Tittle: Complementary
(5th Chapter)
Author: RoséBear
Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Content: GS. Companionship. Family. Contact
The Paradox of Lost Complementary
Aroma khas malam musim gugur, berpadu dengan meriahnya pesta malam hari.
Sepasang anak manusia itu tidak melepaskan tautan tangan mereka selama perbincangan dengan orang-orang yang menyapa keduanya. Kyungsoo memperhatikan bagaimana Kai bicara pada beberapa keluarga jauhnya, mereka bicara dalam topik yang Kyungsoo tidak pahami.
Kebun anggur
Wine
Pernikahan
Kelahiran
Kyungsoo menerima tawaran Kai saat pria itu mengajaknya mengambil beberapa kue. Duduk di salah satu kursi dan menyaksikan bagaimana pembawa acara kini menjelaskan beberapa agenda pesta. Tepuk tangan meriah dan sambutan yang begitu hangat.
Kyungsoo merasa iri pada Kai, bukankah pria ini memiliki segalanya. Saudara-saudara jauh yang sangat ramah dan terasa dekat, kehangatan dalam sebuah candaan, dan jangan lupakan kasih sayang berlimpah.
Kakek Kai maju menyampaikan kata sambutannya, selang beberapa saat Suho dan Yixing juga naik ke atas panggung. Menyampaikan prihal kehamilan Yixing lalu tiba saat nama Kai dipanggil.
Pria itu melepaskan tautan tangan mereka. "Aku akan ke sana lebih dulu."
Meninggalkan Kyungsoo yang kini dihampiri Yixing dan Suho.
Di atas sana, Ayah Kyungsoo juga ikut naik. Menyampaikan berita pertunangan putrinya dengan dokter muda Kim.
Ketika Kyungsoo naik, Kai yang mengulurkan tangan. Tepuk tangan dan pujian terdengar sangat baik oleh telinga Kyungsoo. Di atas panggung dia bisa melihat keluarga Park juga bertepuk tangan.
'Hahh~ bisakah aku melewatinya?'
Gadis itu melirik ke arah Kai yang begitu tenang, membiarkan Kai bicara. Sungguh Kyungsoo tidak mengira jika di dalam saku celana lelaki itu terdapat kotak cincin. Cincin Perak berlapis rhodium tanpa ada kristal, cincin yang polos namun begitu indah.
Secara pandangan, orang-orang melihatnya sangat bahagia. Kyungsoo tidak terlalu mengerti, rasanya masih ingin melompat dari bangunan tinggi membuat tubuhnya menjadi ringan menerpa udara. Benarkah dia bisa melanjutkan pertunangan ini menjadi sebuah pernikahan? Membayangkan dirinya menikah, memiliki anak dengan Kai.
Tunggu! Apa dokter muda ini benar-benar gay atau ada seseorang yang dicintainya namun tidak disukai sang kakek. Kyungsoo harus bertanya sebelum sandiwara ini semakin menjadi. Bukankah mereka belum sampai pada kata sepakat.
Terlambat Kyungsoo. Kai telah memasangkan cincin itu pada jari manisnya.
Ayahnya mengatakan ucapan terima kasih atas pesta malam ini, terima kasih yang luar biasa dan dalam beberapa saat kemudian mereka turun.
Kini saatnya pesta benar-benar dimulai. Musik mulai coba dialunkan, pembawa acara menjadi orang pertama yang akan bernyanyi.
"Kau tidak akan menyukai acara selanjutnya. Sebaiknya ikut aku ke underground cellar."
Tanpa menunggu jawaban, pria tan menarik Kyungsoo menjauhi kerumunan. Entah Kyungsoo tidak yakin kapan Kai mendapatkan kunci berantai itu. Dia menarik Kyungsoo ke bagian depan rumah menuju ruang sempit yang harus dimasuki melewati pintu kayu.
Pintu kembali dikunci, ruangan temaram dengan hanya diterangi lampu pijar. Keduanya menuruni tangga dan benar-benar tidak ada suara ribut-ribut dari luar yang mengusik ketenangan ruang bawah tanah ini. Beberapa rak hanya menyisahkan wine dengan kode-kode tertentu sebab sebagian besar digunakan untuk perjamuan pesta malam ini.
"Kau bisa duduk di sofa Kyungsoo."
Kai sedikit mendorong tubuh Kyungsoo. Ruangan ini cukup luas, rak-rak wine disusun sangat rapi seperti buku-buku di perpustakaan, barrel berisi olahan wine diletakkan pada beberapa bagian. Terdapat sebuah mini bar dengan wastafel pencucian pada bagian ujung. Lalu dua sofa hitam berhadapan dengan hanya satu meja panjang sebagai penghalang. Bagian yang cukup luas diantara sofa dan tempat pencucian, disana biasanya Kyungsoo berlatih. Dia meletakkan partitur, menggantungkan di atas meja mini bar yang menempel pada dinding.
