Complementary (6th Chapter)
Present by RoséBear
Main cast: Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Content: GS. Companionship. Family. Friendship
The Paradox of Lost Complementary
"Gadis yang kau temui pagi ini bernama lengkap Xi Luhan. Dia tinggal tidak jauh dari rumah ini. Kami telah berteman sejak kecil. Dia dan ibunya pindah kemari saat aku berusia lima tahun."
'Kurasa saat itu aku masih dikandungan ibu atau baru saja lahir,' batin Kyungsoo mengutip.
"Luhan berasal dari China. Ayahnya bunuh diri karena perusahaan mereka bangkrut. Saat itu kakek sedang berkunjung ke China dan dia membawa serta mereka kemari. Sempat ibu Luhan bekerja di kebun anggur kakek, makanya kami menjadi cukup dekat. Tapi kini tidak lagi, ibunya telah menikah dengan seorang pegawai pemerintah. Mereka tidak tinggal di sini lagi, sesekali kemari hanya untuk berlibur. Seperti katanya, Ibunya sakit jadi harus dijaga dengan baik."
Kai tidak mengerti, kenapa dia harus menjelaskannya pada Kyungsoo. Gadis itu mendengarkan dengan baik, tidak terlihat seperti seorang pembangkang. Wajah polos dan ia menyadari Kyungsoo memiliki pikiran yang mudah di tebak. Lihatlah bagaimana dia kini ingin meninggalkan percakapan barusan. Terlihat jelas dari pergerakan kecil Kyungsoo.
'Ahh Kai. Kau hanya takut Kyungsoo bertindak diluar kendali. Hanya itu.' Pria tan berusaha meyakinkan dirinya.
"Hanya itu yang ingin kau bicarakan?" Gadis itu bertanya dan Kai segera mengangguk. "Kenapa kau harus menjelaskannya padaku?"
Sesaat Kai terdiam tidak menyangka dengan pertanyaan selanjutnya. Ia melihat Kyungsoo bangkit membuat perbedaan tinggi mereka berubah. Kai mendongak. "Jika tidak ada lagi aku akan kembali menemani Yixing karena hari ini kau melarangku bermain musik."
Kai tidak mengerti, kenapa dia menahan Kyungsoo untuk pergi. "Tinggal sebentar saja denganku," membuat gadis itu menoleh padanya. Kai merasakan tatapan tidak mengerti Kyungsoo. Jelas saja bingung, ini hanya terlalu mendadak.
"Bisakah kau memelukku sebentar?"
Kerutan di dahi Kyungsoo semakin tercetak sempurna. Namun kemudian tubuhnya tertarik membuat Kai bisa mencium perutnya. Kai bisa merasakan Kyungsoo hendak mendorong menjauh, namun pria tan itu menahan pinggang Kyungsoo. "Sebentar saja."
'Karena aku sangat ingin berharap sekali lagi dalam hidupku untuk menunjukkan kepedulian, kepekaan dan perhatian terhadap orang-orang didekatku.'
Dia menerima belaian pada rambut hitamnya. Merasakan lembut jemari Kyungsoo cukup lama. Gadis ini memanjakan Kai dengan gerakan yang terbilang ringan.
"Aku tidak mengerti kenapa kau seperti ini. Kau membuatku bingung Kai. Maksudku, bisakah kita bicara seperti orang normal saja? Terkadang kau mengancamku, lalu kemudian memerintahku, meminta bantuanku."
"Jangan berlebihan Kyungsoo, itu memang caraku bicara," Kai mendongak menatap Kyungsoo, tersenyum dan pria itu merasakan belaian Kyungsoo terhenti. Dia menenggelamkan kembali wajahnya pada perut Kyungsoo. Sepertinya Kyungsoo tersinggung dengan perkataan Kai. Dia memilih diam dan benar-benar tidak mengambil tindakan untuk melakukan sesuatu.
~ RoséBear~
Kyungsoo melamun. Malam tadi Kai tidur di ruang penyimpanan wine seorang diri. Membiarkan Kyungsoo menggunakan kamar sepenuhnya, dan ketika bangun Kyungsoo mendapat kabar jika Kai telah pergi menumpang mobil Suho. Pagi ini mereka sarapan bertiga. Tidak ada Suho dan tidak ada Kai. Hanya percakapan singkat bagaimana keluarga Kim telah memulai hari-hari mereka seperti biasa. Memiliki obrolan hangat seperti bagaimana kabarmu? Apa tidurmu nyenyak? Ohhh sepertinya bayi itu merasakan kedatangan paman mudanya. Terkadang terdengar menggelikan, tapi jika meluangkan waktu sedikit akan terasa sangat menyenangkan bagaiamana sebuah keluarga mempertahankan kedekatan mereka.
"Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti musik tapi aku sangat menikmati saat kau memainkannya, sedikit berbeda dari karya yang pernah kudengar pada rekaman. Oh ya Suho memberiku beberapa rekaman pemain violin solo dan coba kau tebak perbedaan apa yang kutemukan dengan permainanmu Kyungsoo?"
