Tittle: Complementary

(2nd Chapter)

Author: RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Warning! GS. Companionship. Friendship. music 'serius'.


The Paradox of Lost Complementary

"The Violin has been called the King of Instruments and, in the hands of a fine player, it is certainly worth of the name. As a solo instrument, accompanied by the piano, it is well known for its expressive beauty: it leads the string quartet and it is the most important instrument in the orchestra." Palmer, King. (Associate of the royal academy of music) : teach your self music.

Kyungsoo duduk di cafe milik Ayah Chanyeol, teman dekatnya semasa sekolah. Sayangnya Chanyeol memiliki jalan yang lurus untuk melanjutkan ke akademi musik sekitar dua tahun lalu sementara Kyungsoo hanya berputar-putar tak tahu arah. Seperti burung yang mengepakkan sayapnya, tapi di bagian kaki dia memiliki tali yang mengikat dengan tiang di dalam kebun binatang. Sungguh mengerikan.

Uncle park datang mendekat, memberikan sepiring kentang goreng dan minuman soda untuk Kyungsoo.

"Chanyeol pulang satu jam lagi. Kau akan menunggu di sini atau mau ke dalam? Bibimu ada di dalam."

Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan, meluncur begitu saja di hadapan pria paruh baya ini. Ia ambil tas violin miliknya. Lalu meraih nampan, memasukkan kembali apa yang disajikan Ayah teman dekatnya ini.

"Aku akan menangis di kamar Chanyeol saja."

Sedikit melompat turun dari kursi kayu yang cukup tinggi, Kyungsoo membawa langkah kakinya menaiki anak tangga.

Lelaki itu hanya mencoba tersenyum kecil dengan penuh pengertian, "Turunlah untuk makan malam bersama. Bibimu sedang menyiapkan makan malam."

"Ya Paman!"

Rumah keluarga Park sudah seperti tempat pelarian Kyungsoo. Setiap kali mengalami masalah dia akan datang kemari. Mau bagaimana lagi, Kyungsoo tidak punya orang yang akan mendengarkan keluh kesahnya kecuali Chanyeol. Mereka telah berteman sejak kecil, tidak ada rahasia apapun di antara mereka.

Di rumah dua tingkat dimana lantai pertama dijadikan tempat bekerja keluarga Park dan di lantai dua terdapat beberapa ruang untuk mereka beristirahat. Dia dan Chanyeol sudah seperti saudara kandung. Rumah ini, menampung Kyungsoo untuk menunggu supir jemputannya. Tempat menginap ketika ayahnya tidak kembali dalam waktu yang panjang. Tempat dia bisa mendengarkan dongeng yang dibacakan ibu Chanyeol.

Tempat...

"Ya Kyungsoo! Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah sudah kukatakan jangan dulu datang. Oh astaga! Kamarku!"

Kyungsoo membalikkan badannya. Memyambut dua orang yang masuk ke kamar Chanyeol dengan air mata berlinang.

"Hueeeeeee Chanie~ Baekie~"

Chanyeol. Pria tinggi itu membeku dalam pelukan Kyungsoo. Bersama seseorang..

Tunggu.

Siapa yang kau panggil barusan Kyungsoo?

Baekie?

Byun Baekhyun?

Kekasih Chanyeol sejak dua tahun lalu?

Ahh gadis cantik itu ikut terjerumus dalam pelukan Kyungsoo. Air mata gadis itu membasahi pakaian keduanya.

Baekhyun yang pertama menyadari kebenaran dalam suara tangisan Kyungsoo memeluk punggung sempit gadis itu pelan. Mereka telah berteman sejak lama, sangat lama bahkan. Tapi sayangnya dua tahun lalu Baekhyun kembali ke kota ini dan Chanyeol yang melihat begitu banyak perubahan pada Baekhyun mengatakan perasaannya. Sejak itu keduanya mulai berkencan.

"Kyung~"

Baekhyun mendorong tubuh Kyungsoo untuk melepaskan pelukannya.

