Complementary (7th Chapter)

Present by RoséBear

Main cast: Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Content: GS. Companionship. Family. Friendship


The Paradox of Lost Complementary

Antara masa lalu dan masa depan, seperti sebuah kedipan mata dan momen sekejap itu yang kita sebut sebagai sebuah kehidupan.

It's not very easy to grow up into a woman or man too

Kyungsoo terperangah, dia telah berdiri di depan sebuah kafe yang tertutup.

"Apa yang kau lakukan? Cepatlah masuk."

Chanyeol muncul dari balik pintu. Kafe itu berdiri tidak jauh dari rumah sakit milik keluarganya. Tidak ada pengunjung, tidak juga memiliki jam kunjungan.

Chanyeol tidak seorang diri menyambutnya, seorang pria berkulit putih, pipi sedikit chubby dengan bibir merah juga ikut menyapa.

"Kemarilah. Henry sudah menunggu cukup lama karenamu."

Kyungsoo memberi salam sesopan mungkin. Dia masih berdiri sampai Chanyeol menariknya agar duduk.

Chanyeol memperkenalkan keduanya. Baik! Tidak hanya secara penampilan, pada pertemuan pertama pria ini tampak easy dan dewasa selain itu suaranya juga merdu.

"Tempat ini di bangun bukan untuk mencari keuntungan. Saudaraku yang memilikinya untuk bersenang-senang. Lalu aku menggunakannya untuk berlatih."

Penjelasan singkat dari Henry yang cukup untuk dipahami Kyungsoo ketika gadis itu membawa matanya berkeliaran pada bagian dalam bangunan kafe. Terdapat beberapa kursi kayu tinggi dengan meja bulat, lalu meja bar di sepanjang bagian pinggir menuju sebuah panggung pertunjukkan.

Henry membawa keduanya untuk duduk dengan mengambil posisi kursi di dekat panggung pertunjukkan berukuran empat kali dua meter. Dua gelas es jeruk untuk kedua bocah itu terlihat sangat cocok.

"Jadi? Permainan apa yang akan kau tunjukkan pada kompetisi pertamamu Nona Do?"

"Kyungsoo. Kuharap kau bisa memanggilku begitu," tanpa sadar dia memberitahu dengan segera. Ketika dia telah memiliki kesempatan, maka gadis itu menggunakannya dengan segera. Namun tidak melupakan bagaimana etika berterima kasih pada seorang penolong sebelumnya, ia tersenyum sangat manis seperti bunga menanti lebah menghampiri.

Sementara itu Henry memahami maksud perkataan Kyungsoo barusan. Ia memberi jawaban persetujuan, "baiklah Kyungsoo. Jadi? Apa yang akan menjadi bagian pertunjukkan pertamamu?" lelaki itu kembali mengulang pertanyaan untuk mendapat jawaban pasti sekalipun Chanyeol sudah memberitahunya pagi ini.

"Sonata concertata, Paganini. Key A Major."

Henry mengangguk lalu membaca partitur yang Kyungsoo miliki. "Kalau begitu kau bisa memperlihatkan padaku permainamu Kyungsoo?"

Gadis itu mengangguk semangat. Ia tidak akan menyerah untuk melakukan hal ini, sudah berapa banyak yang terlewati? Sudah berapa lama waktu yang menambah kesedihan Kyungsoo? Sekali saja musik telah menjadi bagian dari Kyungsoo yang menahan dirinya untuk menetap di dunia.

Ibu adalah wanita yang memperkenalkan musik pertama kali kepada Kyungsoo, membawanya duduk di barisan terdepan menghadap panggung pertunjukkan. Membawakan pengajar dan memperlihatkan betapa panggung pertunjukkan sangat memukau penglihatan.

Seketika Violin menjadi pilihan pertama. Ada rahasia kecil tentang pemilihan alat musik violin itu. Setelah sekian lama sejak kematian ibunya, Kyungsoo akan mendatangi gedung pertunjukkan lagi. Tidak duduk di barisan depan tapi sekali saja untuk benar-benar mencoba berada di atas panggung yang sesungguhnya. Merasakan perasaan ibunya ketika tampil di atas panggung. Maka dia telah bertekad untuk melakukan semuanya.


~ RoséBear~


Hari ini Chanyeol menemaninya.

Besok Chanyeol datang bersama Baekhyun.

Bukankah pertemanan mereka terikat dengan sangat kuat? Ahh teman, dia masih mengakui jika dirinya memiliki jarak yang sedikit jauh dengan Baekhyun. Tentu saja semua karena masa lalu, bukankah masa ini masih terhubung dengan masa lalu.


Kembali kemana dia berlatih, Henry benar-benar pemain violin berbakat. Tidak ada satupun komentar pria itu yang dilewatkan Kyungsoo. Dia mendengarkan dengan sangat baik. Tidak hanya pandai berkomentar, tapi Henry juga menunjukkan kemampuannya.