Kyungsoo yang sedang beristirahat duduk di lantai dingin ruang penyimpanan, dia bersender pada dinding, tepat pada sela-sela rak loggar yang memuat tubuhnya. Gadis itu memangku violinnya. Ia memperhatikan pria tua Kim sedang mengisi wine ke dalam botol, memindahkannya dari dalam barrel lalu memberi kode pada tiap botol.
"Apa?" Kyungsoo bertanya penasaran.
"Permainanmu terdengar bebas, emosional yang meluap. Kupikir memang tidak simetris dan tidak mengikuti partitur tapi terdengar begitu nikmat. Seperti ada magnet yang menarik benda-benda disekitarnya."
Kakek Kai akan berpindah, dia menarik keranjang berisikan botol wine sembari mempertahankan percakapan mereka. Melihatnya kesulitan Kyungsoo segera bangkit, membantu menarik keranjang jalinan itu.
"Terima kasih," kakek Kai tersenyum dan Kyungsoo hanya membalas dengan menganggukkan kepala. Dia duduk kembali di lantai, bersila memperhatikan bagaimana kakek Kai menyusun botol secara horizontal.
"Kakek tahu kenapa Kai tidak menyukai musik?"
"Hm?"
Kyungsoo sedang menunggu jawabannya namun terdengar agak ragu atau memang pria ini tidak memiliki jawaban yang tepat.
"Kai tidak cerita padamu? Kulihat kalian begitu dekat."
Kyungsoo jadi salah tingkah, dia menggaruk kepalanya. Oh tidak, dia tidak boleh salah bicara dan membuat kecurigaan tentang pertemuan singkat dengan Kai. Tidak seperti yang para anggota keluarga harapkan, mereka pikir baik Kai maupun Kyungsoo telah mengenal sangat lama. Memiliki hubungan istimewa yang luar biasa.
"Tidak untuk bagian itu. Dia melarangku bermain musik tapi..."
"Ya. Kuperhatikan dia sedang berusaha Kyungsoo. Tunggulah sebentar lagi, kurasa dia bisa membiarkanmu bermain di hadapannya."
Dia mendapatkan sebuah sentuhan ringan pada lengan atasnya setelah ucapannya terpotong untuk beberapa saat. "Kakek yakin Kai akan bercerita sendiri padamu. Saat itu jangan pernah berpikir untuk meninggalkan dia."
Entah perasaan Kyungsoo atau ini seperti sebuah pesan. Kyungsoo menganggukkan kepala pelan. Ponsel Kai yang dititipkan pada Kyungsoo bordering -sebuah pesan dari Chanyeol.
'Seniorku akan kembali dari Kanada satu minggu lagi. Dia pemain violin berbakat, kuharap kau bisa kembali ke kota dan bertemu dengannya. Kupikir dia bisa menjadi gurumu untuk satu minggu sebelum perlombaan. Ada 20 peserta yang harus kau kalahkan.'
Matanya membulat lucu membaca pesan Chanyeol. Temannya dari Kanada? Henry Lau? Chanyeol pernah membicarakan beberapa kali tentang pemain violin dari kampus mereka. Seorang pria keturunan China-Kanada yang setahun lalu menyelesaikan pembelajarannya dan karena sebuah alasan pribadi dia kembali ke negara kelahirannya, Canada. Kini pria itu kembali.
'Aku sudah meminta bantuannya dan dia setuju untuk melatihmu.'
Pesan kedua masuk membuat Kyungsoo segera mengetik balasan. Setengah shock tapi Kyungsoo tidak bisa menghilangkan kebahagiaan kecil yang baru saja menghampirinya secara terus menerus.
"Oke! Aku akan kembali sebelum dia tiba. Tapi bisakah aku berlatih di rumahmu?"
'Tidak bisa. Rumah sedang direnovasi. Tapi kau bisa berlatih di tempat tinggalnya. Tenang! Aku atau Baekhyun akan bergantian menemani karena dia seorang lelaki.'
"Oke!"
Dia telah berkirim pesan beberapa kali seperti seorang idiot yang terpaku pada layar ponsel hingga membuat lelaki tua itu hanya memandang Kyungsoo menunggu waktu untuk mengeluarkan sebuah pendapat.
"Ada apa Kyungsoo?" Kakek Kai bertanya setelah Kyungsoo menyimpan kembali ponsel ke dalam saku. Kyungsoo tersenyum, dua kemungkinkan dalam satu senyuman. Dia menyesal namun juga senang.
"Aku harus kembali ke Seoul satu minggu sebelum kompetisi. Seorang teman akan melatihku, dia pemain violin berbakat."
Kakek Kai tersenyum. "Apa kompetisi itu dibuka untuk umum? Jika saat kompetisi nanti, bolehkah aku melihatmu di atas panggung?"
Kyungsoo mengangguk antusias. "Tentu saja."
"Ya. Jangan beritahu Kai, dia akan marah jika tahu aku pergi ke Kota seorang diri."
