Tittle: Complementary

(3th Chapter)

Author: RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Content: GS. Companionship. Family


The Paradox of Lost Complementary

Ada ungkapan yang mengatakan

No music, no life

Sementara musik itu sendiri apa. Adakah penjelasan panjang tentangnya atau sekedar suara yang mengandung irama. Ya. Musik itu sejenis fenomena instuisi. Tiap orang memiliki paradigma masing-masing terhadap musik.

Bagi banyak orang musik itu dihasilkan dari suara alat. Sementara bagi Kai, detak jantung seseorang adalah musik yang indah di telinganya.

Pria itu kini duduk dengan makan siang yang cukup banyak. Berdua bersama seorang gadis pemain violin yang sudah dua kali ia temui.

"Siapa namamu?" Kai yang lebih dulu bertanya.

Ia menyaksikan betapa lahap gadis ini memakan makanannya.

Baiklah, semua terjadi tentu saja karena sebuah proses yang tidak terduga. Kai menerima hantaman cukup kuat dari violin sang gadis hanya karena candaannya.

Lalu suara perut gadis itu menyadarkan Kai. Oh. Dia tidak sadarkan diri tadi pagi bukan hanya karena red wine yang Kai tawarkan, lebih pada karena dia memang kelaparan dan kekurangan tenaga.

"Dyo."

Gadis itu berkata pelan.

Kai mengernyit, ia topang dagunya dengan tangan. Sesungguhnya selera makan Kai lenyap saat gadis ini menarik makanannya juga.

Mungkin lima belas menit sudah berlalu sejak dia memperhatikan gadis ini.

Dia tampak manis dengan rambut terurai yang dililit menggunakan syal merah serta tubuh mungil dibalut mantel coklat cream milik Kai yang ia pinjamkan pada gadis ini.

"Kau tidak bersekolah lagi? Tidak berniat melanjutkan ke universitas atau akademi?"

Gadis itu berhenti makan. Bahkan benar-benar berhenti.

"Ini bukan pertemuan pertama kita tuan. Kau pernah bertanya dan apa perlu kuberitahu padamu jika umurku kini sudah dua puluh dua tahun."

"Kau pengangguran?"

Gadis itu memutar matanya bosan karena pertanyaan Kai. Terkadang pria ini gemas melihat tingkahnya yang lucu, masih teringat oleh Kai bagaimana dia harus membawa gadis ini keluar dari asrama. Betapa takut gadis ini saat ingin keluar dari kamar Kai menyadari itu adalah asrama khusus laki-laki. Beberapa dokter menggunakannya untuk sekedar beristirahat atau digunakan untuk residen dan ko-assiten tinggal. Padahal Kai sudah meyakinkan tidak akan ada yang melihat, sekalipun ada tidak akan peduli. Dia tinggal bilang merupakan saudara Kai. Perjalanan satu menit berlangsung hampir setengah jam karena perdebatan kecil mereka.

"Aku sedang bersiap melanjutkan ke perguruan tinggi."

"Kalau begitu kenapa tidak mengikuti kursus persiapan ujian skolastik daripada kau berkeliaran di sekitar rumah sakit. Oh. Apa disana ada saudaramu?"

Kai memperhatikan gadis itu berpikir sejenak. Lalu dia mengangguk pelan. "Ayahku disana."

Oh, Kai pikir dia menyakiti hati gadis ini, mungkin ayahnya salah satu pasien di sana. Pelan, tangannya mendorong air minum mendekat. "Minumlah. Apa rencanamu sekarang? Kembali ke rumah sakit menemui ayahmu?"

Gadis itu menggeleng. "Entahlah aku bingung."

Ponsel gadis itu berdering, sebuah panggilan yang Kai tidak tahu dari siapa. Keluarganya mungkin, atau kekasihnya. Gadis semanis ini sudah barang tentu banyak pria yang menginginkannya. Tapi jika mengingat caranya bicara Kai sedikit ragu karena terkadang gadis ini berteriak.

"Ya Ayah."