Kyungsoo memperhatikan Kai membuka lemari pendingin, mengeluarkan beberapa makanan ringan lalu satu botol wine dari rak yang sepertinya itu satu-satunya rak yang memiliki bagian terpenuh susunan botol wine.
Dia kembali dalam beberapa saat dan duduk di sebelah Kyungsoo.
"Kau suka tinggal di rumahku?"
Kyungsoo mengangguk. "Ya. Tentu saja. Kakek dan saudaramu mengizinkan aku berlatih."
"Kumohon jangan bermain lagi ketika aku di rumah."
Kyungsoo menoleh pada Kai. "Bukankah waktu itu kau mendatangiku karena alunan violinku dr. Kim?"
Pria tan menghela nafasnya. "Karena kau memainkan begitu banyak kesalahan."
"Itu bukan kesalahan. Itu improvisasi."
"Oh ya. Alunan musik yang kau giring mengikuti romantisme dirimu sendiri. I see."
Kyungsoo menghempaskan tubuhnya ke senderan sofa. Pria ini bajingan, bagaimana dia bisa berkata kasar setelah bantuan Kyungsoo. Alih-alih marah Kyungsoo memilih mengeluarkan pendapatnya.
"Aku penasaran. Apa benar kau ini gay?"
"YAK!"
Satu teriakan itu Kyungsoo yakin jawaban yang disampaikan melalui emosi pria ini. "Sudah kukatakan aku terlalu sibuk bekerja."
"Owhh bagaimana dengan wanita yang kau sukai?" Sekali lagi Kyungsoo bertanya. "Kau takut membawanya kehadapan kakekmu? Kulihat kakekmu sedikit pemilih. Dia menyukai wanita pemusik. Aku benar? Sebab dia begitu saja menerimaku."
"Stop Kyungsoo! Aku lelah! bisakah kau tidak banyak bertanya? Aku membawamu kemari agar bisa beristirahat."
Kyungsoo memang diam sejenak.
"Kenapa tidak kau tinggalkan saja aku disana. Aku bisa mencoba hasil latihanku di hadapan tamu undangan."
Chup
Kyungsoo terdiam. Gerakannya terlalu cepat tanpa bisa ia pikirkan kapan Kai telah menempelkan bibirnya. Memang hanya sebuah ciuman ringan, menekan bibir Kyungsoo dan mengecupnya. Tidak hanya membuat area wajah Kyungsoo yang memerah, namun hingga ke telinga gadis itu tampak kemerahan.
Kai menarik kepalanya dari hadapan Kyungsoo. "Kau harus mulai terbiasa dengan sentuhanku."
"Yakk Kim! Kau tidak sadar itu ciuman pertamaku! Bagaimana kau bisa mengambilnya tanpa permisi!"
Kai menerima satu pukulan kuat. Gadis itu bersedekap tangan, membalikkan tubuhnya menjauhi Kai. Wajahnya merasakan hawa panas dan menambah rona kemerahan disana. Sementara pria tan hanya terdiam.
'Yang benar saja. Ciuman pertamanya?'
Kai meneguk salivanya susah payah. Apa yang sudah pria ini perbuat, dia membuat Kyungsoo memalingkan wajah. Membuat ciuman pertama gadis itu segampang dia mencium anak kecil di rumah sakit, tanpa kesan dan apa yang baru saja dia katakan. Meminta Kyungsoo terbiasa dengan sentuhannya? Kemana saja gadis ini? Bagaimana cara dia tetap menjaga bibir hati itu? Apa dia tidak pernah tertarik pada pria atau apa tidak ada pria di luar sana yang tertarik dengannya?
Pelan, Kai menarik Kyungsoo untuk kembali berbalik, memegang kedua sisi pundak gadis itu agar menghadapnya.
Jemari panjang Kai menyentuh dagu Kyungsoo, mengangkat dan betapa terkejutnya Kai melihat Kyungsoo menggigit bibir bawahnya cukup kuat. Pria itu menyesal tidak meminta izin terlebih dahulu. Dengan lembut ia sentuh bibir Kyungsoo.
"Bolehkah aku menciummu lagi? Aku janji akan melakukannya dengan hati-hati."
"Kyungsoo~ lihat aku," daripada sebuah permohonan, perkataan Kai lebih terdengar seperti sebuah perintah.
Kyungsoo tak kunjung memberikan jawaban membuat Kai mendekatkan wajahnya, merasakan hembusan nafas pendek-pendek Kyungsoo namun gadis itu tidak bisa menghindar kala Kai memegang bahu kanan dan masih menahan dagunya.