Kyungsoo bingung. "Kenapa harus pergi seorang diri?"
Pria tua itu menggeleng. "Kau ingin aku pergi bersama Kai? Tidak ingat malam itu dia menyeretmu keluar dari pesta saat pertunjukkan musik di mulai?" Telunjuk kakek Kai berputar menolak di depan wajah Kyungsoo.
"Suho akan terlalu sibuk karena aku yakin kompetisi itu bukan malam hari."
Kyungsoo terkikik kecil lalu mengangguk setuju. "Dan Yixing? Pergi bekerja saja dia sudah di larang."
Kini tawa kecil Kyungsoo benar-benar meluncur mendengar pembelaan kakek Kai. Pria ini memiliki selera humor yang sangat baik, tapi pada kenyataannya, semua perkataan barusan adalah sebuah kebenaran.
"Kakek bisa pergi bersama temanku. Mereka akan menemani kakek nantinya."
Teman yang Kyungsoo maksudmu tentu saja Chanyeol dan Baekhyun. Sudah pasti mereka akan menonton kompetisi Kyungsoo.
Bersama kakek Kai, Kyungsoo tidak hanya menemukan sosok baik hati, lebih pada menjadi teman yang begitu akrab. Bahkan ini masih dalam hitungan minggu mereka tinggal bersama. Tapi seberapa dekat seseorang bisa menjadi begitu akrab hanya dalam hitungan menit? Tidak ada yang tahu akan semua kejadian itu.
~ RoséBear~
Beberapa hari kemudian setelah percakapan itu berlangsung, saat seseorang tiba-tiba menarik tangannya. Membawa Kyungsoo masuk ke dalam ruang penyimpanan. Rumah ini sedang sepi, Suho dan kakek Kai menemani Yixing melakukan check up, sementara nyonya Kang yang terbiasa membantu membereskan rumah meminta izin. Hanya ada dia di rumah dan baru saja akan berlatih setelah mengunci rumah.
"K-Kai?"
Pria yang menarik Kyungsoo masuk menghimpit gadis itu ke pintu kayu. Dia telah mengurung keduanya di dalam, di bawah ruangan yang temaram. Kyungsoo semakin terhimpit namun kemudian tubuhnya tertarik.
"Aku ingin memelukmu."
Kyungsoo larut dalam pelukan pria itu cukup lama.
'Aku hanya ingin kau terbiasa dengan sentuhanku.'
Ya. Kyungsoo mengingat ucapan Kai. Jika dia tiba hanya di akhir pekan dan ini sudah di akhir pecan kembali, sudah sewajarnya dia bertemu pria ini lagi.
"Kai! Apa kau tidak pernah bercukur."
Kai terkikik kecil mendengar protes Kyungsoo saat dagunya menyentuh leher gadis itu. Membuat Kai kesulitan menahan pelukan Kyungsoo. Pada akhirnya dia melepaskan gadis itu. "Aku terlalu sibuk. Beberapa operasi terjadwal mengalami masalah tiba-tiba. Mau mencukurnya untukku?"
Kai berguling ke samping dan bersender salah satu barel yang ia yakin berisi fermentasi anggur agar bisa menahan tubuhnya.
"Bukankah kau tunanganku?"
Kyungsoo berbalik badan. Dia hendak turun ke ruang bawah tanah dan mendelik pada Kai. "Kau mau menggodaku? Tidak akan berhasil."
"Oh. Apa harus kulakukan di depan keluargaku agar kau mau melakukannya? Baiklah. Mereka harusnya kembali sebentar lagi bukan?"
Dia baru saja berjalan hendak membuka pintu dan Kyungsoo menahannya sebentar. "Baik! Ikut aku!"
Kai mengikuti langkah Kyungsoo yang menariknya kembali ke rumah dan menuju lantai atas, tepatnya kamar mandi di kamar yang kini digunakan Kyungsoo. Sejenak Kai terperangah dengan kondisi kamarnya. Hanya satu minggu sejak terakhir dia ada di ruangan ini.
"Kau mendekornya?"
Kyungsoo berhenti. Dia mengikuti arah pandangan Kai. "Aku tidak tahu kau kembali secepat ini. Akan kukembalikan ke tempat semula nanti siang."
Kai menggeleng. Kamarnya jadi lebih luas karena Kyungsoo menumpuk beberapa barang Kai dalam jenis vertikal. "Tidak perlu, biarkan seperti ini. Jadi... Apa kamarmu di rumah juga seperti ini?"
Dia memperhatikan Kyungsoo yang sekarang seperti mencari sesuatu di dalam laci meja, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan gadis itu keluar dengan cepat. Dia berkacak pinggang memandang Kai.
"Kau tidak memiliki pre shave oil? Krim cukur ataupun pisau cukur?"
Kai mengangguk membenarkan saat mengatahui apa yang di cari Kyungsoo. Jadi itukah yang dia cari hingga mengabaikan keberadaan Kai? Pada akhirnya tidak menemukan apapun.
"Kurasa keluargaku pernah bercerita aku jarang berkunjung apalagi tidur di kamar ini."
