"Menikahlah denganku Kyungsoo."

"K- Kai..."

Dilihatnya Kai menunduk seperti anak lima tahun yang baru kembali dari hari pertama sekolahnya.

"Aku mau kau menikah denganku segera."


Complementary

(8th Chapter)

Present by RoséBear

Main cast: Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Content: GS. Companionship. Family. Friendship. Musik


The Paradox of Lost Complementary

Tangan Kai terlepas dari Kyungsoo membuat jemari bebas itu menyentuh untaian rambut Kai. Ia sedikit terkejut mendengar suara tangis Kai. Dibelainya helaian halus itu, berkali-kali Kyungsoo mengalihkan pandangannya. Sejauh mana dia memandang, maka hanya wajah keterkejutan Chanyeol dan Baekhyun yang bisa ia lihat dengan jelas.

Lalu beberapa perawat yang berlalu lalang menatap penasaran pada mereka.

Tempat itu menjadi hening, seperti dilingkupi kabut tebal yang menciptakan jarak pandang pendek pada beberapa sudut rumah sakit. Tidak pernah terbayang oleh Kyungsoo sebelumnya tentang apa yang dikatakan Kai saat ini. Tidak juga untuk memikirkan apapun yang akan membawa Kyungsoo keluar dari permasalahan.

"Ka-i."

Panggil Kyungsoo sedikit gugup. Ia takut tentang apa yang akan dikatakan nanti menyakiti perasaan seseorang. Entah itu Kai atau dirinya sendiri.

"Biarkan aku memikirkannya," Kyungsoo masih sangat gugup. Jelas sekali dia kebingungan. Ingin melepaskan diri tapi Kai menahannya begitu kuat dimana kedua tangan lelaki itu meremas ujung pakaian Kyungsoo. Rasanya ingin menangis saat berada di posisi seperti ini. Ia telah memandang Chanyeol meminta bantuan namun hanya sebuah anggukan yang pria tinggi itu berikan.

Kyungsoo memejamkan matanya erat. Dia mengelap air matanya sendiri, menarik Kai untuk kembali berdiri. Mendekatkan wajah memastikan Kai akan mendengarkan apapun yang dia katakan nanti.

"Apa harus benar-benar menikah secepat ini?"

Kai mengangguk, merasakan sentuhan lembut jari Kyungsoo kini menangkup kedua pipinya, jempol tangan Kyungsoo berusaha menghapus air mata Kai.

Ini pertama kali untuknya melihat Kai begitu kacau. Tidak terkendali dan begitu menyedihkan sejak pertemuan pertama mereka. Bahkan lebih buruk dari mimpi di malam hari ketika dia masih berada di rumah keluarga Kim.

Kai menarik napas dalam. Memandang Kyungsoo seolah harapan terakhirnya ada pada wanita ini.

"Kakek ingin aku segera menikahimu. Serangan jantungnya bisa kembali tanpa diprediksi. Kakek takut tidak bisa melihat pernikahan kita."

Suaranya terdengar begitu lembut namun menyesakkan dada Kyungsoo. Wanita itu telah berusaha menekan egonya agar tidak mempersulit situasi, tapi apapun yang dia pikirkan semua terlihat sangat buruk. Di saat-saat seperti ini, Kyungsoo membutuhkan seseorang namun seseorang itu telah membawanya ke dalam keadaan dimana situasi menjadi semakin sulit.

"Bisakah aku memikirkannya terlebih dahulu?"

"Kyungsoo! Bagaimana kau masih sempat berpikir lama saat kakek dalam kondisi kritis?"

Kyungsoo terkejut dengan perkataan Kai yang setengah berteriak, pria itu terdengar benar-benar frustasi.

Kyungsoo mendorong tubuh Kai sedikit menjauh. Ia menggigit bibir bawahnya kuat menahan isakan yang hampir saja meluncur. Gadis itu menarik napas dalam, "Bisakah aku masih bermain musik saat menikah denganmu? Maksudku... Ini diluar rencana kita sebelumnya Kai. Aku... Aku tidak bisa berpikir dengan baik."

Lama.

Semakin buruk ketika Kyungsoo berusaha jujur dengan perasaannya.

"Bisakah kita bicarakan itu nanti?"

Terdengar sangat tidak baik ketika Kai yang mengatakannya. Bagaimana caranya? Ya dr. Kim! Kau membuat Kyungsoo serasa di ujung papan lompat di mana air kolam sedang dikeringkan. Jika memaksa terjun, dia sama saja mencoba bunuh diri. Perkataanmu yang tanpa memikirkan perasaannya membuat Kyungsoo merasa sangat bodoh.

"Kyungsoo."

Semua mata langsung tertuju pada pintu ruangan. Kakek Kai berdiri di bantu seorang perawat. Pria itu masih dengan infus, selang oksigen dan semua hal yang membuat Kai segera berlari menghampirinya.

