Tittle: Complementary

(4th Chapter)

Author: RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Content: GS. Companionship. Family. Musik 'Serius'. Friendship. Adult


The Paradox of Lost Complementary

Kedua orang itu tidak bisa bicara secara bebas lagi di kebun anggur milik kakek Kai. Hingga pria tan menarik Kyungsoo kembali ke rumah.

"Dengar! Kita harus bicara."

Terlihat bagaimana ekspresi menolak Kyungsoo lalu tiba-tiba saja perempuan itu tersenyum ketika kakek Kai berpakaian rapi lengkap dengan keranjang dan pemotong anggur. Pria tua itu menyapa keduanya membuat Kai ikut menghentikan langkah.

"Aku ingin membawa Kyungsoo ke gudang penyimpanan. Bisa kupinjam sebentar saja underground cellar kakek?"

Kyungsoo tidak mengerti tempat apa yang sedang mereka bicarakan. Namun kakek Kai mengeluarkan kunci berantai dari saku pakaiannya.

"Ya. Mungkin Kyungsoo bisa mencoba beberapa wine seperti yang disukainya dokter Do."

Pria itu mengedipkan matanya. Membuat Kyungsoo mau tidak mau menganggukkan kepala dan benar-benar terlihat menggemaskan.

"Ya terima kasih..."

"Kakek?" Pria tua itu melanjutkan ucapan Kyungsoo. Sukses untuk membuat gadis itu menjadi canggung tapi Kyungsoo menolak dengan sebuah gelengan pelan.

"Kim-ssi."

"Ahhhh~ aku mendengar hubunganmu sangat baik dengan kakekmu dulu. Tidak apa... Aku tidak akan memaksa. Ya Kai, bawalah Kyungsoo ke dalam."

Kini kaki Kyungsoo kembali mengikuti langkah Kai. Melewati pintu kayu yang terpisah dari rumah utama. Gadis itu mengernyit, hanya ada lampu pijar dan satu jendela kaca. Beberapa barrel dan dua buah rak kayu.

Kai berjalan lebih dulu setelah mengunci pintu ruangan, menemukan penyanggah dengan anak tangga yang akan membawa mereka ke underground cellar keluarga Kim.

Kini Kyungsoo bisa melihat gudang penyimpanan anggur milik keluarga Kim.

Wow! dia tidak pernah melihat botol anggur sebanyak ini. Ayahnya memiliki ini tapi hanya satu lemari kayu dengan beberapa botol wine yang sangat jarang mendapat perhatian. Terletak di perpustakaan pribadi milik ayahnya. Setidaknya Kyungsoo beberapa kali pernah masuk menggunakan perpustakaan ayahnya semasa sekolah. Dia tidak tertarik karena disana memuat hampir semua buku-buku kedokteran.

"Bisakah aku mendapat perhatianmu sebentar Kyungsoo?"

Pundak Kyungsoo terasa merosot mendengar suara Kai. Kenapa tiba-tiba terdengar begitu dingin. Gadis itu duduk di kursi mini bar yang Kai tarik untuknya. Begitu juga dengan pria tan, duduk di sebelah Kyungsoo setelah mengambil sebotol anggur dan juga satu gelas bowl.

"Kau mau mencobanya lagi?"

"Tidak terima kasih. Harusnya Kai-ssi masih ingat aku pernah mengatakan tidak minum alkohol."

"Baiklah. Kau berhak menolak, begitupun denganku." Kyungsoo melihat Kai menghela napas. Seteguk anggur meluncur dengan mulus melewati tenggorokkan Kai.

"Bisakah kau memanggil namaku saja agar terdengar lebih baik. Kakek akan menertawakan aku saat mendengar penyebutanmu di namaku."

Kyungsoo memutar matanya bosan. Itu bukan masalah besar, kenapa pria tan harus mempermasalahkannya. Kyungsoo hanya merasa perlu menjaga jarak pada Kai. Untuk itulah dia memberikan penyebutan itu. Sepertinya sekarang dia harus menghapus jarak itu lagi.

"Ya."

"..."

"Kai?" Kyungsoo mencoba memanggil Kai setelah pria itu meneguk tuangan ketiga wine.

"Dengarkan," akhirnya ia bicara."Kakek dan Suho adalah satu-satu keluarga yang kumiliki. Aku tidak tahu apa yang kau inginkan, tapi aku tidak bisa menyakiti mereka Kyungsoo."