Mereka baru saja berlatih selama lima hari dan tidak hanya Kyungsoo yang merasakan perubahan pada permainan dirinya sendiri. Tapi Chanyeol serta Baekhyun juga mengakui itu.

"Wahh jika menang dalam kompetisi boleh kusebut kau violinist berbakat? Bisa kuminta tandatanganmu lebih dulu?"

Hanya sekedar candaan Chanyeol. Dia menunjukkan kedekatan mereka saat berlatih di kafe milik saudara Henry. Selama masa pelatihan, tidak sekalipun Kyungsoo melihat tempat ini dibuka untuk umum. Pintu akan terbuka jika mereka datang, suara musik terlau mendominasi. Entah itu permainan Violin Henry dan Kyungsoo atau ketika Chanyeol menggunakan drum di sana. Sesekali juga terdengar desisan sosis goreng ketika Henry membuatkan makan siang untuk mereka.

"Kau menunggu pesan seseorang Kyung?"

Kyungsoo menoleh pada Chanyeol. Temannya itu membawakan gelas berisi minuman soda. Di atas panggung pertunjukkan kafe terlihat Baekhyun mencoba memainkan gitar setelah Kyungsoo mengambil jeda istirahat.

Gadis itu menggeleng pelan atas pertanyaan Chanyeol. Tapi apa yang kemudian keluar dari mulut Chanyeol.

"Jangan mencoba menipuku. Sejak kemarin kau sering kali memperhatikan ponsel itu. Jika aku boleh berpendapat kau belum mengembalikan ponsel lelaki itu?"

"Ponselku hilang Chan. Kai juga tidak mempermasalahkannya."

Kyungsoo berkilah. Tapi pada kenyataannya, memang Kai tidak mempermasalahkan kepemilikan benda persegi itu. Dia membuat Kyungsoo memiliki ponsel itu agar mudah dihubungi.

Sekarang pukul enam petang saat langit mulai gelap, ketika mereka akan mengakhiri sesi latihan. Tiba-tiba pintu kafe di buka. Sosok pria tinggi dan berkulit putih. Dimana wajahnya perpaduan sempurna Amerika dan Asia.

"Ahh Kris. Kau sudah tiba? Mau kubuatkan makanan?"

Kyungsoo, Chanyeol serta Baekhyun hanya diam di tempat mereka saat lelaki itu masuk dan lewat begitu saja.

"Kakak laki-lakinya," Chanyeol berbisik pada Baekhyun dan Kyungsoo secara bersamaan. Ia memberitahu prihal siapa pria yang baru saja melangkah di depan mereka.

"Ya. Tentu saja. Aku juga membawa seorang teman."

Lelaki yang baru saja di panggil Kris itu menjawab pertanyaan Henry. Ia menarik kursi dan duduk.

"Dimana?" Henry bertanya pada saudara lelakinya sementara tiga anak manusia itu masih berdiri memperhatikan interaksi mereka.

"Kau bermain-main lagi heuh? Wahh kali ini seleramu sangat baik. Kedua gadis itu sangat cantik. Yang mana kekasihmu Henry?"

Ketiga anak itu saling bersitatap. Sebuah pertanyaan ataukah pernyataan yang membuat mereka sedikit bingung dengan perkataan Kris. Tapi Chanyeol segera menarik Baekhyun menghimpitnya. Itu karena tatapan Kris yang duduk dua meter dengan mereka tampak membahayakan.

"Tidak ada Kris. Aku hanya melatih Kyungsoo. Dia akan mengikuti kompetisi violin."

Kris mengangguk lalu menerima sup hangat yang diberikan Henry sementara pria China-Kanada itu menghampiri ketiganya.

"Ya. Kalian pulang dan istirahatlah. Kembali besok siang karena besok pagi aku harus pergi ke suatu tempat."

Henry mencondongkan tubuhnya mendekati Kyungsoo, baru saja ingin berbisik sesuatu saat tiba-tiba tubuh gadis itu terhuyung ke belakang karena sebuah tarikan.

Kai

Semua mata di sana menatap ke arah lelaki tan yang baru saja masuk ke dalam kafe tanpa menimbulakn suara dan menarik perhatian ketika mereka membelakangi pintu masuk kafe.

Kyungsoo tersentak karena tarikan kuat itu, sedikit bingung dan secara reflek tangannya berpegangan pada jaket yang Kai gunakan agar tidak jatuh terduduk. Kini pemuda itu berdiri menghalangi tubuh mungilnya. Sementara pandangan Kai begitu tajam pada Henry.

"Kai? Kau lama sekali di luar. Kemarilah. Adikku menyiapkan makanan untuk kita."

Kai menatap Kris sekilas.

"Maaf. Aku punya urusan dengan gadis ini."

Chanyeol yang mengetahui prihal pertunangan Kai dan Kyungsoo segera memberi jalan. Membiarkan teman dekatnya di bawa keluar.