"Kau akan berikan ciuman pertamamu pada siapa?"
Kyungsoo sudah menutup matanya, mendengar ucapan Kai dia membuka kedua matanya. Merasakan kedekatan mereka, mata kelam yang menatapnya fokus, hidung Kai yang bersentuhan dengan hidung Kyungsoo, bibir tebal yang memberikan getaran saat dia bicara.
Susah payah Kyungsoo menahan dirinya agar tidak takut. "Su-suamiku. O-orang yang berjanji akan menjagaku dalam ikatan pernikahan."
Kai memejamkan matanya. Menarik wajahnya sedikit menjauh. Melepaskan Kyungsoo dan menggeser tubuhnya ke sudut sofa. Pria itu berbaring dengan menggunakan paha Kyungsoo sebagai bantalan. Tangannya merambat mencari tangan Kyungsoo, menuntunnya ke rambut Kai yang cukup tebal tanpa bicara.
"Bisa kau membelainya? Aku ingin tidur dengan tenang," perlahan mata Kai terpejam menikmati tangannya yang menggerakkan jemari Kyungsoo.
"Dua hari aku tidak tidur menggantikan jam kerja temanku agar mendapat hari libur."
Kai berhenti bergumam, dia melepaskan tangan dari Kyungsoo dan membiarkan jemari lentik itu meneruskan pekerjaannya sendiri. Merasakan hangat jemari Kyungsoo yang terkadang menyentuh area wajahnya. Dalam hitungan detik pria tan sudah terlelap dengan mudah.
Kyungsoo tak bisa bangkit, hingga satu jam dia merasa pegal namun Kai masih berpangku pada pahanya. Kyungsoo harus menahan diri dengan kebosanan ini. Ia telah berhenti membelai rambut Kai sejak lama, kini benar-benar membosankan.
~ RoséBear~
Kyungsoo sudah berusaha menahan kantuknya, baru saja mata bulat itu akan tertutup tiba-tiba suara deritan pintu mengejutkan Kyungsoo. Kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati kakek Kai tersenyum dengan nampan berisikan piring penuh potongan beef, fowl, fish dengan barbecue sauce.
Yah, bukankah pesta itu mengumpulkan anggota keluarga dan juga para tetangganya, tentu saja pesta barbecue menjadi acara andalan sembari bermain musik.
"Oh dia tertidur? Tidak perlu membangunkannya Kyungsoo. Aku menghawatirkanmu karena belum makan sejak siang."
Kakek Kai sendiri mengantarkan makanan yang tampak lezat di mata Kyungsoo. Gadis itu terlihat bersemangat, dia berusaha bergerak pelan meraih sumpit dan mencoba satu potong daging. Rasanya sungguh nikmat.
Kakek Kai duduk di sofa hadapan Kyungsoo, menuangkan wine dalam satu bowl. "Anggur menjadi teman terbaik barbecue," Kyungsoo tersenyum kecil mendengarnya.
"Aku minum ini saja."
Segera ia ambil air mineral di atas meja walau sedikit kesulitan karena keberadaan Kai menyusahkannya. Jika tidak ada pria tua ini, kemungkinan Kyungsoo menggulingkan Kai ke lantai sangatlah besar. Alih-alih membangunkan Kai, ia memilih membelai rambut pria tan itu kembali membuatnya semakin terlelap tidak menyadari keadaan sekitar.
"Dia tampak sangat lelah," kakek Kai sedikit mencondongkan tubuhnya, ikut membelai rambut Kai membuat aroma vanilla menguar menyentuh indera penciuman Kyungsoo. "Dia sangat suka jika seseorang membelai rambutnya, membuat Kai tidur dengan tenang."
"Kalian akan tidur di sini? Akan kuambilkan selimut untuk kalian. Bangunkan dia agar tidak membuatmu pegal oke?"
Belum sempat Kyungsoo protes pria tua itu beranjak segera meninggalkan mereka berdua.
"Kau sangat suka jika seseorang membelaimu? Sekarang kau tampak seperti bocah tiga tahun dr. Kim!" Gadis itu terkikik kecil memperhatikan wajah damai Kai dalam tidur lelapnya.
Sejak kapan jantung ini berdegup kencang jika Kai begitu dekat dengannya?
Ini jelas bukan hanya karena cemas, gugup, ataupun khawatir. Hanya saja, benarkah ini semacam kemesraan? Dia jatuh cinta pada Kai? Sejak kapan?
Kyungsoo terlalu larut dalam pikirannya tanpa sadar kakek Kai telah kembali membawa satu selimut tebal. Ia selimutkan pada cucu tersayangnya membuat Kyungsoo kaget.