Kini ia melihat Kyungsoo memutar bola matanya kesal. "Jadi aku tidak akan mencukur kumis dan jenggotmu Kai. Bisa biarkan aku berlatih? Aku janji tidak akan mengusikmu. Kompetisiku satu minggu lagi."
Kai menggeleng. "Aku memang tidak memilikinya. Tapi aku yakin Suho memiliki semua yang kau tanyakan tadi. Tunggu di sini."
Dia menahan Kyungsoo dengan gerakan tangannya. Pria tan bergegas keluar, menuju kamar pribadi kakaknya dan kembali dengan benda yang Kyungsoo butuhkan.
Mereka membiarkan pintu kamar dan pintu kamar mandi tetap terbuka.
Kai bersender di wastafel tepat menghadap pintu yang terbuka. Menahan tubuhnya dengan tangan sementara Kyungsoo membasahi bagian bawah wajahnya. Pria itu sadar jari kiri Kyungsoo terasa lebih kasar daripada jari tangan kanannya. Dia tahu itu efek penekanan senar violin. Gadis itu pasti sedang berusaha, kakeknya beberapa kali bercerita saat menghubungi Kai. Ada alasan kenapa Kai kembali lebih cepat, pertanyaan kakeknya mengundang kehadiran Kai.
'Kakek tidak ingin kau menyakiti Kyungsoo, kakek menyukainya. Dia mengingatkan kakek pada wanita yang pernah memasuki rumah ini. Bagaimana menurutmu?'
Kai ingat percakapan terakhir mereka. Kakeknya sangat berharap pada Kyungsoo, Suho juga bilang kakeknya menghabiskan banyak waktu bersama Kyungsoo dan Yixing. Mereka bertiga terkadang memiliki obrolan yang Suho tidak mengerti.
Kai merasakan krim dingin telah dioleskan Kyungsoo menggunakan kuas pada sebagian wajahnya.
"Kau sering melakukannya?"
Kai tidak bisa menahan pertanyaan barusan.
"Beberapa kali ketika Ayah pulang ke rumah setelah tidak kembali hingga berminggu-minggu."
"Jadi ayahmu jarang di rumah?"
Ia melihat Kyungsoo mengangguk, gadis itu mencuci kuas yang ia gunakan. Menunggu beberapa menit agar rambut halus itu melembut dan memudahkan proses bercukur Kai nanti.
Kai menarik Kyungsoo semakin mendekat membuat tangan Kyungsoo reflek menahan jarak tubuh mereka, ia menekan dada Kai.
"Lebih baik dari sebelumnya Kyungsoo," bisik Kai pelan. Ia yakin melihat rona merah pada wajah Kyungsoo barusan.
"Kurasa semua dokter seperti itu."
Kini ia tidak bisa menghindar dari perkataan Kyungsoo. "Hampir semuanya, pada saat-saat tertentu saja."
Mereka hening dalam beberapa menit tetap pada posisi yang sama.
Kyungsoo membasahi pisau cukur, posisi Kai yang lebih tinggi memaksa Kyungsoo mendongak.
Dari atas sini Kai lebih dekat menatap Kyungsoo. Sepasang alis tebal dengan mata bulat yang begitu fokus. Dia harus sangat baik pada Kyungsoo, Kai menyangi keluarganya. Tanpa ia duga keluarganya begitu mencintai Kyungsoo, terutama kakeknya.
Hidungnya menahan napas saat bekerja, bibir hati yang tidak tertutup sempurna. Lihatlah betapa Kyungsoo segera mendapatkan fokus untuk sebuah pekerjaan yang terlihat sangat manis. Kai tidak akan menciumnya seberapapun dia sangat ingin.
Kyungsoo sudah selesai, Kai merasakan lembutnya handuk yang membersihkan sisa-sisa pekerjaan Kyungsoo. Dia tahu Kyungsoo begitu hati-hati dan telaten lalu mengoleskan balm khusus cukur.
"Aku boleh memelukmu?"
Kai bertanya dan dia mendapat tatapan bingung dari Kyungsoo.
'Ada kakek di depan pintu.'
Kai berbisik dan lalu menarik Kyungsoo dalam pelukannya sebelum mendapat sebuah jawaban. Gadis itu terperanjat tapi Kai tidak melepaskan untuk mengucapkan terima kasih.
"Kakek? Sejak kapan disana?"
Dia akhirnya melepaskan Kyungsoo, membuat Kyungsoo merapikan pakaiannya, berbalik badan dan benar-benar mendapati pria Kim tua di ambang pintu kamar. Tampak acuh dan ingin mengabaikan keduanya.
"Aku senang melihat kalian begitu. Kai, apa kau mau membukakan satu botol red wine untuk pria tua ini?"
Kai terkekeh. Dia mendorong tubuh Kyungsoo sedikit kesamping, mencium pipinya lembut. "Aku akan segera kembali sayang. Kakek pasti butuh bicara denganku."