Tidak sampai satu menit pria tinggi itu juga berpamitan pada Henry dan Kris.

"Kau mengenal pria itu?"

Kris terlihat tidak peduli dengan pertanyaan Henry, adiknya berjalan mendekat dan duduk berhadapan.

"Kekasih kyungsoo?" ia kembali bertanya.

"Uhuk!" Sang kakak terbatuk. "Kurasa Kai tidak memiliki kekasih. Dia terlalu dingin."

Pria itu benar-benar tidak peduli dan fokus pada sup labunya. Tapi sebenarnya kata-kata Kris menyimpan sebuah kekecewaan besar.

"Aku bertanya serius Kris."

"Aku juga tidak tahu harus menjawab apa. Pria itu adik Suho, dia seorang dokter bedah dan dia tidak mau dekat denganku. Aku memaksanya kemari karena perlu membicarakan pembedahan seorang pasien yang sudah kutangani selama dua tahun. Sekarang dia pergi dan tidak tahu kapan akan kembali."

Henry hanya menatap pintu, tadinya dia ingin meminta bantuan Kyungsoo menemaninya ke suatu tempat. Sayangnya gadis itu telah pergi, begitu cepat tanpa sempat meninggalkan salam perpisahan.


~ RoséBear~


Orang-orang yang tersesat sering kali terperangkap dalam kegelapan. Lalu mereka menengadah dan menyadari jika bintang di langit adalah petunjuk jalan yang disediakan Tuhan.

Langkah pendek Kyungsoo sedikit kesulitan mengikuti Kai. Dia memaksa berhenti setelah berjalan hampir dua menit lamanya. Cukup jauh untuk menghindar dari keramaian. Awan abu-abu tampak merepotkan, angin musim gugur benar-benar tidak bersahabat untuk dress tanpa lengan yang sedang Kyungsoo gunakan. Dia meninggalkan mantelnya di dalam tas milik Chanyeol. Sementara dia tidak tahu dimana kedua temannya itu sekarang.

"Kai!"

Berkali-kali Kyungsoo memanggil tidak ada balasan dari Kai. Pria itu terlalu sibuk dengan napas pendek-pendeknya. Mereka berdiri saling berhadapan pada pedestrian setelah Kai berbaik hati membalikkan badannya.

"Kenapa kau ada di sana?"

Kyungsoo maju selangkah untuk menghindari badan jalan. "Henry adalah pelatihku. Rumah Chanyeol sedang direnovasi jadi kami berlatih di kafe milik saudaranya," itu adalah jawaban yang sesungguhnya.

"Kenapa kau tidak bilang jika pelatihmu lelaki?"

Kyungsoo terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Kai. Ia mendongak memastikan pendengarannya. Oh. Apa pria ini cemburu?

Tidak!

Kyungsoo menepis pikiran itu. Kai terlalu baik untuk cemburu.

"Kurasa kau tidak akan keberatan. Lagipula Chanyeol dan Baekhyun selalu menemaniku berlatih. Oh ayolah Kai, jangan mengacaukan latihanku yang hanya tiga hari lagi."

Kai berkacak pinggang, ia sedang berpikir dan Kyungsoo tidak bisa menebak apa yang pria tan pikirkan.

"Apa kau tidak bisa berlatih sendiri?"

"Tidak. Henry adalah pemain violin yang berpengalaman. Tidak hanya bermain, tapi dia sangat pandai melatih."

Dia kembali diam dan berpikir membuat Kyungsoo ragu dan juga bingung mengenai apa yang sedang dibentuk lelaki ini.

"Besok jam berapa kau berlatih?"

"Siang hari. Kurasa jam dua aku akan berangkat."

"Baiklah. Sekarang aku akan mengantarmu pulang."

Jalan pikiran pria ini benar-benar tidak bisa di tebak. Dia bahkan tidak mau meminjamkan jaketnya pada Kyungsoo Padahal gadis itu sudah menggosok kedua lengannya yang mulai menggigil ketika mereka mencari halte bus terdekat.


~ RoséBear~


Sejujurnya Kai sadar Kyungsoo mulai kedinginan. Gadis ini tidak terbiasa dengan angin malam, ia juga tahu akan prihal itu. Akhirnya ia menyerah dengan egonya. Melepaskan jaket dan meninggalkan kaos biru polos di tubuhnya.

Tanpa penawaran dia menerima ucapan terima kasih Kyungsoo. Butuh sekali perjalanan dengan bus dan berjalan kaki beberapa menit untuk sampai di rumah Kyungsoo.

Mengenai kejadian tadi. Apa dia merasa cemburu?

Mungkin saja, Kai tidak suka sebuah penghianatan.

Tapi Kyungsoo tidak berkhianat.

Ya. Tapi pria tadi berkemungkinan menginginkannya.

Kai protektif?

Lebih buruk lagi, dia menjadi sangat posesif.