"Aku hanya ingin bersekolah di akademi musik. Tidak lebih, mengikuti kompetisi seperti orang-orang pada umumnya tanpa campur tangan Ayah, melakukan hal-hal yang kusukai," Kyungsoo memberi jawaban segera.

"Tapi jelas-jelas tidak disukai Ayahmu. Begitu sulitkah kau melepaskan musik?" Kembali pria tan bertanya.

Kyungsoo tertawa pelan di sebelah Kai, lebih terkesan mengejek pria tan. "Oh. Aku ingat kau juga tidak menyukai pemusik. Apa jika kita benar-benar dijodohkan maka kau akan memaksaku melepaskan keinginanku sama seperti Ayah?"

"Ya."

Jawaban singkat dan segera dari Kai sukses membuat Kyungsoo terdiam. Pikirannya terasa hampa, begitu juga dengan perasaan Kyungsoo. Rasanya ingin menangis, tapi liquid bening itu masih tertahan di mata Kyungsoo membuat kedua mata bulat itu mulai berkaca-kaca.

Kai membutuhkan pertolongan Kyungsoo untuk menjaga kesehatan kakeknya. Tapi jika seperti ini Kyungsoo tidak membutuhkan Kai untuk menjadi komunikator diantara dia dan ayahnya. Tampaknya tidak ada pengikat di antara mereka. Lalu hening beberapa saat.

Ponsel Kai berdenting. Sebuah pesan masuk, dia mengernyitkan dahi mencoba memahami arti pesan yang baru saja masuk.

'Kyungsoo. Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran Thursday festival of violin. Kau sudah putuskan akan ikut atau tidak?'

Kyungsoo merasakan Kai memandanginya sesaat membuatnya menjadi gugup.

"Kyungsoo~"

Perlu waktu agar Kyungsoo memberikan perhatian pada pria tan ini.

"Tetap jaga rahasia ini dengan kakek dan aku akan bicara pada Ayahmu mengenai kompetisi Thursday of violin."

Kai meletakkan ponsel yang berisi pesan dari Chanyeol. Oh, Kyungsoo yang memberikan kontak Kai kepada Chanyeol karena ponsel Kyungsoo hilang, ia baru sadar kehilangan benda persegi itu saat sampai di kafe keluarga Chanyeol. Sepertinya terjatuh atau tertinggal di suatu tempat saat perjalanan ke rumah keluarga Park.

Kyungsoo merebut ponsel Kai, ia mengetik beberapa kata namun sebelum pesan itu terkirim Kai merebut ponselnya kembali, sukses membuat Kyungsoo melotot . Hanya sepersekian detik sebelum Kyungsoo menyadari tindakan tidak sopannya karena menggunakan ponsel Kai tanpa izin. Gadis itu menunduk, menahan semua luapan perasaan yang kini bercampur aduk.

Oh. Apa orang-orang di dunia ini suka sekali mengatur hidupnya?

Melarang musik di hidup Kyungsoo?

"Pukul... Pukul berapa sekarang?" Gadis itu bertanya pelan. Ia terbata-bata dengan ucapannya sendiri. Melompat dari kursi, ia berjalan cepat dan merasakan Kai berusaha mengejar.

"Aku mengunci ruangan ini sampai kita mendapat kesepakatan Kyungsoo."

Oh Do Kyungsoo! Gadis itu merasa sangat bodoh sekarang. Memikirkan betapa bodoh dia mengikuti langkah pria ini. Mengurungnya di ruang bawah tanah penuh wine.

"Lepaskan aku."

"Berjanjilah kau tidak akan bicara macam-macam pada kakekku."

"Oke! Aku tidak bisa berjanji sepenuhnya. Aku akan memikirkan kondisi jantung kakekmu. Tapi lepaskan aku, aku harus menghubungi temanku. Bagaimana pun caranya aku harus ikut kompetisi itu."

Hampir saja dia menangis, tiba-tiba ponsel Kai kembali berbunyi, namun kali ini terdengar dering panjang yang menandakan sebuah panggilan.

Sebuah panggilan baru.

Keduanya menoleh ke layar ponsel Kai, Kyungsoo yang pertama menyadari itu adalah panggilan Chanyeol.

"Ya. Kau bisa pakai ponselku."

Kyungsoo mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Membawa kembali air matanya untuk tersimpan.

"Aku akan bertangung jawab atas kompetisi ini pada ayahmu."