"Jika..."

Membawa Kyungsoo untuk duduk di pinggir ranjang kekasihnya. Tangannya tak lepas dari lengan atas Kyungsoo, mengusap beberapa kali agar gadis itu tenang. Usaha Baekhyun tidak sia-sia, isakan Kyungsoo mulai berkurang.

Baekhyun menatap Chanyeol, memohon agar pria itu tidak marah.

Alih-alih marah, Chanyeol memilih membersihkan kamarnya. Sungguh ia tidak tahu apa yang telah Kyungsoo perbuat. Beberapa peralatannya berserakkan di lantai. Tisu menjijikkan dimana-mana.

Butuh beberapa saat agar Chanyeol selesai dan kini dia mengambil alih Kyungsoo dari Baekhyun. Jika sudah seperti ini Baekhyun seperti melihat saudara kembar dimana salah satunya seperti baru dipukul seseorang sementara yang satunya pendedam luar biasa dan siap membalas.

"Katakan padaku apa yang terjadi? Kau menghancurkan kamarku padahal sudah kuberitahu Baekhyun akan kemari."

"Chan, aku tidak apa," Baekhyun menyikut Chanyeol untuk mengubah kata-katanya, dan benar saja, pria itu mengubah kata-katanya.

"Soo, kau dengar aku? Katakan masalahmu..."

"Ayah..."

Satu kata itu. Dimana Chanyeol dan Baekhyun juga sama-sama tahu tentang Ayah Kyungsoo.

Keduanya saling bersitatap lalu mengalihkan pandangan pada Kyungsoo. Jari gadis itu saling bertautan satu sama lain, menunduk dalam dengan isakan yang sesekali masih meluncur dari bibir hatinya.

"Pagi ini... Kupikir aku bisa meminta izin untuk mengikuti acara Thursday festival of Violin sebulan lagi."

"Ya."

Chanyeol dan Baekhyun sama-sama tahu tentang Thursday festival of Violin yang akan diselenggarakan sebulan lagi. Merekalah yang memberitahu Kyungsoo tentang kompetisi yang di adakan jurusan tempat keduanya kini melanjutkan pembelajaran tentang musik.

"Chan," Kyungsoo menarik Chanyeol dan memeluknya begitu erat membuat pria tinggi itu kaget. Dia menatap Baekhyun meminta maaf. Mau bagaimana pun Kyungsoo sudah seperti saudara perempuan bagi Chanyeol. Dia meminta Baekhyun tidak cemburu dan gadis itu mengangguk pelan.

"Aku akan membantu ibumu menyiapkan makan malam. Bicara lalu turunlah ke bawah untuk makan malam."

Baekhyun berkata lirih. Walau dia terdengar memberi izin, sesungguhnya hati kecil Baekhyun sedikit menjerit. Chanyeol memang mengatakan dia akan mementingkan Baekhyun daripada Kyungsoo, tapi terkadang ada saat dimana Kyungsoo menjadi prioritasnya. Lalu Baekhyun kesulitan untuk menyampaikan keberatan, ia lebih sering menguburnya dengan mengalihkan perhatian. Sejak kembali, gadis cantik itu memang tidak begitu dekat dengan Kyungsoo, ada sebuah tembok pembatas yang tiba-tiba terbentuk. Tapi Baekhyun sudah mencoba memahami itu semua.

Terlepas setelah Baekhyun menutup pintu. Chanyeol mendorong tubuh Kyungsoo sedikit menjauh. Ia perlu menunduk untuk melihat wajah Kyungsoo yang sembab dengan air mata. Pasti butuh waktu yang lama bagi Kyungsoo untuk membuat matanya seperti ini. Sudah berapa lama dia menangis.

"Soo, kau bisa ceritakan padaku."

Suara lembut Chanyeol berhasil menenangkan Kyungsoo. Gadis bermata bulat itu mendongak dan mengangguk pelan.

Bergeser menjauh, pandangannya menatap lantai kayu kamar Chanyeol. Beberapa kali dia menghela nafas hangat.