"Kakek kenapa berdiri? Kumohon kembalilah berbaring di ranjangmu," sekeras apa Kai berusaha tetap saja gagal. Kakeknya menepuk pundak Kai pelan. Diguratan tua pada wajahnya masih ada setitik cahaya penuh harapan. Masih terlihat tampan dan menunjukkan kasih sayang luar biasa. Dia tersenyum pada cucu keduanya, mencoba meyakinkan Kai semua baik-baik saja selama dia tidak melakukan kesalahan.

"Aku ingin bicara dengan Kyungsoo."

Saat itu Kyungsoo mendongak mendengar namanya di sebut, segera dia berjalan mendekat. Melewati Kai dan membawa pria tua itu kembali masuk ke dalam. Dibantu seorang perawat dan Kai yang menyusul di belakang membaringkan kembali pria tua itu ke ranjang. Tapi tangannya tak melepaskan Kyungsoo, berhasil ia menahan kepergian Kyungsoo yang ingin menghindar dari percakapan panjang tak berujung.

"Duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua."

Kai mengangguk pada perawat itu membuatnya mengerti dan segera pergi. Bunyi handle pintu menandakan ruangan telah ditutup kembali.

Diam beberapa saat, Kyungsoo memperhatikan bagaimana wajah lelaki tua ini masih bisa tersenyum seperti biasanya. Dia pria baik, sangat ramah dan begitu menghormati wanita. Dibelainya pipi gembil Kyungsoo, menghapus sisa-sisa air mata di sana.

Jemari renta itu menepuk pelan punggung tangan Kyungsoo. "Kau mau kan menikah dengan Kai secepatnya?"

Kyungsoo mendongak. Memandang Kai yang memalingkan wajahnya. Pria itu berdiri, dadanya nain turun. Terlihat sekali kesulitan mengatur emosinya.

Mereka sama-sama tidak bisa menanggapi rencana pernikahan yang mendadak ini.

"Kai. Jika menikah kau akan mengizinkan Kyungsoo tetap bermain musik? Kakek sadar itu akan sulit bagimu, tapi perlahan kau juga harus menerima hidup Kyungsoo. Ekhhh.."

Kyungsoo dan Kai panik bersamaan ketika melihat lelaki itu memegang dadanya.

"Kakek?"

Kyungsoo sedikit bergeser membiarkan Kai menangani kakeknya. Tapi lelaki tua itu langsung tersenyum. "Tidak apa Kai. Sungguh... Semua baik-baik saja."

Dari jarak yang begitu dekat dia bisa mendengar napas kelegaan Kai. Hanya serangan kecil.

"Kyungsoo, menikah denganku besok pagi. Kumohon."

Kyungsoo menunduk, ia menggigitnya bibir bawahnya. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Semuanya menjadi sangat kacau karena kecerobohan bercampur keegoisannya.

Di luar sana udara dingin menyapa namun membiarkan daun-daun berguguran. Musim gugur benar-benar telah datang. Dari satu sisi melompat ke bagian lain. Di mana sesuatu yang buruk mendatangi mereka. Apapun yang dikatakan, tidak ada jawaban yang akan memberi jaminan.

"Ya Kai."

Gadis itu tersentak oleh pelukan Kai yang begitu tiba-tiba. "Terima kasih Kyungsoo." Dia melepaskan Kyungsoo dan menatap kakeknya. "Kakek dengar? Aku akan menikah. Jadi jangan khawatir lagi. Sekali saja kumohon khawatirkan kondisi kesehatan kakek."

Bahkan setelah mendengar jawaban itu, lelaki ini tidak memastikan kondisi Kyungsoo. Sementara pria Kim tua berusaha tersenyum menutupi kondisi tubuhnya.

"Bagaimana aku tidak khawatir jika kau belum menikah juga. Siapa yang akan mengurusmu nanti? Kau tidak mungkin menyusahkan Suho setiap saat. Tapi sekarang kakek senang Kai..."

Mata keduanya menatap Kyungsoo, gadis itu tersenyum canggung.

"Aku ingin bicara dengan Kyungsoo berdua saja. Bisakah kau keluar?"

Dengan berat hati pria tan itu menghela napasnya. Ia harus memberi keduanya waktu untuk bicara. Tapi sebelum benar-benar keluar ia menarik Kyungsoo dalam pelukannya.

"Terima kasih banyak."


Tidak lebih dari lima menit, Kyungsoo keluar dari ruangan. Bergantian dengan perawat yang masuk. Gadis itu itu menutup pintu, berseder dan membawa tubuhnya merosot ke bawah.

Chanyeol dan Baekhyun yang masih di sana segera menghampiri Kyungsoo. Namun nyatanya tarikan tangan Kai lebih cepat.

"Aku perlu bicara dengannya. Tolong kalian tetap di sini. Tidak akan lama, aku berjanji."

Tanpa menerima jawaban Kyungsoo, Kai menuntun gadis itu dari keluar dari lorong rumah sakit. Membawanya ke taman rumah sakit tepatnya tempat pertama mereka bertemu. Masih sama seperti pagi itu, tempat ini memang sepi. Lokasinya yang tidak startegis untuk dikunjungi serta menyulitkan pasien ketika harus menuruni beberapa anak tangga membuat tempat ini tidak berfungsi dengan baik.