Ketika Ia mengatakan ini, ekspresi wajahnya tampak dewasa, lebih tenang, berwibawa seperti lelaki sesungguhnya.

"Kau bisa menggunakanya," dia mengulang kata-katanya.

"Te-terima kasih Kai."

Kai memalingkan muka menghindari tatapan Kyungsoo.

"Ya Chan. Aku akan ikut. Aku akan kembali secepatnya."

"..."

"Hum... Kurasa..." Kyungsoo melirik Kai sebentar. "Ayah tidak mempermasalahkannya. Sudah sangat lama bukan? Humm... Aku baik-baik saja. Terima kasih banyak."

Ia mengembalikan ponsel Kai. Gadis itu tersenyum sangat manis, menggoda seorang pria dewasa yang kini terdiam karena terpesona oleh senyum Kyungsoo.

"Terima kasih banyak Kai," tanpa Kai bisa menghindar, Kyungsoo sudah memeluknya begitu erat. "Ini kompetisi pertama setelah dua tahun lamanya aku berhenti sekolah."

"Kenapa kau begitu ingin mengikuti kompetisi? Ini hanya kompetisi biasa bukan?" Tidak bisa dipungkiri, Kai sedikit penasaran. Kyungsoo melepaskan pelukannya. Mengangguk semangat menatap Kai. "Kau tahu? Apa yang paling menyenangkan dari sebuah kompetisi daripada konser di jalan ataupun ujian? Kompetisi memiliki keduanya, di panggung kompetisi akan ada banyak orang dan juga akan ada penilaian. Karena tidak bisa belajar dari guru secara langsung, melalui kompetisi aku bisa meningkatkan keterampilanku."

Kyungsoo berhenti sejenak dia telah membuat jarak cukup jauh dengan Kai. Berdiri kembali ke meja bar dengan perasaan berbunga-bunga. Kyungsoo percaya pada Kai, namun jika pria ini tidak menepati janjinya maka Kyungsoo tidak akan segan membongkar rahasia Kai. Melakukan manipulasi fakta status Kai kepada kakeknya melihat pria tua itu benar-benar menyambut Kyungsoo dengan tangan terbuka. Kakek Kai telah menunjukkan bahwa dia sangat menyukai keberadaan Kyungsoo.

Kai berjalan mendekati Kyungsoo. Kembali duduk di sebelah.

"Dan lagi aku ingin Ayah menghargaiku."

Sesaat gadis itu menunduk.

"Kapan kau akan kembali ke Seoul?" Kyungsoo bertanya.

"Kurasa nanti sore. Aku harus bekerja nanti malam."

"Aku..."

"Kau bisa tinggal di sini sampai hari kompetisi."

"Benarkah?" Kyungsoo memastikan namun ia mendapatkan persetujuan Kai kembali.

"Aku hanya akan kemari di akhir minggu."

Kyungsoo mengangguk.


~ RoséBear~


Tidak ada kesepakatan pasti, hanya terjadi begitu saja. Mereka setuju untuk sebuah pertunangan yang diinginkan Ayah Kyungsoo siang ini.

Ayahnya benar-benar luar biasa, menyiapakan acara untuk satu minggu lagi. Kyungsoo hampir saja mengatakan protes bersamaan dengan Kai namun kemudian mendengar perkataan kakek Kai mengurungkan niat keduanya.

"Uhuk..." Pria tua itu sedikit batuk karena dia baru kembali dari kebun anggur nya. "Aku sangat senang akhirnya Kai benar-benar memiliki seorang perempuan untuk pendamping hidupnya."

"Pertunangannya di sini saja. Kami tidak memiliki banyak keluarga dekat, jadi hanya akan ada beberapa orang yang datang."

Kyungsoo membenarkan perkataan Ayahnya, mereka tidak memiliki keluarga dekat. Memang benar! Sebagian besar mereka adalah pengusaha yang memiliki pasangan orang asing dan tinggal di luar negeri.

Sore itu setelah kesepakatan dengan dokter Do. Maka Kai akan ikut kembali ke Seoul.

Kyungsoo melihat Kai yang bersiap-siap akan pergi dengan ayahnya. Dia hanya memandangi pria itu dari pintu halaman rumah. Tiba-tiba Kai berjalan mendekat, menarik Kyungsoo dalam sebuah pelukan hangat. Mengusap rambut gadis itu berulang kali.

"Aku akan menghubungimu sesering mungkin."