Napasnya berhembus, jemari menggosok satu sama lain karena merasa dingin. Satu yang Kai sadari ketika tiba, di rumah Kyungsoo tidak ada orang.

"Kau sendirian?"

Dia melihat Kyungsoo kembali dengan gelas berisikan coklat hangat. Menyerahkan pada Kai lalu duduk di sebelah pria tan.

Kai hanya mengesap sekali lalu meletakkan cangkir ke atas meja. Dia menatap Kyungsoo yang kini mengambil tangan kanannya, mengurutnya seperti hari itu.

Ini yang Kai sukai. Kyungsoo benar-benar polos, sejujurnya dia gadis yang sangat baik.

"Ayah akan kembali nanti malam."

"Jam?"

Kyungsoo berhenti sejenak namun Kai mengayunkan tangannya membuat gadis itu melanjutkan kegiatannya. "Aku tidak tahu."

Hati Kai terasa sesak melihat eksprsi Kyungsoo. "Apa sebaiknya aku pindah di dekat rumahmu?"

Ia melihat keterkejutan Kyungsoo lalu tersenyum. Tangan yang bebas mengelus rambutnya.

"Aku kembali bekerja jam sembilan malam. Aku bisa menemanimu selama tiga jam. Tidakkah kau mau memasakkan makan malam untukku?"

Alasan Kai! Percayalah, pria itu bahkan kesulitan mengontrol ucapannya. Dilihatnya Kyungsoo yang mendongakkan kepala lalu perempuan itu mengangguk semangat.

"Bisakah aku mandi sebentar? Sejak pagi aku sudah berada di luar."

Kai memberi persetujuan atas permintaan Kyungsoo.


~ RoséBear~


Lalu selama Kyungsoo membersihkan diri, pria tan berjalan memperhatikan lantai pertama rumah ini. Dia hanya membayangkan kehidupan Kyungsoo selama ini tanpa sang ayah? Ya. Kai sudah sering mendengar kabar dokter Do yang sering berada di UGD walau jabatannya bukan kepala bagian. Oh ayolah, pria tua itu luar biasa untuk dijadikan bahan perbincangan. Semua pasien menyukainya, tim dokter menghormatinya, termasuk Kai. Tapi kenyataannya, dia meninggalkan anaknya sendirian di rumah.

Lama matanya berkeliaran, kini pandangan Kai membawanya menaiki anak tangga. Tepat di belokkan dia benar-benar berhenti memperhatikan photo keluarga Kyungsoo. Dia yakin gadis berkepang dua itu adalah Kyungsoo. Sangat manis dengan mata bulat dan bibir hati. Disana dokter Do terlihat lebih muda, tersenyum sembari merangkul seorang wanita cantik.

"Itu ibuku."

Dia terkejut karena suara Kyungsoo. Saat berbalik badan Kai benar-benar mengakui Kyungsoo itu sangat cantik. Entah bagaimana dia telah merawatnya tubuhnya.

Oh dr. Kim! Buang semua pikiran kotormu.

"Kau mau makan apa? Kulkas di rumah ini memiliki banyak bahkan makanan."

Kini dia mengikuti kemana kaki Kyungsoo melangkah. Menuruni tangga dan menuju dapur. Gadis itu berkata akan membuat nasi campur.

Kai sama sekali tidak bisa membantu, memasak bukanlah keahliannya. Tangan Kai hanya dia gunakan untuk membedah dan menyusun botol wine. Mungkin jika menikah dengan Kyungsoo tangannya akan memiliki fungsi lain lagi.

Cukup lama pria tan itu duduk bosan hingga akhirnya ia putuskan mendekati Kyungsoo yang kini baru selesai menumis dan merebus sayuran untuk menjadi topping bibimbab.

"Aaaa," Tanpa sadar Kai membuka mulutnya karena perintah Kyungsoo barusan. Gadis itu memasukan beberapa sayuran yang ia gulung di dalam nori.

Mulut pria itu penuh dan menyulitkannya dalam berbicara sementara Kyungsoo menunggu pendapatnya. Tidak lama bagi Kai untuk menelan dan menganggukkan kepala cepat. "Mashita~" gumamnya segera.

Kyungsoo menyusun semua bahan bibimbab ke dalam hot pot yang telah ia panaskan terlebih dahulu. Gadis itu menata meja dan meminta Kai segera duduk.

"Wahh aku mendapatkan pelayanan VIP darimu heum? Apa jika menikah nanti kau akan memasak setiap hari?" ia bertanya ketika menarik kursi untuk duduk.

"Jika kau mengizinkan aku bermain musik," menjadi sebuah komentar tidak terduga dari Kyungsoo ketika gadis itu ikut duduk di salah satu kursi.

"Tidak Kyungsoo."

"Tapi Kai. Beri aku alasan kenapa kau melarangku?"