Pria itu tampak gelisah. Di satu sisi dia ingin menarik Kyungsoo dalam pelukannya, namun di bagian lain ia terlalu pengecut. Pada akhirnya membawa Kyungsoo untuk duduk di bangku taman. Duduk bersebelahan sibuk dengan pikiran masing-masing. Terlalu banyak kemungkinkan bodoh yang harus mereka pikirkan. Tentang hari ini, bagaimana menjalankan hari esok. Bahkan apa yang akan mereka lakukan beberapa saat lagi.

"Aku minta maaf menyeretmu sejauh ini. Kau boleh memukulku sampai puas, aku tidak akan menghindar. Tapi kumohon jangan meninggalkanku Kyungsoo."

"..."

"Kakek pasti bicara sesuatu di dalam sana bukan? Hah~"

"..."

Dia telah bicara sendiri ketika gadis itu mengurung diri dalam kebisuan karena kejadian demi kejadian yang menyulitkan hidupnya.

"Dia memintamu untuk memahamiku? Ya Kyungsoo, hidupku sangat sulit jika seseorang mendengar kisahnya."

Pandangan Kai lurus ke depan. "Pada akhirnya kakek menyerah, untuk itulah aku sangat jarang kembali ke rumah. Aku pun tidur di ruang penyimpanan karena ketakutanku sendiri. Tapi tidak bisa kupungkiri aku menghawatirkannya. Sudah seharusnya kakek menikmati hidup. Aku tidak mau menjadi bebannya, dia sering kali menghubungi hanya untuk bertanya prihal pasangan hidup. Sebab kakek telah hidup seorang diri sejak istrinya meninggal setelah melahirkan ayah. Tidak ada wanita yang pernah masuk rumah itu, sampai akhirnya Ibu kami menjadi istri Ayah..."

"Kai," lelaki tan menghentikan ucapannya. Dilihatnya Kyungsoo yang kini mendongakkan kepala.

"Ya?"

Dengan suara tertahan ia berkata, "Memalukan mengatakan ini dengan mulutku sendiri. Tapi aku sangat kedinginan. Bisakah kau memelukku sebentar saja?"

Dia tidak serta merta menjadi begitu bodoh karena Kyungsoo memotong ucapannya, terlebih karena permintaan yang terdengar aneh. Namun Kai menghela napas leganya, pria itu segera menarik Kyungsoo dalam pelukannya. Ini pertama kali Kyungsoo meminta dipeluk. Dia benar-benar merasakan tubuh dingin Kyungsoo. Pria itu mengeratkan jaz putih milik ayahnya.

"Kurasa kau akan mengerti Kyungsoo."


~ RoséBear~


Musim gugur tahun ini terasa begitu menyiksa. Karena apapun yang dia lakukan membuatnya sangat frustasi.

Beberapa orang begitu antusias, beberapa lainnya biasa saja, sementara sebagian kecil dari mereka merasa begitu tersiksa. Atau barangkali kesulitan untuk memahami semua kejadian ini. Hanya dalam setengah musim semua berubah.

Mozart, Beethoven, Bach, Mandelsshon, Tchaikovsky, Schubert, Haydn, Verdi, Puccini, Chopin, Mahler, Wagner, Handel, Brahms, dan ibunya sendiri.

Kyungsoo mulai bertanya bagaimana jika mereka menjalani hidup tanpa musik?

Dilihat pantulan dirinya menggunakan gaun Pengantin turun temurun milik keluarga Kim. Gaun itu pertama kali digunakan oleh nenek Kai, lalu Ibunya. Yixing melewatkan kesempatan itu karena orang tuanya memiliki gaun sendiri, dan kini gaun itu digunakan Kyungsoo.

"Kau begitu cantik Kyungsoo."

Dia tersenyum canggung saat Yixing memujinya. Upacara pernikahan dilakukan di bangunan tua dekat rumah Kai. Gedung pernikahan sederhana dimana kakek dan neneknya dulu mengikat janji. Hanya akan ada upacara pernikahan tanpa sebuah pesta dengan dihadiri beberapa orang terdekat.

Semua berjalan sesuai permintaan kakek Kai yang memaksa keluar dari rumah sakit ketika pagi menjelang. Melakukan perjalanan pada musim gugur, dia telah mempersiapkan diri untuk kemudian membawa serta anggota keluarga melewati jalan setapak yang menuju ke lapangan.

'Ibu, aku akan menikah.Aku akan hidup bersama pria yang tidak mengizinkanku bermain musik karena alasan yang tidak kumengerti.'

Hari ini Kyungsoo bisa melihat betapa berwibawanya seorang Kim Kai. Pria berumur dua puluh tujuh tahun, seorang dokter muda yang menganggap musik merusak hidup masa remajanya.