"Maaf mengejutkanmu Kyungsoo."
Lalu menyerahkan satu selimut berbahan wol yang sama namun dengan ukuran yang lebih kecil. "Pakailah untuk menghangatkanmu. Dia sudah bekerja keras agar besok tidak pergi bekerja."
Kyungsoo mendongak, otaknya mencoba memahami ucapan kakek Kai, mengaitkannya dengan perkataan Kai beberapa waktu lalu. Jadi pria ini bekerja lebih awal untuk mendapatkan libur.
"Ayahmu ingin langsung pulang. Perlu kupanggil dia kemari?"
"Tidak perlu. Sampaikan salamku pada Ayah."
Pria tua itu tersenyum. "Jika Kai sudah bangun, kau harus segera pindah Kyungsoo. Jangan memaksakan dirimu untuk pria ini."
Terdengar sedikit godaan pada kalimat kakek Kai yang membuat Kyungsoo tertawa kecil. Dia mengangguk dan membiarkan Kai tetap pada posisinya.
~ RoséBear~
Kita mampu mencintai, tapi belum tentu kita mampu melindungi
Kira-kira seperti itulah yang Kai takutkan dari jatuh cinta ataupun sebuah pernikahan. Untuk itulah dia tidak bisa membawa satu wanita 'pun pada kakeknya.
Tentang Kyungsoo, Semua terjadi begitu saja. Seperti berusaha menghindari takdir, pada akhirnya takdir itu juga yang menuntun dia melangkah.
Kai terbangun dan menyadari Kyungsoo masih memangkunya. Menggenggam jemari Kai dan meletakkan kedua tangan mereka di dada bidang Kai. Pria tan itu berusaha bangun tanpa membuat Kyungsoo terusik. Sayangnya saat dia baru mengangkat kepala, Kyungsoo sudah mengerjapkan mata.
Mereka bangun dalam rentang waktu yang hampir sama. Kai segera bangkit, duduk bersila membuat selimut di tubuhnya merosot.
"Kau sudah bangun?"
Pria tan terkesiap mendengar suara serak Kyungsoo. Bagaimana caranya pertanyaan itu meluncur dari bibir hati Kyungsoo.
"Kenapa kau tidak membangunkan aku? Sudah berapa lama kau memangkuku!?"
Kyungsoo melotot mendengar pertanyaan Kai dengan intonasi yang sedikit tinggi. "Kau bilang butuh istirahat! Kenapa jadi marah padaku?"
Kai menghela nafasnya. "Ya terima kasih. Sepertinya sudah pagi. Sebaiknya kita kembali ke rumah," ia berkata setelah memperhatikan jam tangannya sendiri.
Kyungsoo melingkarkan selimut ke tubuhnya, masih merasa kedinginan saat keluar dari ruang penyimpanan. Ternyata di luar matahari telah merangkak naik. Beberapa pekerja sangat sibuk membereskan sisa-sisa pesta semalam. Keduanya masuk dan di sambut Yixing serta kakek Kai. Pria itu tidak menemukan Suho, dia hanya menemukan kakak iparnya yang mulai hari ini tidak akan bekerja lagi di taman kanak-kanak karena ketakutan saudaranya akan kelelahan yang diterima sang istri.
"Sudah bangun? Makanlah terlebih dahulu."
Kai mendorong tubuh Kyungsoo menuju meja makan. "Kau makanlah. Aku mau mandi lebih dulu."
Pria itu mengabaikan tatapan tidak mengerti Kyungsoo. Ya ampun! Kyungsoo bahkan masih bergelung dalam selimut dan kini dipaksa duduk di hadapan sarapan paginya.
"Ya Kyungsoo, kau kedinginan? Makanlah sup krim ini," Yixing mendorong mangkuk berisikan sup krim.
Percayalah, bahkan Kyungsoo belum menyikat giginya. Bukankah dia benar-benar jorok pagi ini? Tapi mau bagaimana lagi? Kai telah melangkah ke kamarnya. Tidak mungkin Kyungsoo ikut menyusul juga.
Setelah menghabiskan sarapannya Kyungsoo berpamitan menyusul Kai, ia rasa Kai telah selesai. Tebakannya benar, saat mengintip ke dalam Kyungsoo melihat Kai duduk di pinggir ranjang.
"Masuklah, sebaiknya kau mandi lebih dulu. Setelah itu kita harus bicara."
"Bicara?" Kyungsoo mengambil beberapa pakaiannya yang tidak seberapa dan tersusun rapi di dalam lemari yang sama dengan pakaian Kai di rumah ini. Kai telah memberi izin selama Kyungsoo tidak mengacak barang pribadinya.