Sekarang Kai tahu siapa yang menghubungi gadis itu. Ayahnya.

"Aku menginap di rumah keluarga Park. Jangan khawatir, aku akan pulang."

Begitukah cara dia bicara dengan Ayahnya? Tidak sopan.

"Oh Ayah!"

Kai mengernyit mendengar perkataan selanjutnya. Terdengar kecewa, marah yang tertekan dan penyesalan.

"Ya! Aku memang sedang bersama kekasihku. Aku tidak akan menuruti kemauanmu! Tidak! Tidak! Aku tidak akan menikah secepat itu! Ayah! Kumohon~"

Kai menelan ludahnya. Apa sekarang gadis itu sedang bertengkar dengan sang Ayah? Dia hampir menangis dan benar saja.

Panggilan terputus. Gadis itu menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Kai bisa mendengarnya menangis sekarang. Pria tan benar-benar tidak tahu tentang apa yang harus ia lakukan. Hanya saja tubuhnya bergerak sendiri, berdiri dan pindah duduk di sebelah gadis itu. Merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan yang hangat. Tanpa kata, hanya usapan yang mencoba menenangkan. Beberapa mata yang sedang makan siang di tempat yang sama memandang mereka.

"Sssttt sebaiknya kita keluar dari sini."


~ RoséBear~


Taman di dekat asrama kedokteran tampak sepi. Genangan air hujan pada lubang-lubang di pinggir jalan terbentuk secara alami.

"Aku dalam masalah besar."

"Hah?" Kai kaget dengan kepanikan gadis ini. Kini dia mondar mandir di hadapan Kai. Seperti remaja yang baru saja melihat hasil mengejutkan dari test pack.

Tangannya terkepal dan memukul satu sama lain.

"Ayah benar-benar sudah gila. Bagaimana dia bisa memintaku membawa seorang pria sempurna ke rumah. Arghhhh!"

Tubuh mungilnya terhempas ke kursi di sebelah Kai.

Kai menoleh menyadari ucapan gadis ini. Sepertinya mereka punya masalah yang hampir sama. Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di benak Kai.

"Hey. Aku bisa membantumu."

Gadis itu menoleh.

"Tapi kau harus membantuku terlebih dahulu."

Kai pikir tawarannya akan mudah diterima. Menawarkan dirinya untuk dibawa ke hadapan Ayah sang gadis.

Apa yang salah? Dia butuh pria sempurna bukan?

Dia cukup dewasa, tampan, berwajah aristokrat, pekerjaannya adalah dokter, otaknya juga cerdas. Sebagai seorang kekasih Kai tidaklah buruk.

Dan gadis ini...

Hanya cara bicaranya saja yang harus dikurangi agar kakeknya setuju.

Tapi dia menolak tawaran Kai dengan alasan Kai terlalu sempurna untuk diterima ayahnya.

Mereka berpikir cukup lama. Sangat lama hingga keheningan itu terasa membosankan.

Sebuah panggilan diterima gadis itu lagi. Dia tampak kesal karena yang menghubungi adalah orang yang sama.

"Ayah aku tidak akan pulang ke rumah jika masih memaksaku membawa kekasihku ke rumah. Tidak!"

Dia mematikan ponselnya dengan cepat. Nafas pendek-pendek dan wajah memerah menahan marah.

"Arghhhh! Sekarang aku harus tinggal dimana?"

Saat mendengar keluhan itulah Kai tersenyum memikirkan tawaran selanjutnya.

"Kau tidak punya uang? Aku bisa memberimu tumpangan tempat tinggal selama yang kau mau."

Terdengar menarik dan berhasil mendapatkan perhatian gadis itu.

"Kakekku menderita penyakit jantung. Dia hanya ingin melihatku membawa seorang perempuan ke rumah. Dia pikir aku gay karena tidak tahu aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku."

"Yeah. Menjadi dokter memang menyebalkan." Komentar gadis itu Kai abaikan.

"Kau bisa tinggal bersama kakek serta saudaraku di rumah kami."