Namun Kyungsoo tidak memiliki alasan apapun lagi untuk menolak. Dia telah menjebak diri sendiri dari awal pertemuan mereka. Hari itu dia hanya ingin bertemu ayahnya yang tidak kembali ke rumah, nyatanya sang Ayah terlalu sibuk dengan operasi pagi hari. Lalu melarikan diri ke taman rumah sakit yang sepi dan pertemuan pertama mereka berlangsung begitu cepat.

Lalu lubang itu semakin lama semakin dalam menelan Kyungsoo hingga menyeretnya pada kegelapan.

'Aku bisa berjanji padamu. Kai tidak akan menyakitimu. Pada dasarnya dia anak yang sangat baik, dia mencintaimu Kyungsoo. Kai masih berusaha mengatasi ketakutannya sendiri. Suatu hari saat dia terlepas dari ketakutan itu, kau bisa bermain musik kembali, tapi sebelum itu kumohon untuk bersabar. Hanya perlu menjadi sedikit lebih dewasa agar membuatnya menuruti kamauanmu. Jangan tinggalkan dia, Kyungsoo.'

Masih terngiang oleh Kyungsoo pesan kakek Kai saat mereka berdua di dalam kamar.


~ RoséBear~


Satu malam saja, Kyungsoo ingin tinggal di rumah keluarga Kim setelah melewati upacara pernikahannya. Mereka juga telah membuat kesepakatan untuk membawa kembali kakek Kai agar melakukan perawatan di rumah sakit beberapa waktu. Kondisinya masih belum stabil, sangat menbahayakan jika sewaktu-waktu serangan kembali terjadi dan tidak bisa mendapat penanganan dengan cepat.

Semua terlihat lelah, terutama Yixing yang kini sedang mengandung. Wanita itu dibuat sibuk dan saat tiba di rumah Suho langsung memintanya untuk istirahat sementaran kedua orang itu tidak keluar dari kamar mereka.

Ayah Kyungsoo bertanggung jawab langsung mengurus kakek Kai, dia juga meminta bantuan seorang perawat untuk ditempatkan disisinya.

Makan malam yang terasa begitu ramai. Ini seperti sebuah keluarga besar, nyonya Kang harus memasak makanan lebih banyak dari biasanya. Tapi satu yang Kyungsoo sadari, wajah ayahnya dan kakek Kai tampak begitu bersinar.

Saat semua anggota keluarga menikmati wine, Kyungsoo memilih ke beranda di lantai dua. Menikmati angin malam yang terasa begitu menyesakkan. Ketika itu langkah kaki seseorang mendekat. Memeluknya dari belakang dan Kyungsoo segera membalikkan tubuhnya.

"Ayah?"

"Ayah senang akhirnya kau memutuskan menikah. Hanya saja Kyungsoo sayang, bisakah kau pertimbangkan kuliah kedokteran?"

Dia tidak mungkin berdecih di hadapan ayahnya sendiri. Bagaimanapun, lelaki ini adalah harta berharga Kyungsoo. Pada akhirnya dia memberanikan diri, ada saat dimana dia benar-benar berusaha bersikap lebih baik dengan bertanya.

"Setidaknya beri aku alasan. Ayah memang tidak melarangku bermain musik. Tapi ayah memaksaku belajar ilmu kedokteran dan melarangku berada di panggung pertunjukkan. Sampai sekarang aku merasa seperti katak bodoh, tidak tahu tentang apapun yang terjadi di luar tempurung kotor ini."

Pria tua itu mengelus rambut Kyungsoo, menghapus air mata yang mulai mengalir dari mata bulat anaknya. "Ayah berjanji. Sedikit lebih dewasa lagi dan kau akan mengerti semuanya."

Sekali lagi seseorang menginginkan agar dia menjadi lebih dewasa. Membuat jalan pikiran Kyungsoo di hantam ombak keras. Dewasa yang sesungguhnya ternyata sangat menyiksa untuk dirasakan.

"Jika hanya untuk meneruskan rumah sakit itu. Bukankah Kai saja sudah cukup?"

Dokter Do menggeleng. Dia menekan hidung Kyungsoo lembut. "Kau putri Ayah." Tangannya merambat ke perut Kyungsoo, "Suatu hari nanti kau juga akan mengerti maksud Ayah. Ayah menyayangimu, sebaiknya kau temui suamimu."

Sebuah ciuman di dahi yang terasa begitu menyiksanya.

Sebegitu penting rumah sakit itu untuk ayahnya? Inikah alasan kenapa dia harus memilih sekolah kedokteran atau menikah.

Mencari seseorang untuk menjalankan rumah sakit itu. Sebuah garis yang tidak boleh terputus pada zaman sekarang.

Dengan susah payah ia langkahkan kakinya ke kamar. Menemukan Kai yang telah berganti pakaian kasual.

"Kau akan tidur dimana?"

Butuh beberapa saat agar pria itu menyadari kedatangan sadar Kyungsoo bertanya. Lelaki itu jelas terlihat bingung. Terakhir kali dia bermimpi buruk dan Kyungsoo telah membantunya.

