Terima kasih. Tapi sebaiknya aku tidak minum kopi saat ini. Aku..."
"Kau butuh tidur yang sesungguhnya?" Sela pria tua itu cepat. Kai mengangguk walau tetap menerima minuman keleng kopi yang kemudian ia simpan di dalam tas.
"Aku akan mengantarmu ke asrama. Bagaimana? Sebuah tumpangan yang tidak merugikan bukan?"
Kai terdiam beberapa saat. Pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan hingga dr. Do menawarkan tumpangan.
"Segeralah dr. Kim. Jangan sampai kutinggal."
"Ya Dokter."
Kai berjalan menyusul. Tidak beriringan, hanya selangkah di belakang untuk menunjukkan kesopanannya pada orang yang lebih tua, lebih berpengalaman dan dihormatinya.
Kai itu tidak memiliki orang tua lagi. Orang tuanya meninggal dalam jarak satu tahun secara bersamaan. Dia kemudian tinggal bersama kakeknya. Pria tua, pensiunan pejabat pemerintahan yang lebih meluangkan waktu untuk kebun anggurnya daripada mengucapkan selamat ulang tahun pada Kai. Tapi walau bagaimana pun Kai menyayangi pria tua itu.
"Bagaimana kabar kakekmu Kai?"
dr. Do yang memberi tumpangan pada Kai mulai menyapa bahkan ketika pria tan sedang mengenakan sabuk pengamannya. Kai menoleh sebentar. "Jantungnya semakin memburuk dan dia tetap menolak dirawat di rumah sakit. Tapi Suho dan istrinya tinggal bersama kakek sekarang."
"Yeah. Kakekmu sangat keras kepala. Tapi aku sangat menikmati wine yang dia buat."
"Akan kusampaikan itu sebagai pujian Dokter."
Mobil mulai melaju meninggalkan rumah sakit. Menempuh jalanan aspal di jalan raya kemudian memasuki jalanan yang lebih kecil. Beberapa pohon dengan semangatnya menggugurkan daun mereka. Terbawa lembutnya angin musim gugur.
"Kapan istri kakakmu akan melahirkan?"
Kai mendengarkan. Dia memang pernah dikunjungi oleh istri Suho yang begitu cantik beberapa minggu yang lalu membuat banyak dokter dan perawat rumah sakit mengenal kehamilannya.
"Kupikir itu masih beberapa bulan lagi dokter."
"Akan menyenangkan memiliki keponakkan. Tapi lebih menyenangkan memiliki seorang anak."
Pria tan terdiam beberapa saat.
"Sebaiknya anak pertama itu perempuan atau laki-laki Kai? Bagaimana menurutmu?"
Dokter Do masih terpaku pada jalanan. Tidak sekalipun dia menoleh untuk memastikan reaksi yang Kai keluarkan. Padahal pria tan sedang kebingungan, diantara sopan santun, keakraban atau pertemanan?
"Kakakku bilang dia ingin memberikan seorang noona untuk anak laki-lakinya. Tapi menurutku yang manapun tidak masalah. Hanya bagaimana para orang tua mendidiknya."
"Apa kakekmu tidak ingin melihatmu menikah?"
"Uhuk!" Kai tersedak ludahnya sendiri. Ia melotot sepersekian detik lalu kemudian memalingkan wajahnya menatap jalanan dari kaca samping mobil.
"Heiii umurmu sudah cukup untuk menikah. Pekerjaanmu dokter. Bagaimana dengan kekasihmu?"
Cukup lama Kai terdiam. "Aku tidak berpikir untuk memiliki kekasih."
"Lalu bagaimana kau akan menikah nanti?"
Sejujurnya Kai merasa risih. Dia tidak pernah membahas masalah percintaan sebelumnya, dan ini jadi terdengar begitu canggung sampai pria tan berpikir beginikah rasanya di ruang interogasi?
"Jika ada wanita yang menyukaiku sepenuh hati, aku akan membawanya ke tempat kakek. Jika kakek dan saudaraku menyukainya aku pasti dengan mudah menyukai wanita itu untuk kunikahi langsung."
Dokter Do menghentikan mobilnya. Mereka baru saja tiba di depan asrama. Beberapa mobil berjejer dan beberapa orang berpakaian rapi bersiap untuk berangkat.
Mereka menunduk hormat saat menyadari mobil siapa yang terparkir di halaman asrama. Bahkan sebelum pemiliknya keluar dari mobil.
"Terima kasih atas tumpangannya Dokter."