Kai menjelaskan. Orang tuanya sudah meninggal, hanya perlu berpura-pura dan lagi rumahnya ada di Gyeonggi. Memiliki kebun anggur yang menyenangkan. Kakaknya seorang dosen, kakak iparnya seorang pengajar taman kanak-kanak lalu kakeknya menghabiskan waktu di kebun anggur serta underground caller pribadi milik keluarga mereka.

"Dengan syarat. Bertingkahlah seperti anak perempuan pada umumnya."

Kesekian kalinya gadis itu memutar bola matanya kesal menghindari ucapan Kai yang mungkin terdengar menyebalkan.

"Apa malam ini aku bisa tinggal di rumahmu?"

Kai menoleh, pria itu berlutut membuat gadis itu sedikit bergeser.

"Tentu saja. Tapi jangan pernah mengungkapkan rencana ini pada kakek. Kuperingatkan kau, kakek punya penyakit jantung."

Gadis itu meneguk salivanya sudah payah mendengar peringatan Kai.

"Ya. Aku hanya perlu tinggal disana beberapa hari saja sampai Ayah menyerah."

Kai mengangguk setuju. Artinya dia juga tidak perlu bertemu ayah gadis ini.

"Aku punya pekerjaan siang ini. Jam tujuh malam aku akan selesai. Dimana kita bisa bertemu lagi?"

Gadis itu tampak berfikir. Dia tidak punya tujuan saat ini.

"Polo cafe. Telat lima menit kau tidak akan melihatku di sana."

Kai mengeram mendengar ancaman gadis ini. Padahal dia juga membantu gadis ini. Tapi baiklah...


~ RoséBear~


Jam tujuh malam. Sudah begitu gelap mengingat ini musim gugur.

Kai menaiki taxi menuju Polo cafe. Dia bertanya pada kepala perawat tentang lokasi kafe itu sekaligus pria itu juga minta izin karena seharusnya dia selesai jam sembilan malam. Sedikit beruntung ada teman yang mau menggantikan dua jam pekerjaan Kai. Itu tidak masalah lagi jadinya.

Tepat jam tujuh malam dia melihat gadis itu telah berganti pakaian. Hanya sebuah sapaan singkat dan gadis itu meminta ponsel Kai. Melakukan sebuah panggilan, mungkin temannya. Memberitahu jika dalam seminggu dia tidak kembali maka temannya harus melacak keberadaan ponsel Kai.

Pria itu terkejut. Oh astaga! Gadis ini tidak sepenuhnya percaya pada Kai.

Perjalanan satu jam setengah dengan bus malam. Sebelum turun Kai menyadari gadis ini tampak tidak terbiasa keluar dimalam hari, dia menggigil di sebelah Kai. Bergerak-gerak gelisah di dalam bus. Benar-benar seperti anak kecil yang tidak pernah naik bus.

Dengan berat hati dia meminta bantuan Suho menjemputnya, sedikit keberuntungan kakak tersayangnya itu meluangkan waktu menjemput Kai apalagi saat dia beritahu Suho tentang keberadaan gadis ini.

"Namanya Dyo. Jangan bangunan dia hyung, sepertinya dia kelelahan."

Suho mengangguk paham. Membiarkan adiknya duduk di belakang bersama gadis yang ia katakan 'kekasihnya.'


~ RoséBear~


Kai memejamkan matanya. Dia lelah. Bisakah dia melewati rencana bodoh ini. Dia bisa saja berkilah nanti pada kakeknya, akan menikahi gadis ini jika dia sudah menyelesaikan proses belajarnya. Setidaknya butuh beberapa tahun, dan Kai juga yakin dokter Do bisa mempertimbangkan pemikirannya setelah mengetahui fakta yang Kai munculkan.

Dia memiliki kekasih dengan cepat.

Tanpa sadar setelah larut dalam pikirannya. Kai ikut tertidur. Ia dibangunkan oleh Suho ketika tiba di rumah.