"Ayah ingin aku mengikuti ujian kemampuan skolastik ke perguruan tinggi tahun ini untuk fakultas kedokteran."

"Itu artinya dua bulan lagi?"

Kyungsoo mengangguk pelan. "Tapi kau bisa menolaknya lagi seperti tahun lalu. Kau bilang ini seperti perang mental dengan Ayahmu sendiri."

"Chan! Aku belum selesai."

Suara Kyungsoo sedikit meninggi membuat alis mata Chanyeol naik setingkat. Pria itu mengangguk. "Lanjutkan."

"Aku bisa menolak dan mencoba berpikir lagi untuk tahun depan bahkan aku bisa saja mencoba masuk ke akademi seni. Tapi aku harus menikah dengan seorang dokter, bahkan Ayah telah memikirkannya. Ayah bilang ini demi rumah sakit yang telah di bangun kakek. Jika aku menolak, maka aku menghancurkan keluargaku sendiri. Aku tidak bisa Chan! Aku masih ingin mencoba pergi ke akademi."

Chanyeol terdiam. Oh otaknya bahkan sempat berpikir Kyungsoo menikah dengan seorang dokter? Bukankah itu berarti seorang pria dewasa? Berpendidikan? Dan...

"Ya Park Chanyeol! Apa yang otakmu pikirkan huh?" Kyungsoo menepuk kuat pundak Chanyeol membuat pria tinggi itu berjingkat dan mendesis menahan sakit yang tiba-tiba menariknya dari alam bawah sadar.

"Eh? Maaf Kyung. Jadi kau akan hamil? Mengurus anak?"

Plak

Sekali lagi Chanyeol mengaduh kesakitan atas pukulan Kyungsoo.

"Aku tidak akan hamil setelah menikah Chanyeol! Ayah bilang aku boleh hamil setelah menyelesaikan pendidikanku."

"Jadi? Menikah atau belajar di fakultas kedokteran? Otakmu sangat cerdas. Kenapa tidak lakukan keduanya saja?"

"Sudah kukatakan aku tidak mau menjadi dokter. Semakin aku mengikuti kemauan Ayah maka dia akan merasa menang atas diriku!"

Chanyeol membenarkan posisi duduknya. "Tapi dia tetap ayahmu Kyungsoo. Baik! Jangan dengarkan kalimatku yang pertama." Chanyeol menyilangkan kedua tangannya untuk berlindung saat melihat Kyungsoo mulai akan mengamuk lagi.

Pria itu menghela nafasnya pelan. "Ayahmu tahu kau akan lolos jika mengikuti ujian masuk itu. Sebab kau tidak bisa menolak menyelesaikan jawaban itu. Salahkan otakmu yang terlalu cerdas Kyungsoo, dan lagi..." Chanyeol mengamati Kyungsoo sementara gadis itu menunggu komentar Chanyeol.

"Kau tidak memiliki kekasih. Sudah sepantasnya Ayahmu menyelamatkan rumah sakit dengan cara seperti itu."

Chanyeol memang benar. Tapi mau bagaimana lagi. Terakhir Kyungsoo memiliki kekasih adalah dua tahun lalu. Dia memutuskan kekasihnya karena pria itu berselingkuh. Dalam artian Kyungsoo sebenarnya dicampakkan terlebih dahulu. Setelah itu, kegiatan Kyungsoo hanya berputar-putar di Kota. Mengikuti Chanyeol dan Baekhyun seperti parasit.

"Kau hanya perlu memiliki kekasih Kyungsoo. Cari saja pria yang mau dibayar menjadi kekasihmu. Setidaknya kau punya uang kan untuk membayar aktor jalanan itu?"

Kyungsoo mendelik menatap Chanyeol. Mana dia punya uang, koin yang terkumpul secara tidak sengaja itu hanya cukup membelikannya bekal makan siang saja. Sementara keperluan sehari-hari Kyungsoo dapatkan dalam bentuk barang jadi.