Sandiwara yang luar biasa dr. Kim. Jantung kakekmu pasti sedang bekerja dengan sangat baik melihat cucu keduanya menampilkan kebahagiaan yang tidak terukur. Sementara jantung Kyungsoo kau buat sesangsara mengartikan semua perbuatanmu yang dalam hitungan menit.
~ RoséBear~
Kai mengikuti langkah kakeknya, mereka menuju ke ruang penyimpanan. Beberapa rak mulai terisi kembali hanya dalam waktu satu minggu. Kakeknya pasti bekerja sangat giat.
"Aku meminta Suho menemani Yixing membeli beberapa perlengkapan. Bayi mereka diperkirakan akan lahir dalam dua bulan lagi," kakeknya mengambil satu botol red wine dari jenis rak kayu pohon ek. Satu-satunya rak yang memiliki lebih banyak susunan wine. Di sana hanya untuk obrolan para pria Kim saja. Mungkin beberapa orang pernah mendapatkannya dari kebaikan hari kakek Kai. Sebab itu adalah wine khusus dari tuangan pertama barrel.
Dia mengambil dua bowl dan meletakkannya ke meja. Kakek Kai duduk bersender, menunggu cucu keduanya menuangkan wine.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
Itu pertanyaan basa-basi yang tidak akan membosankan. Kai siap menjawabnya dan bertanya balik.
Kai memandang sekeliling underground cellar. Entah perasaannya atau memang bagian tempat duduk menjadi lebih luas. Apa mungkin Kyungsoo mempengaruhi kakeknya mengubah susunan rak mengingat kamarnya juga menjadi luas. Bukankah kakeknya menolak setiap waktu pergeseran rak?
"Cukup lancar. Bagaimana dengan kakek sendiri?"
"Tidakkah kau merasa anggur ini menjadi lebih nikmat?"
Kai terkejut. "Benarkah?" Dia mengesap kembali anggurnya. Menikmati setiap teguk dari red wine produksi keluarga. Beberapa saat dia berpikir namun tidak menemukan kenikmatan yang baru saja dikatakan sang kakek.
"Setiap hari Kyungsoo berlatih di sini. Wine saja menikmati permainannya. Bagaimana denganmu?" Kakek Kai mencondongkan tubuh rentanya sedikit maju, meletakkan bowl minuman kosong.
"Kenapa kau tidak cerita pada Kyungsoo tentang alasanmu menghindari musik? Oke! Jangan melotot pada kakekmu Kai. Aku sudah terlalu tua untuk mendengar suara teriakan. Itu tidak hanya menyakiti telinga, tapi juga hatiku."
"I see," Kai bergumam pelan. Dia sudah cukup dewasa untuk memahami kalimat panjang barusana. Sebuah sindiran yang seharusnya tidak perlu Kai pedulikan.
"Apa kau sedang berusaha agar dia tidak meninggalkanmu? Kau benar-benar mencintainya? Tidak mau bercerita bagaimana pertemuan kalian?"
'Kakek akan terkejut jika mendengarnya. Aku takut jantungmu tidak baik mendengarkan cerita sebenarnya jika Kyungsoo tidak menyukaiku. Kakek pasti akan kecewa. Lalu siapa yang harus kuakui sebagai kekasihku lagi? Tidak ada yang sesuai kriteria kakek,' Kai membatin frustasi. Otaknya melemah setiap kali obrolan ini datang.
"Kai? Kau masih di sini?"
"Oh?"
Pria tan tergagap mendapat lambaian tangan kakeknya.
"Oh ya. Nanti aku akan bilang padanya. Apa tadi kakek juga check up jantung?"
Pria tua itu mengangguk. "Sebentar. Mereka bilang dalam kondisi baik. Bahkan dokter menggodaku kenapa bisa begitu stabil dalam hitungan minggu. Kau mau tahu jawabannya."
'Kyungsoo.' Kai membatin lagi. Dia benar-benar berusaha menahan pikirannya agar tidak mencelos keluar.
"Kau Kai."
Sayangnya jawaban sang kakek berbeda dengan pikiran Kai.
"Kau dan Kyungsoo. Apa malam ini kau akan menginap?"
Kai mengangguk. "Besok pagi aku kembali ke Kota. Biarkan aku tidur di sini malam ini."
"Apa kau akan tidur di ruangan ini terus menerus? Tidakkah kau akan mencoba tidur di dalam rumah? Bagaimana jika Kyungsoo bertanya tentangmu. Sekali saja cobalah tidur di dalam rumah Kai."
Kai menggeleng, namun kakeknya memotong. "Coba pikirkan saran kakek. Kita punya sofa panjang di ruang perapian dan ruang tamu, kasur lipat yang bisa kau gunakan di ruang TV. Tapi terserah padamu, kakek harus membagikan uang pekerja. Bawa botol ini ke rumah, tadi Suho memintanya pada kakek."
~ RoséBear~
Permasalahannya sering kali terjadi, Kai melangkah mengikuti sumber suara dari pendengarannya. Alunan violin yang lebih halus dan sedikit mengikuti nada sebenarnya. Dia berdiri di daun pintu geser yang ada di beranda lantai dua, tepat di ujung koridor. Kyungsoo sedang disana, bermain violin menghadap ke arah perkebunan.