Sudah cukup malam dan juga begitu dingin. Kakeknya juga sudah tidur jadi Kai tidak membangunkan gadis ini. Menggendongnya bridal menuju lantai dua, dimana kamar Kai selalu terawat. Nyonya Kang setiap pagi selalu datang membersihkan rumah mereka sejak Yixing mengandung.

Wajah damai yang benar-benar membuat Kai untuk beberapa saat terpesona. Ia melirik ke arah tas violin gadis itu.

"Kenapa kau harus bermain musik? Jika tidak mungkin aku bisa benar-benar menyukaimu," gumamnya pelan.

Meletakkan violin itu di bawah ranjang. Lampu dimatikan dan Kai memilih tidur di sofa ruang penyimpanan. Rumah ini tidak memiliki banyak kamar. Mereka tidak pernah menyiapkan kamar untuk orang yang bertamu.


Tengah malam Kai sedikit terbangun. Ia berjalan memasuki rumah karena menginginkan air mineral. Tapi ketika berada di anak tangga sayup-sayup mendengar suara tangisan...

Seperti Canon in D major.

Canon yang paling lembut dan juga halus menurut musik yang pernah Kai dengarkan. Menyayat hati dan sungguh menyedihkan. Ia urungkan niatnya untuk mengambil air, lebih pada bersender di dekat pintu kamar hingga suara tangisan itu menghilang. Kemungkinan gadis itu telah tertidur kembali barulah dia mengambil air minum. Pria itu kembali melanjutkan istirahat di ruang penyimpanan sebagaimana jika dia menginap di rumah ini.


~ RoséBear~


Pagi hari Kai terbangun karena goyangan cukup kasar pada pundaknya. Wajah pertama yang ia lihat adalah wajah mengintimidasi sang kakek.

Dengan enggan ia bangkit dan mengambil posisi duduk.

"Suho bilang kau benar-benar membawa seorang gadis ke rumah ini."

Pelan dia menganggukkan kepala.

"Kalau begitu bangunkan dia dan bawa untuk sarapan. Nyonya Kang sudah menyiapkan sarapan."

"Ya. Tunggulah."

Kedua pria itu keluar dari ruang penyimpanan. Sementara kakeknya menuju tempat makan maka kai melangkahkan kaki menaiki tangga.

'Kai~ sekali saja.'Bisiknya pelan meyakinkan diri.

"Dyo~ kau sudah bangun?"

Tidak ada jawaban ketika dia mengetuk pintu dan melakukan panggilan ke dalam kamar. Dia tidak mau masuk begitu saja mengingat kejadian tadi malam.

"Dyo~" panggil Kai sekali lagi.

Cklek

Tubuh pria itu terpundur segera saat engsel pintu bergerak dan benda kayu berwarna putih gading itu terbuka.

"Kau sudah bangun? Sudah mandi?"

"Hum.. Aku menggunakan peralatan mandimu. Maaf karena lancang."

Entah kenapa daripada protes Kai mengulurkan jemarinya. Mengacak pelan tatanan rambut gadis yang lebih pendek itu.

"Tidak masalah. Kakek ingin bicara denganmu di bawah sekarang. Cukup Perkenalkan dirimu sebagai seorang kekasih. Aku harus mandi."

"Ehm..." Gadis itu tak kunjung beranjak.

"Apa yang kau pikirkan? Jangan bilang kau berubah pikiran."

"Aku harus menyebutmu bagaimana?"

"..."

Kai terdiam beberapa saat. Mereka memang tidak pernah berkenalan secara resmi sebelumnya.

"Kai."

"Oh.. Oke Kai."

~ RoséBear~

Hanya butuh beberapa menit saja dia di kamar untuk bersiap-siap. Kai turun dan mendengar suara kakeknya sedang tertawa, syukurlah jika kakeknya menyukai gadis itu.

"Aku terkejut Kai membawa seorang pemain violin berbakat."

Kening pria tan mengernyit mendengar kakeknya bicara di meja makan.