"Kyungsoo! Jangan menatapku. Ayahmu mengenaliku dengan baik. Dia bahkan sudah mengenal Baekhyun sebagai kekasihku. Jangan membuat kau ditertawakan Ayahmu nantinya."

Kyungsoo bersedekap tangan dan memalingkan wajah mendengar sindiran Chanyeol. Pria ini seakan tahu apa yang dia pikirkan. Membawa Chanyeol berpura-pura sebagai kekasihnya.

Sangat lucu Kyungsoo!

Jika tiba-tiba selera humor ayahnya naik dan menyetujuinya. Matilah dia ditangan Baekhyun dan Chanyeol bersamaan.

"Sebaiknya kita makan. Pikirkan masalahmu setelah itu."

Chanyeol menghapus air mata Kyungsoo. Menepuk pipi gembil itu beberapa kali mengabaikan ringisan Kyungsoo. "Sedikit lebih baik. Ayo turun."

Jika seseorang melihat mereka beberapa tahun yang lalu, keduanya terlihat seperti saudara kembar. Namun jika ditahun ini seseorang melihat keduanya bergandengan tangan. Mereka akan berpikir jika Kyungsoo dan Chanyeol adalah sepasang kekasih. Mengabaikan fakta itu, Chanyeol hanya akan memperlakukan Kyungsoo begitu baik ketika di rumahnya. Dia juga berusaha menjaga perasaan Baekhyun. Tidak sekali dua kali dalam tahun ini Baekhyun mengabaikan Chanyeol karena Kyungsoo. Tapi dia juga tidak bisa menolak kehadiran Kyungsoo. Mereka berdua sama-sama tahu masalah Kyungsoo.

~ RoséBear~

Kai menghempaskan tubuhnya di bangku halte. Nafasnya berhembus pelan untuk beberapa kali, malam semakin larut. Ia baru saja turun di dekat rumah sakit setelah perjalanan yang panjang.

Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, Kai mengambil jam kerja malam. Dia masih punya setengah jam sebelum diharuskan berada di rumah sakit. Ada beberapa pasien yang harus dia pastikan kondisinya.

Matanya menerawang ke langit gelap musim gugur yang begitu panjang. Rasanya begitu melelahkan, pria tan itu menggosokkan telapak tangannya untuk meraih kehangatan.

Jalanan kota tak terlalu ramai, mungkin karena cuaca dingin malam hari memangkas keinginan mereka untuk sekedar berjalan.

Masih hangat di ingatan Kai tentang percakapannya dengan sang kakek siang ini.


~ RoséBear~


Flashback

Pria tan itu baru saja berjalan beberapa menit dari stasiun menuju halte meminta bus membawanya ke halte terdekat dengan rumahnya. Ia hanya mengenakan ransel coklat dan pakaian kasual. Dia seorang dokter di usia yang masih muda, Kim Kai. Cerdas dan begitu tampan.

Satu menit dia habiskan untuk sekedar berdiri di depan pagar seng sebuah rumah dua tingkat dengan halaman depan yang cukup luas dan bagian belakang yang sangat luas. Tembok berlumut di bagian bawah menunjukkan bukti kapan terakhir kali rumah ini direnovasi. Rasanya sudah begitu lama.

Bunyi deritan menandakan pintu terbuka. Seorang perempuan cantik menyambutnya.

Yixing

Wanita cantik itu adalah istri Kakaknya. Seorang tenaga pengajar di taman kanak-kanak dan kini sedang mengandung calon keponakan Kai.

"Kau sudah tiba. Selamat datang."

Sebuah pelukan hangat yang dirindukan Kai. Yixing mengajaknya masuk.

Rumah ini tidak banyak berubah, hanya saja jauh lebih rapi setelah seorang wanita ikut tinggal di sini jika mengingat sebelumnya tiga pria telah hidup bersama di bawah atap rumah ini.

Ia mengedarkan pandangannya. Tepat saat mendapatkan sebuah pintu dari ruang terpisah dibagian kanan. Dia tahu ruang itu seperti gudang kecil jika di lihat dari luar.