Kyungsoo mendongakkan kepalanya. Tapi dengan cepat Kai menenggelamkan gadis itu dalam sebuah pelukan. Membuat Kyungsoo mendengarkan detak jantung Kai yang begitu tenang. Pria ini benar-benar lelaki dewasa. Bagaimana dia bisa setenang ini sementara jantung Kyungsoo berdegup tak tentu nada.

"Kau tidak bisa melakukannya. Ponselku hilang."

"Hng?"

Kai sedikit mendorong tubuh Kyungsoo. Pandangannya memastikan pengakuan Kyungsoo. Tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya sendiri. "Kalau begitu kau bisa gunakan ini, aku akan menghubungimu setelah sampai di Seoul."

Kyungsoo menerima ponsel Kai walau sedikit ragu.


Malam hari ketika selesai makan malam bersama keluarga Kai, Kyungsoo hanya bisa mendengar cerita mengenai kebun anggur milik kakeknya. Kisah romantis tentang pria tua Kim bersama kekasih setianya yang kini telah tersenyum di atas langit.

Tiba saat kaki mungilnya melangkah masuk ke dalam kamar, gerakannya pelan, jemari tangan Kyungsoo menyentuh meja belajar Kai yang ditumpuk beberapa buku bacaan, peralatan tulis dan juga permaianan tangan. Dia duduk di atas kursi, mengedarkan pandangan mengangumi betapa rapi kamar ini. Disini tempat Kai dibesarkan, menggambarkan bagaimana lelaki itu dibentuk dalam keluarga Kim.

Ketukan pintu menyadarkan Kyungsoo, ia menoleh mendapati kakek Kai dengan sepiring pie apel serta jus . Pria tua itu tersenyum meminta persetujuan Kyungsoo untuk masuk. Sepersekian detik Kyungsoo hampir saja mengeluarkan tawa gelinya mengingat siang tadi pria tua ini masuk tanpa permisi lalu kini berubah begitu sopan.

"Aku boleh masuk?"

Ia tersenyum pada Kyungsoo, meletakkan piring pie dan jus di atas meja lalu duduk di pinggir ranjang. Kakinya tidak sengaja menyentuh tas violin Kyungsoo. Tubuh renta itu menarik harta berharga Kyungsoo. "Kurasa aku ingin mendengarmu memainkan ini."

Tas violin itu terbuka. "Aku akan sangat senang jika Nona muda mau melakukannya untuk pria tua ini."

Kali ini tawa Kyungsoo benar-benar tidak bisa ditahan. Ia tertawa kecil sembari mengambil alih violinnya.

Kyungsoo itu pemain violin kidal, namun dia bermain dengan violin di tangan kiri dan busur di tangan kanan. Ia berdiri lalu mengapit violin dengan dagu dan pundak kirinya.

Alunan pertamanya tidak memerlukan kecepatan tinggi, beberapa kali Kyungsoo memetik tali senar.

Permainan yang terdengar bagus, sayang pria tua di depan Kyungsoo mengernyit beberapa saat. Kyungsoo menyelesaikan permainan pertamanya.

"Kim-ssi menyadari ada nada sumbang di bagian akhirnya?"

Kakek Kai mengangguk namun ia tersenyum. "Capriccio no.07 op 1 in minor Posato. Apa kau menyukai Paganini?"

"Woaghh Kim-ssi mengetahui tentang violin?"

"Tentu saja Kyungsoo. Ibu kami adalah pemain alat musik klasik berbakat."

Kyungsoo dikejutkan oleh kedatangan suho yang tiba-tiba. Pria itu ikut bergabung dengan mereka.

"Menantuku sangat hebat dalam bermain violin. Dulu setiap pagi dia memainkannya untukku," pria tua itu sedikit berbisik.

"Sudah sangat lama kami tidak mendengar suara musik. Kau tahu, Kai amat sangat membenci suara alat musik. Tapi terima kasih kau mengubah pandangan Kai."

Kyungsoo tersenyum canggung mendengar penjelasan Suho, saudara laki-laki Kai yang lebih tua beberapa tahun.

Ketiganya larut dalam kebahagiaan kecil mendengarkan bagaimana Kyungsoo memainkan beberapa nada yang tidak terlalu sempurna. Suho keluar dari kelompok kecil itu ketika mendapati Yixing telah menunggunya di depan pintu. Meninggalkan Kyungsoo dengan kakek Kai kembali.