Kai keluar dari mobil. Namun tidak disangka dr. Do ikut keluar. Menyapa beberapa residen dan juga dokter yang melihatnya. Kai hanya terdiam di samping mobil tidak mengerti. Ahh apa dokter ini memang bertujuan kemari untuk urusan pribadinya. Setidaknya itulah yang Kai pikirkan.
"Kau mau menemaniku makan di kedai sebelah asrama sebentar dr. Kim? Seperti yang kukatakan tadi pagi. Aku bahkan tidak sempat menghabiskan kopi pagiku."
Kai tidak bisa menolak, beberapa telinga sempat mendengarkan perkataan dokter ini. Dia akan dianggap sangat tidak sopan jika menolak nantinya.
"Baiklah Dokter," Pria tan mengekor di belakang. Berjalan beberapa langkah untuk memasuki kedai di sebelah bangunan asrama berlantai dua ini.
Dua nampan berisikan masing-masing nasi dengan tauge, sup tulang sapi yang kental, daging dan kimchi dari lobak yang diiris-iris kini di hadapan keduanya.
"Makanlah sarapanmu terlebih dahulu. Aku akan mentraktirmu karena kau menemaniku sarapan pagi ini."
Saat mengangkat sendok Kai memperhatikan jam dipergelangan tangannya. Jam digital itu menunjukkan pukul tujuh lewat di pagi musim gugur, tidak terlalu gelap. Jika saja ini musim dingin jam tujuh pasti masih sangat gelap.
"Kai, mengenai ucapanmu tadi. Benarkah?"
"Heoh?" Kai terdiam beberapa saat. dr. Do kembali mengajaknya bicara. Sepertinya ini obrolan yang panjang. Kai tidak mengerti, sungguh.
"Mengenai wanita yang bisa saja kau nikahi. Aku sedikit penasaran..."
"Oh~" kini Kai mengerti. Rasanya ini adalah percakapan pertama mereka yang tidak mengangkat pekerjaan.
"Kau masih sangat muda. Apa kau yakin bisa mempertahankan pernikahanmu dengan wanita yang hanya disukai kakek dan saudaramu?"
Kai mengangguk pasti. Dia menelan nasi dan meneguk air. "Tentu saja. Aku hanya akan sekali menikah dokter. Aku akan mencintai wanita yang kunikahi, seperti kakek yang bahkan tidak menikah setelah nenek meninggal karena melahirkan Ayah. Kakek selalu berpesan padaku..."
"Ya. Tuan Kim juga berpesan pada setiap orang yang dia temui di rumah sakit."
Kai terkikik kecil. Sepintas ia ingat kedatangan kakeknya beberapa tahun lalu ke rumah sakit saat jantungnya bertingkah. Ketika itu Suho dan Kai bersikeras agar kakeknya dirawat. Pada akhirnya hanya bertahan dua minggu saja. Kakeknya meminta pulang lalu kemudian Suho menikah dan tinggal bersamanya. Pada saat itu dr. Do adalah dokter yang menangani kakeknya, jadi mereka punya waktu bersama selama dua minggu. Sejak itu dokter Do menjadi orang yang sering dikirimi wine oleh kakeknya, alasannya sederhana. Dokter ini mengizinkan kakek Kai untuk mengambil perawatan di rumah. Tentu saja pria tua berambut putih itu sangat senang, mengabaikan kerutan di wajah kedua cucunya.
"Dokter, Maaf jika aku kurang sopan. Hanya saja pertanyaan Dokter sejak tadi sedikit menggangguku."
"Haha." dr. Do melepaskan tawanya. Dia menyudahi acara makan dengan meneguk air di dalam gelas. Gerakannya seperti seorang bangsawan saat membersihkan sisa sup di sudut bibirnya.
"Kau benar. Harusnya sejak tadi kau bertanya demikian. Tapi kau terlalu menjaga kesopanan denganku. Aku butuh bantuanmu Kai."
"Bantuan?"
"Aku sudah bicara ini dengan kakekmu, tepatnya sebulan lalu saat dia bilang akan mengirimkan wine ke rumahku. Aku menolak dan berkata akan menemuinya langsung, perjalanan yang panjang kulakukan untuk bertemu kakekmu. Banyak hal yang kami bicarakan."
dr. Do mulai bercerita.