"Kemarilah," panggil Kai duduk di atas ranjang. Pria itu bersender di kepala ranjang. Walau sedikit ragu Kyungsoo melangkah mendekat. Tarikan Kai terlalu cepat membuat tubuhnya terhuyung menaiki tubuh Kai.

Pria itu menatapnya sebentar. Mengelap bibir Kyungsoo.

"Maaf tadi menciummu."

Dia tersipu malu mengingat ciuman mereka siang ini. "Walau bagaimana pun kau suamiku. Aku tidak bisa menolaknya."

"Anak manis. Ya. Aku suamimu, mulai sekarang aku tidak akan menahan diri untuk menciummu. Tapi Kyungsoo, aku tidak akan menyentuhmu jika kau tidak menginginkannya. Aku tahu kau belum siap untuk itu."

Kai benar, Kyungsoo masih sangat takut. Berada di atas ranjang berbeda dengan pelukan di atas sofa. Ini terlalu intim bagi Kyungsoo.

"Malam ini kau akan tidur di mana?" hanya sebuah pertanyaan singkat untuk memastikan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

"Mau memijat tanganku seperti waktu itu?"

Kyungsoo terdengar bingung dengan pertanyaan Kai yang mengabaikan pertanyaannya. Ia membuat jarak dan duduk di atas ranjang setelah melepaskan pelukan Kai, tangan gadis itu menarik tangan Kai ke atas pangkuannya. Memijat satu-persatu.

Cukup lama dalam keheningan hingga ia baru sadar Kai tertidur.

"Hah~ lalu aku harus tidur di mana?"

Kyungsoo membenarkan posisi Kai. Menyelimuti pria tan dan saat akan beranjak, tarikan Kai menjatuhkan tubuhnya

"Woahhh."

Rasanya mungkin Kai setengah sadar. Buktinya setelah menarik Kyungsoo dia tidur dan menganggap gadis itu seperti sebuah guling. Lantas Kyungsoo ingat jika Kai tidak bisa tidur di dalam rumah. Apa itu sebuah kebohongan?

Tidak Do Kyungsoo. Itu bukanlah sebuah kebohongan. Pria ini bahkan tidak suka dibohongi, untuk itu dia tidak ingin berbohong. Pengecualian hari itu ketika dia membawamu ke rumah ini untuk pertama kalinya. Tapi sepertinya sesuatu telah terjadi jika dia bersamamu di dalam rumah ini, membawa Kai ke alam mimpi bukanlah sebuah masalah lagi.


~ RoséBear~


Mengekang rasanya saat pagi menjelang melihat para pria tertawa lepas sementara gadis itu tidak mendapat tidur yang menenangkan. Kai tidak melepaskannya sepanjang malam, beberapa bagian tubuh Kyungsoo merasakan pegal yang teramat.

"Jadi, kakek akan menjalani perawatan di rumah sakit?"

Suho yang bertanya.

Pria yang paling tua itu mengangguk.

"Mengejutkan," gumaman Kai ternyata mengundang perhatian semua orang.

"Mengejutkan apanya?" Tanya kakek Kai sambil mengangkat alis hitamnya.

Senyum terus terbentuk di bibir Kai, namun jawabannya terdengar masam. "Bagaimana bisa begitu tiba-tiba setelah memintaku menikah dengan... "

"Kau sudah sangat dewasa Kai. Saatnya aku menikmati hidupku."

Ucapan Kai terpotong dan dia kesulitan membalas kalimat berikutnya.

"Kakek akan meninggalkan kebun anggur ini?"

Kakek Kai mengangguk untuk menjawab pertanyaan cucu pertamanya. "Aku akan kemari jika dokter mengizinkan. Selebihnya kau bisa mengurusnya Suho. Selain itu, pak Jeon akan membantumu. Aku juga sudah meminta nyonya Kang untuk tinggal di rumah ini agar bisa menjaga Yixing menjelang hari kelahiran anak kalian."

Kapan?

Kapan pria ini melakukan itu semua. Kenapa seperti semua adalah rencananya yang berjalan begitu mulus. Mulut Kai sedikit terbuka mendengar semua rencana kakeknya. Dia kesulitan memahami setiap kata yang terucap.


Dia telah dibebani sebuah tanggung jawab besar setelah bergabung menjadi anggota keluarga ini. Biasanya Kyungsoo akan terbangun sendirian kemudian menemukan sarapannya telah tersaji bahkan terkadang mendingin di atas meja makan. Ditemani suara denting sendok yang menyentuh piring. Jikapun ingin mendapatkan teman sarapan maka dia harus keluar dari rumah. Keluarga Park selalu menerima kedatangan Kyungsoo.

Ketika daun maple berguguran Kyungsoo selalu menikmati pedestrian di mana dia bisa berdiri dengan violin yang digesek sehingga memunculkan alunan lembut. Seperti angin musim gugur yang menerbangkan daun-daun maple itu.

"Aku sangat iri tinggal di dalam lingkaran keluargamu Kai."