"Kakek ada di dalam. Kau mau menemuinya langsung?"

Seolah Yixing mendengar pikiran Kai saat menyadari pria tan itu berhenti. Kai menganggukkan kepala. Ia menyerahkan ranselnya ke tangan Yixing dan berjalan ke pintu kayu berwarna coklat yang sedikit terbuka.

Ketika masuk ia bisa melihat beberapa barrel tergeletak dan juga dua rak botol wine disusun dimasing-masing sisi anak tangga. Ya. Anak tangga menuju gudang penyimpanan wine milik kakeknya. Tidak ada pintu lagi, Kai masuk begitu saja, menuruni satu persatu anak tangga dan dia bisa mendengar suara botol yang disusun.

Ini adalah kamar khusus untuk penyimpanan wine milik kakeknya. Baik wine yang telah dimasukkan di dalam botol maupun yang masih di dalam barrel. Hanya ada beberapa lampu pijar yang menyala, sepenuhnya ruangan itu tidak memiliki intensitas cahaya cukup, temperature, dan tingkat kelembaban musim gugur begitu terasa.

Setidaknya Kai menyadari keberadaan seseorang di dalam sini. Kakeknya dengan pakaian petani dan apron sedang menyusul botol-botol wine dari trolli ke dalam rak penyimpanan.

"Kau sudah tiba?"

Belum juga dia menyapa, pria tua itu sudah menyadari langkah kaki Kai.

"Ya. Aku buru-buru kemari. Aku merindukan kakek."

Pria tua menghentikan aktivitasnya. Ia berbalik badan dan merenggangkan tangannya untuk memyambut kedatangan Kai. Memeluk erat cucu keduanya, mengusap punggung lebar Kai yang kini lebih tinggi darinya.

"Kau tumbuh dengan sangat cepat setelah meninggalkan rumah ini."

Kai hanya menyengir.

"Aku akan membantu kakek menyelesaikan ini."

"Ya. Karena kau ingin bicara dengan kakek kan?"

Kedua pria itu larut dalam pekerjaannya. Bukan hal mudah menyusun botol-botol kaca ini secara horizontal. Mereka harus memastikan posisinya tidak akan bergerak, memastikan gabus penutup tetap basah karena kakek Kai tidak menggunakan aluminium sebagai tutup botol.

Kini semuanya telah selesai. Kai menantikan wine ini berubah rasa dan pasti akan menyenangkan. Ada rak dimana wine-wine itu tidak untuk dijual.

Pria Kim tua mengambil satu botol red wine. Memerintah Kai untuk mengambil dua gelas dengan bowl yang lebih bulat dimana bagian bibir gelas berdiameter lebih kecil daripada bagian bowl tengah. Membawa Kai untuk duduk di sofa kulit berwarna hitam yang ada di tengah ruangan. Ini adalah underground cellar pribadi milik kakeknya. Khusus dibangun ketika tanah kosong yang berada tepat di sebelah rumah ini di ditanami anggur berkualitas tinggi.

Keduanya duduk berhadapan. Saat gabus penutup wine dibuka terdengar letupan kecil dari proses oksidasi di dalam botol. Kakeknya menuangkan ke dalam gelas Kai hingga setengah terlebih dahulu, aroma nikmat menguar dengan begitu baik.

"Terima kasih."

Kakeknya tersenyum, mendengar ucapan Kai. Cucunya benar-benar terdengar sudah dewasa saat ini. Dentingan gelas beradu pelan, Indra pengecap Kai terbuka karena aroma wine yang menguar, dia menikmati wine yang dituangkan kakeknya. Rasanya keras namun kandungan alkohol tidak begitu banyak.

"Jadi? Apa masalahmu kali ini tuan muda?"

Kai mencebik mendengar pertanyaan kakeknya. Ia sangat yakin kakeknya sudah tahu maksud kedatangan Kai. Prihal tawaran dokter Do karena Kai tahu betapa dekatnya sang kakek kepada dokter Do. Penyakit jantung dan juga wine telah mendekatkan mereka berdua.