Kai mengaduk semua bahan bibimbab. Dia tidak menatap Kyungsoo. "Dengar Kyungsoo. Kita tidak akan menikah dalam waktu dekat. Kita tidak saling mengenal dengan baik."

"Tapi Kai? Kau juga tidak berniat membatalkan pertunangan ini?"

"Karena aku tidak bisa, dan bisakah aku memakan makananku dengan tenang? Kita sudah berkali-kali berdebat dalam satu topik yang sama."

Kyungsoo menjulurkan tangannya ke atas meja, menjatuhkan kepalanya ke atas sana. Sesering apapun dia bertahan maka saat itu juga dia merasa jatuh dan tak bisa membela diri.

Kai sangat sadar akan hal itu. Kyungsoo terlalu baik, sangat keterlaluan sebenarnya ketika mengingat betapa ayahnya memaksakan kehendak lalu kini Kai juga melakukan hal yang sama.

"Kapan kita bisa berdebat dengan adil menggunakan logika? Melewatkan deretan numerik, cerita panjang, garis lurus yang menenangkan. Sekali saja aku ingin kalian mendengarkan aku."

Jantung Kai serasa di remukkan ketika mendengar ucapan Kyungsoo. Dia meletakkan sendok dan mengelus rambut yang setengah basah itu.

"Saat dewasa nanti kau akan mengerti."

Saat itu tiba-tiba Kyungsoo mengangkat kepala, air mata telah berlinang membuat Kai sangat terkejut. Ini bukan pertama kali dia melihat Kyungsoo menangis, namun tetap saja.

"Aku berjanji. Jika kita menikah nanti, aku memberimu satu permintaan yang tidak akan kupertimbangkan lagi. Aku akan langsung menyetujuinya selama itu bukan tentang bermain musik."

Kai benar-benar harus menahan diri melihat Kyungsoo menggigiti bibir baawahnya lagi, jemarinya melepaskan tautan paksa itu. "Jangan menyakiti dirimu lagi Kyungsoo."

"Bawa ke wastafel agar aku bisa mencucinya."

Kyungsoo menghapus air matanya. Ia bangkit, berjalan menuju wastafel pencucian yang dipenuhi peralatan masak kotor. Gadis itu mulai menggunakan apron bersih dan sarung tangan karet.

Tidak lama kemudian Kai datang meletakkan hot pot untuk dicuci Kyungsoo. Pria tan itu berguling ke samping tidak membantu apapun. Dia hanya memperhatikan bagaimana kini Kyungsoo membilas satu persatu peralatan yang kotor.

Gadis itu kemudian mengelap beberapa piring dan mangkuk untuk disusun pada lemari yang berada di atas kepalanya.

Kai mengernyit memperhatikan Kyungsoo berjinjit karena tidak sampai untuk meletakkan piring yang sebagian masih terusun rapi.

"Sekali-kali mintalah bantuan padaku Kyungsooo."

Pria tan mengambil alih piring dari tangan Kyungsoo, berdiri tepat di belakang untuk meletakkan piring pada tempatnya.

Posisi yang begitu intim mengejutkan Kyungsoo. Ia menjauhkan tangannya dari Kai, Sayangnya menyentuh gelas kaca yang masih setengah basah.

Prang

"Jangan sentuh!" Kai sedikit berteriak menyadari apa yang baru saja terjadi. Pria itu menghela napasnya pelan. Tubuhnya mengangkat Kyungsoo dengan sungguh mengejutkan. Menjauhkan gadis itu dari pecahan kaca.

"Biar aku yang bereskan."

Dengan kata-kata terakhir, dia benar-benar membereskan kekacauan itu. Meminta Kyungsoo untuk duduk tenang.


~ RoséBear~


Kai itu sebenarnya baik hati dan tidak egois. Hanya saja dia tidak bisa jujur dengan perasaan sendiri. Sebab dia tidak bisa mengakui kelemahan itu. Bagaimanapun dia meyakinkan diri, ketakutan nyatanya lebih menguasai dirinya. Ketika bicara, dia berusaha sesopan dan sepelan mungkin agar tidak menyakiti hati siapapun, namun ada saat dia kesulitan mengontrol diri.

Besok hari, Kai tidak hanya bertanya tentang kapan waktu berlatih Kyungsoo. Lelaki itu telah mengetuk pintu rumah dan mengejutkan Kyungsoo. Dia berkata akan menemani Kyungsoo berlatih. Walau Kai tahu Kyungsoo kemudian menjadi canggung saat membawa Kai ke tempatnya berlatih.

Hari itu Baekhyun memilih menitipkan Kyungsoo pada Kai, dia bergegas pulang dan memberi kabar pada Chanyeol. Awalnya pria tinggi terkejut namun dia menenangkan kekasihnya dengan berkata 'semua baik-baik saja. Semua pria pasti tidak suka jika wanitanya didekati lelaki lain.'