"Ada hal yang perlu kita bicarakan setelah pertunangan tadi malam."
"Apa ini diskusi tentang masa depan kita?"
Kai diam. Tidak memberikan jawaban untuk Kyungsoo. Dia berdiri dan melangkah hendak melewati Kyungsoo. Berhenti sejenak lalu mencium pucuk kepala Kyungsoo. "Kuharap kau mau mendengarkan rencanaku."
~ RoséBear~
Kyungsoo can't say anything. It's really amazing and she can't believe it. But is real.
Saat masuk ke kamar mandi dia menerima air hangat yang sudah Kai siapkan untuknya. Di dalam, gadis itu menenangkan diri beberapa saat. Dia keluar setelah mengenakan dress hijau selutut dengan bahan bulu yang lembut.
Mendapati Kai ketika melangkah ke ruang perapian. Pria itu telah menunggunya. Kai beranjak dan tersenyum pada Kyungsoo.
"Mau berjalan-jalan denganku?"
"Hah?" Kyungsoo terperangah sejenak. Namun Kai sudah mengaitkan jemari mereka. Menyapa Yixing yang terlihat akan meminta bantuan Kyungsoo namun Kai memintanya menunggu kepulangan mereka nanti.
"Kita harus bicara tapi tidak di rumah ini."
"Bagaimana dengan ruang penyimpanan?"
"Kakek sudah mengeluarkan kunci cadangan ruangan itu," ya Kyungsoo ingat tadi malam kakek Kai masuk sudah pasti menggunakan kunci lain.
"Lalu kemana kau akan membawaku?"
"Rahasia."
~ RoséBear~
Bukankah air itu tampak menyegarkan, lalu pohon tua yang tumbuh di sebelahnya bersemangat sekali menggugurkan daun-daunnya ke tanah.
Kai membawa Kyungsoo melewati para petani, melewati barisan anggur di perkebunan kakeknya. Rasanya sepuluh menit lebih mereka hanya berjalan kaki dan kini Kyungsoo menyaksikan danau buatan terbentang di hadapannya.
Kai tak melepaskan tautan jemari mereka, ia meminta Kyungsoo melepaskan sepatunya, duduk di akar pohon dengan kaki menjuntai ke atas air. Rasanya tidak dingin, terasa hangat dan Kai katakan danau ini memiliki sumber air panasnya sendiri.
Tidak banyak yang datang kemari di saat musim panas berlangsung ataupun awal musim gugur seperti saat ini.
Daun-daun jatuh tertiup angin seperti alunan musik gesek yang begitu merdu. Kyungsoo memejamkan matanya, kepala mendongak untuk menikmati suasana pagi yang menyenangkan.
"Tentang pertunangan ini."
Sayangnya ucapan Kai mengacaukan kenikmatan Kyungsoo. Gadis itu langsung membuka matanya, memilih menikmati warna air danau yang sedikit hijau. Membiarkan Kai melanjutkan ucapannya.
"Ayahmu berjanji memberiku waktu untuk memikirkan kapan pernikahan akan dilangsungkan. Aku pikir kau juga ingin agar pernikahan ini diperlambat selama mungkin."
Kyungsoo segera mengangguk setuju.
"Kita hanya memiliki satu kesempatan untuk itu Kyungsoo."
"Apa?" Akhirnya Kyungsoo bicara. Mulai tertarik dengan perkataan Kai.
"Kau harus mengikuti ujian masuk sekolah kedokteran. Dalam artian tes skolastik bulan November ini."
"Kau Gila! Sudah kukatakan aku tidak mau menjadi dokter!"
"Kalau begitu menikah denganku dan berhenti bermain musik!"
Degh
Kyungsoo kehabisan kata-kata. Kaki-kaki yang sebelumnya berayun di antara air dan udara kini terkulai setelah mendengar ucapan Kai.
Menikah? Mereka sedang membicarakan masalah itu?
Berhenti bermain musik?
"Aku lebih tidak bisa," ucapannya lebih terdengar seperti bisikan. Kyungsoo menunduk dalam.
"Kau hanya perlu hadir dalam ujian, jika lolos kau tinggal mengikuti proses belajar."
Kai menjeda ucapannya
"Dengar, jika kau lolos ujian tahun ini. Aku akan bertanggung jawab atas izinmu mengikuti seluruh kompetisi musik. Ayahmu tidak akan mempermasalahkannya selama nilaimu diatas rata-rata. Bukankah kau seorang jenius?"
"Ya. Aku memang jenius dan aku menyesal kenapa genetika ini turun dengan baik padaku!"