"Kenapa kakek menawarkan hal seperti itu kepada dokter Do? Kenapa harus aku?"

"Karena aku ingin melihatmu menikah. Tapi sampai sekarang kau bahkan tidak pernah membawa seorang perempuanpun padaku. Jangan katakan jika kau adalah gay. Aku akan membunuhmu Kai."

Pria Kim muda tertawa mengejek. Yang benar saja, dia bukan gay. Dia masih menyukai payudara perempuan dan Oh... Kai hanya terlalu fokus pada pekerjaannya. Dia mengabaikan beberapa perhatian wanita penggoda.

"Tapi kakek sudah mendapatkan menantu perempuan yang sebentar lagi akan melahirkan."

Kai masih saja berusaha protes.

"Kau bilang akan menikah jika kakek setuju pada wanita yang kau bawa ke rumah ini."

"Tapi aku bahkan belum membawa wanita manapun."

Sekali lagi Kai masih berusaha protes.

"Oh ayolah anak muda. Apa membawa seorang wanita padaku begitu sulit untukmu?"

Wajah tampan penuh guratan penuaan itu benar-benar terlihat menyebalkan. Tapi Kai kesulitan membalas kata-kata kakeknya. Pria tan berpikir beberapa saat. Apa yang harus dia lakukan kini? Di luar sana pasti sudah sore dan dia sudah harus kembali ke rumah sakit.

"Makan malam di sini. Suho kembali sedikit larut. Ahh pria itu,,, dia sangat sibuk belakangan ini sampai tak punya waktu membantuku."

"Aku harus kembali bekerja kakek."

Kai yang pertama beranjak. Dia membawa gelas miliknya dan juga milik kakeknya ke dekat wastafel. Mencuci gelas itu dengan air mengalir lalu menggantungkan kembali gelas wine itu untuk mengeringkannya.

Kai menolak makan malam bersama, apalagi jika dia harus menunggu Suho. Mereka berdua pasti akan berkomplot membentuk sistem penyerangan kepada Kai, sementara Yixing hanya akan menepuk pundak Kai dan berkata... 'Cobalah.'

Kai bisa membayangkan makan malam seperti apa yang diinginkan kakeknya.

"Kalau begitu akhir minggu ini makan malam di sini bersama kekasihmu. Itupun jika kau memiliki kekasih."

Kai mendelik menatap kakeknya yang penuh arti pada setiap kata. Akhir minggu itu adalah dua hari lagi. Apa dia harus kembali kemari? Tapi kemudian pria tan tersenyum atau lebih tepatnya sedikit menyeringai.

"Ya. aku akan berkunjung untuk makan malam dengan kalian."

Flashback end


~ RoséBear~


Disinilah Kai sekarang. Pria tan memilih kembali ke rumah sakit. Dia harus bekerja untuk menyegarkan pikirannya. Setidaknya bertemu beberapa pasien akan menyadarkan pentingnya kehidupan yang Kai jalani saat ini.

Atau mungkin...

Baru juga dia tiba di halaman rumah sakit. Bunyi sirine ambulance, menuju UGD menyambut kehadiran Kai. Tanpa bertanya kepada orang sekitar dia bergegas melewati pintu kaca. Melangkah menemui kepala perawat yang kala itu juga berjaga malam.

Pikirannya mengalir saat menangani para pasien.

Malam itu Kai melakukan dua operasi emergency karena terjadi gejolak di bangsal.

Pria tan merasa lelah?

Ya

Tapi dia tidak bisa menghindar dari pekerjaan menjadi seorang dokter.

Sudah hampir pagi hari ketika jam pergantian ingin menyentuh menyadarkan Kai. Seseorang menepuk pundaknya pelan, mengalihkan perhatian Kai dari jurnal yang sedang dibacanya.

"Kau tidak pulang?"

"Sudah pagi?"