Pria tua menyentuh bahu Kyungsoo. "Sonata concertata dari komposer Paganini. Kau pernah memainkannya?"

Kyungsoo menggeleng, "tidak pernah untuk didengarkan orang lain."

"Kai sangat menyukai itu."

Sejenak Kyungsoo terperangah. Pikirannya melayang pada percakapan beberapa waktu lalu. Bukankah Kai tidak menyukai musik? Walau tidak Kyungsoo pungkiri dia terkejut saat Kai mengetahui permainannya tempo hari hingga letak kesalahannya. Apakah pria itu mengalami gangguan diri? Menyusahkan saja kalau begitu.

"Dia menyukainya sebelum membenci musik. Dulu dia bermain piano sebelum benda itu dihancurkannya sendiri. Ya Kyungsoo, sudah sangat malam. Sebaiknya jangan membicarakan Kai, dia bisa melotot padaku karena mengganggumu. Anak manis tidur dengan tenang di sini."

Kyungsoo mendapat sebuah belaian lembut. Ahh sungguh dia merindukan perasaan hangat seperti ini. Kakek Kai benar-benar baik.


~ RoséBear~


Pagi hari Kyungsoo terbangun paling pagi, dia merasa sangat senang menyadari suasana rumah ini begitu hangat. Pikiran tenang membawanya ke alam bawah sadar dengan begitu cepat, selain tenang Kyungsoo merasa sangat nyaman. Bayang-bayang kelam yang sering muncul ketika dia sendirian entah kenapa tergantikan oleh cahaya berkilauan.

Mereka menikmati sarapan dengan beberapa cerita tentang kandungan Yixing. Perempuan itu tetap cantik walau perutnya sedikit membuncit. Ada satu nyawa yang sedang berusaha bertahan di dalam sana.

"Kyungsoo," panggilan kakek Kai menarik perhatian mereka, terutama Kyungsoo sendiri. Gadis itu mendongak menunggu sebuah pertanyaan.

"Kau akan tinggal di sini bukan? Aku berharap kau mau tinggal di sini sebelum pertunangan kalian. Ahh kalau bisa sampai pernikahan kalian."

Degh

'Kenapa pemikirannya begitu jauh.'

"Ya. Kau harus tinggal di sini Kyungsoo. Aku senang bisa memiliki teman mengobrol, kau tahu wanita hamil tak bisa dibiarkan seorang diri."

Kedua pria menatap bingung pada Yixing sementara perempuan itu hanya tersenyum.

"Itu permintaan anakku. Dia ingin calon aunty yang manis ini berada disini."

Suho mengelus lembut rambut Yixing. "Ya Kyungsoo akan tinggal disini."

Kyungsoo anggap ini sanjungan, selain keluarga Park ternyata keluarga Kim menerima keberadaannya. Bukankah ini masih terlalu pagi untuk Kyungsoo mendapatkan sebuah pujian, gadis itu tersenyum malu.

"Uhmm Kim-ssi, aku boleh meminjam underground cellar milikmu untuk berlatih? Tiga minggu lagi aku akan mengikuti kompetisi violin. Kupikir aku harus berlatih. Sampai hari itu apa aku bisa tinggal disini?"

"Tentu saja. Kau bisa memakai ruang penyimpanan itu. Kau bisa memainkan violinmu di sasana. Kupikir rasa wine akan lebih nikmat jika diberikan musik."

Sebenarnya Kai telah mengirimkan Kyungsoo pesan tentang beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dikerjakan di rumah keluarga Kim. Terutama mengacak kamar pribadi pria tan, lalu tentang beberapa benda berharga kesayangan anggota keluarganya. Mobil Suho, ruang penyimpanan wine milik kakeknya, lalu kamar pribadi Yixing dan Suho, terutama lemari penyimpanan Yixing dimana perempuan cantik itu menyimpan semua surat cinta dari anak muridnya selama ini. Kai melarang Kyungsoo mencoba meminjam barang-barang itu ataupun sekedar mempertanyakannya namun lihatlah kini, pria tua menyetujui permintaan Kyungsoo. Dia seakan mendapat keluarga baru.

'Kai, kenapa kita tidak bertukar posisi saja? Kau menjadi anak Ayahku dan aku akan menggantikanmu disini.'

Tidakkah Kyungsoo terlalu naif dengan keinginannya itu. Tapi dia benar-benar merasa senang dengan keluarga ini. Dimanapun itu, selama dia tidak dicibir, diterima dengan senang hati maka Kyungsoo akan mengaggap tempat itu adalah rumahnya.