"Kau harus tahu, aku punya seorang putri. Beberapa tahun lebih muda darimu. Aku ingin dia menjadi seorang dokter, walau tidak sepertiku," dr. Do menjeda ucapannya beberapa saat."Tapi dia trus menolak mengikuti ujian masuk fakultas kedokteran. Aku hampir menyerah sampai kakekmu memberikan sebuah saran agar aku tidak kehilangan anakku dan juga rumah sakit ini. Kau sendiri pasti berpikir aku akan menyerahkan rumah sakit ini pada anakku, tentu saja aku hanya memiliki dia sejak istriku meninggal. Tapi aku yakin para Dewan akan menolak keputusan ini, walau tidak bisa berkata padaku mereka akan menyerang putriku nanti, saat aku tidak ada untuknya."
Kai mendengarkan dengan baik. Apa yang sedang mereka bicarakan, ia tidak bisa bernafas lega membicarakan hal seperti ini di tempat umum. Beruntunglah tidak ada orang yang mendengarkan, bahkan karyawan kedai pun sedang berada di belakang.
"Aku tidak bisa menyakiti putriku, tapi dia harus membuat pilihan."
"Pilihan?"
Kai pikir dia seperti burung beo. Direktur rumah sakit itu mengangguk pelan. Melipat tangannya dengan baik di atas meja dan sedikit mencondongkan wajah mendekati Kai untuk berbisik. "Mengikuti ujian masuk fakultas kedokteran atau menikah denganmu."
Degh
Kepala pria tan sontak terpundur. Bahkan tubuhnya terjungkal ke belakang membuat debuman pada meja setinggi lutut orang dewasa ini.
"Tenanglah... Aku tidak memaksa, makanya aku membicarakan ini denganmu."
Dengan sedikit gemetar Kai meraih gelas minumnya. Meneguk beberapa untuk melancarkan arus tenggorokkannya yang seperti di padang pasir.
'Tidak memaksa? Lalu kenapa pilihan itu muncul sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Atau cari orang lain saja.'
"Kakekmu yang memberikan saran dan setelah sebulan aku memikirkannya aku setuju."
"Ka-kakek?"
Betapa terkejutnya Kai sekarang. Ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu ketika kakeknya begitu baik menghubungi. Bertanya kabar, mengatakan mengirimkan wine untuk Kai dan kemarin beberapa jurnal kedokteran yang entah kakeknya dapatkan darimana dikirim melalui Suho.
Kai memberanikan diri untuk kembali bertanya. "Jika dia memilih mengikuti ujian sekolah kedokteran?"
"Dia tetap akan kunikahkan denganmu. Aku tidak punya lelaki yang bisa kupercaya mengenai putriku. "
Pria tan meneguk ludahnya kasar.
"Kau bisa mencintainya dengan cepat dr. Kim. Percayalah padaku."
'Tapi ini bukan seperti melakukan operasi. Jika di ruang operasi aku bisa dengan segera mempercayakan pasien padamu tapi...'
"Aku percaya kau bisa mengubah pandangannya. Lagian putriku sangat pintar, ujian tidak resmi yang dia ikuti mendapatkan hasil sempurna."
Direktur tersenyum saat Kai tidak bisa memberikan jawaban segera. "Bisakah aku meminta izin hari ini?"
"Hm?" Dokter Do bertanya dengan sebuah gumaman singkat.
"Aku ingin pergi ke suatu tempat. Mungkin aku butuh memikirkannya juga. Seperti yang kubilang, aku memang akan menikah satu kali dan akan mencintai wanita yang kunikahi."
dr. Do mengangguk pelan. Dia menghabiskan air dalam gelas, "Kau bisa mendapatkannya. Tapi aku harap tidak mendapat penolakan darimu dr. Kim."
~ RoséBear~
Daun-daun mulai berguguran, angin lembab menerpa melalui jendela. Memaksa masuk menerobos bersama cahaya.
Musim gugur telah datang, jalanan penuh daun-daun yang berjatuhan ditiup angin.
Hari-hari yang indah.
Sedang langit begitu biru dan mempesona.
Saat suara violin itu terdengar, Kai segera melirik ke taman di dekat asrama. Pria tan itu baru saja akan pergi ke suatu tempat. Rumah kakeknya!
Alunan violin itu kembali menyeretnya, diam di bawah pohon. Memperhatikan gadis yang sama tengah menggesekan busur pada violin di pinggir taman. Tidak hanya dia, beberapa orang pejalan kaki juga berhenti untuk menikmati alunan violin itu.
Mungkin beberapa orang benar-benar tidak mengerti. Namun Kai tahu dimana letak kesalahan permainan gadis itu, berkali-kali dia mengulang kesalahan yang sama. Namun para penikmat musik jalanan itu tetap memberi tepuk tangan saat dia menyelesaikan bagian akhir.