"Mau jus?"
"Akh?" Gadis itu terlonjak kaget.
Kai tertawa. Ia berjalan mendekat dan menghentikan permainan Kyungsoo. Gadis itu meletakkan violinnya ke atas meja agar bisa menerima pemberian Kai.
"Terima kasih. Kau mendengarkan permainanku? Oh Maaf."
Kai menghela napasnya bukankah tadi suara Kyungsoo terdengar sangat manis. Tapi kemudian dia menunduk dan meminta maaf. Apa tatapan Kai semenakutkan itu? Rasanya biasa saja. Pasien dan keluarganya sering kali memuji ketampanan, kesopanan, dan kebaikan hati Kai.
"Kai. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Dia mengikuti kemana Kyungsoo. Duduk di kursi menghadap perkebunan anggur. Tempat dimana gadis itu sering menemani Yixing bersantai.
"Besok aku akan kembali ke Seoul.
"Ya?"
"Senior Chanyeol kembali dari Kanada. Dia bersedia melatihku untuk persiapan kompetisi itu."
Kai tidak memberi jawaban. Pria itu menimbang dengaan memperhatikan Kyungsoo. Wajah gadis itu meminta sebuah persetujuan.
"Ya. Lakukanlah."
"Benarkah?"
Dia terdorong ke belakang karena pelukan tiba-tiba Kyungsoo. Gadis itu beranjak dari kursi santai dan menjatuhkan tubuhnya ke atas Kai. Sedikit sesak karena terkejut namun Kai tertawa mendapat kebahagiaan Kyungsoo.
"Maaf Kai."
Baru saja Kyungsoo ingin turun namun Kai menahan. "Kita bisa seperti ini sebentar saja?"
Tidak ada maksud tertentu. Terkadang Kai sadar otak dan tubuhnya berpikir diluar jangkauan emosi. Dia seorang pria, tak mungkin menarik kata-katanya namun hal seperti ini mulai sering terjadi. Dari ingin membahagian kakeknya malah menjadi sebuah kebiasaan.
"Aku berterima kasih kau meminta izin dariku sebelumnya. Itu tandanya kau menghormati keberadaanku."
Kai membelai rambut Kyungsoo. Lelaki itu tersenyum saat Kyungsoo mendongakkan kepalanya.
"Kai."
"Hmm?"
Pria itu memejamkan matanya, membiarkan jemari tangan masih mengelus rambut Kyungsoo dengan gerakan lembut.
"Apa kita benar-benar akan menikah?"
"Humm."
Dia merasakan helaian napas Kyungsoo membelai perpotongan lehernya.
"Apa aku harus berhenti bermain musik?"
"Dengar, itu terjadi setelah kita menikah. Sebelumnya kau bisa bermain musik sesukamu. Aku tidak akan melarang. Kau belum jadi istriku."
"Kai. Setidaknya beri aku alasan kenapa harus berhenti."
"Karena aku tidak menyukainya. Sudahlah Kyungsoo, aku lelah dan biarkan aku istirahat sebentar saja. Setiap bertemu kita selalu membahas ini dan jawabanku akan tetap sama."
Sebenarnya Kai merasakan detak jantung Kyungsoo yang berdetak cukup cepat. Itu artinya pertanyaan barusan sangat berarti untuknya.
"Apa kita akan berpisah nantinya?"
"Jika kakek tidak mempermasalahkannya. Setelah itu kau bisa bermain musik sesukamu."
"Tidakkah kau memikirkan perasaanku Kai?"
Kai masih mendengar pertanyaan Kyungsoo, namun enggan untuk memberikan jawaban. Seolah bibir hati itu tidak akan menghentikan sesi tanya jawab di antara mereka. Dia tetap mempertahankan posisinya walau dirasa tubuh Kyungsoo sedikit berat.
~ RoséBear~
Malam hari Kyungsoo terbangun, ketika memandang sekeliling dia merasa sedikit panas. Oh. Kyungsoo menyalakan pemanas ruangan dalam suhu yang cukup tinggi. Keringatnya tidak bisa dibilang sedikit, bahkan tenggorokkan Kyungsoo terasa kering. Gadis itu bangun, menapakkan kaki ke lantai kayu dan menyalakan lampu kamar. Dia berjalan keluar dari kamar, menuruni anak tangga.
Saat meneguk air Kyungsoo rasa pendengarannya mungkin menangkap sesuatu. Lebih banyak rasa penasaran daripada rasa takut dia mencoba membawa kakinya ke ruang perapian, tidak ada pencahayaan memadai. Hanya kayu bakar yang mulai padam membentuk arang dan abu. Dahinya berkerut menyadari seseorang bergelung dalam selimut.
"Kai?" Kyungsoo bergumam pelan. Segera ia mendekat dan mengguncang pundak pria itu. Dia pasti bermimpi buruk sampai bergumam tidak jelas dan sedikit berteriak. Tubuh Kai berkeringat sangat banyak padahal perapian telah padam.