Kyungsoo menggeser posisinya, kini ia sedikit menghadap pria tan. "Dengar Kai! Aku berterima kasih kau membuatku mengikuti kompetisi pertamaku. Tapi aku tidak ingin mengikuti banyak kompetisi. Cukup satu kali. Tidak baik untukku berada dalam kompetisi musik secara trus menerus, aku ingin belajar dengan seorang guru, mengadakan konser, resital."
Kyungsoo menarik lututnya, memeluk tubuhnya sendiri. "Jika kau mengambil musik dariku. Itu sama saja kau mengambil sisa hidupku."
Kyungsoo jujur tentang apa yang dia sampaikan.
Lambat-laun suasana menjadi hening. Lama mereka bergelung dalam pikiran masing-masing. Kai menarik napas, dia tahu telah melukai perasaan Kyungsoo.
"Tinggal mengikuti ujian. Apa susahnya Kyungsoo? Sekolah kedokteran bukan berarti kau akan menjadi dokter. Kau pikir mudah menjadi seorang dokter?"
"Mungkin menjadi begitu mudah ketika kau di kelilingi bayang-bayang kekuasaan Ayahmu."
Kai kembali terdiam. Kesekian kalinya Kyungsoo mematahkan pendapatnya.
"Baik! Kau tetap mengikuti ujian tahun ini. Mengikuti kompetisi yang kau inginkan, jika kau butuh pelatih aku akan bertanggung jawab akan itu. Jika kau merasa tidak senang setelah diterima kau bisa mengikuti ujian masuk pergurun tinggi tahun berikutnya. Kau bahkan bisa tetap tinggal di rumahku. Hanya berhenti bermain ketika aku ada di rumah. Satu tahun aku usahakan Ayahmu memberikan izin apapun caranya. Hanya saja, jangan sampai bicara aneh-aneh pada kakekku. Tetap menjadi tunanganku. Aku merasa dia begitu menyukaimu, jika dia sadar yang sebenarnya, aku takut kesehatan kakek memburuk atau bahkan dia membenciku karena tidak jujur padanya."
Kyungsoo menoleh pada Kai dengan pandangan tidak percaya.
"Kau masih ingin menolak tawaranku?" tanya Kai cepat.
Kyungsoo menggeleng. Sebagian dirinya terpikat oleh tawaran Kai. Rencananya singkat, hanya perlu mendapatkan izin dokter Do apapun caranya. Jika Kyungsoo tersiksa selama satu tahun apa mungkin ayahnya akan tega? Lalu tinggal di rumah Kai? Terdengar menjadi tawaran yang paling menyenangkan. Dia bisa berlatih setiap pagi. Keluarga Kim juga memanjakannya walau saat ini faktanya Yixing yang sedang hamil.
"Setuju."
Mereka meninggalkan tempat itu, dimana Kyungsoo berjalan satu langkah di belakang Kai. Membuat tubuh mungilnya terhindar dari angin kencang musim gugur. Dia mendapatkan kehangatan karena keberadaan Kai.
Duk
"Aww..." Terlalu hanyut dalam lamunan tidak sadar jika Kai berhenti berjalan. Kyungsoo baru saja akan protes namun kemudian dia mengintip tentang apa yang membuat Kai berhenti.
"Kai~" suara seorang wanita.
"Aku sudah mendengar tentang pertunanganmu tadi malam. Maaf tidak bisa hadir, mama masih harus di jaga."
Dan suara itu semakin mendekat. Saat mengintip dari balik tubuh Kai, ia melihat sosok seorang wanita cantik. Ya. Sangat cantik seperti seorang model. Kulit putih, wajah mungilnya menggunakan dress cream selutut dengan syal merah terlilit di lehernya. Kyungsoo mengamatinya, sejenak terkagum.
"Hay... Apa kau Kyungsoo? Aku dengar tunangan Kai telah tinggal di rumah keluarga Kim selama seminggu."
Kyungsoo tampak canggung. Dia mengangkat tangan dan membalas sapaan gadis cantik itu.
"Luhan," gadis itu menyerahkan tangannya. Masih dengan canggung Kyungsoo menerima uluran tangan yang terasa begitu lembut.
"Kyungsoo," ucapnya pelan.
"Kau cantik Kyungsoo. Apa kau masih berkuliah?"
Kyungsoo menggeleng pelan.
"Dia baru akan mengikuti ujian masuk tahun ini. Maaf Lu kami harus kembali ke rumah."
Kini Kyungsoo merasakan Kai menautkan tangan mereka. Hanya saja tidak seperti tautan mereka tadi malam atapun pagi ini. Tubuh Kyungsoo sedikit terhuyung karena kecepatan Kai walau Kyungsoo masih sempat menunduk berpamitan pada Luhan.