Lelaki itu menoleh ke sebelah. Tepat di mana Kyungsoo selesai membilas semua peralatan makan mereka dan kini tinggal Kai yang menyusunnya ke rak bagian atas. Dia hanya berdehem pelan, setidaknya Kai ingat Kyungsoo lebih sering tinggal sendirian di rumah.

"Jika kau tidak keberatan. Aku mau mengantarmu ke makan ibumu. Liburku masih berlaku hingga besok pagi."

Kyungsoo membalikkan tubuhnya, menatap seisi dapur keluarga Kim yang terasa hangat. Ia mencoba membayangkan bagaimana kedua Kim kecil berlarian di dalam rumah. Tawaran Kai membuat Kyungsoo menikmati beberapa tahun kebersamaannya dengan sang Ayah sebelum semua menjadi lebih buruk.

"Ibu meninggal saat aku baru memasuki sekolah dasar. Saat itu aku bahkan belum bisa memasang pakaian sekolah dengan benar."

Mendengar kalimat Kyungsoo yang sepertinya akan cukup panjang membawa tubuh lelaki itu berguling dan bersender memperhatikan apa yang Kyungsoo lihat. Dia ikut bersender pada sisi kitchen set.

"Ketika aku benar-benar membutuhkan Ayah di sampingku, Ayah bahkan tidak kembali ke rumah hingga berminggu-minggu lamanya. Bahkan untuk mengecek pekerjaan rumahku saja Ayah tidak memiliki waktu. Dia meminta supir pribadinya mengantar kemanapun aku ingin selain ke rumah sakit. Sejak saat itu aku bertekad untuk menjadi sangat pintar agar bisa pergi ke rumah sakit dan menemui Ayah. Tapi itu menyakitiku, ayah terus saja menolak keberadaanku sampai akhirnya aku menemukan musik dan mencoba memainkannya lagi. Kemudian tawaran Ayah datang. Memintaku menjadi dokter ketika aku memiliki musik untuk hidupku, rasanya begitu menyakitkan Kai."

Dengan susah payah lelaki itu mengatur ekspresi wajahnya agar tidak disalah artikan Kyungsoo. Dia mengerti kebencian Kyungsoo, jika saja Kyungsoo mau bicara dengan ayahnya kemungkinan mereka bisa memiliki hubungan yang baik akan terjadi. Sayangnya ego manusia itu begitu tinggi. Dia sudah melewati tahapan itu, di mana kemudian Kai kehilangan sebagian hidupnya.

"Jangan sampai kehilangan Ayahmu baru kau menyesal dengan keinginanmu Kyungsoo."

Kai sadar ucapannya akan menyakiti sebagian kecil hati Kyungsoo, tapi dia tidak menyesal mengatakannya. Segera ia raih Kyungsoo dalam pelukannya, tubuh gadis itu menegang dan ia segera sadar Kyungsoo tidak suka dengan jawaban yang ia berikan.

"Kai, kakek ingin bicara denganmu."

Suara pria itu diikuti langkah elegan yang ia ciptakan ketika masuk ke dalam dapur, memaksa Kai melepaskan pelukannya. Dia masuk tanpa pemberitahuan. Pria tua itu hanya tersenyum melihat interaksi keduanya.

"Sebaiknya aku bersiap."

"Bersiap?" Kakek Kai bertanya pada Kyungsoo setelah mendengar gadis itu bicaran sangat pelan.

"Ya. Aku sudah berjanji menemani Kyungsoo ke makam ibunya," Kai berusaha memberi penjelasan kepada kakeknya.

Karena sudah memutuskan jadi Kyungsoo berpamitan. Meninggalkan kedua pria itu di area dapur.

"Kita bicara di ruang penyimpanan Kai."

Pakaiannya biasa saja, dia baru menyelesaikan sarapan bersama keluarga yang semakin bertambah saat ini. Membereskan bagian kecil dari rumah ini bersama sang istri. Tentu saja istrinya. Mereka benar-benar telah resmi menikah, mengikat diri dalam sebuah janji.

Kini ia mengikuti langkah sang kakek menuju satu-satunya tempat yang membuat Kai sangat nyaman. Ruang penyimpanan anggur ini tidak pernah berubah, hanya perluasan yang dilakukan kakeknya dua minggu lalu saja. Itu benar-benar mengejutkan untuk diketahui.

Mereka duduk berhadapan seperti biasa, dengan sebotol wine dan dua bowl.

"Berjanjilah kau harus menjaga Kyungsoo."

"Hm?"

Tidak ada percakapan basa basi seperti biasa jika sang kakek yang memulai. Ini seakan Kai yang memulai percakapan.

"Bukan karena dia mengingatkan aku pada ibu kalian, tapi juga pada nenekmu. Kau tahu sendiri Kai. Mudah saja bagi kita untuk mencintai, tapi akan sangat sulit untuk melindungi orang yang kita cintai."

Kai melempar pandangannya pada deretan barel di dekat pencucian.

"Jika kau ingin melindungi Kyungsoo, mulailah membuka diri. Katakan tentang ketakutanmu, apa yang tidak kau sukai dan jangan membuatnya bingung karena tidak mengerti."