"Ya. Walau di luar masih gelap. Musim gugur dan musim dingin memang mengerikan. Langit gelap lebih lama," pria yang menyapa Kai itu meletakkan kopi paginya di sebelah lengan Kai.

"Tapi hyung. Kenapa kau disini?"

"Mengunjungimu."

Kai berdecih lalu mengalihkan wajahnya "Yang benar saja. Seorang Kris Wu, dokter dari departemen psikiater berkunjung ke bagian bedah? Kau masih waras hyung?"

Pria yang ia panggil Kris itu mengangguk pasti. "Tentu saja adik manis. Aku ingin menitipkan undangan untuk saudara laki-lakimu. Hari minggu dia harus datang untuk makan malam bersama teman-temannya. Jangan lupakan katakan untuk membawa istri cantiknya."

"Sebaiknya hyung kirim pesan langsung padanya."

"Kau pelit sekali untuk dimintai pertolongan Kai."

Kris menggerutu namun dia tetap mengeluarkan ponselnya mengetik beberapa kata lalu mengirimkan sebuah pesan.

"Kau mau kemana?" Kris sedikit berteriak saat Kai beranjak dari tempat duduknya. Pria tan membereskan peralatannya.

"Pulang."

Dengan begitu Kai meninggalkan Kris.


Baru saja beberapa langkah keluar dari rumah sakit tiba-tiba hujan turun. Kai tidak mungkin kembali ke dalam, tidak hanya dirinya beberapa orang berlarian dibawah hujan. Ia menentang arus, disaat orang-orang berlari menuju ke dalam bangunan rumah sakit. Pria tan berlari keluar, menerobos hujan hingga telinganya mendengar alunan violin itu lagi. Kali ini berbaur dengan suara hujan.

Di bawah halte bus itu seorang gadis sedang berdiri memainkan violinnya. Ruffles vichy skirt dan kaos tipis berwarna putih sedikit transparan. Dengan sangat yakin Kai mempercayai gadis itu sedikit tidak waras. Bagaimana dia bisa memakai pakaian itu disaat cuaca pagi musim gugur apalagi hujan angin membuat basah bagian kaosnya.

Harusnya kaki Kai melangkah memasuki gang sempit di bagian kanan. Namun dia memilih berteduh di bawah halte bus. Mengejutkan gadis pemain violin itu.

"Kau lagi!"

Gadis itu berseru. Permainannya terhenti seketika, membungkus violinnya ke dalam tas dan memilih duduk.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Kai bertanya. Pria tan memgambil tempat duduk di sebelah sang gadis.

Jika Kai boleh berpendapat, maka ia ingin mengatakan wanita ini punya suara yang merdu, kulit putih bersih, sepasang mata bulat di bawah alis tebal, bibir hati yang indah dan dia sangat menggemaskan. Menyenangkan melihatnya seperti saat Kai sedang berkunjung ke bagian anak-anak.

"Kau kedinginan?" Kai bertanya.

Dia mengeluarkan botol wine yang diberikan kakeknya tadi malam. "Minumlah seteguk, itu bisa membuatku merasa hangat."

Gadis itu awalnya tampak ragu hingga Kai meneguk langsung dari bibir botolnya. Barulah gadis itu menerima pemberiannya.

"Terima kasih."

Kai menoleh pada gadis yang kini duduk di sebelahnya, dahi pria itu berkerut dan semakin menjadi melihat rona merah di wajah gadis pemain violin ini.

Ya Tuhan.

Gadis ini mabuk hanya karena seteguk red wine?

Berdosalah kau dr. Kim

Pluk

Kini dia merasakan helaian rambut yang begitu halus namun sedikit basah menyentuh pundak dan leher Kai. Gadis itu benar-benar tidak sadarkan diri. Tidak mungkin dia berlari kerumah sakit dengan membawa orang asing yang mabuk. Apalagi jika dokter di UGD memeriksa dan menemukan penyebabnya. Kai adalah tersangka utama. Hampir semua dokter di rumah sakit tahu apa pekerjaan kakeknya sekarang.