Sepanjang jalan kembali Kyungsoo masih kesulitan menyeimbangkan langkah dengan Kai. Gadis itu bahkan meringis sakit ketika Kai tidak lagi menautkan jemari mereka melainkan meremas pergelangan tangan Kyungsoo. Namun tetap membiarkan dirinya ditarik hingga sampai di pagar belakang rumah, barulah Kai melepaskan pegangannya.
Kyungsoo menarik tangannya menjauhi Kai. Dia memutar pergelangan tangannya berkali-kali untuk menghilangkan rasa sakit. Kai meninggalkan Kyungsoo secepat angin yang berhembus di musim gugur. Tidak peduli jika gadis itu kini mendengus kesal.
'Siapa gadis itu? Kenapa Kai tidak mau bicara? Apa dia akan cerita jika aku meminta? Dan lagi mengapa Kai mendadak menghindar? Apa perlu kutanyakan? Ahh Kyungsoo,,, Kai tidak akan bicara. Gadis itu bisa saja orang yang dia sukai. Tapi gadis itu cantik, suaranya juga terdengar merdu. Kemungkinkan itu pasti ada, apa dia juga pemain musik? Makanya Kai menahan diri? Do Kyungsoo! Ini bukan urusanmu.'
Dia sudah berusaha meyakinkan diri tapi tetap saja terasa sesak di bagian dada. Itu menyiksa Kyungsoo.
~ RoséBear~
Yixing telah menunggu Kyungsoo, wanita cantik itu merasa bosan dan dia menemukan gulungan benang dalam satu keranjang besar. Mungkin itu milik kakek Kai, pria tua Kim terkadang mengisi hari-hari dengan banyak sulaman pada musim dingin ketika dia tidak memiliki banyak pekerjaan.
"Kau bisa merajut Kyungsoo?"
Ia terdiam sejenak memikirkan jawaban untuk pertanyaan Yixing. "Tidak pernah ada yang mengajariku."
Yixing tersenyum lalu menepuk bagian kursi kosong di sebelahnya. Mereka duduk di beranda lantai dua menghadap ke belakang, dimana kebun anggur terhampar cukup luas. Selama ini kakek Kai telah berjuang keras, namun kini karena keberaaan Suho dan Yixing, dia mendapat sedikit bantuan walau tidak banyak.
"Duduklah. Aku akan mengajarimu."
Kyungsoo duduk dan menerima dua jarum khusus menyulam.
"Lakukan seperti ini Kyungsoo," Yixing memberi contoh dan Kyungsoo memperhatikan dengan baik. Memasukkan jarum ke dalam lubang agar bisa menarik buntut benang, dia berhasil mendapatkan benang, lalu Yixing memintanya memasukkan buntut benang baru ke bagian kiri.
Kyungsoo pikir dia butuh waktu cukup lama untuk berlatih, lihatlah bagaimana gadis itu membuat simpul mati dan mengacaukan ajaran Yixing.
"Jarimu memiliki banyak luka Kyungsoo?"
Alis Kyungsoo terangkat saat mendengar pertanyaan Yixing. Dia memperhatikan jari-jarinya. Memang memiliki beberapa bekas luka, itu karena dia berlatih sangat giat. Jari tangan kirinya yang menekan senar ternyata lama kelamaan tergores.
"Mau aku bantu obati?"
Tanpa sadar dia mengangguk.
Yixing melakukan banyak hal yang membantu Kyungsoo. Hari ini dia tidak bisa berlatih karena Kai melarangnya, padahal jika berlatih di ruang penyimpanan anggur seperti biasa dia tidak akan mengganggu orang lain. Tapi Kai tetap melarangnya.
Rasa hangat ketika Yixing mencelupkan jari Kyungsoo ke air hangat, lalu mengelapnya hingga kering. Sentuhan Yixing benar-benar lembut penuh kasih sayang.
"Dari dulu aku ingin sekali memiliki adik perempuan, tapi baru sekarang dia datang padaku."
Sepersekian detik Kyungsoo terperangah. "Ya Kyungsoo. Aku sudah tinggal di sini cukup lama bersama dua pria paling romantis, menyenangkan dan penuh perhatian."
"Berapa lama?"
"Lima tahun."
"Apa sebelumnya Kai tidak tinggal di sini?"
Yixing menggeleng, kini ia mengoleskan beberapa balm pada jari Kyungsoo.
"Dia bahkan hanya pulang sebulan sekali, kadang dua bulan sekali atau pernah hingga enam bulan sekali."
"Tapi dia bilang akan pulang seminggu sekali."
"Karena kau kekasihnya ada di sini. Dia itu sangat protektif. Percayalah, kedua Kim bersaudara menuruni sifat kakek."
Jawaban spontan Yixing membuat Kyungsoo merona mendengarnya. Tiba-tiba dia teringat untuk bertanya sesuatu.