Kembali lagi pada Kai, esok hari dia menemani Kyungsoo, -lagi.

Walau selama sesi latihan Kai terlihat duduk dan membaca buku, nyatanya sesekali pria itu melirik pada tempat dimana Kyungsoo berlatih dan Henry duduk memperhatikan.

Tepat pada hari terakhir Kai benar-benar kelelahan. Dia hanya tidur dua jam perhari selama tiga hari ini.

Seperti malam sebelumnya, Kai mengantar Kyungsoo dahulu lalu dia akan kembali ke rumah sakit untuk berjaga malam.

"Apa besok kau akan melihat kompetisiku?"

Kai berjalan di sebelah Kyungsoo, membiarkan gadis itu menyandang tas violinnya. Ia hanya melirik sebentar lalu menggeleng. "Tidak. Sudah kukatakan aku tidak menyukai musik."

Kini gadis itu mempout bibirnya lucu, "Tapi tiga hari ini kau mendengarkan permainanku."

Sejujurnya masih ada pernyataan lain namun Kyungsoo seperti menyadari sesuatu. "Kai! Ponselnya tertinggal! Tunggu di sini. Aku akan segera kembali."

Tanpa sempat melayangkan protes. Kai memandang bagaimana punggung Kyungsoo berlari menjauh. Pria itu terlalu lelah, dia berjalan pelan mengikuti Kyungsoo. Memperhatikan bagaimana gadis itu kemudian membuka pintu kafe sementara dia masih berjalan dengan pelan.

Dahinya berkerut menyadari Kyungsoo terlalu lama untuk sebuah ponsel yang tertinggal. Kaki panjang Kai bergerak cepat namun langkahnya kembali terhenti saat melihat pintu terbuka. Kyungsoo keluar dan di belakangnya Henry ikut menyusul.

Pria tan itu segera menarik Kyungsoo ke sebelahnya. "Kita benar-benar pulang sekarang."

"Kau ini kenapa?"

"Tidak apa."

Rasanya Kyungsoo mulai jengah dengan sikapnya Kai yang dinilai keterlaluan. Tapi Kyungsoo terlalu takut untuk bertanya apakah Kai cemburu. Jadi dia memilih diam sepanjang perjalanan.


Malam hari, Kyungsoo mendapat panggilan dari kakek Kai. Dia bilang besok benar-benar akan datang seorang diri, sejujurnya tidak seorang diri. Suho telah meminta seorang supir perkebunan mengantar kakeknya hingga bertemu Chanyeol. Kyungsoo akan membantu pertemuan mereka besok pagi, dia berjanji untuk itu.


~ RoséBear~


Lagu yang Kyungsoo mainkan adalah salah satu lagu khusus, dia telah berlatih menggesek dengan busur serta memetik dengan jari.

Tampak cantik dengan gaun hitam tanpa lengan, Kyungsoo benar-benar gugup menunggu pemanggilan peserta. Dia akan melakukan pada urutan ke delapan belas. Tepat setelah hampir semua peserta selesai. Gadis itu telah berada di backstage cukup lama, beberapa kali bahkan dia mengunjungi toilet.

Jemarinya bergerak gelisah hingga Baekhyun datang dan memberinya sebotol minuman dingin.

"Aku gugup Baek."

Bisiknya kini bersender pada dinding. Sudah urutan ke lima belas. Jeda istirahat sepuluh menit dan kompetisi akan dilakukan kembali.

Sudah hampir sore hari ketika dia menunggu gilirannya. Rasanya jika orang -orang tidak mengenal Kyungsoo, dia seperti seorang pemula yang sedang mengingat-ingat metode walau Baekhyun sudah mengingatkannya untuk bermain secara reflek. Ketika nomor urutnya di panggil, Kyungsoo menghembuskan napas kuat.

Langkah pertama yang ia lakukan benar-benar terlihat gugup. Di pegangnya erat violin berukuran kecil itu.

'Kyungsoo~ kau bisa mengandalkan pendengaranmu. Baca not musik dengan baik, fokus Kyungsoo~'

Mata bulat itu terpejam, dia mulai memainkan keempat senar dengan nada pembukaan yang sangat baik. Bunyi alunan violin Kyungsoo memiliki resonasi akustik dari perpaduan jari dan juga keempat senarnya.

Dari awal penampilan dia menunjukkan betapa mahirnya dia sebagai pemain violin solo.

Sayangnya

.

.

.

Hanya dari menit terakhir ketika tubuh Kyungsoo sedikit bergerak dan pandangannya tidak tertuju pada partitur melainkan bagian kosong panggung. Dia kehilangan nada dengan begitu cepat, kejadian itu seperti tragedi terburuk dalam sejarah kompetisi. Nada yang dihasilkan selanjutnya menjadi tidak jelas, tidak cocok dengan bagian melodi musik. Ketika sadar dia benar-benar telah kehilangan nadanya. Gadis itu menjadi panik, satu auditorium menampakkan kebingungan.