Hujan yang begitu deras tadi kini berhenti. Namun gadis itu tak kunjung sadarkan diri.

Berat hati Kai menggendongnya, melewati jalan setapak dengan tubuh letih yang menggendong gadis pemain violin itu.

Asrama para dokter pagi itu sangat sepi, mungkin mereka sudah menyadari akan turun hujan jadi pergi lebih dulu. Apalagi sebagian petugas jaga malam memilih menyewa apartemen atau tinggal di sebuah rumah daripada di asrama.

Tidak ada yang menegur saat Kai membawa gadis itu masuk karena memang tidak ada siapapun disana, tidak seperti hari-hari biasa. Ia baringkan gadis itu di atas ranjangnya, menutupi dengan selimut tebal, berharap gadis ini tidak memiliki pikiran bodoh yang akan menyerang Kai.

Pria tan menghembuskan nafasnya, dia butuh mandi lalu pergi beristirahat beberapa saat.


Kai memilih tidur di sofa kamarnya, berlapis selimut tebal berbahan wol tanpa mengenakan atasan. Tidurnya mulai terusik ketika seseorang menekan wajahnya tanpa henti, memasukkan jari lembut itu ke bagian pipi.

Wajah dan rambut kusut tidak memudarkan ketampanan Kai.

"Ini dimana?"

Suara itu.

Kai terkejut dan segera bangkit. Ia duduk dan mengusap wajahnya. Yang pertama dilihatnya dengan jelas adalah wajah seorang gadis yang melotot dan kebingungan. Saat kesadarannya kembali barulah Kai ingat.

"Asrama kedokteran. Tadi kau mabuk dan tidak sadarkan diri karena seteguk anggur. Maafkan aku, aku tidak tahu jika ada orang yang akan mabuk karena seteguk wine."

Gadis itu menarik tubuhnya sedikit menjauh, menggaruk kepala bagian belakangnya.

"Aku memang tidak bisa mengkonsumsi alkohol."

"Lalu kenapa kau terima begitu saja?" Kai membuka selimutnya membuat gadis itu terpekik dan membalikkan badan segera.

Kai terkikik geli melihatnya. Dengan santai ia ambil kaos polos di dalam lemari.

"Katakan dimana rumahmu. Aku akan mengantarmu pulang."

"Aku bisa pulang sendiri. Terima kasih."

Kai berbalik badan mendengar ucapan gadis itu. Menyadari tatapan Kai membuatnya sedikit condong seolah bertanya apa ada yang salah? Dia hanya mengambil tas violinnya dan tidak akan merepotkan Kai.

"Kau akan pulang begitu saja? Tidak akan bertanya apapun padaku?"

"Bertanya? A-apa yang harus kutanyakan padamu?"

Kai maju selangkah. Seringainya tercetak begitu sempurna, langkah kaki panjang itu semakin mendekat. Ia menyadari kegugupan yang kini di alami gadis dihadapannya.

"Kau... Terbangun di dalam kamar bersama seorang pria."

"Yakkk! Apa yang kau lakukan padaku bajingan!"


To be continue...


Terima kasih banyak atas respon yang diberikan. Jika boleh meminta, mungkin kalian bisa lebih santai ketika membaca. Aku pernah berkata jika cerita ini cukup panjang hingga sedikit mendetail, dan jika boleh jujur sebenarnya cerita ini bisa saja di baca dari seorang remaja hingga dewasa. Aku sangat berterima kasih atas semua saran yang telah diberikan karena sangat membantu memperbaiki beberapa bagian penulisan. Sampai bertemu di bagian selanjutnya ^^

Preview Chapter 3

"Apa yang kau pikirkan? Jangan bilang kau berubah pikiran." –Kai

"Tiap kali bicara dengan Ayah, aku bahkan tidak bisa bernafas dengan benar." -Kyungsoo

Terima kasih

.

RoséBear

[170729 - Part 1 : VOICE of Love ]