'Kakek sadar aku belum siap. Lalu kenapa memaksaku menikahinya?'

Ingin sekali rasanya pria itu megeluarkan isi hatinya. Namun dia ingat penyakit sang kakek. Akan lebih baik jika Kai menelan kembali ucapannya.

Pria itu memandang kunci berantai yang diberikan sang kakek. Terdapat sebuah kunci baru di sana.

"Sebenarnya awal tahun kemarin kakek membeli mobil untukmu dengan bantuan Suho. Berharap kau mau kembali tapi kau tidak berkunjung, sekalinya kembali kau mengejutkanku hari itu. Lalu tiba-tiba membawa Kyungsoo kemari."

Pria Kim tua tertawa kecil mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Sesuatu yang kemudian mengubah kehidupan mereka semua.

"Ruangan ini, sebenarnya Ayahmu ingin aku menyerahkan ruangan ini kepadamu. Kau bisa menggunakan sesukamu, menatanya semaumu. Maaf dua minggu yang lalu kami sedikit mengubah bentuk awalnya, kakek harap kau tidak akan masalah."

Kai memilih diam dengan pengakuan sang kakek jika sudah membahas orang tuanya."Ayahmu menyayangi kalian berdua. Kakek sadar dia melakukan kesalahan karena begitu mencintai ibu kalian. Ayahmu hanya terlambat menyadari kebodohannya Kai. Kau benar, kecelakaan hari itu disengaja. Ayahmu ingin melakukan bunuh diri, aku benar-benar merasa gagal menjadi ayahnya. Tapi..."

"Kakek, kumohon. Aku baik-baik saja."

Yang Kai khawatirkan adalah kondisi jantung kakeknya. Dia segera menenangkan pria tua itu dengan berpindah tempat duduk. Mengelus punggung renta itu dengan sangat pelan.

"Kakek ingin aku menerima musik Kyungsoo bukan? Akan kucoba." Pada akhirnya Kai menyerah pada kebisuan dalam percakapan mereka. Dia masuk dengan sebuah pernyataan yang tidak memiliki kepastian.

"Ya. Kau harus berusaha mencobanya, dia bermain sangat baik. Semua dirinya menyatu ke dalam alunan biola. Sebenarnya, hari kompetisi itu Kyungsoo didiskualifikasi."

"Hng? Kenapa? Bukankah dia hadir?"

Satu hal yang baru saja Kai pahami dari cerita kakeknya. Kyungsoo sudah tentu didiskualifikasi karena memainkan violin bukan untuk solois, dia mengacaukan nadanya di bagian akhir. Seolah mengizinkan alat musik lain masuk dalam permainannya. Ini bukan duet apalagi pertunjukan orchestra. Dia tidak memiliki konduktor, perlu ditegaskan jika dia adalah pemain solo. Dari awal Kai sudah tahu tentang permaianan Kyungsoo. Tapi dia sudah tidak tertarik kepada musik, sama seperti dia tidak tertarik membahas kedua orang tuanya.


Mereka berdua tampak serasi kala berjalan berdua. Memasuki sebuah rumah pemakaman. Berjalan beberapa meter melewati rak-rak penempatan abu, dia melihat Kyungsoo tersenyum menatap sebuah figura lama.

Wanita yang sangat cantik.

Sama persis dengan wajah yang Kai lihat pada figura photo di rumah Kyungsoo.

Memiliki senyum yang sama dengan Kyungsoo, lalu di sisi lain Kai melihat sebuah mangkuk berisikan beberapa kertas-kertas bergulung. Barulah ia sadari Kyungsoo yang meletakkan kertas-kertas itu. Gadis itu menutup kaca lalu menempelkan setangkai bunga mawar putih yang telah diberi seloptip agar menempel di kaca.

Jemarinya menyentuh tempat penyimpanan itu.

"Minggu pertama Ayah tidak kembali membuatku kabur dan menghabiskan malam di sini. Tapi Chanyeol kemudian menemukanku, dia membawaku ke rumahnya. Sejak saat itu ketika Ayah tidak pulang aku meminta supir ayah mengantarku ke rumah keluarga Park.

Kai segera memeluk Kyungsoo. Dia menyadari dengan memeluk gadis ini ia merasakan kehidupan Kyungsoo, detak jantung gadis ini adalah suara kehidupan Kai.

"Mulai saat ini, berlarilah kepadaku." Kepalanya jatuh menggesek rambut Kyungsoo yang beraroma citrus.

Gadis manis itu menarik napas dalam, menggenggam erat sisi kemeja yang Kai kenakan dalam kunjungan mereka siang ini.

"Bagaimana aku melakukannya saat kau melarangku bermain musik?"

"Kyungsoo. Kumohon jangan memulainya dengan sangat buruk. Lakukan permintaanku..."

"Aku sudah memikirkannya Kai."

Kai melonggarkan pelukannya ketika mendengar Kyungsoo memotong perkataannya. Apa yang telah gadis ini pikirkan? Dia tidak harus bertanya karena Kyungsoo sudah siap menyampaikan maksudnya.