"Apa sebelumnya Kai tidak memiliki kekasih?"
Yixing berpikir lama. "Sepertinya dulu pernah, dia seperti remaja yang jatuh cinta. Saat itu aku telah menjadi kekasih Suho dan beberapa kali datang berkunjung. Tapi kau gadis pertama yang dibawanya ke rumah ini."
"Apa itu gadis yang tinggal di dekat sini?"
Yixing selesai dengan pekerjaannya. Dia mengembalikan tangan Kyungsoo ke pangkuan gadis itu, menepuknya pelan.
"Percayalah dia akan menjadi suami yang baik untukmu nanti. Baik Kai maupun Suho, mereka menuruni sifat kakek. Jadi kau cukup percaya dan jangan khawatir adik kecilku yang manis. Ahh Kyungsoo aku ingin memelukmu. Boleh?"
Kyungsoo mengangguk dan dia langsung menerima pelukan Yixing. Saat itu Kyungsoo melihat Kai berdiri di ambang pintu masuk. Buru-buru dia melepaskan pelukan mereka dan menerima tatapan bingung Yixing.
"Ka-Kai? Sejak kapan kau ada di sana?"
"Aku mau bicara. Bisa ikut aku sebentar?"
Yixing menoleh dan dia tersenyum pada Kai. "Bicarakan di sini. Aku akan ke bawah menemui nyonya Kang."
"Tidak. Aku akan mengajaknya ke kebun anggur."
Kyungsoo menepuk pundak Yixing pelan. "Aku akan kembali untuk belajar lagi nanti."
Dia mendapat persetujuan dan kemudian mengekor pada langkah Kai.
Kyungsoo pikir mereka belum tiba di kebun anggur bahkan baru saja melewati koridor lantai dua dan Kai menariknya ke dalam kamar. Pria itu bergerak menutup pintu dan mengunci dengan cepat tanpa ada suara bedebum yang kencang. Menghimpit Kyungsoo di daun pintu, membuat gadis manis itu merapatkan tubuhnya ke pintu.
"Apa yang mau kau bicarakan?" cicitnya kecil.
"Aku pernah bicara padamu agar terbiasa dengan sentuhanku."
"Ya Kai!"
"Jangan berteriak atau seisi rumah akan panik."
Kyungsoo menunduk berusaha untuk tenang. Kai tidak mungkin melecehkannya, pria ini dari keluarga terhormat, cukup terhormat untuk menyadarkan Kai.
"Kau bilang ingin bicara,"akhirnya Kyungsoo kembali bersuara. Jantungnya kembali menggila dengan dada yang naik turun.
Kai mengangguk lalu melepaskan Kyungsoo, pria tan kemudian berpindah, berjalan menjauh dan duduk di kursi kayu.
"Duduklah di ranjang. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Awalnya Kyungsoo ingin menolak. "Ini tentang Luhan, gadis yang kau temui pagi ini," namun kemudian mendengar perkataan Kai dia memalingkan wajah namun kakinya melangkah mendekat. Semudah itukah pikiran Kyungsoo di tebak atau pria ini memang seorang cenayang.
"Ekspresimu mengatakan begitu saat bicara dengan Yixing noona. Dengar Kyungsoo, aku hanya tidak ingin ada salah paham nantinya. Jadi duduklah."
Pada akhirnya Kyungsoo menurut. Dia duduk berhadapan dengan Kai. Posisinya yang duduk di ranjang menjadikan Kyungsoo lebih kecil lagi.
"Gadis yang kau temui pagi ini bernama lengkap Xi Luhan. Dia tinggal tidak jauh dari rumah ini. Kami telah berteman sejak kecil."
To be continue...
WOHOO! Seperti wanita yang menghabiskan sebotol vodka dan menggila di malam hari. Kita memasuki bagian kedua dan sesuai janji aku telah memperkenalkan cerita lainnya. Hmmm sebenarnya cerita lainnya itu adalah bagian yang hilang dari cerita ini. Hanya saja dia memiliki bagian sendiri dengan persoalaan yang lebih mendetail. Aku harap kalian tidak keberatan.
Preview chapter 6
'Kurasa saat itu aku masih di kandungan ibu atau baru saja lahir.' –Kyungsoo
"Dengar! Itu terjadi setelah kita menikah. Sebelumnya kau bisa bermain musik sesukamu. Aku tidak akan melarang. Kau belum jadi istriku." –Kai
"Tidakkah kau memikirkan perasaanku Kai?" –
"Kau dimana? Segeralah kemari! Henry sudah di sini sejak lima belas menit lalu."-Chanyeol
Thank You.
.
RoséBear
[Part 2 : Get in TOUCH 170818]