"Ya. Dia membenci musik. Sangat benci jika ada yang memainkan alat musik."

"Kakek bicara apa?"

Sudah tidak tahan lagi Kai menegur pria tua itu. Dia menarik kursi makan dan duduk di sebelah gadis itu.

Satu ciuman di keningnya membuat gadis itu terkejut.

Begitu juga Kai. Itu benar-benar reflek ia lakukan, tanpa maksudmu apapun.

"Dimana Suho?" Kai bertanya pada Yixing.

"Kakakmu sedang membukakan pintu. Kakek bilang seseorang akan bergabung untuk sarapan."

"Siapa?" Pria tan terkejut namun kakeknya hanya tertawa.

"Orang yang kau kenal. Tidak masalah memperkenalkannya juga pada kekasihmu. Kau tenang saja Kai. Kakek menyukai kekasihmu, apalagi dia pemain violin yang sangat manis."

"Aku tiba~"

"Oh kau sudah tiba. Bergabunglah. Kai juga ada di sini."

Kai menoleh mendapati dokter Do yang menjadi tamu sarapan mereka. Di belakangnya Suho ikut berjalan. Dokter tampan itu tampak sangat lelah tidak seperti biasa Kai melihatnya di rumah sakit. Terlihat sedikit pucat.

"Kyungsoo~" suara dokter Do meluncur. Tatapannya tepat pada gadis di sebelah Kai yang juga tampak terkejut.


~ RoséBear~


Butuh waktu lama untuk memahami kejadian ini. Kai seakan kehilangan jalan untuk berpikir dengan lebih hati-hati.

Satu persatu kepingan puzzle itu tersusun dengan baik. Perlahan gambar utuh dari bangunan puzzle yang sesungguhnya mulai nampak oleh mata.

Pertama. Dia telah membawa anak dokter Do yang direncanakan akan dinikahkan dengan Kai.

Kedua. Dia mengakui pada kakeknya gadis ini adalah kekasihnya untuk menghindari keinginan dokter Do.

Ketiga. Keduanya benar-benar merasa bodoh untuk mengakhiri semuanya. Tapi permainan ini seperti takdir yang begitu mengikat.

Kyungsoo...

Do Kyungsoo

Kai melihat bagaimana gadis itu kini hanya diam menundukkan kepala. Tangannya menggenggam erat garpu di bawah meja. Kai sangat yakin Kyungsoo sedang menahan emosinya mendengar percakapan sang ayah dengan kakeknya. Kai yang berlebihan atau memang karena dia mengerti arti tatapan Kyungsoo yang sejak tadi memperhatikan ayahnya. Dimana emosi gadis ini bercampur aduk antara perasaan marah, kecewa, sedih, terkejut, dan yang paling Kai tidak mengerti Kyungsoo seperti memiliki perasaan rindu yang mendalam. Sama sekali tidak tenang dan terlihat khawatir. Tapi jangan salahkan Kai. Pria tan juga tidak tahu jika gadis ini adalah Do Kyungsoo. Walau Kai juga tidak menolak Kyungsoo untuk marah sebab dia berkata kakeknya punya penyakit jantung.

Sepanjang sesi sarapan itu mereka hanya mendengarkan percakapan dokter Do dengan kakeknya yang terkadang menyinggung pekerjaan Suho maupun Yixing.

"Kyungsoo~ Ayah ingin bicara denganmu sekarang. Bisa ikut Ayah nak?"

"Dad!"

Kai menghela nafasnya pelan.

Ia menepuk paha Kyungsoo menarik perhatiannya. Sedikit condong untuk berbisik walau suaranya bisa didengar semua orang di meja makan.

"Pergi dan bicarakan dengan Ayahmu."

'Aku tidak akan meninggalkan mu.' Dia benar-benar berbisik pada bagian akhir agar tidak ada yang mendengar.

Kyungsoo mendelik mendengar ucapan Kai. Gadis itu masih menolak.


Angin musim gugur yang terlalu dingin, dengan sebotol red wine yang mencoba menghangatkan tubuh anak manusia ini.