~ RoséBear~


Satu minggu sudah Kyungsoo tinggal bersama keluarga Kim. Tiap pagi memakan sarapan nyonya Kang, lalu pergi ke underground cellar untuk berlatih violin. Terkadang kakek Kai menawarkan wine namun gadis itu menolak dengan halus. Berkat bantuan kakek Kai, Kyungsoo menemukan sonata apa yang akan dia mainkan pada kompetisi itu.

Sonata concertata Paganini

Key A major

Mov'ts 3

Piece style: romantic

Dia memutuskan begitu saja.

Keluarga Kim menyukai permainan Kyungsoo, mereka bilang itu bukan sumbang, hanya saja Kyungsoo belum menyesuaikan diri untuk bermain violin secara solo. Gadis itu masih menginginkan pengiring.

Kyungsoo akui itu, komentar mereka sangat benar.

"Kakek?"

Entah sejak kapan Kyungsoo memanggil pria tua ini dengan sapaan yang begitu hangat dan penuh kerinduan. Kakek Kai menarik tangan Kyungsoo, menggeleng melarang gadis itu melanjutkan latihannya.

"Jangan terlalu giat berlatih, kau bisa melukai jari-jarimu. Sebentar lagi orang-orang akan datang. Tidakkah sebaiknya kau bersiap sayang?"

Kyungsoo meneguk salivanya sudah payah. Oh astaga. Dia terlalu giat berlatih hingga melupakan permintaan ayahnya.

Seharusnya sekali-kali Kyungsoo perlu menengok ke area perkebunan di belakang, dimana halaman yang tidak ditumbuhi anggur kini penuh dekorasi penyambutan. Sebuah pesta kecil akan dilakukan di sana.

Pesta tahunan keluarga Kim sekaligus pertunangan Kyungsoo dan Kai.

Dia benar-benar lupa akan hal itu. Pandangan Kyungsoo tertuju pada beberapa orang yang mencoba mengeluarkan barrel dan botol -botol berisi wine untuk digunakan dalam pesta.

Yixing bilang jika tahun ini pesta akan sangat meriah. Bahkan perempuan hamil itu telah membuat wish list karena sebagian pesta diadakan memang untuk menyambut kelahiran bayinya. Kakek Kai bahkan sudah menyiapkan nama untuk calon bayi mereka.

Kyungsoo tidak terkejut menerima kabar jika ayahnya mungkin tidak bisa sampai lebih cepat. Ada beberapa hal di rumah sakit yang harus diselesaikannya. Padahal jika harus dipikiran, ayahnya sendiri yang menawarkan pesta pertunangan bersamaan dengan perayaan akan kelahiran bayi Yixing serta pesta tahunan keluarga Kim. Sudah satu minggu dia tidak melihat ayahnya. Anehnya Kyungsoo sama sekali tidak merasa sedih, dia sudah terlalu sering diperlakukan seperti ini.

Masih terpikir oleh Kyungsoo apa yang sebenarnya telah disampaikan Kai hingga ayahnya tidak protes walau mengetahui prihal kompetisi Kyungsoo. Hanya saja, namanya juga terdaftar dalam peserta tes skolastik tahun ini.

Dia tidak memikirkan bagaimana cara dia harus menghindar, kakek Kai bilang dia hanya harus fokus pada kompetisi.

Kini Kyungsoo memandang dirinya dari pantulan cermin. Ada Baekhyun yang duduk di sisi ranjang, gadis itu datang bersama keluarga Park.

"Aku tidak menyangka kau menerima pertunangan yang direncanakan Ayahmu. Aku iri denganmu Kyung,,, aku harus menyelesaikan kuliah barulah aku diizinkan menikah."

Kyungsoo berbalik badan. "Aku lebih iri padamu Baek."

Saat itu Chanyeol tiba-tiba mengintip. "Wahhh saudara kembarku benar-benar cantik! Kau siap untuk pertunangan ini Kyung?"

Baekhyun berdiri dari tempat duduknya. "Sepertinya ada yang ingin kalian sampaikan. Aku akan keluar menemenami orang tuamu. Aku tinggal kalian."

Chanyeol menarik Baekhyun, memberikan sebuah ciuman singkat dan berbisik yang entah Kyungsoo tak bisa mendengarnya.