Kai berjalan mendekat saat sang gadis membereskan koin yang ia kumpulkan.
Gerakkannya berhenti menyadari sepatu seseorang berhenti di depannya. Ia mendongak dan mendapatkan Kai berdiri. Dia mengabaikan pria itu, lebih memilih menggulung sapu tangan yang berisikan uang. Hampir saja dia akan beranjak meninggalkan Kai.
"Violin concerto no 4 in D major, K. 218 oleh Mozart, Wolfgang Amadeus."
Gadis itu terdiam, ia kembali menoleh pada Kai. Tampak tertarik setelah mendengar komentar Kai barusan. Bahkan langkahnya terkesan maju mendekat membuat Kai terkejut. Pria tan mundur selangkah dan menempatkan tangannya ke depan menolak kedekatan yang lebih intens lagi.
"Tenanglah Nona. Aku tidak mengerti musik. Jangan tertarik pada ucapanku."
Tapi bibir hati itu naik segaris membentuk sebuah senyum. Mata bulat mengintimidasi lalu tangan yang kini bersedekap. Memperhatikan Kai tanpa mengucapkan kata apapun. "Ya. Kau memang terlihat tidak berguna."
"..."
Kai terdiam, tubuhnya membeku mendengar komentar kedua tentang dirinya dari orang yang sama dalam satu hari atau katakan dalam hitungan jam. Bukankah ini pertemuan kedua mereka? Hanya karena Kai tertarik oleh alunan permainan violinnya. Bukan berarti pria itu ingin menyempatkan dirinya menjadi seorang komentator musik.
Alih-alih mengamuk Kai lebih memilih menggelengkan kepalanya. Gadis ini punya ucapan yang tajam dan bisa melukai banyak orang hanya dengan kata-kata. Pria tan itu tersenyum, sebagaimana di mencoba berhadapan dengan seorang pasien yang tidak percaya hidupnya dipertaruhkan di meja operasi.
"Tapi aku cukup tahu kau melakukan banyak kesalahan di bagian akhir. Begitu juga permainanmu tadi pagi."
Luar biasa respon yang diberikan gadis itu pada Kai. Ahh sepertinya dia baru menyadari orang yang diberi komentar buruk tadi pagi adalah orang yang sama dengan Kai siang ini. Hanya saja penampilan Kai memang sedikit lebih rapi dan kasual. Tentu saja, dia baru saja mandi dan menata poni rambutnya ke atas. Terlihat dewasa dan sebagai seorang pria sesungguhnya.
"Kau terkejut?"
"Duduklah. Aku akan mentraktirmu minuman kaleng."
Gadis itu meletakkan violinnya di bangku taman, meninggalkan Kai dan berlari ke mesin penjual otomatis yang ada di pinggir taman. Tadinya Kai tidak peduli, dia ingin melangkah namun gadis itu telah meninggalkan violinnya begitu saja. Ada perasaan dimana dia merindukan seseorang namun kemudian ada kebencian yang mengikuti kembali tampak. Hanya karena memandang sebuah violin saja.
Hampir saja Kai akan larut dalam lamunan, sesuatu yang dingin menyenggol lengannya. "Untukmu."
Gadis itu duduk di bangku meninggalkan sedikit bagian untuk Kai. Jemari lentik itu menarik lubang penarik pada kaleng minuman dan segera meneguknya.
Kai melirik jam di pergelangan tangannya dia sudah ketinggalan bus sejak beberapa menit yang lalu karena perhatiannya teralihkan. Pria tan pikir tidak ada salahnya untuk duduk menikmati sekaleng minuman gratis.
"Apa kau pengamen jalanan?"
Ia mendengar gadis itu terkekeh pelan. Menertawakan pertanyaan Kai. Namun saat Kai menoleh gadis itu terdiam. "Tidak. Aku hanya berlatih, dan saat membuka mata orang-orang telah berkumpul lalu mereka meninggalkan uangnya di atas peralatanku. Entah itu sapu tanganku, tas violinku bahkan di batako begitu saja."
"Harusnya kau pergi ke sekolah musik dan belajar pada guru seni. Tidakkah kau tahu begitu banyak kesalahan pada permainanmu?"
Gadis itu kembali tampak tertarik pada Kai. Ia mengangguk dengan senyum dikulum. "Akademi musik itu mahal. Kecuali aku mendapatkan beasiswa."