"HAH!"
"Akhirnya kau bangun," tubuh Kyungsoo melorot ke lantai. Napasnya pendek-pendek dan tiba-tiba saja Kai memeluknye begitu erat.
Dia membalas pelukan Kai. "Tidak apa Kai. Aku disini, kau tidak perlu khawatir."
Rasanya mungkin sepuluh menit sudah mereka dalam posisi berpelukan. Kyungsoo mendorong tubuh Kai untuk melepaskan pelukannya tapi pria tan menolak.
"Kai..."
Akhirnya Kyungsoo berhasil, diraihnya tangan Kai dan memijat satu persatu jari tangan kanan Kai. Lalu beralih pada telapak tangan lelaki itu.
"Kau merasa lebih baik?"
Kai memandangi Kyungsoo, tidak bisa di pungkiri pria tan itu memandangi sekeliling ruangan dan merasa sedikit takut.
"Kai aku disini," panggilan Kyungsoo menyadarkan Kai.
"Sebaiknya kau tidur lagi. Ini masih jam satu malam Kai."
"Kau akan kembali ke kamar?" setelah mendapatkan kesadaran, Kai bertanya pada Kyungsoo dan tentu saja gadis itu mengangguk.
"Kembalilah. Aku akan tidur di ruang penyimpanan."
Alis Kyungsoo terangkat, dahinya berkerut mendengar perkataan Kai. Ruang penyimpanan, kenapa begitu mendadak?
"Kenapa kau harus tidur di sana?"
Kai memalingkan wajahnya menghindari tatapan Kyungsoo. Pria itu bergegas akan berdiri.
"Aku sudah terbangun. Akan sulit untuk tidur lagi. Kau temani aku menonton TV."
Lama Kai memandangi Kyungsoo yang berharap. Akhirnya lelaki itu mengangguk dan Kyungsoo segera berdiri. Menarik Kai ke ruang keluarga.
Kai duduk di atas karpet berbulu sementara Kyungsoo menyalakan TV dan mengatur dalam volume yang kecil.
Baru saja Kyungsoo akan duduk di sebelahnya, tapi Kai menarik gadis itu agar duduk dihadapannya.
"Biarkan aku memelukmu Kyungsoo."
Jantung Kyungsoo berdetak cepat jika Kai memperlakukannya begitu baik. Gadis itu bahkan tidak fokus pada acara apa yang dimunculkan pada layar. Sesekali ia merasakan tangan Kai bergerak di area perutnya.
"Kai," akhirnya Kyungsoo bersuara.
"Hum?" Deheman Kai terasa bergetar di area leher Kyungsoo.
"Apa kau selalu tidur di ruang penyimpanan?"
Sungguh. Dia hanya punya rasa penasaran. Tapi terlalu kuat dan sulit di tahan. Jika Kai tidak mau memberi jawaban maka Kyungsoo tidak akan bertanya lebih jauh. Nyatanya Pria itu melepaskan kedua tangannya, menyerahkan tangan kiri dan membuat Kyungsoo bingung menerima pemberian Kai.
"Mau memijat tanganku seperti tadi?"
"Te-tentu," Kyungsoo meraih jemari yang jauh lebih lebar dari miliknya. Terasa lembut walau berotot.
"Aku tidak tahu. Tiap kali tidur di rumah aku merasa akan di tinggalkan. Tapi jika tidur di ruang penyimpanan aku merasa tenang. Jadi aku tidak perlu takut."
"Sejak kapan kau tidur di sana?"
"Sejak Ayah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Saat itu aku masih bersekolah, tiba-tiba saja guru memanggilku, ia berkata Ayah terlibat kecelakaan lalu lintas. Tapi aku pikir Ayah bunuh diri."
"Sssttt... Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Sejak itu aku sering bermimpi buruk jika tidur di rumah. Kakek sudah pernah melakukan terapi tapi tidak berhasil." Ia mengatakan sebagian kebenaran dalam hidup yang telah ia jalani. Kakeknya benar, tidak selamanya dia bisa menyembunyikan perasaan seperti ini dari Kyungsoo. Setidaknya secara perlahan Kyungsoo harus tahu agar tidak ada perdebatan di antara mereka. Tapi peristiwa ini hanya dua persen dari apa yang telah dia sembunyikan selama ini.
"Lalu kenapa malam ini kau memaksakan tidur di sini?"
Kyungsoo tidak bisa menahan rasa penasarnya. Bukankah minggu lalu juga lelaki ini tidur di ruang penyimpanan.
"Karena kakek memintaku memikirkanmu. Tidak mungkin selamanya aku tidur di sana sementara kau ada di dalam."
'Oh. Jadi kau berusaha untuk meyakinkan kakekmu terhadap hubungan kita?'
Kyungsoo terdiam memikirkan alasan Kai. Cukup masuk akal namun sedikit menyesakkan.