Desiran angin dan aroma nikmat menerpa. Menembus bersama cahaya melalui sela-sela jendela.

Rumah ini sudah cukup tua sejak di bangun. Mempertahankan bangunan lama dipadu nuansa modern.

Dari lantai dua, tepatnya kamar pribadi Kai.

Kedua orang asing itu saling bersitatap. Dokter Do duduk di kursi kayu, ia menepuk sisi ranjang meminta putri satu-satunya untuk ikut duduk dan mendengarkan cerita ayahnya.

Tapi Kyungsoo masih menolak. Hubungannya dengan sayang Ayah memang tidak terlihat baik. Ayahnya terlalu sibuk dengan rumah sakit. Menjadi dokter membuatnya mengabaikan keluarga.

Ibunya meninggal karena kelalaian ayahnya. Kyungsoo menganggapnya begitu. Ibunya seorang pemain piano di beberapa pertunjukkan orkestra dan ada alasan kenapa Kyungsoo memilih bermain violin daripada alat musik lainnya.

Dia hanya memiliki musik sebagai penghibur hatinya. Sejak kematian Ibunya, dokter Do semakin sibuk di rumah sakit. Bahkan menjadi jarang pulang seolah tidak ada yang menunggunya di rumah, padahal Kyungsoo sangat membutuhkannya.

Setiap malam gadis itu menunggu kepulangan ayahnya hingga tertidur di ruang tamu dan terbangun di ranjang esok paginya dengan segelas susu yang telah mendingin di atas meja belajarnya.

Keluarga Park menyambut Kyungsoo hampir di setiap minggu dia berkunjung. Bahkan di hari kelulusan sekolah dasarpun dokter Do tidak memiliki waktu untuk hadir. Hari itu, tuan Park yang menggantikan ayahnya.

Kyungsoo pikir jika dia belajar dengan sangat giat dan meraih juara ayahnya akan bangga dengan itu. Setidaknya ada sedikit waktu untuk Kyungsoo, sayangnya itu hanya harapan Kyungsoo.

Ya. Ayahnya memang bangga namun hasil yang Kyungsoo tunjukkan membuat ayahnya terobsesi membawa Kyungsoo untuk belajar ilmu kedokteran. Ayahnya menyadari kepandaian pada Kyungsoo. Putrinya amat sangat cerdas, seakan genetika keluarga mereka tetap mengalir.

Namun dia membenci fakta bahwa ayahnya tetap tak memiliki waktu di rumah. Lebih sering menginap di rumah sakit.

Padahal setiap malam Kyungsoo menunggu kepulangan ayahnya.

Lalu tiba-tiba saat akan kelulusan dua tahun lalu ayahnya mengajukan formulir sekolah kedokteran pada Kyungsoo.

Tentu saja kertas-kertas tak bersalah itu langsung ia robek. Kyungsoo ingin melanjutkan ke akademi musik. Sayangnya, akademi musik yang Kyungsoo inginkan membutuhkan persetujuan wali dan ayahnya menolak keras memberikan izin itu. Sejak saat itu perselisihan diantara mereka tidak pernah padam. Apapun caranya tuan Do selalu saja ikut campur dalam kehidupan pribadi Kyungsoo.

Lalu sekarang dia dihadapkan dengan seorang dokter bernama Kim Kai.

"Hahh~" dokter Do menghela nafas bertanya. "Jika kau ingin menikah dengan seorang dokter, Ayah tidak akan mempermasalahkan calon suamimu. Apalagi jika itu dokter Kim, Ayah cukup mengenalnya. Ayah akan sangat setuju Kyungsoo."

Kyungsoo mengarah pada kaki ayahnya, lebih tepatnya pada benda yang tersembunyi di bawah ranjang. Itu tas berisikan violinnya. Ingatannya kembali pada sang Ibu.

"Tapi kau tetap harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi tahun ini."