Setidaknya Baekhyun tahu jika Kyungsoo tidak terlalu terbuka pada dirinya, Kyungsoo hanya terbuka pada Chanyeol. Dia merasa Baekhyun baik namun tidak terlalu dalam menyimpan rahasia, jadi Baekhyun memaklumi itu. Chanyeol sudah menjelaskan semuanya.

Sekarang keduanya duduk berhadapan.

"Kyung~ kau sangat cantik malam ini. Apa kau yakin tentang keputusanmu kali ini? Kau bilang pria itu tidak menyukai pemusik."

Kyungsoo menganggukkan kepala. "Aku mau kau percaya padaku. Tapi aku tidak bisa cerita disini alasannya."

"Lalu bagaimana dengan sekolah kedokteran?"

Cukup lama Kyungsoo terdiam. "Tidak Chan. Tidak untuk sekolah kedokteran. Aku tidak akan menjadi seperti ayah maupun Kai. Aku akan kembali ke kota sebelum kompetisi, bisa kau urus nomor penampilanku?"

"Kenapa kau tidak kembali saja ke Kota?" Chanyeol melayangkan protes. Menurutnya Kyungsoo sangat aneh memilih tinggal di rumah calon ahh sebentar lagi akan menjadi tunangannya.

"Disini aku bisa berlatih dengan tenang. Keluarga Kai menerimaku walau pria itu menolak keputusanku. Ayah tidak banyak protes saat Kai yang memintanya dan pria itu terlalu penurut pada kakeknya "

"Maksudmu?"

"Kakek Kai mendukungku untuk menjadi pemusik. Bukankah terdengar bagus untukku?"

Chanyeol tampak sedih dengan pikiran singkat Kyungsoo. Bagaimana gadis ini bisa merelakan kehidupannya. Oh. Dia hampir lupa jika hidup Kyungsoo telah menjadi seperti daun kering di atas genangan air.

"Jika ada waktu kuharap kau mau memeriksakan diri ke dokter."

Sesungguhnya perkataan Chanyeol adalah sebuah cibiran namun Kyungsoo menganggapnya sebuah candaan.

Mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bercanda, Nyonya Kang telah memanggil Kyungsoo, berkata jika ayahnya telah tiba dan pesta akan segera dimulai.


~ RoséBear~


Mungkin terdengar gegabah tapi Kyungsoo telah memikirkan semuanya dalam waktu yang terbilang sangat singkat.

No music no life

Itu benar-benar berlaku untuk Kyungsoo.

Sejak Ibunya meninggal dia hanya memiliki analog musik untuk memberitahunya jika Kyungsoo masih hidup. Sejak dua tahun lalu, setiap hari dia menggesek busur pada senar violin. Kyungsoo menguasai cukup banyak nada-nada tapi tidak untuk teknik panggung. Dia tidak pernah tampil di panggung, seingat Kyungsoo sejak kecil ibunya adalah orang yang mengamati Kyungsoo bermain violin.

Ibunya seorang pianis, sesekali ibunya juga tampil di panggung pertunjukkan. Beberapa kenalan Ibunya pernah mengadakan resital musik dan jika Ibunya ikut terlibat maka Kyungsoo sudah dipastikan akan duduk di bangku depan seorang diri. Sebab ayahnya terlalu sibuk untuk menghadiri acara semacam itu.

Jika mengingat moment masa kecilnya, dia benar-benar kesepian tanpa sang ibu dan juga musik.

Sampai hari itu tiba, saat dimana kesadaran Kyungsoo atas keberadaan ayahnya memuncak.

Sejak hari-hari dimana dia habiskan di rumah sakit...

"Ini pertama kalinya aku melihatmu melamun."

Suara Kai

Kyungsoo membalikkan tubuhnya, dilihatnya Kai telah berpakaian rapi, sedikit lebih baik walau tampak lelah. Pria ini menempuh perjalanan panjang hari ini untuk tiba dengan selamat.

"Kemarilah," Kai memanggilnya dan begitu saja Kyungsoo mendekat. Keluar dari pintu belakang untuk mendekati Kai yang berdiri di dekat tumpukkan kayu bakar keluarga Kim.

Diluar ternyata telah banyak perbincangan yang diciptakan oleh keluarga Kai. Beberapa orang tampak mengambil minuman dan memakan kue kecil yang hari ini tiba dalam porsi cukup besar.

Pesta belum dimulai, tampaknya sebentar lagi karena di atas panggung dua orang berpakaian rapi sedang mengatur posisi mikrofon. Pemain band telah disiapkan.