Kyungsoo pikir sudah lima belas menit dia mengurut telapak tangan Kai dan pria itu terdengar sudah tidur. Kyungsoo ingin melepaskan diri dari pelukan Kai, tapi ia terlalu takut mengusik pria tan ini.
"Kini kau bisa tidur dengan tenang. Aku tidak akan meninggalkanmu."
~ RoséBear~
Besok paginya Kai mengerutkan dahi melihat Kyungsoo hanya menyandang tas violinnya. Gadis itu berkata akan kembali ke Seoul bersama Kai dengan menggunakan bus.
Setelah berpamitan, Suho mengantar keduanya ke stasiun terdekat.
Dan selama perjalanan itu juga Kai tidak mengerti apa yang terjadi pada Kyungsoo. Seingatnya tadi pagi dia bangun masih dalam posisi memeluk Kyungsoo namun gadis itu telah bangun lebih dulu.
'Mulai sekarang aku mau kau tidak memiliki rahasia apapun padaku.'
Kira-kira itulah kata-kata yang diucapkan Kyungsoo pagi ini.
Saat duduk bangku bus. Kai mengambil alih tas violin Kyungsoo.
"Biar aku yang memegangnya. Kau bisa tidur tenang selama perjalanan."
Dia melihat Kyungsoo hanya menganggukkan kepala, langsung memeluk lengan Kai. Menjadikannya sebagai sebuah bantalan.
Entahlah, Kai tidak sadar kenapa dia melakukan itu. Anggap saja untuk istirahat yang menyenangkan tadi malam. Setelah mimpi buruk dia benar-benar bisa beristirahat dengan tenang. Tidak yakin tentang memeluk seseorang, Kai pernah melakukannya terhadap Suho maupun kakeknya, hasilnya tidak berhasil.
~ RoséBear~
Sudah berapa lama dia meninggalkan rumah ini? Cukup lama ternyata namun pelayan di rumahnya tetap membersihkan kamar Kyungsoo.
Dia tiba di kota tiga jam yang lalu. Supir ayahnya menjemputnya di stasiun, diantar oleh Kai langsung ke rumah gadis itu tidak tahu apa Kai ke asrama untuk istirahat atau langsung bekerja. Rasanya pria itu akan langsung pergi bekerja.
Dirasa sudah bersih setelah mandi. Kyungsoo meraih ponsel di atas nakas. Rasanya dia terus saja menggunakan ponsel Kai dan pria itu tidak pernah meminta benda itu kembali. Dia juga menyentuh lehernya, tepatnya kalung yang melingkar, Kai memberinya saat pesta malam itu lalu cincin yang melingkar di jemari tangannya.
"Setidaknya aku harus memberikannya sesuatu," pikir Kyungsoo sedikit bingung.
Gadis itu berniat membuka ponsel Kai, selama ini dia hanya menggunakan ponsel itu untuk menghubungi Chanyeol atau Kai. Dayanya pun akan di charge hingga tiga hari kemudian. Itu karena Kyungsoo bukan type yang bersosialisasi melalui ponsel. Dia tidak pernah melewati privasi Kai.
Kamera terbuka dan Kyungsoo mengambil gambarnya lalu mengambil sebuah rekaman.
"Selamat pagi. Dengan Do Kyungsoo di sini. Senang bertemu denganmu, dr. Kim Kai yang membingungkan! Tapi bagaimana aku bisa menolak pesonamu?"
Video itu dia akhiri dan dia ingin menghapus gambar serta video tersebut karena merasa begitu bodoh melakukan hal kekanakan seperti ini. Namun ternyata gallery Kai terkunci. Kyungsoo mulai panik.
Drrtt
Sebuah panggilan mengejutkan Kyungsoo dalam kepanikan.
"Kau dimana? Segeralah kemari! Henry sudah di sini sejak lima belas menit lalu."
Kyungsoo terlonjak kaget.
"Ya! Aku akan segera berganti pakaian. Tahan dia sampai aku tiba Chan!"
Tanpa bertanya apapun lagi Kyungsoo mengakhiri panggilannya. Dia harus bergegas tapi kemana?
Langkah Kyungsoo terhenti di depan pintu rumah. Ia menghubungi Chanyeol ulang, seingatnya rumah keluarga Park sedang direnovasi. Lalu mereka akan bertemu di mana?
To be continue...
Ketika berdialog kita mendapat banyak jawaban. Untuk itu beberapa bagian akan penuh dengan percakapan, aku menyukainya. Aku harap kalian tidak keberatan hanya untuk beberapa bagian ^^ untuk karakter Luhan nanti di munculkan lagi.
Enjoy your day.
Preview chapter 07
"Kenapa kau tidak bilang jika pelatihmu seorang lelaki?" –Kai
"Saat dewasa nanti kau akan mengerti." –Kai
"Maafkan aku. Harusnya aku menjaganya. Harusnya aku bicarakan ini padamu. Maafkan aku Kai." -Kyungsoo
It's not very easy to grow up into a woman or man too
Thank You.
.
RoséBear
[Part 2 : Get in TOUCH 170931]