Pikirannya kacau saat mendengar ucapan ayahnya. Bukankah perjanjiannya dia harus memilih antara sekolah kedokteran atau menikah? Lalu kenapa tiba-tiba ayahnya berubah pikiran? Seolah sudah direncanakan oleh ayahnya sendiri.

"Aku hanya akan bersekolah di akademi musik. Tidak ada sekolah kedokteran, tidak ada rumah sakit."

"Tapi tetap akan ada pernikahan dokter Do. Putrimu sangat pandai bermain violin. Jangan sia-sia kan bakatnya."

Itu suara kakek Kai. Pria tua itu masuk, tersenyum sumringah dengan membawa nampan berisikan dessert.

"Maaf aku lancang mendengarkan percakapan kalian. Aku membawakan makanan ringan."

"Ya tuan Kim. Terima kasih banyak."

"Bicarakan dengan santai. Anggap rumah sendiri oke."

Kyungsoo mengangguk pelan. Dia masih lelah dengan semua pikiran bodoh ini. Sempat terpikir dimana lagi dia bisa melarikan diri dari bayang-bayang obsesi ayahnya.

"Pikirkanlah dengan baik Kyungsoo. Ayah ingin yang terbaik untukmu, jangan sia-siakan dirimu dengan musik. Sekali saja kau mengalah dengan egomu tidak akan menjadi masalah besar."

Dokter Do beranjak dari tempat duduknya. Ia menarik Kyungsoo dalam satu pelukannya. "Ayah menyayangimu~"

Dia mencium kepala Kyungsoo lembut sebelum melangkah. Tubuh gadis itu merosot ke lantai ketika ayahnya melangkah keluar. Sekarang ia ingin menangis karena kekacauan dalam hidupnya.


Tepat beberapa saat setelah tuan Do pergi, Kai mendekati Kyungsoo.

"Mungkin kita bisa bicara. Tapi tidak di sini."

Seperti terikat, gadis itu menurut setelah menghapus air matanya sedikit kasar.

Langkah kakinya mengiring Kai, sementara jari tangannya menarik ujung kaos yang Kai kenakan. Kyungsoo masih menundukkan kepala.

Kepala gadis itu menabrak punggung Kai tanpa sadar ketika pria itu telah berhenti. Kakinya menapak tanah masih dengan mengenakan sandal rumah.

Sepanjang Kyungsoo menatap, dia hanya melihat tanaman anggur merah.

"Kakek selalu memproduksi wine dari anggur yang di tanam sendiri. Beberapa orang dipekerjakan untuk membantunya. Kakek bilang kebun anggur ini adalah kesukaan nenekku. Kemarilah~"

Sekali lagi Kyungsoo mengikuti Kai. Ada kursi dan juga meja. Pria tan membuka laci kayu di bawah meja dan mengambil keranjang kecil. Ia berjalan memetik beberapa anggur yang dirasa sudah layak.

"Cobalah, rasanya lebih nikmat."

Kyungsoo duduk, nafasnya meluncur dengan berat. Sama sekali tidak tertarik pada buah bulat-bulat yang disajikan Kai.

Lama keduanya hanya diam. Mengabaikan satu sama lain sampai Kai mendengar isakan Kyungsoo.

Ia mendongak untuk menatap Kyungsoo.

"Kau menangis?"

Kyungsoo hanya menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Benar-benar seperti orang yang putus asa. Jangan katakan Kai tidak tahu masalahanya, beberapa waktu lalu dia mendengar percakapan dokter Do dengan Kyungsoo.

Kai akui, dia juga tidak akan menyukai istrinya berlatar belakang pendidikan musik. Lebih baik jika dokter, pengajar, atau apapun yang jauh dari musik. Tapi dia akan menyakiti Kyungsoo jika berkata demikian.

"Tiap kali bicara dengan Ayah, aku bahkan tidak bisa bernafas dengan benar."

Kai dikejutkan dengan suara Kyungsoo yang tiba-tiba. Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap Kai penuh ketelitian. Rasanya tidak ada satu mili pun yang terlewatkan. Membuat pria tan menjadi gugup karenanya. Lalu gadis itu mengehela nafas beratnya, menggeleng dan bergumam.