Kyungsoo ingat jika Suho pernah berkata mereka bisa menikmati musik sepenuhnya ketika pesta tahunan keluarga. Saat dimana panen anggur lebih banyak dan Kai biasanya akan menghindari pesta itu. Berdiam diri di ruang penyimpanan wine atau benar-benar kabur dari suasana pesta.

"Ada apa kau memanggilku?" Kyungsoo bertanya. Sesekali pandangannya memperhatikan orang-orang yang tiba. Mereka perpaiakan sangat rapi, semi formal, menawan dan begitu akrab. Sebagian adalah teman dekat dan rekan kerja ayahnya, Kyungsoo yakin pada orang-orang yang berdiri di dekat sang ayah.

"Bisakah aku mendapat perhatianmu Kyungsoo?"

Kyungsoo memindahkan arah tatapannya setelah mendengar ucapan Kai. "Ya?"

Tadinya Kyungsoo akan tersenyum namun kemudian dia terdiam. Oh dalam jarak yang begitu dekat Kai sangatlah tampan. Kemeja putih dan celana dasar hitam. Rambut gelap yang disisir ke atas memperlihatkan semua bagian wajahnya. Pria ini memiliki tatapan yang tajam, hidung yang tidak terlalu macung, bibir tebal nan kissable dan jangan lupakan rahang tegas yang terpahat sangat indah. Wajah seorang aristokrat.

Bersyukurlah Kyungsoo karena Baekhyun memperbaiki sedikit penampilannya untuk disesuaikan dengan suasana pesta. Gadis itu tampil cantik dengan gaun hitam selutut yang terbuka pada bagian bahu. Rambut kelamnya yang dibiarkan terurai setengah sedikit berpindah pada bagian depan.

Kyungsoo berdiri berhadapan dengan Kai, membuat pria itu harus sedikit mununduk karena perbedaan tinggi mereka.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Kyungsoo kembali bertanya.

Tanpa bicara pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kalung yang kini akan dilingkarkan pada leher Kyungsoo. Reflek gadis itu bersiap hendak menolaknya. Kai berhenti dalam gerakannya. Pandangannya penuh tanya.

"A-aku. Tidak, tapi terima kasih Kai."

Kai tersenyum membuat Kyungsoo merasa malu karena menolak pemberian Kai.

"Aku memberikannya karena kau berlaku sangat baik pada keluargaku," dengan kata terakhir dia benar-benar memasangkan kalung itu. Tampak berkilauan pada leher yang sebelumnya sangat polos.

"Daripada memberiku kalung, lebih baik kau memberiku kesempatan untuk melakukan pembelaan pada Ayah."

"Hei. Bisakah kita tidak membahasnya sekarang?"

Kyungsoo mengangguk, matanya menatap tangan Kai yang bertengger pada saku celana setelah pria itu memasangkan kalungnya.

Sadar dengan tatapan Kyungsoo pria itu tersenyum, "Mau bergandengan memasuki pesta bersamaku?"

Kyungsoo pikir Kai berlaku sangat baik untuk menutupi penolakannya. Hanya saja, kenapa pria ini bisa begitu tenang padahal ini adalah pintu menuju masa depannya. Kyungsoo bisa saja mengacaukan hidup Kai. Tapi mau bagaimana lagi, pria itu tidak ingin hal buruk terjadi pada kakeknya. Dia sudah tahu bagaimana keluarganya menerima Kyungsoo begitu cepat.

Dan Kai ingat percakapan singkatnya bersama dokter Do seminggu yang lalu, saat itu...


To Be Continue...


Sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak ingin mengecewakan, akan kuingatkan kembali jika cerita ini konsisten dan penuh. Untuk musik yang dimainkan Kyungsoo, kalian bisa mencarinya di Youtube atau perlu aku membaginya? Mungkin aku bisa mengupload video-audio di instagram. Beberapa instrumen memang benar-benar kurekomendsikan untuk menenangkan diri ^^

Ini hari yang indah, matikan lampu dan pergi tidurlah ^^

Preview Chapter 5

"Aku penasaran. Apa benar kau ini gay?" –Kyungsoo

"Apa ini diskusi tentang masa depan kita?" –Kyungsoo

"Kalau begitu menikah denganku dan berhenti bermain musik!" –Kai

Thank You.

.

RoséBear

[Part 1 : VOICE of Love 170811]