Kai diam sesaat, menikmati minuman kaleng di tangaannya. Ketenangannya terusik saat menyadari tatapan mata bulat gadis itu tak kunjung menjauh. Seperti meminta jawaban yang Kai yakin dia bahkan tidak mengajukan pertanyaan setelah pernyataannya barusan. Seperti mengerti saat Kai menjauhkan lubang minuman kaleng dari bibirnya. Gadis itu barulah menghentikan tatapan tajamnya. Memandang ke arah jalanan yang hanya dilewati beberapa orang.
"Kau bilang tidak mengerti musik. Bagaimana caramu bisa tahu letak kesalahanku?"
"Ah~" beberapa saat Kai mulai berpikir.
"Sebuah kebetulan seseorang yang sempat kubenci sering memainkannya."
"Tapi kau mengingat permainannya dengan sangat baik hum? "
"Itu karena aku genius."
"Jadi bagaimana rupa seseorang yang kau benci itu?"
Gerakan pria itu terkesan pelan, gadis itu menerawang ke jalanan. Ia mengabaikan pandangan Kai yang kini meneliti lekuk wajahnya.
Manis
Dia punya bibir hati yang menawan saat tersenyum
Alis tebal dengan mata bulat yang begitu polos
Suaranya sedikit berat dan terdengar sexy
Walau sedikit kasar ketika bicara
"Aku tidak tahu karena begitu membenci musik dan dirinya."
Kai bangkit dari tempat duduknya, menimbulkan bunyi nyaring dari kaleng minuman kosong yang ia letakkan di bangku. "Ini bayaran untuk minumanku."
Dia berjalan menjauh, mengabaikan teriakan gadis itu tentang uangnya.
"Aku tidak butuh uangmu. Lagian ini terlalu banyak."
Kai membalikkan badan, melambaikan tangannya. "Aku yang mentraktirmu."
Gadis itu kesulitan mengejar Kai. Saat sapu tangannya terjatuh ke rerumputan dan membuat banyak koin berserakkan. Dia tidak sempat mengejar Kai karena pria itu berlari mengejar bus selanjutnya.
"Hah~ kenapa orang-orang suka sekali mengasihaniku? Aku sungguh tidak butuh uang mereka."
Ponsel gadis itu berdering. Sebuah pesan masuk dan dia segera membukanya. Bibirnya terpout sangat lucu saat mengeluarkan raut kekesalan setelah membaca pesan yang masuk.
"Ayah membuatku seperti setrikaan!"
Dia bergumam kesal namun tetap saja melangkah. Ada jalan setapak yang bisa ia gunakan dimana mobil tidak bisa menembus jalan selebar satu meter setengah yang masing-masing sisi di beri tanaman sebagai pagar.
To Be Continue!
Aku pikir cerita ini sangat manis dan begitu dewasa, walau beberapa bagian mendramatisasi. Kurang sebulan aku menyelesaikannya dan mulai sekarang secara bertahap akan kubagi cerita itu pada kalian. Andai kalian mau membaca sampai akhir kalian akan mengerti apa yang kukatakan tentang 'aku pikir cerita ini sangat manis dan begitu dewasa.' Kkk kk
Tapi sebelumnya akan kukatakan jika cerita ini sangat panjang. It's a long story... FOCUS ON KAISOO, but some part take the other Couple.
'The Paradox of Lost Complementary' menggambarkan seluruh isi cerita. Tapi terlalu panjang untuk dijadikan judul. Haha
Jika boleh aku membahasanya maka izinkan diri kalian untuk membaca pesan singkatku ini, mengenai 'Cosmopolitan' sejujurnya itu memang awal sebuah cerita tapi kemudian aku berpikir mungkin salah satu dari yang sudah membacanya ingin melanjutkan? jika membutuhkanku dalam sebuah 'pengingat' kalian bisa melakukannya ^^ selebih dari itu mari melakukan banyak hal bersama-sama.
Mari menikmati comeback album terbaru EXO ^^
Preview Chapter 02.
"Ya Kyungsoo! Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah sudah kukatakan jangan dulu datang. Oh astaga! Kamarku!" –Chanyeol
"Karena aku ingin melihatmu menikah. Tapi sampai sekarang kau bahkan tidak pernah membawa seorang perempuanpun padaku. Jangan katakan jika kau adalah gay. Aku akan membunuhmu Kai." –Tuan Kim
"Kau... Terbangun di dalam kamar bersama seorang pria." –Kai
Salam hangat
.
RoséBear
[Part 1 : VOICE of Love 170721]