"Aku tidak tahu jika Ayah bisa menyukai pria sepertimu."

"Aku memang lahir untuk dicintai."

Kai bisa melihat Kyungsoo mencibir atas jawaban pria tan barusan.

"Maukah kau membantuku, hmm Kai-ssi?"

Kai menopang kepalanya dengan tangan dimana sudut sikunya menahan di atas meja. "Membantu?"

"Hum." Kyungsoo mengangguk. "Bicaralah pada Ayahku. Aku rasa dia akan mencoba mendengarkan Kai-ssi."

Kai menahan nafasnya sepersekian detik. Meminta otaknya berpikir lebih cepat.

"Do Kyungsoo! Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba kau menjadi begitu formal padaku. Tapi perlu kau ketahui, aku tidak begitu dekat dengan ayahmu."

"Tapi dia ingin Kai-ssi menjadi pendampingku."

Kyungsoo menunduk malu dengan ucapannya sendiri. Kepala Kai sedikit condong.

"Mungkin. Tapi aku juga tidak ingin istriku adalah seorang pemusik. Terutama violinist."

Kyungsoo terdiam beberapa saat. Beranjak dari kursi dalam satu gerakan. Tanpa berpamitan dia membalikkan badannya hendak melangkah pergi.

"Kyungsoo! Tunggu!"

Saat itu Kai memanggilnya. Menahan langkah Kyungsoo.

"Apa yang mau kau lakukan sekarang?"

Kai menahan Kyungsoo karena gadis itu pergi dengan emosi yang menguasai pikirannya. Firasatnya atau memang benar rasanya akan ada hal buruk yang terjadi.

"Aku akan bilang pada kakekmu. Aku bukan kekasihmu. Aku bahkan berniat mengatakan kalau kau adalah seorang gay dan.."

"Yak!" Kai menarik tubuh Kyungsoo. Membekap mulutnya dengan tangan. Pandangan pria itu mengitari perkebunan anggur kecil milik kakeknya.

Yang benar saja gadis ini. Bisa-bisanya kakeknya terkena serangan jantung seketika mendengarkan emosi Kyungsoo yang meluap-luap tentang cucu keduanya.

"Baik. Mari kita bicara baik-baik."


To be continue...


Sudah tiga chapter dalam tiga minggu. Terima kasih banyak atas perhatian kalian terhadap cerita ini. Aku menjawab pesan yang masuk seorang diri dan terkadang dalam ketergesaan, aku menjawabnya dengan singkat. Dan terkadang singkatan itu sempat disalah artikan sebagai kependekkan bahkan kurang sopan, aku masih berusaha keras meperbaikinya.

Terkadang ide-ide buruk melekat dengan sangat lama dan mempertahankan diri di dalam pikiran, jika telah memasuki bagian kedua, aku akan mempublish ini dua minggu sekali tapi tenanglah. Beberapa mungkin tidak menyukainya, adakah yang harus kulakukan untuk itu? aku tahu, bagaimana dengan cerita lainnya? sehingga kalian bisa membaca setiap minggunya. Sebuah cerita 'KaiSoo'.

[Contemporary- 'Kyungsoo, kau harus tahu jika pusat duniaku adalah dirimu.']

Nah oke, mari berjumpa lagi di chapter selanjutnya ^^ tolong kurangilah formalitas denganku seperti memperbaiki panggilan kalian. Kurasa panggilan 'Kak' , 'Author' terlalu aneh buatku. 'Rosé' – 'Rosie' terdengar lebih baik.

Preview Chapter 4

"Bisakah aku mendapat perhatianmu sebentar Kyungsoo." –Kai

"Jika ada waktu kuharap kau mau memeriksakan diri ke dokter." –Chanyeol

"Hei. Bisakah kita tidak membahasnya sekarang?" –Kai

Thank You.

.

RoséBear

[Part 1 : VOICE of Love 170806]