"Aku bersedia menikah denganmu, menjalani hidup bersamamu, mengikuti ujian satu bulan lagi, namun jika aku mendapatkan tawaran akademi musik kumohon jangan melarangku, dan aku mohon kau mau terbuka padaku."

Dia diam untuk beberapa saat. memahami perkataan Kyungsoo dengan segera.

"Hahh," pada akhirnya hanya bisa menghela napas berat.

"Tidak ada pilihan Kai. Kau sudah menjadi waliku."

Sepertinya kali ini dia harus mengalah pada Kyungsoo. "Aku berjanji di hadapan ibumu."

Keduanya menatap figura wanita yang tersenyum sangat cantik. Seperti memberi kehangatan di musim gugur.


~ RoséBear~


Setelah menjalani one day care di rumah sakit beberapa hari lalu, kemudian kembali ke rumah untuk satu malam. Pria tua itu mengikuti saran dokter Do. Memilih melakukan proses rawat inap yang lebih lama di rumah sakit setelah hasil observasi mengenai jantungnya keluar. Hanya dia dan dokter Do yang mengetahui prihal itu.

Ayah Kyungsoo sebelum kedua orang tuanya meninggal adalah kepala bedah di rumah sakit, dia spesialis jantung. Sangat banyak memahami kondisi yang dialami kakek Kai yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.

Kondisinya semakin parah saja.

Setelah satu hari kembali ia menjalani proses pemasangan stent. Kemudian di tempatkan di ruang khusus. Lelaki tua itu memilih kembali ke rumah sakit untuk menjalani proses pengobatan agar bisa mengurangi rasa sakit dan nyeri serta mengurangi kecemasannya. Walau Kai sudah menikah dengan wanita yang sangat baik, pria paruh baya itu nyatanya masih khawatir tentang cucunya.

Dia menolak tawaran dokter Do untuk melakukan operasi pemasangan jantung buatan. Sangat ia ketahui betapa hebatnya dokter Do dalam mengatasi pasien. Tapi ia tidak menginginkan itu.

"Umurku sudah sangat tua. Aku sudah sangat lama berpisah dengan istriku. Anakku meninggalkan aku. Lalu kedua cucuku menemukan wanita yang bisa mereka lindungi. Biarkan aku menikmati sisa hidup tanpa memaksakan kehendak."

Bukankah terdengar sangat bijaksana saat rangkaian kata itu terucap dari seorang pria Kim.


~ RoséBear~


"Dokter memanggilku?"

Suara Kai memasuki ruang kerja dokter Do. Pria di hadapannya kini adalah ayah mertuanya, Ayah dari istrinya namun dia tetap kepala rumah sakit yang masih dihormati Kai.

"Duduklah Kai."

Lelaki itu segera duduk.

"Bagaimana operasi mahasiswa tingkat akhir itu?" Dokter Do melepaskan kacamata bacanya. Ia mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen pada wajah tampan Kai. Sedikit tersenyum seperti biasa untuk menghilangkan kecanggungan.

"Dia melewati meja operasi dengan baik."

"Ya. Jangan biarkan siapapun meninggal di meja operasimu Kai."

Akan sangat sulit memenuhi permintaan itu. Menjadi dokter bedah itu adalah tantangan yang sangat sulit. Mungkin pria di hadapan Kai ini memang membuktikan, tidak ada pasien yang boleh meninggal di meja operasinya.

"Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Kau sudah memikirkan akan tinggal dimana? Aku harap kalian memutuskan untuk tinggal di rumah."

"Tidak. Jika dokter ingin membicarakan kami, maka aku akan mengatakan jika aku dan Kyungsoo sudah memutuskan akan membangun rumah kami sendiri. Sementara ini kami akan mencari apartemen di dekat rumah sakit, itu akan memudahkanku ikut memantau perkembangan kakek. Dia juga sudah bersedia mengikuti ujian masuk hanya saja..."

"Ya?" Dokter Do tentu penasaran.

"Aku terlanjur menjanjikan sesuatu padanya."

"Apa itu?"

"Dia bisa melepaskan sekolah kedokteran jika berhasil mendapat tawaran akademi musik."

Kai pikir orang tua di hadapannya ini akan sangat marah nyatanya pria itu tertawa mendengar pengakuan Kai.

"Dia... Sama keras kepalanya dengan Ibunya. Kita para lelaki akan kesulitan memahaminya. Untuk sementara biarkan saja."

'Dokter bisa bicara begitu karena tidak tahu apa yang saya rasakan tentang musik. Musik ibu merenggut sebagian hidupku.'

"Dan Kai, kupikir daripada menyewa apartemen bagaimana jika aku memberi kalian sebuah rumah di dekat sini untuk ditempati sementara waktu hingga pembangunan rumah yang kau katakan itu selesai?"


To be Continue...


Selamat pagi, Rosiebear in here ^^

Terima kasih banyak telah sampai pada bagian ini. Please corect me if you find some typo and mistake in my stories ^^

[Part 2 : Get in TOUCH 170923]