'Kyungsoo~ ingat kau adalah pemain solo.'

Seketika ucapan Henry saat dia mengambil ponsel yang tertinggal menyadarkan Kyungsoo, dia kembali ke nadanya pada detik-detik terakhir. Napas gadis itu terasa pendek-pendek. Suara tepuk tangan dan ia segera menunduk. Kakinya melangkah meninggalkan stage.

Oh tidak hanya stage, melainkan tempat kompetisi.

"Kau tidak mau menunggu hasil pengumuman untuk babak final?"

Suara Baekhyun menginstrupsikan langkah Kyungsoo.

"Tidak. Aku kembali mengacaukannya Baek. Kupikir selamanya akan sulit bermain solois."

Mereka tiba di bagian luar gedung. Ketika itu kakek Kai menghampiri Kyungsoo. Dia meminta waktu untuk bicara dengan anak perempuan tersayangnya.

"Hai.. Aku membawakanmu wine yang bahkan Kai dan Suho sendiri belum mencobanya."

Mereka duduk di salah satu bangku taman kampus. Kyungsoo tersenyum lalu menerima begitu saja.

"Terima kasih kakek. Tapi sebenarnya aku tidak bisa minum alkohol."

Pria tua itu mengangguk paham.

"Penampilanmu sangat baik."

"Hah~ nyatanya aku pasti didiskualifikasi karena tidak mengikuti partitur musik."

"Tapi kau menunjukkan perasaanmu saat bermain. Harusnya kau melihat bagaimana seisi auditorium bertepuk tangan karena menyukai penampilanmu Kyungsoo. Itu nada teromantis yang pernah kudengar."

Kyungsoo tersenyum kaku.

"Awal yang bagus Kyung. Ingat! Masih ada bagian lain dari violin yang harus kau pelajari lagi. Kompetisi ini hanya bagian kecil saja."

Itu suara Chanyeol. Pemuda itu menyusulnya dan memberikan sebuah rangkaian bunga pada Kyungsoo.

"Tidakkah ini terlalu dingin? Bagaimana jika kutraktir kalian makan siang."

Sebuah tawaran dari pria tua Kim untuk memberikan sedikit dukungan. Tapi nyatanya sebuah pertanyaan meluncur dari bibir hati Kyungsoo.

"Bukankah kakek harus kembali? Sudah terlalu lama berada di luar. Tidak baik untuk kesehatan."

Kyungsoo melayangkan protesnya, ia membantu kakek Kai untuk berdiri. Udara dingin membuat persendiannya sulit digerakkan. Mantel yang digunakan lelaki tua itu ternyata tidak berfungsi terlalu baik.

"Apa kau lupa aku selalu bekerja setiap hari? Aku masih sangat kuat Kyungsoo."

Kyungsoo mencibir mendengar pengakuan kakek Kai.

"Kalau begitu kakek bisa mentraktir kami di kedai 551. Kyungsoo sangat suka makan disana."

Akhh percakapan para lelaki dimulai lagi. Kyungsoo harus melepaskan kakek Kai agar dia bisa berjalan bersama Chanyeol di belakang mereka sementara dia dan Baekhyun menjadi penunjuk jalan. Gaun yang dikenakan Kyungsoo harus segera mendapatkan ruang hangat jika dia tidak ingin terkena flu karena memaksakan diri di tengah udara dingin.

Kyungsoo menyandang tas violinnya, saat itu mereka baru saja akan menyebrang. Kejadiannya tidak terduga, begitu saja membuat Kyungsoo terkejut.

"Kakek!"

Mereka benar-benar terkejut saat sebuah motor melaju kencang. Tidak menyerempet namun mengejutkan. Chanyeol yang saat itu sedang menerima panggilan dari ayahnya yang bertanya prihal kompetisi Kyungsoo benar-benar tidak memegang kakek Kai. Pria tua itu tersungkur ke badan jalan. Dengan sigap Kyungsoo berlutut di dekatnya, tidak peduli jika aspal kasar telah melukai lututnya. Gadis itu benar-benar panik. Dia ingat tentang penyakit jantung yang selalu dikatakan Kai. Kekhawatirannya bertambah saat melihat kakek Kai meringis memegangi dadanya.


~ RoséBear~


Heart attack adalah pada saat kondisi jantung tidak cukup mendapatkan darah mengakibatkan sedikitnya jumlah oksigen. Penyakit serangan jantung bisa terjadi tanpa bisa dipredikisi, karena itu serangan jantung termasuk dalam kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat, karena jika penangannya lambat sedikit saja bisa mengakibatkan kematian, jikapun selamat berkemungkinan menimbulkan penyakit jantung yang baru lagi.

Sebelum terjadi komplikasi, Chanyeol bergegas membawa pria tua itu ke rumah sakit terdekat. Rumah sakit tempat Kai dan Ayahnya bekerja adalah yang paling terdekat dengan mereka. Kyungsoo menghubungi Kai segera. Terdengar kepanikan yang begitu menyakitkan, bahkan saat tiba di rumah sakit Kyungsoo bisa melihat Kai menunggunya dengan cemas.

Pria itu melewati Kyungsoo begitu saja. Ya. Kyungsoo memang bersalah untuk hal ini, jika saja di lebih berhati-hati. Tapi semua telah terjadi.

Pria tua itu telah ditangani oleh para dokter.

-Lama, mereka menunggu sangat lama untuk semua dokter benar-benar keluar.

Hingga Kyungsoo yakin di luar sana telah gelap, dia hanya duduk di kursi tunggu bersama kedua temannya.

Dalam hitungan jam, Suho segera tiba tanpa Yixing. Terlihat kepanikan pria itu yang sama saja dengan Kai. Begitu saja melewati Kyungsoo ketika tiba-tiba pintu ruangan terbuka.

Semuanya mengalihkan perhatian, namun senyum sang dokter membuat napas mereka sedikit lebih relax.

Dokter berhasil menyelamatkan kakek Kai dari serangan jantung itu, mereka telah memberikan obat untuk mengencerkan darah hingga darah kembali mengalir ke jantung.

Ayahnya yang telah menyelamatkan kakek Kai sedang bicara dengan kedua Kim bersaudara.

Meminta mereka menemui pria tua itu secara bergantian. Barulah dia menghampiri Kyungsoo, memeluk bahunya pelan.

"Dia akan baik-baik saja. Ayah akan pulang. Kau mau pulang?"

Kyungsoo menggeleng pelan. Dia masih terlalu syok dengan kejadian hari ini.

"Kalau begitu ayah hanya akan mengambilkan pakaian untukmu. Sementara pakailah ini, kau kedinginan sayang."

Dia menerima jaz putih kebanggaan ayahnya. Ya. Kyungsoo memang kedinginan. Di saat seperti ini di merindukan pelukan Kai. Namun lelaki itu terlalu menakutkan untuk didekati.

Kyungsoo kembali duduk, menarik kedua kakinya untuk naik ke atas kursi saat Suho keluar dari ruangan. Kim tertua itu bicara sebentar dengan Kai, sepertinya berpamitan untuk menyiapkan beberapa keperluan. Sementara Kai bergantian masuk.

Kyungsoo tidak tahu apa yang dibicarakan Kai dengan kakeknya di dalam sana. Dia masih menunggu bersama kedua temannya dengan menyimpan semua pikiran mereka.

Sampai ketika Kai keluar dan langsung menatap Kyungsoo. Berjalan cepat membuat Kyungsoo reflek menarik diri, Kai terlalu menakutkan. Tubuhnya diangkat begitu mudah oleh Kai. Membawa kaki Kyungsoo menapak lantai di koridor rumah sakit yang sepi.

Baru saja Chanyeol akan protes tapi terdengar suara Kyungsoo telah meminta maaf lebih dulu.

"Maafkan aku. Harusnya aku menjaganya. Harusnya aku bicarakan ini padamu. Maafkan aku Kai."

Kyungsoo menundukkan kepala.

Tapi apa yang dirasakannya. Tangan Kai perlahan turun merambat dari bahu menuju lengan lalu menarik kedua jari tangan Kyungsoo ketika pria itu berlutut di hadapannya.

"Menikahlah denganku Kyungsoo."

Degh

"K- Kai..."

Dilihatnya Kai menunduk seperti anak lima tahun yang baru kembali dari hari pertama sekolahnya.

"Aku mau kau menikah denganku segera."

Saat ini musim gugur sedang berlangsung, suasana rumah sakit yang sedikit sepi pada lantai dua. Koridor yang hanya diisi beberapa pasang mata terasa begitu sunyi apalagi setelah pernyataan Kai dan Kyungsoo tak kunjung memberikan jawaban.

Kai menjatuhkan kepalanya memeluk paha Kyungsoo. Pria itu tampak begitu putus asa. Seperti lelaki yang kehilangan tujuan hidup. Tapi jika Kyungsoo menyetujuinya, dia juga akan kehilangan hidupnya.

Menikah, artinya tinggal bersama Kai. Maka tidak akan ada musik selama dia masih bersama pria tan ini. Kyungsoo tahu betapa keras kepalanya Kai. Tapi...


To be continue...


Sudah sampai mana kalian menebak alurnya? Owhhh ini bahkan belum menyentuh setengah bagian cerita.

Kalau kata Thomas Jefferson itu 'Every generation needs a new revolution.'

Ini adalah saat yang tepat untuk menginstropeksi diri. Aku melakukan beberapa perbaikan jadi aku mau kalian bersabar untuk cerita lainnya ^^ Nothing Preview for Chapter 08

Thank You.

.

RoséBear

[Part 2 : Get in TOUCH 170908]